Hubungan Caring Perawat dengan Komunikasi Terapeutik pada Pasien Halusinasi Birgitta Arta Milawati1. Yuliana2*. Riska Amalya Nasution3 Program Studi Keperawatan. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi. Jambi. Indonesia birgittaarta02@gmail. com, *yuliana_fkik@unja. id, riskanasution@unja. Abstract World Health Organization (WHO) reports that 300 million people globally experience mental disorders such as depression, bipolar disorder, and dementia. Additionally, around 24 million people are diagnosed with schizophrenia. Schizophrenia is a mental condition that can affect logical thinking and interfere with social interactions. About 70% of individuals with schizophrenia experience hallucinations, making it difficult for them to engage in social interaction and communication. Therefore, a caring attitude from nurses is crucial to facilitating effective communication in nursing care. This study aims to explore nurses' caring behavior and therapeutic communication with patients experiencing hallucinations at the Regional Psychiatric Hospital of Jambi Province. It employs a quantitative approach, involving 66 nurses selected using cluster random sampling. Data collection tools included the Caring Behavior Inventory (CBI) and a Therapeutic Communication instrument, analyzed using Spearman's rho test. The findings revealed that nurses' caring behavior was evenly split between good . %) and less optimal . %) categories, while most therapeutic communication strategies were classified as good . 4%). A positive relationship was found between nurses' caring behavior and therapeutic communication strategies, with an r-value of 0. 243 and a pvalue of 0. Enhancing responsive approaches can improve nursing care quality for patients with hallucinations. Keywords: Caring. Hallucination. Therapeutic Communication Abstrak World Health Organization (WHO) menyatakan sekitar 300 juta orang di seluruh dunia mengidap gangguan mental, termasuk depresi, bipolar, dan demensia. Selain itu, sekitar 24 juta orang hidup dengan skizofrenia. Skizofrenia adalah gangguan jiwa yang dapat membuat penderitanya kehilangan akal dan menggangu hubungan sosial. 70% penderita skizofrenia mengalami halusinasi sulit interaksi dan komunikasi dengan orang lain. Dalam asuhan keperawatan, diperlukan perilaku caring perawat untuk mendukung proses komunikasi yang Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku caring perawat dan komunikasi terapeutik pada pasien halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan melibatkan 66 perawat melalui teknik cluster random Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner Caring Behavior Inventory (CBI) dan Komunikasi Terapeutik. Analisis data dilakukan dengan uji Spearman's rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku caring perawat terbagi secara merata antara kategori baik . %) dan kategori kurang . %), sebagian besar strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik dalam kategori baik . 4%). Adanya hubungan perilaku caring perawat dengan strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik dengan nilai r 0. 243 dan p value 0. Perawat dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien halusinasi dengan mengembangkan pendekatan yang responsif terhadap kebutuhan pasien dan mengikuti pelatihan komunikasi terapeutik. Kata Kunci: Caring. Halusinasi. Komunikasi Terapeutik Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 6 Nomor 2. Nov 2024 ISSN: . 2656-6222, . 2657-1595 DOI 10. 1234/jkr. Available online: https://jurnal. poltekkes-kemenkes-bengkulu. id/index. php/jkr 126 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 6 Nomor 2. Nov 2024 PENDAHULUAN Gangguan jiwa merupakan kondisi kesehatan ketika proses berpikir, emosi, dan perilaku mengalami gangguan sehingga dapat menyebabkan hambatan dalam menjalankan aktivitas, kehidupan sosial, dan berdampak pada hubungan keluarga (Dewi, 2. World Health Organization (WHO) mengungkapkan bahwa pada tahun 2022, sekitar 300 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan mental seperti depresi, bipolar, dan demensia, termasuk sekitar 24 juta orang yang hidup dengan skizofrenia (Damayanti et al. , 2. Data Riskesdas tahun 2018 menyatakan bahwa prevalensi skizofrenia di Indonesia tercatat sebesar 6,7 kasus per 1. 000 rumah tangga, yang berarti setiap 1. 000 rumah tangga, terdapat sekitar 6 hingga 7 rumah tangga yang memiliki anggota keluarga yang mengidap skizofrenia (Kustiawan et al. Angka tertinggi ditemukan di Bali dan terendah ditemukan di Provinsi Kepulauan Riau sedangkan Provinsi Jambi menduduki tingkatan yang ke 15 dengan angka prevalensi 7,0 permil rumah tangga(Kementerian Kesehatan RI, 2. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jambi menunjukkan bahwa prevalensi skizofrenia yang tercatat tahun 2020 sebanyak 19. jiwa, pada tahun 2021 meningkat menjadi 531 jiwa, dan meningkat sangat tinggi 877 jiwa pada tahun 2022. Menurut data rekam medis Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi (Januari Ae Agustus 2. tercatat sebanyak 3. pasien dirawat dengan diagnosis skizofrenia dan masalah keperawatan paling banyak adalah halusinasi yakni sebanyak 3. Kemudian diikuti dengan Harga Diri Rendah sebanyak 272 kasus. Resiko Perilaku Kekerasan sebanyak 44 kasus. Waham sebanyak 7 kasus. Resiko Bunuh Diri sebanyak 6 kasus. Defisit Perawatan Diri sebanyak 4 kasus dan Isolasi Sosial sebanyak 2 kasus. Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa yang dapat membuat penderitanya kehilangan akal dan mengganggu hubungan Gangguan ini ditandai dengan kesulitan dalam membedakan antara kenyataan dan halusinasi, ekspresi emosi tidak sesuai, gangguan pada kemampuan berpikir serta kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari(Pardede & Hasibuan. Sebanyak 70% pasien skizofrenia mengalami halusinasi (Sutinah, 2. Halusinasi adalah tanda gangguan jiwa yang ditunjukkan dengan perubahan merasakan sensasi palsu seperti suara, penglihatan, rasa, sentuhan atau bau yang tidak nyata (Keliat & Akemat, 2. Halusinasi dapat berdampak pada hilangnya kontrol diri yang berisiko membahayakan diri sendiri, orang lain serta merusak lingkungan sekitar(Silaen, 2. Untuk meminimalisir dampak tersebut, diperlukan suatu penanganan yang tepat oleh perawat. Perawat berperan dalam menerapkan terapi aktivitas kelompok dan standar asuhan keperawatan (Liviana & Titik Suerni, 2. Standar asuhan keperawatan mencakup strategi pelaksanaan halusinasi baik secara individu dan dengan melibatkan Untuk melaksanakan strategi pelaksanaan halusinasi, terdapat beberap tahapan komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat, yakni tahap persiapan . ra-interaks. , tahap orientasi, tahap kerja dan tahap terminasi (Keliat et al. , 2. Pasien halusinasi cenderung merasa cemas, takut, atau kebingungan akibat pengalaman halusinasi yang tidak nyata sehingga perawat perlu memberikan perilaku caring untuk mengatasi hal Menurut Theory of Human Care oleh Watson, perawat menunjukkan perilaku caring dengan menciptakan Birgitta dkk. Hubungan Caring Perawat | 127 menunjukkan kasih sayang, menunjukkan empati, memperlihatkan minat dan cinta, membangun kepercayaan, melindungi, hadir secara aktif, memberikan dukungan dan sentuhan, serta siap membantu dan mengunjungi klien(Firmansyah et al. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik pada pasien halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi telah diterapkan melalui tahapan pra-interaksi, orientasi, kerja, dan terminasi. Pada fase pra-interaksi, perawat melaksanakan tugas dengan baik, seperti merencanakan tindakan dan mengumpulkan informasi Namun, pada fase orientasi, dua perawat tidak melaksanakan tugas dengan optimal, seperti tidak memberi salam, memperkenalkan diri, atau menjelaskan tujuan tindakan. Perilaku caring perawat juga dinilai kurang, ditandai dengan minimnya perhatian, semangat dan dukungan yang diberikan kepada pasien, serta kurangnya upaya untuk menanyakan keluhan pasien. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan studi mengenai hubungan perilaku caring perawat dengan strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik pada pasien halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Kuesioner yang digunakan adalah data demografi. Caring Behavior Inventory (CBI) yang mencakup 42 item pernyataan, dan kuesioner Komunikasi Terapeutik sebanyak 19 item pernyataan. Proses pengumpulan data dilakukan secara langsung oleh peneliti ke 12 ruang rawat inap dengan memperhatikan kriteria Uji analisis dilakukan dengan menggunakan uji SpearmanAos rho. METODE Studi kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian sebanyak 150 perawat dengan sampel total 66 perawat ruang rawat Metode pengumpulan sampel menggunakan teknik cluster random sampling yang mewakili masing-masing ruang rawat inap. Dari 66 responden yang diteliti, data memperlihatkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan, sejumlah 53 orang . ,3%), dan sebagian besar berada pada usia antara 26-35 tahun, sejumlah 30 orang . ,5%). Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar responden berpendidikan Ners, yaitu 38 orang . ,6%), sementara mayoritas HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Kategori Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Usia Remaja akhir . -25 tahu. 4 Dewasa awal . -35 tahu. 30 Dewasa akhir . -45 tahu. 22 Lansia awal . -55 tahu. Total Pendidikan Ners Total Masa Kerja <1 tahun 1-5 tahun 6-10 tahun >10 tahun Total 128 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 6 Nomor 2. Nov 2024 responden memiliki masa kerja >10 tahun, sejumlah 35 orang . %). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Perilaku Caring Perawat pada Pasien Halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi Kategori Baik Kurang Total Di ruang rawat inap Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi, menunjukkan perilaku caring yang terbagi secara merata, dengan 33 responden . ,0%) berada pada kategori baik dan 33 responden . ,0%) pada kategori kurang. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Strategi Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Perawat pada Pasien Halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi Kategori Baik Kurang Total Mayoritas perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi komunikasi terapeutik pada pasien halusinasi, dengan 59 responden . ,4%) termasuk dalam kategori baik, sementara 7 responden . ,6%) tergolong kategori Tabel 4. Analisa Hubungan Perilaku Caring Perawat dengan Strategi Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik pada Pasien Halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi Distribusi P value Spearm anAos rho 3 50 0. Baik Perilaku Caring Perawat Strategi Pelaksa Komuni Terapeu Kura Baik Kura Hasil analisa dengan uji statistik SpearmanAos rho memperlihatkan bahwa nilai p value sebesar 0,049 yang artinya < 0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha Maka, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan perilaku caring perawat dan strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik pada pasien halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Nilai koefisien relasi r 0. 243 memiliki arti bahwa terdapat hubungan yang sangat lemah . antara perilaku caring perawat dengan strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik dengan arah hubungan positif karena nilai koefisien relasi positif yang artinya semakin tinggi perilaku caring perawat maka semakin meningkat strategi pelaksanaan komunikasi PEMBAHASAN Berdasarkan faktor jenis kelamin, sebagian besar dari responden adalah perempuan, yaitu 53 orang . ,3%). Hasil ini selaras dengan studi yang dilakukan oleh Ginting dkk, dimana sebagian besar perawat juga berjenis kelamin perempuan, sebanyak 42 perawat . ,2%) (Ginting et , 2. Pekerjaan perawat identik dengan perempuan karena perempuan memiliki ciri yang tidak dimiliki laki-laki yaitu kemampuan untuk mengasuh orang lain dan memberikan kenyamanan (Rohmah et al. , 2. Birgitta dkk. Hubungan Caring Perawat | 129 Faktor usia, sebagian besar responden berada pada rentang usia 26-35 tahun, yaitu 30 orang . ,5%). Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, dimana sebagian besar perawat juga berada dalam rentang usia 26-35 tahun, sebanyak 87 perawat . ,2%) (Mutmainnah et al. , 2. Usia dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam bekerja, karena semakin bertambah usia maka semakin meningkat pula kemampuan dalam menjalankan pekerjaan (Kurniawati et al. , 2. Pada tingkat pendidikan, banyak dari responden berada pada tingkat pendidikan Ners, yaitu 38 orang . ,6%). Temuan ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, dimana mayoritas perawat memiliki tingkat pendidikan D3, sebanyak 80 perawat . ,5%) (Hutabarat et al. , 2. Tingkat pendidikan mempengaruhi kualitas dan kinerja perawat karena pendidikan yang lebih tinggi, seperti jenjang Ners, mengembangkan kemampuan analisis kritis, berpikir reflektif, dan pengambilan keputusan yang lebih baik, terutama dalam situasi kompleks. Selain itu, pendidikan yang lebih tinggi sering kali dikaitkan dengan penguasaan teknologi kesehatan terbaru dan peningkatan kemampuan komunikasi terapeutik. Hal ini berdampak positif pada hubungan antara perawat dan pasien yang akan meningkatkan kualitas perawatan (Elmonita, 2. Pada kategori masa kerja, sebagian besar memiliki pengalaman masa kerja lebih dari 10 tahun, yaitu 35 orang . %). Hal ini seiring dengan riset sebelumnya, dimana mayoritas responden telah bekerja lebih dari 5 tahun, sebanyak 45 orang . ,4%) (Zaenal et al. , 2. Masa kerja merujuk pada periode sejak seseorang mulai bekerja dan terikat pada suatu Semakin lama seseorang bekerja, maka semakin baik kinerjanya, karena mereka telah beradaptasi dengan tugas dan (Zulkifli Sureskiarti, 2. Lama masa kerja juga berkaitan dengan banyaknya pengalaman yang diperoleh, sebagaimana dinyatakan oleh (Sutrisno, 2. pengalaman kerja mencakup akumulasi pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh seseorang selama menjalankan tugas dalam jangka waktu tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menghadapi tantangan pekerjaan dengan lebih percaya diri dan bertanggung jawab. Selain itu, pengalaman kerja yang bertambah membantu individu mengenali pola kerja, meningkatkan efektivitas, dan menyelesaikan tugas dengan lebih baik Distribusi perilaku caring perawat terhadap pasien halusinasi menunjukkan bahwa 33 responden . %) termasuk dalam kategori baik, sementara 33 responden . %) termasuk dalam kategori kurang. Hasil ini tidak seiring dengan studi terdahulu, yang menemukan bahwa perilaku caring perawat terhadap pasien dengan gangguan jiwa di ruang rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta berada dalam kategori baik sebanyak 85,4% (Iswanti et al. , 2. Dalam kuesioner CBI terdapat beberapa sub perilaku caring perawat dengan pernyataan mengakui keberadaan manusia, yaitu perawat memberikan kontak fisik terapeutik pada pasien untuk menunjukkan perhatian dan kepedulian. Perawat menyediakan perawatan dan memberikan terapi obat kepada pasien sesuai jadwal. Pernyataan menanggapi dengan rasa hormat yaitu perawat memberikan harapan dan semangat terhadap pasien dan perawat memberi menyampaikan perasaan terkait kondisi 130 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 6 Nomor 2. Nov 2024 kesehatan dan perawatan yang sedang Perilaku caring perawat dengan pernyataan pengetahuan dan keterampilan profesional yaitu perawat menjaga kerahasiaan informasi pasien dan perawat percaya diri dalam melayani pasien. Pernyataan menciptakan hubungan yang positif yaitu perawat membantu pasien meningkatkan kesehatannya serta perawat membantu pasien merasa nyaman dalam aspek fisik atau emosional. Pada pernyataan perhatian terhadap yang dialami orang yaitu perawat peka terhadap keadaan pasien dan perawat memberikan perhatian intensif pada pasien saat awal perawatan di rumah sakit. Perilaku caring dalam kategori kurang dapat terlihat dari pernyataan perawat mempercayai keluhan yang diungkapkan pasien dan pernyataan perawat bersikap jujur tentang penyakit pasien serta perawat meminta opini dari pasien tentang cara merawat dirinya dan pernyataan perawat memberikan informasi lengkap mengenai keadaan pasien sehingga ia dapat mengambil keputusan. Hasil observasi saat penelitian, perilaku caring perawat kurang dapat terlihat dari beberapa perilaku, seperti menggunakan bahasa yang kurang baik kepada pasien, menggunakan nada suara yang tinggi ketika merespon perkataan pasien dan kurang meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan pasien. Perilaku caring yang kurang maksimal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk jumlah pasien yang terlalu banyak, kekurangan tenaga perawat, beban kerja yang tinggi, serta keterbatasan waktu dan sumber daya. Kondisi ini dapat mengakibatkan perawat tidak memiliki cukup kesempatan untuk memberikan perhatian dan perawatan yang penuh kasih sayang kepada setiap pasien secara individual. Hasil studi mengindikasikan bahwa strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik pada pasien halusinasi berada dalam kategori baik 59 responden . ,4%) dan kategori kurang 7 responden . ,6%). Temuan ini selaras dengan studi yang dilakukan Ginting dkk mengenai penerapan komunikasi terapeutik oleh perawat dalam mengontrol halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Ildrem Medan pada tahun 2023, dimana sebagian besar perawat memperlihatkan komunikasi terapeutik yang baik sebanyak 44 perawat . %) (Ginting et al. , 2. Analisa kuesioner mengenai strategi menunjukkan hasil yang baik dapat terlihat pada tahap pra-interaksi. Pernyataan perawat mengumpulkan seluruh informasi mengenai penyakit atau kondisi pasien Perawat menyusun rencana tindakan keperawatan yang akan diterapkan pada pasien. Perawat mengendalikan emosinya saat bertemu dengan pasien. Perawat mempersiapkan melaksanakan tindakan. Pada tahap orientasi, sebagian besar responden menunjukkan hasil yang baik. Pernyataan memperkenalkan diri saat pertama kali berkomunikasi dengan pasien. Perawat bertanya tentang nama atau panggilan favorit pasien. Evaluasi kondisi atau perasaan pasien. Perawat juga memvalidasi kondisi atau perasaan pasien dan membuat janji atau kontrak . ermasuk tindakan, tujuan, waktu, dan tempa. sebelum melanjutkan komunikasi dengan pasien, dan perawat menjaga privasi pasien saat melakukan tindakan. Pada tahap kerja, sebagian besar responden menunjukkan hasil yang baik dengan pernyataan perawat melakukan Birgitta dkk. Hubungan Caring Perawat | 131 pengkajian pada pasien, diagnosis Selain Perawat juga menjaga kontak berkomunikasi dengan pasien. Pada tahap terminasi, sebagian besar responden menunjukkan hasil yang baik dengan pernyataan perawat melakukan evaluasi subjektif dengan bertanya kondisi atau perasaan pasien setelah diberikan tindakan keperawatan. Perawat juga melakukan evaluasi objektif untuk mengetahui respon pasien setelah tindakan Selain itu, perawat membuat rencana tindak lanjut dengan mengingatkan pasien tentang pemeriksaan atau tindakan Perawat mengatur janji untuk pertemuan berikutnya, mencakup lokasi, waktu, topik, dan tujuan sesuai kesepakatan Perawat selalu mengucapkan salam saat meninggalkan ruangan pasien. Strategi terapeutik dalam kategori kurang terlihat pada pernyataan bahwa perawat jarang penyakit atau kondisi pasien sebelum berkomunikasi dengan pasien. Selain itu, perawat kurang membuat rencana tindak lanjut dengan kesepakatan untuk pertemuan selanjutnya, termasuk tempat, waktu, topik, dan tujuan. Berdasarkan hasil observasi selama penelitian, strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat yang kurang dapat terlihat dari beberapa perilaku, seperti perawat membatasi percakapan dengan pasien sehingga percakapan kurang jelas, jarang menanyakan kondisi kesehatan pasien saat berkomunikasi, dan kurang menjaga kontak mata dengan pasien. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi hal ini antara lain jumlah pasien yang banyak, kekurangan tenaga perawat, serta beban pendokumentasian asuhan keperawatan yang kompleks. Hasil analisa dengan uji SpearmanAos rho menunjukkan nilai signifikansi 0,049 (< 0,. sehingga H0 ditolak dan Ha Maka, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku caring komunikasi terapeutik pada pasien halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,243 menunjukkan adanya hubungan yang sangat lemah . ,00-0,. antara perilaku caring perawat dan strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik, dengan arah hubungan positif. Artinya semakin tinggi perilaku caring perawat, maka semakin baik pula strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik yang dilakukan Hasil studi ini seiring dengan riset yang dilakukan Nofriadi dkk. Ditemukan adanya hubungan signifikan antara komunikasi terapeutik dan perilaku caring dengan nilai p-value 0,043 . <0,. (Nofriadi et al. Temuan ini didukung oleh teori Watson, yang menyatakan bahwa tindakan caring meliputi komunikasi efektif dan terapeutik, konsisten memberikan respon positif kepada sesama, menawarkan dukungan, serta merancang rencana sesuai dengan standar yang berlaku(Kusnanto. Perilaku caring memberikan dampak yang berarti terhadap tingkat kepuasan pasien, terutama ketika layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien dan disampaikan dengan cara yang ramah selama perawatan, serta disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia. Komunikasi terapeutik perawat merujuk pada interaksi profesional antara perawat dan pasien yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dan mendukung 132 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 6 Nomor 2. Nov 2024 proses pemulihan pasien (Putri & Ngasu. KESIMPULAN Terdapat hubungan antara perilaku caring perawat dengan strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik pada pasien halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi, berdasarkan hasil uji statistik SpearmanAos rho dengan nilai r 049 < 0. Semakin tinggi tingkat perilaku caring yang ditunjukkan perawat, semakin optimal pula strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik yang diterapkan. Perawat rawat inap perlu memiliki perilaku caring yang baik agar mampu mendorong pasien untuk mengungkapkan keluhannya. Dalam penerapan komunikasi terapeutik di rumah sakit, perilaku caring perawat dapat membantu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan mempercepat proses penyembuhan pasien. DAFTAR PUSTAKA