Pendidikan Agama Islam Dan Paham Keagamaan Aktual (Fundamentalisme. Radikalisme. Sekularisme Dan Liberalism. Firda Sari1. Fatikh Inayahtur Rahma2 1,2 STAI Pancawahana Bangil ARTICLE INFO Article history: Received: 2023,08-12 Revised 2023, 09-18 Accepted, 2023,09-30 Keywords : PAI, Fundamentalisme. Radikalisme. Sekularisme. Liberalisme ABSTRACT Islam merupakan ajaran yang dibangun diatas lima dasar, yaitu terdiri dari syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Kelima dasar Islam ini merupakan penopang berdiri kokohnya Islam itu sendiri. Mengacu pada semakin pesatnya perkembangan paham keagaam aktual di Indonesia yang mayoritas mengarah pada faham yang keras maka perlu adanya tindakan pencegaan maupun pembinaan bagi para generasi Islam yang masih mengeyam pendidikan. Demikian dikarenakan target utama paham aktual untuk terus berkembang adalah membidik para generasi-generasi muda yang masih dalam proses pencarian jati diri dan proses pendalaman ajaran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis PAI dan paham keagamaan aktual yang terus berkembang di Indonesia dengan pendekatan kualitatif jenis fenomenologi. Hasil riset menunjukkan: PAI sebagai satu mata pelajaraan fundamental dalam pembentukan dan pemupukan terhadap keagamaan generasi Islam agar terbina pemahaman komprehensif dan penghayatan terhadap ajaran Islam, sehingga melalui proses pendidikan dapat menemukan pembeda terhadap beberapa paham keagamaan aktual sebagai tindakan prefentif agar tidak terjerumus terhadap paham yang bertentangan dengan kaidah Islam. Islam is teaching built on five basic principles, namely the creed, prayer, zakat, fasting, and pilgrimage. These five foundations of Islam are the pillars of the strong standing of Islam itself. Referring to the increasingly rapid development of actual religious understanding in Indonesia, most of which leads to strict ideology, there is a need for preventive measures and training for the Islamic generation who are still receiving education. For example, the main target for actual understanding to continue to develop is the successors of the younger generations who are still in the process of finding their identity and deepening the teachings of Islam. This research aims to describe and analyze PAI and the actual understanding of archeology that continues to develop in Indonesia using a qualitative phenomenological approach. The results of the research show: that PAI as a fundamental subject in the formation and cultivation of the religion of the Islamic generation to develop a comprehensive understanding and appreciation of Islamic teachings, so that through the educational process we can find differences in several actual religious understandings as a preventive measure so as not to fall into filtering understandings. with Islamic rules. This is an open access article under the CC BY-SA license Corresponding Author: Firda Sari STAI Pancawahana Bangil Jl. Untung Surapati No. Kauman. Kidul Dalem. Kec. Bangil. Pasuruan. Jawa Timur 67153 Email : Firdasari250416@gmail. Pendahuluan Islam merupakan ajaran yang berdiri diatas lima dasar pondasi, yakni dari syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Kelima dasar Islam ini merupakan penopang berdiri kokohnya Islam itu sendiri. Agama adalah sebuah sistem keyakinan yang diikuti dan diwujudkan dalam perilaku oleh kelompok, golongan atau masyarakat tertentu dalam menginterpretasikan apa yang harus dirasakan dan diyakini sebagai sesuatu hal yang suci. Terjadinya perubahan faham serta keyakinan keagamaan sangat mungkin untuk terjadi. Perubahan tersebut dikarenakan adanya perbedaan-peredaan pandangan dalam pemahaman perubahan ilmu pengetahuan yang berkembang namun tetap berpedoman pada kitab suci yang tidak akan pernah berubah. Perbedaan interpretasi terhadap teks suci atau doktrin agama menyebabkan timbulnya perbedaan keyakinan, faham atau aliran keagamaan, meskipun pada dasarnya ajaran pokoknya menginduk pada kelompok satu agama yang besar. Jadi secara teoritis dan praktis perbedaan interpretasi terhadap doktrin agama yang menimbulkan aliran keagamaan actual dengan doktrinnya masing-masing. Perbedaan pada tingkat pemahaman, tentu tidak dapat dihindari, terutama karena adanya perbedaan tingkat pengetahuan, wawasan, pemahaman dan pengamalan serta perkembangan budaya Demikian pula halnya respon masyarakat terhadap berkembangnya perbedaanTut Wuri Handayani. Vol 2. No 3 2023 95 | Page perbedaan tersebut menyebabkan bentuk dan tingkat reaksi yang beragam. Keberagaman reaksi ini memunculkan banyak konfil pro dan kontra terhadap berekmbangnya paham kegamaan aktual. Mengacu pada semakin pesatnya perkembangan paham keagaam aktual di Indonesia yang mayoritas mengarah pada faham yang keras maka perlu adanya tindakan pencegaan maupun pembinaan bagi para generasi Islam yang masih mengeyam pendidikan. Demikian dikarenakan target utama paham aktual untuk terus berkembang adalah membidik para generasi-generasi muda yang masih dalam proses pencarian jati diri dan proses pendalaman ajaran Islam. Sehingga mereka yang berasal dari golongan-golongan paham keagamaan aktual terus berusaha merekruit anggota baru dengan cara Berdasarkan latar belakang yang telah terpapar diatas penulis tertarik mengambil penelitian dengan judul sekaligus fokus penelitian: Apa saja bentuk paham keagamaan pai dan paham keagamaan aktual dan bagaimana peran pendidikan agama Islam terhadap perekmbangan paham keagamaan aktual Tujuannya adalah untuk mengalisis pergumulan pendidikan agama Islam dan perannya dalam menghadappi paham keagamaan aktual yakni fundamentalisme, radikalisme, liberalisme dan Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Yakni penelitian yang tidak mengandalkan bukti berdasarkan pada logika matematis, prinsip angka maupun merode statistik. Penelitian kualitatif bertujuan untuk membertahankan bentuk dan isi perilaku manusia dan menganalisis kualitas-kualitasnya alih-alih mengubah menjadi entitas-entitas kuantitatif. Sedangkan pendekatan yang peneliti gunakan adalah pendekatan fenomenology yang termasuk dalam pendekatan subjektif atau interpretif. Fenomenologi menggambarkan arti sebuah pengalaman hidup seseorang tentang sebuah konsep atau fenomena yang mana orang-orang yang terlibat dalam menangani sebuah fenomena melakukan eksplorasi terhadap struktur kesadaran hidup manusia. Penelitian fenomenologi berusaha untuk mencari hal-hal yang esensial serta upaya memahami tentang bagamana orang melakukan suatu pengalaman beserta makna dari pengalaman tersebut. Analisis data yang digunakan adalah mengunakan teknik analisis data dari Matthew B. Miles and Michael Huberman & Johnny Saldana yakni kondensasi data, penyajian data dan verifikasi Sedangkan validitas data menggunakan uji kredibilitas yakni triangulasi sumber yakni dengan cara membandingkan fenomena dan data primer berupa sumber buku Hasil dan Pembahasan Pendidikan Agama Islam Dalam perspektif teoritis banyak sekali yang mengartikan dan memaknai pendidikan secara Bergantung pada sudut pandang masing-masing dan terdapat banyak perbedaan pendidikan secara harfiah berarti membimbing, memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan memelihara. Esensi dari pendidikan adalah adanya proses transfer nilai, pengetahuan dan ketrampilan dari generasi tua kepada generasi muda agar generasi muda mampu hidup. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara Agama secara bahasa diartikan sebagai suatu ajaran sistematis yang mengatur tata keimanan . dan perilaku peribadatan kepada Tuhan serta tata kaidah yang berhubungan dengan sosial manusia dan lingkungan. Agama berarti peraturan-peraturan tradisional, ajaran-ajaran, kumpulan-kumpulan hukum yang turun-menurun dan ditentukan oleh adat kebiasaan. Islam merupakan ajaran yang dibangun diatas lima dasar, yaitu terdiri dari syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Kelima dasar Islam ini merupakan penopang berdiri kokohnya Islam itu sendiri. Sehingga pendidikan Agama Islam sendiri memiliki arti usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses dan suasana belajar yang mengajarkarkan nilai-nilai- spiritual keislaman yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik agar tercipta pemikiran, jiwa dan perilaku yang Islami sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai dalam ajaran Islam Tut Wuri Handayani. Vol 2. No 3 2023 96 | Page Paham Keagamaan Aktual Islam merupakan satu Induk besar Agama. Yang didalamnya dianut oleh jutaan hingga milyaran manusia di muka bumi ini. Adanaya perbedaan penafsiran dan cara pandang terhadap ajaran Islam oleh beberapa kelompok golongan menjadikan Islam kian berkembang menjadi beberapa aliran Diantaranya adalah sebagai berikut: Fundamentalisme Fundamentalisme berakar dari kata fundamen yang berarti asas, dasar hakikat, fondasi. Dalam bahasa Inggris disebut fundamentalis yang bermakna pokok. Dalam bahasa Arab. Ushululiyyah sendiri berasal dari kata ushul yang artinya pokok. Maka, fundamentalisme merupakan faham yang meyakini tentang ajaran paling dasar dan pokok yang berkenaan ajaran keagamaan atau aliran kepercayaan. Istilah fundamentalisme, merupakan hal baru dalam peristilahan kamus Islam. Dalam lingkup sejarah, fundamentalisme muncul untuk pertamakalinya sebagai satu paham yang dianut oleh barat . Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dalam Islam akan dijumpai istilah maupun perilaku tindakan yang serupa dengan fundamentalis barat. Jejak sejarah gerakan fundamendalis dalam Islam diawali dengan gerakan Khwarij, dan berkembang gerakan fundamentalis yang lebih modern terjadi dalam gerakan wahabi Arab Saudi dan revolusi Islam di Iran. Istilah fundamentalisme pada mulanya juga digunakan untuk menyebut penganut Katholik yang menolak modernitas dan mempertahankan ajaran ortodoksi agamanya, saat ini juga digunakan oleh penganut agama-agama lainnya yang memiliki kemiripan, sehingga ada juga fundamentalisme Islam. Hindu, dan juga Buddha. Sejalan dengan itu, pada perkembangan selanjutnya penggunaan istilah fundamentalisme menimbulkan suatu citra tertentu, misalnya ekstrimisme, fanatisme, atau bahkan terorisme dalam mewujudkan atau mempertahankan keyakinan agamanya. Mereka yang disebut kaum fundamentalis sering disebut tidak rasional, tidak moderat, dan cenderung melakukan tindakan kekerasan jika perlu. Secara makro, latar belakang lahirnya gerakan fundamentalis adalah situasi politik baik domestik maupun internasional. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya gerakan fundamentalis pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, ketika situasi dan kondisi sosial politik tidak kondusif. Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, terjadi perang saudara antara kelompok Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah atas terbunuhnya Utsman. Sangat kecewa dengan romansa sengit dari dua faksi yang berseberangan, mereka mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah adalah kafir dan darah mereka sah. Kemudian mereka membunuh Ali bin Abi Thalib saat Muawiyah masih hidup. Sama halnya dengan gerakan Islam fundamentalis di Indonesia yang lebih banyak dipengaruhi oleh ketidakstabilan sosial dan politik. Pada akhir pemerintahan Soeharto. Indonesia menghadapi krisis multidimensi yang cukup akut. Bidang ekonomi, sosial, politik dan moral semuanya serius. Sehingga masyarakat khawatir dan kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah dan sistemnya. Hal ini juga dirasakan oleh kelompok Islam fundamentalis. Setelah reformasi, kebebasan kelompok terbuka dan mereka keluar dari persembunyian. Meletakkan landasan dan mengkampanyekan penerapan hukum Syariah untuk menyelesaikan krisis. Dengan latar belakang tersebut, tidak heran jika banyak tudingan bahwa fundamentalisme Islam merupakan bagian dari politisasi Islam. Definisi istilah fundamentalis memiliki muatan psikologis dan sosiologis dan berbeda dari makna linguistik dari konsep fundamentalis tersebut di atas. Dalam pengertian ini, kemunculan kaum fundamentalis terkait dengan sejarah perkembangan ajaran Islam, politik, sosial, budaya dan isu-isu fundamentalis lainnya. Kaum fundamentalis ini tidak mau menerima perubahan dalam arti menentang Dengan demikian, mereka dengan hati-hati menekankan bahwa kenabian Muhammad bukanlah sesuatu yang baru, melainkan kelanjutan dari garis para nabi dan rasul yang Di Indonesia sendiri terdapat beberapa golongan yang mengikuti aliran fundamentalis ini, antara lain mazhab Ikhwanul Muslimin, mazhab Salafi dan Wahhabi, mazhab Habib, dan mazhab Hisbut Tahrir Indonesia. Radikalisme Radikalisme berasal dari kata radikal yang berarti masif dan luas, keras, tegas, maju dan tajam . alam berpiki. Secara umum radikalisme diartikan sebagai ideologi politik nasional yang Tut Wuri Handayani. Vol 2. No 3 2023 97 | Page memerlukan perubahan dan pembaharuan yang besar untuk mencapai tingkat kemajuan. Padahal dasarnya gerakan radikalisme Islam tidak memiliki akar yang kuat di Indonesia. Gerakan-gerakan tersebut bukanlah produk asli bangsa Indonesia, melainkan produk yang didatangkan dari luar, terutama dari Timur Tengah. Radikalisme Islam memiliki jaringan yang padat di Timur Tengah. Hal itu dibuktikannya dengan hasil kajian FKAWJ dalam kasus konflik Maluku. Organisasi tersebut mencari pembenaran jihad oleh beberapa ulama Salafi di Timur Tengah, dan menurut Noorhaid, organisasi tersebut kemungkinan juga mencari bantuan keuangan dari Timur Tengah. Secara umum radikalisme didorong oleh faktor ideologis dan non ideologis seperti ekonomi, dendam, sakit hati, serta ketidakpercayaan. Faktor ideologis sangat sulit dihilangkan dalam waktu singkat dan memerlukan perencanaan yang matang karena terkait dengan keyakinan yang mengakar dan perasaan religius yang kuat. Hanya melalui akses pendidikan . oft treatmen. faktor ini dapat disingkirkan secara definitif dari radikalisasi melalui jalur evolusioner yang melibatkan semua Mendekati keamanan . ecurity processin. hanya dapat dilakukan sementara untuk menghindari dampak serius sesaat. Jika faktor kedua lebih mudah diatasi, misalnya radikalisme yang disebabkan oleh faktor kemiskinan, maka sangat memungkinkan untuk membuat mereka hidup lebih layak dan sejahtera. Era pasca reformasi yang ditandai dengan terbukanya kran demokratisasi menjadi lahan subur tumbuhnya kelompok Islam radikal. Fenomena radikalisme di kalangan umat Islam seringkali didasarkan pada paham keagamaan, padahal sumber asli radikalisme bisa berasal dari berbagai sumbu, seperti ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain. Dalam konstelasi politik Indonesia, muncul persoalan radikalisme Islam. meningkat karena pendukungnya juga meningkat. Namun, gerakan radikal tersebut terkadang memiliki pandangan dan tujuan yang berbeda, sehingga kurang memiliki pola yang padu. Ada yang berjuang untuk sekadar menerapkan syariat Islam tanpa perlu mendirikan AuNegara IslamAy, tetapi ada juga yang berjuang untuk mendirikan AuNegara Islam IndonesiaAy. Selain itu, ada yang memperjuangkan berdirinya AuKhilafah IslamAy. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Hizbut Tahrir Indonesia dan kelompok militer seperti Laskar Jihad. Front Pembela Islam dan Front Pemuda Islam Surakarta. Meskipun terdapat perbedaan di antara mereka, masyarakat memiliki kecenderungan umum untuk mengasosiasikan gerakan tersebut dengan gerakan radikalisme Islam di luar negeri. Radikalisme yang mengarah pada terorisme merupakan masalah besar umat Islam di Indonesia saat ini. Kedua hal ini telah menyebabkan Islam dicap sebagai agama teroris dan umat Islam dipandang menganjurkan kekerasan suci untuk menyebarkan agama mereka. Meski anggapan ini mudah dibantah, fakta bahwa kerasnya umat Islam yang melakukan terorisme di Indonesia berdampak pada psikologi umat Islam secara keseluruhan. Berbagai aksi radikalisme terhadap generasi muda kembali mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan. Liberalisme Hakikat liberalisme adalah ideologi yang menempatkan ajaran agama dalam dinamika Nilai-nilai agama harus mengikuti dinamika perubahan dan perkembangan zaman. Ajaran agama tidak ada yang mengatur, semua ajaran agama pasti dinamis dan berubah dari waktu ke waktu. Liberalisme yang dibawa oleh peradaban barat modern telah menjadi fenomena umum, manusia telah digiring untuk melupakan Tuhan. Mencurigakan dan relatif dijadikan landasan nilai, masyarakat digiring untuk tidak mempercayai kebenaran agama tertentu, dimana relativisme sebagai ukuran bukanlah kebenaran Liberalisme adalah salah satu dari beberapa ideologi di dunia barat yang tumbuh dan berkembang pada masa reformasi. Gereja dan Renaisans, yang menandai akhir Abad Pertengahan. Liberal secara harfiah berarti "bebas dari moderasi" karena menerapkan konsep hidup bebas dari kontrol gereja dan Liberalisme berasal dari kata latin liber yang artinya AumerdekaAy. Hingga abad ke-18 M, istilah tersebut erat kaitannya dengan konsep pasca emansipasi orang merdeka, yaitu mantan budak . rang Lahirlah istilah Auliberal artsAy yang berarti ilmu yang bermanfaat, dan menurut liberalisme setiap orang bebas harus memilikinya. Liberalisme dari perspektif agama berarti kebebasan untuk mengikuti, percaya dan melakukan apa saja sesuai dengan kecenderungan, kehendak dan keinginan individu. Lebih jauh lagi, liberalisme telah menjadikan pendidikan agama sebagai urusan privat. Artinya, konsep Amar ma'ruf dan Nahi munkar dianggap tidak bermakna bahkan bertentangan dengan konsep liberalisme. Selama tidak merugikan orang lain, maka pezina tidak boleh dihukum, apalagi jika dilakukan secara suka Tut Wuri Handayani. Vol 2. No 3 2023 98 | Page sama suka menurut asas ini. Karena menggeser peran agama dan politik wahyu dari ranah politik, ekonomi, dan sosial. Pemikiran liberal berkembang bak jamur di musim hujan, bahkan di masa reformasi, perkembangan pembebasan Islam semakin menampakkan ajarannya. Tradisi orientalis menghasilkan produksi karya yang berhubungan dan diikuti oleh para sarjana Islam. Terakhir, orientalis juga melahirkan sarjana-sarjana Islam yang tidak kritis terhadap Barat dan mengikuti pemikiran Sekarang ada intelektual Muslim di Indonesia yang membawa ide-ide yang merupakan bagian dari agenda Barat. Islam dipandang sebagai ancaman bagi Barat. Islam sebagai masalah politik yang potensial untuk mendapatkan kekuasaan di Barat, berbagai isu dan perusahaan berusaha untuk menaklukkan dan melemahkan Islam. Program saat ini adalah implementasi proyek liberalisasi Islam berskala besar dengan kedok reformasi pemikiran Islam, meskipun tujuan sebenarnya adalah untuk meruntuhkan fondasi fundamental pemahaman Islam saat ini dengan model pemikiran Barat dari Fondasi dasar yang dirusak oleh kaum liberal adalah iman . Sekularisme Sekuler berasal dari kata Latin AuSaeculumAy yang memiliki dua arti: waktu dan tempat. Waktu menunjukkan arti saat sekarang atau berarti kehadiran . , sedangkan tempat . mengacu pada arti dunia . Menurut KBBI, sekuler adalah kata sifat yang jika digabungkan dengan sesuatu berarti bersifat material atau sekuler yang tidak mengandung makna spiritual atau religius. Sekularisasi bisa menjadi penting. sesuatu yang mengarah pada kehidupan yang tidak berdasarkan ajaran agama, dan . penyelewengan bangunan atau benda milik yayasan agama sebagai milik umum dan untuk kepentingan lain. Sekularisme melibatkan gagasan atau cara berpikir bahwa moralitas tidak harus didasarkan pada ajaran agama. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kata sekularisasi, sekularisasi dan sekularisme memiliki arti dan konsep yang berbeda. Kata AusekularismeAy berasal dari kata saeculum yang berarti waktu dan tempat sekarang atau sekarang, sedangkan kata AusekularismeAy sering diartikan sebagai ideologi atau pemikiran yang timbul dari proses sekularisasi. Kata AusekularisasiAy secara luas diartikan dan dipahami sebagai suatu proses yang mengarah pada sekularisasi dan Meskipun memiliki perbedaan, pada dasarnya mereka memiliki nilai-nilai dasar yang sama, keduanya tunduk pada kehidupan Tuhan. Sejarawan setuju bahwa Eropa Barat telah mengalami sekularisasi selama 250 tahun terakhir. Pada dasarnya, asal muasal sejarah proses sekularisasi di kalangan orang Barat disebabkan oleh beberapa faktor: . trauma sejarah, yang terutama terkait dengan dominasi agama Kristen pada Abad Pertengahan, . masalah keaslian teks alkitabiah. , dan . masalah teologi Kristen. Masalah trauma sejarah, intinya sekularisme, bersumber dari sejarah kelam kekristenan Barat, istilahnya Auzaman gelapAy . ark tim. Abad Kegelapan dimulai dengan jatuhnya pemerintahan Romawi Barat pada tahun 476 dan kebangkitan Gereja Kristen sebagai lembaga dominan masyarakat Kristen Barat hingga kebangkitan Renaisans pada abad ke-1. Orang Barat merasakan hidup sengsara di bawah cengkeraman gereja. Gereja mengklaim sebagai wakil resmi Tuhan di bumi, gereja Kristen sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan melakukan berbagai tindakan yang sangat tidak manusiawi. Sebagai pemelihara pengaruh hegemonik, para pemimpin gereja Kristen harus berhati-hati menjaga kepentingannya sendiri. Dari masalah ini muncul sebuah institusi Gereja, atau sebuah institusi untuk menghancurkan musuh Gereja, yang dikenal dengan kejahatan dan kekejaman Gereja Kristen, yang dikenal sebagai Inkuisisi. Mendukung hegemoni ini juga berarti melestarikan konsep yang dimiliki Gereja, yaitu konsep AuinfalibilitasAy. Trauma orang Barat terhadap sejarah agama sangat mempengaruhi pandangan orang Barat tentang agama. Tidak mengherankan, ketika kata "agama" disebutkan, orang Barat memikirkan sejarah kelam Kekristenan, dengan doktrinnya, ritus inkuisisi, dan penganiayaan terhadap para sarjana. Dendam masyarakat Barat juga telah menimbulkan sikap para tokoh anti-agama yang dikenal sebagai Auanti-klerikalismeAy. Inilah alasan mengapa pemahaman kolektif berkembang tentang perlunya "sekularisasi" dalam kehidupan masyarakat. Menurut Harvey Cox, sekularisme yang dikutip oleh Adnin Armas sangat mendukung ajaran Alkitab. Menurutnya. Alkitab memiliki tiga komponen penting yang menjadi landasan sekularisme. ketidakkonsistenan alam, yaitu pengosongan nilai-nilai spiritual dan agama dengan memandang Tut Wuri Handayani. Vol 2. No 3 2023 99 | Page dan memahami alam semesta. tumpulnya politik, yaitu penghilangan unsur-unsur spiritual dan ajaran agama tertentu dari politik, dan akibat atau konsekuensi dari dua doktrin sebelumnya adalah . penurunan nilai, yaitu, relatif atau non-absolutisasi seluruh umat manusia. nilai-nilai, jadi kebenaran tidak ada yang mutlak, segala sesuatu bersifat relatif bagi setiap orang menurut persepsi masing-masing individu. Pendidikan agama adalah program pendidikan yang memuat nilai-nilai yang biasanya berasal dari kebiasaan masyarakat yang diperoleh anak pada masa kanak-kanak, dan di samping itu, objek pendidikan adalah seperangkat nilai yang tidak dapat dinilai dengan penilaian benar atau salah, tapi akurat penilaian baik dan buruk, percaya dan tidak percaya, suka dan tidak suka dll. Di sisi lain, pengajaran pengetahuan terutama yang berkaitan dengan fakta dan keterampilan tidak terlalu sulit karena tidak terlalu banyak mengandung nilai. Pendidikan Islam saat ini lebih mengutamakan pendekatan naturalistik-positivis. Jenis pendekatan saintifik ini lebih menitikberatkan pada aspek koherensi tanpa banyak menyentuh aspek praktis-moral. Meskipun mungkin tingkat pengetahuannya . lebih tinggi dari pengetahuan yang menitikberatkan pada aspek konformitas tekstual yang lebih mengutamakan kemampuan siswa dalam mengingat beberapa teks agama yang ada. Pendekatan doktrinal diperlukan pada area pertama prinsip-prinsip fundamental keberagamaan Islam, sedangkan pendekatan yang lebih ilmiah diperlukan pada area kedua. Pembelajaran agama yang bersifat doktrinal dengan cepat menjadi membosankan dan tidak menarik, apalagi bagi generasi muda yang sudah mengetahui dan memahami berbagai bidang ilmu empiris . aik ilmu alam maupun ilmu perilak. Di sisi lain, pendekatan kedua untuk sementara sangat menarik bagi siswa yang ada, tetapi pada akhirnya gagal membentuk dan membentuk sikap dan sikap hidup yang jelas. Agar penelitian ilmiah lebih bermakna, maka harus juga dibarengi dengan pendekatan pengajaran-keagamaan yang sangat menghargai beberapa nilai-nilai agama yang ada. Eksistensi pendidikan Islam selalu bersentuhan dan bergelut dengan realitas di sekitarnya. Dari perspektif sejarah, pergulatan antara pendidikan Islam dengan realitas sosial budaya memiliki dua kemungkinan: Pertama, pendidikan Islam memiliki pengaruh besar terhadap lingkungan sosial budaya, memberikan wawasan filosofis, visi atau arah masa depan, motivasi perilaku dan pedoman perubahan dalam kehidupan. masyarakat baru. Kedua, pendidikan Islam juga dipengaruhi oleh realitas perubahan sosial, lingkungan sosial budaya dalam menentukan sistem pendidikan, lembaga atau lembaga dan pilihan-pilihan yang lebih penting, serta keberadaan dan realisasi di dalamnya. Konsep pendidikan Islam sangat terkait dengan kapasitas sumber daya manusia yang kompeten yang menggarisbawahi kualitas kehidupan duniawi dan spiritual sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Noeng Muhadjir menyebutnya sebagai sosok manusia yang utuh. Menurut Arifin, tujuan pendidikan Islam pada hakekatnya adalah menjadikan seorang muslim yang beriman dan juga bertakwa, berilmu dan bertakwa kepada Tuhan secara menyeluruh. Persaingan atau kompetisi dan komersialisasi saat ini telah mempengaruhi dan mengubah keberadaan lembaga pendidikan Islam, serta madrasah dan pondok pesantren yang ada. Banyak pesantren telah beralih dari tradisi mulia mereka sebelumnya, menawarkan asrama yang "terjangkau" mulai dari yang murah hingga harga hotel. Saat ini persaingan antara madrasah dan pesantren berlangsung lama tanpa memberikan pelayanan yang memadai kepada anak didiknya, berbagai brosur dan iklan dicetak dalam jumlah banyak, bahkan spanduk dipasang di berbagai sudut jalan untuk menarik konsumen. inginkan, sehingga misi pendidikan Islam berubah dari misi Audakwah IslamAy menjadi bisnis. Pendidikan agama Islam adalah upaya sistematis untuk membantu peserta didik hidup sesuai dengan ajaran Islam. Pertarungan antara pendidikan Islam dan realitas sosial budaya menghadapi dua kemungkinan: Pendidikan Islam berdampak signifikan terhadap lingkungan sosial budaya Pendidikan Islam sangat dipengaruhi oleh realitas perubahan sosial, lingkungan sosial Peran guru penting dalam mencegah sekularisme di sekolah karena guru merupakan komponen pendidikan yang dapat mempengaruhi pemikiran siswanya, terutama guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dianggap menjadi panutan siswa moderat dalam menambah bahasa Islam. pelajaran di sekolah. Dalam kurikulum yang disusun oleh Mendikbud atau pemerintah yang kemudian dijadikan acuan dasar bagi guru pendidikan agama Islam, bahan ajarnya tidak mengandung unsur sekularisme. Guru pendidikan agama Islam harus menciptakan suasana keagamaan yang sehat bagi peserta didik agar terhindar dari sekularitas Islam. Upaya guru pendidikan agama Islam untuk Tut Wuri Handayani. Vol 2. No 3 2023 100 | Page membasmi pendidikan agama Islam dengan mempelajari nilai-nilai pendidikan anti sekularisme dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah. Menurut Al-Attas. Sekular atau Saeculum adalah negara yang hadir pada masa kini, proses sekularisasi adalah proses pembebasan manusia dari agama, artinya dunia terbebas dari konsepkonsep keagamaan. Sekularisasi tidak hanya mencakup aspek kehidupan sosial dan politik, tetapi aspek budaya juga mencakup sekularisasi, karena proses sekularisasi menunjukkan hilangnya agama atau agama sebagai simbol hubungan budaya. Menurutnya, sekularisme memiliki ideologi, dimana ideologi itu seperti proses sekularisasi. Yaitu, untuk membebaskan dunia dari sudut pandang agama. Islam memiliki visi absolutnya sendiri tentang Tuhan, alam semesta, realitas dan manusia. Islam memiliki pandangan dunia dan pandangan akhirat yang memiliki makna tertinggi bagi umat manusia. Oleh karena itu. Islam menolak penerapan apapun pada dirinya, konsep sekularisme, sekularisasi atau Selain itu, sekularisme Islam tidak dapat menjadi bagian dari Islam, oleh karena itu komponen penting dari pengaruh sejarah dan budaya Barat yang terkait dengan dimensi sekuler tidak boleh merupakan monopoli budaya dan peradaban, karena sejarah dan budaya, yang memiliki peran penting dalam dimensi sejarah. Sejarah dan budaya Islam, dimaknai sebagai komponen penting dari ukuran Islamisasi dari perspektif Islam. Perkembangan peradaban barat meninggalkan Islam, ideologi Islam dengan visinya tertulis dalam Al-Quran dan Al-Sunnah dan tetap menjadi gaya hidup. Dalam bukunya Islam and Secularism. Syed Muhammad Naquib al-Attas secara terang-terangan mengatakan bahwa Islam menolak segala paham sekularisme, hal ini dikarenakan konsep-konsep yang terkandung dalam sekularisme bukanlah bagian dari seluruh aspek Islam, konsep-konsep tersebut adalah sejarah intelektual Kristen Barat. Kesimpulan Perkembangan paham aktual keagamaan dengan agen agen pelaksana yang menarget generasi muda terutama usia sekolah menjadikan satu problema baru bagi lembaga pendidikan. paham keagamaan aktual yang identik dengan mengatasnamakan agama sebagai dasar memantik guru pendidikan agama Islam untuk turun tangan dalam menyelesaikan persoalan ini. Bentuk peran guru pendidikan Agama Islam dilakukan dengan cara prefentif dan represif. Cara prefentif diperankan oleh guru berupa pencegahan peserta didik untuk mengenal dan terjerumus sebagai pengikut salah satu paham aktual yang legalitas bahkan keberadaannya ditolak karena bertentangan dengan prinsip beragama Islam dan bernegara. Tindakan pencegahan dapat dilakukan oleh guru pendidikan Agama Islam dalam lingkup sekolah dan lebih khusus lingkung kelas. Dalam menyampaikan seluruh materi pendidikan agama Islam, guru dapat mengkorelasikan beberapa materi yang relevan dengan pembahasan paham keagamaan aktual ini. Sedangkan untuk tindakan berupa rehabilitasi atau penyembuhan, dilakukan secara khusus untuk peserta didik yang sudah terlanjur mengenal dan terjun menjadi bagian dari penganut paham keagamaan aktual yang bertentangan dengan prinsip beragama dan bernegara. Penanganan khusus ini selain melibatkan guru pendidikan agama Islam juga melibatkan pihak lainnya seperti guru BK dan orang tua peserta didik Referensi