[VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] KORELASI SELF EFFICACY DENGAN PERILAKU MENYONTEK PADA SISWA Ismalia Nadiya Devi1. Tri Suyati2. M A Primaningrum Dian3 1,2Universitas PGRI Semarang e-mail: *1devinadyatama@gmail. com, 2trisuyati_48@yahoo. dian@gmail. Abstract. Research on the relationship of self-efficacy with cheating behavior in students is motivated by that students often cheat during tests or Many ways used by students to cheat include looking for answers on the internet, asking questions with friends and some opening small notes. The reason students cheat is because the material is poorly understood, unsure of their own answers so they ask friends, afraid of getting less than optimal results and learning with the speeding system overnight or even have not learned. This research is a type of quantitative research. Ex post facto research method with correlational approach. The population used in this study was students of SMA Negeri 2 Kendal class XI. What is used as a try out is class XI IPS 3. While the research samples were in class XI MIPA 1. XI MIPA 3. XI MIPA 4. XI IPS 1. XI IPS 2 and XI IPS 6. The sampling used is the cluster random sampling technique. This research data was obtained through the student self-efficacy scale and the student cheating behavior scale. The result of the correlation analysis between self-efficacy and student cheating behavior is that the relationship between selfefficacy and student cheating behavior of 0. 729 is in a strong relationship so that it can be concluded that Self Efficacy with cheating behavior has a strong Based on the results of this study, suggestions that can be conveyed are to reduce student cheating behavior and BK teachers provide treatment or action. To be able to increase students' self-efficacy. Keywords: Self efficacy. Cheating Behavior [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Abstrak. Penelitian hubungan Self efficacy dengan perilaku menyontek pada siswa dilatarbelakangi oleh bahwa siswa sering menyontek pada saat sedang ulangan ataupun ujian berlangsung. Banyak cara yang digunakan peserta didik untuk menyontek diantaranya mencari jawaban di internet, bertanya dengan teman dan ada juga yang membuka catatan kecil. Alasan peserta didik menyontek adalah karena materi yang kurang dipahami, tidak yakin dengan jawaban sendiri sehingga bertanya dengan teman, takut mendapatkan hasil yang kurang maksimal dan belajar dengan sistem kebut semalam atau bahkan belum belajar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif. Metode penelitian ex post facto dengan pendekatan Populasi yang dipakai dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 2 Kendal kelas XI. Yang digunakan sebagai try out yaitu kelas XI IPS 3. Sedangkan sampel penelitian di kelas XI MIPA 1. XI MIPA 3. XI MIPA 4. XI IPS 1 XI IPS 2 dan XI IPS 6. Sampling yang digunakan adalah Teknik cluster random sampling. Data penelitian ini diperoleh melalui skala self efficacy siswa dan skala perilaku menyontek siswa. Hasil analisis korelasi antara self efficacy dengan perilaku menyontek siswa ialah hubungan self efficacy dengan perilaku menyontek siswa sebesar 0,729 berada pada hubungan yang kuat sehingga dapay diambil kesimpulan bahwa Self Efficacy dengan perilaku menyontek memiliki hubungan yang kuat. Berdasarkan hasil penelitian ini saran yang dapat disampaikan adalah mengurangi perilaku menyontek siswa dan guru BK memberikan treatment atau Untuk dapat meningkatkan self efficacy siswa. Kata kunci: Self efficacy. Perilaku Menyontek PENDAHULUAN Di era globalisasi kini menuntut setiap individu untuk mampu bersaing disegala bidang. Kompetisi yang terjadi tidak hanya antar individu dalam [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . negeri saja, akan tetapi juga antar bangsa dan negara. Hal ini tentunya memaksa dunia pendidikan di Indonesia untuk mampu mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten agar mampu bersaing dengan bangsa dan negara lain disegala bidang. Pendidikan merupakan sebuah sarana berpengaruh dalam perkembangan seluruh aspek kehidupan. Dalam hal ini keyakinan terhadap kemampuan diri merupakan kunci Orang kmmampuan dirinya akan mampu menentukan tujuan hidupnya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Seseorang dengan keyakinan terhadap kemampuan dirinya akan berusaha untuk mencapai tuuan hidup yang sudah ditentukan dengan baik dan terarah. Self efficacy adalah penilaian seseorang tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan perilaku tertentu atau mencapai tujuan tertentu (Suba, 2018:. Individu dengan self efficacy yang tinggi akan menunjukkan upaya dan ketekunan yang lebih besar untuk mencapai tujuannya. Salah satunya saat akan mengerjakan tugas-tugas akademik atau saat menempuh ujian Individu yang memiliki kepercayaan terhadap kemampuan dirinya tentu akan lebih mempersiapkan diri, lebih giat dalam belajar untuk memperoleh hasil dan siap dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Kecenderungan berbuat curang dalam kegiatan akademis atau sering disebut dengan kecurangan akademik kerap kali terjadi di dunia pendidikan. Kecurangan akademik adalah tindakan apapun yang melanggar aturan yang ditetapkan secara administrative pada saat ujian dan penyelesaian tugas yang tekah diberikan, perilaku apapun yang memberikan siswa keuntungan yang tidak adil terhadap siswa lain dalam ujian maupun tugas, atau tindakan tersebut dapat mengurangi keakuratan untuk menilai kemampuan siswa dalam ujian atau pengerjaan tugas (Cizek, 2003: . Dari definisi tersebut dijelaskan bahwa kecurangan merpakan perbuatan yang menggunakan cara- [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . cara yang tidak sah untuk mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis. Berdasarkan data Indicators of School Crime and Safety 2016, yang rilis oleh National Center for Education Statistic . menyebutkan bahwa Indonesia merupakan salah satu diantara negara yang memiliki darurat tentang perilaku bermasalah di sekolah. Persentasenya yaitu 87% siswa memiliki perilalku bermasalah diantara pelanggaran kedisiplinan salah satunya yaitu ketidakjujuran akademik (Fitria, 2. Kecurangan akademik terjadi pada saat ulangan harian, ujian, maupun pada saat diberikan tugas pekerjaan rumah (PR). Namun, kecurangan akademik di Indonesia sendiri dan terjadi hampir setiap tahun banyak ditemukan pada kasus-kasus selama Ujian Nasional. Dari beberapa kasus di atas maka dapat diketahui bahwa perilaku menyontek dapat dilakukan oleh siapapun untuk mendapatkan nilai yang tinggi dan mengurangi kemungkinan mendapat nilai buruk. Oleh karena itu para peserta didik berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai tinggi. Kenyataan lainnya terdapat fenomena di kalangan peserta didik yang menunjukkan adanya kecenderungan mencontek. Hasil observasi peneliti saat mendapatkan tugas untuk melakukan penelitian di SMA N 2 Kendal, salah satu kelas bersamaan dengan ujian harian. Peneliti mendapati siswa yang sedang bekerjasama dalam mencontek dengan menengok ke belakang dan menggunakan jari-jari tangan untuk kode jawaban tertentu. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan terhadap peserta didik di SMA N 2 Kendal pada tanggal 30 September 2022 di lokasi penelitian, didapatkan hasil bahwa sebagian besar siswa mengaku pernah melakukan tindakan menyontek dan pernah melihat teman-temannya menyontek, baik saat ujian berlangsung atau saat mengerjakan tugas dari guru (Sumber: Wawancara Peserta Didik SMAN 2 Kendal :30 September Berdasarkan hasil pra penelitian peserta didik mengatakan bahwa peserta didik sering menyontek pada saat sedang ulangan ataupun ujian [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . Banyak cara yang digunakan peserta didik untuk menyontek diantaranya mencari jawaban di internet, bertanya dengan teman dan ada juga yang membuka catatan kecil. Alasan peserta didik menyontek adalah karena materi yang kurang dipahami, tidak yakin dengan jawaban sendiri sehingga bertanya dengan teman, takut mendapatkan hasil yang kurang maksimal dan belajar dengan sistem kebut semalam atau bahkan belum Adapun hasil wawancara yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa sebanyak 65% siswa dapat dikatakan melakukan kecurangan akademik saat proses belajar mengajar berlangsung khususnya ketika sedang mengadakan ujian. Adapun alasan siswa melakukan kecurangan akademik yaitu takut mendapat nilai buruk, tidak paham dengan soal dan materinya, tidak yakin dengan jawabannya sendiri dan tidak mempersiapkan diri dalam Tentunya siswa memiliki cara sendiri untuk melakukan kecurangan hasil dari wawancara yang peneliti lakukan siswa mengakui cara saat siswa melakukan kecurangan akademik yaitu dengan mencari jawaban via handphone, bertanya dengan teman sebangkunya dan membuka catatan . asil wawancara terhadap peserta didik SMA N 3 Kenda. LANDASAN TEORI Self Efficacy . Pengertian Self Efficacy Secara umum, self efficacy adalah tingkat keyakinan individu mengenai seberapa besar kemampuannya dalam mengerjakan suatu tugas tertentu untuk mencapai hasil tertentu (Woolfolk, 2008: . Sementara menurut Bandura . 8: . menyatakan bahwa self efficacy adalah keyakinan individu terhadap kemampuan peserta didik yang akan mempengaruhi cara individu dalam bereaski terhadap situasi dan kondisi tertentu. Maka bisa disimpulkan bahwa semakin tinggi self efficacy, semakin tinggi pula keyakinan diri tentang kemampuannya untuk mencapai keberhasilan. [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Menurut Subagyo . 4: . Self efficacy merupakan suatu bentuk kepercayaan yang dimiliki seseorang terhadap kapabilitas masing-masing untuk meningkatkan prestasi kerjanya. Self efficacy dapat berupa bagaimana perasaan seseorang, cara berpikir, motivasi diri dan keinginan memiliki terhadap sesuatu. Menurut Park dan Kim . 8: . menjelaskan bahwa self efficacy sangat penting bagi pelajar untuk mengontrol motivasi mencapai harapan keberhasilan. Proses Pembentukan Self Efficacy Meningkatkan Self efficacy pada setiap individu adalah hal yang penting karena self efficacy berperan dalam bagaimana perasaan seseorang tentang diri sendiri dan apakah akan berhasil mencapai tujuan hidup atau tidak. Konsep self efficacy menekankan peran pembelajaran observasional, pengalaman sosial, dan determinisme timbal balik dalam pengembangan kepribadian. Bandura . memaparkan proses pembentukan self efficacy, antara lain proses kognitif, proses motivasi, proses afketif dan proses seleksi. Berikut akan dijelaskan uraian lengkap dari proses self efficacy. Proses Kognitif Semakin kuat self efficacy yang dirasakan, semakin tinggi tujuan dan komitmen yang akan ditetapkan. Sebagian besar, tindakan dilakukan berdasarkan pemikiran. Keyakinan orang sebagai bentuk dari antisipasi peserta didik untuk membangun dan berlatih. Peserta didik yang memiliki self efficacy yang tinggi akan membuat rencana yang didalamnya terdapat panduan positif untuk menunjang kinerja peserta didik. Peserta didik yang meragukan keyakinan akan memikirkan rencana dan banyak hal yang salah oleh karena itu, sulit mencapai keberhasilan bila memiliki keraguan. Proses Motivasi Self efficacy memainkan peranan dalam pengaturan motivasi. Orang memotivasi diri dan membimbing tindakan peserta didik untuk mengantisipasi tugas melalui latihan. Peserta didik membentuk keyakinan tentang apa yang bisa peserta didik lakukan, mengantisipasi kemungkinan yang dapat terjadi [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . melalui tindakan dan menetapkan tujuan peserta didik serta merencanakan program untuk masa depan. Proses Afektif Proses afektif adalah keyakinan orang terhadap kemampuan peserta didik dalam mengatasi stres dan depresi dalam situasi yang sulit. Self efficacy memainkan peran penting dalam kecemasan. Orang yang percaya bahwa peserta didik dapat mengontrol diri, maka pola pikir peserta didik tidak akan Tapi orang yang yakin bahwa peserta didik tidak dapat mengontrol diri sendiri, akan mengalami kecemasan. Peserta didik selalu memikirkan kekurangan peserta didik, melihat lingkungan penuh dengan bahaya dan semakin parah dengan khawatir bila sesuatu akan terjadi. Pemikiran sperti itu akan menyusahkan dan merusak peserta didik. Dalam hal ini, self efficacy akan memberikan pengaruh terhadap kecemasan. Semakin tinggi self efficacy, semakin berani orang menghadapi tantangan. Kecemasan tidak hanya dipengaruhi oleh self efficacy tetapi juga dipengaruhi oleh pikiran peserta didik. Proses Seleksi Orang adalah bagian dari produk lingkungan, oleh karena itu, self efficacy membentuk arah kehidupan dan mempengaruhi jenis kegiatan orang dalam Orang menghindari aktivitas diluar batas kemampuan peserta Tapi peserta didik mau melakukan tugas menantang dan menilai yang sekiranya sesuai dengan kemampuan peserta didik. Melalui pilihan yang dibuat, orang akan berkompetisi dalam menentukan program. Penelitian Lunenburg . mempengaruhi keinginan untuk belajar dan menentukan tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang. Model teman sebaya berdampak pada self-efficacy dan prestasi yang lebih tinggi daripada model guru. Penelitian yang dilakukan oleh McCoach . 7: . menunjukkan bahwa terdapat peningkatan self-efficacy yang signifikan dengan perubahan gaya instruksional guru dalam proses pembelajaran, yaitu dengan pelatihan dan usaha. Berdasarkan uraian di atas [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . maka proses-proses self-efficacy adalah . Proses kognitif, . Proses motivasi, . Proses afeksi, . Proses seleksi, . hasil Observasi. Dimensi Self Efficacy Untuk meningkatkan self efficacy, perlu upaya untuk memberdayakan dari salah satu atau beberapa kombinasi dari empat faktor self efficacy yaitu melalui pengalaman keberhasilan masa lalu, pengalaman keberhasilan yang dicapai orang lain, persuasi sosial, dan memodifikasi keadaan emosi. Apabila faktorfaktor tersebut diberdayakan dengan tepat dan berkesinambungan maka hasil yang diharapkan akan tercapai, sehingga usaha siswa dapat meningkat. Menurut Bandura . 7: . , ada beberapa faktor yang mempengaruhi selfefficacy yaitu: Self efficacy yang dimiliki setiap manusia berbeda-beda, terletak pada tiga komponen yaitu magnitude, strength dan generality (Fitriyah, dkk, 2019: . Magnitude Komponen ini berkaitan dengan kesulitan tugas. Apabila tugas-tugas kesulitannya maka individu tersebut akan lebih memilih tugas-tugas yang mudah/sederhana, sedang dan tinggi/sulit sesuai dengan batas kemampuan yang dirasakan untuk dilaksanakannya serta mampu menyelesaikan tugastugas tersebut dengan baik. Generality Komponen ini berkaitan dengan luas bidang tugas dengan keyakinan individu atas kemampuannya untuk menyelesaikan tugas tersebut. individu akan merasa mampu melakukan tugas dalam bidang luas, sementara individu yang lain mungkin hanya bisa pada bidang tertentu dalam menangani/melakukan/menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Strength Komponen ini berkaitan dengan kemantapan dan kekuatan seseorang terhadap keyakinannya untuk bisa menyelesaikan tugas dengan baik dan Individu dengan self efficacy yang lemah lebih mudah menyerah [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . pada ketidakberhasilan, sementara individu dengan efikasi diri yang kuat akan tetap berupaya meskipun dijumpai pengalaman yang menghambatnya. Meskipun kegunaan self-efficacy yang beraneka ragam, teori kognitif sosial mengidentifikasi beberapa kondisi di mana peserta didik mungkin bervariasi bahkan di seluruh domain yang berbeda fungsi (Bandura, 1997:. Ketika berbagai bidang kegiatan diatur oleh sub-keterampilan yang sama ada beberapa hubungan domain dalam keberhasilan yang dirasakan. Hasil kerja sebagian dipandu oleh keterampilan self regulation tingkat tinggi. Ini termasuk keterampilan generik untuk mendiagnosis tuntutan tugas, membangun dan mengevaluasi program tindakan alternative, menetapkan tujuan proksimal untuk memandu upaya seseorang, dan menciptakan diri secara intensif untuk mempertahankan keterlibatan dalam aktivitas berat dan untuk mengelola stres dan melemahkan pikiran yang mengganggu. Menurut pendapat dari Albert Bandura yang mengatakan bahwa ada tiga aspek self-efficacy yaitu tingkat kesulitan, generalisasi dan tingkat Kedua, pendapat dari Corsini yang mengatakan bahwa terdapat empat aspek self-efficacy yaitu diantaranya kognitif, motivasi, afektif, dan Penelitian ini menggunakan aspek self-efficacy yang di paparkan oleh Albert Bandura yang terdiri dari tiga aspek yaitu, tingkat kesulitan, generalisasi, dan tingkat kekuatan. Perilaku Menyontek . Pengertian Perilaku Menyontek Cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak fair . idak juju. Fitri dkk, 2017: . Dalam konteks pendidikan atau sekolah, beberapa perbuatan yang termasuk dalam kategori menyontek antara lain meniru pekerjaan teman, bertanya langsung pada teman ketika sedang mengerjakan tes/ujian, membawa catatan pada kertas, pada anggota badan atau pada pakaian masuk ke ruang ujian, menerima dropping jawaban dari phak luar, mencari bocoran soal, saling tukar mengerjakan tugas dengan teman, menyuruh atau menerima bantuan [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . orang lain dalam menyelesaikan tugas ujian di kelas atau tugas penulisan paper dan takehome tes. Selanjutnya Pincus dan Schmelkin . 3: . menyatakan bahwa perilaku menyontek dilakukan dengan cara membuat catatan, melihat pekerjaan teman yang lain . , atau membuat catatan atau istilah dalam kertas. Menyontek meliputi kegiatan meniru atau melihat jawaban orang lain, melihat sebagian atau keseluruhan pekerjaan orang lain dan mengakuinya sebagai hasil dari pekerjaannya, melihat jawaban dari internet . etika hal tersebut dilarang atau tidak diijinka. , menyimpan jawaban pada telepon seluler atau MP3 Player, menggunakan catatan . , serta meminjam dan melihat naskah hasil pekerjaan teman. Faktor Penyebab Perilaku Menyontek Menyontek sebagai sebuah perilaku tentu dipenngaruhi oleh beberapa Penelitian yang dilakukan oleh Friyatmi . diperoleh temuan beberapa faktor penyebab perilaku menyontek yaitu : Faktor penguasaan materi, yang terdiri dari malas belajar, kesungguhan belajar, penguasaan materi, kebiasaan membuat tugas, dan waktu belajar. Faktor cara belajar, yang terdiri dari keterampilan mencatat, kehadiran dalam pmbelajaran, ketidakaktifan dalam pembelajaran, dan tidak menelaah materi. Faktor pengalaman sukses . ucces stor. , yang terdiri dari keberanian, pengalaman sukses, kemudahan teknologi, dan tuntutan orang tua. Faktor Self Efficacy yang terdiri dar rasa percaya diri, jenis soal, dan . Faktor motif personal yang terdiri dari motif memperoleh nilai tinggi dan motif tidak ingin gagal. Faktor situasional, yang terdiri dari kapasitas ruangan dan kesehatan. Faktor sosial, yang terdiri dari solidaritas sosial dan kebiasaan atau budaya. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan hubungan apa yang kita cari atau yang kita ingin pelajari (Nazir, 2009: . [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] H1 : Terdapat Hubungan Self Efficacy Dengan Perilaku Menyontek Pada Siswa SMA Negeri 2 Kendal Kendal H0 :Tidak terdapat Hubungan Self Efficacy Dengan Perilaku Menyontek Pada Siswa SMA Negeri 2 Kendal Kendal METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif. Metode penelitian ex post facto dengan pendekatan Menurut Emzir . 0: . penelitian ini disebut dengan penelitian ex post facto, karena penelitian ini merupakan penyelidikan empiris yang sistematis dimana ilmuan . tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksistensi dari variabel tersebut telah terjadi atau pada dasarnya. Menurut Darmawan . 4: . populasi adalah sumber data dalam penelitian tertentu yang memiliki jumlah banyak dan luas. Pada penelitian ini penulis mengambil subjek pada siswa kelas XI SMA N 2 Kendal populasi yang diambil adalah 11kelas dengan jumlah keseluruhan populasi 367 siswa. Menurut Sugiyono . Menjelaskan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. sampel yang peneliti gunakan adalah 180 siswa. Jadi sampel penelitian ini ada 6 kelas XI MIPA 1. XI MIPA 3. XI MIPA 4. XI IPS 1 XI IPS 2 dan XI IPS 6. Dimana penelitian ini menggunakan Teknik cluster random sampling Menurut Sugiyono merupakan teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas. Pengambilan sampel dengan cara klaster . luster random samplin. yaitu melakukan randomisasi terhadap kelompok, bukan terhadap subjek secara individual. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan skala likert. Teknik analisis data yang digunkaan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi sederhana mengunakan SPSS. HASIL PENELITIAN [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Penelitian ini dilakukan disekolah SMAN 2 Kendal diawali dengan dengan memvalidasi skala penelitianSelf efficacy dan perilaku menyontek. Selanjutnya melaksanakan Try Out untuk menguji validitas dan reliabilitas item dalam skala penelitian. Skala penelitian terdiri dari 47 item pernyataan yang terdiri dari 23 item self efficacy dan 25 item perilaku menyontek. Selanjutnya dilakukan uji prasyarat analisis antara lain uji normalitas, uji homogenitas dan uji linieritas. Self efficacy dan perilaku menyontek. diklasifikasikan dengan membuat kelas interval yang disusun berdasarkan skor total tertinggi self efficacy yaitu 92 . skor minimal 23 . sesuai dengan butir item instrumen skala psikologis Self-Efficacy yang sudah diuji validitas dan Skor minimal dan skor maksimal skala tersebut digunakan untuk menentukan interval Tabel 1 Data Interval Self Efficacy NO Kelas Interval Jumlah Frekuensi Persentase (%) Kriteria Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Penentuan kriteria perilaku menyontek dapat diklasifikasikan dengan membuat kelas interval yang disusun berdasarkan skor tertinggi skala perilaku menyontek maka mempunyai skor maksimal 100 . dan skor minimal 25 . sesuai dengan butir item instrumen skala perilaku menyontek yang sudah diuji validitas dan reabilitasnya. Tabel 2 Data Interval Perilaku Menyontek NO Kelas Interval Frekuensi Persentase (%) Kriteria Sangat Tinggi Tinggi Sedang [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Jumlah . Rendah Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas maka instrument dapat digunakan dalam pengumpulan data. Jika penelitian sudah dilaksanakan dan data sudah terkumpul maka selanjutnya dilakukan uji prasyarat analisis antara lain uji normalitas, uji homogenitas dan uji linieritas. Adapun hasinya sebagai berikut: Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah variabel Self Efficacy dan perilaku menyontek memiliki nilai residual yang berdistribusi normal atau tidak. pengujian menggunakan uji statistic One-Sample Kolomogrov Sminornov (K-S) dengan bantuan program SPSS 23 For Window. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardi zed Residual Normal Parameters Mean Std. Deviation Most ExtremeAbsolute Differences Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. Berdasarkan output di atas diketahui bahwa besar skor Z Kolmogorov Smirnow (K-S) sebesar 0,200 dengan nilai sig. -taile. sebesar 0,200 karena dari koefisien K-S sebesar 0,200 > 0,05, maka dapat disimpulkan berdistribusi normal. Uji Homogenitas [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . Uji Homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah data dari hasil penelitian mempunyai nilai varian yang sama atau tidak. mempunyai varian yang sama/tidak berbeda . apabila taraf signifikansi Ou 0,05 dan jika taraf signifikansinya yaitu < 0,05 maka data disimpulkan tidak mempunyai nilai varian yang sama/berbeda . idak Tabel 4. Uji Homogenitas ANOVA Between Groups Within Groups Total Sum Squares Mean Square Sig. Dari hasil perhitungan uji homogenitas diketahui bahwa nilai signifikansinya adalah 0,058 karena nilai yang diperoleh dari uji homogenitas taraf signifikansinya Ou 0,05 maka data mempunyai nilai varian yang homogen. Uji Linieritas Uji linieritas digunakan untuk mengetahui hubungan dari data Self Efficacy dan perilaku menyontek linier atau tidak. Jika terdapat hubungan linier maka digunakan analisis regresi linier. Sedangkan jika tidak terdapat hubungan linier antara dua variabel tersebut maka digunakan analisis regresi non-linier. Adapun ringkasan uji linieritas yang dilakukan menggunakan alat bantu SPSS dapat dilihat sebagai berikut ANOVA Table Mean Squar Sum of Squares df Sig. [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Between (Combin 10299. Groups e. Linearity . Deviation Linearity Within Groups Total Diketahui bahwa hasil uji linieritas diperoleh nilai sig. deviation from linierity sebesar 0,746 > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variable bebas dengan variable terikat dalam bentuk PEMBAHASAN Melihat dari data hasil penelitian yang telah penulis lakukan pada siswa SMA Negeri 2 Kendal tentang hubungan Self Efficacy dengan perilaku menyontek siswa. Maka berdasarkan pengujian hipotesis menyimpulkan bahwa perhitungan nilai antara variabel X (Self-Efficac. dengan variabel Y (Perilaku Menyonte. diperoleh nilai yang signifikan, artinya ada hubungan yang signifikan antara Self Efficacy dengan perilaku menyontek SMA Negeri 2 Kendal yaitu sesuai dengan hasil perhitungan uji normalitas One-Sample Kolomogrov Sminornov (K-S) dengan bantuan program SPSS 23 For Window. Berdasarhan hasil anova menunjukanbahwa H0 ditolak artinya ada hubungan yang signifikan antara Self Efficacy dengan perilaku menyontek SMA Negeri 2 Kendal. Kemudian berdasarkan koefisien korelasi di nilai r2 adalah 0,729 berada pada hubungan signifikan sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Self Efficacy dengan perilaku menyontek memiliki hubungan yang kuat. [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Hasil yang ditemukan tersebut sejalan dengan hasil penelitian Desi. Elvinawanty, dan Marpaung . Harwendra dan Silaen . , dan Putri. Juliawati. Khuryati, dan Yandri . Anita dan Karneli . yang juga memperoleh hasil bahwa perilaku menyontek termasuk pada kategori Tinggi. Perilaku menyontek merupakan aktivitas yang dilakukan siswa dalam upaya mendapatkan keberhasilan dengan cara yang tidak jujur seperti dalam menjawab soal ujian dan mengerjakan tugas sekolah (Hartanto, 2. Sari. Marjohan. Neviyarni . perilaku menyontek dapat mengikis kepribadian positif di dalam diri siswa seperti menjadi tidak jujur, tidak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan tidak mau belajar tekun sehingga membuat siswa menjadi pemalas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara self efficacy dengan perilaku menyontek peserta didik SMA Negeri 2 Kendal yang menunjukan bahwa self efficacy berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap perilaku menyontek. Semakin tinggi self efficacy yang dimiliki peserta didik maka semakin rendah perilaku menyontek peserta didik. PENUTUP Berdasarhan hasil anova menunjukan bahwa H0 ditolak artinya ada hubungan yang signifikan antara Self Efficacy dengan perilaku menyontek pada siswa SMA Negeri 2 Kendal. Kemudian berdasarkan koefisien korelasi di nilai r2 adalah 0,729 berada pada hubungan signifikan sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Self Efficacy dengan perilaku menyontek memiliki hubungan yang kuat. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, maka peneliti menentukan beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan, yaitu: [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Siswa harus memiliki Self-Efficacy positif karena akan mempengaruhi Perilaku menyontek Guru Bimbingan dan Konseling Agar membuat rencana terprogram sehingga dapat mengembangkan Self Efficacy siswa dan menurunkan perilaku menyontek dengan cara memberikan layanan bimbingan dan konseling, seperti: layanan bimbingan klasikal, konseling kelompok dan bimbingan kelompok. Pihak Sekolah Selaku penanggung jawab seluruh kegiatan pelayanan BK di sekolah secara menyeluruh, diharapkan agar mampu menciptakan suasana lingkungan sekolah yang kondusif dalam mengembangkan Self Efficacy dan menurunkan perilaku menyontek siswa, memberikan dukungan penuh terhadap segala kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan Self Efficacy dan Perilaku Menyontek siswa disekolah baik dalam kegiatan pembeljaran maupun kegiatan organisasi intrasekolah. Self Efficacy dan Perilaku Menyontek sehingga siswa menjadi lebih berprestasi. Peneliti Selanjutnya Untuk mengkaji ulang objek variabel penelitian Self Efficacy dan perilaku menyontek disarankan dengan menggunakan penelitian kualitatif. DAFTAR RUJUKAN Bandura. Albert. Self Efficacy. The Exercise of Control. New York. Froeman Company. Diakses http://samples. com/9781449689742/chapter2. November 2022 Pukul 17. 00 WIB Darmawan. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Emzir. Metodologi Penelitian Pendidikan: Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers. Fitriyah. Menanamkan Efikasi Diri dan Kestabilan Emosi. Jombang: LPPM UNHASY TEBUIRENG. [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Friyatmi, 2011. Faktor-faktor Penentu Perilaku Mencontek di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Fakultas Ekonomi UNP. TINGKAP. Vol. , 173-188. Diakses melalui http://ejournal. id/index. php/tingkap/article/view/23 pada Tanggal 12 November 2022 Pukul 12. 30 WIB Lunenburg. Organisational Culture-Performance Relationships: Views of Excellence and Theory Z. National Forum of Educational Administration and Supervision Journal. Diakses https://w. org/(S. )/reference/referencespape aspx?referenceid=2566381 pada Tanggal 11 November 2022 Pukul 12. WIB Park. & Kim. Factors influencing family life-satisfaction among Korean adults: With specific focus on sosial support froum spouse, trust of children and self-efficacy. Korean Journal of Psychological and Social Issues, 14. Diunduh http://w. kr/article/JAKO201222350104855. tanggal 11 November 2022 Pukul 17. 00 WIB Sugiyono. Metode Penelitian. Bandung: Alfabeta ________. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. CV. ________. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabet. Woolfolk. ) Educational Psychology Active Learning Edition. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Warsiki. AYN. ,& Mardiana. Pengaruh Self Efficacy Terhadap Motivasi Berprestasi Mahasiswa Jurusan Manajemen Berbasis KKNI. Jurnal EKSOS Diakses http://jurnal. id/index. php/eksoslppm/article/view/4168 pada Tanggal 11 November 2022 Pukul 16. 15 WIB