Faktor Risiko Peningkatan Tekanan Darah pada Anak Sekolah Dasar: Peran Indeks Massa Tubuh dan Riwayat Hipertensi Orang Tua Dwiarsi Sajariana Riadani,1 Braghmandita Widya Indraswari,2 Kristia Hermawan,2 Retno Palupi Baroto,2* Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran. Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Latar belakang. Prevalensi hipertensi pada anak dan remaja mencapai 3,5%, sedangkan pada dewasa 34,7%. Anak yang memiliki riwayat hipertensi pada orang tuanya menunjukkan peningkatan risiko mengalami hipertensi primer sebelum usia 18 tahun. Skrining dini sangat penting karena prevalensi hipertensi pada anak meningkat seiring bertambahnya usia. Saat ini, belum ada upaya skrining rutin hipertensi pada anak, padahal skrining berperan penting untuk deteksi dini dan mencegah morbiditas. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipertensi pada orang tua dan faktor risiko lainnya dengan peningkatan tekanan darah siswa Sekolah Dasar. Metode. Penelitian menggunakan desain observasional analitik potong lintang. Data dianalisis menggunakan Uji Chi-square. Uji MannWhitney dan regresi logistik. Hasil. Tidak terdapat hubungan signifikan antara hipertensi ibu . =0,. dan bapak . =0,. dengan peningkatan tekanan darah anak. Anak dengan ibu hipertensi memiliki tekanan darah sistolik lebih tinggi, yaitu 65 . -78,. mmHg dibandingkan anak yang ibunya tidak hipertensi, yaitu 63,5 . mmHg . =0,. Jumlah orang tua hipertensi . =0,. dan indeks massa tubuh . =0,. memiliki hubungan bermakna dengan peningkatan tekanan darah anak. Analisis regresi logistik menunjukkan indeks massa tubuh merupakan faktor risiko yang paling bermakna (OR=4,06. IK95%=1,29-12,77. p=0,. Kesimpulan. Prevalensi hipertensi pada orang tua sebesar 34,6% dan prevalensi anak dengan tekanan darah tinggi sebesar 22%. Analisis multivariat menunjukkan IMT dan jumlah orang tua hipertensi memiliki hubungan bermakna. Sari Pediatri 2026. :383-92 Kata kunci: hipertensi, tekanan darah, anak, orang tua, genetik Risk Factors for Elevated Blood Pressure in Elementary School Children: The Role of Body Mass Index and Parental History of Hypertension Dwiarsi Sajariana Riadani,1 Braghmandita Widya Indraswari,2 Kristia Hermawan,2 Retno Palupi Baroto,2* Background. The prevalence of hypertension in children and adolescents reaches 3. 5%, while in adults it is 34. Children with a history of parental hypertension show an increased risk of developing primary hypertension before the age of 18 years. Early screening is crucial, as the prevalence of hypertension in children increases with age. Currently, there are no routine hypertension screening efforts for children, despite its important role in the early detection and prevention of related morbidities. Objective. This study aims to determine the relationship between parental hypertension and other risk factors with elevated blood pressure in elementary school students. Methods. The study utilized a cross-sectional analytical observational design. Data were analyzed using the Chi-square Test. Mann- Whitney Test, and logistic regression. Result. There was no significant relationship between maternal hypertension . =0. and paternal hypertension . =0. with increased blood pressure in children. Children with hypertensive mothers have higher systolic blood pressure, which is 65 . - 78. mmHg compared to children with non-hypertensive mothers, which is 63. - . mmHg . =0,. The number of hypertensive parents . =0. and body mass index . =0. had a significant relationship with the increase in childrenAos blood pressure. Logistic regression analysis showed that body mass index was the most significant risk factor (OR=4,06. 95%CI=1,29-12,77. p=0,. Conclusion. The prevalence of hypertension in parents is 34. 6%, and the prevalence of children with high blood pressure is 22%. Multivariate analysis showed that body mass index and the number of hypertensive parents were significantly associated with elevated blood pressure. Sari Pediatri 2026. :383-92 Keywords: hypertension, blood pressure, children, parents, genetics Alamat korespondensi: Retno Palupi Baroto. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UGM. Jl. Kesehatan No. 1 Sekip Yogyakarta 55284. Email: rpalupisantosa@gmail. Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 Dwiarsi Sajariana Riadani dkk: Faktor risiko peningkatan tekanan darah: peran IMT dan riwayat hipertensi orang tua ipertensi pada anak didefinisikan sebagai rerata tekanan darah sistolik dan/atau diastolik yang mencapai atau melebihi persentil ke-95, dengan nilai ambang yang bervariasi menurut usia, jenis kelamin, dan tinggi badan. 1 Etiologi hipertensi pada anak bersifat Faktor-faktor yang berperan meliputi obesitas, asupan natrium tinggi, gaya hidup sedentary, faktor genetik dan etnis, status sosial ekonomi, serta faktor perinatal . rematuritas, berat lahir rendah, obesitas maternal, diabetes gestasional, dan hipertensi Berdasarkan usia, hipertensi sekunder akibat penyakit ginjal lebih sering ditemukan pada anak 5 Sementara itu, hipertensi esensial dilaporkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan mulai memengaruhi anak usia sekolah hingga remaja. 2 Secara lebih spesifik, penyakit parenkim ginjal merupakan penyebab hipertensi tersering pada kelompok usia 1-10 tahun, sedangkan hipertensi esensial mendominasi pada kelompok usia 10-18 tahun. Meskipun prevalensi hipertensi pada anak lebih rendah dibandingkan dewasa, kondisi ini tetap menjadi masalah kesehatan yang bermakna karena kontribusinya terhadap morbiditas dan mortalitas jangka panjang. Secara global, prevalensi hipertensi klinis pada anak dan remaja diperkirakan sebesar 3,5% berdasarkan pedoman AAP 2017. Di Indonesia, data prevalensi hipertensi anak masih Studi di Bali melaporkan prevalensi tekanan darah elevated sebesar 9,2% pada anak usia 6-12 tahun. Sementara itu, penelitian di Surabaya pada remaja usia 15-17 tahun menemukan bahwa 38,4% subjek mengalami prehipertensi dan 8% menderita hipertensi Di tingkat lokal. Kabupaten Kulon ProgoAiyang wilayahnya didominasi oleh pedesaanAimemiliki prevalensi hipertensi pada populasi dewasa . sia Ou18 tahu. sebesar 34,7%, menempati posisi kedua tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta. 12 Karakteristik pedesaan ini perlu mendapat perhatian karena penelitian Liang dkk13 menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada anak usia 8-11 tahun lebih tinggi di daerah pedesaan dibandingkan perkotaan. Riwayat keturunan merupakan salah satu faktor risiko penting dalam terjadinya hipertensi primer pada anak. 6 Hubungan tekanan darah yang lebih kuat ditemukan antara orang tua dan anak dibandingkan antara pasangan suami-istri, yang mengindikasikan peran signifikan faktor genetik dalam riwayat hipertensi Amritanshu dkk 6 melaporkan bahwa pengaruh riwayat hipertensi dari pihak ayah lebih besar dibandingkan dari pihak ibu. Anak dengan riwayat hipertensi pada orang tuanya menunjukkan peningkatan risiko mengalami hipertensi primer sebelum usia 18 tahun. Penelitian tentang hubungan faktor genetik dengan tekanan darah pada populasi anak telah dilakukan di Manado oleh Kalangi dkk,11 tetapi pada remaja usia 11-14 tahun. Sementara itu, analisis hubungan faktor genetik dengan hipertensi pada anak Sekolah Dasar di wilayah pedesaan melalui skrining komunitas belum pernah dilaporkan. Padahal. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan skrining tekanan darah tahunan pada semua anak usia Ou3 tahun. Untuk anak dengan risiko tinggiAiseperti obesitas, diabetes, penyakit ginjal, konsumsi obat antihipertensi, atau riwayat koarktasio aortaAiskrining dianjurkan pada setiap kunjungan ke fasilitas kesehatan. Skrining rutin hipertensi pada usia dini bukannya tanpa risiko. Potensi kerugian meliputi pemeriksaan yang berlebihan, kesalahan klasifikasi tekanan darah, pemberian pengobatan yang tidak perlu, ketidaknyamanan pasien, serta menyita waktu 1 Meskipun demikian, skrining dini tetap penting untuk deteksi hipertensi dan pencegahan morbiditas terkait. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi peningkatan tekanan darah pada anak sekolah dasar di Kabupaten Kulon Progo serta mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang memengaruhinya melalui kegiatan skrining Metode Sebuah studi observasional analitik dengan desain potong lintang . ross-sectiona. telah dirancang. Pengambilan sampel dilakukan melalui metode cluster random sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Agustus 2023. Lokasi penelitian ditentukan di tiga kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, yaitu Kecamatan Kalibawang. Samigaluh, dan Sentolo. Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 Dwiarsi Sajariana Riadani dkk: Faktor risiko peningkatan tekanan darah: peran IMT dan riwayat hipertensi orang tua Data dikumpulkan secara langsung melalui kegiatan skrining komunitas, dengan mendatangi sekolah-sekolah terpilih serta rumah orang tua subjek. Populasi target penelitian ini adalah 967 siswa kelas 2, 3, dan 4 dari 18 Sekolah Dasar di Kabupaten Kulon Progo. Sebanyak 127 siswa dinyatakan memenuhi seluruh kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria eksklusi, sehingga ditetapkan sebagai subjek penelitian. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan SPSS versi 28. Kriteria inklusi dalam penelitian ini ditentukan sebagai berikut: . siswa kelas 2, 3, atau 4 Sekolah Dasar di Kabupaten Kulon Progo. memiliki kedua orang tua lengkap yang berdomisili di Kabupaten Kulon Progo. memperoleh persetujuan tertulis dari orang tua untuk berpartisipasi. memiliki hasil pengukuran tekanan darah yang valid. Kriteria eksklusi ditetapkan untuk subjek dengan kondisi berikut: . memiliki riwayat anomali . menderita penyakit kronis. sedang mengonsumsi obat-obatan yang diketahui dapat meningkatkan tekanan darah pada saat pengukuran Setelah formulir informed consent ditandatangani oleh orang tua subjek, tekanan darah anak dan orang tua diukur menggunakan sphygmomanometer digital yang telah terkalibrasi. Ukuran manset disesuaikan dengan lingkar lengan atas, dengan ketentuan lebar manset sekitar 40% dan panjang manset 80-100% dari lingkar lengan atas. Pengukuran tekanan darah dilakukan pada tangan kanan, dengan posisi lengan tersangga dan subjek dalam keadaan duduk tenang setidaknya selama 3 menit. Data indeks massa tubuh . ody mass index Ae BMI) anak diperoleh melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan yang dilakukan secara langsung. Data berat badan lahir dan jenis kelamin anak dikumpulkan melalui wawancara dengan orang tua. Data aktivitas fisik dan gangguan tidur dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, yaitu kuesioner aktivitas fisik berbasis rekomendasi World Health Organization (WHO) dan kuesioner Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC). Tekanan darah orang tua digolongkan menjadi dua kategori: tidak hipertensi . ekanan darah <140/90 mmH. dan hipertensi . ekanan darah Ou140/90 mmH. Tekanan darah anak digolongkan menjadi normal . ekanan darah sistolik dan diastolik < persentil ke-90 berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tinggi bada. dan tinggi . ekanan darah sistolik dan/atau diastolik Ou persentil ke-. Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 Indeks massa tubuh anak (IMT) digolongkan menjadi dua kategori berdasarkan standar WHO: gizi lebih (IMT > 1 standard deviation Ae SD) dan tidak gizi lebih (IMT antara -3 SD hingga 1 SD). Tingkat aktivitas fisik anak digolongkan menjadi sesuai anjuran WHO . elakukan aktivitas fisik moderate-to-vigorous selama Ou60 menit per har. dan tidak sesuai anjuran WHO . elakukan aktivitas fisik <60 menit per har. Keberadaan gangguan tidur pada anak digolongkan menjadi tidak ada gangguan tidur . kor SDSC O. dan ada gangguan tidur . kor SDSC >. Berat badan lahir anak digolongkan menjadi tidak berat badan lahir rendah . idak BBLR. berat lahir antara 2,5 kg hingga >4 k. dan berat badan lahir rendah (BBLR. berat lahir <2,5 k. Analisis data dilakukan secara bivariat dengan uji statistik Chi-square . ntuk variabel kategorika. dan uji Mann-Whitney . ntuk perbandingan median tekanan darah sebagai variabel kontin. Analisis multivariat dilakukan menggunakan regresi logistik. Regresi logistik diterapkan pada variabel-variabel yang memiliki nilai p <0,25 pada analisis bivariat. Perhitungan probabilitas terjadinya peningkatan tekanan darah anak dilakukan menggunakan rumus berikut: y = B . B . ndeks massa tubuh ana. p = 1/. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Fakultas Kedokteran. Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada dengan nomor surat KE/FK/0361/EC/2023. Setiap subjek yang terlibat dalam penelitian ini diberi penjelasan secara lisan dan tertulis mengenai tujuan serta prosedur penelitian, kemudian diminta untuk menandatangani lembar persetujuan . nformed consen. secara tertulis. Hasil Penelitian dilakukan terhadap siswa-siswi kelas 2, 3, dan 4 dari 18 Sekolah Dasar di Kabupaten Kulon Progo. Dari 967 populasi target, 141 subjek direkrut. Sebanyak 14 subjek dieksklusi . subjek tidak memenuhi kriteria inklusi dan 4 subjek menolak berpartisipas. , sehingga Dwiarsi Sajariana Riadani dkk: Faktor risiko peningkatan tekanan darah: peran IMT dan riwayat hipertensi orang tua 127 subjek dianalisis. Karakteristik subjek penelitian tertera pada Tabel 1. Dari 127 subjek yang dianalisis, 28 anak . %) ditemukan memiliki tekanan darah di atas normal, dengan nilai tengah . tekanan darah sistolik sebesar 94 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 64 mmHg. Berdasarkan status gizi, 15 anak . ,8%) tergolong dalam kategori gizi lebih. Gangguan tidur dialami oleh 53 anak . ,7%), dengan median skor Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) sebesar 39 untuk laki-laki dan 38 untuk perempuan. Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Usia 8 tahun 9 tahun 10 tahun 11 tahun Kategori tekanan darah anak Normal Elevated Hipertensi tingkat I Status gizi anak Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Overweight Obesitas Berat badan lahir anak Berat badan lahir rendah Berat badan lahir cukup Berat badan lahir lebih Gangguan tidur anak Tidak gangguan tidur Gangguan tidur Aktivitas fisik Sesuai rekomendasi WHO . menit/har. Tidak sesuai rekomendasi WHO Kategori tekanan darah ibu Tidak hipertensi Hipertensi Kategori tekanan darah bapak Tidak hipertensi Hipertensi Hipertensi pada orang tua Tidak ada orang tua hipertensi Satu orang tua hipertensi Dua orang tua hipertensi WHO: World Health Organization n . Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 Dwiarsi Sajariana Riadani dkk: Faktor risiko peningkatan tekanan darah: peran IMT dan riwayat hipertensi orang tua Sebanyak 16 ibu . ,6%) dan 33 bapak . %) ditemukan mengalami hipertensi. Median tekanan darah pada bapak adalah 125 mmHg . dan 81,3 mmHg . , sedangkan pada ibu adalah 116,7 mmHg . dan 78,7 mmHg . Dua puluh delapan anak . % dari total subje. ditemukan memiliki tekanan darah yang tergolong tinggi, dengan rincian 16 anak . ,6%) termasuk dalam kategori elevated dan 12 anak . ,4%) termasuk dalam kategori hipertensi tingkat 1. Berdasarkan usia (Gambar . , proporsi tekanan darah di atas normal tertinggi ditemukan pada kelompok usia 10 tahun . ,5%), sedangkan proporsi terendah ditemukan pada kelompok usia 8 tahun . %). Berdasarkan jenis kelamin (Tabel . , sebanyak 19 anak perempuan . ,5% dari total subjek perempua. memiliki tekanan darah di atas normal, namun perbedaan ini tidak signifikan secara statistik . >0,. Berdasarkan Tabel 2, pada kelompok ibu hipertensi, 6 dari 16 anak . ,5%) ditemukan memiliki tekanan darah tinggi, sedangkan pada kelompok bapak hipertensi, 6 dari 33 anak . ,2%) ditemukan memiliki tekanan darah tinggi. Nilai p untuk kedua hubungan tersebut >0,05, yang mengindikasikan bahwa hipertensi ibu maupun hipertensi bapak tidak memiliki hubungan signifikan dengan peningkatan tekanan darah anak. Analisis antara indeks massa tubuh dan tekanan darah anak menunjukkan hubungan yang signifikan . =0,. Dari 15 anak dengan gizi lebih, 7 anak . ,7%) ditemukan memiliki tekanan darah tinggi. Tidak ditemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara aktivitas fisik, jenis kelamin, gangguan tidur, maupun berat badan lahir dengan tekanan darah Analisis tekanan darah sebagai variabel kontinu (Tabel . menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada tekanan darah diastolik anak antara kelompok ibu hipertensi dan ibu tidak hipertensi . =0,. Secara deskriptif, median tekanan darah diastolik anak pada kelompok ibu hipertensi lebih tinggi . dibandingkan kelompok ibu tidak hipertensi . ,5 mmH. Tidak ditemukan perbedaan signifikan pada tekanan darah sistolik anak berdasarkan hipertensi ibu . =0,. , maupun pada tekanan darah sistolik dan diastolik anak berdasarkan hipertensi bapak . >0,. Tabel 2. Analisis bivariat Variabel Tekanan darah anak Normal Tinggi . Tekanan darah orang tua Salah satu orang tua hipertensi ,5%) ,5%) 0,753 Tidak ada orang tua hipertensi ,1%) ,9%) Tekanan darah ibu Hipertensi ,5%) ,5%) 0,119a Tidak Hipertensi ,2%) ,8%) Tekanan darah bapak Hipertensi ,8%) ,2%) 0,534b Tidak Hipertensi ,6%) ,4%) Indeks massa tubuh Gizi lebih 8 . ,3%) 7. ,7%) 0,022a* Tidak gizi lebih 91 . ,5%) 22 . ,5%) Aktivitas fisik Sesuai rekomendasi WHO 40 . ,4%) 11 . ,6%) 0,915b Tidak sesuai rekomendasi WHO 59 . ,6%) 17 . ,4%) Jenis kelamin Laki-laki 37 . ,4%) 9 . ,6%) 0,611b Perempuan 62 . ,5%) 19 . ,5%) Gangguan tidur Gangguan tidur ,6%) ,4%) 0,315b Tidak gangguan tidur ,1%) ,9%) Berat badan lahir Tidak BBLR ,4%) ,6%) 0,119b BBLR ,7%) ,3%) p<0,05. aUji FisherAos Exact. bUji Chi square. WHO: World Health Organization. BBLR: Berat Badan Lahir Rendah Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 Dwiarsi Sajariana Riadani dkk: Faktor risiko peningkatan tekanan darah: peran IMT dan riwayat hipertensi orang tua Analisis lebih lanjut dilakukan terhadap 44 anak yang memiliki orang tua dengan hipertensi untuk mengevaluasi hubungan antara jumlah orang tua yang hipertensi dan peningkatan tekanan darah Berdasarkan Tabel 4, ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara jumlah orang tua hipertensi dan tekanan darah anak . =0,. Proporsi anak dengan tekanan darah tinggi lebih besar pada kelompok dengan dua orang tua hipertensi . dari 5 60%) dibandingkan kelompok dengan satu orang tua hipertensi . dari 39 anak. 15,4%). Analisis multivariat dengan regresi logistik dilakukan untuk mengevaluasi hubungan beberapa faktor risiko terhadap kejadian peningkatan tekanan darah Hasil analisis multivariat (Tabel . menunjukkan bahwa status gizi lebih (IMT > 1SD) merupakan faktor risiko yang paling bermakna . =0,. dengan odds ratio (OR) sebesar 4,061 . nterval kepercayaan 95%: 1,291-12,. Hal ini berarti anak dengan gizi lebih memiliki peluang 4,06 kali lebih tinggi untuk mengalami peningkatan tekanan darah dibandingkan anak dengan gizi normal. Probabilitas anak dengan gizi lebih untuk mengalami peningkatan tekanan darah dihitung sebesar 29%. Variabel lainnya . ipertensi ibu, salah satu orang tua hipertensi, kedua orang tua hipertens. tidak menunjukkan hubungan signifikan dalam model multivariat. Pembahasan Proporsi anak dengan tekanan darah elevated dalam penelitian ini ditemukan sebesar 12,6%, sedangkan proporsi hipertensi tingkat 1 sebesar 9,4%. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa proporsi tekanan darah elevated berkisar antara 10-14% dan proporsi hipertensi tingkat 1 berkisar antara 3-12,5%. 4,11,14 Tabel 3. Analisis Mann-Whitney antara hipertensi orang tua dengan tekanan darah sistolik dan diastolik anak Variabel Kelompok Median Min Maks Mean Rank Rerata TDS anak Ibu hipertensi 95,50 85,67 109,67 74,59 718,500 Ibu tidak hipertensi 94,00 74,00 119,00 62,47 Rerata TDD anak Ibu hipertensi 69,00 55,00 78,33 81,69 605,000 Ibu tidak hipertensi 63,50 47,00 82,00 61,45 Rerata TDS anak Bapak hipertensi 95,00 74,00 107,33 64,35 1539,500 Bapak tidak hipertensi 94,00 79,33 119,00 63,88 Rerata TDD anak Bapak hipertensi 64,33 47,00 76,00 67,26 1443,500 Bapak tidak hipertensi 63,67 49,00 82,00 62,86 *p<0,05. TDS: Tekanan Darah Sistolik. TDD: Tekanan Darah Diastolik 0,128 0,039* 0,950 0,554 Tabel 4. Hubungan antara jumlah orang tua yang hipertensi dengan tekanan darah anak Variabel Kategori Normal n (%) Jumlah orang tua hipertensi Satu orang tua hipertensi Dua orang tua hipertensi Total p<0,05. aUji FisherAos Exact Tinggi n (%) 6 . Tabel 5. Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik Variabel Hipertensi ibu Gizi lebih anak Kedua orang tua hipertensi Salah satu orang tua hipertensi p<0,05 0,291 0,017* 0,144 0,222 OR (IK95%) 2,693 . ,428-16,. 4,061 . ,291-12,. 5,445 . ,559-53,. 2,285 . ,607 Ae 8,. Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 0,050a* Dwiarsi Sajariana Riadani dkk: Faktor risiko peningkatan tekanan darah: peran IMT dan riwayat hipertensi orang tua Proporsi Hipertensi Anak Berdasarkan Usia 8 tahun 9 tahun 10 tahun Normal Tinggi 11 tahun Gambar 1. Grafik proporsi hipertensi anak berdasarkan usia Berdasarkan usia, proporsi peningkatan tekanan darah tertinggi ditemukan pada kelompok usia 10 tahun . ,5%), diikuti usia 9 tahun . %), usia 11 tahun . ,2%), dan terendah pada usia 8 tahun . %). Temuan ini tidak sesuai dengan penelitian Song dkk15 yang melaporkan bahwa prevalensi hipertensi pada kelompok usia 8-11 tahun meningkat secara linear seiring bertambahnya usia. Ketidaksesuaian ini dapat dijelaskan oleh beberapa Pertama, distribusi jumlah subjek antar kelompok usia dalam penelitian ini tidak seimbang, dengan jumlah subjek yang jauh lebih kecil pada kelompok usia 11 tahun . dibandingkan kelompok usia lainnya . =30-. , sehingga tidak dapat menggambarkan kondisi populasi secara keseluruhan. Kedua, terdapat perbedaan standar yang digunakan untuk mendefinisikan hipertensi anak. Ketiga, pengukuran tekanan darah dalam penelitian ini hanya dilakukan satu kali, tidak dalam tiga waktu yang berbeda seperti yang direkomendasikan untuk diagnosis Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara hipertensi orang tua dan peningkatan tekanan darah anak. Hasil ini sejalan dengan penelitian Kalangi dkk11 di Manado dan Nurmata dkk16 di Jakarta. Namun, temuan ini tidak sejalan dengan penelitian Jang dkk17 di Korea pada anak usia 10-18 tahun, yang melakukan penyesuaian terhadap profil lipid, kadar glukosa, asupan kalori, dan asupan garam pada anak. Faktor risiko lain yang memengaruhi tekanan darah anak, seperti pola diet dan status ekonomi, tidak diteliti dalam penelitian ini. 4 Meskipun hipertensi sering Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 ditemukan dalam keluarga dan tampaknya bersifat herediter, studi genetik hingga saat ini belum berhasil mengidentifikasi gen atau kelompok gen spesifik yang menyebabkan hipertensi primer. Pengaruh genetik terhadap tekanan darah kemungkinan disebabkan oleh interaksi kompleks antara gen-gen yang rentan . usceptibility gene. serta peran faktor epigenetik. Analisis dengan uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan bermakna pada tekanan darah diastolik anak antara kelompok ibu hipertensi dan ibu tidak hipertensi. Temuan ini sesuai dengan penelitian Nasution dkk19 di Mandailing Natal yang melaporkan bahwa rerata tekanan darah anak dengan ibu hipertensi lebih tinggi dibandingkan anak dengan ibu tidak Analisis hubungan antara jumlah orang tua hipertensi dan peningkatan tekanan darah anak menunjukkan bahwa proporsi tekanan darah tinggi lebih besar pada kelompok dengan dua orang tua hipertensi . %) dibandingkan kelompok dengan satu orang tua hipertensi . ,4%). Temuan ini secara substansi sesuai dengan penelitian Jang dkk17 yang menyatakan bahwa risiko hipertensi pada anak meningkat dua kali lipat jika kedua orang tuanya hipertensi. Namun, signifikansi statistik dari hubungan ini hanya mencapai nilai p marginal . , kemungkinan disebabkan oleh kecilnya sampel pada kelompok dengan dua orang tua hipertensi . Dalam mengkaji derajat hubungan antara hipertensi orang tua dan anak, analisis perlu disesuaikan dengan karakteristik dasar anak seperti IMT, profil lipid. Dwiarsi Sajariana Riadani dkk: Faktor risiko peningkatan tekanan darah: peran IMT dan riwayat hipertensi orang tua glukosa, asupan kalori, dan asupan garam, karena karakteristik tersebut dapat berperan sebagai variabel perantara . 20 Penelitian ini tidak melakukan penyesuaian terhadap variabel-variabel tersebut karena data tidak dikumpulkan, berbeda dengan penelitian Jang dkk17 yang menyesuaikan analisisnya dengan faktor-faktor tersebut. Selain itu, kejadian hipertensi pada anak juga dapat dipengaruhi oleh faktor risiko kardio-metabolik orang tua, seperti diabetes melitus, sindrom metabolik, dan indeks massa tubuh, yang tidak dianalisis dalam penelitian ini. Hubungan signifikan ditemukan antara indeks massa tubuh (IMT) dan peningkatan tekanan darah Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya di Indonesia21,23 maupun di wilayah Jazan. Arab Saudi. Hasil analisis multivariat juga mengonfirmasi bahwa IMT merupakan faktor risiko paling bermakna terhadap kejadian peningkatan tekanan darah anak. Peningkatan IMT, seperti pada kondisi gizi lebih atau obesitas, dapat memengaruhi tekanan darah melalui beberapa mekanisme patofisiologis, antara lain: penurunan sensitivitas baroreseptor, peningkatan asam lemak bebas, aktivasi sistem angiotensin II, serta peran hormon insulin dan leptin yang meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis. Penelitian ini tidak menemukan hubungan bermakna antara aktivitas fisik dan tekanan darah Hasil ini sejalan dengan penelitian pada remaja usia 13-19 tahun yang juga menggunakan kuesioner aktivitas fisik WHO. ^26^ Namun, temuan ini tidak sejalan dengan studi Ekelund dkk27 yang menggunakan instrumen actigraph dan studi Chen dkk 28 yang menggunakan kuesioner CLASS. Ketidaksesuaian ini kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan instrumen pengukuran. Pengambilan data aktivitas fisik dalam penelitian ini menggunakan kuesioner WHO yang bergantung pada ingatan subjek dan orang tua, serta rentan terhadap keterbatasan pemahaman subjek terhadap kuesioner. Selain itu, pengukuran hanya dilakukan satu kali sehingga tidak dapat menggambarkan pola aktivitas fisik secara Proporsi tekanan darah tinggi ditemukan lebih tinggi pada anak perempuan . ,5%) dibandingkan anak laki-laki . ,6%), tetapi perbedaan ini tidak signifikan secara statistik. Hasil ini sejalan dengan penelitian di Jazan pada anak usia 6-14 tahun yang juga melaporkan proporsi hipertensi dan prehipertensi lebih tinggi pada perempuan. 24 Penelitian lain di Indonesia juga menyatakan tidak adanya hubungan bermakna antara jenis kelamin dan tekanan darah anak. 16,29 Secara teoretis, laki-laki memiliki risiko 2,3 kali lebih tinggi untuk mengalami peningkatan tekanan darah sistolik dibandingkan perempuan yang belum memasuki menopause. Sebaliknya, setelah menopause, risiko hipertensi pada perempuan menjadi lebih 30 Dalam penelitian ini, mayoritas subjek adalah perempuan . ,8%) yang masih berusia anak-anak . elum memasuki puberta. , sehingga efek proteksi estrogen terhadap tekanan darah belum berperan. Untuk mendeteksi gangguan tidur pada anak, digunakan kuesioner Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC), yang memiliki sensitivitas 71,4% dan spesifisitas 54,5%. Hasil uji Chi-square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara gangguan tidur dan tekanan darah anak. Temuan ini tidak sejalan dengan penelitian Javaheri dkk31 yang melaporkan hubungan bermakna antara kualitas tidur buruk dan kejadian prehipertensi, khususnya pada remaja. Studi Falkner dkk18 juga menyebutkan bahwa kualitas tidur buruk, gangguan tidur, dan durasi tidur pendek pada anak berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, terutama pada Beberapa faktor dapat menjelaskan ketidaksesuaian Pertama, kondisi tidur patologis yang paling umum pada anak-anak adalah obstructive sleep apnea (OSA) yang terkait dengan obesitas. dalam penelitian ini, angka kejadian obesitas hanya 3,9%. Kedua, pengambilan data gangguan tidur hanya dilakukan satu kali dan sangat bergantung pada ingatan orang tua subjek, sehingga rentan terhadap recall bias. Penelitian ini tidak menemukan hubungan signifikan antara berat badan lahir rendah (BBLR) dan tekanan darah Secara teoretis. BBLR dan kondisi intrauterine yang merugikan . isalnya preeklamsi. dapat menjadi etiologi hipertensi pada anak. 32 Anak dengan riwayat BBLR dapat mengalami gangguan nefrogenesis dan inflamasi kronik yang meningkatkan kadar C-reactive protein (CRP). Kondisi ini berkontribusi terhadap kerusakan vaskular melalui abnormalitas angiogenesis, disfungsi endotel, stres oksidatif, dan remodeling vaskular, yang pada akhirnya dapat menyebabkan peningkatan tekanan 33 Penelitian lain pada anak usia sekolah di Cina juga melaporkan bahwa BBLR berhubungan dengan risiko hipertensi. Studi longitudinal lain menyebutkan bahwa BBLR dan IMT tinggi dapat memengaruhi tekanan Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 Dwiarsi Sajariana Riadani dkk: Faktor risiko peningkatan tekanan darah: peran IMT dan riwayat hipertensi orang tua darah anak, terutama pada usia 5 tahun. tetapi pada usia 10 tahun. IMT memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan BBLR. 18 Penelitian pada anak usia 5-16 tahun menunjukkan hubungan negatif antara berat badan lahir dan tekanan darah anak, baik sistolik maupun diastolik. 35 Sejalan dengan temuan penelitian ini, studi pada tahun 2004 juga melaporkan tidak adanya hubungan antara berat badan lahir dan tekanan darah anak. Tidak ditemukannya hubungan yang signifikan dalam penelitian ini dapat disebabkan oleh beberapa Faktor-faktor yang memengaruhi berat badan lahir dan tekanan darah anak, seperti faktor maternal, faktor intrauterine, status sosioekonomi, dan etnis, tidak diteliti dalam penelitian ini. Penelitian ini memiliki beberapa kelebihan. Pertama, penelitian dilakukan di lokasi yang belum pernah diteliti sebelumnya, khususnya pada populasi anak usia sekolah dasar di wilayah pedesaan Kulon Progo. Kedua, analisis dilakukan terhadap berbagai variabel perancu, sehingga memberikan informasi tambahan yang berguna bagi pengembangan ilmu Ketiga, karena didasarkan pada skrining komunitas, penelitian ini memperoleh sampel dan data dalam jumlah yang cukup besar, yang diharapkan dapat mewakili komunitas secara keseluruhan. Keempat, pengambilan data dilakukan secara langsung . ace-tofac. , sehingga data yang diperoleh lebih terpercaya dan mengurangi potensi bias. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan kesehatan yang bermanfaat bagi komunitas setempat. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, pengukuran tekanan darah hanya dilakukan satu kali, sehingga tidak dapat menegakkan diagnosis hipertensi sesuai standar AAP yang mensyaratkan tiga kali pengukuran pada kunjungan terpisah. Kedua, tingkat partisipasi subjek yang rendah . ,1%) berpotensi menimbulkan selection bias. Ketiga, ukuran sampel yang kecil, terutama pada subkelompok analisis . isalnya kelompok dengan dua orang tua hipertensi hanya 5 subje. , menyebabkan rendahnya kekuatan Keempat, penggunaan kuesioner untuk aktivitas fisik dan gangguan tidur rentan terhadap recall Kelima, beberapa faktor perancu penting . supan natrium, status sosial ekonomi, riwayat hipertensi dalam kehamila. tidak diukur. Keenam, desain cross-sectional tidak memungkinkan penentuan hubungan kausal. Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 Kesimpulan Penelitian ini menemukan prevalensi peningkatan tekanan darah pada anak sekolah dasar di Kulon Progo sebesar 22%, dengan indeks massa tubuh sebagai faktor risiko paling dominan (OR=4,. Meskipun hipertensi orang tua tidak terbukti secara independen berhubungan dengan tekanan darah anak, jumlah orang tua yang hipertensi menunjukkan kecenderungan hubungan yang perlu dikonfirmasi dengan studi lebih Temuan ini menegaskan pentingnya skrining tekanan darah rutin pada anak, terutama mereka dengan status gizi lebih. Saran