Andragogi Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 5. No. Maret 2025. DOI: https://doi. org/10. 31538/adrg. E-ISSN 2807-8233 pp. Analisis Pengaruh Profesionalisme Guru. Budaya Organisasi, dan Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Peningkatan Mutu Sekolah Pahing1. Yovitha Yulianti Ningsih2 Universitas PGRI Semarang. Indonesia. pahing34@admin. Keywords: Work Environment. Organizational Culture. Principal Leadership. Teacher Job Satisfaction. Kata kunci: Lingkungan Kerja. Budaya Organisasi. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Kepuasan Kerja Guru. Article history: Received: 30-03-2025 Revised 13-04-2025 Accepted 02-05-2025 Abstract This study aims to analyse the impact of teacher professionalism, organisational culture, and school leadership on school quality at vocational high schools (SMK) in Pekalongan Regency. The research employs a quantitative approach with an explanatory research method. A sample of 130 civil servants (PNS) teachers was selected using proportional random sampling. Data was collected through questionnaires and analyzed using descriptive statistics and multiple linear The results show that teacher professionalism, organizational culture, school leadership, and school quality are all rated as "fairly good". Partially, professionalism contributes 12. 1%, organisational culture contributes 43%, and school leadership contributes 33. 5% to school quality, indicating that organisational culture has the most considerable impact. Simultaneously, these three factors collectively contribute 49. 8% to school quality. Based on these findings, it is recommended that schools improve teacher professionalism through continuous training, constructive supervision, and recognition of teacher performance. Additionally, a positive organizational culture should be cultivated by promoting discipline, responsibility, and innovation within the school environment. This study emphasises the importance of enhancing teacher professionalism, building a positive organisational culture, and developing effective school leadership as efforts to improve school quality. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh profesionalisme, budaya organisasi, dan kepemimpinan kepala sekolah terhadap mutu sekolah di SMK Negeri Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode explanatory research. Sampel penelitian berjumlah 130 guru PNS yang dipilih secara proporsional random Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme, budaya organisasi, kepemimpinan kepala sekolah, dan mutu sekolah berada dalam kategori cukup baik. Secara parsial, profesionalisme memberikan kontribusi sebesar 12,1%, budaya organisasi 43%, dan kepemimpinan kepala sekolah 33,5% terhadap mutu sekolah, yang mengindikasikan bahwa faktor budaya organisasi memiliki pengaruh Secara simultan, ketiga faktor tersebut memberikan kontribusi sebesar 49,8% terhadap mutu sekolah. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar sekolah meningkatkan profesionalisme guru melalui pelatihan berkelanjutan, supervisi yang konstruktif, dan penghargaan atas kinerja guru. Selain itu, budaya organisasi perlu dibangun secara positif dengan pembiasaan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan inovasi di lingkungan sekolah. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan profesionalisme guru, pembangunan budaya organisasi yang positif, dan pengembangan kepemimpinan kepala sekolah yang efektif sebagai upaya untuk meningkatkan mutu sekolah. Corresponding Author: Pahing Universitas PGRI Semarang. Indonesia. pahing34@admin. https://pasca. id/index. php/adrg/index Analisis Pengaruh Profesionalisme Guru. Budaya Organisasi, dan Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Peningkatan Mutu Sekolah PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi bangsa yang berkualitas dan siap bersaing di tingkat global. Pendidikan tidak hanya terbatas pada proses kelembagaan, tetapi juga dipengaruhi oleh pola asuh, pendekatan akademik, dan budaya yang ada di sekolah. Hal ini sangat berpengaruh dalam mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga karakter yang kuat dan spiritual yang matang (Julhadi, 2021. Siregar et al. , 2021. Syaroh & Mizani, 2. Oleh karena itu, pendidikan dipercaya dapat mencetak lulusan yang memiliki wawasan, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat, serta karakter dan spiritualitas yang diperlukan untuk menjadi manusia yang utuh. Lembaga pendidikan, khususnya sekolah, memegang peran utama dalam penyediaan layanan pendidikan. Sekolah dituntut untuk dapat berkompetisi secara ketat dan efektif dalam memenuhi tuntutan mutu pendidikan yang semakin tinggi. Dalam konteks ini, sekolah sebagai lembaga penyedia jasa pendidikan harus mampu meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan kepuasan para pemangku kepentingan, termasuk siswa dan orang tua (Arina. Marsidin, & Sulastri, 2022. Nurlaela, 2. Proses pendidikan yang terukur umumnya dilakukan secara formal melalui program pengajaran dan pelatihan yang dirancang untuk mempersiapkan siswa dengan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat (Lestari, 2. Mutu sekolah adalah gambaran keseluruhan dari karakteristik layanan pendidikan, baik yang bersifat internal maupun eksternal, yang menunjukkan kemampuan sekolah dalam memenuhi harapan yang diinginkan (Prasetyo & Bramantya, 2020. Thahir, 2023. Zahroh, 2. Mutu sekolah mencakup tiga komponen utama: input, proses, dan output pendidikan (Hidayat & Asyafah, 2019. Priatna, 2. Input pendidikan mencakup segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mendukung proses pendidikan, seperti sumber daya manusia dan fasilitas. Proses pendidikan adalah bagaimana input tersebut diolah menjadi pengalaman belajar yang dapat memotivasi dan memberdayakan siswa (Sewang, 2. Output pendidikan mencakup kinerja sekolah yang dapat diukur melalui kualitas, efektivitas, produktivitas, efisiensi, inovasi, dan moralitas dalam kerja (Arista. Mariani. Sartika, & Murni, 2. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Pekalongan, yang terdiri dari 33 sekolah . SMK Negeri dan 29 SMK Swast. , berperan penting dalam menyediakan tenaga kerja terampil. SMK Negeri dikelola oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. SMK Negeri harus mampu mengelola sumber daya, dana, dan fasilitas dengan efektif, serta bersaing dalam meningkatkan mutu pendidikan untuk menarik minat siswa. Andragogi: Vol 5 no 1 2025 Pahing. Yovitha Yulianti Ningsih Tabel 1 Jumlah Lulusan SMK Negeri di Kabupaten Pekalongan Nama Sekolah SMK Negeri 1 Sragi SMK Negeri 1 Lebakbarang SMK Negeri 1 Kedungwuni SMK Negeri 1 Karangdadap Jumlah Lulusan Tabel 2 Jumlah Lululsan SMK Negeri di Kabupaten Pekalongan Yang Bekerja Sesuai Kompetensi Nama Sekolah SMK Negeri 1 Sragi SMK Negeri 1 Lebakbarang SMK Negeri 1 Kedungwuni SMK Negeri 1 Karangdadap Jumlah Lulusan 61,5 % Berdasarkan data pada Tabel 2, dapat diketahui bahwa SMK Negeri di Kabupaten Pekalongan telah menghasilkan lulusan yang banyak. Namun. SMK Negeri Lebakbarang masih memiliki jumlah lulusan yang lebih sedikit dibandingkan dengan sekolah lain, karena sekolah ini baru dan terletak di daerah pegunungan dengan akses jalan yang terbatas. Meskipun demikian, pendidikan yang diberikan tetap sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Dari Tabel 1 dan 2, terlihat bahwa tingkat lulusan yang bekerja sesuai dengan kompetensi berbeda-beda di setiap sekolah. Salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah keberadaan guru profesional. Guru profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dalam menguasai materi pelajaran, menguasai keterampilan mengajar, serta memiliki sikap yang baik dan dapat diterima di lingkungan sekolah. Guru profesional mampu meningkatkan kualitas peserta didiknya sehingga sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikan (Hanafi. Adu, & Muzakkir, 2018. Selasih, 2. Di SMK Negeri Kabupaten Pekalongan, terdapat dua kategori guru, yaitu pegawai negeri sipil (PNS) dan guru nonPNS. Namun, tidak semua guru menunjukkan sikap profesionalisme yang tinggi. Beberapa di antaranya hanya melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya tanpa berpartisipasi aktif dalam kegiatan peningkatan kualitas pendidikan, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi budaya sekolah dan mutu pendidikan. Budaya organisasi di sekolah merupakan hal yang perlu diperhatikan dan harus menjadi pedoman bagi setiap anggota sekolah dalam menjalankan tugasnya (Nurhasanah. Jufrizen, & Tupti, 2. Budaya organisasi di sekolah mencakup nilai, norma, dan aturan yang diterapkan, serta cara warga sekolah berinteraksi satu sama Kondisi sekolah yang dinamis, yang merupakan hasil dari interaksi warga sekolah dengan latar belakang sosial yang beragam, akan membentuk sistem nilai yang menjadi budaya bersama (Adriansyah. Handayani, & Maftuhah, 2. Oleh karena itu, penting . Andragogi: Vol 5 no 1 2025 Analisis Pengaruh Profesionalisme Guru. Budaya Organisasi, dan Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Peningkatan Mutu Sekolah untuk membangun budaya organisasi yang mendukung peningkatan mutu pendidikan. Jika budaya sekolah yang ada tidak mendukung perkembangan tersebut, maka dapat menghambat proses belajar mengajar dan pencapaian tujuan pendidikan. Kepala sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan arah dan kebijakan sekolah. Sebagai pemimpin, kepala sekolah bertanggung jawab untuk mengelola sekolah dan meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk mencapai mutu sekolah yang efektif, kepala sekolah perlu bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan sekolah, termasuk guru dan siswa, untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran (Artanti. Ramadhani. Rahmawati, & Rizqa, 2024. Sirojuddin. Aprilianto, & Zahari, 2. Kepala sekolah harus memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik untuk mendorong seluruh anggota sekolah bekerja dengan kompak dan penuh semangat untuk mencapai tujuan bersama (Krisbiyanto, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian explanatory research, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan variabel terikat (Nyss, 2015. Sari. Rachman. Juli Astuti. Win Afgani, & Abdullah Siroj, 2. Penelitian ini difokuskan pada pengaruh profesionalisme guru, budaya organisasi, dan kepemimpinan kepala sekolah terhadap mutu sekolah. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel terikat, yaitu mutu sekolah, yang mencakup kualitas keseluruhan dari layanan pendidikan di sekolah dan dapat diukur melalui input, proses, dan output pendidikan. Sementara itu, variabel bebas yang diuji meliputi profesionalisme guru, budaya organisasi, dan kepemimpinan kepala sekolah. Profesionalisme guru mengacu pada kompetensi, sikap, dan perilaku profesional guru dalam menjalankan tugasnya, budaya organisasi menggambarkan norma dan nilai yang berkembang dalam lingkungan sekolah yang memengaruhi interaksi antar warga sekolah, dan kepemimpinan kepala sekolah terkait dengan gaya serta kualitas kepemimpinan dalam mengelola dan mengarahkan sekolah menuju tujuan pendidikan yang lebih baik (Syamsuddin, 2. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 163 guru yang berasal dari SMK Negeri se-Kabupaten Pekalongan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proportional random sampling, yang memastikan setiap sekolah dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih dan jumlah sampel yang diambil proporsional berdasarkan jumlah guru di masing-masing sekolah (Agustianti et al. Sugiyono, 2. Pemilihan sampel ini bertujuan untuk memperoleh data yang representatif mengenai kondisi pendidikan di SMK Negeri se-Kabupaten Pekalongan, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan dengan lebih akurat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang terdiri dari empat bagian, masing-masing terkait dengan variabel yang diteliti. Bagian pertama berisi pertanyaan untuk mengukur profesionalisme guru, yang meliputi kompetensi, sikap, dan perilaku profesional guru. Bagian kedua mengukur budaya organisasi, mencakup norma dan nilai yang berlaku di sekolah, serta pengaruhnya terhadap . Andragogi: Vol 5 no 1 2025 Pahing. Yovitha Yulianti Ningsih interaksi antar warga sekolah. Bagian ketiga mengukur kepemimpinan kepala sekolah, yang berfokus pada gaya dan kualitas kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala sekolah dalam mengelola dan memotivasi guru serta siswa. Bagian terakhir berisi pertanyaan yang mengukur mutu sekolah, yang menilai persepsi guru terhadap kualitas pendidikan yang diterima siswa, efektivitas proses pembelajaran, dan pencapaian hasil Semua pertanyaan dalam kuesioner menggunakan skala Likert dengan lima pilihan, mulai dari 1 . angat tidak setuj. hingga 5 . angat setuj. , yang memungkinkan pengukuran tingkat persetujuan responden terhadap setiap pernyataan yang diberikan (Sugiyono & Lestari, 2021. Zulkarnain. Yasid, & Yusuf, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket kepada seluruh guru yang terpilih sebagai sampel dalam penelitian ini. Angket yang disebarkan dilengkapi dengan instruksi yang jelas untuk memastikan responden memahami setiap pertanyaan dan memberikan jawaban yang valid. Waktu pengumpulan data dilakukan dalam periode yang sudah ditentukan untuk memastikan keakuratan dan relevansi data yang Setelah data terkumpul, analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda untuk menguji pengaruh simultan dari variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat. Regresi linear berganda dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengukur pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen, baik secara individual maupun simultan (Sugiyono, 2. Sebelum melakukan analisis regresi, pengujian asumsi klasik dilakukan untuk memastikan data memenuhi syarat untuk analisis regresi yang valid. Pengujian asumsi tersebut mencakup uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas (Kurniati & Heryanda, 2023. Sugiyono. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Descriptive Statistics Hasil analisis deskriptif terhadap keempat variabel penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap profesionalisme guru, budaya organisasi, kepemimpinan kepala sekolah, dan mutu sekolah berada dalam kategori cukup baik. Skor rata-rata dan simpangan baku dari masing-masing variabel dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1 Descriptive Statistics of Research Variables Variables Mean Std. Deviation Profesionalisme Budaya Organisasi Kepemimpinan Kepala Sekolah Mutu sekolah Sumber: data primer diolah, 2024 . Andragogi: Vol 5 no 1 2025 Kategori Cukup Baik Cukup Baik Cukup Baik Cukup Baik Analisis Pengaruh Profesionalisme Guru. Budaya Organisasi, dan Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Peningkatan Mutu Sekolah Hasil ini menggambarkan bahwa meskipun secara umum keempat variabel menunjukkan persepsi yang positif dari responden, nilai-nilai tersebut masih belum optimal dan menunjukkan potensi untuk ditingkatkan lebih lanjut. Hasil Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik dilakukan untuk memastikan bahwa data memenuhi syarat analisis regresi linear berganda: A Uji Normalitas dilakukan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, dengan hasil bahwa keempat variabel memiliki nilai significance > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. A Uji Multikolinearitas menunjukkan bahwa seluruh variabel bebas memiliki nilai Tolerance > 0,1 dan VIF < 10, yang berarti tidak terjadi multikolinearitas. A Uji Heteroskedastisitas menggunakan uji Glejser, di mana seluruh nilai signifikansi residual regresi > 0,05, yang berarti model tidak mengalami heteroskedastisitas. Hasil Uji Hipotesis Penelitian ini menguji empat hipotesis utama menggunakan regresi linear sederhana dan berganda. Rangkuman hasil uji hipotesis ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 2 Hasil Uji Hipotesis Penelitian Hipotesis Variabel R2(%) Profesionalisme guru Ie Mutu Budaya Organisasi Ie Mutu Kepemimpinan Kepala Sekolah Ie Mutu sekolah X1. X2. X3 Ie Mutu sekolah Signifikansi Keterangan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan (Sumulta. Sumber: Hasil pengolahan data primer, 2024 Secara parsial, profesionalisme guru memberikan kontribusi sebesar 12,1% terhadap mutu sekolah. Ini mengindikasikan bahwa profesionalisme guru dapat memperbaiki persepsi guru terhadap mutu sekolah. Variabel budaya organisasi menjadi faktor dominan dengan kontribusi sebesar 43%, menunjukkan bahwa nilai-nilai, norma, dan kebiasaan di sekolah sangat menentukan sejauh mana guru merasa dihargai dan didukung dalam menjalankkan tugas. Variabel kepemimpinan kepala sekolah memberikan kontribusi 33,5%, menandakan pentingnya peran kepala sekolah dalam membina motivasi dan hubungan kerja yang sehat sehingga dapat meningkatkan mutu . Andragogi: Vol 5 no 1 2025 Pahing. Yovitha Yulianti Ningsih Secara simultan, ketiga variabel memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepuasan kerja dengan nilai R sebesar 0,706 dan RA sebesar 49,8%. Hal ini menunjukkan bahwa model yang dibangun dalam penelitian ini mampu menjelaskan lebih dari separuh variasi dalam mutu sekolah. Sisanya, sebesar 50,2%, dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dianalisis dalam penelitian ini, seperti kualitas guru, sarana prasana, manajemen sekolah, kurikulum, proses pembelajaran, dukungan orang tua dan masyarakat, kondisi sosial ekonomi siswa, teknologi dan informasi, serta kebijakan pemerintah dan regulasi Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profesionalisme guru, budaya organisasi, dan kepemimpinan kepala sekolah memiliki pengaruh signifikan terhadap mutu sekolah, baik secara parsial maupun simultan. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan mutu sekolah tidak dapat dipisahkan dari peran strategis faktor internal sekolah, khususnya profesionalisme tenaga pendidik, budaya organisasi yang kondusif, serta kepemimpinan kepala sekolah yang efektif. Ketiga aspek tersebut saling berkontribusi dalam menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas, meningkatkan kinerja guru dan siswa, serta memperkuat tata kelola sekolah secara keseluruhan. Oleh karena itu, upaya peningkatan mutu pendidikan harus difokuskan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia dan pembentukan budaya kerja yang mendukung terciptanya sekolah bermutu. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Abrori maupun hartati, yang menyatakan bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan, sekolah perlu mengelola dan memanfaatkan semua sumber daya yang ada dengan baik, termasuk memperhatikan kompetensi tenaga pendidik dan budaya organisasi (Abrori & Muali, 2020. Hartati, 2. Pengaruh Profesionalisme Guru terhadap Mutu Sekolah Secara lebih rinci, pengaruh profesionalisme terhadap mutu sekolah terlihat dari hasil analisis yang menunjukkan nilai korelasi sebesar 0,347 dengan kontribusi sebesar 12,1%. Profesionalisme guru berkontribusi nyata terhadap mutu sekolah meskipun faktor-faktor lain juga berperan penting dalam peningkatan mutu sekolah. Hanafi menekankan bahwa guru profesional adalah guru yang memiliki pengetahuan mendalam di bidangnya, keterampilan dalam penerapan ilmu, serta sikap yang baik dan dapat diterima di lingkungan manapun (Hanafi et al. , 2. Profesionalisme ini tidak hanya mempengaruhi kualitas pengajaran, tetapi juga berperan dalam meningkatkan motivasi dan kinerja siswa, yang pada gilirannya berpengaruh pada mutu sekolah secara keseluruhan. Selain itu, hasil penelitian ini juga memperkuat temuan dari Abdullah maupun Nugraha yang menunjukkan bahwa profesionalisme guru dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, yang pada akhirnya berpengaruh pada peningkatan mutu sekolah (Abdullah, 2017. Nugraha & Dekawati, 2. Kualitas guru yang tinggi akan mendorong terciptanya pembelajaran yang lebih inovatif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa, yang merupakan faktor penting dalam mencapai mutu pendidikan . Andragogi: Vol 5 no 1 2025 Analisis Pengaruh Profesionalisme Guru. Budaya Organisasi, dan Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Peningkatan Mutu Sekolah yang baik. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas profesionalisme guru melalui pelatihan dan pengembangan yang berkelanjutan sangat diperlukan. Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Mutu Sekolah Budaya organisasi memberikan pengaruh yang paling besar terhadap mutu sekolah, dengan kontribusi sebesar 43%. Temuan ini memperkuat pendapat Barab maupun Fahmi yang menyatakan bahwa kondisi sekolah yang dinamis merupakan hasil dari perpaduan antara semua warga sekolah, yang memiliki latar belakang kehidupan sosial yang berbeda dan saling berinteraksi secara kontinu, sehingga membentuk sistem nilai yang membudaya dan menjadi milik bersama (Barab & and Plucker, 2002. Fahmi, 2. Budaya organisasi yang baik mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, mendukung inovasi, serta memperkuat rasa memiliki terhadap sekolah. Hal ini, pada gilirannya, dapat meningkatkan mutu sekolah. Sebagaimana dijelaskan oleh Emma maupun Neil, budaya organisasi dalam pendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan iklim sekolah yang positif, yang mendukung kolaborasi antar guru, antara guru dan siswa, serta antara sekolah dan masyarakat (Emma, n. MacNeil & and Busch, 2. Sekolah dengan budaya yang kuat dan sehat akan mendorong para guru untuk berinovasi dalam pembelajaran, berbagi pengetahuan, dan bekerja sama dalam mencapai tujuan pendidikan yang lebih Namun, hasil temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa budaya organisasi di SMK Negeri Kabupaten Pekalongan masih kurang dalam aspek inovasi dan keberanian mengambil risiko. Ini menunjukkan bahwa sekolah-sekolah tersebut masih terbatas dalam memberi ruang bagi guru untuk mengembangkan ide-ide baru yang bisa meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, penting untuk memberikan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan kreativitas mereka, menciptakan budaya yang lebih terbuka, dan memberikan dukungan terhadap inovasi dalam berbagai aspek pembelajaran. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Mutu Sekolah Kepemimpinan kepala sekolah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap mutu sekolah, yaitu sebesar 33,5%. Temuan ini menunjukkan bahwa kepala sekolah memiliki peran penting dalam memimpin dan mengarahkan seluruh aktivitas sekolah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pemimpin sekolah harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi, mengkoordinasikan, dan menggerakkan seluruh anggota sekolah, termasuk guru dan staf, dalam pelaksanaan dan pengembangan pendidikan yang efektif dan efisien (Burrello. Lashley, & Beatty, 2. Kepemimpinan kepala sekolah yang baik akan memastikan adanya visi yang jelas, pembinaan yang intensif terhadap guru, serta pengelolaan sumber daya sekolah yang optimal untuk menciptakan sekolah yang berkualitas (Dewi. Destiana. Olivia. Wati, & Febrianto, 2. Dalam konteks ini, kepala sekolah harus mampu menjadi teladan dalam menunjukkan profesionalisme, mengelola perubahan, serta memfasilitasi pembelajaran yang inovatif dan berkualitas (Permatasari. Lestari. Christie, & Suhaimi, 2. Kepemimpinan yang visioner dan transformatif akan membawa perubahan positif yang . Andragogi: Vol 5 no 1 2025 Pahing. Yovitha Yulianti Ningsih dapat memperbaiki kinerja sekolah, serta memberikan dampak langsung terhadap peningkatan mutu pendidikan yang dihasilkan oleh sekolah. Kepemimpinan partisipatif kepala sekolah, seperti yang ditemukan oleh Anwar, juga berperan dalam menciptakan suasana kerja yang harmonis, meningkatkan motivasi kerja guru, serta mendorong mereka untuk berkontribusi dalam berbagai keputusan penting yang berkaitan dengan perbaikan mutu sekolah (Anwar. Asrin, & Setiadi, 2. Kepala sekolah yang memberikan ruang bagi guru untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan akan lebih mampu menciptakan komitmen yang lebih besar terhadap tujuan sekolah. Pengaruh Simultan terhadap Mutu Sekolah Secara simultan, ketiga variabel menjelaskan kontribusinya sebesar 49,8% terhadap variabel mutu sekolah. Hal ini menandakan bahwa hampir setengah dari variasi dalam mutu sekolah dipengaruhi oleh ketiga faktor tersebut secara bersamasama. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan mutu sekolah tidak dapat dilakukan secara parsial. Sebaliknya, peningkatan mutu sekolah harus dilakukan secara terpadu yang melibatkan peningkatan profesionalisme guru, pembentukan budaya organisasi yang positif, serta kepemimpinan kepala sekolah yang visioner dan Sebagaimana ditegaskan oleh Dyez, kualitas pendidikan bergantung pada kemampuan manajemen sekolah untuk mengelola semua faktor internal secara sinergis dan terintegrasi (Dyez. Villa. Lypez, & Iraurgi, 2. Oleh karena itu, penting untuk memadukan ketiga faktor ini dalam suatu kebijakan yang lebih komprehensif untuk meningkatkan mutu pendidikan secara menyeluruh. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah yang bermakna, terutama dalam pengembangan model manajemen sekolah berbasis sumber daya manusia yang Salah satu kebaruan dari penelitian ini terletak pada konteks lokasi dan komprehensivitas variabel yang dikaji. Dalam ranah pendidikan vokasional, di mana tuntutan kerja guru lebih tinggi dan lebih spesifik, model pengaruh profesionalisme guru, budaya organisasi, dan kepemimpinan kepala sekolah terhadap mutu sekolah masih jarang diteliti secara simultan. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya memperkuat teori yang ada, tetapi juga memperluas cakupan praktisnya dalam implementasi manajemen sekolah, khususnya di SMK. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Sugiyat yang menekankan pentingnya pendekatan berbasis sumber daya manusia dalam manajemen pendidikan, terutama di tingkat pendidikan vokasional yang memiliki tantangan dan karakteristik berbeda dibandingkan dengan pendidikan umum (Sugiat, 2. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh paling dominan terhadap mutu sekolah dibandingkan dengan profesionalisme guru maupun kepemimpinan kepala sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kepemimpinan kepala sekolah sering dianggap sebagai faktor kunci dalam literatur sebelumnya, dalam penelitian ini ditemukan bahwa nilai-nilai kolektif, norma kerja, dan . Andragogi: Vol 5 no 1 2025 Analisis Pengaruh Profesionalisme Guru. Budaya Organisasi, dan Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Peningkatan Mutu Sekolah kebiasaan positif yang terbentuk secara internal dalam organisasi sekolah memiliki peran yang lebih besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas dan Budaya organisasi yang kuat mempengaruhi perilaku warga sekolah dan menciptakan kohesi sosial yang memperkuat motivasi serta komitmen dalam mencapai tujuan bersama. Sebagaimana diungkapkan oleh Schein . , budaya organisasi yang sehat dapat mempengaruhi secara signifikan efektivitas organisasi, termasuk dalam konteks pendidikan. Dari sisi keilmuan, penelitian ini memberikan kontribusi penting dengan memperluas pemahaman tentang interaksi simultan antara tiga variabel kunci manajemen sekolah: profesionalisme guru, budaya organisasi, dan kepemimpinan kepala sekolah. Temuan ini mengonfirmasi hasil-hasil penelitian sebelumnya namun juga menawarkan perspektif baru, khususnya dalam konteks pendidikan vokasional di Indonesia. Penelitian ini memperkaya literatur yang ada dengan menyajikan model empiris dalam konteks SMK Negeri, yang masih minim kajian, serta menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengujian regresi simultan yang komprehensif. Keterbatasan penelitian ini terletak pada ruang lingkup sampel yang terbatas pada guru PNS di SMK Negeri se-Kabupaten Pekalongan, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk seluruh jenis sekolah atau daerah lainnya. Penelitian ini juga tidak mempertimbangkan faktor-faktor eksternal lainnya yang mungkin memengaruhi mutu sekolah, seperti kebijakan pendidikan lokal, partisipasi orang tua, atau faktor lingkungan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas sampel dengan melibatkan berbagai jenis sekolah dan daerah yang Selain itu, penelitian lebih lanjut juga dapat mempertimbangkan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi mutu sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, namun penelitian lanjutan dengan pendekatan campuran . ixed method. sangat disarankan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam dan komprehensif. Pendekatan ini dapat mengungkap dinamika yang lebih luas yang berpengaruh terhadap mutu sekolah, seperti persepsi pribadi warga sekolah atau faktor-faktor yang lebih sulit diukur secara REFERENSI