Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4008 Ae 4016 -ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. E-MUL: Model Edukasi Digital untuk Meningkatkan Literasi Keuangan dan Pendapatan UMKM Berbasis Mobile Learning di Kabupaten Sedang Bedagai Yenni Arfah1 ,Suwadi 2 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bina Karya bk@gmail. com1, suwadiwadi5877@gmail. ABSTRACT Micro. Small, and Medium Enterprises (MSME. play a vital role in the Indonesian economy, including in Serdang Bedagai Regency, making this sector a key driver of local economic growth. However, most female MSMEs still face challenges in financial literacy, particularly in cash flow recording, capital management, and financing decision-making. This study aims to develop a Green Economy-based Digital Microfinance conceptual model designed to improve financial literacy and strengthen access to capital for female MSMEs in rural areas. The method used is Research and Development (R&D), which includes problem identification, literature review, model design, and limited trials. The results show that the developed model combines three main components: . microfinance literacy, which improves transaction recording skills by up to 30% with an average increase in literacy scores of 22%. integration of green economy principles, which encourages 65% of business actors to consider resource efficiency and environmental sustainability practices. a mobile learning approach, which was positively appreciated by 88% of respondents because it provides flexible access and accelerates material understanding. Overall, this model has proven relevant in addressing the financial literacy needs of women-led MSMEs in rural areas, while also offering a new direction in empowering micro-enterprises oriented toward sustainability. Keywords: MSMEs. Financial Literacy. Green Economy. Mobile Learning ABSTRAK Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia, termasuk di Kabupaten Serdang Bedagai, yang menjadikan sektor ini sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, sebagian besar pelaku UMKM perempuan masih menghadapi kendala dalam literasi keuangan, khususnya dalam pencatatan arus kas, pengelolaan modal, dan pengambilan keputusan pembiayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah model konseptual Keuangan Mikro Digital berbasis Green Economy yang dirancang untuk meningkatkan literasi keuangan dan memperkuat akses permodalan UMKM perempuan di wilayah rural. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D), yang mencakup tahapan identifikasi masalah, kajian literatur, desain model, hingga uji coba terbatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan memadukan tiga komponen utama: . literasi keuangan mikro, yang meningkatkan keterampilan pencatatan transaksi hingga 30% dengan rata-rata peningkatan skor literasi 22%. integrasi prinsip green economy, yang mendorong 65% pelaku usaha untuk mempertimbangkan praktik efisiensi sumber daya dan keberlanjutan lingkungan. pendekatan mobile learning, yang diapresiasi positif oleh 88% responden karena memberikan fleksibilitas akses dan mempercepat pemahaman materi. Secara keseluruhan, model ini terbukti relevan untuk menjawab kebutuhan literasi keuangan UMKM perempuan 4008 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4008 Ae 4016 -ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. di daerah rural, sekaligus menawarkan arah baru dalam pemberdayaan usaha mikro yang berorientasi pada keberlanjutan. Kata Kunci: UMKM. Literasi Keuangan. Green Economy. Mobile Learning PENDAHULUAN Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia, dengan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penciptaan lapangan kerja. Di Kabupaten Serdang Bedagai. UMKM menjadi salah satu tulang punggung perekonomian lokal. Namun, banyak pelaku UMKM yang menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan keuangan, terutama dalam hal pencatatan laporan keuangan yang baik, (Ningsih et al. , 2. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan secara langsung, mayoritas pelaku UMKM tidak memiliki keterampilan yang memadai dalam manajemen keuangan, sehingga mengakibatkan kesalahan pengambilan Keputusan dalam hal permodalan atau Tanpa pencatatan yang akurat, pelaku UMKM lebih rentan terhadap risiko yang berujung pada kesulitan finansial, termasuk gagal bayar pinjaman yang dapat menyebabkan penutupan usaha. Dari kondisi yang terjadi pada pelaku UMKM di Kabupaten Serdang Bedagai maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah dampak kurangnya literasi terhadap pengambilan Keputusan keuangan pelaku UMKM, model edukasi digital yang paling efektif dalam meningkatkan literasi Keuangan pelaku UMKM melalui mobile learning dan bagaimana implementasi model edukasi digital dapat meningkatkan keterampilan manajerial pelaku UMKM dalam pengelolaan Keuangan. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, terdapat peluang untuk memanfaatkan platform mobile learning dalam meningkatkan literasi keuangan pelaku UMKM,(Fisabilillah et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan model edukasi digital yang dapat membantu pelaku UMKM belajar cara mengelola keuangan dan pencatatan laporan keuangan dengan efektif. Urgensi penelitian ini adalah adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan pelaku UMKM, mengingat tingginya angka usaha yang gagal akibat buruknya pengelolaan keuangan. Penelitian ini berupaya menawarkan solusi yang inovatif dengan mengembangkan model edukasi digital yang dapat diakses oleh pelaku UMKM secara fleksibel melalui teknologi mobile. Dengan memperkuat keterampilan mereka dalam pencatatan keuangan, diharapkan pelaku UMKM dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan berkelanjutan. Akhirnya, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kebijakan yang lebih baik dalam pemberdayaan UMKM dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Serdang Bedagai serta mendukung pertumbuhan perekonomian lokal. 4009 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4008 Ae 4016 -ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa program literasi keuangan bagi pelaku UMKM sebagian besar masih dilakukan secara konvensional melalui pelatihan tatap muka. Pendekatan ini memiliki keterbatasan karena tidak mampu menjangkau UMKM di wilayah rural secara merata (Anisa Salsabila Kemala Fikri & Nahda, 2023. Setiawati et al. , 2025. Anshika et al. , 2. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam akses edukasi literasi keuangan, terutama bagi UMKM di daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur dan pendampingan. Selain itu, meskipun edukasi berbasis digital mulai banyak diterapkan di sektor pendidikan formal, pemanfaatannya untuk pelatihan praktis bagi pelaku UMKM, khususnya di desa atau daerah terpencil, masih sangat terbatas (Crompton & Burke, 2018. Haleem et al. , 2022. Lazaro & Duart, 2. Dengan kata lain, digitalisasi belum secara optimal menyentuh aspek peningkatan kapasitas UMKM di tingkat akar Penelitian terdahulu menegaskan adanya hubungan positif antara peningkatan literasi keuangan dengan pendapatan UMKM. Namun, penelitianpenelitian terdahulu cenderung berhenti pada tataran teoritis atau pelatihan konvensional, belum secara langsung menguji efektivitas pendekatan berbasis aplikasi digital dalam meningkatkan pendapatan (Kilay et al. , 2022. Helmi et al. , 2025. Siti Rahayuningsih et al. , 2. Lebih jauh lagi, isu pemberdayaan UMKM di daerah rural seperti Kabupaten Serdang Bedagai juga menunjukkan bahwa banyak pelaku usaha kecil yang masih minim akses terhadap teknologi pembelajaran berbasis digital. Hal ini disebabkan keterbatasan infrastruktur serta belum adanya model edukasi yang kontekstual dengan kebutuhan lokal (Ridwan Maksum et al. , 2020. Kautsar et al. , 2024. Abduh et , 2. Melihat kesenjangan tersebut, penelitian ini menghadirkan kebaruan . dengan merancang model edukasi digital berbasis mobile learning (E-MUL) yang dapat diakses secara fleksibel melalui telepon pintar. Model ini disusun secara khusus untuk menyesuaikan kebutuhan dan keterbatasan UMKM, sekaligus mengintegrasikan literasi digital dengan literasi keuangan sehingga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kapasitas manajerial dan pendapatan pelaku UMKM. Kebaruan lain terletak pada penekanan konteks lokal, di mana E-MUL dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik UMKM di Kabupaten Serdang Bedagai, sehingga diharapkan lebih relevan, aplikatif, dan mampu memberdayakan UMKM di daerah rural. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan tujuan mengembangkan sekaligus menguji efektivitas model edukasi digital berbasis mobile learning bagi pelaku UMKM di Kabupaten Serdang Bedagai (Sugiyono, 2. Tahapan penelitian dilakukan secara sistematis, dimulai dari identifikasi masalah dan kebutuhan lapangan, studi pustaka, serta analisis kebutuhan untuk merumuskan rancangan model. Selanjutnya, model dikembangkan dan diimplementasikan melalui uji coba terbatas pada kelompok kecil pelaku UMKM guna menilai fungsionalitas dan 4010 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4008 Ae 4016 -ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. efektivitas awal. Hasil uji coba dianalisis untuk memberikan masukan perbaikan sebelum dilakukan validasi pada kelompok yang lebih luas. Melalui proses ini, penelitian tidak hanya menghasilkan rancangan model edukasi digital, tetapi juga mengukur efektivitasnya dalam meningkatkan literasi keuangan secara empiris, sehingga dapat memberikan kontribusi praktis bagi pemberdayaan UMKM. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini menghasilkan sebuah model konseptual Keuangan Mikro Digital berbasis Green Economy yang ditujukan untuk membantu pelaku UMKM perempuan di Kabupaten Serdang Bedagai dalam meningkatkan literasi keuangan serta memperkuat akses permodalan usaha. Model ini belum diwujudkan dalam bentuk aplikasi digital, melainkan masih berupa kerangka konseptual yang disusun melalui tahapan penelitian Research and Development (R&D). Dengan demikian, keluaran utama penelitian ini adalah rancangan model yang dapat dijadikan dasar dalam pengembangan produk digital maupun modul pembelajaran pada tahap penelitian Secara garis besar, model yang dikembangkan memadukan tiga komponen Pertama, literasi keuangan mikro, yang berfokus pada peningkatan kemampuan pelaku UMKM dalam melakukan pencatatan transaksi sederhana, mengelola arus kas, serta merancang perencanaan modal usaha secara sistematis. Literasi keuangan ini dipandang sebagai fondasi penting karena mayoritas UMKM perempuan di Serdang Bedagai masih menghadapi kendala dalam pencatatan keuangan, yang berdampak pada kesalahan dalam pengambilan keputusan terkait permodalan maupun pembiayaan usaha. Kedua, integrasi prinsip green economy ke dalam pengelolaan usaha mikro. Prinsip ini menekankan pentingnya efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan limbah, serta orientasi pada keberlanjutan lingkungan dalam aktivitas usaha. Penekanan aspek green economy dianggap penting karena tidak hanya meningkatkan daya saing UMKM dalam jangka panjang, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal. Dengan demikian, model ini tidak hanya fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga memperhatikan dimensi lingkungan sebagai bagian dari strategi pemberdayaan UMKM. Ketiga, pendekatan mobile learning sebagai media pembelajaran yang inovatif dan fleksibel. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada pesatnya perkembangan teknologi digital di Indonesia, termasuk di daerah rural, serta tingginya tingkat penetrasi telepon pintar di kalangan masyarakat. Melalui mobile learning, materi literasi keuangan dan prinsip green economy dapat disampaikan secara interaktif, fleksibel, dan dapat diakses kapan saja sesuai kebutuhan pelaku usaha. Hal ini memberikan solusi terhadap keterbatasan pelatihan tatap muka yang selama ini menjadi hambatan utama dalam peningkatan kapasitas UMKM di daerah terpencil. 4011 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4008 Ae 4016 -ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Rancangan model ini disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan lapangan, studi literatur, dan analisis kontekstual terhadap kondisi UMKM di Serdang Bedagai. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelaku UMKM perempuan membutuhkan sarana pembelajaran yang sederhana, praktis, dan relevan dengan permasalahan usaha sehari-hari. Oleh karena itu, model ini dirancang dengan menekankan aspek kesesuaian konteks lokal, sehingga lebih mudah diadaptasi oleh pengguna sasaran. Secara konseptual, kontribusi utama dari hasil penelitian ini adalah hadirnya sebuah kerangka inovatif yang mengintegrasikan literasi keuangan, prinsip keberlanjutan, dan teknologi pembelajaran digital. Keunggulan model ini terletak pada orientasinya yang praktis dan aplikatif, sekaligus mampu menjawab kesenjangan akses edukasi bagi UMKM perempuan di daerah rural. Dengan model ini, diharapkan pelaku UMKM dapat meningkatkan keterampilan manajerial, membuat keputusan permodalan yang lebih tepat, serta menjaga keberlanjutan usaha melalui praktik usaha yang ramah lingkungan. Pembahasan Penelitian Literasi Keuangan Mikro pada UMKM Perempuan Hasil uji coba terbatas menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku UMKM perempuan di Kabupaten Serdang Bedagai mengalami peningkatan pemahaman dasar dalam pencatatan transaksi setelah mengikuti model yang dikembangkan. Sebelum intervensi, lebih dari 70% responden belum terbiasa melakukan pencatatan arus kas secara sistematis. Kondisi ini mencerminkan rendahnya literasi keuangan yang berpotensi menghambat kemampuan UMKM dalam mengakses permodalan formal maupun informal. Setelah dilakukan penerapan model, sebanyak 82% responden mampu menyusun catatan arus kas sederhana secara konsisten. Peningkatan tersebut sejalan dengan temuan Ningsih et al. yang menegaskan bahwa rendahnya literasi keuangan merupakan salah satu penyebab kesalahan dalam pengambilan keputusan pembiayaan. Selain itu, hasil ini memperkuat pendapat Kilay et al. yang menemukan hubungan positif antara literasi keuangan dan peningkatan pendapatan UMKM. Dengan demikian, model ini dapat dipandang sebagai kontribusi praktis yang relevan untuk menjawab kebutuhan mendesak peningkatan literasi keuangan, khususnya bagi UMKM perempuan di wilayah rural. Integrasi Prinsip Green Economy dalam Model Keuangan Mikro Model yang dikembangkan dalam penelitian ini mengintegrasikan prinsip green economy untuk mendorong efisiensi sumber daya, pengurangan limbah, dan keberlanjutan usaha mikro. Uji coba menunjukkan bahwa meskipun konsep keberlanjutan ini masih relatif baru bagi sebagian besar responden, setelah diberikan materi, sekitar 65% pelaku UMKM mulai menunjukkan kesadaran terhadap strategi efisiensi, misalnya dengan memanfaatkan bahan baku lokal, mendaur ulang sebagian limbah, atau mengurangi penggunaan plastik dalam kegiatan usaha. Hal ini mendukung penelitian Ridwan Maksum et al. yang menekankan bahwa UMKM 4012 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4008 Ae 4016 -ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. di daerah rural memerlukan intervensi teknologi dan pelatihan berbasis lingkungan untuk meningkatkan daya saing. Temuan ini juga sejalan dengan kajian Haleem et al. yang menekankan pentingnya orientasi ramah lingkungan dalam operasional usaha mikro sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, integrasi green economy dalam model tidak hanya memperkuat aspek ekonomi UMKM, tetapi juga menghadirkan dimensi keberlanjutan yang menjadi tuntutan dalam perekonomian modern. Mobile Learning sebagai Media Pembelajaran Literasi Digital Pemanfaatan mobile learning sebagai media dalam model edukasi memperoleh respons positif dari pelaku UMKM perempuan. Uji coba menunjukkan bahwa 88% responden menyatakan kemudahan dalam mengakses materi kapan saja dan di mana saja melalui perangkat digital, sehingga pembelajaran tidak lagi bergantung pada pelatihan tatap muka. Hal ini memperlihatkan bahwa keterbatasan waktu dan lokasi yang selama ini menjadi hambatan dapat diatasi dengan pendekatan Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian Crompton & Burke . serta Lazaro & Duart . yang menegaskan efektivitas mobile learning dalam meningkatkan fleksibilitas dan motivasi belajar, baik di sektor pendidikan formal maupun pelatihan non-formal. Uji coba juga memperlihatkan bahwa sebagian besar responden lebih cepat memahami materi literasi keuangan yang dikemas secara digital dibandingkan dengan format cetak. Dengan demikian, integrasi mobile learning dalam model dapat dianggap sebagai solusi inovatif yang mampu menjawab keterbatasan akses edukasi konvensional bagi UMKM di daerah rural. Implikasi Uji Coba Model bagi Pemberdayaan UMKM Secara keseluruhan, hasil uji coba model menunjukkan adanya peningkatan keterampilan manajerial dan literasi keuangan pelaku UMKM perempuan. Skor literasi keuangan meningkat rata-rata 22% berdasarkan perbandingan pre-test dan post-test sederhana, sedangkan kemampuan melakukan pencatatan transaksi usaha meningkat hingga 30%. Temuan ini mendukung literatur terdahulu (Helmi et al. Siti Rahayuningsih et al. , 2. yang menekankan bahwa peningkatan literasi keuangan berdampak langsung pada ketahanan usaha mikro. Lebih jauh, integrasi aspek green economy memperlihatkan arah baru dalam pengembangan UMKM berbasis keberlanjutan, sedangkan pemanfaatan mobile learning membuktikan bahwa digitalisasi dapat menjembatani keterbatasan infrastruktur pelatihan di daerah rural. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini menghasilkan sebuah model konseptual Keuangan Mikro Digital berbasis Green Economy yang dirancang untuk meningkatkan literasi keuangan dan memperkuat akses permodalan UMKM perempuan di Kabupaten Serdang Bedagai. 4013 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4008 Ae 4016 -ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Model ini belum direalisasikan dalam bentuk aplikasi, melainkan berupa kerangka konseptual yang terstruktur melalui tahapan Research and Development (R&D). Secara garis besar, terdapat tiga komponen utama yang menjadi kontribusi model ini. Pertama, literasi keuangan mikro, yang terbukti meningkatkan keterampilan pencatatan transaksi dan manajemen arus kas, di mana skor literasi responden meningkat rata-rata 22% pasca-uji coba. Kedua, integrasi prinsip green economy, yang mendorong kesadaran efisiensi sumber daya, pengurangan limbah, dan praktik usaha berkelanjutan. hasil uji coba menunjukkan 65% responden mulai mengadopsi praktik ramah lingkungan dalam kegiatan usaha. Ketiga, pendekatan mobile learning, yang diapresiasi positif oleh 88% responden karena memudahkan akses pembelajaran kapan saja dan di mana saja, serta mempercepat pemahaman materi dibandingkan format konvensional. Secara keseluruhan, hasil penelitian memperlihatkan bahwa model yang dikembangkan mampu menjawab kesenjangan literasi keuangan dan keterbatasan akses edukasi di daerah pedesaan, sekaligus menawarkan arah baru dalam pengembangan UMKM yang berorientasi pada keberlanjutan. Model ini dapat dijadikan dasar bagi penelitian lanjutan untuk pengembangan aplikasi digital serta sebagai rekomendasi kebijakan dalam pemberdayaan UMKM perempuan di Kabupaten Serdang Bedagai. Saran Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar pemerintah daerah, lembaga pembiayaan mikro, dan organisasi pendukung UMKM mulai mengintegrasikan model keuangan mikro digital berbasis green economy ke dalam program pemberdayaan UMKM perempuan. Meskipun masih berbentuk kerangka konseptual, model ini dapat dijadikan acuan untuk tahap pengembangan aplikasi digital yang lebih aplikatif. Pelatihan literasi keuangan dan digital berbasis mobile learning perlu diperluas agar lebih banyak UMKM perempuan mampu mengelola arus kas, menerapkan pencatatan keuangan sederhana, dan mengadopsi praktik usaha ramah lingkungan. Selain itu, dukungan infrastruktur digital di wilayah pedesaan perlu diperkuat untuk memastikan akses yang merata. Ke depan, kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan komunitas lokal penting untuk memastikan keberlanjutan implementasi model DAFTAR PUSTAKA