Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus INDUSTRIALISASI DAN KEMISKINAN: SEBUAH POTRET ETOS KERJA DAN KESEJAHTERAAN BURUH PABRIK DI DESA WARUGUNUNG KECAMATAN BULU KABUPATEN REMBANG Zunida Sifaul Janah*. Atika Wijaya2 1,2 Universitas Negeri Semarang Article history Received: 16 Oktober 2024 Revised : 3 Desember 2024 Accepted: 10 December 2024 *Corresponding author Email : zunida062@students. No. doi: 10. 24198/focus. ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai etos kerja buruh pabrik pedesaan. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk melihat bagaimana etos kerja buruh pabrik di Desa Warugunung. Kecamatan Bulu. Kabupaten Rembang yang hidup berada dibawah ambang kemiskinan dalam memaknai pekerjaan yang dijalankannya dan mengalokasikan pendapatannya sebagai upaya untuk mensejahterakan keluarga. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori etika protestan dari Max Weber. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi non partisipatoris, wawancara semi terstruktur, dan Hasil penelitian menunjukkan, bahwa etos Desa Warugunung dilatarbelakangi adanya motivasi untuk mengumpulkan uang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa sekarang dan di masa depan, sebagai bentuk realiasi dari motivasi dan tujuan tersebut terdapat aksi berupa tindakan bekerja agar memperoleh pendapatan yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa sekarang dan tabungan di masa depan. Implikasi dari penelitian ini menegaskan bahwa industrialisasi tidak secara signifikan mampu meningkatkan kesejahteraan para buruh pabrik di desa dikarenakan mereka berorientasi pada tabungan masa depan, bukan kebutuhan saat ini. Sehingga, diperlukan suatu kajian program yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka secara lebih baik. Kata kunci: Industrialisasi. Buruh Pabrik Pedesaan. Etos Kerja ABSTRACT This research discusses the work ethic of rural factory workers. This research aims to see how the work ethic of factory workers in Warugunung Village. Bulu District. Rembang Regency, who live below the poverty threshold, interpret the work they do and allocate their income as an effort to improve the welfare of their families. The theory used in this research is Max Weber's Protestant ethical theory. This research uses a qualitative research method with a phenomenological approach. Data collection techniques were carried out using non- Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus participatory observation, semi-structured interviews, and The results of the research show that the work ethic of factory workers in Warugunung Village is motivated by the motivation to collect money to meet life's needs now and in the future. As a form of realization of this motivation and goal, there is action in the form of working to obtain the allocated income. to meet living needs in the present and savings in the future. The implications of this research confirm that industrialization is not significantly able to improve the welfare of factory workers in villages because they are oriented towards future savings, not current needs. So, a program study is needed that can better improve their welfare. Keyword: Industrialization. Rural Factory Workers. Work Ethic PENDAHULUAN Kemiskinan menjadi permasalahan sosial dan ekonomi yang sangat krusial dan signifikan terjadi pada berbagai daerah di Indonesia. Kondisi masyarakat yang berada di bawah ambang kemiskinan mengalami memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, hal ini dikarenakan lingkungan sosial yang kurang menyediakan peluang untuk (Adawiyah, 2. Lingkungan sosial menjadi tempat bagi seorang individu menjalin interaksi dengan Selain itu, ketersediaan sumber daya alam di lingkungan sekitar juga menjadi komoditas vital bagi (Adawiyah & Rumawi, 2. Terlebih lagi jika kualitas sumber daya manusia kurang memadai dalam segi pengetahuan dan keterampilan maka sumber daya alam tersebut tidak akan bisa terkelola secara maksimal (Primadi, 2. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada September 2022 persentase penduduk miskin di Indonesia sebesar 9,57 % dengan jumlah penduduk miskin sebesar 26,36 juta orang, terjadi peningkatan sebesar 0,03 % dari bulan maret 2022 . Data tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan yang Indonesia peningkatan dalam jangka waktu hitungan Peningkatan angka kemiskinan tersebut memerlukan suatu aksi nyata baik dari pemerintah maupun masyarakat agar tidak menjadi sumber dari timbulnya berbagai permasalahan sosial lainnya. Terdapat beragam strategi yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat untuk mengentaskan permasalahan kemiskinan di Indonesia, salah satunya yaitu dengan menopang perekonomian pada sektor industri (Noviriani et al. , 2. Melalui industrialisasi dan dukungan sumber daya alam serta sumber daya manusia yang memadai diharapkan dapat mendobrak perekonomian Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada bulan Februari 2022 terdapat jumlah angkatan kerja sebanyak 144,01 juta orang, naik 4,20 juta orang dibanding Februari 2021. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik sebesar 0,98 persen . Dari data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang tergolong ke dalam angkatan kerja mengalami peningkatan setiap tahunnya. Melalui peningkatan angkatan kerja dikalangan masyarakat Indonesia, penyediaan lapangan pekerjaan pada sektor Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus industri dalam kapasitas yang mumpuni dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat Indonesia. Kebijakan dan program yang telah disusun oleh pemerintah dalam rangka mengurangi angka kemiskinan di Indonesia pada realitanya kurang efektif dalam Pesatnya industrialisasi tidak lantas menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan kemiskinan (Santoso, 2014. Badriah, 2019. Yusril et al. ,2. Etos kerja masyarakat dalam bidang industri juga turut mempengaruhi tingginya angka kemiskinan (Zulkarnain, 2. Kemiskinan multidimensional, karena disebabkan oleh beberapa faktor dan dapat berimplikasi menimbulkan berbagai permasalahan sosial Sebagai sektor perekonomian baru yang beroperasional di Indonesia pekerjaan dalam bidang industri masih dipandang tabu dan anomali oleh sebagian besar masyarakat, sehingga etos kerja masyarakat yang bekerja sebagai buruh industri mengalami transformasi dan memerlukan adaptasi dari etos kerja masyarakat tradisional menjadi etos kerja masyarakat Terlebih lagi dengan keberadaan teknologi dan media sosial membuat kehidupan manusia memiliki aksesibilitas tanpa batas tempat dan waktu (Rahmawati. Ruslan & Bandarsyah, 2. Di Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Rembang yang merupakan salah satu kawasan industri yang cukup baru, tengah digencarkan pembangunan pabrik-pabrik dan perekrutan karyawan dalam skala yang besar. Keberadaan industri di Rembang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup Namun, menurut data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang pada tahun 2022 persentase kemiskinan di Kabupaten Rembang sebesar 15,80% dengan jumlah penduduk miskin 101. Terdapat 61 daerah di Kabupaten Rembang yang mengalami kemiskinan ekstrim dan tersebar di pedesaan, salah satunya di Desa Warugunung. Kecamatan Bulu. Kabupaten Rembang. Tingginya angka kemiskinan di dipengaruhi oleh etos kerja masyarakat pedesaan yang memandang sektor industri sebagai ladang untuk meraih pendapatan kesejahteraan keluarga terabaikan (Hartanti & Kartono, 2. Para buruh dari Desa Warugunung tersebut bekerja tanpa memperhatikan waktu dan lingkungan sekitar dengan tujuan agar pendapatan yang diperolehnya tinggi sehingga dapat dipergunakan untuk memupuk aset dan Hal tersebut berbanding terbalik dengan proses kerja sebelum adanya sektor industri, dimana masyarakat bekerja hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan seharihari. Adapun dari kedua bentuk tindakan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Warugunung menunjukkan perbedaan etos kerja sebelum dan sesudah adanya sektor Etos kerja dan kemiskinan menjadi dua aspek yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Kemiskinan yang menjerat kehidupan buruh pabrik terjadi karena rendahnya etos kerja para buruh, sehingga kinerja dan perolehan pendapatannya menurun dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi serta keluarga (Purwati & Nurwati, 2. Industrialisasi dan partisipasi masyarakat pedesaan dalam sektor industri yang dijadikan sebagai alternatif solusi untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinan memerlukan penataan kembali agar bisa berperan secara optimal. Adapun dalam rangka mengadakan proses perubahan mendalam terlebih dahulu untuk dapat menjelaskan etos kerja buruh pabrik pedesaan dan pandangannya dalam memaknai pekerjaan dan kesejahteraan Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus keluarga, pada era industri yang menjadi akar penyebab tingginya kemiskinan di Kabupaten Rembang. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana etos kerja buruh pabrik yang berasal dari Desa Warugunung. Kecamatan Bulu. Kabupaten Rembang dalam memaknai pekerjaannya dan mengalokasikan pendapatannya untuk mensejahterakan keluarga. Kemudian untuk menjawab permasalahan tersebut dianalisis dengan menggunakan teori etika protestan yang dikembangkan oleh Max Weber. Melalui analisis hasil penelitian dan operasional teori etika protestan karya Max Weber akan dijelaskan juga mengenai makna pekerjaan dibidang industri bagi para buruh sebagai sarana untuk kesejahteraan keluarga, serta alokasinya dalam hal pemenuhan akses pendidikan bagi anak. METODE Penelitian ini menggunakan metode Menurut Salim Syahrum. pendekatan fenomenologi dipergunakan ketika peneliti berusaha memahami fenomena dalam kehidupan empirik yang dilakukan sebagai hasil dari Lokasi yang menjadi objek penelitian adalah di Desa Warugunung pinggiran Kabupaten Rembang dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan buruh pabrik. Alasan dipilihnya Desa Warugunung sebagai lokasi penelitian adalah adanya data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang yang ekstrim di Desa Warugunung dan kesesuaian data tersebut dengan fakta di lapangan berupa adanya kemiskinan ekstrim yang melanda kehidupan para buruh pabrik di Desa Warugunung di industrialisasi di Kabupaten Rembang. Adanya kemiskinan ekstrim di Desa Warugunung penurunan kesejahteraan keluarga. Selain itu, daerah yang menjadi lokasi penelitian walaupun berada di kawasan pedesaan dengan lahan pertanian yang subur tidak membuat masyarakatnya merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui sektor pertanian dan memilih menjalankan kegiatan perekonomian ke sektor industri juga sebagai buruh pabrik. Penelitian ini menggunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pertama, wawancara dilaksanakan secara semi terstruktur dengan melibatkan empat informan, yang terdiri dari tiga informan utama dan satu informan Kegiatan dilaksanakan pada minggu kedua bulan Februari sampai minggu pertama bulan Maret 2024. Informan dipilih secara purposive sampling agar informasi yang penelitian, karena informan mengetahui secara mendalam mengenai permasalahan yang diteliti. Kedua, observasi atau pengamatan terhadap objek penelitian. Observasi partisipatoris dengan mengamati kegiatan keseharian buruh pabrik di Desa Warugunung tanpa terlibat dalam kegiatan objek penelitian lebih mendalam. Observasi Desember-Februari 2024. Dokumentasi resmi yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku tentang teori etika protestan menurut Max Weber, artikel jurnal, serta dokumen desa yang berkaitan, seperti data monografi penduduk desa yang diperoleh dari kantor desa setempat dan data monografi kabupaten untuk mengetahui perkembangan industrialisasi di Kabupaten Rembang yang diperoleh melalui website Badan Pusat Statistika daerah. Data yang telah diperoleh diuji validitasnya dengan menggunakan triangulasi teknik. Diawali Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus dengan peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan keseharian objek dan Kemudian melakukan kegiatan wawancara dan mentranskrip hasil wawancara. Peneliti mengetahui adanya kesamaan atau perbedaan informasi dari hasil teknik pengumpulan data melalui wawancara untuk mendapatkan Informasi berdasarkan Desa Warugunung mengetahui fakta yang terjadi dilapangan. Setelah melakukan uji validitas data, maka menggunakan teknik analisis data dari Miles dan Huberman yaitu yang terdiri dari tiga komponen, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kemiskinan Buruh Pabrik Desa warugunung menjadi salah satu penyumbang sumber daya manusia yang cukup besar dalam proses industrialisasi di Kabupaten Rembang, karena banyak penduduk yang bekerja sebagai buruh Masyarakat yang bekerja sebagai buruh industri mengalami kehidupan di bawah ambang kemiskinan, permasalahan tersebut dipicu oleh tingkat pendapatan yang rendah sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sektor industri yang menjadi tempat kerja masyarakat dari Desa Warugunung, berskala UD. CV, dan PT dengan kisaran gaji 1,5 juta-3 juta perbulan. Buruh industri dari Desa Warugunung sebagian besar bekerja pada industri berskala CV, mulai dari para remaja sampai orang dewasa. Status perusahan yang berskala CV sehingga tidak menyediakan jaminan gaji sesuai dengan UMR serta fasilitas dan tunjangan keselamatan kerja. Gaji yang diterima disesuaikan dengan kinerja dan sistem pembayaran gajinya ada yang dibayarkan berdasarkan jumlah hari kerja . dan ada yang dibayarkan berdasarkan banyaknya produk yang dihasilkan . Adapun dari gaji yang diterima tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, karena di waktu-waktu tertentu pada saat jumlah produksi sedikit maka upah yang diterima juga menurun, sehingga untuk mencukupi kebutuhan hidup para buruh berhutang terlebih Hal tersebut sesuai dengan penuturan G, 38 tahun salah satu buruh di CV tersebut: AuBlass gak cukup iku a mbak. Kuwe durung pernah reti kok ya wong brak nek bar bayaran me Irfan bayar bonbonan. Nek mangan ngniki do ngebon ndisek mbak neng kono ngko nek bar bayaran lagek dikei. Iku ae ngekekine ora langsung kabeh. Makane wong ngniki mergawe ko cilik tekan tuwo yo gak sugeh-sugeh mbak tetep ae gak nduwe wong bayarane ae mundak e gur 500 nek gak 1000 iku ae ngenteni telong tahun luweh( G, 38 Tahu. Ay Au Sama sekali tidak cukup mbak. Kamu belum pernah tau kalau orang pabrik habis gajian selalu ke rumah Irfan membayar tunggakan hutang. Kalau buat makan orang pabrik hutang dulu disana nanti kalau gajian baru dibayar. Itu aja bayar hutangnya gak langsung semua. Maka dari itu orang seperti saya kerja sejak kecil sampai sekarang gak kaya-kaya tetap saja jadi orang miskin, gaji aja naiknya 500 perak kalau gak 1000 rupiah itu saja harus nunggu tiga tahun lebih (G, 38 Tahu. Ay Selain masyarakat Desa Warugunung yang bekerja di sektor industri berskala PT ditawarkan oleh pihak perusahaan. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus Terlebih lagi gaji yang ditawarkan sesuai dengan UMR Kabupaten Rembang, serta berbagai tunjangan dan fasilitas kerja. Namun, ditawarkan oleh pihak perusahaan terdapat kontravensi terkait nominal UMR di Kabupaten Rembang yang tergolong rendah sehingga masyarakat berpikir ulang untuk bekerja di sektor industri. Menurut Badan Pusat Statistika Kabupaten Rembang tahun 2024, besar UMR di Kabupaten Rembang mulai dari tahun 2022-2024 tercatat Rp1. 322,00 . Besaran UMR yang tergolong rendah dan semakin melonjaknya kebutuhan pokok membuat sebagian masyarakat Kabupaten Rembang yang telah bekerja sebagai buruh hanya dapat mencukupi kebutuhan hidup dengan seadanya bahkan ada beberapa kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi, terlebih lagi gaya hidup para buruh yang menyesuaikan teman sejawatnya di pabrik membuat alokasi pendapatan tidak sepenuhnya untuk kebutuhan keluarga tetapi juga Adanya tunjangan dan fasilitas kerja hanya dapat digunakan pada waktu tertentu saja semisal ketika sakit dan terjadi kecelakaan kerja. Hal tersebut yang membuat para buruh yang telah bekerja banyak yang terlilit hutang dan hidup di bawah ambang kemiskinan, serta para pengangguran yang awalnya antusias untuk bekerja di sektor industri menjadi tidak tertarik lagi untuk bekerja di sektor industri dan memilih untuk tetap menganggur. Minimnya pendapatan menjadikan gaji yang terima tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan, terlebih lagi seiring dengan berkembangnya zaman dan Sarana penunjang kehidupan semakin bernilai tinggi dan jumlah anggota keluarga yang dibiayai juga semakin Pendapat tersebut sejalan dengan pernyataan buruh industri di Kabupaten Rembang: AuAnak e soyo gede butuhane soyo akeh mbak. Iki ae seng gede gak tak sekolahno tak pondokno. Miker golekno panggonan nek dingo sekolah barang rak gak (Anaknya kebutuhannya semakin banyak. Ini aja yang besar tidak saya sekolahkan hanya mondok Mikir mencarikan tempat tinggal kelak tidak akan cuku. (S, 33 Tahu. Ay Para buruh di Desa Warugunung dalam menyikapi hal tersebut yaitu dengan menjalani kehidupan seadanya, bahkan sebagian ada yang mencukupinya dengan Kehidupan keluarga dengan adanya tanggungan hutang semakin kemiskinan tidak dapat terhindarkan. Pendapatan menjadi salah satu indikator untuk mengetahui tingkat kesejahteraan seorang individu bahkan sebuah keluarga (Ramadhan et al. , 2. Pendapatan yang banyak membuat seorang individu dianggap hidup sejahtera karena dengan pendapatan yang tinggi tersebut segala keperluannya dapat tercukupi. Minimnya pendapatan yang diterima oleh sebagian buruh pabrik di Desa Warugunung membuat kehidupannya dianggap kurang Akan tetapi dengan pendapatan yang besar tanpa diimbang dengan alokasi pendapatan yang terstruktur dan optimal tidak akan memberikan kebermanfaatan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Kusrini & Suryani . , terserapnya tenaga kerja dalam jumlah yang banyak menjadi peluang untuk meningkatkan perekonomian keluarga terlebih lagi dalam sektor industri mulai melibatkan peran perempuan sebagai tenaga kerjanya sehingga para perempuan dianggap lebih Namun industrialisasi juga memicu timbulnya perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan suatu tren atau gaya hidup modern. Tanpa adanya optimalisasi alokasi pendapatan dapat membuat gaji yang diterima kurang Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus jika dipergunakan kebutuhan hidup. Tindakan pengalokasian pendapatan keberlangsungan perekonomian seorang individu maupun keluarga. Hal tersebut dikarenakan jika pendapatan yang diterima dipergunakan secara berlebihan dapat mengakibatkan kebutuhan primer yang seharusnya urgen untuk terpenuhi menjadi terkesampingkan (Susanti & Hanum, 2. Tren gaya hidup konsumeris dan hedonis menjadi suatu hal yang sudah biasa terjadi, berpendapatan rendah bahkan tidak berpendapatan dan kemudian mempunyai pendapatan tergolong cukup mengalami cultural shock sehingga perlu adaptasi dan manajemen diri agar tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun lingkungan sosial. Fenomena tersebut tidak hanya dialami oleh buruh pabrik di kawasan perkotaan atau pusat industri, akan tetapi juga di wilayah Industrialisasi di kawasan pedesaan mulai digencarkan karena ketersediaan lahan, bahan baku produksi, dan tenaga kerja dalam jumlah yang perempuan (Wahyuni Susanti & Jailani. Pabrik industri di kawasan pedesaan memberikan kemudahan masyarakat untuk bekerja dengan ketentuan usia dan latar belakang pendidikan minimal yang dimiliki (Afriyanto Wijaya. Industrialisasi menyerap banyak tenaga kerja tidak hanya di kawasan perkotaan, akan tetapi juga di kawasan pedesaan karena keberadaan pabrik industri yang berlokasi dekat dengan pedesaan bahkan ada yang mengalihfungsikan lahan Terdapat keterkaitan antara sektor pertanian pedesaan dengan sektor industri sekala besar yang terletak dikabupaten dalam perluasan fasilitas produksi berupa penyediaan lahan dan bahan baku produksi serta penyerapan tenaga kerja, akan tetapi keterkaitan tersebut secara fungsional terbatas dalam memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat kawasan pedesaan sehingga menjadi salah satu penyebab terjadinya kemiskinan di pedesaan (Hardati, et al. Terjadinya kemiskinan disebabkan adanya pengalihan lahan pertanian masyarakat pedesaan yang mengakibatkan berkurangnya produktivitas hasil pertanian masyarakat desa. Selain itu, adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dengan imbalan berupa uang ganti rugi dan lapangan pekerjaan menjadi daya tarik masyarakat pedesaan untuk beralih dalam melakukan kegiatan ekonomi. Kemudahan yang diberikan oleh pihak pabrik sebanding dengan upah minimum yang diterima oleh para buruh. Menurut Hasibuan, et al. , . dengan pendapatan yang minim seorang individu dalam masyarakat akan mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan Sejalan dengan pernyataan tersebut, keluarga buruh yang hidup di bawah memprioritaskan terpenuhinya kebutuhan pokok dan memberikan tabungan masa untuk memutus kemiskinan struktural yang dialaminya. Para buruh beranggapan bahwa tabungan berupa uang dan aset tanah serta bangunan lebih dibandingkan dengan pendidikan yang memberikan manfaat dengan menunggu waktu yang lama. Menurut Parihala & Samsoe . , kemiskinan kultural terjadi karena dominasi kekuasaan dalam sektor industri berdasarkan kepemilikan jabatan dan kekayaan, sehingga para buruh tidak mempunyai kebebasan untuk memperoleh pendapatan yang setara dengan kinerjanya. Buruh dari Desa Warugunung bekerja dengan sistem shift yang terbagi menjadi dua, yaitu shift pagi dan shift malam dengan durasi waktu 8 jam kerja, serta terdapat tambahan jam kerja jika hasil produksi Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus belum memenuhi target yang ditentukan pihak perusahaan. Adapun upah yang diberikan sudah diatur berdasarkan UMR daerah Kabupaten Rembang, dengan gaji UMR tersebut turut mempengaruhi para buruh pabrik dalam mengalokasikan pendapatan yang tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan. Selain itu, kemiskinan yang dialami buruh tidak terlepas dari pandangan mereka dalam memaknai pekerjaan atau yang biasa disebut dengan etos kerja. Etos Kerja Buruh Pabrik Seiring dengan masuknya teknologi dalam kehidupannya buruh industri di Desa Warugunung. Kecamatan Bulu. Kabupaten Rembang. Adaptasi teknologi dalam kehidupan masyarakat menjadi salah satu proses perubahan pola pikir masyarakat sederhana menjadi lebih kebutuhan hidup, sehingga turut serta mempengaruhi pandangannya terhadap kinerja dan pengalokasian pendapatan hasil Tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat dan memiliki nilai yang tinggi, serta kebiasaan yang telah membudaya menjadikan proses adaptasi teknologi tersebut tidak dapat berjalan dengan maksimal, sehingga masyarakat di Desa Warugunung menghadapi kehidupan di era modern. Kurangnya terhadap kekacauan dalam bekerja, pengalokasian pendapatan hasil kerja, dan perlakuan terhadap keluarga. Bekerja di menumpuk uang agar bisa keluar dari belenggu kemiskinan meskipun keperluan akan pendidikan, perhatian, dan kasih sayang keluarga dikesampingan. Hal tersebut sejalan dengan penuturan salah satu buruh industri melalui kegiatan AuYo nggih mbak, penting angger ditinggali sangu, mangan, karo kuotane hp ono wes genah mbak. Wong niki kulo nek libur kerjo ngniku a teng griyo nggih jarang omong-omong nek ra bangkune ngniki mau do rame-rame lek suparno, lek tiah, ambek lek ndari rene kok, biasane sibuk dewe karo hp ne nek gak ngono dolan ngalor ngidul ambek kancane(G, 38 Tahu. Ay. Au Ya, yang terpenting diberikan uang saku, makan, sama kuota sudah gampang. Ini saja kalau saya libur kerja di rumah jarang ngobrol kalau tidak ada orang kumpul ramai-ramai lek suparno, lek tiah, lek ndari kesini, biasanya sibuk sendiri main hp kalau gak main kesana kemari sama temannya(G, 38 Tahu. Ay. Kebutuhan dalam sebuah keluarga tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan material saja, akan tetapi para buruh Desa Warugunung memprioritaskan kebutuhan material diatas kebutuhan lainnya, sehingga etos kerjanya berorientasi akan uang dan Tabungan masa Pola pikir para buruh yang hanya memprioritaskan uang mengakibatkan tindakan kerjanya terpaku pada jam kerja yang padat dan hasil yang banyak agar dapat mengumpulkan uang sebanyak Etos kerja buruh industri dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan lingkungan kerja, dimana lingkungan kerja dan sosial yang positif akan mendorong para buruh untuk bertindak positif, begitupun sebaliknya. Selain itu, etos kerja juga menentukan pandangan hidup dan tujuan hidup para buruh, berkaitan dengan Etos dipengaruhi oleh kepribadian buruh itu sendiri, kaitannya dengan skala kebutuhan dan gaya hidupnya. Adapun pengaruh lingkungan sosial yang paling dominan, hal ini berkaitan dengan pengaruh budaya di pedoman gaya hidup. Pekerjaan sebagai Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus buruh menuntut untuk dapat berinteraksi dengan banyak orang setiap harinya, terlebih lagi dalam suatu pabrik atau perusahaan berskala besar dengan jumlah pegawai yang banyak. Etos kerja buruh pabrik dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan lingkungan kerja, dimana lingkungan kerja dan sosial yang positif akan mendorong seorang individu untuk bertindak positif begitupun sebaliknya. Selain itu, etos kerja juga menentukan pandangan hidup dan tujuan hidup seorang individu, berkaitan dengan apa yang dimiliki dan alokasi penggunaannya (Mariatie & Hasanah, 2. Berdasarkan disimpulkan bahwa etos kerja merupakan pandangan seorang dalam memaknai Adapun etos kerja buruh merupakan pandangan buruh terhadap pekerjaan yang dijalankannya. Etos kerja menjadi penentu tindakan yang dilakukan oleh seorang individu dalam menjalankan pekerjaannya, karena etos kerja mempengaruhi pola pikir dan pandangan individu dalam melakukan tindakan (Demira & Sezen, 2. Etos kerja para buruh industri erat kaitannya dengan motivasi dan tujuan dalam bekerja, serta alokasi pendapatan hasil kerja. Weber dalam Wahyuni . menyatakan bahwa spirit kapitalisme yang terjadi pada bangsa barat dipengaruhi oleh keyakinan agama sehingga menghasilkan motivasi bagi seseorang dalam menjalankan aktivitas kerja pada dunia industri yang berorientasi pada kehidupan duniawi, sehingga memunculkan sejumlah permasalahan sosial sebagai bagian dari fakta-fakta sosial pada era kapitalisme yang tidak hanya berdampak pada kehidupan masyarakat yang menjadi lebih modern, akan tetapi permasalahan sosial ekonomi. Motivasi berkaitan dengan dorongan seseorang dalam melakukan suatu tindakan salah satunya tindakan kerja. Tindakan yang dilaksanakan oleh seorang individu didorong oleh mindset atau pola pikir dari dalam diri individu itu sendiri. Tujuan berkaitan dengan sesuatu yang ingin dicapai dari tindakan kerja yang dijalankannya, tujuan dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal dari seorang individu. Adapun dari hasil yang Pengalokasian yang tidak tepat dapat mengakibatkan kekacauan akan kondisi perekonomian baik individu maupun kelompok (Ritzer, 2. Motivasi Desa Warugunung dalam bekerja pada sektor industri adalah adanya tuntutan kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan keinginan mempunyai tabungan untuk diwariskan kepada generasi penerus Tuntutan kebutuhan primer keluarga mendesak para buruh untuk bekerja, terlebih jika buruh tersebut adalah tumpuan perekonomian dalam keluarga. Menurut penuturan salah satu buruh dari Desa Warugunung, kegiatan kerja yang mereka jalani merupakan satu-satunya sumber perekonomian keluarga karena statusnya sebagai janda dengan anggota keluarga yang tergolong non produktif. Selain itu, motivasi lain buruh industri dalam bekerja adalah keinginan untuk memberikan kehidupan lebih layak dan mapan kepada generasi penerusnya, sehingga para buruh mengumpulkan uang sebanyak mungkin sebagai tabungan. Pengumpulan terfokus pada tabungan dan kebutuhan keluarga terabaikan sehingga buruh dan keluarga di masa sekarang hidup dalam Adapun dengan motivasi tersebut semangat kerja menjadi sangat tinggi agar mempunyai penghasilan yang banyak sehingga kebutuhan terpenuhi dan tabungan dapat terisi setiap mendapatkan Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus Para buruh industri dari Desa Warugunung dalam bekerja bertujuan untuk mencukupi kebutuhan sandang dan sehari-hari Berdasarkan informasi dari hasil wawancara: Nek utamane nggih kanggo nyukupi kebutuhan sehari-hari mbak (G,38 Tahu. Tercukupinya pandangan hidup sejahtera dan terbebas dari belenggu kemiskinan. Kehidupan buruh industri di masa sekarang masih kehidupan sejahtera, karena kebutuhan sehari-hari belum sepenuhnya dapat tercukupi, bahkan tanggungan hutang juga masih berada dibawah bayang-bayang kehidupan buruh industri. Masyarakat buruh industri di Desa Warugunung kebutuhan selalu terpenuhi serta memiliki aset atau tabungan masa depan yang banyak, sehingga masyarakat dalam memprioritaskan tabungan masa depan dibandingkan kebutuhan masa kini yang harus terpenuhi, terutama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan, sehingga dimasa sekarang tampak terlihat bahwa kehidupannya serba kekurangan, hutang dimanapun ada, dan kebutuhan sekunder serta tersier tidak kesampingkan. Tindakan tersebut tentunya dipengaruhi juga oleh pengalokasian hasil pendapatannya selama Hasil kerja yang diterima para buruh sebagai gaji atas tenaga dan waktu yang telah dikerahkan dalam proses produksi memerlukan tindak lanjut agar bisa mendatangkan kebermanfaatan bagi buruh Tindakan pendapatan mempunyai peran yang penting dalam perekonomian para buruh. Adapun pengalokasian pendapatan hasil kerja buruh industri di Desa Warugunung terbagi untuk membeli kebutuhan pokok dengan kapasitas yang lebih kecil dengan tabungan masa depan, serta sisanya untuk membayar hutang. Selain itu, keperluan lain seperti biaya sekolah anak, keperluan mendesak seperti berobat dan sebagainya tidak menjadi sesuatu yang diprioritaskan dan mendapatkan alokasi dana khusus. Kebutuhan seharusnya menjadi komoditas vital untuk terpenuhi di masa sekarang demi keberlangsungan hidup menjadi prioritas kedua setelah tabungan masa depan. Hal tersebut mengakibatkan kehidupan buruh dimasa sekarang berada dibawah ambang kemiskinan, dengan kata lain para buruh industri rela hidup miskin di masa sekarang daripada generasi penerusnya hidup miskin dimasa depan. Selain itu, para buruh percaya bahwa tabungan berupa uang dan aset berharga lebih menguntungkan dibandingkan pendidikan bagi anaknya, karena dengan memberikan pendidikan yang tinggi bagi anaknya belum tentu di masa depan anak tersebut memperoleh pekerjaan dan mempunyai pendapatan yang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya secara keseluruhan. Etos Kerja Buruh Pabrik di Desa Warugunung Tempat Etos Kerja Buruh Pabrik Kerja Motivasi Tujuan Alokasi Pendapatan CV. SB A Dorongan A Memperoleh A Membeli kebutuhan A Mencicil dan hidup Hutang A Mencukupi A Mengumpul kebutuhan A Hidup tenang kan uang keluarga agar hutang A Tabungan berkecukupan dapat masa depan PT. PAO Tabungan A Memperoleh A Belanja masa depan uang untuk A Tabungan kepada anak. Sumber: Penelitian 2024 Orientasi Buruh Pabrik dalam Memaknai Kesejahteraan Keluarga Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus Tingkat kesejahteraan buruh industri di Desa Warugunung dapat tercermin dari kondisi perekonomian yang dialami oleh para buruh. Adapun kondisi perekonomian yang dialami oleh para buruh tercermin dari tingkat pendapatan, kepemilikan tabungan dan aset berharga, serta tercukupinya kebutuhan pokok. Para buruh memiliki tingkat pendapatan setara dengan UMR Kabupaten Rembang, dengan pendapatan tersebut para buruh dituntut untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, dan tabungan masa depan. Terlebih lagi jika tanggungan keluarga berjumlah banyak maka pengalokasian semaksimal mungkin. Walaupun demikian dalam praktiknya terdapat beberapa kebutuhan pokok keluarga dan pribadi yang tidak terpenuhi. Selain itu, kebutuhan lainnya seperti kebutuhan memperoleh pendidikan melalui bangku sekolah menjadi terkesampingkan, tabungan masa depan berupa aset berharga berupa uang dan kepemilikan aset bangunan dan tanah menjadi prioritas Tolak ukur hidup sejahtera dengan kepemilikan aset berharga dan tabungan masa depan sejalan dengan pernyataan buruh dari Desa Warugunung: AuA. kesejahteraan kuwi kan nek duwe duwit akeh, sawah ombo, omah apek, terus tumpakane mobil kuwi lagek Sejahtera nek ngene iki ae opo wong gak nduwe mbakAAy(G, 38 Tahu. Kepemilikan harta lebih mewakili kesejahteraan dibandingkan dengan tingkat pendidikan keluarga. Untuk Tingkat pendapatan dari sektor industri yang tinggi dan tidak diimbangi dengan alokasi pendapatan yang optimal dapat menjerat para buruh dalam lingkaran kemiskinan (Longo. Padavano, & Umbrello, 2. Etos kerja dimaknai sebagai pegangan atau keyakinan bagi seseorang dalam menentukan langkah-langkah yang akan diambil untuk menjalankan pekerjaan (Badriati, 2. Sebagai keyakinan yang dimiliki oleh seorang individu, etos kerja menjadi hal yang fundamental dan sangat dipertimbangkan bagi seseorang ketika akan melakukan suatu tindakan salah satunya berkaitan dengan pekerjaan yang dijalaninya, seperti ketika akan menjalani pekerjaan pada sektor industri. Etos kerja buruh industri khususnya di kawasan pedesaan tidak terlepas dari etos kerja masyarakat modern yang berada di kawasan Industri (Dolonseda & Watung. Buruh industri pedesaan yang semula memandang pekerjaan hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup agar tidak mengalami perubahan dalam memandang pekerjaannya, dimana pekerjaan pada dimaknai sebagai ajang persaingan dalam memiliki aset dan kekayaan, sehingga alokasi pendapatan yang dimilikinya tidak dipergunakan untuk mensejahterakan keluarga dan mengeluarkan keluarga dari lingkaran kemiskinan. Intensnya interaksi dan komunikasi antar buruh pedesaan dengan rekan sejawatnya di lingkup produksi, menjadi pemicu berubahnya mindset buruh pedesaan tersebut dalam memaknai pekerjaan dan mengalokasikan pendapatan yang diperolehnya. Adapun indikator kesejahteraan keluarga tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan primer saja tetapi juga kebutuhan sekunder, seperti pemberian akses pendidikan kepada anak. Berdasarkan teori etika protestan yang dikembangkan oleh max weber, pola pikir yang semakin rasional membuat tolak ukur seorang individu dalam menjalankan pekerjaannya juga mengalami perubahan, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup semata, akan tetapi juga untuk memenuhi hasrat duniawi sehingga pemenuhan kebutuhan keluarga terutama dalam pemenuhan akses pendidikan bagi keluarga terabaikan. Kepemilikan harta duniawi lebih diprioritaskan dibandingkan dengan pendidikan sebagai investasi jangka Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus panjang. Hal tersebut sejalan dengan Weber industrialisasi sekarang ini permasalahan sosial kemasyarakatan menjadi bagian dari fakta sosial, seperti halnya kemiskinan pada buruh pabrik di era modern dengan melihat pada etos kerja para buruh sehingga mengalami kemiskinan dan tidak dapat memenuhi akses pendidikan bagi keluarga. Pendidikan menjadi salah satu aspek yang dikesampingkan dalam alokasi skala investasi jangka panjang yang belum tentu dapat memberikan hasil sesuai yang diinginkan, sehingga masyarakat lebih memilih memperbanyak tabungan masa generasi penerusnya untuk menempuh Sejalan penuturan buruh industri di Desa Warugunung:Ay. hahaha mileh tuku tanah Sekolah bar do lali seng di ulangke kokAAy. Adanya anggapan tersebut membuat para buruh yang berperan sebagai orang tua lebih mengupayakan memberikan akses pendidikan bagi anak yang dianggap merupakan investasi jangka Tabungan disiapkan oleh para buruh di Desa Warugunung kepada generasi penerusnya selain diperoleh dari hasil kerja pada bidang industri juga diperoleh dari sektor lainnya. Sinergitas antar anggota keluarga menjadi hal yang mutlak untuk dilaksanakan jika mempunyai keluarga dengan jumlah angkatan kerja lebih dari satu (Rahmawati Suryanto & Hartini, 2. Adanya jumlah angkatan kerja yang banyak tersebut membuat jumlah pendapatan yang diterima semakin banyak. Banyaknya pendapatan selain dapat menjadi tabungan juga dapat membantu melunasi hutang keluarga jika Masyarakat kompleksnya kebutuhan melakukan segala pekerjaan baik ringan maupun berat untuk (Mahbubah dan Wijaya, 2. Dalam sebuah keluarga kegiatan bekerja tidak hanya dilakukan oleh kepala keluarga saja akan tetapi. Ibu rumah tangga juga turut serta mengambil peran tersebut. Terlebih lagi dalam dunia industri tenaga perempuan lebih dibutuhkan dalam kapasitas yang banyak dibandingkan lakilaki. Produktivitas perempuan dengan perekonomian keluarga di masa depan dengan adanya peningkatan kesejahteraan didapatkan ( Mawarji & Kismini, 2. SIMPULAN Masyarakat Desa Warugunung. Kecamatan Bulu, menjadi penyumbang tenaga kerja sebagai buruh pabrik terbanyak dalam sektor industri di Kabupaten Rembang. Etos kerja buruh pabrik dalam menjalankan kegiatan ekonomi di bidang industri didorong oleh adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Adapun tujuan para mengumpulkan pendapatan sebanyak mungkin dengan diimbangi pengalokasian dana yang tepat. Alokasi pendapatan hasil kerja para buruh di Desa Warugunung lebih memprioritaskan tabungan masa depan berupa uang, tanah, dan bangunan. Pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan dimasa sekarang dilaksanakan seadanya dan sederhana. Alokasi pendapatan yang rendah untuk pemenuhan kebutuhan pokok membuat para buruh pabrik dan keluarganya hidup dibawah ambang kemiskian di masa sekarang yang dianggap sebagai masa merintis kesejahteraan untuk generasi penerusnya dan menjalani Adanya industrialisasi tidak merubah kesejahteraan masyarakat sehingga tetap hidup berada dibawah ambang kemiskinan, karena Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 117 - 131 Available Online at jurnal. id/focus pengalokasian pendapatan para buruh Pendidikan tidak mendapatkan alokasi dana dan menjadi aspek yang tidak Pendidikan dianggap sebagai investasi dalam jumlah besar dengan hasil yang tidak dapat dinikmati dalam jangka waktu singkat perlu proses yang panjang serta menyita tenaga dan waktu. Berdasarkan temuan hasil penelitian tersebut dapat menjadi pertimbangan pihak pemerintah dalam mengkaji kebijakan terkait pengembangan industrialisasi yang mensejahterakan masyarakat. Selain itu, temuan penelitian berupa timbulnya pendapatan buruh pabrik yang kurang tepat untuk kesejahteraannya di masa sekarang dapat membuka peluang bagi pengembangan penelitian sejenis di tempat yang sama. DAFTAR PUSTAKA