Vol. No. November 2024 Hal. 212Ae 232 Pembentukan Task commitment Mahasiswa Underachiever Berkecerdasan Sangat Tinggi dalam Mengikuti Pembelajaran Daring Emilia Margalo1. Evy Tjahjono2. Aniva Kartika3. Diana4 1,2,3,4 Faculty of Psychology. Universitas Surabaya. Surabaya. Indonesia evy_tjahjono@staff. ABSTRACT This qualitative study aims to determine the dynamics of factors forming underachiever studentsAo task commitment in online learning. Data is collected using semi structured interview involving two informans identified as underachiever students with very high IQ. Results shows the factors forming underachiever studentsAo task commitment are divided into: . Inhibiting factors, i. : standards ambiguity and inappropriate parental supports, negative emotional states, excessive free time, limited ablities, academic self-efficacy, views about task eliciting lack of motivation that inhibiting task commitment. Strengthening factors involving: learning atmosphere and time flexibility, academic resilience, positive emotional state, appropriate family support, peer group support, independence, and view about task difficulty or interest on task. The implication of this study is that lecturers should assign appropriate level of task difficulty, consider the proportion of task types and build a learning atmosphere that allows social support from groups, as well as provide psychoeducation about developing self-regulated learning. Keywords: Task commitment. Very High IQ underachiever students. online learning ABSTRAK Penelitian kualitatif ini bertujuan mendeskripsikan dinamika faktor pembentuk task commitment mahasiswa underachiever dalam mengikuti pembelajaran daring. Data dikumpulkan menggunakan teknik wawancara semi terstruktur terhadap 2 informan mahasiswa underachiever dengan IQ sangat tinggi. Hasil penelitian menunjukkan faktor pembentuk task commitment dalam mengikuti pembelajaran daring terbagi menjadi . faktor yang melemahkan yaitu ambiguitas standar dan kurang tepatnya dukungan orang tua, kondisi emosi negatif, waktu luang yang berlebih, keterbatasan kemampuan, academic selfefficacy, tugas yang kurang memunculkan motivasi. faktor yang menguatkan yaitu: suasana belajar dan fleksibilitas waktu, academic resilience, kondisi emosi positif, dukungan keluarga yang tepat, dukungan teman, kemandirian, dan pandangan tentang tingkat kesulitan tugas atau minat terhadap tugas yang memperkuat task commitment. Implikasi hasil penelitian ini, diharapkan pengajar memberikan tugas dengan tingkat kesulitan yang sesuai, mempertimbangkan proporsi jenis tugas serta membangun pembelajaran dengan dukungan kelompok, serta memberikan psikoedukasi tentang kemandirian belajar mahasiwa. Kata kunci: Task commitment. mahasiswa underachiever berkecerdasan sangat tinggi. pembelajaran daring. ARTICLE INFO A Copyright Authors Pembentukan Task commitment Mahasiswa Underachiever Berkecerdasan Sangat Tinggi dalam Mengikuti Pembelajaran Daring Article history Received : 18-07-2024 Revised : 10-08-2024 Accepted : 20-08-2024 Pendahuluan Setelah pandemi mereda mulai muncul pro dan kontra untuk melanjutkan pembelajaran daring di perguruan tinggi. Baik dosen maupun mahasiswa mulai merasa nyaman menggunakan pembelajaran daring karena sudah mulai terbiasa, namun juga ditemukan beberapa kendala dalam pelaksanaannya. Dalam pembelajaran daring Anggraini dan Neviyarni . menemukan terjadinya penundaan penyelesaian tugas dan pengerjaan tugas tanpa memperhatikan instruksinya. Beberapa penelitian (Basteng, 2022. Lubis. Ramadhani, dan Rasyid, 2021. Megawanti. Megawati dan Nurkhafifah, 2. juga menemukan rendahnya motivasi penyelesaian tugas, termasuk tidak sepenuhnya mengikuti pembelajaran daring karena peserta merasa tidak diawasi oleh pengajar. Gambaran berbagai perilaku belajar di atas mencerminkan task commitment yang rendah. Task commitment merupakan energi yang dipusatkan untuk penyelesaian suatu tugas (Reiss & Peters, 2020. Renzulli, 2. yang mendorong seseorang menggunakan ketekunan, keuletan, kerja keras, keyakinan bahwa mampu menyelesaikan tugas tersebut, serta melakukan tindakan untuk menuntaskan tugasnya. Task commitment diperlukan agar seseorang dapat mencapai prestasi akademik yang baik (Tayibu, 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran daring lebih memiliki banyak kendala yang menyebabkan rendahnya motivasi yang selanjutnya dapat menyebabkan mahasiswa kurang berkomitmen terhadap tugasnya (Asmuni, 2020. Cahyani. Listiana, & Larasari, 2020. Faizah, et al. , 2. Terbatasnya keterampilan pengajar untuk menjelaskan ataupun untuk memantau proses penyelesaian tugas dalam pembelajaran daring (Asmuni. Faizah, et al. , 2. , serta terbatasnya kesempatan pengajar untuk memberikan umpan balik secara langsung saat penyelesaian tugas (Cahyani. Listiana, & Larasati, 2. menjadi faktor yang berpengaruh terhadap munculnya task commitment dalam belajar. Task commitment menjadi makin penting saat pembelajaran daring mengingat keberhasilan belajar dalam pembelajaran daring ditentukan oleh kemandirian belajar mahasiswa (Yuliati & Saputra, 2. Task commitment yang tinggi memungkinkan mahasiswa lebih mampu mengidentifikasi masalah, menentukan prioritas tugas, dan menentukan standar maksimal dari perilaku, tujuan, dan sikapnya dalam pencapaian tugas. Page | 213 Margalo et al. Pembentukan Task commitment Mahasiswa A. Volume 15. No. November 2024 Karakteristik pelajar dengan task commitment yang tinggi menunjukkan kegigihan, determinasi diri, kemauan yang kuat, dan memiliki energi positif dalam belajar (Reiss & Peters, 2. Mahasiswa akan mampu mengarahkan energinya untuk menuntaskan tugastugasnya dengan lebih mudah sehingga akan mampu memperoleh prestasi yang baik (Pianyta. Savage et al. , . menyatakan seharusnya seorang mahasiswa mempunyai task commitment karena telah menempuh jenjang pendidikannya yang tertinggi. Namun kondisi pembelajaran daring yang kurang memungkinkan pengajar memantau seluruh aktivitas perkuliahan seringkali menurunkan komitmen untuk menuntaskan perkuliahannya dengan Mahasiswa yang kurang memiliki kemandirian dan malas mengerjakan tugas saat pembelajaran luring, pada saat pembelajaran daring akan makin menunjukkan taskcommitment yang rendah (Sembiring & Oktavianti, 2. Kenyataan yang terjadi berbeda dengan partisipan mahasiswa dengan kecerdasan sangat tinggi yang ditengarai sebagai underachiever, yaitu pelajar yang mengalami kesenjangan antara prestasi akademik dengan kemampuannya dalam belajar (Siegle, 2. Prestasi yang dihasilkan tidak seoptimal kecerdasan yang dimiliki pelajar tersebut sehingga seringkali menimbulkan kerentanan untuk mengalami permasalahan akademik di sekolah (Rimm, 2. Dari hasil wawancara awal dengan partisipan, ditemukan bahwa penerapan pembelajaran daring justru membuat prestasi partisipan mengalami peningkatan yang drastis . ihat tabel . Tabel 1. Informasi IQ dan Prestasi Partisipan IPS (Indeks Prestasi Semeste. AS . ama samara. Very Superior/sangat tinggi Semester 3: 3. embelajaran lurin. Semester 4: 3. embelajaran darin. Semester 7: 4. embelajaran darin. DV . ama samara. Very Superior/sangat tinggi Semester 3: 2. embelajaran lurin. Semester 4: 3. embelajaran darin. Semester 7: 3. embelajaran darin. Kedua partisipan dalam penelitian ini merupakan mahasiswa dengan kecerdasan sangat tinggi, namun mengalami underachievement karena kurang memiliki motivasi berprestasi (Snyder & Wormington, 2. Potensi kecerdasan yang sangat tinggi seharusnya memungkinkan partisipan mencapai prestasi yang tidak hanya sekedar tinggi, namun dapat menghasilkan karya unggulan yang inovatif. Kapasitas kecerdasannya memungkinkan mereka menguasai materi dan berprestasi meskipun tanpa usaha belajar yang keras. Pelajaran dipandang penting dan tugas dirasa tidak bermanfaat sehingga lebih memilih melakukan Page | 214 Pembentukan Task commitment Mahasiswa Underachiever Berkecerdasan Sangat Tinggi dalam Mengikuti Pembelajaran Daring aktivitas lain yang menyenangkan daripada berfokus pada penyelesaian tugas yang lebih baik. Pada saat pembelajaran luring, mengerjakan tugas sekenanya dan mendekati tenggat waktu menjadi pola dalam penyelesaian tugas kedua partisipan. Akibatnya terjadi kesulitan menyelesaikan tugas tepat waktu dan seringkali kurang waktu beristirahat akibat harus mengejar tenggat waktu pengumpulan tugas serta tidak dapat mencari bantuan dari sumber lainnya dengan maksimal akibat keterbatasan waktu. Rezeki. Maisyaroh, & Syafrizaldy . menemukan bahwa siswa underachiever selalu menghindari tugas karena menganggap sekolah adalah aktivitas yang membosankan sehingga menjadi kurang tekun dan tidak semangat menyelesaikan tugas, bahkan tidak menuntaskan tugas akibat memprioritaskan aktivitas lain yang menyenangkan (Pramudiani, 2. Dari wawancara awal pada penelitian ini ditemukan bahwa task commitment partisipan yang mengalami underachievement justru mengalami peningkatan saat mengikuti pembelajaran daring. Mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam tugas dan menyelesaikan tugas secara bertahap karena memandang ketersediaan waktu luang lebih banyak sehingga bisa mengatur waktu belajar lebih fleksibel. Adanya task commitment ini memicu partisipan untuk berprestasi saat mengikuti pembelajaran daring. Keunikan peningkatan task commitment saat mengikuti pembelajaran daring memunculkan pertanyaan pada peneliti mengenai dinamika faktor pembentuk task commitment mahasiswa dengan kecerdasan sangat tinggi yang mengikuti pembelajaran daring. Metode Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif mengingat dinamika faktor pembentuk task commitment merupakan hal yang subyektif pada setiap mahasiswa Paradigma yang digunakan adalah paradigma realis yang bertujuan untuk menemukan sesuatu yang objektif, stabil, dan bersifat hukum alam dari fenomena yang terjadi (Wilig, 2. Pendekatan penelitian berjenis studi kasus yang berfokus pada keunikan permasalahan partisipan, fenomena underachievement pada mahasiswa yang berkecerdasan sangat tinggi. Subjek Page | 215 Margalo et al. Pembentukan Task commitment Mahasiswa A. Volume 15. No. November 2024 Peneliti menggunakan purposive sampling dengan 2 orang partisipan AS dan DV . ama samara. di universitas AoXAo. Partisipan dipilih dengan 2 kasus yang berbeda yaitu penyelesaian tugas yang berorientasi pada kinerja dan berorientasi pada proses belajar. Kriteria partisipan penelitian, sebagai berikut: . Mahasiswa aktif, . memiliki IQ dengan kategori superior dan ke atas, . prestasi akademik tidak semaksimal potensi yang dimiliki . itinjau dari transkrip akademi. , . menunjukkan peningkatan prestasi saat mengikuti pembelajaran daring, dan . mengalami fenomena underachievement berdasarkan hasil kuesioner dan identifikasi karakteristik underachiever partisipan menurut Rimm . ihat Tabel . Tabel 2 Persamaan dan Perbedaan Karakteristik Underachiever AS . ama samara. Perbedaan Karakteristik Partisipan Persamaan Karakteristik Partisipan Kurang baik dalam Mengerjakan tugas dengan upaya sendiri DV . ama samara. Bermasalah dalam penerimaan teman sebaya Memiliki sikap tidak jujur secara akademik karena hanya berorientasi pada hasil tugas Keahlian buruk dalam mengerjakan tugas Kebiasaan belajar yang buruk Konsentrasi buruk dalam aktivitas sekolah Mudah bosan Meninggalkan kegiatan kelas Sibuk dengan pikiran sendiri Kesulitan mengatur diri sendiri Seringkali mengkritik diri sendiri Terdistraksi dengan mudah dan tidak sabaran Pengumpulan Data Peneliti melakukan skrining partisipan dengan menggunakan metode wawancara semiterstruktur dan kuesioner PAUS (Perceived Academic Underachievement Scal. yang dikembangkan oleh Snyder & Adelson . untuk mengidentifikasi karakteristik underachiever pada partisipan. Selain itu, peneliti juga menggunakan data penunjang berupa hasil tes kecerdasan dan transkrip akademik partisipan. Dari 5 calon partisipan diperoleh 2 partisipan dengan kecerdasan sangat tinggi dan mengalami underachievement (AS kategori sangat tinggi, dan DV kategori tingg. Analisis Data Peneliti menggunakan analisis tematik dalam identifikasi dan analisis suatu makna atau tema yang ditemukan pada data partisipan yang sangat luas. Page | 216 Pembentukan Task commitment Mahasiswa Underachiever Berkecerdasan Sangat Tinggi dalam Mengikuti Pembelajaran Daring Hasil Task commitment terbagi menjadi karakteristik negatif, positif, dan tidak stabil akibat faktor pembentuk tertentu . apat dilihat pada Tabel . Tabel 3 Karakteristik Task commitment partisipan Negatif Positif Mudah merasa Ulet mengerjakan tugas Mudahmerasa bosan Tidakmempunyai keinginan untuk terhadap tugas rutin. mendalami pengetahuan Tidakmempunyai minat terhadap permasalahan orang dewasa Tidak dapatmenunda keinginan untuk memperoleh rasa kesenangan Tidak Stabil Tekun mengerjakan tugas. Mampu berprestasi secara Memiliki banyak energidalam mengerjakan tugas Mampu mempertahankan pendapat menghadapi kelompok Berdasarkan pemaparan tentang karakteristik task commitment partisipan di atas, peneliti menemukan berbagai faktor pembentuk yang mempengaruhinya. Peneliti akan membahas mengenai faktor- faktor pembentuk yang memperkuat dan melemahkan task commitment partisipan yang terbagi menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor yang Melemahkan Task commitment Partisipan AS Orang tua AS memandang AS sebagai pelajar yang tidak bisa diberi tuntutan akademis yang tinggi karena rentan secara fisik dan mental. Rendahnya harapan orang tua tersebut berkontribusi terhadap rendahnya motivasi belajar AS sehingga ia mengerjakan tugas dengan asal menjawab semua soal saja. Tidak ada keinginan untuk mendalami pengetahuan lebih jauh, apalagi AS memang tidak menyukai aktivitas akademik. Belajar lebih menjadi beban baginya yang membuatnya stres. Apalagi ketika pengajar menggunakan metode mengajar yang kurang sesuai dengan gaya belajarnya. Emosi-emosi negatif yang muncul saat hendak mengerjakan tugas menjadi penghambat sehingga ia tidak terdorong untuk segera menyelesaikan tugasnya dan lebih memilih untuk melakukan Bagi AS pembelajaran daring memberikan keluangan waktu sehingga dapat melakukan refreshing dengan leluasa walaupun ada banyak tugas. Karena tidak memiliki target nilai yang tinggi, meskipun menyadari keterbatasan kemampuannya dalam menyerap informasi dan mengingat AS tetap santai dalam menyelesaikan tugasnya. Page | 217 Margalo et al. Pembentukan Task commitment Mahasiswa A. Volume 15. No. November 2024 Partisipan DV Ada inkonsistensi harapan akademik dari kedua orangtuanya yang telah bercerai terhadap DV. DV lebih memilih mengikuti harapan ibunya yang tanpa tuntutan prestasi daripada ayahnya yang mengharapkan IPK lebih dari 3,00 sehingga target nilainya hanya sebatas nilai ketuntasan minimal saja. Adanya nilai keluarga yang lebih berfokus pada hasil daripada proses juga memperkuat kebiasaan DV untuk melakukan kecurangan akademik sehingga ia enggan berprestasi dengan upaya belajarnya sendiri. Oleh karena itu DV kurang peduli dengan kualitas tugasnya, cepat bosan menghadapi tugas rutin dan kurang terdorong mendalami pengetahuan. Motivasi DV dalam mengerjakan tugas juga dipengaruhi oleh kondisi emosinya yang negatif sehingga ia sering menunda penyelesaian tugasnya. Pembelajaran daring memperkuat kebiasaan DV mencontek pekerjaan teman sehingga ia semakin kurang mampu berprestasi secara mandiri. Apalagi DV memiliki keterbatasan kemampuan dalam memahami materi sehingga makin menguatkan alasannya untuk DV memandang bahwa nilai maksimal lebih mudah diperoleh saat pembelajaran Sikap meremehkan tugas juga tampak karena ia memandang dirinya selalu berhasil menyelesaikan tugas ala kadarnya dalam waktu singkat. Oleh karena itu ia lebih memilih refreshing sebelum dirinya begadang mengerjakan tugasnya. Pengaruh dari kelompok diskusi yang dipandang DV menjadi tekanan karena terlalu rajin dan perfeksionis juga berkontribusi dalam melemahkan task commitment DV. Kelompok semacam ini membuat DV merasa tertekan dan tidak semangat mengerjakan tugas karena takut salah dan tidak sesuai dengan strategi pengerjaan tugas DV. Faktor yang Menguatkan Task Commitment Partisipan AS Pembelajaran daring bagi AS menawarkan fleksibilitas waktu belajar dan pengerjaan tugas yang sesuai dengan kebutuhannya sehingga ia dapat lebih berkonsentrasi dan bertekun dalam mengerjakan tugasnya. Karena tidak perlu berpindah tempat, ada lebih banyak waktu untuk melakukan berbagai aktivitas refreshing yang dapat memunculkan emosi positif yang lebih memotivasi dirinya untuk mengerjakan tugas. Keterbatasan kemampuan AS dalam mengingat informasi justru mendorongnya untuk langsung mengerjakan tugas yang dipandang butuh ingatan segera setelah kelas berakhir. juga mendapatkan peer group support agar ia mengerjakan tugas dengan segera dan temantemannya meyakini bahwa AS mampu menyelesaikan tugasnya, serta juga selalu bersedia Page | 218 Pembentukan Task commitment Mahasiswa Underachiever Berkecerdasan Sangat Tinggi dalam Mengikuti Pembelajaran Daring memberikan bantuan ketika AS mengalami kesulitan memahami proses pengerjaan tugas sehingga membuat AS menjadi lebih bersemangat mengerjakan tugas. Faktor pembentuk lainnya yang memperkuat task commitment adalah proses diskusi kelompok yang saling melengkapi untuk mengerjakan tugas dan bertanya pada pengajar tentang kesulitan yang mereka alami sehingga mendorong AS tidak bergantung pada teman. Dukungan sosial dari orangtua, baik dalam bentuk nasihat, mendengarkan keluh kesah AS, membelikan makanan agar AS tetap semangat mengerjakan tugas, dan memberikan solusi dalam menyelesaikan tugas mendorong AS untuk berkomitmen terhadap tugastugasnya. Sikap orang tua AS yang tidak mengutamakan prestasi namun tetap mengapresiasi prestasi AS dan bersedia untuk membiayai kuliah AS meskipun ia tidak lulus tepat waktu membuat AS tidak merasa takut, cemas, maupun tertekan ketika mengerjakan tugas atau Orang tua AS juga menanamkan nilai untuk dilarang mencontek sejak AS SD. Hal tersebut membuat AS selalu mampu berprestasi secara mandiri dalam mengerjakan tugas karena tidak ada campur tangan dari orang lain. Partisipan DV Bagi DV, pembelajaran daring memberikan waktu luang yang memungkinkannya melakukan upaya mengatasi kelemahannya yaitu rasa malas dalam mengerjakan tugas, mengikuti kelas, mendengarkan materi pembelajaran, dan mencatat materi. DV akan berusaha maksimal tanpa merasa terbatasi oleh waktu, sehingga dirinya merasa makin dapat memanfaatkan waktu yang lebih panjang untuk mengerjakan tugas. Pembelajaran daring juga memberikan fleksibilitas waktu sehingga DV dapat mengerjakan tugas semaunya. Adanya peer group support untuk mengerjakan tugas bersama dan menawarkan bantuan menyelesaikan tugas membuat DV lebih berkomitmen terhadap tugas. Dari ajakan teman tersebut. DV termotivasi untuk mengerjakan tugasnya secara bertahap walaupun sebetulnya ia lebih suka mengerjakan tugas mendekati batas waktu. DV merasa lebih semangat ketika ada teman lain untuk berpikir bersama menghadapi tugas yang ada. Ketersediaan waktu luang yang lebih banyak membantu DV mengatasi permasalahan kemampuannya yang terbatas dalam menyerap dan memahami materi serta memberi lebih banyak waktu untuk mengerjakan tugas yang diminati dengan lebih baik. Sebetulnya DV bukan tipe pelajar yang dapat mengerjakan tugas secara bertahap seperti pada saat pembelajaran luring, namun karena tugas tersebut sesuai minatnya ia berusaha memanfaatkan Page | 219 Margalo et al. Pembentukan Task commitment Mahasiswa A. Volume 15. No. November 2024 waktu yang lebih panjang untuk mengerjakan tugasnya secara bertahap mengingat ia memiliki keterbatasan kemampuan. Pembahasan Faktor pembentuk yang melemahkan Task commitment Dari hasil penelitian tampak bahwa aspirasi orangtua merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terbentuknya task commitment pada anak (Tatlah, 2. Aspirasi orang tua terhadap anaknya yang rendah mempengaruhi motivasi partisipan dalam belajar dan memunculkan strategi mengerjakan tugas yang asal selesai saja. Kurangnya tantangan dalam belajar mempengaruhi kurangnya usaha untuk menghasilkan kinerja terbaik dalam menyelesaikan tugas dalam pembelajaran (Lv et al. , 2. Berdasarkan teori expectancy value dapat dijelaskan bahwa harapan orang tua berpengaruh terhadap prestasi akademik anak dengan dimediasi oleh harapan akademik anak (Linberg et al, 2. Aspirasi orang tua juga akan mengarahkan tujuan-tujuan khusus . pecific goal. dalam bidang akademik yang sangat penting sebagai penentu perilaku belajar yang optimal (Amseke, 2. Vogel dan Human-Vogel . memperkuat bahwa task commitment didorong oleh tujuan belajar yang dimilikinya. Strategi pengerjaan tugas partisipan menunjukkan bahwa partisipan tidak mempunyai standar akademik yang tinggi sehingga melemahkan task commitment yang dimiliki. Padahal penentuan standar merupakan salah satu aspek dari task commitment (Renzulli, 2. Sebagai mahasiswa underachiever partisipan juga tidak peduli dengan kualitas penyelesaian tugasnya. Emosi negatif seperti rasa bosan merupakan aspek-aspek psikologis yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pelajar (Ouherrou et al. , 2. dan berdampak terhadap minat belajar dan perhatian dalam mengerjakan tugas sehingga melemahkan task commitment. Emosi negatif memunculkan sikap buruk dalam mengerjakan tugas pada partisipan (Chinyere & Afeez, 2. yang dapat dijelaskan melalui komponen kognitif . eyakinan atau belie. , afektif . , dan perilaku. Keyakinan yang dimiliki partisipan bahwa tugas hanya sebagai formalitas untuk memperoleh nilai, disertai dengan perasaan tertekan karena terpaksa mengerjakan tugas, memunculkan perilaku pengerjaan tugas yang negatif pula, berupa menunda pengerjaan tugas. Tampak bahwa partisipan menghindari aktivitas akademik ketika kondisi emosinya negatif karena partisipan mengikuti emosinya sebagai Page | 220 Pembentukan Task commitment Mahasiswa Underachiever Berkecerdasan Sangat Tinggi dalam Mengikuti Pembelajaran Daring penentu perilaku akademiknya. Khan . juga menambahkan bahwa underachiever mengalami kesulitan mengelola emosinya yang tidak stabil ketika dihadapkan pada situasi yang dirasa tidak nyaman sehingga mencari kesenangan lain berupa aktivitas refreshing sebagai pengalihan. Pembelajaran daring juga turut mempengaruhi motivasi belajar partisipan. Temuan Cahyani. Listiani, dan Saraswati . menjelaskan bahwa kejenuhan dan kelelahan fisik selama pembelajaran daring membuat pelajar semakin malas untuk melanjutkan pengerjaan Yuliati dan Saputra . menyatakan bahwa siswa harus mempunyai kemandirian ketika mengikuti pembelajaran daring karena tidak ada pemantauan dan pendampingan secara langsung oleh pengajar. Pengajar sering menghimbau muridnya untuk mempelajari materi pembelajaran secara mandiri yang membuat mereka kesulitan memahami materi (Asmuni. Selain itu, pelajar juga dituntut mempunyai self-control saat pembelajaran daring agar mampu menghentikan aktivitas-aktivitas lain yang tidak penting dan tidak mendesak yang dapat menghambat tujuan pembelajaran (Puteri & Dewi, 2. Tampaknya pembelajaran daring memberikan fleksibilitas waktu yang memungkinkan partisipan mengatur waktu belajarnya sesuai kebutuhannya karena tidak terikat pada ruang dan waktu. Fleksibilitas waktu ini juga memunculkan perilaku prokrastinasi. Partisipan merasa tidak siap mengerjakan tugas yang dipandang sulit karena proses pengerjaan yang rumit, menuntut cara berpikir yang kompleks, dan membutuhkan waktu lama sehingga merespon tugas yang dipandang sulit dengan menunda penyelesaiannya atau menunjukkan avoidance procrastination ( Herawati & Suyahya, 2. Perilaku prokrastinasi partisipan disebabkan oleh kesulitan mengelola waktu, yang sebetulnya dapat dicegah dengan adanya tujuan dan prioritas yang telah ditetapkan (Wolters. Won, & Hussain, 2. Namun demikian, partisipan tidak dapat menentukan skala prioritas sehingga mengerjakan tugas di akhir tenggat waktu setelah merasa puas beraktivitas refreshing (Mayangsari & Nurrachmah, 2. Tidak jarang juga mereka menjadi kekurangan waktu istirahat karena mengejar batas waktu pengumpulan tugas. Dampak tersebut menunjukkan bahwa partisipan tidak mampu mengidentifikasi tugas-tugas yang harus dikerjakan sebagai salah satu indikator task commitment. Partisipan juga tidak dapat mengendalikan untuk melakukan aktivitas refreshing disaat mempunyai banyak tugas. Peristiwa tersebut termasuk kategori delayed punishers terkait permasalahan self-control karena tidak mempertimbangkan semua tuntutan yang harus Page | 221 Margalo et al. Pembentukan Task commitment Mahasiswa A. Volume 15. No. November 2024 ditanggung sehingga hasil penyelesaian tugasnya menjadi tidak maksimal (Martin & Pear. Pengendalian diri membuat pelajar mampu mengarahkan perilakunya ke arah positif secara konsisten, sehingga tidakmengganggu tanggung jawabnya untuk mengerjakan suatu tugas (Puteri & Dewi, 2. Pendekatan pembelajaran yang tidak sesuai dengan gaya belajar AS dan pandangan tentang sulitnya suatu tugas bagi DV semakin melemahkan task commitment. Keterbatasan kemampuan dalam menyerap, memahami, dan mengingat materi, serta kesulitan dalam mengungkapkan kembali hasil belajar yang telah disimpan akan menimbulkan kesulitan pula dalam proses penyelesaian tugas (Putri. Kuntarto. Alirmansyah, 2. Selain itu. AS memiliki keterbatasan dalam mengungkapkan pandangannya pada saat menghadapi tugas Keterbatasan dalam mengungkapkan pandangan, khususnya dalam bentuk tulisan pada partisipan sejalan dengan karakteristik underachiever terkait keterbatasan dalam menulis yang membuat hasil belajar tidak optimal. Dengan adanya kemampuan partisipan yang terbatas, muncul keraguan terhadap kemampuan diri dalam belajar yang disebut sebagai academic self-efficacy (Razzaq & Samiha, & Anshari, 2. Siegle . juga menemukan bahwa keyakinan akan kemampuan seseorang untuk mengerjakan suatu tugas akan berdampak terhadap komitmennya terhadap tugas. Ketika AS merasa dirinya tidak mampu untuk mencapai hasil yang baik dalam pengerjaan tugasnya, maka ia menjadi kurang berkomitmen terhadap Partisipan memandang dirinya tidak mampu mencapai prestasi akademik yang tinggi dikarenakan pernah mengalami kegagalan akademik . astery experienc. dan mendapati bahwa prestasi akademik yang tinggi hanya mampu dicapai oleh mahasiswa yang memiliki keunggulan . icarious experienc. Padahal sebetulnya kedua partisipan tersebut memiliki kecerdasan yang sangat tinggi. Namun karena strategi belajar yang kurang tepat menjadi kurang dapat mencapai prestasi akademik yang tinggi. Adanya pandangan bahwa tugas yang dihadapi mudah dan dipandang mampu diselesaikan dalam waktu singkat membuat partisipan lebih memilih mengerjakannya sekaligus dalam waktu singkat tanpa mempedulikan kualitas tugas. Underachiever sering tergesa-gesa dalam mengerjakan tugas, terutama tugas yang dipandang mudah (Rimm. Meski demikian, mereka mudah puas terhadap hasil pengerjaan tugas yang hanya memprioritaskan semua soal terjawab atau yang penting tugas terselesaikan. Page | 222 Pembentukan Task commitment Mahasiswa Underachiever Berkecerdasan Sangat Tinggi dalam Mengikuti Pembelajaran Daring Academic self-efficacy yang rendah juga membuat partisipan enggan berusaha maksimal untuk menyelesaikan tugasnya. Self-efficacy menentukan usaha dan waktu yang akan diluangkan untuk belajar berdasarkan persepsi terhadap kemampuannya (Beck & Schmidt. Perilaku penyelesaian tugas partisipan dipengaruhi keyakinan negatif partisipan bahwa jika semua soal terjawab, walaupun jawabannya tidak tepat, tetap akan mencapai Keyakinan tersebut juga dipengaruhi oleh salah satu faktor yang mempengaruhi self-efficacy yaitu mastery experience (Bandura, 1. bahwa strategi pengerjaan tugas tersebut selalu memberikan hasil yangmembuat mereka cukup puas. Faktor pembentuk yang menguatkan Task commitment Pembelajaran daring membuat partisipan mengurungkan rencananya berhenti kuliah karena tidak lagi perlu membuang waktu dan energi seperti saat pembelajaran luring, sehingga membangkitkan motivasi untuk terus kuliah (Firmansyah, 2. Fleksibilitas waktu belajar dalam pembelajaran daring membuat partisipan dapat mengerjakan tugas sesuai strateginya tanpa tertekan karena partisipan lebih banyak mengerjakan tugas di malam hari. Partisipan tidak merasa khawatir jika tidak bisa istirahat, karena pengumpulan tugas hanya mengunggah file dan bisa istirahat di pagi harinya setelah tugas selesai. Alasan mereka mengerjakan tugas di malam hari adalah memunculkan konsentrasi yang berperan dalam meningkatkan motivasi belajar dengan energi yang positif saat mengerjakan tugas (Uno, 2. Menurut Allo . pembelajaran daring menyadarkan bahwa mengerjakan tugas dengan lingkungan individual dapat membuat lebih fokus bekerja dan mampu menuangkan ide-ide secara maksimal. Pelajar menjadi lebih fokus ketika pembelajaran daring karena suasananya yang tenang dan dapat mengatur jadwal belajar atau target penyelesaian tugas secara mandiri (Megawanti. Megawati, & Nurkhafifah, 2. Peristiwa partisipan menunjukkan bahwa adanya kesesuaian lingkungan belajar dan karakteristik pelajar menjadi salah satu keberhasilan dalam pembelajaran (Nakayama. Mutsuura, & Yamamoto, 2. Fleksibilitas waktu dan ketersediaan waktu luang yang berlebih saat pembelajaran daring, membuat partisipan dapat melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kelemahan atau permasalahan saat pembelajaran daring. Upaya tersebut disebut academic resilience sebagai kemampuan dalam mempertahankan motivasi atau kinerja ketika menghadapi suatu permasalahan akademis (Frisby Hosek, & Beck, 2020. Kumalasari. Luthfiyani, & Grasiaswaty, 2. Academic resilience partisipan tersebut berupa emotion-focused coping dan problem-focused coping. Pada emotion- focused coping, mereka mereka menerima Page | 223 Margalo et al. Pembentukan Task commitment Mahasiswa A. Volume 15. No. November 2024 tanggungjawab terhadap semua tuntutan akademik sehingga stres akademik AS dan rasa malas DV dapat teratasi dan membuatnya kembali bertanggung jawab (Lazarus & Folkman, 1. Partisipan melakukan problem-focused coping berupa planful problem solving dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan agar memunculkan emosi positif yang membuatnya mempunyai energi dalam mengerjakan tugas (Minchekar, 2. Upaya tersebut membuat Partisipan memiliki subjective well-being yang lebih baik melalui academic resilience yang membuatnya dapat beradaptasi dengan pembelajaran daring (Eva et al. , 2. Dukungan teman partisipan turut memunculkan motivasi dan produktivitas dalam mengerjakan tugas. Mereka bersemangat dalam mengerjakan tugas berdasarkan dukungan emosional temannya baik yang berupa dukungan secara verbal maupun non-verbal (Sarafino & Smith, 2. Utomo . mengatakan bahwa dukungan emosional dari teman dapat membangkitkan motivasi yangmembuat lebih bersemangat dalam menyelesaikan tugas. Selain membangkitkan semangat, bantuan yang diberikan teman sebagai bentuk dukungan instrumental juga dapat mendorong partisipan menyelesaikan tugas dengan ulet sehingga tugas dirasa lebih mudah diselesaikan (Safiany & Maryatmi, 2. Syarifa. MustamiAoah, dan Sulistiani . juga menemukan bahwa dukungan instrumental membuat pelajar merasa tidak berjuang sendirian karena kebutuhannya terpenuhi sehingga membuatnya dapat menyelesaikan tugas dengan muda. Dampak positif dukungan dari teman, dapat dijelaskan dengan teori the reward of groups bahwa partisipan memperoleh motivasi dan bantuan yang menguntungkan ketika mempunyai suatu kelompok (Forsyth, 2. Kebutuhan akan dukungan yang diperoleh kedua mahasiswa tersebut sesuai dengan tahap perkembangannya sebagai mahasiswa pada periode remaja akhir yang menganggap teman dan dukungannya sebagai aspek penting dalam kehidupannya (Kapur, 2. Khususnya untuk AS, dukungan sosial dari teman yang diperoleh memperkuat self-efficacy melaluipersuasi verbal yang diberikan teman-temannya, yang merupakan salah satu sumber self-efficacy AS. Dengan demikian AS menjadi yakin bahwa dirinya mampu melaksanakan berbagai tuntutan tugas berdasarkan dukungan verbal dari teman-temannya yang meyakini bahwa AS mampu menyelesaikan tuntutannya. Keterbatasan kemampuan partisipan dalam memahami materi menimbulkan kesulitan dalam mengerjakan tugas (Utami, 2. Namun, tersedianya waktu luang lebih saat pembelajaran daring akan memunculkan upaya mengerjakan tugas terutama pada tugas yang dipandang sulit maupun tugas yang sesuai minat (Fitriyah et. al, 2. Perilaku tersebut tidak Page | 224 Pembentukan Task commitment Mahasiswa Underachiever Berkecerdasan Sangat Tinggi dalam Mengikuti Pembelajaran Daring terjadi saat pembelajaran luring yang memberikan keterbatasan waktu sehingga tidak dapat mengerjakan tugas dalam jangka waktu yang panjang (Fitriyani. Fauzi, & Sari, 2. Kesimpulan Faktor pembentuk task commitment dalam mengikuti pembelajaran daring terbagi menjadi faktor yang melemahkan dan menguatkan task commitment. Faktor yang melemahkan task-commitment mencakup: aspirasi akademik orangtua yang rendah, kondisi emosi yang negatif, dan kurangnya keyakinan akan kemampuan untuk mencapai prestasi yang unggul. Kurangnya keyakinan akan kemampuan melemahkan usaha untuk menyelesaikan tugas dengan kualitas terbaiknya, walaupun sebenarnya dimiliki potensi yang unggul. Ketersediaan waktu luang yang berlebih karena tidak perlu berpindah tempat untuk kuliah disertai dengan rendahnya motivasi sebagai dampak dari tidak dimilikinya target atau tujuan khusus dalam belajar membuat mahasiswa underachiever berkecerdasan sangat tinggi kurang mengupayakan penyelesaian tugas secara bertahap. Mereka lebih melakukan penundaan penyelesaian tugas sampai detik terakhir pengumpulan tugas dengan mengalihkan kegiatan belajar menjadi kegiatan bersenang-senang dengan dalih untuk membangkitkan motivasi. Adanya pandangan bahwa semua tugas dapat dikerjakan dengan cepat karena tidak mempedulikan kualitas hasil kinerjanya disertai dengan karakteristik tugas yang kurang memunculkan motivasi untuk menguasai dengan baik membuat underachiever berkecerdasan sangat tinggi meremehkan tugas dan menyelesaikannya ala Faktor yang memperkuat task commitment mencakup: suasana belajar yang membangkitkan dorongan untuk belajar, fleksibilitas waktu belajar, resiliensi akademik, kondisi emosi yang positif, dukungan keluarga dan teman, pandangan tentang karakteristik tugas yang menantang dan minat terhadap tugas. Metode mengajar yang sesuai dengan kebutuhan belajar disertai dengan tugas yang menantang serta sesuai dengan minat mendorong mahasiswa untuk mengerjakan tugasnya secara bertahap, mendalami materi lebih baik dan memanfaatkan dalam penyelesaian tugas, mengupayakan kinerja yang baik untuk mencapai kualitas tugas yang baik. Fleksibilitas waktu belajar untuk mengerjakan tugas yang menantang disertai dengan resiliensi akademik membuat mahasiswa tetap bertekun menyelesaikan tugasnya. Kondisi emosi positif membangun energi positif untuk mengatasi kendala dalam menyelesaikan tugas, apalagi ditambah dengan adanya dukungan Page | 225 Margalo et al. Pembentukan Task commitment Mahasiswa A. Volume 15. No. November 2024 dari orangtua dan teman yang memberikan semangat serta membangun keyakinan bahwa tugas akan dapat diselesaikan dengan baik. Implikasi dari hasil penelitian ini mengarahkan orang tua mendiskusikan harapan terkait target prestasi akademik anak agar memunculkan motivasi belajar pada anak berdasarkan tujuan yang telah disepakati bersama. Selain itu, orang tua juga diharapkan menanamkan nilai-nilai yang sesuai dengan norma akademik seperti menghindari kecurangan akademik secara konsisten agar anak lebih memiliki integritas akademik. Proporsi tugas individual dan kelompok yang seimbang juga perlu menjadi perhatian dosen dalam pemberian tugas. Untuk membangkitkan motivasi berprestasi secara mandiri, dosen juga perlu mempertimbangkan pemilihan atau pembagian anggota kelompok yang dipilih oleh mahasiswa maupun dipilih oleh pihak yang bersangkutan dan membuat kebijakan peer evaluation pada setiap mahasiswa dan tugas kelompok. Bagi partisipan diharapkan dapat menata atau menerapkan lingkungan belajar yang memunculkan rasa nyaman dan konsentrasi untuk belajar atau mengerjakan tugas, mencari kegiatan-kegiatan yang memunculkan rasa senang atau bahagia di sela kejenuhan dalam akademik, bergabung atau mempertahankan teman-teman yang memberikan dampak positif dalam belajar, memanfaatkan fleksibilitas waktu saat pembelajaran daring dengan maksimal, dan mencari dukungan pada keluarga sesuai kebutuhan. Referensi