Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 ANALISIS WILLINGNESS TO PAY (WTP) TERHADAP PEMBELIAN KOPI BIJI SALAK (Salacca zalacc. DI UMKM SARISA MERAPI Analysis of Willingness to Pay for the Purcase of Snake Fruit Seed Coffe (Salacca zalacc. In Sarisa Merapi Enterprise Saskia Helen Puspita. Ananti Yekti. *, dan R. Hermawan. Jurusan Pertanian. Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang *e-mail: yektiananti2020@gmail. Received : 21 Juli 2024: Accepted : 22 Desember 2024 ABSTRAK Kopi biji salak merupakan produk inovasi UMKM Sarisa Merapi yang diolah dengan bahan baku serbuk biji salak dan kopi robusta. Kopi biji salak memiliki kandungan senyawa kimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Namun, masyarakat belum bersedia membeli produk kopi biji salak. Penelitian ini bertujuan untuk . mengestimasi nilai WTP kopi biji salak . menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi nilai WTP terhadap pembelian kopi biji salak. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 50 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Terdapat dua metode untuk menganalisis estimasi nilai WTP dan faktor-faktor yang memengaruhinya yaitu contingent valuation method dan regresi Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap nilai WTP kopi biji salak yaitu usia, tingkat pendidikan, pendapatan, dan kualitas. Estimasi nilai WTP kopi biji salak di UMKM Sarisa Merapi sebesar Rp11. 040 per produk. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga jual kopi biji salak di UMKM Sarisa Merapi sebesar Rp10. Temuan ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah dan lembaga terkait dalam memberikan dukungan dan pembinaan kepada UMKM untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar. Peningkatan harga jual kopi biji salak yang melebihi harga jual saat ini menunjukkan adanya potensi keuntungan yang dapat diraih, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan pengusaha UMKM. Kata kunci: Kopi Biji Salak. Konsumen. Willingness to Pay ABSTRACT Snake fruit seed coffee is an innovative product of UMKM Sarisa Merapi which is processed with raw materials of snake fruit seed powder and robusta coffee. Snake fruit seed coffee contains chemical compounds that are beneficial for health. However, people is not be willing to buy snake fruit seed coffee products. This study aims to . estimate the WTP value of snake fruit seed coffee . analyze the factors that influence the WTP value of purchasing snake fruit seed coffee. The number of respondents in this study was 50 people selected using purposive sampling technique. There are two methods to analyze the estimation of WTP value and the factors that influence it, contingent valuation method (CVM) and multiple regression. The results showed that the factors that significantly influence the WTP value of snake fruit seed coffee include age, education level, income, and quality. The estimated WTP value of snake fruit seed coffee in UMKM Sarisa Merapi is Rp11. for one product. This price is higher than the selling price of snake fruit seed coffee at UMKM Sarisa Merapi of Rp10. hese findings can serve as a reference for the government and related institutions in providing support and guidance to MSMEs to enhance the competitiveness of local products in the market. The increase in the selling price of salak seed coffee, which exceeds the current selling price, indicates potential profit that can be achieved, ultimately improving the welfare of MSME entrepreneurs. Keywords: Snake Fruit Seed Coffee. Consumers. Willingness to Pay Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 PENDAHULUAN Komoditas unggulan di sektor pertanian Provinsi DIY adalah salak. Berdasarkan data BPS DIY . jumlah produksi tahunan buah salak pada 2014-2018 mencapai tingkat tertinggi dibandingkan buah lainnya sebesar 39,8 persen. Produksi salak tertinggi pada tahun 2022 sebesar 383 kwintal yang dihasilkan oleh Kabupaten Sleman (BPS, 2. Dengan potensi tersebut mendorong pelaku usaha mikro kecil menengah di Kabupaten Sleman untuk mengembangkan salak sebagai bahan baku produk usaha. Salah satu UMKM di Kabupaten Sleman yang eksis bergerak di bidang industri olahan salak adalah UMKM Sarisa Merapi. UMKM ini di bawah naungan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemiri Edum sejak bulan Desember tahun 2016. Selama ini, produksi olahan salak hanya dimanfaatkan pada bagian daging buahnya sehingga menghasilkan limbah dari hasil produksi tersebut berupa biji salak. Limbah biji salak menyumbang sebesar 25- 30% dari keseluruhan buah salak utuh, sedangkan kulit salak hanya 1014%. Hal ini menunjukkan bahwa limbah biji salak lebih besar daripada kulit salak (Pratiwi et al. Biji salak (Salacca zalacc. adalah bagian tanaman salak dengan kandungan antioksidan sebesar 436,91 mg/L GAEAC (Gallic Acid Equivalent Antioxidant Capacit. dengan IC50 sebesar 9,37 mg/mL. Kandungan senyawa antioksidan dalam biji salak mampu mencegah pembentukan dan penumpukan radikal bebas di kulit (Lutfiana et al. , 2. Adanya kandungan kimia yang dimiliki oleh biji salak tersebut dimanfaatkan oleh UMKM Sarisa Merapi menjadi sebuah produk inovasi yang memiliki cita rasa hampir sama dengan kopi pada umumnya yaitu kopi biji salak. Inovasi produk kopi biji salak sebagai upaya pemanfaatan limbah biji salak agar memiliki nilai ekonomis. D'kenthos coffee merupakan brand produk kopi biji salak yang diproduksi oleh UMKM Sarisa Merapi. Kandungan kapasitas antioksidan DAokenthos coffee sebesar 331,50 mg/g AEAC (Ascorbic Acid Equivalent Antioxidant Capacit. Menurut Werdyani et al. aktivitas antioksidan dalam bentuk p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 senyawa fenol, flavonoid, dan tanin. Adanya kandungan antioksidan dalam kopi biji salak dapat menjaga kesehatan tubuh dari proses oksidasi dan radikal bebas (Pratiwi et al. , 2. Hal ini menjadi peluang bagi konsumen yang ingin mengonsumsi kopi dengan tetap menjaga kesehatan tubuh. Namun, khasiat yang ada dalam kandungan senyawa kimia kopi biji salak belum banyak diketahui oleh masyarakat. Umumnya, masyarakat menganggap biji salak hanya sebuah limbah yang tidak memiliki nilai jual sehingga mereka kurang tertarik untuk mengonsumsi kopi biji salak. Hal ini menunjukkan bahwa dorongan konsumen untuk membeli produk kopi biji salak Kesediaan konsumen untuk membayar sebuah produk disebut willingness to pay. Bersadarkan penelitian yang dilakukan oleh Jamal . rata-rata nilai WTP maksimum produk kopi latte panas di Kayo Coffee and Space sebesar Rp25. 507 dan penyajian dingin sebesar Rp28. Sedangkan di Anak Panah jika disajikan panas sebesar Rp26. 833 dan penyajian dingin sebesar Rp30. Perbedaan nilai rata-rata maksimum tersebut karena faktor kualitas berpengaruh signifikan terhadap WTP kopi latte. Hal ini berbeda dengan penelitian Fajria . , faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi kesediaan membayar produk sayuran organik yaitu pendidikan, pekerjaan, dan Meneliti Willingness to Pay (WTP) pada UMKM memungkinkan pengusaha untuk menentukan harga yang tepat, mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, merancang strategi pemasaran yang efektif, dan membuat keputusan yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan efisiensi dalam pengelolaan usaha mereka. Berdasarkan kondisi di UMKM Sarisa Merapi, belum adanya penelitian yang membahas tentang faktor Willingness to Pay (WTP) terhadap pembelian kopi biji salak. Selain itu, besarnya nilai WTP juga belum diketahui secara empiris sehingga penulis berinisiatif untuk mengangkat penelitian dengan judul AoAoAnalisis Willingness to Pay terhadap Pembelian Kopi Biji Salak di UMKM Sarisa MerapiAoAo. Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 METODE PENELITIAN Metode Kajian Penelitian ini dilaksanakan di UMKM Sarisa Merapi. Kemiri. Purwobinangun. Pakem. Sleman selama 7 bulan. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu deskriptif kuantitatif yang menyajikan gambaran sebuah fenomena dengan data yang akurat. Data kuantitatif diperoleh dari hasil perhitungan kuesioner menggunakan metode Contingent Valuation Method (CVM) dan regresi linear berganda. Selanjutnya dianalisis secara Metode Penentuan Populasi dan Sampel Teknik pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja . yaitu di UMKM Sarisa Merapi berdasarkan pertimbangan yang ditentukan. Populasi yang digunakan dalam penelitian yaitu konsumen yang pernah membeli dan mengonsumsi kopi biji salak yang diproduksi UMKM Sarisa Merapi minimal 1 . Proses pengambilan sampel konsumen kopi biji salak UMKM Sarisa Merapi menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 50 Besaran tingkat ketelitian dan kesalahan maksimal yang digunakan dalam penelitian yaitu 5% . Jenis dan Teknik Pengumpulan Data Jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang didapatkan secara langsung di lapangan melalui wawancara dan kuesioner dengan responden. Sedangkan data sekunder adalah data yang mendukung data utama dan didapatkan melalui sumber lain sebagai perantara seperti pemilik UMKM Sarisa Merapi dan literatur . uku, jurnal, websit. yang relevan dengan topik penelitian. Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian yaitu observasi, kuesioner, dan wawancara. Instrumen Penelitian Skala pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala rasio dan likert. Melalui kedua skala tersebut, responden dapat melengkapi serangkaian pertanyaan dalam kuesioner untuk menunjukkan faktor-faktor yang memengaruhi nilai WTP dan nilai estimasi WTP terhadap pembelian kopi biji salak. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Analisis Data . Analisis Statistik Deskriptif Analisis statistik deskriptif merupakan salah satu metode untuk mengumpulkan, meringkas, mengklasifikasikan, menyajikan, dan mendeskripsikan data yang telah dikumpulkan tanpa menarik suatu kesimpulan (Sahir, 2. Contingent Evaluation Method (CVM) Metode Contingent Evaluation Method (CVM) digunakan untuk menganalisis nilai estimasi WTP terhadap pembelian kopi biji salak. Tahapan untuk menentukan nilai WTP yaitu: Membangun Hipotesis Pasar Pasar hipotesis dideskripsikan dengan terjadinya perubahan lingkungan di masa depan (Putri, 2. Mendapatkan Nilai Penawaran WTP Tahapan untuk mendapatkan nilai penawaran WTP menggunakan metode wawancara secara langsung dengan responden. Penggunaan metode ini untuk memudahkan dalam mengklasifikasi responden yang bersedia dan tidak bersedia membayar kopi biji salak. Menghitung Nilai Rataan WTP Nilai WTP menggunakan rata-rata dari penjumlahan seluruh seluruh nilai WTP dibagi dengan jumlah responden (Putri, 2. Keterangan : MWTP = Rata-rata nilai maksimum WTP (Rupia. WTPi = Nilai WTP ke-i = Jumlah responden = Responden ke-i yang bersedia membayar . Mengestimasi Kurva WTP Kurva WTP mendeskripsikan hubungan antara jumlah konsumen yang bersedia membayar dengan tingkat WTP yang bersedia dibayarkan. Kurva WTP mempunyai slope negatif apabila semakin tinggi nilai WTP maka semakin sedikit jumlah konsumen yang bersedia membayar (Mega et al. , 2. Menentukan Total WTP Nilai total WTP didapatkan dari nilai rata-rata WTP responden dengan jumlah populasi konsumen kopi biji salak (Mega et al. , 2. TWTP = EWTPi. Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 Keterangan : TWTP = Total Willingness to Pay (WTP) EWTPi = Rata-rata WTP ke-i responden (Rupia. = Responden . Uji Instrumen Penelitian . Uji Validitas Uji validitas merupakan suatu uji terhadap serangkaian pertanyaan dalam kuesioner untuk mengukur validitas jawaban responden yang diajukan peneliti. Apabila r hitung > r tabel maka butir atau variabel tersebut valid. Jika nilai r hitung < r tabel maka butir atau variabel tidak valid (Janna & Herianto, 2. Uji Reliabilitas Uji Reliabilitas merupakan suatu uji untuk mengukur kekonsistenan responden dalam menjawab serangkaian pertanyaan. Kriteria reliabilitas apabila nilai CronbachAos Alpha > 0,60, maka data reliabel. Jika nilai CronbachAos Alpha < 0,60, maka data tidak reliabel (Sujarwanto & Rusilowati, 2. Uji Asumsi Klasik . Uji Normalitas Uji Normalitas merupakan suatu uji digunakan untuk mengetahui nilai residu normal. Kriteria model regresi yang tepat yaitu pengujian statistik dengan kriteria nilai signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05, maka data terdistribusi normal (Sahir, 2. Uji Multikolinearitas Uji Multikolinearitas digunakan untuk mengetahui korelasi yang tinggi antara variabel Uji multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance (TOL) dan Variance Inflation Factor (VIF) dengan metode program SPSS. Jika nilai VIF < 10 atau nilai TOL > 0,1 maka tidak ada multikolinearitas (Sahir, 2. Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menganalisis perbedaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Kriteria model regresi yang tepat yaitu tidak terjadi heteroskedastisidas, tidak menunjukkan pola yang jelas pada gambar scatterplot, serta terdapat titik-titik menyebar yang berada di atas dan di bawah angka 0 (Sahir, 2. Uji Autokorelasi p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Uji menganalisis ada atau tidaknya penyimpangan korelasi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain. Uji autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin Watson (DW). Kriteria pengambilan kesimpulan yaitu Jika nilai dU < DW < 4 Ae dU, maka tidak terdapat autokorelasi (Sahir, 2. Analisis Linear Berganda Regresi Berganda merupakan metode analisis yang dikembangkan dari regresi sederhana terdiri lebih dari dua variabel yaitu dua atau lebih variable independent . ariabel beba. dan satu variable dependent . ariabel terika. (Sahir. Dalam penelitian, analisis regresi linear digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi nilai WTP terhadap pembelian kopi biji salak. Y = 0 1D1 2D2 3D3 4X1 5X2 6X3 7X4 8X5 e Keterangan: = Nilai WTP Kopi Biji Salak Konstanta . pabila nilai x sebesar 0 = 0, maka Y akan sebesar atau Koefisien Regresi (Jenis Kelamin. Status Pernikahan. Pekerjaan. Usia, 1-8 = Tingkat Pendidikan. Jumlah Anggota Keluarga. Pendapatan. Kualita. Jenis Kelamin (Dumm. = D1 = Perempuan, 1 = Laki-lak. Status Pernikahan (Dumm. = D2 = Belum Menikah, 1 = SudahMenika. Pekerjaan (Dumm. = Belum Bekerja, 1 = Bekerj. Usia Tingkat Pendidikan Jumlah Anggota Keluarga Pendapatan Kualitas Faktor lain diluar penelitian Uji Hipotesis . Uji Simultan (Uji F) Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh semua variabel bebas terhadap variabel terikat Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 secara bersama-sama . Pengujian hipotesis dengan membandingkan angka Fhitung dengan Ftabel pada tingkat kesalahan 5% ( = 0,. Jika Fhitung Ou Ftabel maka H0 ditolak (H1 Apabila nilai Fhitung O Ftabel maka H0 diterima (H1 ditola. (Sahir, 2. Uji Parsial (Uji . Uji t digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat secara masing-masing . Uji hipotesis dengan membandingkan angka thitung dengan ttabel pada tingkat kesalahan 5% ( = 0,. Jika thitung Ou ttabel, maka variabel bebas memengaruhi variabel terikat. Apabila thitung O ttabel, maka variabel bebas tidak memengaruhi variabel terikat (Sahir, 2. Koefisien Determinasi (R. Pada prinsipnya koefisien determinasi digunakan untuk mengukur besarnya keragaman variabel bebas terhadap variabel terikat. Apabila nilai koefisien determinasi (R. mendekati 1 . maka keragaman dari variabel terikat dapat dijelaskan oleh variabel bebas secara keseluruhan (Hidayaningtyas, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Objek Penelitian UMKM Sarisa Merapi merupakan salah satu industri menengah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang bergerak di pengolahan makanan dan minuman salak. Sarisa Merapi memiliki beberapa produk olahan salak, salah satunya kopi biji salak. Hasil observasi di lapangan bahwa sebagian besar pelaku UMKM di daerah Sleman memproduksi kopi biji salak dengan merek dan harga yang berbeda. Perbedaan kopi biji salak dengan produk UMKM lainnya terletak pada karakteristik produk tersebut. Bahan dasar kopi biji salak menggunakan serbuk biji salak dan kopi robusta sedangkan kopi biji salak yang diproduksi UMKM lain hanya menggunakan serbuk biji salak. Selain itu. UMKM Sarisa Merapi memproduksi kopi biji salak dalam bentuk kopi kemasan dan ready to drink. Sedangkan kopi biji salak yang diproduksi UMKM lain hanya dalam bentuk kopi Hal ini dapat menjadi nilai positif bagi UMKM Sarisa Merapi karena penyajian kopi biji p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 salak lebih praktis dan efisien dengan penambahan bahan kopi lain yaitu kopi robusta. Kopi biji salak memiliki manfaat dapat mencegah proses oksidasi sehingga menghambat pembentukan dan penumpukan radikal bebas di kulit (Lutfiana et al. , 2. Senyawa flavonoid pada biji salak sebagai antioksidan untuk mengurangi stress oksidatif yang menyebabkan komplikasi diabetes melitus dan membantu pengeluaran insulin oleh sel pankreas (Ribatul et , 2. Adanya nilai kebermanfaatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai dan citra positif produk terhadap kesediaan konsumen dalam membeli kopi biji salak serta menjadi bahan pertimbangan bagi UMKM Sarisa Merapi dalam menyusun strategi pemasaran terutama dalam strategi harga. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi nilai WTP dan nilai estimasi WTP terhadap pembelian kopi biji salak. Karakteristik Responden . Jenis Kelamin Secara umum keadaan responden memiliki persentase yang sama sebesar 50%. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan tren terhadap maraknya cafe atau coffee shop yang mudah ditemui di berbagai tempat dengan mengusung konsep yang menarik sehingga membuat tempat tersebut semakin digemari kaum muda, baik lakilaki maupun perempuan (Tabel . Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di UMKM Sarisa Merapi Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%) Laki-laki Perempuan Total Sumber : Data Primer, 2024 . Usia Mayoritas responden berada dalam kelompok usia 17-25 tahun dengan jumlah 50%. Hal ini karena dengan bertambahnya usia seseorang, kecenderungan kebutuhan akan semakin meningkat sehingga sebagian besar konsumen memprioritaskan pembelian kebutuhan primer daripada kebutuhan sekunder atau tersier (Tabel . Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia di UMKM Sarisa Merapi Usia Jumlah Persentase (%) 17-25 th 26-35 th 36-45 th 46-55 th 56-65 th Total Sumber : Data Primer, 2024 . Status Pernikahan Mayoritas konsumen belum menikah sebesar 58%. Responden yang belum menikah biasanya memiliki kebutuhan yang lebih sederhana dan belum mempertimbangkan pengeluaran untuk rumah tangga, sehingga cenderung dapat memenuhi kebutuhan sekunder dengan melakukan pembelian seperti kopi (Tabel . Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Status Pernikahan di UMKM Sarisa Merapi Nilai Estimasi WTP Kopi Biji Salak . Membangun Hipotesis Pasar Hipotesis pasar yang digunakan pada penelitian ini menjelaskan tentang deskripsi dan kebermanfaatan produk kopi biji salak yang diproduksi UMKM Sarisa Merapi. Adanya informasi yang diberikan melalui hipotesis pasar ini diharapkan dapat membantu responden dalam menentukan nilai willingness to pay terhadap kopi biji salak. Mendapatkan Nilai Penawaran WTP Metode yang digunakan untuk mendapatkan nilai willingness to pay yaitu pertanyaan terbuka . pen-ended questio. dengan menetapkan titik awal . tarting poin. untuk satu produk kopi biji salak sebesar Rp10. Hasil nilai WTP dan jumlah konsumen yang bersedia membayar kopi biji salak cukup beragam dengan nilai terendah yang disepakati untuk membayar satu produk kopi biji salak sebesar Rp5. Sedangkan nilai tertinggi sebesar Rp15. Hasil distribusi nilai WTP dapat dilihat pada Gambar 1. Status Pernikahan Jumlah Persentase (%) Belum Menikah Menikah Total Sumber : Data Primer, 2024 . Tingkat Pendidikan Terakhir Mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir SMA sebesar 56%. Sebagian besar konsumen kopi biji salak dengan pendidikan terakhir SMA memiliki status pekerjaan sebagai Hal ini disebabkan terjadi perubahan konsep pandangan masyarakat lebih tertarik dalam menciptakan lapangan kerja daripada mencari pekerjaan sehingga mendorong masyarakat termasuk konsumen kopi biji salak memilih menjadi wirausaha (Tabel . Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di UMKM Sarisa Merapi Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%) SMP SMA DIPLOMA S1/S2/S3 Total Sumber : Data Primer, 2024 5000 6000 7000 10000 12000 13000 15000 Gambar 1. Nilai WTP Kopi Biji Salak . Menghitung Nilai Rataan WTP Hasil rata-rata total konsumen adalah 040 per produk. Nilai rata-rata yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan harga jual kopi biji salak di UMKM Sarisa Merapi yaitu Rp10. Hal ini berarti konsumen bersedia membayar kopi biji salak lebih tinggi dari harga jual yang telah ditetapkan oleh UMKM Sarisa Merapi. Faktor mendasari konsumen bersedia membayar lebih karena keunggulan dan kebermanfaatan kopi biji salak seperti praktis dapat diminum secara langsung . eady to drin. , penyajian kopi biji salak sesuai permintaan konsumen, cita rasa kopi yang baru dengan tambahan bubuk biji salak, dan lokasi cafe yang dekat dengan tempat wisata lereng Gunung Merapi (Tabel . Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 Tabel 5. Hasil Nilai Rata-rata WTP Kopi Biji Salak Mean Nilai Jumlah Frekuensi WTP WTP Responden Relatif 0,04 0,02 0,08 0,32 0,14 TOTAL Sumber : Data Primer, 2024 . Mengestimasi Kurva WTP Hasil analisis data menunjukkan bahwa konsumen yang bersedia membayar kopi biji salak sebesar Rp. 000 sebanyak 5 orang. Sedangkan, 15 konsumen bersedia membeli kopi biji salak sesuai dengan harga jual sebesar Rp. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai WTP maka semakin sedikit juga konsumen yang bersedia membayar kopi biji salak. Gambar 2. Kurva Nilai WTP Kopi Biji Salak . Menemukan Total WTP Dalam penelitian ini nilai rataan sampel sebesar Menurut data BPS . jumlah penduduk di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 414 jiwa sehinggatotal WTP kopi biji salak sebesar Rp30. Adanya nilai total WTP dapat memberikan informasi tentang potensi finansial mengenai kopi biji salak bagi pelaku usaha artinya ketika pelaku usaha menggunakan harga yang bersedia dibayarkan oleh konsumen maka akan memperoleh pendapatan sebesar Rp30. Hasil Uji Instrumen . Uji Validitas p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Dalam pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan kepada 30 responden . dengan taraf signifikansi 95% ( = 0,. Hasil pengujian validitas menunjukkan bahwa seluruh item pertanyaan memiliki nilai r hitung > 0,374 sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap item pertanyaan dari variabel kualitas (X. adalah valid (Tabel . Tabel 6. Hasil Uji Validitas di UMKM Sarisa Merapi Kode Variabel r hitung r tabel Kriteria Indikator Valid X8. 0,374 Kualitas X8. X8. 0,852 0,646 0,374 0,374 Valid Valid X8. 0,868 0,374 Valid Sumber : Data Primer, 2024 . Uji Reliabilitas Hasil pengujian reliabilitas menunjukkan bahwa nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,791>0,60 sehingga dapat disimpulkan bahwa item pertanyaan dari kuesioner dinyatakan layak untuk disebarkan kepada responden (Tabel . Tabel 7. Hasil Uji Reliabilitas di UMKM Sarisa Merapi CronbachAos Kriteria N of items Alpha Reliabel 0,791 Sumber : Data Primer, 2024 Hasil Uji Asumsi Klasik . Uji Normalitas Metode uji statistik yang digunakan yaitu uji onesample kolmogorov-smirnov dengan nilai signifikansi 0,191 > 0,05 sehingga dapat dikatakan model regresi terdistribusi normal. Uji Multikolinearitas Nilai VIF dari masing-masing variabel kurang dari 10 dan nilai Tolerance yang diperoleh lebih dari 0,1. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi faktor-faktor yang memengaruhi nilai WTP terhadap pembelian kopi biji salak tidak terjadi multikolinearitas (Tabel . Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 Tabel 8. Hasil Uji Multikolinearitas Variabel Tolerance VIF Dummy Jenis Kelamin Usia Dummy Status Pernikahan Jumlah Anggota Keluarga Pendidikan Pendapatan Kualitas Dummy Pekerjaan Sumber : Data Primer, 2024 . Uji Heteroskedastisitas Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terbentuk pola pada scatterplot. Selain itu, titik-titiknya menyebar di atas maupun di bawah angka 0. Hal ini dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terjadi masalah heteroskedastisitas . Uji Autokorelasi Dalam penelitian ini, nilai dL O DW O dU . ,2011<1,612<1,9. sehingga tidak dapat Oleh karena itu, dilakukan tes lanjutan yaitu Run test dengan nilai Asymp. Sig . sebesar 0,568 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi masalah autokorelasi. Hasil Regresi Faktor-faktor yang Memengaruhi Nilai WTP terhadap Pembelian Kopi Biji Salak Faktor-faktor yang memengaruhi nilai WTP kopi biji salak dianalisis menggunakan linear Berdasarkan Tabel 9 , maka dapat diperoleh hasil regresi faktor-faktor yang memengaruhi nilai WTP kopi biji salak. Tabel 9. Hasil Regresi Faktor-faktor yang Memengaruhi Nilai WTP Kopi Biji Salak di UMKM Sarisa Merapi Variabel Konstanta Dummy Jenis Kelamin Usia Dummy Status Pernikahan Jumlah Anggota Keluarga Tingkat Pendidikan Pendapatan Koefisien Regresi tSignihitung fikansi 469 ns 841 ns 693 ns p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Kualitas Dummy 290 ns Pekerjaan Sumber : Data Primer, 2024 . Koefisien Determinasi Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai koefisien determinasi (R. adalah 0,61 atau 61%. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 61% variasi dalam nilai WTP kopi biji salak dapat dijelaskan oleh variabel independen. Sementara itu, sebesar 39% dari variasi tersebut dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti (Tabel . Tabel 15. Hasil Koefisien Determinasi Model Summary Std. Error Adjusted Model R Square Square Estimate Predictors: (Constan. Pekerjaan. Jenis Kelamin. Jumlah Anggota Keluarga. Status Pernikahan. Kualitas. Pendidikan . Pendapatan. Usia Sumber : Data Primer, 2024 Faktor-faktor yang Memengaruhi Nilai WTP terhadap Pembelian Kopi Biji Salak . Pengaruh Dummy Jenis Kelamin terhadap WTP Kopi Biji Salak Variabel jenis kelamin memiliki nilai koefisien regresi adalah 0,469. Selain itu, nilai t hitung sebesar 0,142 < 2,019 yang artinya jenis kelamin tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai WTP kopi biji salak. Konsumen kopi biji salak baik laki-laki pertimbangan yang rasional saat membeli kopi berdasarkan keunggulan dan kualitas produk. Hal ini sejalan dengan penelitian Habib & Kuntadi . bahwa tidak terdapat korelasi antara jenis kelamin dengan nilai WTP beras organik disebabkan oleh tingginya kebutuhan keluarga yang dipikirkan responden perempuan dalam membeli beras organik sedangkan responden lakilaki tidak memiliki gambaran mengenai beras organik sehingga kebutuhan dapur dipercayakan kepada istri sebagai pembeli utama kebutuhan sehari-hari. Pengaruh Usia terhadap WTP Kopi Biji Salak Variabel usia berpengaruh secara signifikan dengan nilai t hitung sebesar 2,183 > 2,019 dan koefisien regresi yaitu 0,058. Hal ini menunjukkan bahwa Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 jika usia konsumen terjadi peningkatan setiap 1 tahun maka akan meningkatkan nilai WTP (Y) sebesar 0,058 rupiah. Mayoritas responden memutuskan untuk membeli kopi biji salak karena untuk mendapatkan suasana baru dan adanya fasilitas yang mendukung seperti wifi. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rahayu et al. yang menyatakan bahwa semakin tinggi kelompok usia maka nilai WTP beras cerdas CV An-Nahlah juga semakin meningkat sebesar Rp675. Pengaruh Dummy Status Pernikahan terhadap WTP Kopi Biji Salak Variabel status pernikahan memiliki nilai koefisien regresi adalah 0,841 dan nilai t hitung sebesar 0,180 < 2,019 yang artinya tidak terdapat perbedaan nilai WTP konsumen antara yang belum menikah dan sudah menikah. Mayoritas konsumen membeli kopi biji salak berdasarkan preferensi individu karena pembelian kopi biji salak sesuai dengan Hal ini sejalan dengan penelitian Karisyawati . bahwa setiap orang yang menikah memiliki kebutuhan preferensi yang beragam dalam mengonsumsi buah sehingga status pernikahan menjadi salah satu faktor yang dapat menurunkan nilai WTP pisang cavendish. Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap WTP Kopi Biji Salak Variabel tingkat pendidikan memiliki nilai koefisien regresi sebesar 2,223 dan nilai t hitung sebesar 2,957 > 2,019 sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai WTP kopi biji salak. Hal ini sejalan dengan penelitian Fajria et al. berpengaruh terhadap nilai WTP karena pendidikan dapat memengaruhi pola pikir konsumen. Konsumen dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang kopi biji salak sehingga bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi. Pengaruh Jumlah Anggota Keluarga terhadap WTP Kopi Biji Salak Jumlah anggota keluarga tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai WTP kopi biji salak. Variabel jumlah anggota keluarga memiliki nilai koefisien regresi sebesar -0,693 dan nilai t hitung sebesar - 0,692 < 2,019. Menurut Habib & Kuntadi p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 . jumlah anggota keluarga memiliki dampak signifikan terhadap tingkat kebutuhan konsumsi Namun, kopi biji salak tidak tergolong kebutuhan primer konsumen sehingga jumlah anggota keluarga dalam penelitian ini tidak berpengaruh terhadap nilai WTP kopi biji salak. Pengaruh Dummy Pekerjaan terhadap WTP Kopi Biji Salak Variabel pekerjaan memiliki nilai koefisien regresi sebesar -8,290 dan nilai t hitung -1,783 < 2,019. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel pekerjaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai WTP kopi biji salak. Hal ini karena mayoritas konsumen berstatus sebagai pekerja, namun memiliki pendapatan yang sebanding dengan konsumen yang belum bekerja. Oleh karena itu, variabel pekerjaan tidak memengaruhi kesediaan konsumen dalam membayar kopi biji salak. Pengaruh Pendapatan terhadap WTP Kopi Biji Salak Variabel pendapatan memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,004 dan nilai t hitung sebesar 2,565 > 2,019 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel pendapatan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai WTP kopi biji salak. Pada penelitian ini, konsumen yang memiliki pendapatan lebih besar bersedia membayar kopi biji salak dengan harga lebih tinggi dari harga jual. Hal ini sesuai dengan penelitian Fajria et al. bahwa semakin tinggi pendapatan dapat meningkatkan kesediaan konsumen untuk membayar lebih pada produk sayuran organik. Jumlah pendapatan yang tinggi dapat memenuhi kebutuhan keluarga dengan baik karena adanya sumber dana yang . Pengaruh Kualitas terhadap WTP Kopi Biji Salak Dalam penelitian ini, kualitas diukur berdasarkan rasa, aroma . , warna, dan desain kemasan. Variabel kualitas memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,012 dan nilai t hitung sebesar 6,771 > 2,019. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel kualitas memiliki pengaruh secara signifikan terhadap nilai WTP kopi biji salak. Mayoritas konsumen bersedia membeli kopi biji salak karena keunggulan dan kualitas produk tersebut seperti bahan utama serbuk biji salak dan kopi robusta yang dipasarkan dalam bentuk kopi kemasan dan Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 siap minum . eady to drin. , desain kemasan kopi biji salak menggambarkan perpaduan warna kopi dan salak sehingga menambah kesan elegan, dan kopi biji salak mengeluarkan aroma buah salak yang dapat menarik minat beli konsumen. Hal ini sesuai dengan penelitian Jamal et al. menjelaskan bahwa kualitas memengaruhi tingginya nilai WTP pada produk coffee latte karena secara psikologis konsumen cenderung memilih produk yang memiliki kualitas baik. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 to Pa. Konsumen terhadap Sayuran Organik di Pasar Modern Purwokerto dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi. In SEPA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (Vol. Issue . Habib. , & Kuntadi. Analisis Willingness to Pay Beras Organik Aromatik AuBotanikAy Gapoktan Al-Barokah di Kabupaten Bondowoso. JSEP (Journal of Social and Agricultural Economic. , 13. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai Nilai estimasi Willingness to Pay (WTP) dalam membeli kopi biji salak yang diperoleh sebesar Rp11. 040 per produk. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga jual kopi biji salak di UMKM Sarisa Merapi sebesar Rp10. Mayoritas konsumen kopi biji salak 56% bersedia membayar lebih tinggi dari harga jual yang telah ditetapkan. Hal ini dapat menjadi peluang besar bagi UMKM Sarisa Merapi untuk meningkatkan penjualan kopi biji Faktor-faktor yang memengaruhi nilai Willingness to Pay (WTP) terhadap pembelian kopi biji salak di UMKM Sarisa Merapi yaitu usia, tingkat pendidikan, pendapatan, dan kualitas. DAFTAR PUSTAKA