p-ISSN: 2776-3919 | e-ISSN: 2776-2513 Terakreditasi Sinta 5 Vol. No. Oktober 2025, page 95-100 http://jurnal. fib-unmul. id/index. php/mebang/article/view/213 Makna Lirik Sawer Sunda (Sawer Pengante. Rajah Sawer Penganten Pada Acara Pernikahan Adat Suku Sunda The Meaning of the Lyrics of the Sundanese Sawer (Sawer Pengante. Rajah Sawer Penganten at a Traditional Wedding Ceremony of the Sundanese Tribe Erika Manalu*. Universitas Sumatera Utara. Medan. Indonesia. Email: erikamanalu381@gmail. Orcid: https://orcid. org/0009-0007-5915-4388 Torang Naiborhu. Universitas Sumatera Utara. Medan. Indonesia. Email: torang@usu. Orcid: https:// org/0009-0006-8623-7800 Vanesia Amelia Semayang. Universitas Sumatera Utara. Medan. Indonesia. Email: vanesia. amelia@usuac. Orcid: https://orcid. org/0009-0008-2623-3562 Received: 16 June 2025 Accepted: 16 October 2025 Published: 31 October 2025 Keywords: meaning, lyrics, sawer sunda . awer pengante. , wedding custom. Kata kunci: makna, lirik, sawer sunda . awer pengante. , adat pernikahan. Citation: Manalu. Naiborhu. , & Semayang. Makna Lirik Sawer Sunda (Sawer Pengante. Rajah Sawer Penganten Pada Acara Pernikahan Adat Suku Sunda. Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik, 5. , 95-100. https://doi. org/10. 30872/mebang. Abstract: Sawer Penganten (Sundanese Sawe. is a cultural practice of the Sundanese people. The Sundanese tribe, originally from Java, migrated to Medan, a city characterized by its ethnic diversity. This diversity enriches the cultural landscape of Medan. This research explores the significance of the lyrics of Sawer Sunda (Sawer Pengante. within the context of wedding ceremonies in Medan. The primary focus of this study is to analyse the meaning of the Sawer Sunda lyrics (Sawer Pengante. in this urban setting. To conduct this analysis, the author employs Ferdinand de Saussure's theory. A qualitative research methodology is utilized to gather and collect data. Qualitative research is fundamentally naturalistic, as described by Dr. Zuchri Abdussammad, and is conducted in the field. The author undertook observations, interviews, and captured photographs or videos for data collection purposes. The findings of this study indicate that Sawer Sunda (Sawer Pengante. is a significant wedding custom among the Sundanese, serving as a means for parents to impart their advice to the bride and groom. The Sundanese events held in Medan maintain the philosophical values inherent to the Sundanese tribe's region of origin. Abstrak: Sawer Penganten (Sawer Sund. merupakan budaya suku Sunda. Pelaksanaan Sawer Penganten di kota Medan cukup menarik karena menunjukkan bentuk pelestarian budaya daerah di tengah masyarakat urban yang majemuk. Tradisi ini masih dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Sunda yang menetap di Medan, baik secara penuh mengikuti adat asalnya, maupun dengan penyesuaian terhadap budaya local. Hal ini menunjukkan adanya upaya masyarakat Sunda di perantauan untuk mempertahankan identitas kultural mereka melalui praktik tradisi lisan seperti lirik Sawer dalam upacara pernikahan. Fokus penelitian ini pada makna lirik Sawer Sunda (Sawer pengante. di kota Medan. Dalam penelitian ini untuk menganalisis makna Sawer Sunda (Sawer pengante. penulis menggunakan teori semiotik yang dikemukankan oleh Ferdinand De Saussure. Penulis menggunakan metode kualitatif dalam memperoleh dan mengumpulkan data Penelitian kualitatif sifatnya mendasar dan naturalistis atau kealamian yang dilakukan di lapangan yang dikemukakan oleh Dr. H Zuchri Abdussammad. Penulis melakukan observasi, wawancara, dan pengambilan gambar atau video untuk pengumpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sawer Sunda (Sawer Pengante. merupakan adat pernikahan suku Sunda yang penting, untuk mengungkapkan nasehat orang tua kepada pengantin. Acara suku Sunda yang dilakukan dalam acara pernikahan adat suku Sunda di kota Medan tidak mengurangi nilainilai filosofi yang ada pada daerah asal suku Sunda. Copyright A 2025 the Author. Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik by Universitas Mulawarman Creative Commons License Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Makna Lirik Sawer Sunda (Sawer Pengante. AuRajah Sawer PengantenAy Pada Acara Pernikahan Adat Suku Sunda Pendahuluan Suku Sunda dan Jawa adalah suku yang berbeda, keduanya adalah dua suku bangsa yang berbeda di Indonesia, meskipun memiliki beberapa kesamaan budaya karena letak geografis yang berdekatan di Pulau Jawa. Kota Medan. Sumatera Utara, dikenal sebagai pusat keberagaman suku dan budaya, menjadi tempat pertemuan berbagai etnis seperti Melayu. Batak. Jawa, dan Minangkabau. Dengan sejarah panjang perdagangan, banyak kelompok etnis memilih untuk menetap dan membangun kehidupan di sana (Azzahra. Hasanah. Nazwa, 2023: . Musik tradisional, yang diwariskan secara turun-temurun, mencerminkan budaya, sejarah, dan kepercayaan masyarakat. Bruno Nettl menekankan bahwa musik tradisional harus dipahami dalam konteks sosial dan budaya, bukan hanya dari segi komposisi (Nettl, 2. Acara pernikahan suku Sunda memiliki keunikan yang mencerminkan budaya dan tradisi Beberapa di antaranya adalah neundeun omong . , di mana pengantin laki-laki menyatakan niatnya untuk menikahi pengantin perempuan. Ngeuyeuk seureuh . , yang merupakan pemberian nasehat sebelum ijab kabul. dan ritual siraman, yang menggunakan air dari tujuh sumber sebagai simbol kesucian. Selain itu. Sawer Sunda . awer pengante. adalah ritual menaburkan benda kecil kepada pengantin, yang berisi nasehat dan menjadi bagian penting dari budaya Sunda, digunakan dalam pernikahan, khitanan, dan upacara adat lainnya (Gunaepi, 2023: 73. Uliyah, 2018: . Makna Sawer Sunda (Sawer Pengante. adalah penyampaian nasehat dari orang tua penganten kepada calon mempelai penganten. Perbedaan antara daerah Jawa dan Medan terletak pada acara di Jawa tidak menggunakan nasi tumpeng, sedangkan di Medan nasi tumpeng menjadi umum akibat akulturasi budaya. Meskipun alur acara sawer penganten berbeda, bagian-bagiannya tetap sama di kedua daerah. Dalam penelitian ini adapun rumusan masalahnya yaitu membahas tentang makna dari setiap bahan sawer yang ditaburkan saat acara sawer Sunda (Sawer Pengante. , makna lirik sawer Sunda (Sawer Pengante. Dan tujuan penelitian ini untuk menguraikan makna lirik sawer Sunda (Sawer Pengante. dalam konteks budaya dan masyarakat Sunda. Mengidentifikasi makna denotatif dan konotatif dari lirik Rajah Sawer Penganten. Meneliti makna dari setiap bahan yang ditaburkan saat acara sawer Sunda (Sawer Pengante. Metode Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis makna Sawer Sunda (Sawer Pengante. dengan merujuk pada teori semiotik Ferdinand De Saussure untuk menejlaskan makna dari setiap bahan yang digunakan dalam acara Sawer Sunda (Sawer Pengante. Metode kualitatif dipilih karena sifatnya yang mendasar dan naturalistis, sesuai dengan penjelasan Dr. Zuchri Abdussammad, yang menekankan pentingnya pengumpulan data di lapangan. Penulis melakukan observasi langsung terhadap acara Sawer Sunda di lokasi untuk memahami ritual tersebut. Wawancara semi terstruktur dilakukan dengan juru sawer dan tokoh masyarakat untuk menggali makna dan nilai-nilai dalam Sawer Sunda (Sawer Pengante. Apa dari setiap makna bahan yang digunakan dalam acara Sawer Sunda ( Sawer Pengante. Bagaimana keberlangsungan acara Sawer Sunda (Sawer Pengante. di kota Medan. Selain itu, penulis juga mengambil gambar dan video selama acara berlangsung sebagai dokumentasi visual untuk mendukung analisis. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan pendekatan analisis teks berdasarkan teori Ferdinand De Saussure, yang menekankan hubungan antara tanda, makna, dan konteks. Pembahasan 1 Makna bahan sawer yang ditaburkan saat acara sawer Sunda (Sawer Pengante. Sesuai dengan wawancara dengan Kang Kiki Koswara yang bertugas sebagai juru sawer mengatakan bahwa Sawer Sunda adalah acara penting dalam adat suku Sunda yang berfungsi sebagai Erika Manalu. Torang Naiborhu. Vanesia Amelia Semayang momen untuk memberikan nasehat dan wejangan dari orang tua kepada pengantin baru. Wejangan ini disampaikan dalam bentuk lagu, sehingga lebih menarik dan mudah diingat. Pentingnya sawer Sunda berakar dari sejarah, di mana masyarakat Sunda, pada masa penjajahan kolonial, menghadapi tantangan dalam mengekspresikan budaya mereka. Untuk menghindari penilaian negatif dari penjajah, mereka memilih menyampaikan pesan moral melalui seni lagu, sehingga tetap melestarikan nilai-nilai budaya tanpa menimbulkan kecurigaan. Melalui sawer Sunda, orang tua memberikan nasihat dan menanamkan nilai-nilai luhur sebagai pedoman bagi pengantin dalam menjalani kehidupan baru. Acara ini penuh emosi, mencerminkan kasih sayang dan harapan dari keluarga, serta mengingatkan pengantin akan tanggung jawab mereka. Sawer Sunda bukan hanya tradisi, tetapi simbol cinta, harapan, dan pelestarian Dalam acara ini, barang-barang yang dilemparkan memiliki makna mendalam: Uang melambangkan rezeki dan kemakmuran. Permen melambangkan manisnya kehidupan berumah tangga. Kunyit simbol kesehatan dan keberkahan. Bunga melambangkan keindahan dan cinta Beras pulut melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Kapur sirih melambangkan kesucian dan kebersihan. Gambar 1. Bahan taburan (Sumber: Erika, 2. 2 Makna lirik sawer Sunda (Sawer Pengante. Lirik : Rajah Sawer Panganten Rajah Pamuka / Kuno Sari : Amit ampun nun paralun nyelang pihatur kasadaya nu lalinggih amit Bade nyawer heula nyumponan tali paranti Nohonan kabiasaan,nurut Galur Nini Aki Tejamantri Hidup ginanjaran Bagja tepung rabi jatukrami,muka lambaran Carita Natrat Tina rumah tangga Jimatna Ngan welas asih Antara hidup duaan poma lali Kana pawit eunteup teuteup tepung rasa dumeling asih mandiri tinggtrim asih lahir batin Kinanti Pelog Numutkeun papagah sepuh Tawisna Hidep mupusti konci gedong kabagjaan Aya disepuh utami anggurmah pundut du'a na sangkan mulus laki rabi Kidung Ayeuna kunawaetu ku asmana nya Illahi Makna Lirik Sawer Sunda (Sawer Pengante. AuRajah Sawer PengantenAy Pada Acara Pernikahan Adat Suku Sunda Bismillah ngajadinjalan Rohman Nurrohim nu dipamrih Sangkan mulus rumahtangga walagri Nya Lahir batin Aamiin ya robbal alamiin Mugi Gusti nangtayungan Makna dari setiap lirik Sawer Sunda, atau yang dikenal sebagai Sawer Penganten, adalah sebuah tradisi yang berfungsi untuk menyampaikan wejangan dan nasehat dari orang tua kepada pengantin baru, dengan tujuan agar mereka dapat saling memahami, menghormati, dan hidup rukun dalam membangun rumah tangga. Acara sawer Sunda (Sawer Pengante. bukan hanya sekedar tradisi, tetapi juga merupakan ungkapan kasih sayang, harapan, dan pelestarian nilai-nilai budaya yang penting dalam masyarakat Sunda. Pada lirik sawer Sunda (Sawer Pengante. Rajah Sawer Penganten terbagi menjadi 4 bait. Dibait pertama sebagai pembuka memiliki makna tanda hormat terhadap leluhur dan nenek moyang yang sudah meninggalakan tradisi dan juga budaya. Bait kedua menceritakan tentang hubungan dari penganten dan. Bait ketiga berisi tenteng nasehat orang tua dan terakhir ucapan syukur kepada sang pencipta yang melindungi acara yang sedang berlangsung. 3 Makna Denotasi dan Konotatif dari lirik Rajah Sawer Penganten 1 Makna Denotasi Makna denotasi dalam lirik lagu sawer Sunda (Sawer Pengante. pada bait pertama menjelaskan pembukaan nasehat dan petuah orang tua. Terdapat permohonan maaf, "Amit ampun nun paralun nyelang pihatur kasadaya nu lalinggih," yang menunjukkan rasa hormat kepada tamu yang hadir. Frasa "amit bade nyawer heula nyumponan tali paranti" menegaskan bahwa penaburan . adalah tanda penghormatan dan bagian dari tradisi. Terakhir, "Nohonan kebiasaan, nurut galur nini aki" menjelaskan bahwa tindakan ini merupakan kebiasaan yang menghormati garis keturunan nenek dan kakek. Bait kedua . menjelaskan pentingnya menjaga hubungan harmonis dan tanggung jawab suami istri. Baris pertama. Hidup ginanjaran bagja tepung rabi jatukrami, mengungkapkan harapan agar kehidupan pasangan dipenuhi kebahagiaan dan keberuntungan. Natrat tina rumah tangga jimanta ngan welas asih menekankan pentingnya kasih sayang sebagai fondasi rumah tangga. Terakhir. Antara hidup duaan poma lali kana pawit eunteup teuteup tepung rasa dumeling asih mandiri tinggtrim asih lahir batin menggambarkan pentingnya hubungan harmonis dan saling menghargai antara pasangan. Bait ketiga . inanti pelo. menekankan pentingnya nasihat orang tua yang harus diikuti. Baris Numutkeun papagah sepuh menunjukkan bahwa nasihat berasal dari orang tua dan generasi lebih tua. Dalam berumah tangga, pasangan harus memberikan contoh yang mencerminkan perilaku orang tua. Tawisna hidup mupusti konci geong kebagjaan menjelaskan bahwa kunci kebahagiaan terletak pada diri sendiri, di mana kedua pasangan memiliki peran penting. Aya disepuh utami menekankan bahwa kebahagiaan dan keberhasilan bergantung pada tindakan individu. Terakhir. Anggurmah pundut duAoa na sangkan mulus lakai rabi merupakan harapan agar doa yang dipanjatkan membantu kehidupan pernikahan berjalan baik dan harmonis. Bait keempat (Kidun. berfungsi sebagai penutup yang dimulai dengan rasa hormat dan diakhiri dengan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Baris Ayeuna kunawaetu ku asmana nya illahi menyatakan bahwa setiap tindakan dimulai dengan menyebut nama Tuhan, menunjukkan niat baik. Bismillah ngajadinjalan mengungkapkan bahwa langkah yang diambil dengan mengingat Tuhan akan menjadi Rohman Nurrohim nu dipamrih sangkan mulus rumahtangga adalah permohonan agar rumah tangga pasangan berjalan baik dan harmonis. Walagri Nya Lahir batin mengharapkan kebahagiaan dan kesejahteraan dirasakan dalam hati. Aamiin ya robbal alamin adalah ungkapan persetujuan agar doa Terakhir. Mugi gusti nangtayungan memohon perlindungan dari Tuhan agar pasangan dan rumah tangga selalu dalam keadaan baik. Erika Manalu. Torang Naiborhu. Vanesia Amelia Semayang 2 Makna Konotasi Makna konotatif dari lirik lagu Sawer Sunda (Sawer Pengante. mencerminkan kebahagiaan, harapan, dukungan, dan pelestarian tradisi dalam pernikahan. Lagu ini menjadi simbol momen penting dalam kehidupan dan hubungan sosial masyarakat. Pada bait pertama (Raja pemuka/ kuno sar. , terdapat permohonan maaf dan pengakuan atas kesalahan yang mungkin terjadi. Bait ini juga mencerminkan pentingnya tradisi yang mengacu pada ajaran nenek moyang, menunjukkan rasa hormat terhadap warisan budaya. Bait kedua . menyiratkan harapan keluarga akan kebahagiaan dan kesejahteraan yang Kata bagja mencerminkan aspirasi untuk mencapai tujuan hidup yang mencakup keberhasilan dalam aspek ekonomi, sosial, dan spiritual. Frasa Asih mandiri menunjukkan cinta yang tulus dan kemandirian dalam hubungan, di mana pasangan saling menghargai dan mendukung tanpa bergantung pada pihak ketiga. Pasangan harus saling mendukung dalam setiap situasi, berkomitmen menjaga keutuhan hubungan, dan waspada agar tidak memberikan peluang kepada pihak lain untuk merusak hubungan yang sah secara agama dan budaya. Dengan demikian, bait ini menekankan pentingnya komitmen, saling pengertian, dan dukungan dalam membangun kehidupan berumah tangga yang bahagia dan sejahtera. Bait ketiga (Kinanti pelo. memiliki makna konotatif yang kaya tentang kebijaksanaan, tanggung jawab, dan spiritualitas dalam kehidupan serta pernikahan. Bait ini menekankan pentingnya mendengarkan nasihat orang tua sebagai sumber pengalaman dan panduan dalam menjalani kehidupan berumah tangga, serta pengingat akan nilai-nilai yang diwariskan. Selain itu, bait ini menekankan tanggung jawab pasangan untuk menjaga kebahagiaan satu sama lain, yang merupakan fondasi utama dalam hubungan pernikahan. Kebahagiaan diukur dari kemampuan saling mendukung dan memahami dalam menghadapi tantangan hidup. Aspek spiritualitas juga tercermin dalam pentingnya memohon doa untuk kelancaran hubungan pernikahan, yang mengingatkan pasangan akan kehadiran Tuhan dalam setiap langkah. Dengan demikian, bait ini mengajak pasangan untuk mengintegrasikan kebijaksanaan, tanggung jawab, dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun hubungan yang kuat dan bermakna. Bait keempat (Kidun. menunjukkan niat baik dan harapan untuk memulai sesuatu dengan cara yang benar, mencerminkan keyakinan dalam menjalani hidup. Mugi gusti nangtayungan mengandung harapan akan perlindungan dari Tuhan, menunjukkan ketergantungan pada kekuatan yang lebih tinggi dalam menjalani kehidup. Penutup Kesimpulan makna bahan sawer dalam acara sawer Sunda (Sawer Pengante. adalah bahwa tradisi ini penting dalam adat suku Sunda, di mana orang tua memberikan nasehat kepada pengantin baru melalui seni lagu. Sawer Sunda, yang berasal dari sejarah masyarakat Sunda, berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan moral. Barang-barang yang dilemparkan melambangkan nilai-nilai seperti rezeki, manisnya kehidupan, kesehatan, cinta, kesuburan, dan kesucian. Lirik sawer Sunda, yang terbagi menjadi empat bait, menyampaikan pesan tentang penghormatan kepada leluhur, hubungan pengantin, nasehat orang tua, dan ucapan syukur kepada Tuhan, mencerminkan harapan dan pelestarian tradisi dalam pernikahan serta pentingnya komitmen dalam kehidupan berumah tangga. Daftar Pustaka