E-ISSN: 2528-388X P-ISSN: 0213-762X INERSIA Vol. No. Mei 2022 Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Dalam Penggunaan Tower Crane dengan Metode Analitycal Hierarchy Process (AHP) (Studi Kasus Proyek Pembangunan Gedung Teaching Industry Learning Center (TILC) Sekolah Vokasi UGM Muhammad Faris Aprizaldia. Cahyo Dita Saputroa Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Teknologi Yogyakarta. Indonesia ABSTRACT Analitycal Hierarchy Process (AHP) tower crane This study aims to identify the risk of work accidents in tower cranes. The method used in this study to determine the risk value of each risk indicator is to use the Analytical Hierarchy Process (AHP). Based on the results of calculations using the Analytical Hierarchy Process (AHP), the indicator with the highest risk value is the operation of tower cranes with a risk value of 0. 1832, tower crane installations in second place with a risk value of 0. 1209, and thirdorder dismantling tower cranes with a risk value of 0. From each indicator, it is known that the most influential sub-indicator is based on the order of the highest risk value. ABSTRAK kata kunci: Analitycal Hierarchy Process (AHP) tower crane Penelitian yang dilakukan pada proyek pembangunan Gedung Teaching Industry Learning Center (TILC) Sekolah Vokasi UGM bertujuan untuk mengidentifikasi risiko kecelakaan kerja dalam penggunaan tower crane, guna mencegah terjadinya kecelakaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui nilai risiko dari setiap indikator risiko yaitu menggunakan Analitycal Hierarchy Process (AHP). Berdasarkan hasil dari perhitungan menggunakan Analitycal Hierarchy Process (AHP), indikator dengan nilai risiko tertinggi yaitu pengoperasian tower crane dengan nilai risiko 0,1832, urutan kedua pemasangan tower crane dengan nilai risiko 0,1209, urutan ketiga pembongkaran tower crane dengan nilai risiko 0,0358. Dari masing-masing indikator diketahui sub-indikator yang paling berpengaruh berdasarkan urutan nilai risiko tertinggi. This is an open access article under the CCAeBY license. Pendahuluan Perencanaan teknis bangunan gedung negara perlu memperhatikan proses perencanaan yang menjamin pelaksanaan konstruksi fisik yang diharapkan. mutu, tepat waktu dan tepat biaya serta terhindar dari risiko kegagalan bangunan. Setiap Pembangunan Bangunan Gedung Negara, melalui tahapan harus melalui tahap perencanaan teknis baik untuk perencanaan baru, perencanaan dengan desain berulang maupun perencanaan dengan desain Perencanaan teknis bangunan gedung negara dilakukan melalui tahapan-tahapan konsepsi pra-rancangan. dan rancangan detail . Alat angkat merupakan salah satu peralatan kerja yang dibutuhkan dalam tahap pelaksanaan pembangunan gedung bertingkat, untuk meningkatkan pelaksanaan *Corresponding author. E-mail: m. farisaprizaldi@gmail. https://doi. org/10. 21831/inersia. Received 11 January 2022. Revised 05 April 2022. Accepted 27 May 2022 Available online 31 May 2022 dan produktivitas. Tower crane merupakan salah satu alat angkat yang sering digunakan pada proyek pembangunan gedung bertingkat dikarenakan ketinggian dan jangkauan tower crane dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Selain meningkatkan pelaksanaan dalam pembangunan, tower crane juga dapat memberikan dampak negatif. Penggunaan tower crane memiliki potensi bahaya tinggi, dikarenakan pekerjaan lifting merupakan salah satu pekerjaan dengan kategori risiko tinggi . igh risk Pekerjaan pengangkatan menggunakan crane dengan beban kapasitas besar diperlukannya surat izin kerja, dikarenakan pekerjaan ini memiliki risiko dan tanggunjawab yang tinggi. Hal ini harus menjadi perhatian karena pada kenyataannya masih banyak pekerjaan-pekerjaan lifting menggunakan tower crane M. Faris Aprizaldi dan Cahyo Dita S. INERSIA. Vol. No. Mei 2022 tidak memiliki izin operasional dan tidak menggunakan peralatan angkat standar yang mungkin timbul baik secara jangka pendek dan jangka panjang. Mendorong para manajer dalam mengambil keputusan untuk selal menghindari dari pengaruh terjadinya kerugian khusunya yang dari segi finansia. Memungkinkan perusahaan memperoleh risiko kerugian yang minimum. Dengan adanya konsep manajemen risiko yang dirancang secara detail maka artinya perusahaan telah membangun arah dan mekanisame secara Gagalnya penangkatan beban, rusaknya alat peralatan, putusnya tali sling pengikat, rusaknya material yang diangkat, dan kerusakan pada struktur bangunan di sekitarnya serta cidera atau bahkan terjadinya kematian adalah bagian dari rangkaian risiko yang mungkin saja terjadi di saat proses pekerjaan pengangkatan menggunakan tower crane. Pedoman sistem manajemen keselamatan kontruksi adalah sebagai berikut . : . Keselamatan kontruksi adalah segala kegiatan keteknikan untuk mendukung pekerjan kontruksi dalam mewujudkan dan keberlanjutan yang menjamin keselamatan keteknikan kontruksi, keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, keselamatan publik dan lingkungan. Sistem Manajemen Konstruksi yang selanjutnya disebut SMKK adalah bagian dari sistem manajemen pelaksanaan Pekerjaan Kontruksi dalam rangka menjamin terwujudnya Keselamatan Kontruksi. Keselamatan dan kesehatan kerja yang selanjutnya disebut K3 kontruksi adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja pada pekerjaan kontruksi. Adanya manajemen risiko dan pengendalian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. kontruksi dengan penerapan yang baik dalam penggunaan alat tersebut, tentunya akan memperlancar dalam Kelancaran dalam pembangunan, tentunya akan menjaga tepat mutu, tepat waktu dan tepat biaya serta terhindar dari risiko kegagalan Hal tersebut menjadi dasar untuk melakukan analisis risiko kecelekaan kerja terhadap penggunaan tower crane yang bertujuan untuk mengetahui indikator risiko, nilai risiko tertinggi dan untuk merencanakan pengendalian bahaya dalam penggunaan tower crane pada proyek pembangunan gedung bertingkat. Studi Tugas Akhir ini dilakukan di Proyek Pembangunan Gedung Teaching Industry Learrning Center (TILC) Sekolah Vokasi UGM. Keselamatan dan kesehatan kerja (K. kontruksi adalah segala kegiatan untuk jamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja pada pekerjaan konstruksi. Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan (SMK. adalah bagian dari sistem manajemen organisasi pelaksanaan pekerjaan kontruksi dalam rangka pengendalian risiko K3 pada setiap pekerjaan kontruksi bidang pekerjaan umum. Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup bangunan gedung, bangunan sipil, instalasi mekanikal dan elektrikal serta jasa pelaksanaan lainnya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain dalam jangka waktu tertentu. Diterapkanya manajamen risiko disuatu perusahaan, ada beberapa manfaat yang akan diperoleh, yaitu . Perusahan memiliki ikuran kuat sebagai pijakan dalam mengambil setiap keputusan, sehingga para manajer menjadi lebih berhati-hatidan mampu menempatkan ukuran-ukuran dalam berbagai . Mampu memberi arah bagi suatu perusahaan dalam melihat pengaruh-pengaruh yang Teknik analisis data adalah prosess mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan suatu uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Analitycal Hierearchy Process (AHP) . Metode Penelitian menggunakan metode AHP dikarenakan AHP merupakan metode yang memungkinkan untuk melakukan analisis dan mengambil keputusan dengan mengkombinasikan pertimbangan dan nilainilai pribadi secara logis . Metode ini berdasarkan atas input yang digunakan dalam AHP, yaitu kualitatif . , maka model ini pun dapat mengolah hal-hal kualitatif, disamping Dalam praktiknya AHP juga tidak memerlukan waktu. Penelitian dilakukan pada Proyek Pembangunan Gedung Teaching Industry Learning Center (TILC) Universitas Gadjah Mada terletak di Blimbingsari Caturtunggual Kecamatan Depok. Kab. Sleman. Yogyakarta. Penelitian ini menganalisis risiko kecelekaan kerja dalam penggunaan tower crane, kemudian dicari kriteria prioritas pada indikatorindikator yang sudah divalidasi dan relibilatasi. Pada penentuan nilai dari setiap indikator dan INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Faris Aprizaldi dan Cahyo Dita S. subindikator dilakukan pada saat penyebaran angket Hasil dari penyebaran angket kuisoner kemudian dianalisis dan dicari nilai risiko tertinggi menggunakan metode AHP. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan analisis prioritas pada indikator dan subindikator, input dari metode AHP merupakan persepsi dari seorang ahli atau berpengalaman yang dimana memang sifat dari penelitian ini berupa kualitatif deskriptif. Data primer adalah data yang diperoleh secara Data ini didapatkan dari hasil wawancara dari narasumber dan hasil dari observasi di Data primer yang digunakan pada penelitian ini mengenai risiko kecelakaan kerja dalam penggunaan tower crane, yang didapatkan dari penyebaran angket kuisoner AHP dan wawancara dengan beberapa staff/karyawan pada Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari data hasil penelitian secara langsung yang dilakukan di Laboratorium Bahan Perkerasan Jalan Kampus 2 Universitas Teknologi Yogyakarta serta PT Suradi Sejahtera Raya. Data sekunder diperoleh dari hasil peneliti-peneliti terdahulu dan sumber-sumber lain yang terkait dengan Analisis Perbandingan Agregat Seragam 13,2 mm dan 19 mm Terhadap Karakteristik Marshall. Data primer dan data sekunder dapat diuraikan sebagai berikut: Data Sekunder Data sekunder adalah data yang didapatkan bukan dari penelitian pribadi atau yang telah ada untuk melengkapi data primer. Data ini didapatkan dari studi literatur, buku arau jurnal yang berhubungan dengan objek penelitian ini. Data sekunder pada penelitian ini digunakan sebagai pelengkap untuk dikorelasikan dengan data primer dan sebagai pengangan dalam melakukan analisis data menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP). Data Primer Hasil dan Pembahasan Gambar 1. Hirarki indikator risiko hasil penilaian group discussion. Maka perhtiungan rata-rata matriks banding berpasangan sebagai (Y1 x Y2 x Y3 x A A Y. 1/n . = Responden 1 = Responden 2 = Responden 3 = Responden n Perhitungan Nilai Prioritas dan Konsistensi Matriks Matriks Banding Berpasangan Berdasarkan metode AHP dari indikator dan subindikator tersebut dibuat pairwise comparison . atriks banding berpasanga. , untuk melihat perbandingan dari tiap indikator dan sub-indikator tersebut, dari hasil pairwise comparison dapat diketuahui mana yang lebih penting. Perhitungan Rata-rata Matriks Banding Berpasangan Dalam penelitian ini matriks banding perbandingan diambil dari tiga responden, sehingga perlu dilakukan perhitungan rata-rata untuk mendapatkan M. Faris Aprizaldi dan Cahyo Dita S. INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Untuk mendapatkan tingkat risiko diperlukan melakukan perhitungan guna mendapatkan nilai prioritas . riority valu. Responden dalam konsistensi, sehingga setelah nilai bobot diketahui dicari rasio konsistensi nya. Utrutan perhitungan nilai prioritas dan konsistensi nya sebagai berikut: Perhitungan normalisasi rata-rata matriks banding berpasangan Hasil perhitung rata-rata matriks banding berpasangan dinormalisasi sehingga dapat dicari nilai prioritas tiap indikator dari hasil kuisoner Perhitungan normalisasi nya sebagai berikut: ycAya Untuk mengetahui apakah responden memiliki konsisten dalam melakukan perbandingan antar indikator, maka perlu dicari nilai rasio konsistensi dengan syarat CR O 10% . Berikut perumusan urutan AHP dalam mengukur konsistensi penilaian. Perhitungan Matriks vektor atriks perhitungan rata Oe rata bandin. cyycycnycuycycnycyc ycycaycoycyc. Ocya Consistency Index (CI) CI = yuIycoycaycoycOeycu ycuOe1 Keterangan: yuIycoycaycoyc = Nilai eigen maksimum = Jumlah Indikator Consistency Ratio (CR) CR = yaya ycIya Keterangan: CI = Consistency Index RI = Random Index = Responden 1 = Responden 2 = Responden 3 = Jumlah indikator Perhitungan Rasio Konsistensi Orde Matriks Jumlah konsistensi vektor = Jumlah indikator Perhitungan Priority Value Setelah hasil rata-rata matriks banding berpasangan dinormalisasi dapat dicari nilai prioritas dengan mencari rata-rata dari baris tiap indikator atau subindikator. (Y1 Y2 Y3 . Nilai Eigen Maksimum . uIycoycaycoy. yuIycoycaycoyc = = Indikator = Nilai setiap sel rata-rata matriks banding = Jumlah nilais sel kolom indikator rataOcya rata matriks banding berpasangan Priority Value = Konsistensi Vektor Matriks vektor priority value Tabel 1 Nilai Random Index . 0,00 0,00 0,58 0,90 Menentukan Nilai Risiko Setelah diketahui jawaban dari responden memiliki konsisteni, kemudian dapat dicari nilai risiko dari hasil perkalian nilai prioritas terhadap probabilitas risiko dengan dampak risiko. Nilai risiko ini yang menentukan tahap penggunaan tower crane mana yang memilki nilai risiko tertinggi. Tingkat risiko = ycEycI ycu yaycI 1,12 1,24 1,32 1,41 = Priority value probabilitas risiko = Priority value dampak risiko Berdasarkan perumusan diatas nilai risiko didapatkan dari perkalian nilai prioritas probabilitas dengan nilai prioritas dampak. Diketahui hasil nilai risiko sebagai berikut: INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Faris Aprizaldi dan Cahyo Dita S. Tabel 2. Nilai Risiko Indikator Pemasangan Tower Crane Pengoperasian Tower Crane Nilai Risiko 0,1209 0,1832 0,1832 Pembongkaran Tower Crane 0,0358 Sub Indikator Nilai Risiko Tower crane miring 0,0229 Pekerja jatuh pada saat pemasangan 0,0575 Mast section jatuh 0,0217 Counterweight Jatuh 0,0937 Jib jatuh 0,0238 Pada saat sleewing menabrak/menyrempet Beban yang diangkat terjatuh Operator terjatuh saat naik/turun dii acces ladder Pekerja/Alat kejatuhan beban Jib patah Hydraulic climbing crane macet/jatuh Pekerja jatuh pada saat pembongkaran Mast section jatuh Counterweight Jatuh Jib jatuh 0,0663 0,0503 0,0060 0,0848 0,0183 0,0134 0,0187 0,0463 0,0850 0,0523 pembongkaran tower crane dengan nilai risiko 0,0358. Pada sub-indikator pada pemasangan tower crane yang paling berpengaruh adalah counterweight jatuh dengan nilai risiko 0,0937, sedangkan sub-indikator yang paling berpengaruh pada indikator pengoperasion tower crane yaitu pekerja atau alat kejatuhan beban dengan nilai risiko 0,0848 dan untuk pembongkaran tower crane sub-indikator yang paling berpengaruh adalah counterweight jatuh dengan nilai risiko 0,0850 . Dengan ini didapatkan indikator yang mempunyai nilai risiko tertinggi pada risiko kecelakaan kerja dalam penggunaan tower crane pada pembangunan Gedung TILC SV UGM. Pembahasan Setelah dilakukan analisis dari hasil kuisoner dari ketiga responden menggunakan Analitycal Hierachy Process (AHP), didapatkan hasil konsisten pada penilaian yang dilakukan oleh responden. Nilai risiko diketahui dari hasil perkalian nilai prioritas probabilitas dengan nilai prioritas dampak. Setelah diketahui nilai risiko dapat diketahui rangking risiko dengan cara mengurutkan nilai terbesar ke yang Respom risiko diberikan untuk subindikator, respon risiko disini merupakan usulan pengendalian atay pencegahan terhadap risiko kecelekaan kerja dalam penggunaan tower crane pada Proyek Pembangunan Gedung TILC SV UGM. Respon Risiko Respon risiko merupakan rencana untuk melakukan tanggapan dan tindakan terhadap risiko, yang bertujuan untuk mengurangi ancaman risiko pada Risiko-risiko penting yang sudah diketahui perlu ditindak lanjuti dengan respon yang dilakukan oleh kontraktor dalam menangani risiko tersebut Respon risiko pada penelitian ini dilakukan berdasarkan penyebabrisiko kecelakaan yang terjadi. Respon risiko ini bertujuan untuk memberikan usulan pengendalian terhadap tiap sub-indikator risiko kecelekaan kerja dalam penggunaan tower Diharapkan usulan pengendalian ini dapat dijadikan pedoman pelaksanaan pekerjaan atau menjadi Standar Operasional Pekerjaan (SOP), sehingga usulan pengendalian ini dapat mengurangi dan mencegah risiko kecelakaan kerja. Berikut Nilai Risiko Tertinggi dan Rangking Risiko Rangking risiko dalam penelitian ini menunjukan rangking indikator dan sub-indikator berdasarkan nilai risiko yang diketahui. Rangking indikator ditentukan berdasarkan nilai risiko tertinggi ke Ranking sub-indikator berdasarakan nilai risiko tertinggi ke terkecil pada indikator yang sama, sehingga dapat diketahui subindikator yang paling berpengaruh pada setiap Analisis data menggunakan AHP indikator risiko yang mendapatkan nilai risiko tertinggi adalah pengoperasian tower crane dengan nilai risiko 0,1832, urutan selanjutnya pemasangan tower crane dengan nilai risiko 0,1209, dan terakhir M. Faris Aprizaldi dan Cahyo Dita S. INERSIA. Vol. No. Mei 2022 merupakan usulan pengendalian bahaya terhadap risiko yang diberikan: Tabel 3. Usulan Pengendalian Risiko Kecelakaan Kerja Pemasangan Tower Crane Sub-Indikator Usulan Pengendalian Memperhitungkan kekuatan Memilih dan menentukan bahan bagian utama menerima beban sesuai persyaratan Pemenuhan Persyaratan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Tower Crane miring Perhitungan kekuatan kontruksi Pembuatan gambar rencana kontruksi/instalasi dan cara Pekerja jatuh pada saat Mast section jatuh Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Berbadan sehat menurut keterangan dokter Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Memperoleh penerangan yang Undang-Undang RepublikIndonesia No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja Berpengalaman dan memiliki lisensi K3 dan buku kerja Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Menggunakan sabuk tubuh . ody harnes. yang sesuai Peraturan Menteri Ketengakerjaan Republik Indonesia No 9 Tahun 2016 Tentang K3 dalam Pekerjaan pada Ketinggian Memberikan pengaman pada tempat kerja Peraturan Menteri Ketengakerjaan Republik Indonesia No 9 Tahun 2016 Tentang K3 dalam Pekerjaan pada Ketinggian Mast harus terbuat dari baja dengan faktor keamanan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Sub-Indikator Faris Aprizaldi dan Cahyo Dita S. Usulan Pengendalian Teknisi pemasangan erbadan sehat menurut keterangan Pemenuhan Persyaratan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Pondasi alat angkat harus kuat, rata, stabil dan memenuhi Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Pemasangan dilakukan oleh orang berpengalaman Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Baut pengikat digunakan pada seluruh komponen harus sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Counterweightharus terbuat dari baja dengan faktor keamanan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Teknisi pemasangan berbadan sehat menurut keterangan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Pemasangan dilakukan oleh orang berpengalaman Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Baut pengikat digunakan pada seluruh komponen harus sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Jib harus terbuat dari baja dengan faktor keamanan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Counterweight jatuh Jib jatuh M. Faris Aprizaldi dan Cahyo Dita S. Sub-Indikator Pada saat sleewing menabrak/menyerempet gedung, orang atau benda INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Usulan Pengendalian Pemenuhan Persyaratan Teknisi pemasangan berbadan sehat menurut keterangan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Pemasangan dilakukan oleh orang berpengalaman Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Baut pengikat digunakan pada seluruh komponen harus sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Operator harus menaikan kait secukupnya agar tidak menyentuh orang dan benda Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Pandangan operator di kabin maupun di ruang kendali tidak boleh terhalang Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Undang-Undang RepublikIndonesia No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Memperoleh penerangan yang Operator harus berpengalaman dan memiliki surat ijin Beban yang diangkat jatuh Tali kawat mempunyai faktor kemanan paling sedikit lima kali beban maksimum Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Tali kawat baja tidak boleh memiliki sambungan, disimpul atau dibelit\ Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Pengikatan barang sesuai dengan prosedur Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Juru ikat melakukan pengecekan terhadap kondisi pengikatan aman Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Rigger harus mempunyai pengalaman, dan berbadan sehat Operator terjatuh saat naik/turun acces ladder Berbadan sehat menurut keterangan dokter Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Sub-Indikator Faris Aprizaldi dan Cahyo Dita S. Usulan Pengendalian Melakukan perawatan dan pemerikasaan terhadap komponen pesawat angkat Menggunakan body harness Pemenuhan Persyaratan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Ketengakerjaan Republik Indonesia No 9 Tahun 2016 Tentang K3 dalam Pekerjaan pada Ketinggian Kekuatan mobile crane disesuaiakan terhadap beban yang diangkat Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Wajib memasang pembatas daerah kerja tower crane Ketengakerjaan Republik Indonesia No 9 Tahun 2016 Tentang K3 dalam Pekerjaan pada Ketinggian Tanda bahaya diberi tanda yang mudah terlihat dan dipahami Ketengakerjaan Republik Indonesia No 9 Tahun 2016 Tentang K3 dalam Pekerjaan pada Ketinggian Segera membuntyikan tanda peringatan dan menurunkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Menhindar pengangkatan muatan melalui atau melintasi Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Jib harus terbuat dari baja dengan faktor keamanan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Memilih dan menentukan bahan bagian utama menerima beban sesuai persyaratan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Alat bantu angkat dilengkapi keterangan kapasitas beban kerja aman yang diizinkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Pengoperasian alat angkat harus dilakukan dengan kualifiksi sesuai jenis dan kapasitas pesawat angkat Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Teknisi bertanggung jawab pemeliharaan dan pemeriksaan komponen pesawat angkat Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Pekerja atau alat kejatuhan Jib patah Htdrauic cimbing crane macet/jatuh M. Faris Aprizaldi dan Cahyo Dita S. Sub-Indikator INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Usulan Pengendalian Pemenuhan Persyaratan Melakukan pencatatan dengan menggunakan log book untuk pemeriksaan pengujian Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Instalasi listrik harus sesuai dan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Sistem hidraulik tidak terdapat kebocoran, terawat, mempunyai faktor keamanan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Undang-Undang RepublikIndonesia No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Peraturan Menteri Ketengakerjaan Republik Indonesia No 9 Tahun 2016 Tentang K3 dalam Pekerjaan pada Ketinggian Peraturan Menteri Ketengakerjaan Republik Indonesia No 9 Tahun 2016 Tentang K3 dalam Pekerjaan pada Ketinggian Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Berbadan sehat menurut keterangan dokter Memperoleh penerangan yang Pekerja jatuh pada saat Berpengalaman dan memiliki lisensi K3 dan buku kerja Menggunakan sabuk tubuh . ody harnes. yang sesuai Memberikan pengaman pada tempat kerja Mast harus terbuat dari baja dengan faktor keamanan Teknisi pembongkaran berbadan sehat menurut keterangan dokter Mast section jatuh Pondasi alat angkat harus kuat, rata, stabil dan memenuhi Pemasangan dilakukan oleh orang berpengalaman Kekuatan mobile crane disesuaiakan terhadap beban yang diangkat Counterweightharus terbuat dari baja dengan faktor keamanan Teknisi pembongkaran berbadan sehat menurut keterangan dokter Counterweight jatuh Pemasangan dilakukan oleh orang berpengalaman Baut pengikat digunakan pada seluruh komponen harus sesuai INERSIA. Vol. No. Mei 2022 Sub-Indikator Faris Aprizaldi dan Cahyo Dita S. Usulan Pengendalian Jib harus terbuat dari baja dengan faktor keamanan Teknisi pembongkarann berbadan sehat menurut keterangan dokter Jib jatuh Pembongkaran dilakukan oleh orang berpengalaman Baut pengikat digunakan pada seluruh komponen harus sesuai Pemenuhan Persyaratan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No PER. 09/MEN/VII/2010 Tentang dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Indikator yang memiliki nilai risiko tertinggi adalah counterweight jatuh pada indikator pemasangan tower crane. Rekomendasi perbaikan yang dapat diberikan berdasarkan pemenuhan persyaratan yang diketahui untuk pencegahan atau mengendalikan kecelakaan kerja yaitu pemasangan dilakukakn oleh orang yang sudah berpengalaman, teknisi berbadan sehat dan bahan terbuat dari baja dan memiliki faktor Simpulan Dari hasil analisis yang telah dilakukan mengenai risiko kecelakaan kerja dalam penggunaan tower crane pada pembangunan gedung bertingkat, dapat disimpulkan sebagai berikut: . Indikator risiko kecelakaan kerja dalam penggunaan tower crane yang terdiri dari: . Pemasangan tower crane, dengan sub-indikator tower crane miring, pekerja jatuh pada saat pemasngan, mast section jatuh, couterweight jatuh dan jib jatuh. Pengoperasian tower crane, dengan sub-indikator pada saat sleewing menyerempet bangunan, beban yang diangkat jatuh, operator terjatuh saat naik atau turun acces ladder, pekerja atau alat kejatuhan bebn dan jib patah. Pembongkaran tower crane dengan sub-indikator hydraulic climbing tower crane macet atau jatuh, pekerja jatuh pada saat pemasngan, mast section jatuh, couterweight jatuh dan jib jatuh. Indikator yang memiliki nilai tertinggi pada tahap pengoperasian tower crane dengan nilai risiko sebesar 0,1832, sedanglan untuk sub-indikator yang memiliki nilai tertinggi adalah counterweiht jatuh pada indikator pemasangan tower crane dengan nilai risiko sebesar 0,0937. Usulan pengendalian bahaya dalam penggunaan Tower Crane yang terdiri dari: . Indikator yang memiliki nilai risiko tertinggi adalah pengoperasian tower crane. Rekomendasi perbaikan berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 8 Tahun 2020 Tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut yang dapat diberikan untuk pencegahan atau mengendlikan kecelakaan kerja pada pengoperasian tower crane, yaitu pemeriksaan dan pengujian, penyediaan prosedur pemakaian/pengopersian dan pemakaian sesuai dengan jenis dan kapasitas. Sub- Daftar Rujukan . Mulyani. Analisa Risiko Kecelakaan kerja Dengan Menggunakan Metode Domino Pada Pembangunan Proyek Apartemen Grand Taman Melati Margonda-Depok. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2016. Pradana. Penentuan Risiko Proyek Kontruksi Swakelola Dengan Integrasi Treshold Risk Dan Ahp (Analitycal Hirarchy Proces. Studi Kasus: Pembangunan Fakultas Agama Islam Universitas Islam Indonesia. Universitas Teknologi Yogyakarta, 2019. Nazir. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia, 2013. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Bandun: Remaja Rosdakarya, 2006. Falatehan. Analitycal Hierarchy Process (AHP) Teknik Pengambilan Keputusan Untuk Pembangunan Daerah. Yogyakarta: Indomedia Pustaka, 2016. Flanagan. R Norman. Risk Management and Construction. London: Blacwell Science,