435 Jurnal Info Kesehatan Vol 15. No. Desember 2017, pp. P-ISSN 0216-504X. E-ISSN 2620-536X Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/infokes Profil Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita Di Puskesmas Rambangaru Tahun 2015 Profile of Treatment for Acute Respiratory Infection (ARI) in Toddlers at Rambangaru Health Center in 2015 Yorida Febry Maakh. Ivonne Laning. Rambu Tattu Farmasi. Poltekkes Kemenkes Kupang Email: yoridam@gmail. Email: ivonne89@gmail. Email: tattur@yahoo. ARTICLE INFO: Keywords: Toddler ARI IMCI ABSTARCT/ABSTRAK Acute Respiratory Infection (ARI) is an acute disease with a variety of symptoms that often occur in infants. In 2015. ARI was ranked first in the 10 most disease patterns in Rambangaru Health Center with a total of 4350 cases. The purpose of this study was to determine the profile of ARI treatment in infants in Rambangaru Health Center based on age, gender, weight, diagnosis, type of drug, duration of treatment, dosage form, frequency, dose and suitability of the implementation of Integrated Management of Childhood Illness (IMCI). The type of research used is a retrospective descriptive collection of data in the Register and Recipe book, data is recorded, grouped and presented in tables. The results of the study of 366 samples showed that infants aged 1-> 3 years were the most cases with 151 cases . 25%), male gender 185 cases . 54%), based on weight 10 kg- <16 kg as many as 258 cases . 51%), based on the diagnosis is moderate pneumonia ARI 340 cases . 9%), the type of drug used in ARI rather than pneumonia is 26 cases of ARI . 10%), in ARI pneumonia while antibiotic Amoxicillin was 263 . 88%), based on treatment duration was 4 days 306 cases . 60%), the most widely given dosage forms were pulmonary ARI and Amoxicillin tablets 263 cases . 88%), the highest frequency is 3 times a day 170 cases . 44%). Based on the suitability of the implementation of Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) on dose, frequency, and duration of treatment 262 cases . 44%) paracetamol, 263 cases . %) Amoxicillin tablets, 25 cases . 64%) Amoxicillin syrup, and 45 Case . 83%) Cotrimoxazole does not match IMCI. Kata Kunci: Balita ISPA MTBS Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit akut dengan berbagai macam gejala yang sering terjadi pada balita. Pada tahun 2015. ISPA menduduki peringkat pertama dalam 10 pola penyakit terbanyak di Puskesmas Rambangaru dengan jumlah 4350 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Profil pengobatan ISPA pada balita di Puskesmas Rambangaru berdasarkan umur, jenis kelamin, berat badan, diagnosa, jenis obat, lama pengobatan, bentuk sediaan, frekuensi, dosis serta kesesuaian pelaksanaan Managemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif yaitu pengumpulan data pada buku Register dan Resep, data dicatat, dikelompokkan dan disajikan dalam tabel. Hasil penelitian dari 366 sampel menunjukkan bahwa balita umur 1->3 tahun merupakan kasus terbanyak dengan jumlah 151 kasus . ,25%), jenis kelamin laki-laki 185 kasus . ,54%), berdasarkan berat badan 10 kg-< 16 kg sebanyak 258 kasus . ,51%) ,berdasarkan diagnosa adalah ISPA Pneumonia sedang 340 kasus . ,9%), jenis obat yang digunakan pada ISPA bukan pneumonia adalah pulvis ISPA sebanyak 26 kasus . ,10%), pada ISPA pneumonia sedang adalah antibiotik Amoksisilin sebanyak 263 . ,88%), berdasarkan lama pengobatan adalah 4 hari s 306 kasus . ,60%), bentuk sediaan yang paling banyak diberikan adalah pulvis ISPA dan tablet Amoksisilin 263 kasus . ,88%), frekuensi paling banyak yakni 3 kali sehari 170 kasus . ,44%). Berdasarkan kesesuaian pelaksanaan Managemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) terhadap dosis, frekuensi, dan lama pengobatan 262 kasus . ,44%) parasetamol, 263 kasus . %) Amoksisilin tablet, 25 kasus . ,64%) Amoksisilin sirup, dan 45 kasus . ,83%) Kotrimoksazol tidak sesuai MTBS. CopyrightA2017 Jurnal Info Kesehatan All rights reserved Corresponding Author: Yorida Febry Maakh Farmasi-Poltekkes Kemenkes Kupang Ae 85111 Email: yoridam@gmail. PENDAHULUAN hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Kesehatan adalah keadaan sehat baik Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan atau secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial serangkaian kegiatan yang dilakukan secara yang memungkinkan setiap orang untuk Kabupaten Sumba Timur. Puskesmas ini melayani semua pasien dari semua desa pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, sebanyak 7 desa dan belum memiliki tenaga (Anonim. Pada dan/atau Rambangaru ISPA menduduki peringkat Upaya pertama dalam pola 10 penyakit terbesar peningkatan derajat kesehatan tersebut di tahun 2015 sebanyak 4. 350 kasus dan sudah perlukan adanya kerjasama antara tenaga melaksanakan Managemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) (Anonim, 2. Adapun masalah yang perlu ditangani yakni ISPA menempati urutan keempat di penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut Kabupaten Sumba Timur dengan jumlah (ISPA) (Anonim, 2010. 223 penderita balita (Anonim, 2. Infeksi Saluran Pernapasan Akut Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan Huma . tentang profil pengobatan ISPA yang bersifat akut dengan berbagai macam gejala . , disebabkan oleh bakteri menunjukkan Jumlah kunjungan ISPA 115 atau virus. Infeksi saluran pernapasan akut kasus . ,68%), berdasarkan jenis kelamin adalah penyebab utama pada morbiditas dan 257 kasus . ,69%) dan berdasarkan umur mortalitas pada balita di negara berkembang sebanyak 319 kasus . ,9%). Puskesmas Melolo Sumba Timur seperti Indonesia. ISPA yang tidak tertangani Infeksi Saluran Pernapasan akut dengan baik akan masuk ke jaringan paru Ae adalah penyakit yang sangat serius dan paru dan menjadi penyebab utama kematian berakibat fatal jika terlambat penanganannya. pada bayi dan balita (Widoyono, 2. Oleh karena itu, diperlukan manajemen terapi Pola . yang sesuai dan tenaga kesehatan yang Hingga saat ini belum ada tingginya kasus ISPA yakni menempati urutan pertama. Penyakit ISPA juga masih Puskesmas merupakan penyebab utama pada kematian dilakukanuntuk memperoleh data jumlah bayi dan balita di Nusa Tenggara Timur kunjungan pasien ISPA pada balita di (Anonim, 2012. Puskesmas Rambangaru Puskesmas Rambangaru berdasarkan umur, jenis kelamin, berat badan, dan diagnosa dan satu-satunya kesehatan yang berada di Kecamatan Haharu ISPA Rambangaru. Penelitian ISPA berdasarkan jenis obat, lama pengobatan. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi berupa formulir pengambilan data kesesuaian pelaksanaan Managemen Terpadu yang dibuat oleh penulis . yang Balita Sakit (MTBS). disesuaikan dengan buku register harian di METODE PENELITIAN Puskesmas Rambangaru. Pengambilan data Jenis penelitian yang dilakukan dilakukan secara retrospektif dengan merekap adalah penelitian deskriptif dengan merekap data penderita ISPA yang terdapat pada buku data pengobatan ISPA pada balita di register pasien di Puskesmas Rambangaru Puskesmas Data tersebut di catat, di Rambangaru Rambangaru Puskesmas Juni Variabel dalam penelitian ini adalah Adapun karakteristiknya sebagai berikut: variabel tunggal yaitu profil pengobatan Karakteristik pasien . meliputi penderita ISPA pada balita di Puskesmas usia, jenis kelamin, berat badan. Rambangaru tahun 2015 meliputi umur, jenis kelamin, berat badan, diagnosa, jenis obat, pneumonia, dan pneumonia bera. lama pengobatan, bentuk sediaan, frekuensi. Karakteristik obat meliputi jenis obat, dosis serta kesesuaian pelaksanaan MTB. Sampel penelitian ini adalah data pengobatan balita penderita ISPA rawat jalan . ukan pengobatan, bentuk sediaan, pelaksanaan MTBS. yang tercatat dalam register pasien di Data dikumpulkan dan disajikan dalam Puskesmas Rambangaru tahun 2015. Sampel bentuk tabel persentase. Analisis data yang diambil menggunakan rumus random dengan menggunakan rumus: samplingyakni pengambilan sampel secara acak (Ridwan, 2. ycu= ycA ycA . cc 2 ) 1 yaycyceycoycyceycuycycn ycoycaycycnycuyciOeycoycaycycnycuyci ycnycuyccycnycycnyccyc yaycycoycoycaEa yceycyceycoycyceycuycycn 100(Saryono, 2. Prosedur penelitian yang dilakukan Keterangan: n = Jumlah sampel. N = Jumlah populasi . dan d = Presisi ycu = 4350. ,05 ycu 0,. 1=366,31 366 sampel yaitu membuat surat Izin penelitian dari kampus berturut-turut tembusannya adalah kepada Kepala Badan Kesatuan Bangsa. Politik dan Perlindungan Masyarakat Sumba Timur, kemudian ke Kepala Kantor Camat Haharu, lalu kepada Kepala Puskesmas Nggoa, sebelah timur: Kecamatan Kanatang Rambangaru. Peneliti dan sebelah barat: Kabupaten Sumba Tengah. Puskesmas Rambangaru, penelitian dan pengolahan data. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Puskesmas Rambangaru Puskesmas Tabel 1. Jumlah tenaga Puskesmas Rambangaru pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif Secara Jenis Tenaga Kerja Dokter SKM Perawat Bidan Sanitarian Cleaning Servis Jumlah Jumlah Tenaga Kerja 2 Orang 1 Orang 11 Orang 12 Orang 1 Orang 2 Orang 29 Orang Berdasarkan penduduk pada tahun 2015, jumlah penduduk di Kecamatan Haharu adalah 6. 623 jiwa. Puskesmas Rambangaru nasional standar wilayah kerja puskesmas puskesmas pembantu (Pust. di tiap desa adalah satu kecamatan. Apabila di satu tetapi pasien jarang melakukan kunjungan. kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas maka tanggung jawab wilayah kerja antar tenaga kesehatan di bidang Farmasi, sehingga puskesmas dengan memperhatikan keutuhan resep di tulis oleh dokter atau perawat dan konsep wilayah yaitu Desa / kelurahan atau yang memberikan obat kepada pasien adalah dusun / rukun warga (RW) (Anonim,2. Adapun jumlah tenaga kerja di Puskesmas Puskesmas Rambangaru dapat di lihat pada Rambangaru puskesmas yang terletak di desa Rambangaru Kecamatan Haharu pelayanannya terdiri dari 7 desa yakni desa Rambangaru, desa Praibakul, desa Kalamba. Rambangaru. Karakteristik Pasien Balita adalah istilah umum bagi anak usia di bawah 5 tahun dalam Manajemen desa Kadahang, desa Prailangina, desa Terpadu Balita Sakit (MTBS). Saat masih Wunga dan desa Napu. Luas wilayah A 601,5 usia balita, anak masih tergantung penuh pada km2 dengan batas wilayah kerja Puskesmas orangtua untuk melakukan kegiatan penting Rambangaru sebagai berikut: sebelah Utara: seperti mandi, makan dan buang air (Anonim. Laut Sawu, sebelah selatan: Kecamatan Balita merupakan generasi yang perlu mendapat perhatian, karena balita merupakan generasi penerus hidup bangsa. Umur Balita di harapkan tumbuh dan berkembang Berdasarkan tabel 2 diatas dapat dalam keadaan sehat jasmani, sosial dan dilihat bahwa umur balita yang paling sering bukan hanya terbebas dari penyakit. Masalah terkena penyakit ISPA adalah balita umur 1- kesehatan pada balita merupakan kesehatan < 3 tahun dengan jumlah sebanyak 151 kasus nasional mengingat angka kesakitan dan dan persentase 41,25 %. Hal ini di sebabkan angka kematian pada balita masih cukup oleh faktor lingkungan dimana wilayah tinggi dan salah satu penyakit penyebabnya puskesmas Rambangaru umunnya adalah adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut wilayah yang berdebu dan cuaca yang sering (ISPA). (Angin Infeksi Saluran Pernapasan Akut Penyebab lainnya adalah asap pembakaran adalah penyakit saluran pernapasan akut rumah tangga dan paparan asap rokok secara dengan berbagai macam gejala . Balita umumnya memiliki sistem Penyakit ini disebabkan oleh berbagai sebab kekebalan tubuh yang rendah dari pada orang . yang menyerang pada bagian dewasa, balita pada umur 1-<3 tahun adalah pernapasan atas yakni dari melibatkan hidung balita yang sistem kekebalan tubuhnya lebih dan tenggorokan serta pernapasan bawah rendah dari pada balita umur 3->5 tahun. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan paru-paru. Meskipun organ saluran pernapasan tersebut umur sangat berpengaruh pada diatas terlibat tetapi yang menjadi fokus penyakit ISPA (Layuk, dkk, 2. adalah paru-paru karena tingginya mortalitas radang paru-paru (Widoyono, 2. Berdasarkan ISPA Puskesmas Rambangaru periode januari-desember yakni Tabel 2. Jumlah Balita penderita ISPA yang mendapatkan pengobatan d Puskesmas Rambangaru Periode Januari Ae Desember 2015 berdasarkan Umur sebanyak 4350 kasus. Berikut adalah data ISPA 2-11 bulan Jumlah Kasus 1- <3 tahun 41,25 3-<5 tahun 30,05 Total Umur kelamin, berat badan dan diagnosa. Persentasi (Sumber: Data sekunder, 2. Jenis kelamin Berikut mengenai jenis kelamin balita penderita ISPA yang mendapat pengobatan di Puskesmas 10 kg-< 16 kg 16 kg-<19 kg 6,55 Total (Sumber: Data sekunder, 2. Rambangaru. Berdasarkan tabel 7, jumlah balita Tabel 3. Jumlah balita penderita ISPA yang mendapat pengobatan di Puskesmas Rambangaru periode Januari-Desember berdasarkan jenis kelamin. penderita ISPA yang mendapat pengobatan Jenis Kelamin Total Kg. Hal ini berkaitan dengan jumlah balita Jumlah Kasus Persentasi 50,54 49,46 umber: data sekunder, 2. paling banyak 258 kasus atau 70,5 % yaitu pada balita dengan berat badan 10 Kg -< 16 penderita ISPA berdasarkan umur 1->3 tahun Balita memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah Berdasarkan tabel 6, dapat dilihat dari pada orang dewasa, balita pada umur 1- ISPA <3 tahun adalah balita yang sistem kekebalan terbanyak yaitu jenis kelamin laki-laki tubuhnya lebih rendah dari pada balita umur sebanyak 185 kasus dengan persentase 3-<5 tahun (Layuk, dkk, 2. 50,54%. Hal Diagnosa lingkungan, balita dengan jenis kelamin laki- Berdasarkan laki pada umumnya lebih banyak beraktivitas ISPA dibagi menjadi ISPA ringan/bukan diluar rumah dan lebih suka bermain di pneumonia. ISPA sedang/pneumonia dan tempat kotor dan berdebu (Ranantha,dkk. ISPA berat/pneumonia berat. Berdasarkan tabel 5, dapat dilihat bahwa klasifikasi ISPA Berat badan yang paling sering terjadi di Puskesmas Berikut ini adalah gambaran berat Rambangaru adalah ISPA sedang/pneumonia badan balita penderita ISPA yang mendapat pengobatan di Puskesmas Rambangaru. persentase 92,9%, kemudian diikuti ISPA ringan/bukan pneumonia sebanyak 26 kasus Tabel 4. Jumlah balita penderita ISPA yang mendapat pengobatan di Puskesmas Rambangaru periode Januari-Desember berdasarkan berat Berat Badan 4 kg-<10 kg Jumlah Pasien Persentasi 22,95 dengan persentase 7,10%. Tabel 5. Jumlah balita penderita ISPA yang mendapat pengobatan di Puskesmas Rambangaru periode Januari-Desember 2015 berdasarkan Diagnosa Jumlah Pasien Bukan Pneumonia Pneumonia sedang Pneumonia Berat Total Persentasi kurangnya kesadaran ibu untuk membawa 7,10 92,90 anaknya ke fasilitas kesehatan lebih awal . umber: data sekunder, 2. kesehatan terampil terbatas, ditambah akses ke fasilitas kesehatan yang kurang (Anonim. Adapun Klasifikasi ISPA berat/ Karakteristik Obat pneumonia berat tidak terdapat di puskesmas Rambangaru. Berdasarkan tingkat keparahan. Pengobatan merupakan suatu proses diagnosa ISPA ringan /bukan pneumonia ilmiah yang di lakukan oleh dokter atau yakni batuk tanpa pernapasan cepat atau penarikan dinding dada. ISPA sedang/ diagnosa yang diperoleh. Upaya tersebut di pneumonia sedang yakni batuk atau kesulitan tempuh melalui suatu tahapan prosedur yang terdiri dari anamnese, pemeriksaan, diagnosa, pengobatan dan tindak lanjut. Berikut ini Pneumonia berat yakni batuk atau kesulitan adalah gambaran penatalaksanaan ISPA bernapas dan penarikan dinding dada, tetapi berdasarkan jenis obat, lama pengobatan, dapat minum (Anonim, 2012. ISPA Klasifikasi ISPA pneumonia sedang kesesuaian MTBS. pengetahuan ibu tentang penyakit ISPA dan Jenis obat Gambaran mengenai obat-obat yang di berikan dalam pengobatan ISPA di Puskesmas Rambangaru tahun 2015. Tabel 6. Jenis obat yang di berikan pada balita penderita ISPA Pneumonia dan bukan pneumonia di Puskesmas Rambangaru periode Januari-Desember 2015. Jenis obat Amoksisilin tablet Amoksisilin sirup Kotrimoksazol tablet Obat kombinasi Jumlah Pasien 71,88 8,46 12,56 7,10 Bukan Pneumoni Total Keterangan: Obat kombinasi: (Paracetamol. GG. CTM. Dexa. Vitamin C/ Vitamin B Comple. = Obat yang diberikan. Berdasarkan tabel 6, dapat diketahui Kotrimoksazol bahwa dalam penatalaksanaan ISPA bukan menurut petugas kesehatan di Puskesmas. pneumonia tidak diberikan Antibiotik tetapi Parasetamol tidak di hitung karena sudah obat kombinasi tablet/pulvis sebanyak 26 termasuk dalam pemberian obat kombinasi (Parasetamo. , 7,10 . ulvis/table. maupun di kombinasikan (GG), dengan antibiotik karena banyaknya balita antihistamin (CTM dan Dex. , dan vitamin yang demam. (Vitamin C/Vitamin B Comple. Hal ini Berdasarkan penatalaksanaan ISPA ISPA obat yang digunakan untuk terapi ISPA berdasarkan diagnosa dokter dan tanya jawab adalah antibiotik seperti Amoxicilin dan petugas kesehatan terhadap ibu balita bahwa Cotrimoksazol dan obat penurun panas balita penderita ISPA bukan pneumonia seperti Parasetamol sedangkan penambahan adalah balita penderita batuk pilek biasa dan obat lain seperti ibuprofen, menurut petugas demam sehingga pemberian obat-obatan kesehatan di Puskesmas adalah sebagai tersebut untuk menunjang pengobatan dan perlu di beritahukan jika batuk melebihi 3 Penambahan Efedrin sebagai obat minggu, segera dilakukan pemeriksaan lebih simptomatik . atuk dan pile. Sedangkan pada penatalaksanaan ISPA sedang/Pneumonia MTBS Parasetamol Berdasarkan data pada tabel 7, dapat dilihat bahwa jenis obat yang paling sering di Antibiotik berikan kepada balita penderita ISPA adalah Amoksisilin. Kotrimoksazol dan Antipiretik obat kombinasi Parasetamol. Amoksisilin, seperti Parasetamol. Berdasarkan tabel 9. GG. CTM dan Vitamin C sebanyak 273 kasus jenis antibiotik terbanyak yang diberikan dengan persentase 74,6%. Hal ini disebabkan adalah antibiotik Amoksisilin tablet sebanyak karena balita penderita ISPA yang datang 263 kasus atau 71,88 %. Pada MTBS. Kotrimoksazol merupakan antibiotik pilihan pengobatan causal saja . neumonia atau Pelaksanaannya Amoksisilin Puskesmas Amoksisilin menjadi pilihan pertama karena simptomatik seperti obat batuk pilek dan substansi seperti vitamin untuk menunjang Tabel 7. Jumlah obat kombinasi yang di berikan pada balita penderita ISPA Pneumonia dan bukan pneumonia di Puskesmas Rambangaru periode Januari-Desember 2015. No Jenis obat 2 macam 3 macam 4 macam 5 macam 6 macam Total Jumlah Pasien Persentasi 0,28 2,18 20,21 2,73 (Sumber: Data sekunder, 2. Keterangan : 2 macam (Parasetamol. Amoksisili. , 3 macam (Parasetamol. Amoksisilin. GG/ Parasetamol. GG. Dexa/ Parasetamol. GG. Vitamin C), 4 macam (Parasetamol. Kotrimoksazol. CTM,GG/ Parasetamol. Amoksisilin. CTM. Efedrin/ Parasetamol. CTM,Dexa,GG/ Parasetamol. Dexa. GG. Vitamin B Com/ Amoksisilin sirup,CTM. GG. Vitamin C), 5 macam (Ibuprofen. Amoksisilin. CTM. GG. Vitamin B Com/ Ibufprofen. Amoksisilin sirup. CTM,GG. Vitamin C/ Parasetamol. Amoksisilin. GG,CTM. Vitamin C/ Parasetamol. Kotrimoksazol. CTM. GG. Vitamin C), 6 macam (Parasetamol. Amoksisilin. CTM. Dexa. GG. Vitamin C). Lama pengobatan dan bentuk sediaan. Gambaran mengenai lama pengobatan yang di berikan untuk menangani balita penderita ISPA di Puskesmas Rambangaru terlihat pada tabel berikut: Tabel 8. Lama pengobatan yang diberikan pada balita penderita ISPA. NO Bentuk Lama Sediaan Pengobatan 1 P T. 3 hari 2 P T. 3 Ae 5hari 3 P S. 3 dan 4 hari 3 dan 4 hari Total Jumlah Pasien Persentasi 12,56 71,88 8,46 7,10 (Sumber: Data sekunder, 2. Keterangan: P = Pulvis (Parasetamol/Ibuprofen. GG. CTM. Dexa. Efedrin. Vitamin C/ Vitamin B Co. T = Tablet S = Sirup. Berdasarkan tabel 8, dapat di ketahui ISPA minimal adalah 3 hari, kecuali bahwa lama pengobatan balita penderita diberikan dalam bentuk pulvis dan dan sirup lama pengobatannya 3 dan 4 hari. Hal ini pengobatan 3-5 hari. Biasanya petugas disesuaikan dengan pemberian pulvis 10 menanyakan kepada orangtua balita jika hingga 12 bungkus selama 3 hari dan sirup balita bisa menelan tablet di berikan dalam selama 4 hari. Bentuk sediaan yang paling bentuk tablet dengan dibagi menurut dosis banyak digunakan adalah tablet amoksisilin sekali minum misalnya satu tablet di bagi dan pulvis ISPA (Parasetamol/ Ibuprofen, menjadi setengah atau seperempat tablet. GG. CTM. Dexa. Efedrin. Vitami. sebanyak 263 pasien atau 71,88 % dengan lama Tabel 9. Pengelompokkan lama pengobatan balita penderita ISPA di Puskesmas Lama Pengobatan 3 hari 4 hari 5 hari Total Jumlah Pasien Persentasi 12,56 83,60 3,84 Berdasarkan tabel 9, dapat dilihat sebanyak 12 bungkus untuk setiap balita yang bahwa lama pengobatan balita penderita belum bisa menelan tablet dan sirup 60 mL ISPA terbanyak adalah sebanyak 4 hari selama 4 hari dilihat dari pemberian 3 kali dengan jumlah pasien sebanyak 306 dengan sehari 15 mL. Lama pengobatan ISPA persentase 83,60%. Hal ini di sebabkan minimal adalah 3 hari. Lama pengobatan 5 karena banyaknya pulvis yang diberikan hari adalah pemberian tablet Amoksisilin. Frekuensi Gambaran mengenai frekuensi yang diberikan kepada balita penderita ISPA di Puskesmas Rambangaru. Tabel 10. Frekuensi yang diberikan pada balita penderita ISPA. Bentuk Sediaan Tablet Pulvis Tablet Pulvis Sirup Tablet Tablet Total Frekuensi Jml Pasien Persentasi 3X1/2 3X1/4 12,59 46,44 8,46 16,39 16,12 (Sumber: Data Sekunder, 2. Berdasarkan tabel 10. Frekuensi pemberian tablet Kotrimoksazol 2 kali sehari yang diberikan adalah bentuk sediaan tablet 1 tablet, frekuensi 3x1 adalah pemberian sirup dan pulvis 3 kali sehari sebanyak 170 kasus Amoksisilin yakni 3 kali sehari 1 sendok teh atau 46,44%. Hal ini disebabkan oleh . mL), frekuensi 3x1/2 adalah pemberian banyaknya balita yang belum bisa menelan tablet amoksisilin dan parasetamol 3 kali tablet sehingga dibuatkan dalam bentuk sehari A tablet dan frekuensi 3x1/4 adalah pulvis ISPA (Parasetamol. GG. CTM. Vitami. sebanyak 12 bungkus dengan Amoksisilin paracetamol 3 kali sehari A tablet. frekuensi 3 kali sehari. Frekuensi 2x1 adalah . Dosis Dosis obat yang diberikan untuk balita penderita ISPA dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 11. Perbandingan dosis parasetamol dan Antibiotik yang di berikan Puskesmas Rambangaru dan yang sesuai standar MTBS Jenis obat Parasetamol Amoksisilin tablet Amoksisilin sirup Kotrimoksazol Jumlah Pasien Persentasi Sesuai standar MTBS 21,56 19,36 2,17 Persentasi Tidak sesuai MTBS 78,44 80,64 97,83 (Sumber: Data sekunder, 2. Berdasarkan tabel 11, dapat dilihat sehari, sedangkan di Puskesmas diberikan A pemberian dosis berdasarkan umur dan berat tablet setiap 8 jam sehari. Pada balita umur 6 badan yang tertera pada standar MTBS untuk bulan-<3 tahun dengan berat badan 7-<14 kg diberikan tablet dewasa 500 mg yakni A sebanyak 72 orang atau 21,56 % dan yang tablet setiap 6 jam sehari, sedangkan di tidak sesuai standar sebanyak 262 orang atau Puskesmas di berikan ada yang sesuai A 78,44 %. Hal ini disebabkan pada standar tablet dan ada yang tidak sesuai yakni A tablet pengobatan, balita umur 2 bulan-<6 bulan setiap 8 jam sehari. Pada balita umur 3-<5 dengan berat badan 4-<7 Kg diberikan tablet tahun dengan berat badan 14-<19 kg, dewasa 500 mg yakni 1/8 tablet setiap 6 jam pemberian sudah sesuai yakni pada standar Parasetamol diberikan tablet dewasa 500 mg yakni A tablet dan di puskesmas diberikan A tablet. Pemberian dosis Amoksisilin tablet yang sesuai standar MTBS sebanyak 0 atau 0 % sedangkan yang tidak sesuai standar sebanyak 263 orang atau 100 %. Pada Amoksisilin sirup, yang sesuai standar sebanyak 6 orang atau 19,36 % dan yang tidak sesuai standar sebanyak 25 orang atau 80,64 Hal ini dapat dilihat dari standar MTBS, balita umur 2-<4 bulan diberikan Amoksisilin Pemberian Kotrimoksazol yang sesuai standar sebanyak 1 orang atau 2,17 % sedangkan yang tidak sesuai standar sebanyak 45 orang atau 97,83 %. Dilihat dari dosis berdasarkan umur dan berat badan balita, yang sesuai standar 1 orang yakni balita umur 2->4 bulan yang diberikan Kotrimoksazol 120 mg sebanyak1 tablet setiap 12 jam. Sedangkan balita umur 4->5 tahun tidak sesuai karena yang diberikan lebih dari 1 tablet. tablet 500 mg yakni A tablet setiap 12 jam Hal tersebut diatas disebabkan sehari, sedangkan di Puskesmas diberikan A kurangnya pelatihan MTBS bagi tenaga tablet setiap 8 jam sehari. Balita umur 4->12 bulan diberikan A tablet setiap 12 jam sehari. Terpadu Balita Sakit (MTBS) menjadi dasar sedangkan di Puskesmas di berikan A tablet dalam penatalaksanaan Kasus Infeksi Saluran tiap 8 jam sehari. Balita umur 1-<3 tahun Pernapasan / Pneumonia untuk meningkatkan diberikan 2/3 tablet setiap 12 jam sehari sedangkan di Puskesmas diberikan A tablet sehari setiap 8 jam. Balita umur 3-<5 tahun cakupan program serta memberikan dampak diberikan A tablet setiap 12 jam sehari penurunan angka kesakitan dan kematian sedangkan di Puskesmas diberikan A tablet balita karena ISPA. Oleh karena itu, setiap 8 jam sehari. Untuk Amoksisilin sirup, diperlukan peningkatan ketrampilan petugas pada standar MTBS balita 2->4 bulan kesehatan dalam tatalaksana balita sakit. diberikan sesuai di Puskesmas yakni sirup amoksisilin 5 mL. Balita umur 4->12 bulan pada standar diberikan 10 mL sedangkan di Puskesmas. Managemen . Kesesuaian Managemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Managemen Terpadu Balita Sakit Puskesmas diberikan 5 mL. Balita umur 1->3 tahun diberikan 12,5 mL sedangkan di (MTBS) Puskesmas di berikan 5 mL. Balita umur 3-<5 kesehatan, tetapi suatu standar pelayanan dan tahun diberikan 15 mL sirup sedangkan di tatalaksana balita sakit secara terpadu di Puskesmas diberikan 5 mL. fasilitas kesehatan tingkat dasar. Tujuan MTBS yaitu balita . ->. tahun sebanyak 151 menurunkan tingkat kesakitan dan kematian kasus atau 41,25 %. Berdasarkan jenis pada balita (Anonim, 2010. kelamin, laki-laki sebanyak 185 orang Berdasarkan diketahui bahwa pemberian antibiotik dan Antipiretik di Puskesmas Rambangaru belum sesuai dengan standar Manajemen Terpadu Balita Sehat (MTBS), dilihat dari jenis obat MTBS Kotrimoksazol antibiotik pilihan pertama sedangkan di Puskesmas. Amoksisilin antibiotik pilihan pertama. Frekuensi sesuai standar adalah 2 kali sehari (Antibioti. dan 4 kali sehari (Parasetamo. dengan lama pengobatan 3 hari sedangkan pada Puskesmas 2 kali sehari (Kotrimoksazo. dan 3 kali sehari (Amoksisilin dan Parasetamo. dengan lama pengobatan 3 Ae 5 hari. Kesesuaian dosis juga belum tepat. Hal ini disebabkan kurangnya pelatihan bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Rambangaru. atau 50,54% dan perempuan sebanyak 181 orang atau 49,96%. Berdasarkan berat badan 10->16 Kg sebanyak 258 orang atau 70,5 %. Berdasarkan diagnosa. ISPA yang paling sering terjadi adalah ISPA Pneumonia sedang sebanyak 340 kasus atau 92,9 %. Data pengobatan berdasarkan Jenis obat yang digunakan pada ISPA bukan ISPA sebanyak 26 kasus atau 7,10 %, pada ISPA Pneumonia antibiotik Amoksisilin sebanyak 263 atau 71,88 %, jenis obat kombinasi yang paling banyak diberikan adalah 5 macam (Parasetamol. Amoksisilin. GG. CTM. Vitamin C) sebanyak 273 kasus Berdasarkan pengobatan paling banyak adalah 4 hari SIMPULAN Hasil sebanyak 306 kasus atau 83,60%. Profil Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Puskesmas Rambangaru Tahun bentuk sediaan yang paling banyak di berikan adalah pulvis ISPA dan tablet Amoksisilin sebanyak 263 kasus atau 71,88%, 2015 menunjukkan: adalah 3 kali sehari sebanyak 170 kasus Jumlah kunjungan ISPA selama tahun Puskesmas Rambangaru atau 46,44 %. Berdasarkan kesesuaian Managemen Terpadu sebanyak 4350 kasus. Berdasarkan Balita Sakit (MTBS) terhadap dosis, umur menununjukkan kasus terbanyak sebanyak 262 kasus atau 78,44% 97,83% parasetamol, 263 kasus atau 100% Kotrimoksazol tidak sesuai MTBS. Amoksisilin tablet, 25 kasus atau 80,64% Amoksisilin Tabel 12. Kesesuaian pemberian Antibiotik dan Antipiretik berdasarkan standar MTBS dan yang diberikan di Puskesmas Rambangaru. Nama Jenis Antibiotik MTBS Kotrimoksazol Amoksisilin Jenis Antipiretik Parasetamol Frekuensi 2 x sehari ( Kotrimoksazo. , 2 x sehari (Amoksisili. , 4x sehari (Parasetamo. Lama pengobatan 3 hari Dosis Kotrimoksazol tablet 120 mg Umur/ berat badan : 2->4 bulan/4-6 Kg : 1 tablet 4->12 bulan/6-10 Kg : 2 tablet 1-<3 tahun/10-<16 Kg : 2,5 tablet 3-<5 tahun/16-<19 Kg : 3 tablet Amoksisilin kaplet 500 mg Umur/ berat badan : 2->4 bulan/4-6 Kg : A tablet 4->12 bulan/6-10 Kg : A tablet 1-<3 tahun/10-<16 Kg : 2/3 tablet 3-<5 tahun/16-<19 Kg : A tablet Amoksisilin Sirup 125mg/5 mL Umur/ berat badan : 2->4 bulan/4-6 Kg : 5 mL 4->12 bulan/6-10 Kg : 10 mL 1-<3 tahun/10-<16 Kg : 12,5 mL 3-<5 tahun/16-<19 Kg : 15 mL Parasetamol 500 mg Umur/ berat badan: 2-<6 bulan: 1/8 tablet 6-<3 tahun: A tablet 3->5 tahun: A tablet (Sumber : Data sekunder, 2. Puskesmas Amoksisilin Kotrimoksazol Parasetamol 2 x sehari ( Kotrimoksazo. , 3 x sehari (Amoksisilin dan parasetamo. 3-5 hari Kotrimoksazol tablet 120 mg Umur/ berat badan : 2->4 bulan/4-6 Kg : 1 tablet 4->12 bulan/6-10 Kg : 1 tablet 1-<3 tahun/10-<16 Kg : 1 tablet 3-<5 tahun/16-<19 Kg : 1 tablet Amoksisilin kaplet 500 mg Umur/ berat badan : 2->4 bulan/4-6 Kg : A tablet 4->12 bulan/6-10 Kg : A tablet 1-<3 tahun/10-<16 Kg : A tablet 3-<5 tahun/16-<19 Kg : A tablet Amoksisilin Sirup 125mg/5 mL Umur/ berat badan : 2->4 bulan/4-6 Kg : 5 mL 4->12 bulan/6-10 Kg : 5 mL 1-<3 tahun/10-<16 Kg : 5 mL 3-<5 tahun/16-<19 Kg : 5 mL Parasetamol 500 mg Umur/ berat badan: 2-<6 bulan: A tablet 6-<3 tahun: A dan A tablet 3->5 tahun: A tablet REFERENCES