GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Intervensi Peningkatan Kemampuan Komunikasi pada Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD): Sistematik Review Natasya Mutiara Salsabella1*. Iswinarti Iswinarti1 . Universitas Muhammadiyah Malang. Indonesia. Abstract Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurodevelopmental disorder that affects social interaction, communication, and behavior. Children with ASD often struggle to understand and interpret communication, impacting their social interactions. Various interventions have been developed to improve communication skills in children with ASD, such as PECS, music therapy. DIR Floortime. Aided Language Stimulation, flashcard play. Rolling Picture media, and Discrete Trial Teaching with a JASP EMT SGD approach. This study aims to identify and analyze these interventions through a systematic review approach. The findings indicate that appropriate interventions can help children with ASD develop their communication skills. These findings are expected to serve as a reference for parents, educators, and practitioners in selecting suitable intervention methods to support the communication development of children with ASD. Keywords: Autism Spectrum Disorder. Communication Intervention. ASD Children Article Info Artikel History: Submitted: 2025-04-25 | Published: 2025-09-30 DOI: http://dx. org/10. 24127/gdn. Vol 15. No 3 . Page: 627 - 638 (*) Corresponding Author: Natasya Mutiara Salsabella. Universitas Muhammadiyah Malang. Indonesia. Email: partnerskripsian@gmail. Ini adalah artikel akses terbuka yang disebarluaskan di bawah ketentuan Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi 4. 0, yang mengizinkan penggunaan, penyebaran, dan reproduksi tanpa batasan di media mana pun dengan mencantumkan karya asli secara benar. PENDAHULUAN Gangguan spektrum autisme (ASD), termasuk autisme, mengacu pada sekelompok gangguan neurodevelopmental yang ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal pada berbagai tingkat, serta perilaku yang monoton (Geetha et al. , 2. Tanda-tanda autisme sebenarnya dapat diamati sejak usia dini. Bayi dengan autisme cenderung tidak merespons sentuhan maupun afeksi yang diberikan serta menghindari kontak mata dengan orang di sekitarnya. Anak dengan autisme juga jarang berbicara, dan jika berbicara, cara bicaranya cenderung berbeda, seperti minim ekspresi atau gestur. Selain itu, mereka kesulitan memahami upaya orang lain untuk mendekatinya, misalnya dengan senyuman atau tawa. Setelah melewati usia satu tahun, anak dengan Page | 627 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA autisme biasanya lebih memilih untuk mengisolasi diri dan tenggelam dalam dunianya Jika merasa terganggu oleh orang lain, mereka cenderung menunjukkan reaksi marah (Mash & Wolfe, 2. Sebagai dampaknya anak dengan autisme menghadapi kesulitan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh gangguan pervasif yang memengaruhi aspek komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku Gangguan dalam komunikasi pada anak autis berdampak pada keterampilan interaksi mereka dengan lingkungan sekitar. Kesulitan ini muncul karena anak autis mengalami hambatan dalam memahami serta menafsirkan maksud dari satu sama lain (Sidiq, 2. Akibatnya anak dengan ASD kerap menghadapi tantangan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, serta menunjukkan beberapa ciri khas seperti keterlambatan atau ketiadaan perkembangan bahasa, kesulitan berbicara seolah-olah mengalami gangguan pendengaran, penggunaan kata dengan makna yang tidak sesuai, pengulangan kata atau ocehan tanpa makna, serta minimnya penggunaan bahasa untuk Selain itu, mereka sering meniru ucapan tanpa memahami maknanya, sebagian tetap non-verbal atau memiliki keterbatasan verbal hingga dewasa, dan cenderung menarik tangan orang lain untuk menyampaikan keinginannya (Amuinekeu. Komunikasi pada anak dengan autisme memiliki beberapa karakteristik, antara lain: perkembangan bahasa yang terhambat atau bahkan tidak berkembang sama sekali, . anak tampak seperti mengalami gangguan pendengaran, kesulitan berbicara, atau sempat memiliki kemampuan berbicara tetapi kemudian kehilangan kemampuan tersebut, . terkadang menggunakan kata-kata dengan makna yang tidak sesuai, . sering mengulang ocehan tanpa arti dengan bahasa yang sulit dipahami oleh orang lain, . jarang atau tidak menggunakan bicara sebagai alat komunikasi, . cenderung meniru atau mengulangi ucapan orang lain . tanpa memahami maknanya, . sebagian anak dengan autisme tetap nonverbal atau memiliki keterbatasan berbicara hingga dewasa, dan . sering menarik tangan orang lain untuk meminta atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan (Saparuddin, 2. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi dan interaksi anak dengan autisme melalui intervensi yang tepat, sehingga mereka dapat mengoptimalkan kemampuan serta memenuhi kebutuhannya. Semakin dini autisme ditangani, semakin efektif penanganan yang diberikan. Selain intervensi profesional, upaya mendidik dan membimbing anak autisme juga penting untuk melatih keterampilan sosial, komunikasi, serta perilakunya agar dapat beradaptasi lebih baik dengan lingkungannya. Oleh karena itu, orang tua memiliki peran krusial dalam mendukung perkembangan anak dengan autisme, termasuk dengan rutin berkonsultasi dengan dokter untuk menemukan metode yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka (Romadhoni, 2. Dengan demikian untuk memahami berbagai intervensi yang dapat membantu meningkatkan keterampilan komunikasi anak dengan autisme menjadi hal yang penting. Sistematik review ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai bentuk intervensi yang dapat diterapkan guna meningkatkan keterampilan komunikasi pada anak dengan Melalui systematic review ini, diharapkan dapat ditemukan strategi intervensi yang paling efektif dalam membantu anak autis berkomunikasi dengan lebih baik, sehingga dapat meningkatkan kualitas interaksi sosial dan kesejahteraan mereka. Page | 628 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA METODE Desain Penelitian Penelitian ini merupakan sebuah literature review yang bertujuan untuk mengkaji peran intervensi dalam meningkatkan komunikasi pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Proses review diawali dengan perumusan pertanyaan penelitian menggunakan formulasi SPIDER (Sample. Phenomenon of Interest. Design. Evaluation. Research Typ. agar pertanyaan penelitian tersusun secara sistematis. Pertanyaan penelitian yang dirumuskan adalah: bagaimana peran intervensi dalam meningkatkan komunikasi pada anak ASD? Berdasarkan pertanyaan tersebut, penulis menyusun strategi pencarian literatur dengan menentukan kata kunci yang relevan, yaitu Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Communication Intervention. Pencarian literatur dilakukan pada beberapa basis data ilmiah, meliputi PubMed. ScienceDirect. Springer. Taylor & Francis Online, dan Wiley Online Library. Artikel yang diperoleh kemudian melalui proses pengecekan duplikasi menggunakan perangkat lunak Publish or Perish dan Rayyan. Tahap seleksi dilakukan secara bertahap, dimulai dari penyaringan judul dan abstrak, kemudian dilanjutkan dengan telaah teks lengkap. Dari total 237 artikel yang teridentifikasi pada tahap awal, sebanyak 12 jurnal dinyatakan memenuhi kriteria dan digunakan dalam review ini. Partisipan Penelitian ini tidak melibatkan partisipan secara langsung karena menggunakan desain literature review. Subjek kajian dalam penelitian ini adalah artikel-artikel ilmiah yang membahas intervensi komunikasi pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini berupa panduan pencarian dan seleksi literatur yang disusun berdasarkan pertanyaan penelitian dan kriteria inklusi serta eksklusi. Selain itu, penulis memanfaatkan database ilmiah (PubMed. ScienceDirect. Springer. Taylor & Francis Online, dan Wiley Online Librar. serta perangkat lunak Publish or Perish dan Rayyan sebagai alat bantu dalam proses identifikasi, manajemen, dan penyaringan artikel. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan melalui proses seleksi dan penelaahan artikel secara sistematis. Artikel yang lolos seleksi dianalisis berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan penelitian, khususnya terkait jenis intervensi yang digunakan dan perannya dalam meningkatkan komunikasi pada anak ASD. Alur seleksi jurnal divisualisasikan menggunakan diagram PRISMA sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1. Page | 629 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Gambar 1. Grafik PRISMA Alur Seleksi Jurnal Dalam review ini, kriteria inklusi yang ditetapkan meliputi: . jurnal yang membahas peningkatan komunikasi pada anak dengan ASD serta mencantumkan intervensi yang digunakan, . jurnal yang diterbitkan pada rentang tahun 2016Ae2025, . jurnal yang berasal dari publikasi nasional maupun internasional, serta . penelitian dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif. Adapun kriteria eksklusi meliputi: . jurnal yang membahas komunikasi pada anak ASD tanpa menjelaskan intervensi peningkatannya, . jurnal yang tidak berasal dari publikasi nasional atau internasional yang kredibel, serta . artikel berbentuk buku, meta-analisis, atau penelitian dengan metode yang tidak dijelaskan secara jelas. HASIL DAN PEMBAHASAN Kesulitan komunikasi pada anak autis menyebabkan hambatan dalam menyampaikan kebutuhan atau keinginan mereka, sehingga lawan bicara sering kali mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang disampaikan. Akibatnya, anak tidak mendapatkan respons yang sesuai dengan harapannya. Situasi ini yang terus berulang dapat memicu reaksi seperti berteriak, tantrum, serta perilaku agresif, seperti kemarahan, menyakiti orang lain atau diri sendiri, hingga merusak benda di sekitarnya. Selain itu, ketidakmampuan dalam berkomunikasi juga dapat membuat anak menjadi pasif dalam berinteraksi dengan Dampaknya, mereka kesulitan mengekspresikan keinginan, mengalami hambatan dalam perkembangan perilaku, memiliki keterbatasan dalam pembelajaran akademik, menghadapi prospek pekerjaan yang minim, serta mengalami kesulitan dalam membangun jaringan sosial (Iacono et al. , 2. Adapun aspek komunikasi pada anak autis mencakup berbagai kemampuan, di antaranya: . Kemampuan komunikasi verbal: Anak dengan autisme sering kali mengalami kesulitan dalam memahami makna kata atau kalimat yang disampaikan kepada Page | 630 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Selain itu, mereka juga cenderung mengulang kata atau frasa tertentu dalam . Kemampuan komunikasi nonverbal: Anak autis lebih banyak mengandalkan komunikasi nonverbal saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar, seperti melalui ekspresi wajah, gerakan tangan, atau bahasa tubuh lainnya. Kemampuan berinteraksi sosial: Kesulitan dalam memahami ekspresi wajah serta emosi orang lain sering kali menjadi tantangan bagi anak dengan autisme dalam menjalin interaksi sosial. Kemampuan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif: Perkembangan keterampilan berbicara dan berkomunikasi pada anak autis tidak selalu mengikuti pola yang sama. Sering kali terdapat perbedaan antara pemahaman bahasa . ahasa resepti. dan kemampuan berbicara . ahasa ekspresi. mereka (Sari & Rahmasari, 2. Pendekatan dalam menangani anak dengan gejala autisme bertujuan untuk membantu mereka belajar, berinteraksi, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar (Romadhoni, 2. Beberapa langkah yang dapat diterapkan meliputi: . Mengidentifikasi minat serta kelebihan anak untuk mengoptimalkan proses belajar. Menggunakan metode pembelajaran berbasis visual, karena anak dengan autisme lebih responsif terhadap gambar, diagram, atau papan tulis interaktif guna membantu mereka memahami konsep secara lebih konkret. Menciptakan lingkungan belajar yang terstruktur agar anak merasa nyaman dan siap untuk belajar serta berinteraksi dengan . Memberikan dukungan komunikasi melalui penggunaan bahasa sederhana, gambar, alat komunikasi alternatif . eperti benda konkre. , atau bahasa isyarat jika diperlukan. Menerapkan penguatan positif dengan memberikan reward atau pujian sebagai bentuk apresiasi serta dukungan emosional. Membangun kolaborasi antara sekolah dan terapis guna merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Mengajarkan keterampilan sosial agar anak mampu berinteraksi dengan teman sebaya, guru, serta lingkungan sekitar. Melibatkan keluarga dalam proses pembelajaran dengan memberikan dukungan di rumah. Bersikap sabar dan fleksibel dalam menerapkan strategi pembelajaran sesuai dengan perkembangan anak. Penanganan anak dengan autisme melibatkan pendekatan yang bersifat individual dan sering kali memerlukan kombinasi berbagai metode. Berbagai metode ini merupakan bagian dari intervensi yang bertujuan untuk membantu anak autisme dalam mengembangkan keterampilan komunikasi, interaksi sosial, serta kemampuan adaptif Terdapat beberapa jenis intervensi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan komunikasi pada anak dengan ASD, sebagaimana ditampilkan dalam tabel berikut: Tabel 1. Daftar Intervensi Komunikasi pada ASD Penulis (Heryati & Ratnengsih. Subjek Subjek tunggal dengan spectrum (Phandinata et al. (Aprioza et al. , 2. (Nurfah et al. , 2. Subjek tunggal dengan spectrum autism usia 14 Anak laki-laki dengan spektrum autis usia 7 tahun Anak dengan spektrum autis di Page | 631 Intervensi PECS (Picture Exchange Communication Syste. dengan media simbolsimbol verbal DIR Floortime Tujuan Intervensi Meningkatkan Aided language Meningkatkan komunikasi ekspresif Terapi musik Meningkatkan komunikasi verbal Meningkatkan komunikasi dua arah GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. TK Balloon Makassar 1 subjek dengan spektrum autis yang masuk dalam usia SD yaitu 7-12 1 subjek dengan spectrum autism 1 subjek anak lelaki dengan spektrum autis dengan usia 7 hingga 6 bulan (Lestari & Sholichah, (Nurhayati et al. , 2. (Sukriananda & Mangunsong, 2. (Hampton et al. , 2. Sebanyak 68 anak berusia antara 3 hingga 5 tahun dengan autisme, beserta pengasuh (Bharathi et al. , 2. 54 anak dengan tingkat autism ringan hingga berat Terapi musik (Lutfianti et al. , 2. Individu dengan (Isnaini, n. , 2. (Dani, 2. Subjek anak lelaki dengan spektrum autis dengan usia 11 tahun Sujek seorang anak yang telah di diagnosis ASD oleh psikolog dengan usia 7-8 tahun Augmentative Alternative Communication (AAC) melalui media Picture Exchange Communication System (PECS) Permainan ular GUIDENA Bermain flash Meningkatkan Media Rolling Picture PECS (Picture Exchange Communication Syste. dengan kartu bergambar Discrete Trial Teaching, serta JASP EMT SGD Meningkatkan komunikasi verbal Meningkatkan PECS (Picture Exchange Communication Syste. Mengevaluasi efektivitas intervensi komunikasi multikomponen terhadap komunikasi social pada anak-anak kecil dengan autisme Menilai efektivitas terapi music (MT) dalam meningkatkan keterampilan social anak autis, efeknya, serta Mengetahui komunikasi anak Meningkatkan kemampuan bahasa Meningkatkan komunikasi verbal Tinjauan sistematik ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai jenis intervensi yang dapat diterapkan guna meningkatkan komunikasi pada anak dengan ASD. Berbagai bentuk intervensi yang digunakan untuk mendukung perkembangan komunikasi pada ASD dapat dilihat pada Tabel 1 di atas. Terdapat empat jurnal yang membahas intervensi menggunakan metode PECS (Picture Exchange Communication Syste. , dua jurnal membahas intervensi dengan terapi musik, serta beberapa jurnal lainnya yang meneliti berbagai metode seperti DIR Floortime. Aided Language Stimulation. Page | 632 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA bermain flashcard, permainan ular tangga, media Rolling Picture. Discrete Trial Teaching dengan pendekatan JASP EMT SGD. Pertama yaitu metode Picture Exchange Communication System (PECS) adalah sistem komunikasi non-verbal yang berbasis pertukaran gambar. Dalam penerapannya. PECS menggunakan modul berupa gambar dan buku perekat. Metode ini membantu anak berkomunikasi secara terstruktur dan disiplin, serta memungkinkan mereka menyampaikan pendapat melalui gambar yang dipilih. PECS dianggap sebagai salah satu metode yang efektif dalam melatih anak non-verbal untuk berkomunikasi (Vistasari, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Heryati & Ratnengsih . menunjukkan bahwa metode PECS dapat menjadi alternatif dalam melatih komunikasi anak dengan autisme. Metode ini dirancang agar sesuai dengan karakteristik serta keunikan pola komunikasi mereka. Sejalan dengan temuan tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Sukriananda & Mangunsong . juga menunjukkan bahwa intervensi dengan metode PECS mampu meningkatkan kemampuan komunikasi anak dengan autisme. Hasil penelitian mereka mengungkapkan adanya peningkatan persentase keberhasilan anak dalam memulai komunikasi secara mandiri menggunakan kartu bergambar, mencapai hingga 40% setelah diberikan intervensi. Lebih lanjut, temuan serupa juga diperoleh dalam penelitian yang dilakukan oleh Lutfianti et al. , yang menyatakan bahwa penggunaan media PECS dapat meningkatkan keterampilan komunikasi anak autis. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan rata-rata skor dalam beberapa tahapan penelitian. Pada fase baseline-1 (A. , data yang diperoleh memiliki rata-rata sebesar 28%, di mana data ini dikumpulkan secara alami tanpa adanya perlakuan atau intervensi. Kemudian, pada fase intervensi (B), terjadi peningkatan skor dengan rata-rata 47%, yang menunjukkan adanya perkembangan akibat perlakuan atau intervensi menggunakan media PECS. Sementara itu, pada fase baseline-2 (A. , subjek memperoleh skor dengan rata-rata 46%, di mana data ini dikumpulkan secara alami setelah perlakuan atau intervensi, menunjukkan efek dari intervensi yang telah diberikan. Secara keseluruhan, perubahan data pada fase baseline-1 (A. , intervensi (B), dan baseline-2 (A. menunjukkan pola data yang stabil, mengindikasikan efektivitas PECS dalam meningkatkan kemampuan komunikasi anak autis. Temuan serupa juga ditemukan pada penelitian Robik Anwar Dani . kemampuan komunikasi verbal pada subjek mengalami peningkatan setelah diberikan intervensi berupa PECS. Skor perkembangan komunikasi verbal pada subjek meningkat secara bertahap mulai dari baseline satu, intervensi sampai dengan baseline dua. Ada tiga faktor mempengaruhi kecepatan dalam mempelajari PECS, yakni variasi materi gambar yang membuat subjek termotivasi untuk berinisiatif melakukan komunikasi, penggunaan simbol-simbol konkret yang sesuai dengan benda aslinya, dan intervensi yang berfokus pada meminta dengan motivasi dan reward yang diberikan kepada subjek. Pada awal baseline satu subjek sangat aktif dan sulit sekali dikontrol. Subjek berperilaku tidak lazim ketika menginginkan sesuatu, salah satunya adalah dengan menyerobot, menarik, dan juga mengambil paksa. Setelah memasuki tahap intervensi subjek mulai menunjukkan antusiasme pada gambar-gambar yang tampak seperti aslinya dan mulai memahami konsep yang diajarkan. Kedua terapi musik, terapi musik (Music Therapy/MT) adalah profesi kesehatan yang telah lama digunakan, di mana musik dimanfaatkan dalam hubungan terapeutik untuk menangani kebutuhan fisik, emosional, kognitif, dan sosial seseorang. Musik merupakan bentuk komunikasi manusia yang dapat membantu mengatasi permasalahan dalam pergerakan, persepsi, dan emosi. Bahkan, anak dengan keterbatasan fisik, intelektual. Page | 633 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA atau emosional yang parah masih dapat memberikan respons terhadap music (Gresham. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurfah et al . , dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi verbal siswa autis di TK Balloon Makassar mengalami peningkatan yang signifikan melalui penerapan terapi musik. Peningkatan ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga tetap terjaga dan bahkan terus berkembang setelah perlakuan dihentikan. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Bharathi et al . menunjukkan bahwa terapi musik (MT) dapat meningkatkan komunikasi pada anak dengan ASD, namun metode Orff-Schulwerk memberikan hasil yang lebih baik. Ketiga intervensi DIR Floortime adalah metode yang dapat diterapkan oleh orang tua dan guru untuk membantu mengembangkan kemampuan sosial, khususnya keterampilan interpersonal dan emosional, pada anak serta remaja dengan gangguan Metode ini mendorong anak untuk berinteraksi baik secara nonverbal maupun verbal (Greenspan & Wieder, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Phandinata et al. menunjukkan bahwa intervensi menggunakan DIR Floortime terbukti efektif dalam meningkatkan komunikasi dua arah yang bertujuan pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Metode ini membantu meningkatkan kemampuan anak dalam membuka lingkaran komunikasi, memberikan sinyal permainan secara terarah, serta menutup lingkaran komunikasi dengan rangkaian perilaku yang lebih terstruktur. Secara khusus, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa DIR Floortime secara signifikan meningkatkan kemampuan anak dalam membuka lingkaran komunikasi, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Namun, dalam hal menutup lingkaran komunikasi, metode ini belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Keempat Aided Language Stimulation. Menurut Dada & Alant dalam Peterson . Aided Language Stimulation (ALS) merupakan metode intervensi yang bertujuan meningkatkan komunikasi ekspresif dengan cara mitra komunikasi memberikan contoh penggunaan bahasa, yaitu dengan berbicara sambil menunjuk simbol secara bersamaan. Penerapan metode ini dilakukan dengan mengucapkan kata-kata sambil menunjukkan simbol terkait. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Phandinata et al. Aided Language Stimulation terbukti berpengaruh dalam meningkatkan komunikasi ekspresif pada anak dengan spektrum autisme. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan, di mana skor komunikasi ekspresif pada fase baseline (A) sebesar 36,1% meningkat menjadi 47,2% pada fase intervensi (B) setelah diberikan perlakuan dengan metode ini. Kelima, bermain flashcard, menurut Wahyuni . , flashcard adalah media berbentuk kartu bergambar yang dibuat dari foto atau ilustrasi, dengan keterangan yang tertera di bagian belakangnya. Anak dengan autisme umumnya lebih mudah memahami kata-kata yang diajarkan melalui metode visual dengan cara diperlihatkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lestari & Sholichah . , terapi bermain menggunakan flashcard terbukti berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan komunikasi pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Dalam penelitian ini, intervensi dilakukan dalam empat sesi untuk mengoptimalkan perkembangan komunikasi anak. Flashcard dipilih sebagai media karena dianggap efektif dalam membantu anak autis berlatih komunikasi. Christina . juga menyatakan bahwa flashcard, yang dikenal sebagai kartu baca bergambar, merupakan salah satu media pembelajaran yang menyenangkan karena mengajarkan anak melalui permainan interaktif. Keenam, permainan ular tangga. Permainan ular tangga merupakan alat bantu berupa petak ular tangga yang telah dimodifikasi per petak ular tangga diberi pertanyaan dan juga gambar yang mampu menceritakan bahasa ekspresif pada anak autism (Isnaini. Page | 634 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Media permaianan ular tangga dapat membantu meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif pada anak autism (Isnaini, 2. Media ini dapat digunakan secara individu maupun berkelompok. Melalui permainan ular tangga ini, anak autis dapat belajar menceritakan atau menggambarkan situasi serta mengembangkan bahasa ekspresif anak seperti situasi marah, senang, sedih. Dalam penelitian ini, permainan ular tangga dapat meningkatkan kemampuan Bahasa ekspresif pada anak autis yaitu dengan menyebutkan jawaban dan mampu mengekspresikan atau memperagakan perasaan marah, sennag, sedih serta mengikuti aturan permainan, dibuktikan dengan hasil overlap sebesar 0% yang artinya semakin kecil presentase overlap, semakin baik pengaruh intervensi terhadap target behavior. Ketujuh, media Rolling Picture. Media Rolling Picture merupakan alat bantu berupa roda berputar yang telah dimodifikasi untuk melatih komunikasi verbal dan nonverbal pada anak dengan autisme (Anggraini & Ningrum, 2. Media ini dapat digunakan baik secara individu maupun dalam kelompok. Melalui penggunaan Rolling Picture, anak autis dapat belajar mengekspresikan keinginannya, memahami konsep spasial, serta melatih kemampuan memposisikan diri dalam berbagai situasi. Contohnya, ketika merasa lapar, anak dapat memahami ke mana harus pergi untuk mendapatkan makanan. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati et al. menunjukkan bahwa penggunaan media Rolling Picture berdampak positif dalam meningkatkan komunikasi verbal pada anak autis, khususnya dalam memahami penggunaan tempat secara lebih baik. Kedelapan. Discrete Trial Teaching dengan pendekatan JASP EMT SGD. Discrete Trial Teaching (Smith et al. , 2004. Smith, 2. adalah metode intervensi terstruktur yang memberikan latihan berulang dalam konteks sistematis untuk mengajarkan berbagai keterampilan komunikasi dan perkembangan pada anak autis. Sementara itu. JASP EMT SGD (Kasari et al. , 2. menggabungkan pendekatan Joint Attention. Structured Play. Engagement, and Regulation (Kasari et al. , 2. dan Enhanced Milieu Teaching (Kaiser & Hampton, 2. dengan penggunaan speech-generating device (SGD). Pendekatan ini terbukti meningkatkan bahasa lisan, komunikasi spontan, serta mengurangi perilaku bermasalah (Sandbank et al. , 2. Menggabungkan instruksi langsung dari DTT dengan pendekatan naturalistik JASP EMT SGD dapat memberikan hasil lebih optimal, terutama bagi anak dengan keterlambatan bahasa yang signifikan (Kasari et al. , 2. Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Hampton et al. , . di dapatkanya hasil yaitu menunjukkan bahwa anak-anak dalam kelompok intervensi memiliki joint attention yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol setelah Selain itu, mereka juga menunjukkan peningkatan komunikasi sosial dengan pengasuhnya empat bulan setelah intervensi. Intervensi singkat dan multi-komponen ini berpotensi efektif dalam meningkatkan komunikasi sosial pada anak autis yang berisiko tetap minim berbicara. Page | 635 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA SIMPULAN Secara keseluruhan, tinjauan sistematik ini menunjukkan bahwa berbagai intervensi, seperti PECS, terapi musik. DIR Floortime. Aided Language Stimulation, bermain flashcard, media Rolling Picture, dan Discrete Trial Teaching dengan pendekatan JASP EMT SGD, dapat meningkatkan kemampuan komunikasi anak dengan ASD. Meskipun efektivitas masing-masing metode bervariasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi yang tepat dapat membantu anak dengan ASD dalam mengembangkan keterampilan komunikasi mereka. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi orang tua, pendidik, dan praktisi dalam memilih metode intervensi yang sesuai untuk mendukung perkembangan komunikasi anak dengan ASD. REFERENSI