Peningkatan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Melalui Bimbingan Kelompok Teknik Role Playing Pada Peserta Didik PENINGKATAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL MELALUI BIMBINGAN KELOMPOK TEKNIK ROLE PLAYING PADA PESERTA DIDIK Renanta Endry Partiwi Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya E-mail: renanta. 21044@mhs. Retno Tri Hariastuti Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya E-mail: retnotri@unesa. Abstrak Komunikasi interpersonal adalah salah satu aspek penting dalam menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial untuk membangun hubungan. Tujuan dari kajian ilmiah ini adalah menguji peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal melalui bimbingan kelompok teknik role playing pada peserta didik di SMA Negeri 1 Driyorejo. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yakni kuantitatif model one group pre-test dan post-test design. Pengambilan subjek dalam penelitian ini atas rekomendasi guru BK sekolah dan atas persetujuan sekolah sebanyak tujuh orang peserta didik. Penelitian ini menggunakan instrumen pengumpulan data yaitu angket keterampilan komunikasi interpersonal yang teruji validitas dan Penelitian ini dilakukan sebanyak tujuh sesi pertemuan. Analisis data dari penelitian ini melalui uji Wilcoxon. Data yang telah dianalisis menunjukkan bahwa adanya peningkatan signifikan pada keterampilan komunikasi interpersonal pada peserta didik sesudah dilakukan perlakuan melalui bimbingan kelompok teknik role playing. Dengan demikian, dapat diperoleh simpulan bahwa bimbingan kelompok teknik role playing efektif dalam peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal pada peserta didik di SMA Negeri 1 Driyorejo. Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal. Bimbingan Kelompok. Teknik Role Playing. Abstract Interpersonal communication is one of the important aspects in living life as a social being to build The purpose of this scientific study is to examine the improvement of interpersonal communication skills through group guidance on role playing techniques for students at SMA Negeri 1 Driyorejo. The approach used in this research is quantitative model one group pre-test and post-test Taking subjects in this study on the recommendation of the school counseling teacher and with the approval of the school as many as seven students. This study uses data collection instruments, namely a questionnaire of interpersonal communication skills that have been tested for validity and reliability. This study was conducted in seven meeting sessions. Data analysis of this study through the Wilcoxon test. The data that has been analyzed shows that there is a significant increase in interpersonal communication skills in students after treatment through group guidance role playing techniques. Thus, it can be concluded that group guidance on role playing techniques is effective in improving interpersonal communication skills in students at SMA Negeri 1 Driyorejo. Keywords: Interpersonal Communication. Group Guidance. Role Playing Technique. , komunikasi interpersonal yaitu aktivitas secara langsung yang melibatkan dua orang atau kelompok, dan seringkali melibatkan pertukaran pesan pribadi serta terdapat umpan balik. Remaja yang menguasai keterampilan komunikasi interpersonal yang efektif, mereka cenderung berhasil ketika membangun suatu hubungan sehat, mengekspresikan diri dengan percaya diri, mampu menyelesaikan konflik secara positif, dan baik dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial (America Psychological Association, 2. Begitu juga PENDAHULUAN Masa remaja merupakan masa perkembangan pembentukan relasi sosial, dan persiapan menuju masa Masa ini individu akan menjalin komunikasi sebagai makhluk sosial yang senantiasa bergantung pada individu lainnya untuk bertahan hidup. Komunikasi menurut Gandasari dkk. adalah suatu proses yang terbentuk sebab adanya kegiatan atau rangkaian tingkah laku yang dapat mengalami perubahan. Menurut DeVito Peningkatan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Melalui Bimbingan Kelompok Teknik Role Playing Pada Peserta Didik interpersonal akan berdampak kurang baik pada beragam segi eksistensi remaja, mencakup prestasi, kewarasan mental, dan hubungan timbal balik. Akibatnya, mereka kurang dapat berinisiatif untuk berinteraksi, kesulitas menyampaikan pendapat dalam diskusi, dan menghadapi hambatan ketika memulai ataupun mengakhiri percakapan (Ali dan Asrori, 2. Teori komunikasi interpersonal menurut DeVito juga memberikan wawasan mendalam mengenai bagaimana individu berinteraksi. Menurut teori ini, menegaskan bahwa aspek-aspek seperti keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan memiliki peran penting dalam proses komunikasi interpersonal yang baik (DeVito, 2. Aspek-aspek tersebut mencakup keterampilan untuk berbagi dan memahami perasaan, mempunyai sudut pandang positif, serta berinteraksi mengutamakan kesetaraan, dapat memengaruhi kualitas hubungan dan pemahaman timbal balik antarindividu. Proses komunikasi dapat berlangsung menggunakan beragam upaya, baik secara lisan ataupun tidak dalam penggunaan bahasa, yang masing-masing dapat mencerminkan perbedaan karakter setiap individu yang terlibat (Henri dan Putri, 2. Komunikasi interpersonal memegang peranan esensial guna membantu individu dengan hidup kesehariannya, sebab dengan adanya komunikasi interpersonal ini, individu dapat menyampaikan pandangan, emosi, dan kebutuhan dengan orang lain (Anggraini dkk. Akan tetapi, gambaran umum terkait kondisi keterampilan komunikasi interpersonal pada anak remaja di Indonesia masih menunjukkan tantangan yang mengindikasikan adanya variasi dalam kategori keterampilan komunikasi interpersonal pada peserta didik. Hal ini konsisten dengan temuan Adison dan Suryadi . di SMA Negeri 2 Koto XI Tarusan, ditemukan bahwa keterampilan komunikasi interpersonal peserta didik masih tergolong kurang baik. Sebelum dilakukan bimbingan kelompok dengan persentase 70% dari 10 peserta didik berada pada kategorisasi komunikasi interpersonal kurang baik, 20% kategorisasi cukup baik, dan 10% kategorisasi sangat kurang baik. Selaras pada temuan AD dan Winarsih . menyatakan bahwa terdapat sebagian besar peserta didik dengan tingkat keterampilan komunikasi interpersonal dalam kategorisasi Kondisi ini menunjukkan bahwasannya sejumlah besar peserta didik yang mengindikasikan adanya kebutuhan untuk perbaikan. Permasalahan seperti menyela orang lain, bicara ragu-ragu, menggunakan bahasa yang tidak jelas atau membingungkan, rendahnya keinginan untuk mengakui kesalahannya dan cenderung menunjuk jari orang, kurang bersahabat, dan membantah memperdebatkan instruksi yang ditemukan pada remaja Indonesia. Kondisi ini diperparah dengan dinamika lingkungan sosial yang kurang mendukung praktik komunikasi interpersonal yang efektif, serta perubahan pola interaksi di era digital yang terkadang membatasi interaksi tatap muka yang berkualitas (Jati, 2. Dampaknya, sejumlah besar peserta didik kesulitan untuk mengartikulasikan pendapat, membangun hubungan yang positif, atau bahkan mengelola konflik secara konstruktif, yang pada akhirnya dapat menghambat penyesuaian diri dan pencapaian potensi akademis mereka. Penelitian ini dilakukan atas urgensi identifikasi kebutuhan bimbingan dan konseling peserta didik untuk mengoptimalkan perkembangan potensi mereka di Oleh sebab itu, dibutuhkan pendekatan sistematis dan terarah dalam menentukan subjek penelitian. Dalam hal ini, penggunaan catatan personal yang dilakukan oleh guru BK sekolah guna mengidentifikasi permasalahan yang paling menonjol. Selanjutnya, untuk memastikan relevansi dan penerimaan intervensi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu atas rekomendasi guru BK sekolah dan persetujuan sekolah akan menjadi pertimbangan utama dengan harapan dapat menghasilkan data yang valid dan relevan untuk pengembangan potensi peserta didik. Data tersebut dikumpulkan oleh peneliti di SMA Negeri 1 Driyorejo terdapat lima peserta didik kelas XI-5 dan XI-11 menunjukkan keterampilan kategori sedang . %) dan dua peserta didik lainnya menunjukkan kategori tinggi . %). Hal tersebut juga mengindikasikan interpersonal masih menjadi tantangan bagi peserta didik. Pengamatan menunjukkan bahwasannya peserta didik menunjukkan pola tertentu mengenai keterampilan komunikasi interpersonal mereka diantaranya yaitu peserta didik cenderung kurang terbuka sehingga merasa malu ketika berpendapat ketika berdiskusi di kelas, mengabaikan pendapat teman sebaya, tidak mau bertanya kepada guru padahal masih ada yang kurang dipahami terkait pelajaran, sikap yang cenderung pesimis atau kurang antusias ketika berdiskusi, dan suka pilih-pilih ketika berteman. Tantangan yang peserta didik dihadapi tentang keterampilan komunikasi interpersonal, yaitu cenderung pasif ketika berinteraksi secara kelompok, kesulitan menyampaikan ide atau pendapat secara jelas, dan kurang mampu dalam mendengarkan secara efektif (Adison dan Suryadi, 2. Hal itu terjadi karena adanya rasa canggung atau kurang percaya diri ketika harus melakukan komunikasi, baik di depan umum atau dengan orang yang baru dikenal. Kondisi ini sejalan dengan penelitian Safitri dan Moesarofah . menjelaskan bahwa peserta didik seringkali menunjukkan hambatan dalam berempati dan memahami sudut pandang individu Selain itu, penelitian Wicaksono dan Naqiyah . alam Rahayu dan Naqiyah, 2. juga menyatakan bahwa Peningkatan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Melalui Bimbingan Kelompok Teknik Role Playing Pada Peserta Didik kurangnya keterampilan komunikasi interpersonal dapat menimbulkan salah paham dan perselisihan antar individu karena mereka kurang mampu dalam mengungkapkan perasaan dan menyelesaikan masalah secara positif. Permasalahan interpersonal peserta didik dapat menimbulkan dampak terhadap kualitas interaksi sosial peserta didik. Selaras dengan Wariyanti dkk. mengungkapkan bahwasannya rendahnya keterampilan komunikasi interpersonal dapat memberikan pengaruh terhadap beragam aspek kehidupan, seperti kesulitan dalam membangun hubungan yang positif, kemampuan beradaptasi yang rendah, hingga berdampak pada kinerja akademik dan kesejahteraan psikologis. Oleh sebab itu, dikembangkan guna mendukung peserta didik meraih target sosial dan akademik secara optimal dan memiliki pengaturan hubungan sehat. Keterampilan komunikasi interpersonal dapat memberikan pengaruh dalam hasil belajar, karena peserta didik yang memiliki keterampilan ini akan lebih mampu melakukan diskusi, kolaborasi, dan memahami materi pelajaran melalui interaksi bersama teman sebaya dan guru. Sejalan dengan penelitian (Ariyani dan Hadiani, 2020. Zulfa dan Hariastuti, 2. interpersonal memiliki dampak yang relevan dan positif pada capaian akademik dan kehidupan sosial peserta Oleh sebab itu, perlu berupaya secara sistematis Peserta didik dengan kategori keterampilan komunikasi yang telah terdeteksi menunjukkan masih perlu untuk dikembangkan demi meningkatkan interaksi dengan pihak lain. Ketika mengasah keterampilan komunikasi interpersonal pada peserta didik tersebut diperlukan pendekatan khusus sehingga mampu mencapai meningkatkan capaian belajar dan interaksi sosial peserta didik secara optimal. Pada bidang bimbingan dan konseling (BK), ada layanan dasar sebagai sarana untuk memenuhi fungsi pemahaman dan fungsi pencegahan. Satu diantara layanan dasar BK guna mendukung peserta didik dalam peningkatan keterampilan komunikasi interpersonalnya dapat diberikan menggunakan layanan bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok yakni jenis dukungan yang ditawarkan pada individu melalui lingkungan, proses, dan aktivitas kelompok (Hartanti. Bimbingan kelompok memiliki fokus pada fungsi pencegahan dan fungsi pemahaman dapat menjadi solusi untuk menangani permasalahan dalam pengaturan secara kelompok (Leonardo dan Christiana, 2. Menurut Warsongko dkk. bimbingan kelompok adalah salah satu layanan unggulan dalam mendukung perkembangan individu, terutama dalam aspek sosial, karier, dan peningkatan kesadaran diri yang dimana dalam pelaksanaannya membutuhkan inovasi pada metode, teknik, atau media. Selaras dengan penelitian Tobing & Annisa . mengungkapkan bahwasannya bimbingan kelompok mampu menjadi solusi guna menunjang peserta didik dalam peningkatan keterampilan komunikasi Oleh karena itu, dengan harapan peserta didik menghadiri pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok dengan serius dan menekuni setiap pertemuan kegiatan, sekaligus mampu menyesuaikan dirinya dengan situasi yang cenderung berubah-ubah selama pelaksanaan supaya memperoleh wawasan, pengetahuan, dan pengalaman untuk memecahkan permasalahan. Adapun layanan BK yang dirasa cocok untuk ditawarkan pada peserta didik SMA Negeri 1 Driyorejo guna menangani permasalahan keterampilan komunikasi interpersonal yaitu dengan teknik role playing . ermain Bimbingan kelompok role playing . ermain pera. ini memungkinkan dapat membantu peserta didik untuk mensimulasikan peran dalam praktiknya, agar peserta didik mampu mengasah dan meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal mereka secara langsung terkait permasalahan sosial ataupun aktivitas tertentu (Lestari, 2. Sejalan dengan penelitian Hidayat dan Widiado . role playing yaitu satu diantara metode bimbingan kelompok dengan memainkan peran sendiri atau orang lain guna meraih target layanan. Hal tersebut karena teknik role playing memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan metode lainnya seperti yang dinyatakan dalam penelitian Roestiyah . alam Azizah, 2. yakni: . melatih peserta didik memiliki ketertarikan pada persoalan sosial yang disimulasikan relevan di kehidupan keseharian. melatih peserta didik memiliki pemahaman dengan terlibat langsung dalam memerankan peran. melatih peserta didik mengembangkan keterampilan dalam empati, toleransi, dan tenggang rasa, pendapat dengan merasakan dan paham dengan sudut pandang individu lain. melatih peserta didik mendorong diskusi aktif dengan menghayati dan merasakan langsung permasalahan. melatih jadi pengamat bagi yang tidak melakukan adegan peran, namun tetap memperhatikan dan mengusulkan masukan dan tanggapan yang mendukung. Melalui role playing peserta didik diikutsertakan latihan dan mempraktikkan cara menghadapi sekaligus memecahkan permasalahan yang peserta didik alami, sehingga mereka memiliki keterampilan komunikasi interpersonal yang lebih baik ketika berinteraksi. AuRole PlayingAy didasarkan pada simulasi interaksi sosial, eksplorasi peran, dan pemecahan permasalahan komunikasi. Dengan metode layanan tersebut memungkinkan peserta didik untuk peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal, membangun Peningkatan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Melalui Bimbingan Kelompok Teknik Role Playing Pada Peserta Didik kolaborasi, dan peningkatan kepercayaan diri akan potensi diri dalam mengahadapi kehidupan sosial. Dari penjelasan diatas, dapat diperoleh kesimpulan bahwasannya bimbingan kelompok teknik role playing telah dipraktikkan beberapa temuan berhasil membuktikkan dampak positif dalam peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal peserta didik, sehingga bimbingan kelompok teknik role playing bisa diterapkan guna upaya peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal peserta didik. Maka hasil uraian tersebut, peneliti tertarik mengkaji lebih lanjut tentang AuPeningkatan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Melalui Bimbingan Kelompok Teknik Role Playing Pada Peserta DidikAy. Diharapkan keterampilan komunikasi interpersonal peserta didik SMA Negeri 1 Driyorejo mengalami perubahan dan peningkatan secara optimal dan positif setelah mengikuti aktivitas bimbingan kelompok teknik role playing. respons diantaranya. Selalu (SL). Sering (SR). Jarang (JR), dan Tidak Pernah (TP) dengan menghilangkan pilihan respons Auragu-raguAy. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir responden yang tidak yakin dengan respons yang mereka pilih. Oleh karena itu, penghilangan alternatif jawaban Auragu-raguAy supaya responden hanya akan memberikan jawaban yang benar-benar responden Dalam penelitian ini, untuk menguji validitas angket menggunakan metode Pearson Product Moment melalui bantuan SPSS 26 untuk menghitung setiap butir item pernyataan. Hasil uji validitas menjadi bukti ada tiga . item pernyataan yang dinyatakan tidak valid dan ketiga item tersebut bersifat unfavourable, yaitu pada indikator empati dengan nomor item pernyataan 22 dan nomor item pernyataan 26, serta indikator sikap positif dengan nomor item pernyataan 47. Item pernyataan yang dinyatakan tidak valid tidak akan dimasukkan dalam Sementara itu, hasil perhitungan total seluruh item pernyataan yang dinyatakan valid ada enam puluh tiga . item pernyataan, dengan rincian 56 item pernyataan bersifat favourable dan 7 item pernyataan bersifat Dengan demikian, total 63 item pernyataan tersebut yang akan digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil perhitungan uji reliabilitas, memuat jumlah butir atau item pernyataan dalam instrumen ini yaitu 63 item pernyatan dan nilai CronbachAos Alpha sekitar 0 hingga 1 ( > 0,. Jika > 0,60, maka diperoleh hasil sebesar 0,943 sehingga dinyatakan reliabel karena memenuhi kriteria. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa reliabilitas instrumen sangat tinggi. METODE Pendekatan temuan ini menggunakan pendekatan kuantitatif desain pra eksperimental. Temuan pra eksperimental merupakan penelitian yang kurang kuat karena kontrol terhadap variabel luarnya masih lemah, sehingga sulit untuk memastikan perubahan yang terjadi murni karena perlakuan yang diberikan (Sugiyono, 2. Model penelitian ini yakni one group pre-test dan posttest design. Tempat pelaksanaan penelitian ini di SMA Negeri 1 Driyorejo. Pemilihan subjek penelitian dilakukan atas pertimbangan dan rekomendasi guru BK serta telah disetujui oleh pihak sekolah yaitu kelas XI-5 dan XI-11 SMA Negeri 1 Driyorejo. Maka akan diambil tujuh subjek penelitian, yakni lima perempuan dan dua laki-laki yang dilakukan selama tujuh sesi pertemuan dengan kriteria tingkat keterampilan komunikasi interpersonal kategori sedang dan tinggi. Kemudian untuk dapat mengukur karakteristik suatu variabel dalam penelitian dibutuhkan alat ukur atau biasa disebut sebagai instrumen. Instrumen penelitian yakni alat ukur untuk mengukur fenomena atau sosial yang diamati dalam penelitian (Sugiyono, 2. Dalam hal ini, peneliti memodifikasi rancangan instrumen yang telah dilakukan oleh Khalila . dengan menyeysuaikan karakteristik peserta didik SMA. Angket keterampilan komunikasi interpersonal menjadi instrumen dalam pengumpulan data penelitian ini, yang berjumlah 63 item pernytaan yang disajikan dalam bentuk google formulir. Bentuk angketnya yaitu angket tertutup, dimana pernyataan yang dirancang seperti angket pilihan ganda, sehingga responden cukup memilih pilihan sesuai dengan Instrumen penelitian ini bentuknya skala likert untuk jawabannya. Penelitian ini tersedia 4 pilihan Tabel 1. Hasil Uji Reliabilitas CronbachAos Alpha N of Items Analisis data yang digunakan peneliti yakni uji parametrik Wilcoxon Signed Rank Test untuk menguji hipotesis, dengan proses perhitungannya dibantu oleh perangkat SPSS versi 26. Dengan pengujian ini. Ha akan diterima jika nilai Asymp. Sig O 0,05. Sebaliknya Ha akan ditolak jika nilai Asymp. Sig Ou 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini dilakukan terhadap tujuh subjek peserta didik kelas XI-5 dan XI-11 SMA Negeri 1 Driyorejo tahun pelajaran 2024/2025. Subjek ini terdiri dari lima perempuan dan dua laki-laki dengan tingkat keterampilan komunikasi interpersonal kategori sedang dan tinggi. Dari hasil pengolahan data dapat dikategorisasikan menjadi tiga kategori yakni berikut ini: Peningkatan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Melalui Bimbingan Kelompok Teknik Role Playing Pada Peserta Didik Kategori Rendah = X O (Mean Ae 1 SD) = 63 O . - . = 63 O 149 Kategori rendah, adalah skor 63 sampai dengan . Kategori Sedang = (Mean Ae 1 SD) O X < (Mean 1 SD) = . Ae . O X < 179 . = . O X < . Kategori sedang, adalah skor 149 sampai dengan . Kategori Tinggi = (M 1SD) O X = . O 252 = 209 O 252 Kategori tinggi, adalah skor 209 sampai dengan Setelah kemudian akan menguji hipotesis. Tujuannya untuk menemukan perbedaan antara skor pre-test dan post-test berkat bimbingan kelompok teknik role playing. Uji Wilcoxon dipilih karena untuk melihat pertimbangan dari data yang digunakan berpasangan atau saling berhubungan dan data berbentuk ordinal. Proses analisis data uji Wilcoxon melalui bantuan perangkat SPSS 26. Berdasarkan hasil tabel test statistics diperoleh hasil nilai signifikansi sebesar 0,018. Kriteria dasar terhadap pengambilan keputusan pada uji Wilcoxon bahwasannya nilai tersebut O 0,05 menyatakan Ha diterima. Hasil tersebut menyimpulkan bahwasannya penggunaan teknik role playing dalam bimbingan kelompok dapat menunjukkan berhasil meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal pada peserta didik. Buktinya adalah adanya perbedaan skor komunikasi interpersonal yang terukur sebelum dan sesudah perlakuan. Berikut adalah hasil uji Wilcoxon dalam penelitian ini: Berdasarkan pengkategorian hasil olah data di atas maka diperoleh lima subjek dengan kategori sedang dan dua subjek kategori tinggi. Tujuh subjek penelitian ini dengan inisial nama peserta didik yaitu AFS. AZN. NAR. EMF. MAHH. NL, dan YMNI. Setelah memperoleh hasil pre-test, tujuh subjek penelitian tersebut menerima treatment menggunakan bimbingan kelompok teknik role Perlakuan ini memiliki tujuan yaitu untuk peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal. Perlakuan akan dilakukan selama total tujuh sesi pertemuan dan pada setiap pertemuan akan membahas tentang pentingnya, aspek-aspek, dan penerapan Sesudah diterapkan tujuh sesi pertemuan bimbingan kelompok teknik role playing, tujuh subjek tersebut akan mengisi post-test untuk melihat perbandingan hasil yang terjadi berkat bimbingan kelompok teknik role playing. Berikut merupakan tabel perbandingan pre-test dan post-test: Tabel 3. Hasil Uji Wilcoxon Test Statistics Asymp. Sig. -taile. Pembahasan Peneliti melaksanakan penelitian ini di SMA Negeri 1 Driyorejo menggunakan pendekatan kuantitatif medel one group pre-test post-test design dengan tujuan untuk peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal peserta didik. Pelaksanaan temuan ini diawali dengan menyebarkan pre-test yakni angket keterampilan komunikasi interpersonal yang terdiri 63 pernyataan. Nilai mean pre-test kelompok perlakuan yakni 179,1. Nilai mean pre-test kelompok treatment menunjukkan keterampilan awal peserta didik mengenai komunikasi Menurut analisis data menunjukkan bahwa terdapat perubahan hasil skor angket komunikasi interpersonal sesudah mendapatkan treatment berupa bimbingan kelompok teknik role playing sebanyak tujuh sesi pertemuan yang dilakukan dalam waktu kurang lebih 30 sampai 45 menit di setiap pertemuan. Peneliti memberikan treatment berupa bimbingan kelompok teknik role playing pada peserta didik yang dilakukan di kelompok perlakuan berjumlah tujuh peserta didik kelas XI-5 dan XI-11 SMA Negeri 1 Driyorejo sebagai subjek penelitian atas rekomendasi guru BK sekolah dan disetujui oleh pihak sekolah. Dari hasil skor pre-test, lima memperoleh kategori sedang dan dua peserta didik kategori tinggi. Tujuh subjek penelitian ini dengan inisial nama peserta didik yaitu AFS. AZN. NAR. EMF. MAHH. NL, dan YMNI. Tabel 2. Hasil Perbandingan Pre-Test dan Post-Test Nama Skor Kategori AFS AZN NAR EMF MAHH YMNI Ratarata Sedang Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Tinggi Sedang PostTest Kategori Sedang Sedang Tinggi Sedang Sedang Tinggi Tinggi Sedang 0,018 Peningkatan Skor Peningkatan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Melalui Bimbingan Kelompok Teknik Role Playing Pada Peserta Didik Penggunaan bimbingan kelompok teknik role komunikasi interpersonal pada peserta didik. Peserta didik sangat semangat ketika melaksanakan bimbingan kelompok ini, terbukti pada sesi role playing berlangsung, mengungkapkan pendapat, dan mampu berkomunikasi dengan teman sebaya secara lebih efektif. Penerapan role playing, peserta didik hendaknya meningkatkan mendengarkan dengan seksama, berbicara dengan jelas, serta memahami dan merespon perasaan orang lain. Hal tersebut membantu peserta didik untuk optimis dan bisa berkomunikasi secara aktif dalam berbagai situasi. Dukungan terhadap efektivitas ini didukung oleh Prameswari dkk. mengatakan bahwasannya solusi sebagai peningkatan komunikasi interpersonal anak yakni melalui teknik role playing dibuktikan dengan perolehan nilai signifanksi yaitu 0,000, menunjukkan anak-anak mulai berani mengambil inisiatif melakukan interaksi tanpa merasa malu dan takut. Setelah kelompok perlakuan melakukan treatment bimbingan kelompok teknik role playing. Group treatment dilaksanakan pengukuran keterampilan komunikasi interpersonal melalui post-test, serta memperoleh nilai mean post-test yang lebih tinggi dibandingkan sebelum diberikan layanan yaitu 207,8. Peningkatan skor ini dicatat bukan hanya dari mean skor yang telah diperoleh, melainkan pula terlihat dari perubahan poin setiap subjek penelitian. Tahap selanjutnya, uji normalitas dilakukan pada data pre-test post-test, namun karena data berdistribusi tidak normal, uji Wilcoxon dipilih sebagai metode alternatif yang dibantu oleh perangkat SPSS 26. Uji Wilcoxon dilakukan untuk menganalisis perbedaan ratarata sebelum dan sesudah diberikan perlakuan layanan bimbingan kelompok teknik role playing dalam peningkatan keterampilan komuikasi interpersonal pada peserta didik. Uji Wilcoxon didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,018 yang menunjukkan O 0,05, sehingga menunjukkan bahwasannya Ha akan diterima berkat Diperoleh kesimpulan bahwasannya penerapan bimbingan kelompok teknik role playing pada peserta didik menunjukkan peningkatan keterampilan komunikasi Selaras pada temuan Safitri dan Moesarofah . mengatakan bahwasannya peserta didik SMA interpersonalnya dengan bimbingan kelompok teknik role Bimbingan kelompok teknik role playing menunjukkan peningkatan tujuh subjek penelitian dan terdapat indikator keterbukaan terhadap aspek-aspek keterampilan komunikasi interpersonal yang dilakukan dengan deskriptor tingkat keterampilan komunikasi interpersonal peserta. didik dalam memulai hubungan baru dengan orang lain, menunjukkan keterbukaan dalam hubungan dengan orang lain, dan menunjukkan kepercayaan kepada orang lain untuk berbagi perasaan. Peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal tersebut dibuktikan dari usaha peserta didik lebih responsif dalam kegiatan bimbingan kelompok untuk memahami materi dan karakter bermain peran yang Selaras temuan Izza dkk. menyatakan bahwa dengan role playing membuat peserta didik aktif dalam memerankan karakter yang diberikan. Perubahan skor dari pre-test post-test peserta didik yang mengikuti bimbingan kelompok teknik role playing dipengaruhi oleh banyak faktor, khususnya pada indikator keterbukaan pernyataan ini diperoleh dukungan dari penelitian Maghfira dkk. menunjukkan terdapat salah satu aspek krusial yang diamati yaitu peningkatan kemampuan siswa untuk berani dan nyaman ketika berbagi diri, sehingga sesuai dengan konsep teori DeVito tentang bagaimana individu akan bertahap membangun kepercayaan dan mengungkapkan diri dalam sebuah hubungan yang saling timbal balik. Individu yang berhasil membangun kepercayaan dan mengalami pengungkapan diri yang lebih positif akan menunjukkan keterbukaan lebih dalam dibandingkan dengan individu yang meragukan diri ketika menjalin hubungan. Data post-test menunjukkan kenaikan paling banyak mengkategoriannya sebagai kategori sedang adalah AFS dengan perolehan pre-test sebesar 155 dan post-test sebesar 204. Dari hasil pre-test dan post-test AFS, dibuktikan adanya peningkatan terbanyak pada indikator komunikasi interpersonal, yaitu indikator empati sebanyak 19 poin, sikap mendukung sebanyak 9 poin, serta sikap positif dan kesetaraan sebanyak 8 poin. Hal tersebut dipengaruhi bagaimana AFS secara aktif berpartisipasi dan merespon umpan balik seiring berjalannya waktu, dalam tiap sesi bimbingan kelompok. Melalui partisipasi dalam diskusi dan bermain peran. AFS mampu lebih peka terhadap perasaan dan pendapat orang lain, menunjukkan penerimaan dan dukungan, serta memandang orang lain secara setara dan berharga. Dengan demikian, keterampilan AFS semakin meningkat dan menunjukkan komunikasi interpersonal secara lebih efektif terbukti bagaimana ia semakin mampu memahami aspek-aspek interpersonal (DeVito, 2. Kemudian terdapat individu AZN mengalami peningkatan yang masuk kategori sedang dengan indikator paling meningkat adalah kesetaraan sebanyak 15 poin, sikap mendukung sebanyak 10 poin, serta keterbukaan dan sikap positif sebanyak 7 poin. Pada awal pertemuan AZN menunjukkan pribadi yang pendiam dan Peningkatan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Melalui Bimbingan Kelompok Teknik Role Playing Pada Peserta Didik sangat canggung ketika diajak interaksi dalam suasana Seiring berjalannya waktu. AZN menunjukkan perubahan sikap dan perilaku, ia terlihat cukup cair dan tanggap dengan suasana kelompok dalam tiap sesi bimbingan kelompok. Hal tersebut menunjukkan bahwa AZN telah mampu membangun hubungan lebih seimbang, merasa dihargai, dan kesediaan berbagi pendapat dan perasaan secara jujur, dimana sikap dan perilaku tersebut merupakan kunci dalam komunikasi interpersonal (DeVito, 2. Selain itu, individu NAR masuk pada kategori tinggi menunjukkan kenaikan 16 poin dari skor pre-test 217 menjadi 233 dengan indikator paling meningkat yakni keterbukaan, sikap. positif, dan. NAR memiliki peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal. Sebagaimana temuan dikemukakan oleh Altman dan Taylor . alam Septiani dkk. , 2. bahwasannya keterbukaan diri secara bertahap adalah fondasi untuk mencapai hubungan yang lebih dekat. Pada pertemuan pertama NAR terlihat antusiasme yang lebih dari yang Subjek NAR terlihat cukup tanggap dengan gaya bicara yang khas, namun masih kurang percaya diri ketika Meski demikian, pada sesi kedua hingga tujuh NAR mampu menunjukkan bagaimana menciptakan suasana komunikasi yang menyenangkan, mendukung, dan optimis tanpa memandang perbedaan. Subjek NAR telah mengembangkan pemahaman yang mendalam terkait dinamika komunikasi interpersonal dan mampu mengaplikasikan untuk menjali interkasi yang lebih Disisi lain terdapat EMF menunjukkan kenaikan skor pre-test 160 menjadi 185 kategori sedang dengan indikator paling meningkat adalah keterbukaan, sikap mendukung, dan sikap positif. Pada pertemuan pertama EMF menunjukkan sikap yang masih malu-malu dengan nada bicara yang halus ketika mengungkapkan pendapat dalam kelompok. Pada pertemuan kedua. EMF terlihat masih kurang terbuka dan kurang berani ketika melakukan komunikasi dalam kelompok, sehingga ia membutuhkan adaptasi yang cukup lama. Meski demikian, pada pertemuan ketiga hingga tujuh EMF mampu menciptakan suasana komunikasi kelompok yang lebih terbuka dan Sebuah studi oleh James dkk. alam Arifah, 2. , menyatakan bahwa peningkatan kepercayaan diri melalui intervensi psikologis dapat mengurangi kecemasan komunikasi pada remaja, yang relevan dengan kesediaan EMF untuk menjadi lebih terbuka, meskipun pada awalnya malu-malu, menunjukkan adanya kemajuan dalam mengurangi hambatan diri yang seringkali menghalangi komunikasi yang efektif dan masih perlu dorongan dari peneliti serta mulai berlatih berbicara lebih jelas dan tegas ketika melakukan komunikasi. Lalu terdapat MAHH menunjukkan kenaikan 39 poin, dari skor pre-test 156 menjadi 195 poin masuk pada kategori sedang, dengan indikator yang paling meningkat adalah empati, kesetaraan, dan sikap mendukung. Pada pertemuan pertama MAHH menunjukkan pribadi yang kalem dan irit bicara ketika diajak interaksi oleh peneliti. Seiring berjalannya waktu. MAHH menunjukkan perubahan sikap dan perilaku terhadap peneliti, ia terlihat lebih banyak bicara dan terlihat memperhatikan. Pada pertemuan kedua hingga ketujuh, ketika berdiskusi MAHH selalu menjawab dengan baik dan lebih panjang dari sebelumnya. Keadaan ini menunjukkan bahwasannya MAHH telah mengalami peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal. Selain itu. MAHH mampu lebih terbuka dan berpartisipasi aktif. Sikap MAHH interpersonal ini sejalan dengan penelitian Ningsih dkk. tentang keterlibatan aktif dan respon positif dalam proses komunikasi, maka individu akan merasa yakin terhadap keterampilannya untuk berhasil dalam suatu kegiatan komunikasi akan memengaruhi seberapa besar ia berproses dan berani dalam melakukan interaksi dengan orang lain. Selain itu. NL menunjukkan kenaikan skor pretest 196 menjadi 217 poin masuk pada kategori tiinggi. Indikator yang paling banyak meningkat adalah keterbukaan, kesetaraan, dan sikap positif. Pada pelaksanaan pertemuan pertama bimbingan kelompok NL terlihat kurang percaya diri dan mengalami ketegangan apabila melakukan interaksi dengan peneliti. Namun, ketika mengenal lebih dekat. NL mampu menghilangkan rasa tegangnya dan menjadi individu yang ekspresif. Seiring berjalannya waktu. NL mampu menghilangkan rasa tegang dan mulai percaya diri. Pada pertemuan kedua hingga tujuh. NL lebih percaya diri berkontribusi mengutarakan pendapatnya. Ia mampu memahami materi dan mengatasi tantangan yang diberikan dengan baik. Keterampilan yang ditunjukkan NL tersebut sesuai dengan tujuan bimbingan kelompok teknik role playing. Seperti yang diungkapkan oleh Lailiyah dkk. bahwa tujuan dari role playing tidak hanya menyampaikan hanya menyampaikan pengetahuan komunikasi kepada peserta didik, selain itu juga memahami mengembangkan kemampuan pemecahan keterampilan sosial, sehingga lebih nyaman ketika berbicara dengan orang lain. Kemudian terdapat YMNI menunjukan kenaikan skor pre-test 217 menjadi 229 poin masuk kategori tinggi, dengan indikator yang paling meningkat yaitu kesetaraan, keterbukaan, dan sikap mendukung. Pada pertemuan pertama YMNI menunjukkan antusias dan rasa penasaran yang tinggi. ia mampu membangun interaksi yang baik Peningkatan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Melalui Bimbingan Kelompok Teknik Role Playing Pada Peserta Didik dengan peneliti dan anggota kelompok. YMNI merupakan pribadi yang aktif dan sering merespon dengan gaya bicara yang khas, serta berani dalam menyampaikan Kemudian pada pertemuan kedua hingga tujuh. YMNI mampu terlibat aktif, baik dalam berdiskusi kelompok dan memerankan peran dengan gaya improvisasi yang telah ditentukan oleh peneliti. Kondisi ini menunjukkan bahwasannya YMNI mampu mengatasi tantangan yang ia alami selama kegiatan. Keaktifan dalam berkomunikasi tersebut dapat dipengaruhi oleh YMNI, sebagaimana diungkapkan oleh Windiyani dan Lestari . bahwasannya komunikasi interpersonal terbukti memiliki kaitan erat dengan keaktifan, sehingga individu dapat memfasilitasi interaksi yang lebih efektif. Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan selama tujuh sesi pertemuan ini membuktikan bahwa bimbingan kelompok teknik role playing mampu meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal peserta didik. Dalam pelaksanaannya menggunakan topik naskah role playing akan beda-beda pada tiap kali sesi menunjukkan ketujuh subjek penelitian mengalami perbedaan kenaikan skor pre-test dan post-test. Selaras dengan temuan Rahayu dan Naqiyah . , mengatakan bahwa permasalahan komunikasi interpersonal peserta didik segala jenjang dapat ditangani melalui teknik role playing mampu membuktikan hasil positif meningkat sesudah diberikan Saran Adanya temuan penelitian ini, peneliti ingin memberi masukan saran guna pengembangan di kemudian hari. Bagi Peserta didik Peserta didik hendaknya aktif dan optimal dalam menjalankan bimbingan kelompok teknik role playing supaya terus berkembang dan meningkat melalui latihan berkomunikasi dengan teman sebaya. Bagi Guru BK Sekolah Guru BK diharapkan lebih sering menerapkan penggunaan role playing dalam bimbingan Bagi Peneliti Selanjutnya Peneliti berikutnya, agar temuan ini mampu sebagai satu diantaranya informasi untuk penelitian Selain mengembangkan penelitian dengan jangkauan luas, baik dari segi jumlah subjek penelitian, durasi waktu mempertimbangkan faktor lain. DAFTAR PUSTAKA