ANALISIS COST- EFFECTIVNESS PENGGUNAAN OBAT BAHAN ALAM VS METFORMIN DALAM PENANGANAN DIABETES MELLITUS MENGGUNAKAN HEWAN COBA TIKUS PUTIH Hardivia Kaur1*. Razoki2. Roy Indrianto Bangar2 Program Studi Farmasi Klinis. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Prima Indonesia. Medan. Indonesia. PUI Phyto Degenerative and Lifestyle Medicine Universitas Prima Indonesia. Medan. Indonesia. *Penulis Korespondensi: nadiafriska97@gmail. ABSTRAK Bervariasinya penggunaan obat akan mengakibatkan adanya perbedaan dalam biaya dan luaran terapinya sehingga diperlukan analisis efektivitas biaya penggunaan terapi metformin dan obat bahan alam untuk mengetahui penggunaan penanganan dalam mengatasi diabetes mellitus yang paling cost- effective. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pilihan manakah yang lebih costeffective antara metformin dan obat bahan alam pada pasien diabetes melitus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan deskriptif, dimana data yang diambil merupakan data dengan menggunakan uji coba tikus putih. Sampel pada penelitian ini sebanyak 6 kelompok dengan menggunakan uji coba tikus putih dengan masing masing kelompok sebanyak 18 ekor yang terdiri dari 3 ekor tikus putih yang menggunakan metformin dan 3 ekor yang menggunakan obat bahan alam. Berdasarkan hasil perhitungan nilai ICER pada penggunaan obat bahan alam dengan hasil dibagi menjadi tiga yaitu. OHT dengan nilai -210,45 Rp%. Jamu dengan nilai -70,72 Rp/%, dan Diabetadex - 1. 489,16 Rp/%. Pada data ACER didapatkan nilai pada OHT dengan nilai sebesar 84,32 dengan efektifitas 47,43% dan biaya sebesar Rp. Jamu memiliki nilai ACER sebesar 243,04 dengan efektifitas 16,45% dan biaya Rp. 000, dan Diabetadex menunjukan nilai ACER tertinggi sebesar 518,81, dengan efektifitas 47,15% dan biaya Rp. Metformin memiliki nilai ACER paling rendah yaitu 11,09 dengan efektifitas 63,11% dan biaya Rp. 700,- penggunaan obat metformin. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pengobatan yang cost-effective adalah Metformin. Kata Kunci: Analisis Efektivitas biaya. Diabetes melitus. Metformin. Obat bahan alam. ABSTRACT The variation in drug use will result in differences in costs and therapeutic outcomes, so a costeffectiveness analysis of metformin therapy and natural remedies is needed to determine the most cost- effective use of treatment in overcoming diabetes mellitus. This study aims to determine which option is more cost-effective between metformin and natural remedies in diabetes mellitus This study is an experimental study with a descriptive design, where the data taken is data using white rat trials. The sample in this study was 6 groups using white rat trials with 18 rats each consisting of 3 white rats using metformin and 3 rats using natural remedies. Based on the results of the ICER value calculation on the use of natural remedies with the results divided into three, namely. OHT with a value of -210. 45 Rp%. Jamu with a value of -70. 72 Rp/%, and Diabetadex -1,489. 16 Rp/%. In the ACER data, the value of OHT was 84. 32 with an effectiveness 43% and a cost of Rp. 4,000. Jamu has an ACER value of 243. 04 with an effectiveness of 45% and a cost of Rp. 4,000, and Diabetadex shows the highest ACER value of 518. 81, with PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 an effectiveness of 47. 15% and a cost of Rp. 24,467. Metformin has the lowest ACER value of 09 with an effectiveness of 63. 11% and a cost of Rp. 700, - the use of metformin drugs. From the results obtained it can be concluded that the cost- effective treatment is Metformin. Keywords: Cost-effectiveness analysis. Diabetes mellitus. Metformin. Natural medicines. PENDAHULUAN Diabetes diabetes di Indonesia akan mengalami (DM) peningkatan hingga mencapai lebih dari merupakan penyakit metabolik kronis dua kali lipat dibandingkan tahun-tahun yang ditandai dengan peningkatan kadar Berdasarkan data Persatuan glukosa darah . akibat Diabetes gangguan sekresi insulin, kerja insulin. Kesehatan Indonesia, kejadian diabetes atau keduanya. Glukosa merupakan melitus di Provinsi Sumatera Utara sumber energi utama tubuh yang diatur menunjukkan tren peningkatan selama oleh hormon insulin yang diproduksi lima tahun terakhir, yaitu sebesar Pada meningkat menjadi 982. 935 kasus pada Indonesia Survei memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tidak dapat menggunakan 264 kasus pada tahun 2021, meningkat kembali menjadi 1. kasus pada tahun 2022, dan pada tahun glukosa darah secara terus-menerus 2023 tercatat sebanyak 1. 325 kasus. (Lestari Kondisi Selain itu, prevalensi diabetes melitus hiperglikemia yang berlangsung lama pada penduduk usia Ou15 tahun di dapat menyebabkan berbagai komplikasi Sumatera Utara mencapai 1,9% pada seperti nefropati, neuropati, retinopati, serta gangguan kardiovaskular sehingga Berdasarkan diabetes melitus menjadi salah satu Federation (IDF), jumlah penderita masalah kesehatan yang penting baik diabetes di Indonesia meningkat dari secara global maupun nasional. Diabetes 10,7 juta pada tahun 2019 menjadi melitus saat ini menjadi salah satu sekitar 20 juta pada tahun 2024. penyakit tidak menular dengan angka Provinsi Sumatera Utara prevalensi Organisasi Kesehatan Dunia (Persadia. International Diabetes peningkatan setiap tahun. Sekitar 15Ae PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 mengalami diabetic foot ulcer (DFU) Indonesia selama hidupnya, dan lebih dari 50% kasus DFU dapat mengalami infeksi pengobatan diabetes melitus. Indonesia yang berujung amputasi apabila tidak memiliki sekitar 940 spesies tumbuhan ditangani secara optimal. obat yang berpotensi digunakan sebagai Peningkatan juga memanfaatkan obat diabetes melitus, namun hanya sekitar meningkatnya kebutuhan terapi baik 20Ae22% sedangkan sisanya masih diperoleh Salah farmakologis yang umum digunakan (Mokodompit et al. , 2. Pemanfaatan Menurut bahan alam tersebut dapat berupa jamu. Republik Obat Herbal Terstandar (OHT), maupun Indonesia, metformin merupakan obat produk herbal lainnya yang diyakini antidiabetik oral golongan biguanid yang bekerja dengan meningkatkan Penggunaan obat bahan alam dinilai sensitivitas insulin dan memperbaiki lebih mudah dijangkau dan memiliki penggunaan glukosa oleh sel tubuh, terutama pada penderita diabetes tipe 2 tertentu sehingga banyak digunakan oleh (Kementerian Kesehatan RI, 2. Bervariasinya penggunaan Metformin direkomendasikan sebagai terapi lini pertama pada sebagian besar menyebabkan perbedaan pada biaya kasus diabetes melitus tipe 2 karena pengobatan dan luaran terapi yang efektivitasnya dalam menurunkan kadar Oleh karena itu diperlukan glukosa darah cukup baik (PERKENI. Namun demikian, penggunaan metformin juga dapat menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, diare, memberikan manfaat dan pada kondisi tertentu berisiko dengan biaya yang paling efisien. menyebabkan asidosis laktat. Selain Evaluasi penggunaan obat sintetik, masyarakat menggunakan metode Average Cost Kementerian Kesehatan . ostuntuk klinis terbaik PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Effectiveness Ratio (ACER) memberikan implikasi dalam bidang Incremental Cost Effectiveness Ratio farmakoekonomi dan pengembangan (ICER) dapat digunakan untuk menilai terapi diabetes melitus. Secara ilmiah, hubungan antara biaya yang dikeluarkan penelitian ini dapat menjadi dasar dengan efektivitas terapi yang diberikan. evaluasi efektivitas biaya penggunaan Penelitian ini menggunakan hewan coba tikus putih yang diinduksi diabetes penelitian dapat digunakan sebagai efektivitas biaya antara penggunaan Secara Penggunaan hewan coba dipilih karena pengembangan produk herbal dalam memungkinkan pengamatan yang lebih menentukan terapi diabetes yang efektif terkontrol terhadap perubahan kadar glukosa darah, efektivitas terapi, serta pemanfaatan obat bahan alam berbasis evaluasi biaya pengobatan. evidence-based medicine. Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini . METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Lokasi penelitian di lakukan Lab. penggunaan metformin dan obat bahan Terpadu bagian kultur sel dan jaringan alam terhadap penurunan kadar glukosa Universitas Sumatera Utara. Waktu darah pada tikus putih yang diinduksi penelitian dilakukan pada tanggal 09 Desember 2025 Ae 09 Januari 2026. metformin dengan obat bahan alam yang Jenis Penelitian terdiri atas OHT, jamu, dan Diabetadex. Penelitian . bagaimana nilai Average Cost penelitian eksperimental murni . rue Effectiveness Ratio (ACER) Acak Incremental Cost Effectiveness Ratio Rancangan Lengkap (ICER) dari masing-masing terapi. Penelitian . terapi manakah yang paling cost- effective dalam penanganan diabetes penggunaan metformin dan obat bahan Hasil penelitian ini diharapkan alam pada model hewan diabetes melitus PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 (RAL). yang diinduksi menggunakan aloksan. dengan 05 November 2026. Seluruh Pendekatan eksperimental dipilih karena memungkinkan pengendalian variabel penelitian secara lebih baik sehingga norvegicu. dilaksanakan sesuai dengan hubungan sebab akibat antara pemberian pedoman etik penelitian kesehatan dan terapi dan perubahan kadar glukosa prinsip kesejahteraan hewan . nimal darah dapat diamati secara langsung. Penelitian juga mengacu pada Penggunaan model hewan berupa tikus prinsip 3R (Replacement. Reduction, putih jantan dewasa yang diinduksi and Refinemen. untuk meminimalkan aloksan dipilih karena model tersebut jumlah hewan yang digunakan serta memiliki karakteristik fisiologis dan mengurangi stres dan penderitaan hewan selama proses penelitian. (Rattus diabetes melitus pada manusia. Aloksan diketahui bersifat diabetogenik karena Alat dan Bahan mampu merusak sel pankreas melalui Alat yang digunakan dalam mekanisme pembentukan radikal bebas penelitian ini meliputi spuit, gunting Easy Touch, kadar glukosa darah . dan glucometer, timbangan digital, kandang menghasilkan kondisi diabetes secara hewan uji, serta alat pencatat data. Bahan eksperimental yang stabil yang digunakan meliputi tikus putih (Lenzen, jantan (Rattus norvegicu. , aloksan monohidrat, aquadest, metformin, serta Persetujuan Etik obat bahan alam berupa jamu sambiloto. Penelitian ini telah memperoleh Diabetadex. Obat persetujuan etik dari Komisi Etik Herbal Terstandar (OHT) Bilon. Model Penelitian (KEPK) luka diabetes dipilih karena kondisi Universitas Prima Indonesia dengan hiperglikemia menyebabkan gangguan Nomor: Kesehatan 012/KEPK/UNPRI/XI/2025. Persetujuan etik diberikan berdasarkan oksidatif, gangguan sintesis kolagen, dan Surat Pernyataan Layak Etik Penelitian keterlambatan re-epitelisasi sehingga Kesehatan yang diterbitkan pada tanggal proses penyembuhan luka menjadi lebih 05 November 2025 dan berlaku sampai lambat dibandingkan kondisi normal. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Oleh karena itu model ini dianggap diberikan lebih konsisten (Akbarzadeh et , 2. Model diabetes melitus pada kandidat obat. Ekstrak dipilih karena induksi aloksan karena aloksan memiliki bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, kemampuan selektif merusak sel tanin, saponin, dan fenolik yang diduga pankreas sehingga menghasilkan kondisi berperan dalam aktivitas antiinflamasi, hiperglikemia yang menyerupai diabetes antioksidan, dan penyembuhan luka. melitus pada manusia. Model ini juga banyak digunakan dalam penelitian Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah seluruh karena mudah diaplikasikan, memiliki tikus putih jantan dewasa (Rattus biaya relatif rendah, dan menghasilkan norvegicu. yang memenuhi kriteria model diabetes yang stabil. Pemilihan sebagai hewan uji diabetes melitus sampel dilakukan menggunakan metode random sampling dan dibagi menjadi Sampel menggunakan tikus putih jantan dewasa enam kelompok perlakuan, yaitu: berumur A8Ae12 minggu dengan berat Kelompok badan 200Ae250 gram dan dalam kondisi Jumlah hewan uji ditentukan menggunakan rumus Federer: Kelompok negatif yaitu tikus diabetes tanpa pemberian terapi . Oe. Oe. Ou15. Kelompok kontrol positif, yaitu Pemilihan tikus putih jantan dewasa tikus diabetes yang diberikan dilakukan karena tikus jantan memiliki kestabilan hormonal yang lebih baik Kelompok dibandingkan tikus betina sehingga tikus diabetes yang diberikan obat bahan alam jamu dengan penelitian akibat perubahan hormon Selain itu, tikus dewasa nama obat sambiloto Kelompok dipilih karena sistem metabolisme dan tikus diabetes yang diberikan obat bahan alam fitofarmaka sempurna sehingga respons terhadap PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 dengan nama obat herbawell Kelompok pengukuran KGD pada setiap kelompok tikus diabetes yang diberikan tikus sebelum dilakukannya tindakan obat bahan alam obat herbal pemberian aloxan pada hewan uji coba. terstandar (OHT) dengan nama Setelah dilakukannya pemberian aloxan obat bilon lalu dilakukan pengukuran KGD, setelah Setiap kelompok terdiri atas 3 ekor tikus dipastikan KGD mengalami penaikan lalu di lakukan pemberian metformin Untuk dan obat bahan alam untuk mengetahui efektifitas dari kedua Tindakan tersebut. kriteria sebagai tikus putih jantan dewasa Data yang akan di dapatkan di Analisa yang berhasil diinduksi diabetes melitus, dan dilakukan pembuktian dengan cara penerapan parameter parameter yang penelitian meliputi identifikasi jenis kelamin, pengukuran umur dan berat badan, observasi kondisi fisik, serta Pengolahan Data pengukuran kadar glukosa darah awal Pengolahan . Setelah itu dilakukan induksi menggunakan aloksan dan pengukuran dengan individu, yang meliputi: Demografi Subyek penelitian ulang kadar glukosa darah dilakukan setelah 72 jam. Tikus dinyatakan mengunakan uji coba tikus putih berhasil mengalami diabetes apabila berdasarkan berat badan, dan glukosa darah Ou200 mg/dL sehingga memenuhi syarat sebagai model diabetes melitus eksperimental. Data dikumpulkan dari analisan pengukuran KGD dan harga dari setiap KGD Gambaran Jenis Terapi Analisis Pengumpulan Data merangkum data distribusi jenis terapi antara metformin dan obat masing masing obat yang akan di jadikan PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 bahan alam yang diresepkan yayayaycI = pada subyek penelitian. Melakukan statistic dengan SPSS dengan Independent T-Test menunjukan hasil >0,05 dari setiap data penurunan KGD Metformin Obat bahan alam. Terapi Analisa efektivitas biaya dengan metode Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER). Berdasarkan ICER, melihat rasio biaya antara dua obat untuk penurunan KGD Keterangan: Biaya A = Biaya obat per kelompok Biaya B = Biaya terapi obat Efek A = Efek Terapi obat Efek B = Efek Pembanding Kebaruan penelitian ini terletak farmakoekonomi menggunakan analisis cost-effectiveness metformin dan tiga kategori obat bahan Perhitungan Efektivitas Biaya yaAycnycaycyca ya . cIyc. Oe yaAycnycaycyca yaA . cIyc. yayceyceyco ya Oe yayceyceyco yaA efektivitas antara keduanya. Hasil dari CEA dapat disimpulkan dengan Incremental Cost- Effectiveness Ratio (ICER) sebagaimana pada rumus. Jika hasil perhitungan ICER negatif atau semakin kecil, maka suatu alternatif obat dianggap lebih efektif dan lebih murah, sehingga dapat dijadikan rekomendasi pilihan terapi (Andayani, 2. alam, yaitu jamu. Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka, menggunakan model tikus diabetes yang diinduksi Penelitian umumnya berfokus pada efektivitas penurunan glukosa darah, sedangkan evaluasi ekonomi melalui analisis ACER dan ICER. Metode ini memberikan kontribusi dalam ilmu farmasi khususnya pengembangan obat bahan alam karena tidak hanya mengevaluasi efektivitas terapi tetapi juga mempertimbangkan efisiensi biaya sehingga dapat menjadi diabetes melitus yang lebih efektif dan PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini memiliki beberapa darah tanpa mengevaluasi biomarker lain seperti kadar insulin, profil lipid, pendekatan farmakoekonomi melalui Penelitian metode ACER dan ICER yang tidak disarankan menggunakan jumlah sampel hanya menilai efektivitas terapi tetapi yang lebih besar dan periode observasi juga mempertimbangkan aspek biaya. yang lebih panjang agar diperoleh hasil Selain itu, penelitian ini membandingkan yang lebih representatif. Selain itu, perlu tiga kategori obat bahan alam sekaligus dilakukan evaluasi terhadap variasi yaitu jamu. OHT, dan fitofarmaka, dosis, bentuk sediaan, kombinasi terapi, sehingga memberikan gambaran yang serta analisis biomarker lain untuk lebih luas mengenai efisiensi terapi memperjelas mekanisme kerja obat diabetes berbasis bahan alam. Penelitian bahan alam. Penelitian lanjutan juga keterbatasan, antara lain jumlah sampel farmakoekonomi yang lebih luas seperti yang relatif kecil yaitu tiga ekor tikus cost utility analysis maupun cost benefit sehingga dapat memengaruhi kekuatan statistik penelitian. Selain itu, durasi Hasil Rerata Berat Badan Tikus Putih pengamatan relatif singkat sehingga Hasil penelitian mengenai rerata belum dapat menggambarkan efek terapi berat badan tikus putih dapat dilihat pada jangka panjang. Penelitian ini juga hanya Tabel 1 berikut. menggunakan parameter kadar glukosa Tabel 1. Hasil Rerata Berat Badan Tikus Putih Tanggal Kelompok 09 Desember 16 Desember 23 Desember 30 Desember 224 A17 238,60A9,539 223,33A12,503 201,33A2,082 238,67A26,633 196A6,928 247,33A25,794 216,67A7,767 235,67A15,275 202,33A30,892 194,67A41,885 182,33A47,606 212,67A8,737 210,67A1,155 212,33A10,214 224A21,284 237A22,517 216,33A12,423 215A10,817 235,67A9,238 PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 232,33A14,572 210A15 221A29,513 199,67A19,399 Keterangan= K1= Kelompok Normal. K2= Aloksan. K3= Aloksan Metformin. K4= Aloksan Jamu. K5= Aloksan Fitofarmaka. K6= Aloksan OHT. Hasil Uji Normalitas Homogenitas Berat Badan Tikus Putih homogenitas dengan uji Levene Test Sebelum Shapiro-Wilk yang dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. statistik, seluruh data terlebih dahulu Tabel 2. Uji Normalitas dan Homogenitas Berat Badan Tikus Putih. Tanggal Kelompok Normalitas Homogenitas 1,000 0,100 09 Desember 0,637 0,445 0,554 0,000 0,463 0,956 0,463 16 Desember 0,031 0,011 0,000 0,077 1,000 0,583 0,000 23 Desember 0,068 0,055 0,281 0,537 0,944 0,525 0,497 30 Desember 0,201 0,024 0,688 0,000 0,148 Keterangan= K1= Kelompok Normal. K2= Aloksan. K3= Aloksan Metformin. K4= Aloksan Jamu. K5= Aloksan Fitofarmaka. K6= Aloksan OHT. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Hasil Uji Kruskal-Wallis Berdasarkan Tabel 4. 2 dapat disimpulkan bahwa semua kelompok Kruskal-Wallis yang dapat dilihat pada tidak memenuhi asumsi normalitas dan Tabel 3 berikut. homogenitas maka analisis perbedaan Tabel 3. Hasil Uji Kruskal-Wallis Berat Badan Tikus Putih Tanggal 09 Desember 2025 16 Desember 2025 0,332 0,450 23 Desember 2025 0,271 30 Desember 2025 0,110 Keterangan= Signifikansi= p<0,05. Analisis Data Kadar Gula Darah Hasil penelitian mengenai rerata Tikus Putih Rerata Kadar Gula kadar gula darah tikus putih dapat dilihat Darah Tikus Putih pada Tabel 4 dan Gambar 1 berikut. Tabel 4. Rerata kadar gula darah tikus putih Kelompok Hari H 7 H 14 138,33A3 97A8,185 107,33A6, 117,67A10,5 120,67A17,243 5,233 155,33A1 191,33A69, 253A41,0 381,67A167, 365,33A17,010 9,502 133A34,1 241,33A145 397,67A1 269A117,58 146,67A7,024 ,222 60,656 122,33A3 333A206,63 492,67A9 216A65,092 260,33A118,56 1,770 0,919 111,67A2 305A202,50 468A65,2 164,67A44,2 246A129,294 1,032 94,33A8,0 233,33A174 427,33A1 486A98,960 357A160,037 ,712 16,792 Keterangan= K1= Kelompok Normal. K2= Aloksan. K3= Aloksan Metformin. K4= Aloksan Jamu. K5= Aloksan Fitofarmaka. K6= Aloksan OHT. H0= Sebelum Induksi Aloksan. H3= Hari ke-3 setelah induksi Aloksan. H7= Hari ke-7 setelah induksi Aloksan. H 7= Hari ke-7 setelah perlakuan H 14= Hari ke-14 setelah perlakuan. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Rerata Kadar Gula Darah Tikus Putih Hari keH0 Hari keH3 Hari keH7 Hari keH 7 Hari keH 14 Gambar 1. Grafik Kadar Gula Darah Tikus Putih. Hasil Uji Normalitas dan Homogenitas Kadar Gula Darah Tikus Putih Hasil uji normalitas dan homogenitas kadar gula darah tikus putih dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. Tabel 5. Hasil uji normalitas dan homogenitas kadar gula darah tikus putih. Hari keKelompok Normalitas Homogenitas 0,054 0,246 0,510 0,157 0,060 0,895 0,862 0,593 0,699 0,211 0,093 0,695 0,992 0,197 0,817 0,257 0,083 0,017 0,402 0,848 0,370 H 7 0,739 0,084 PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 H 14 0,927 0,244 0,898 0,271 0,458 0,679 0,339 0,843 0,829 0,252 0,959 0,060 Keterangan= K1= Kelompok Normal. K2= Aloksan. K3= Aloksan Metformin. K4= Aloksan Jamu. K5= Aloksan Fitofarmaka. K6= Aloksan OHT. H0= Sebelum Induksi Aloksan. H3= Hari ke-3 setelah induksi Aloksan. H7= Hari ke-7 setelah induksi Aloksan. H 7= Hari ke-7 setelah perlakuan. H 14= Hari ke-14 setelah perlakuan Hasil Uji Oneway ANOVA Data Kadar kelompok bersifat homogen pada H0. Gula Darah Tikus Putih H3. H 7, dan H 14 . > 0,. Oleh Berdasarkan hasil uji normalitas karena itu, analisis data pada H0. H3, dan homogenitas yang disajikan pada H 7, dan H 14 dapat dilanjutkan Tabel 6, dapat diketahui bahwa seluruh dengan uji Oneway ANOVA yang dapat data berdistribusi normal . > 0,. Uji dilihat pada Tabel 6 berikut homogenitas menunjukkan varians antar Tabel 6. Hasil Uji Oneway ANOVA. Hari kep 0,166 0,254 H 7 0,161 H 14 0,054 Keterangan= K1= Kelompok Normal. K2= Aloksan. K3= Aloksan Metformin. K4= Aloksan Jamu. K5= Aloksan Fitofarmaka. K6= Aloksan OHT. H0= Sebelum Induksi Aloksan. H3= Hari ke-3 setelah induksi PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Hasil Uji Posthoc LSD Data Kadar Gula Darah Tikus Putih 4 Hasil Uji Posthoc LSD Tabel 7. Hasil Uji Posthoc LSD. Hari Kelompok K1 H 7 0,015 0,130 0,313 0,624 0,159 0,015 0,254 0,101 0,039 0,210 0,130 0,254 0,576 0,283 0,903 0,313 0,101 0,576 0,593 0,661 0,624 0,039 0,283 0,593 0,337 0,159 0,210 0,903 0,661 0,332 Keterangan= K1= Kelompok Normal. K2= Aloksan. K3= Aloksan Metformin. K4= Aloksan Jamu. K5= Aloksan Fitofarmaka. K6= Aloksan OHT. H 7= Hari ke-7 setelah perlakuan. Tabel 8. Hasil Uji Kruskal-Wallis Data Kadar Gula Darah Tikus Putih Hasil Uji Kruskal-Wallis. Hari keAsymp Sig. 0,040 Keterangan= H7= Hari ke-7 setelah induksi aloksan . <0,. Tabel 9. Hasil Uji Mann-Whitney Data Kadar Gula Darah Tikus Putih. Hari Kelompok 0,050 0,050 0,050 0,127 0,050 0,050 0,050 0,050 0,050 0,127 0,050 0,127 0,513 0,513 0,827 0,050 0,050 0,513 0,827 0,275 0,050 0,050 0,513 0,827 0,513 0,050 0,127 0,827 0,275 0,513 Keterangan= K1= Kelompok Normal. K2= Aloksan. K3= Aloksan Metformin. K4= Aloksan Jamu. K5= Aloksan Fitofarmaka. K6= Aloksan OHT. H7= Hari ke-7 setelah induksi aloksan. Analisis Cost-Effectiveness Penggunaan Obat Bahan Alam VS Metformin Perhitungan Total Biaya Selama 14 Hari Perlakuan Keterangan= Metformin= Obat generik. Diabetadex (Fitofarmak. Bilon (OHT). Sambiloto (Jam. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Tabel 10. Perhitungan Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER). Terapi Total Biaya (Rp. Efektivitas (%) ACER (Rp/%) Metformin Diabetadex 63,11 47,15 11,09 518,81 Bilon 47,43 84,32 Sambiloto 16,45 243,04 Keterangan= Metformin (Obat generi. Diabetadex (Fitofarmak. Bilon (OHT). Sambiloto (Jam. Tabel 11. Perhitungan Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) Perhitungan Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER). Perbandingan Obat iC (R. iE (%) ICER (Rp / %) Bilon vs Metformin Sambiloto vs Metformin -15,68 -46,66 -210,45 -70,72 Diabetadex vs Merformin -15,96 489,16 Keterangan= iC= Selisih biaya obat dengan pembanding, iE= Selisih efektivitas obat dengan pembanding Penelitian ini dilakukan untuk efektivitas penggunaan metformin dan penghambatan glukoneogenesis, serta obat bahan alam serta menentukan terapi meningkatkan penggunaan glukosa pada jaringan perifer. Mekanisme tersebut cost-effective menggunakan model tikus putih yang menurun lebih cepat dan lebih stabil diinduksi aloksan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa metformin penelitian ini metformin menghasilkan efektivitas sebesar 63,11%, lebih tinggi kadar glukosa darah yang lebih tinggi dibandingkan OHT Bilon . ,43%), dibandingkan seluruh kelompok obat Diabetadex sambiloto . ,45%). Tingginya . ,15%). Hasil Pada metformin pada penelitian ini diduga menjawab rumusan masalah pertama metformin yang mampu meningkatkan PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Walaupun ACER. Hasil menunjukkan metformin memiliki nilai ACER paling rendah yaitu antihiperglikemik, efektivitasnya masih 11,09 Rp/% dengan biaya terapi Rp700. berada di bawah metformin. Perbedaan Nilai ACER yang rendah menunjukkan ini kemungkinan disebabkan oleh variasi efektivitas tinggi dengan biaya yang bioavailabilitas, dosis, dan mekanisme lebih kecil. Sebaliknya, seluruh obat kerja masing-masing bahan alam. Jamu bahan alam memiliki nilai ACER yang Diabetadex mengandung senyawa andrographolide menunjukkan nilai ACER tertinggi yang memiliki aktivitas antidiabetes melalui peningkatan sensitivitas insulin memerlukan biaya terapi paling tinggi dan aktivitas antioksidan, namun efek yaitu Rp24. 467 dengan efektivitas yang tidak melebihi metformin. Hasil tersebut dibandingkan metformin. 518,81 Rp/% mengindikasikan bahwa peningkatan Analisis biaya terapi pada obat bahan alam tidak memperlihatkan adanya perbedaan antar selalu diikuti peningkatan efektivitas. kelompok pada pengamatan hari ke-7 Kondisi Kruskal-Wallis . =0,. Hasil ini terapi tidak hanya didasarkan pada menunjukkan bahwa pemberian terapi manfaat klinis tetapi juga efisiensi penggunaan sumber daya kesehatan. terhadap penurunan kadar glukosa darah. Meskipun Permasalahan ketiga penelitian mengenai nilai ICER menunjukkan pengamatan hasil One Way ANOVA seluruh obat bahan alam menghasilkan nilai negatif terhadap metformin. Nilai signifikan, kecenderungan penurunan ICER negatif pada OHT Bilon (-210,45 kadar glukosa darah tetap lebih baik Rp/%), jamu sambiloto (-70,72 Rp/%) menunjukkan bahwa terapi tersebut mengenai perbandingan biaya terapi memiliki biaya lebih tinggi namun juga berhasil dijawab melalui analisis efektivitas lebih rendah dibandingkan Permasalahan Diabetadex (-1. 489,16 PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Rp/%) terapi Dalam Berdasarkan alternatif dominan . ominant strateg. kadar glukosa darah tertinggi sebesar karena memberikan efektivitas lebih 63,11% tinggi dengan biaya yang lebih rendah. ,43%). Diabetadex . ,15%), dan Secara keseluruhan, hasil penelitian jamu sambiloto . ,45%). Hasil analisis menjawab permasalahan utama pada Cost-Effectiveness menunjukkan metformin memiliki nilai OHT Bilon Analysis ACER paling rendah yaitu 11,09 Rp/% dengan biaya terapi sebesar Rp700 sehingga menjadi terapi yang paling metformin masih menjadi terapi yang Nilai ICER pada OHT Bilon paling cost-effective untuk penanganan sebesar -210,45 Rp/%, jamu sambiloto - diabetes melitus pada model hewan uji 70,72 Rp/%, dan Diabetadex -1. 489,16 tikus putih. Meskipun demikian, obat Rp/% menunjukkan bahwa seluruh obat bahan alam tetap memiliki potensi bahan alam memiliki biaya lebih tinggi Penelitian Dengan menunjukkan kemampuan menurunkan demikian dapat disimpulkan bahwa efektivitas dan efisiensi biayanya masih metformin merupakan terapi yang paling lebih rendah. Temuan penelitian ini juga cost-effective memberikan kontribusi pada bidang diabetes melitus pada model hewan uji tikus putih yang diinduksi aloksan. karena mengintegrasikan evaluasi klinis dan ekonomi terhadap terapi diabetes berbasis bahan alam. Hasil penelitian dapat menjadi dasar pengembangan ekonomis, dan berbasis bukti ilmiah. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA