JURNAL SURYA Jurnal Media Komunikasi Ilmu Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Lamongan Halaman link: http://jurnal. Hubungan Kepatuhan Pengobatan terhadap Hasil Klinis Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Klinik Permata Hati. Sukoharjo (Correlation between Medication Adherence to Clinical Outcome of Patients with Type 2 Diabetes Mellitus at Permata Hati Clinic. Sukoharj. Dinda Nur Dhuhania. Sikni Retno Karminingtyas Program Studi Farmasi. Universitas Ngudi Waluyo. Ungaran. Semarang. Jawa Tengah. Indonesia ARTIKEL INFO ABSTRAK Proses Artikel Diterima : 7 Maret 2023 Direvisi : 25 Maret 2023 Dipublikasikan: 5 April 2023 Pendahuluan: Diabetes mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar glikemik darah yang dapat menyebabkan kebutaan, penyakit jantung dan gagal ginjal. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kegagalan untuk mengontrol kadar glikemik darah pada pasien dengan diabetes mellitus adalah ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kepatuhan pengobatan dengan hasil klinis pasien diabetes melitus tipe 2 di Klinik Permata Hati Sukoharjo Koresponden penulis Sikni Retno Karminingtyas sikni30@gmail. Program Studi Farmasi. Universitas Ngudi Waluyo. Ungaran. Semarang. Jawa Tengah Cara mensitasi Dhuhania. , & Karminingtyas. Correlation between Medication Adherence to Clinical Outcome of Patients with Type 2 Diabetes Mellitus at Permata Hati Clinic. Sukoharjo. Media Komunikasi Ilmu Kesehatan, 15. , 1-9. https://doi. org/https://doi. org/10. 38040/js. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah pasien prolanis dan penderita diabetes melitus tipe 2 yang berusia lebih dari 26 tahun, yaitu 38 pasien. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Kepatuhan dengan perawatan pasien dinilai menggunakan kuesioner MMAS-8. Hasil klinis pasien dinilai dengan mencapai kadar gula darah Data dianalisis menggunakan uji rank Spearman (A = Hasil: Tingkat kepatuhan minum obat untuk pasien diabetes melitus berada pada tingkat kepatuhan sedang pada 17 pasien . ,74%). Analisis dengan uji peringkat Spearman diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 dengan nilai koefisien korelasi sebesar -0,801. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus dengan kadar gula darah puasa. Kesimpulan: There is a relationship between medication adherence and clinical outcomes of diabetes mellitus patients at the Permata Hati Primary Clinic. Sukoharjo Regency. Kata Kunci: Diabetes Mellitus. Hasil klinis. Kepatuhan. SURYA Vol. No. April 2023 ABSTRACT Introduction Diabetes mellitus is a disease characterized by increased blood glycemic levels which can cause blindness, heart disease and kidney failure. One of the factors that contribute to the failure to control blood glycemic levels in patients with diabetes mellitus is patient non-adherence in This study aims to analyze the relationship between medication adherence and clinical outcomes of type 2 diabetes mellitus patients at the Permata Hati Clinic in Sukoharjo Methods: This research is a correlation descriptive study with a cross sectional approach. The research sample was prolanis patients and suffering from type 2 diabetes mellitus who were more than 26 years old, namely 38 patients. The sampling technique uses total sampling. Compliance with patient treatment was assessed using the MMAS-8 questionnaire. The patient's clinical outcome was assessed by achieving fasting blood sugar levels. The data were analyzed using the Spearman rank test with a 95% confidence level (A = 0. Results: The level of adherence to taking medication for diabetes mellitus patients was at a moderate level of adherence in 17 patients . 74%). Analysis with the Spearman rank test obtained a significance value of 0. 000 with a correlation coefficient value of -0. This shows that there is a significant relationship between medication adherence in diabetes mellitus patients with fasting blood sugar levels. Conclusion: There is a relationship between medication adherence and clinical outcomes of diabetes mellitus patients at the Permata Hati Primary Clinic. Sukoharjo Regency. Keywords: Adherence. Clinical outcome. Diabetes mellitus PENDAHULUAN Diabetes melitus merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian di seluruh Diabetes melitus juga menjadi penyebab utama kebutaan, penyakit jantung dan gagal ginjal. International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sedikitnya 463 juta orang pada rentang usia 20-79 tahun di dunia menderita diabetes pada tahun 2019 atau setara dengan angka prevalensi sebesar 9,3% dari total penduduk pada usia yang Prevalensi diabetes diperkirakan meningkat seiring penambahan umur penduduk menjadi 19,9% atau 111,2 juta orang pada umur 65-79 tahun. Angka ini diprediksi terus meningkat hingga mencapai SURYA Vol. No. April 2023 578 juta di tahun 2030 dan 700 juta di tahun Berdasarkan pelaporan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo, kasus diabetes melitus di Sukoharjo pada tahun 2021 sebesar 17. ,87%). Jumlah kasus yang ditemukan antara lain pasien yag berkunjung ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya dan kunjungan ke posbindu ((Dinkes Sukoharjo, 2. Seperti jenis penyakit yang tidak menular lainnya, diabetes melitus memiliki beberapa faktor resiko atau faktor pencetus yang berhubungan dengan kejadian penyakit. Usaha pengendalian faktor risiko dapat mencegah diabetes melitus dan menurunkan angka kematian. Faktor risiko diabetes melitus yang tidak dapat diperbaiki antara lain ras, etnik, umur, jenis kelamin, riwayat keluarga penderita dengan diabetes melitus, riwayat melahirkan bayi dengan berat lebih dari empat kilogram, riwayat lahir dengan berat badan lahir rendah. Sedangkan faktor yang dapat diperbaiki antara lain berat badan yang berlebihan, obesitas abdominal atau sentral, aktivitas fisik yang kurang, tekanan darah tinggi, dislipidemia, diet yang tidak sehat dan tidak seimbang . inggi kalor. , kondisi prediabetes yang ditandai dengan toleransi glukosa terganggu atau gula darah puasa terganggu dan merokok. Faktor risiko diabetes melitus ini searah dengan peningkatan prevalensi diabetes melitus (Perkeni, 2. Pengobatan pada penyakit diabetes melitus bertujuan untuk mencegah atau menunda perkembangan jangka panjang dari komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskule. Tujuan lainnya adalah untuk menurunkan hiperglikemia, meminimalkan hipoglikemia dan efek samping lainnya, meminimalkan beban pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Terapi farmakologi bisa dengan pemberian insulin dan obat antidiabetik oral. Keuntungan utama insulin dibandingkan dengan obat antihiperglikemik lainnya antara lain tercapainya target glukosa dan dosis dapat disesuaikan dengan kadar glikemik individu (Wells BG. Dipiro JT. Dipiro CV. Terapi bersamaan dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. Obat antihiperglikemi oral antara lain obat yang memacu sekresi insulin seperti sulfonilurea dan glinid, obat yang dapat meningkatkan sensivitas terhadap insulin seperti metformin dan tiazolidindion, obat yang menghambat absorpsi glukosan di saluran pencernaan seperti penghambat alfa dipeptidyl peptidase IV seperti sitagliptin dan linagliptin, obat yang dapat menghambat SURYA Vol. No. April 2023 sodium glucose co-transporter 2 seperti dapaglifozin, ipraglifozin (Soelistijo et al. Dampak dari penyakit diabetes melitus antara lain pada kualitas sumber daya manusia dan meningkatnya biaya kesehatan yang cukup besar, sehingga semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah seharusnya ikut berperan dalam pencegahan penyakit ini. Peran pasien dan keluarga sangatlah penting dalam pengelolaan penyakit diabetes melitus karena mengingat penyakit ini merupakan penyakit yang bersifat kronis yang akan diderita oleh pasien seumur hidup. Oleh karena itu diperlukan diperlukan edukasi pada pasien beserta keluarganya supaya dapat memberikan pemahaman berkaitan dengan perjalanan penyakit, pencegahan penyulit serta penatalaksanaan diabetes melitus (Perkeni, 2. Faktor kegagalan kontrol kadar glikemik darah pada pasien diabetes melitus salah satunya yaitu Menurut World Health Organization tahun 2018 sebanya 5,5% pasien yang masuk ke rumah sakit diakibatkan oleh Berdasarkan penelitian tentang kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus yaitu pasien memiliki tingkat kepatuhan rendah sebanyak 114 pasien . %) dengan alasan utama ketidakpatuhan pasien yaitu lupa minum obat sebanyak 84 pasien . %), outcome klinik belum tercapai sebanyak 136 pasien . %). Ada hubungan antara tingkat kepatuhan dengan outcome klinik dengan nilai p= 0,009. Berdasarkan penelitian tersebut, tenaga kesehatan dalam hal ini apoteker perlu lebih menekankan terkait mendapatkan hasil outcome klinik yang lebih baik (Firdiawan. Andayani, & Kristina, 2. Pemerintah dalam hal ini BPJS kesehatan mengadakan kerja sama dengan pihak pemberi rancangan program penanggulangan yang berkaitan dengan penyakit tidak menular dan kronis yang diistilahkan dengan Prolanis . rogram pengelolaan penyakit kroni. yang berfokus pada penyakit diabetes melitus dan Hasil survei menunjukkan bahwa di klinik Pratama Permata Hati sudah melakukan program prolanis sejak tahun 2014 dan tercatat bahwa diabetes melitus masuk pada 10 besar penyakit. Data yang tercatat pada bulan April 2022 sebanyak 57 pasien terdaftar sebagai anggota prolanis dengan perincian sebanyak 63,16% pasien menderita diabetes melitus, 28,07% pasien menderita hipertensi dan sisanya 8,77% pasien menderita diabetes dengan komorbid hipertensi. Berdasarkan uraian tersebut perlu adanya penelitian yang berkaitan dengan kepatuhan pengobatan dengan outcome klinik pasien diabetes melitus tipe 2 di Klinik Pratama Permata Hati. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan kepatuhan minum obat terhadap outcome klinik penderita diabetes melitus tipe 2. METODE PENELITIAN Metode penelitian menggunakan desain deskriptif korelasi yang menghubungkan variabel tergantung dan variabel bebas dengan pendekatan cross sectional. Data yang diperoleh bersumber dari catatan rekam medis serta pengukuran langsung yang berkaitan dengan kepatuhan pengobatan pasien. Pengambilan data penelitian pada bulan JuniJuli 2022. Sampel dalam penelitian ini merupakan pasien yang mengikuti program prolanis dan menderita penyakit diabetes melitus tipe 2 yang berusia lebih dari 26 tahun di Klinik Pratama Permata Hati Sukoharjo. Teknik menggunakan total sampling dimana jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi yaitu sebanyak 38 pasien. Kriteria SURYA Vol. No. April 2023 inklusi meliputi pasien yang mengikuti program prolanis dan menderita penyakit diabetes melitus tipe 2 dengan maupun tanpa komplikasi di Klinik Pratama Permata Hati Sukoharjo, pasien yang berusia lebih dari 26 tahun, pasien yang mendapatkan antidiabetes oral, bisa membaca dan menulis, serta bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi meliputi pasien yang mempunyai latar belakang kesehatan, mendapatkan terapi insulin dan tidak mengisi kuesioner dengan Kepatuhan dalam pengobatan pasien dinilai menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-. yang sebelumnya telah dilakukan uji validasi Kuesioner MMAS-8 berjumlah 8 pertanyaan dengan 7 pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak serta 1 pertanyaan memiliki beberapa pilihan Nilai MMAS-8 memiliki rentang 08 dengan tingkatan kepatuhan yaitu kepatuhan tinggi dengan nilai 8, kepatuhan sedang dengan nilai 6-7 serta kepatuhan rendah dengan nilai kurang dari 6. Hasil uji validitas menggunakan known group validity antara kategori kepatuhan dengan kategori kadar gula darah menggunakan chi square (X = menggunakan spearmans rank correlation r 0,869. Hasil uji reliabilitas didapatkan nilai cronbach alpha o,806. Hasil uji validitas dan reliabilitas bahwa MMAS-8 versi Indonesia menunjukkanvalid dan reliabel dan dapat digunakan untuk mengukur tingkat kepatuhan pada pasien diabetes melitus tipe 2 (Riastienanda. Ikawati, & Endarti, 2. Outcome klinik pasien dinilai dari kadar gula darah puasa (GDP) yang mencapai target terapi. Target terapi dikatakan tercapai jika kadar gula darah puasa (GDP) kurang dari 126 mg/dl (Perkeni, 2. Penelitian ini sudah mendapatkan kelayakan etik oleh komisi etik penelitian Universitas Ngudi Waluyo dengan No. 65/KEP/EC/UNW/2022. Data penelitian yang didapatkan dianalisis secara statistik dengan uji non parametrik yaitu spearman rank dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. Uji ini digunakan untuk mencari tingkat hubungan atau menguji signifikansi hipotesis asosiatif masing-masing dihubungkan datanya berbentuk ordinal dan sumber data antara variabel tidak harus sama dalam hal ini untuk menganalisis hubungan kepatuhan minum obat terhadap outcome klinik penderita diabetes melitus tipe 2. Sebelum melakukan uji spearman rank terlebih dahulu sudah dilakukan uji normalitas untuk mengetahui data dari penelitian tersebut terdistribusi normal atau tidak yang nantinya menentukan jenis analisis parametrik atau non HASIL PENELITIAN Karakteristik Pasien Subyek penelitian merupakan pasien yang mengikuti program prolanis dan menderita penyakit diabetes melitus tipe 2 yang berusia lebih dari 26 tahun di Klinik Pratama Permata Hati Sukoharjo yaitu sebanyak 38 pasien. Karakteristik pasien meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pedidikan, pekerjaan dan penyakit penyerta Tabel 1. Karakteristik Pasien Karakteristik Pasien n (%) Rendah Usia . = . > 65 Jenis Kelamin . = . Laki-laki Perempuan Tingkat Pendidikan . = . Tidak sekolah SMP SMA Kepatuhan n (%) Sedang Tinggi 3 . Perguruan Tinggi Pekerjaan . = . Pegawai swasta Tidak bekerja 6 . Wiraswasta Pensiunan PNS Ibu Rumah Tangga Penyakit penyerta . = . Tidak ada penyakit penyerta 27 . 1 macam penyakit penyerta 2 macam penyakit penyerta 10 . Nilai P 0,851 0,979 0,814 0,474 0,756 Sumber : Data primer 2022 Outcome Klinik SURYA Vol. No. April 2023 Outcome klinik pasien dibetes melitus dinilai dari kadar gula darah puasa (GDP) yang mencapai target terapi. Target terapi dikatakan tercapai jika kadar gula darah puasa (GDP) kurang dari 126 mg/dl (Perkeni. Tabel 2. Outcome Klinik Pasien Dibetes Melitus Kategori kadar gula darah n (%) Target tercapai 13 . Target tidak tercapai 25 . Total Sumber : Data primer 2022 Pengobatan pada Pasien Diabetes Melitus Tabel 3. Pengobatan pada Pasien Diabetes Melitus Jenis Pengobatan n (%) Monoterapi . = . Metformin Gliklazid Glimepirid Acarbose 1 . Kombinasi . = . Acarbose glimepirid Metformin glimepirid Metformin gliquidon Acarbose gliklazid Acarbose gliquidon Metformin gliklazid Metformin acarbose 1 . gliquidon Sumber : Data primer 2022 Kepatuhan Minum Obat Antidiabetik Kepatuhan dalam pengobatan pasien dinilai menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-. yang sebelumnya telah dilakukan uji validasi Kuesioner MMAS-8 berjumlah 8 pertanyaan dengan 7 pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak serta 1 pertanyaan memiliki beberapa pilihan Tabel 4. Tingkat Kepatuhan Minum Obat Antidiabetik Tingkat Monoterapi Kombinasi Total Kepatuhan n (%) n (%) n (%) Tinggi 2 . Sedang 3 . Rendah Total Sumber : Data primer 2022 Hubungan Tingkat Kepatuhan Minum Obat Antidiabetik dengan Outcome Klinik Outcome klinik pasien diabetes melitus dalam penelitian ini dilihat berdasarkan nilai kadar gula darah puasa yang mencapai target terapi. Target terapi dikatakan tercapai jika kadar gula darah puasa (GDP) kurang dari 126 mg/dl (Perkeni, 2. Tabel 5. Hubungan Tingkat Kepatuhan Minum Obat Antidiabetik dengan Outcome Klinik Tingkat Kepatuhan Tinggi Tercapai Monoterapi Kombinasi n (%) n (%) 2 . Tidak Tercapai Monoterapi Kombinasi n (%) n (%) 3 . Sedang 2 . Rendah Total Total n (%) . Correlation 0,000 -0,801 Sumber : Data primer 2022 SURYA Vol. No. April 2023 PEMBAHASAN Hasil pengukuran kadar gula darah yang digunakan sebagai target terapi, mayoritas pasien tidak mencapai target terapi yaitu sebanyak 25 . ,79%) . Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian lain di Puskesmas Dinoyo Kota Malang bahwa sebanyak 60% pasien didapatkan kadar gula darah yang tidak normal (Adelaide. Wahyuni, & Sutriningsih, 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar gula darah pada penderita diabetes melitus antara lain lama waktu menderita diabetes, kegemukan, aktivitas fisik, jenis dari latihan jasmani, frekuensi dari latihan jasmani, kepatuhan, diet, dukungan dari keluarga dan adanya motivasi (Rahayu. Saraswati, & Setyawan, 2. Obat antidiabetik yang digunakan pada pasien diabetes melitus meliputi tunggal dan kombinasi. Obat antidiabetik kombinasi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi acarbose dan glimepirid sebanyak 11 pasien . ,95%). Obat antidiabetik tunggal yang paling banyak dugnakan adalah metformin sebanyak 4 pasien . ,53%) . abel Tatalaksana terapi pada pasien diabetes melitus diawali dengan diawali dengan perbaikan gaya hidup dan pemberian antidiabetik oral yang didasarkan pada pemeriksaan HbA1C. Metformin merupakan antidiabetik golongan biguanid yang sering dianjurkan sebagai lini pertama pada pengobatan diabetes. Metformin mempunyai mekanisme kerja utama dengan mengurangi sekresi glukosa di hepar dan meningkatkan absorpsi glukosa di perifer. Pasien yang sudah mendapatkan pengobatan dengan monoterapi lebih dari tiga bulan tetapi belum mencapai target terapi dianjurkan untuk memulai dengan antidiabetik yang mempunyai mekanisme kerja yang berbeda (Perkeni, 2. Tingkat kepatuhan minum obat pasien diabetes melitus berada pada tingkat kepatuhan sedang sebanyak 17 pasien SURYA Vol. No. April 2023 . ,74%) dengan jenis pengobatan kombinasi . Hasil penelitian lain terkait dengan tingkat kepatuhan pasien diabetes melitus di klinik BTH Kota Tasikmalaya bahwa secara keseluruhan tingkat kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus adalah kepatuhan rendah (Hidayatulloh & Mulya, 2. Penelitian lain yang serupa menyebutkan bahwa mayoritas pasien diabetes melitus mendapatkan obat antidiabetik kombinasi 2 jenis obat dan terkait dengan tingkat ketidakpatuhannya berada pada tingkat tinggi. Obat yang dikonsumsi pasien diabetes melitus lebih dari satu kali sehati dan lebih dari 1 macam obat akan memungkinkan berpengaruh pada tingkat kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat secara rutin (Ramadona et , 2. Kewajiban pasien dalam menyebabkan penderita merasa jenuh dalam mengkonsumsi obat. Secara umum pasien diabetes melitus merasa kurang yakin terhadap obat antidiabetik yang mereka konsumsi, sehingga peranan dari petugas farmasi sangat dibutuhkan dalam mengedukasi pasien untuk mengkonsumsi obat guna memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup (Permatasari. Sunnah, & Oktianti, 2. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa pasien yang dengan tingkat kepatuhan sedang dan rendah dengan pengobatan antidiabetik kombinasi tidak tercapai target terapinya . adar gula darah puas. Pasien yang tidak tercapai target terapinya dan mendapatkan obat antidiabetik kombinasi dengan tingkat kepatuhan sedang sebanyak 10 pasien . ,32%). Pasien yang tidak tercapai target terapinya dan mendapatkan obat antidiabetik kombinasi dengan tingkat kepatuhan rendah sebanyak 9 pasien . ,68%) . Pasien yang tidak patuh dalam mempunyai risiko 14 kali mengalami regulasi glukosa darah yang tidak terkontrol dibanding pasien yang patuh dalam mengkonsumsi obat antidiabetik. Semakin patuh pasien dalam mengkonsumsi obat antidiabetik, gula darah pasien akan semakin terkontrol, dan sebaliknya (Nanda. Wiryanto, & Triyono. Data tingkat kepatuhan dan kadar gula darah puasa dianalisis dengan uji spearman rank dan didapatkan nilai p value = 0,000 < 0,05. Hal ini dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kadar gula darah puasa (KGD) dengan kepatuhan minum obat pasien diabetes melitus di Klinik Pratama Permata Hati Kabupaten Sukoharjo. Hasil penelitian ini juga didapatkan nilai correlation coefficient -0,801. Nilai ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi kadar gula darah puasa pasien semakin rendah mengkonsumsi obat antidiabetik, begitu juga semakin rendah kadar gula darah puasa pasien maka akan semakin tinggi tingkat kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat antidiabetik. Nilai kekuatan korelasi antara tingkat kepatuhan minum obat antidiabetik dengan kadar gula darah puasa sebesar -0,515 dan nilai signifikansi 0,01 yang berarti terdapat hubungan yang kuat antara tingkat kepatuhan minum obat antidiabetik dengan penurunan kadar gula darah puasa. Nilai koefisien yang didapatkan bernilai negatif atau tidak searah yang dapat diartikan semakin tinggi tingkat antidiabetik maka kadar gula darah akan semakin turun (Rasdianah. Martodiharjo. Andayani, & Hakim, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kadar gula darah puasa (KGD) dengan kepatuhan minum obat pasien diabetes melitus di Klinik Pratama Permata Hati Kabupaten Sukoharjo. DAFTAR PUSTAKA