Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 6. No 2. Juli 2025 SASO KAPYAF SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PERMAINAN TRADISIONAL YANG MENDIDIK KETRAMPILAN MANSONANEM ANAK DALAM TRADISI MASYARAKAT SUKU BIAK Hermanus Swom STFT GKI I. S Kijne Jayapura swomwabu@gmail. Lukius Kmur STFT GKI I. S Kijne Jayapura lukiuskmur@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dan fungsi permainan tradisional saso kapyaf dalam tradisi masyarakat Biak, khususnya di kampung Kbusdori, sebagai sarana pendidikan keterampilan mansonanem bagi anak-anak. Sejak dahulu permainan tersebut bukan saja sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mendidik kemandirian, ketangkasan, dan kecerdikan anak laki-laki agar mampu menjadi pribadi yang kuat, terampil berburu, dan siap menghadapi tantangan hidup. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara terstruktur, dan studi Informan penelitian terdiri dari tokoh masyarakat dan anak-anak di kampung Kbusdori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan saso kapyaf berfungsi sebagai latihan motorik, ketepatan, serta strategi, sekaligus sarana internalisasi nilai budaya Biak tentang keberanian, kerja keras, dan tanggung jawab. Pada aspek kerohania, menanamkan kesadaran akan hubungan yang harmonis dalam kebersamaan sesama dan dengan Sang Pencipta dan alam ciptaan-Nya. Namun, kurangnya pewarisan dari orang tua kepada generasi muda, sehingga kurang dilestarikan. Permainan saso kapyaf memiliki kontribusi penting dalam pembentukan keterampilan hidup mandiri anak, serta penting untuk dilestarikan sebagai warisan budaya edukatif masyarakat Biak. Kata Kunci: Saso Kapyaf. Permainan Tradisional. Keterampilan Mansonanem. Masyarakat Biak. Pendidikan Budaya. ABSTRACT This study aims to reveal the meaning and function of the traditional game of Saso Kapyaf in the traditions of the Biak people, particularly in Kbusdori Village, as a means of teaching mansonanem skills to children. Since ancient times, this game has been viewed not only as entertainment, but also as a learning medium that educates boys' independence, agility, and ingenuity so that they can become strong individuals, skilled hunters, and ready to face life's challenges. The research used a qualitative descriptive method with data collection techniques through observation, structured interviews, and literature study. The research informants consisted of community leaders and children in Kbusdori Village. The results showed that the Saso Kapyaf game serves as a means of motor, accuracy, and strategy training, as well as a means of internalizing Biak cultural values of courage, hard work, and responsibility. In the spiritual aspect, it instills an awareness of a harmonious relationship with the Creator and His creation. However, this game is now beginning to be abandoned due to a lack of transmission from parents to the younger generation, causing its educational significance to fade. This study concludes that the Saso Kapyaf game has an important contribution to the formation of children's independent living skills and needs to be preserved as an educational cultural heritage of the Biak community. Keywords: Saso Kapyaf. Traditional Games. Mansonanem Skills. Biak Community. Cultural Education. PENDAHULUAN Permainan merupakan salah satu unsur budaya manusia, sehingga pada manusia melekat sifatsifat bermain dalam aktivitas kebudayaan. Sifat bermain dalam kebudayaan itu berhubungan dengan kemampuannya sebagai pencipta dan pelaku kebudayaan sehingga manusia dikatakan sebagai makluk bermain . omo luden. Permainan itu berhubungan langsung dengan unsur-unsur budaya lainnya seperti bahasa, sistem religi, organisasi sosial, sistem teknologi, pendidikan dan pengasuhan, dan sistem Hubungan permainan dengan unsur budaya tersebut memberikan warna kepada permainan itu, sehingga dikatakan mengandung suasana atau sifat kebahasaan seperti seni suara, seni musik, pantun, sifat sakral dan sekuler, sifat kepestaan, sifat manipulasi alat-alat dan benda-benda, sifat edukatif, dan sifat rekreatif. Menurut Mansoben. ( 1. unsur-unsur budaya lain yang dijadikan modal pembanggunan di Supiori (Bia. adalah berbagai kearifan lokal. Kearifan lokal meliputi sistem pengobatan tradisional, sistem berhitung dan sistem bertani. Dalam perkembangan anak psikomotorik merupakan aspek yang meliputi perilaku gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik Keterampilan yang akan berkembang jika sering dipraktikkan ini dapat diukur berdasarkan jarak, ketepatan, teknik dan cara pelaksanaan. Permainan saso kapyaf adalah suatu bentuk keterampilan motorik bagi anak dalam tradisi masyarakat Biak yang dikembangkan secara khusus di kampung Kbusdori. Bentuk dan operasional dari peralatan bermain saso kapyaf yaitu setiap anak menyiapkan kayu lembing, yang berbentuk tombak, menyiapkan juga benda yang menjadi obyek pelemparan yang biasanya dipakai adalah pelepa kelapa sata sagu tetapi juga batang pisang yang bisa menancap lembing yang dilempar. Tradisi permainan saso kapyaf ini bertujuan membentuk keterampilan motorik dan mendidik, membina dan melatih anak laki-laki dalam suku Biak untuk memiliki suatu ketrampilan khusus yang dalam bahasa Biak disebut Mansonanem. Dalam tradisi berbahasa Biak Mansonanem artinya pelempar jitu atau orang yang selalu melempar tepat sasarannya. Membidik pada sasaran membutuhkan latihan yang rajin, fisik yang sehat, dan fokus. Sering istilah mansonanem dihubungkan juga dengan kemampuan berperang sehingga dalam ilmu berperang dalam masyarakat Biak seorang mansonanem dapat disebut mambri jika ketrampilan mansonanemnya dipakai untuk melindungi dan membela kepentingan masyarakat dikampungnya. Jika seorang anak memiliki gelar mansonanem dalam komunitas masyarakat Biak, itu artinya anak tersebut sudah berada pada kategori khusus anak yang cerdas dan perkasa dalam hal perang suku, berburu, nelayan dan tidak pernah pantang mundur dalam keinginan untuk mencapai sesuatu dan dia juga disebut seorang mambri. Dalam dunia pendidikan modern saat ini orang Biak menggunakan istilah mansonanem untuk menyebut seorang anak Biak yang belajar dan memiliki sejumlah ilmu pengetahuan, dan ketrampilan ilmu keguruan misalnya menjabat sebagai guru, dosen, pengajaran-pengajar lainnya selain itu dalam jabatan kepemimpinan masyarakat baik organisasi pemerintah maupun organisasi swasta. Sedangkan istilah mambri sering digunakan untuk menyebut orang Biak yang berjuang untuk melindungi dan membela kepentingan misalnya bidang keamanan yaitu tentara, polisi, satpam dan yang lainnya. Oleh karena itu permainan saso kapyaf ini tidak saja menjadi sebuah permainan gerak motorik saja tetapi juga adanya jenjang pendidikan dasar pengembangan diri untuk mencapai gelar mansonanem dan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yakni penelitian yang mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena secara apa adanya untuk menghasilkan gambaran yang sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta serta hubungan antarfenomena yang diteliti. (Purnia Silvi Dini, 2. Data yang digunakan terdiri dari data primer berupa hasil observasi dan wawancara dengan anak-anak dan masyarakat Kampung Kbusdori Kabupaten Biak Numfor, serta data sekunder berupa literatur, dokumen, dan referensi yang Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, yaitu pengamatan langsung terhadap subjek penelitian dalam keadaan nyata, wawancara terstruktur dengan beberapa masyarakat kampung untuk menggali pemahaman mereka , serta studi pustaka dengan menelaah buku, ensiklopedia, jurnal, dan dokumen terkait (Kartono, 1995,hlm. Analisis data dilakukan dengan mengkonfrontasikan data observasi dan wawancara menggunakan prosedur konfirmasi melalui membercheck, triangulasi, pengamatan ulang, serta pengecekan di lokasi berbeda maupun pada kejadian yang sama guna menjamin keabsahan data (Tokan. Ratu Lee . 6, hlm. Selanjutnya, data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif untuk menyingkap nilai edukatif permainan Saso Kapyaf sebagai sarana pembentukan keterampilan mansonanem dan mambri serta pembelajaran kemandirian anak dalam tradisi masyarakat Biak. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Pengertian Istilah Saso Kapyaf. Mansonanem, dan Mambri Secara etimologi dalam bahasa Biak pengertian istilah Saso Kapyaf dibagi menjadi dua bagian suku kata yaitu saso yang artinya melempar atau pelemparan. Sedangkan kapyaf artinya pelepah kelapa yang sudah kering. Dalam permainan pelemparan, kapyaf atau pelepah kelapa merupakan media pelemparan atau obyek yang menjadi tujuan atau sasaran pelemparan. Gambar 3. 1 Pelepah kelapa kering dan formasi permainan anak-anak dalam pelemparan pelepah kelapa (Saso kapaya. Istilah mansonanem terdiri dari dua kata yaitu man dan sonanem. Dalam Bahasa Biak man artinya seorang laki-laki, atau seekor burung. Sedangkan sonanem artinya pelemparan jitu. Pelemparan yang benar-benar mengenai sasaran obyek pelemparan. Dalam Pendidikan modern saat itu istilah mansonanem juga dipakai untuk menyebut anak-anak Biak yang pintar karena berpendidikan. Gambar 3. 2 Seorang yang melempar lembingnya kena sasaran obyek permainan pelepah kelapa Dalam Bahasa Biak istilah mambri mempunyai arti pahlawan, pemimpin perang, orang yang mempunyai pengalaman berperang, orang yang jika datang emosinya tidak pandang bulu. Tugas dan fungsi seorang mambri adalah mengayomi masyarakat kampung dari ancaman. Seorang mambri selalu melindungi dan memperjuangkan hak-hak masyarakat kampung. Gambar 3. 3 Anak-anak yang terampil dalam permainan saso kapyaf dibina lebih lanjut sebagai calon mambri 2 Permainan Saso Kapyaf sebagai Sarana Pembentukan Karakter Anak Permainan saso kapyaf tidak jauh beda dengan tujuan permainan pada umumnya yaitu hampir semua permainan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak agar ia berpikir kritis, kreatif, dan mengembangkan kemampuan keterampilan sosial dan emosional, serta meningkatkan pula kognitif yang ada dalam diri anak itu sehingga sukses dalam pendidikan dan sukses dalam hidupnya. Ini menjadi prinsip dasar dari setiap permainan dan capaian dari seorang anak dalam permainan. Dalam tradisi suku Biak capaian anak dalam setiap permainan pelemparan gelar yang diperoleh adalah mansonanem dan Mansonanem yaitu pelempar jitu atau orang yang sukses dalam pendidikannya dan terampil dalam semua bidang. Sedangkan mambri yaitu pahlawan masyarakat. Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh pemainnya dengan membuat barang-barang atau benda-benda yang digunakan para pemain dalam suatu kegiatan permainan melalui benda-benda atau barang-barang yang tersedia dari alam sekitarnya. Benda-benda dan barang-barang yang diciptakan melalui alam sekitar ditambah dengan ruang dan waktu yang disediakan bermanfaat bagi anak-anak untuk bermain dan meningkatkan kemampuan fisik dan gerak melompat, berlari, melempar dan lain Selain itu permainan ini ikut membina kemampuan bersosialisasi dengan orang lain dan mengajarkan pula aspek kebersamaan dalam peer group yang dibentuk. Permainan-permainan ini, melatih anak-anak untuk menaati aturan-aturan permainan yang telah disepakati bersama. Cherry Bomb dalam (Latifah, 2. menjelaskan bahwa ada 10 manfaat permainan tradisional Melatih Kreativitas, permainan tradisional bisa melatih kreativitas seorang anak, apa saja bisa dijadikan mainan, misalnya hanya bermodal karet gelang atau tali bisa bermain lompat tali untuk bersama-sama. Kulit jeruk yang bisa dikreasikan menjadi mobil-mobilan, perahu atau pelepah pisang yang bisa dijadikan kuda atau senapan, serta masih banyak lagi yang bisa dilakukan. Dengan berbagai macam kreasi yang tidak terbatas tersebut tentu saja akan membuat seorang anak bisa menjadi kreatif. Permainan tradisional dapat membantu perkembangan otak anak menjadi lebih pintar dan kreatif dalam pelajaran disekolah maupun dalam kehidupan sehari-harinya. Punya banyak teman, yaitu Anak yang bermain permainan tradisional akan lebih mudah bersosialisasi dengan teman-temannya. Dengan bermain bersama anak akan memiliki banyak teman sebaya dibandingkan dengan anak yang hanya berkutat dengan game digadgetnya. Apalagi memang kebanyakan permainan tradisional lebih seru jika dimainkan dengan banyak Permainan tradisional juga membuat seorang anak lebih pandai bergaul, bersosialisasi serta berinteraksi dengan anak-anak lain dilingkungannya. Emosi lebih stabil, yaitu emosi anak yang bermain permainan tradisional emosinya lebih stabil dan tidak mudah stress karena gembira menikmati permainan. Anak-anak dapat bergerak aktif dan bersosialisasi diluar ruangan dengan banyak temannya. Berbeda dengan anak yang terbiasa bermain game digadgetnya akan mudah terbawa emosi dan cenderung bersikap egois. Melatih Kerjasama tim, yaitu Dalam permainan tradisional lebih sering dimainkan dengan beregu, hal ini dapat melatih kerjasama dalam tim untuk menyusun strategi dan langkah yang akan diambil supaya memenangkan permainan. Dalam permainan beregu anak akan diajak kerjasama dalam permainan dan menekankan bahwa menang kalah adalah hasil kerja bersama. Hal inilah yang mampu meredam sikap egois. Menyehatkan, yaitu Pernah melihat permainan tradisional hanya duduk saja? Memenceti tombol-tombol? Tentu hal ini tidak akan ditemukan karena sejatinya permainan tradisional diciptakan supaya anak selalu aktif bergerak, cepat, tangkas dan gesit. Bonus yang akan didapatkan tubuh menjadi sehat dan berkembang dengan baik. Berlatih bekerja keras, yaitu Bukan berarti dlaam permainan tradisional anak akan diajarkan halhal keras. Tapi anak diajarkan untuk bekerja keras dalam hal memenangi permainan dengan cara sportif. Bila ia kalah ia akan berusaha keras untuk dapat menguasai permainan dna terus mencobanya hingga mampu menang. Belajar sportif, yaitu Permainan tradisional melatih seorang anak menjadi lebih sportif dalam mengakui kekalahan dalam permainan, bersedia mengakui pelanggaran yang telah dia lakukan maupun meminta maaf ketika menyenggol temannya hingga terjatuh. Anak diajarkan untuk selalu bersikap sportif dan tidak melakukan kecurangan untuk menang. Hal ini harus ditanamkan kepada anak sejak dini salah satunya dengan permainan tradisional. Bermental bagus dan percaya diri, yaitu Dengan bermain permainan tradisional anak akan bersosialisasi dengan banyak teman yang mungkin saja tidak dikenalnya sehingga akan memupuk jiwa berani dan menghilangkan jiwa pemalu karena sudah terbiasa bersosialisasi. Mental anak akan kuat dan berani menghadapi tantangan. Mengembangkan Logika, yaitu Banyak sekali permainan Tradisional yang mengharuskan para pemainnya berupaya mengatur dan menyusun strategi. Ini semua dilakukan atau dipraktekkan secara langsung bagaimana cara untuk memperoleh kemenangan, baik kemenangan untuk dirinya maupun kelompoknya. Melatih motorik. Kebanyakan permainan tradisional dilakukan di luar ruangan, maka motorik anak harus terlatih pada saat memainkannya. Dari berbagai permainan yang telah disebutkan di atas, rata-rata membutuhkan gerakan berlari dan melompat seperti bermain tap benteng . dan bermain lompat karet. 3 Nilai Kebersamaan dan Solidaritas dalam Perspektif Pendidikan Kristen Permainan saso kapyaf dalam tradisi masyarakat Biak bukan hanya menguji keterampilan individu, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan di antara anak-anak. Setiap anak diajak untuk belajar menghargai peran teman, saling mendukung, serta bekerja sama dalam menjaga aturan permainan. Kebersamaan yang dibangun melalui interaksi ini mengajarkan anak bahwa hidup tidak dapat dijalani sendiri, melainkan membutuhkan orang lain. Hal ini sejalan dengan prinsip budaya Biak yang sangat menekankan nilai ain ni ain . aling menopan. , sebuah filosofi hidup yang memperkokoh ikatan sosial dalam komunitas. Dalam perspektif pendidikan Kristen, nilai kebersamaan ini memiliki relevansi yang sangat kuat. Alkitab mengajarkan bahwa manusia diciptakan bukan untuk hidup sendiri, tetapi untuk saling melengkapi sebagai satu tubuh dalam Kristus . Korintus 12:12Ae. Permainan tradisional seperti saso kapyaf dapat dipandang sebagai wadah pembelajaran praktis tentang hidup dalam kebersamaan, di mana setiap anak diajarkan untuk menghargai kehadiran orang lain serta menahan diri demi kebaikan Solidaritas yang muncul dari permainan ini mencerminkan kasih persaudaraan yang menjadi ciri khas orang percaya (Roma 12:. Lebih jauh, kebersamaan dalam permainan saso kapyaf juga melatih anak-anak untuk membangun solidaritas ketika menghadapi tantangan. Dalam permainan, setiap peserta sering kali menghadapi situasi sulit yang memerlukan semangat dukungan dan dorongan dari teman-temannya. Nilai solidaritas ini sejalan dengan ajaran Yesus tentang kasih, yang menekankan pentingnya saling menanggung beban (Galatia 6:. Dengan demikian, permainan ini menjadi media kontekstual untuk menanamkan iman Kristen dalam kehidupan anak-anak, di mana kebersamaan bukan hanya aspek budaya, tetapi juga bagian dari panggilan iman untuk hidup saling mengasihi. Nilai kebersamaan dan solidaritas yang terwujud dalam permainan tradisional Biak dapat dipandang sebagai salah satu bentuk pendidikan karakter Kristiani yang kontekstual. Gereja dan keluarga memiliki peran penting dalam mengintegrasikan makna kebersamaan ini ke dalam pembinaan iman anak-anak, sehingga mereka memahami bahwa nilai-nilai yang dipelajari dalam permainan sejatinya merupakan bagian dari panggilan mereka sebagai murid Kristus. Dengan cara ini, permainan saso kapyaf tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjadi sarana pendidikan Kristen yang membentuk anak-anak agar hidup dalam kasih dan kebersamaan sesuai kehendak Allah. 4 Kemandirian dan Ketekunan sebagai Landasan Hidup Kristiani Permainan saso kapyaf tidak hanya menekankan aspek kebersamaan, tetapi juga menuntut anakanak untuk mengembangkan sikap kemandirian. Dalam permainan ini, setiap anak harus belajar mengandalkan keterampilan, strategi, dan ketangkasan dirinya sendiri. Latihan semacam ini membantu anak membangun kepercayaan diri dan kesanggupan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup. Kemandirian yang ditumbuhkan sejak dini menjadi bekal penting bagi anak-anak Biak untuk kelak mampu bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, baik dalam hal pekerjaan, keluarga, maupun kontribusi bagi masyarakat. Dari perspektif pendidikan Kristen, kemandirian ini sejalan dengan prinsip bahwa setiap orang dipanggil untuk mengelola hidupnya secara bertanggung jawab di hadapan Allah. Rasul Paulus menegaskan bahwa "jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" . Tesalonika 3:. , yang mengajarkan pentingnya kemandirian dan kerja keras. Permainan saso kapyaf mengajarkan anak-anak bahwa keberhasilan tidak diperoleh secara instan, tetapi melalui usaha pribadi yang sungguh-sungguh. Nilai ini juga mengingatkan bahwa Allah memberikan talenta kepada setiap orang, dan setiap orang dipanggil untuk mengembangkannya (Matius 25:14Ae. Selain kemandirian, permainan saso kapyaf juga menuntut adanya ketekunan. Tidak jarang anakanak mengalami kegagalan dalam permainan, misalnya tidak mengenai sasaran atau kalah dalam Namun, pengalaman ini melatih mereka untuk bangkit kembali, mencoba lagi, dan tidak mudah Ketekunan inilah yang membentuk daya juang dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan hidup. Nilai ini sangat sesuai dengan prinsip iman Kristen yang mengajarkan bahwa penderitaan dan tantangan hidup dapat membentuk ketekunan, tahan uji, dan pengharapan (Roma 5:3Ae. Oleh karena itu kemandirian dan ketekunan yang diperoleh dari permainan tradisional ini dapat dipandang sebagai landasan hidup Kristiani. Anak-anak yang terbiasa mandiri dan tekun dalam menghadapi kesulitan akan lebih siap untuk bertanggung jawab sebagai orang percaya yang hidup di tengah dunia. Gereja dan keluarga dapat mengintegrasikan makna ini dalam pendidikan iman, sehingga anak-anak memahami bahwa menjadi murid Kristus berarti hidup bertanggung jawab, rajin, dan tidak mudah menyerah. Dengan cara ini, permainan saso kapyaf menjadi sarana pembelajaran yang tidak hanya memperkaya budaya, tetapi juga memperkuat spiritualitas Kristen anak-anak Biak. 5 Relasi dengan Alam Ciptaan dan Kesadaran akan Allah Sang Pencipta Permainan saso kapyaf sangat erat kaitannya dengan alam karena menggunakan bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar, seperti pelepa kelapa, kayu, batu, dan lahan terbuka. Hal ini mengajarkan anak-anak untuk mencintai dan menghargai lingkungan, sekaligus menyadari bahwa hidup manusia tidak bisa dilepaskan dari alam. Relasi ini memperlihatkan bagaimana permainan tradisional juga menjadi sarana pendidikan ekologis yang membentuk sikap peduli terhadap ciptaan. Dalam iman Kristen, relasi dengan alam merupakan bagian dari mandat budaya yang Allah berikan sejak awal: Aumenguasai dan memelihara bumiAy (Kejadian 1:28. Dengan demikian, permainan ini secara tidak langsung menanamkan tanggung jawab ekologis kepada anak-anak, bahwa mereka harus menjaga kelestarian alam sebagai anugerah Allah. Mazmur 24:1 menegaskan. AuTuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya,Ay sehingga alam yang menjadi ruang hidup manusia harus diperlakukan dengan penuh hormat. Lebih dari itu, permainan saso kapyaf menanamkan kesadaran akan kehadiran Allah Sang Pencipta. Anak-anak diajak untuk mensyukuri bahwa keterampilan dan kesempatan bermain yang mereka miliki adalah karunia Tuhan. Dengan begitu, permainan ini dapat dipandang sebagai sarana spiritualitas ekologis, yaitu kesadaran iman bahwa Allah, manusia, dan alam saling terkait secara erat. Pada orientasi luasnya, permainan saso kapyaf juga mengajarkan nilai keberlanjutan . kepada anak-anak. Dengan menggunakan sumber daya alam yang sederhana tanpa merusaknya, permainan ini menumbuhkan sikap hemat, sederhana, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dalam konteks pendidikan Kristen, hal ini sejalan dengan prinsip eco-theology yang menekankan bahwa manusia adalah pengelola, bukan pemilik mutlak ciptaan. Karena itu, anak-anak yang sejak dini dilatih melalui permainan tradisional semacam ini akan memiliki kesadaran ekologis yang kuat, sehingga kelak mereka mampu berperan sebagai generasi penjaga bumi yang setia pada mandat Allah. 6 Pewarisan Nilai Budaya dan Iman kepada Generasi Muda Salah satu persoalan yang muncul dalam tradisi saso kapyaf adalah melemahnya pewarisan budaya kepada generasi muda. Banyak anak-anak kini tidak lagi mengenal permainan ini, sehingga makna edukatif dan spiritual yang terkandung di dalamnya semakin memudar. Jika pewarisan terhenti, generasi mendatang berpotensi kehilangan identitas budaya sekaligus nilai-nilai luhur yang menyertainya. Dari perspektif pendidikan Kristen, pewarisan nilai budaya harus dipandang sejalan dengan pewarisan iman. Ulangan 6:6Ae7 menegaskan bahwa orang tua harus mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak secara terus-menerus. Permainan tradisional seperti saso kapyaf dapat dijadikan sarana kontekstual untuk mewariskan nilai iman Kristen, karena di dalamnya terkandung pelajaran tentang kerja keras, kebersamaan, dan tanggung jawab yang sejalan dengan ajaran Alkitab. Lebih jauh, pewarisan ini mengingatkan pada iman lintas generasi, sebagaimana Paulus menyinggung iman Timotius yang diwariskan melalui neneknya Lois dan ibunya Eunike . Timotius 1:. Hal ini menegaskan bahwa pewarisan iman dan budaya bukanlah pilihan, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual. Jika gereja dan keluarga mampu bersinergi dalam menjaga pewarisan ini, maka generasi muda Biak tidak hanya mencintai budayanya, tetapi juga memiliki iman yang kokoh di dalam Kristus. Dengan demikian, pelestarian permainan saso kapyaf memiliki makna ganda: melestarikan identitas budaya Biak sekaligus memperkuat pendidikan iman Kristen. Warisan budaya yang sarat nilai ini dapat berfungsi sebagai media pembentukan karakter Kristiani generasi muda agar tetap setia kepada Kristus dan bertanggung jawab memelihara budaya serta ciptaan Allah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa permainan tradisional Saso Kapyaf merupakan bagian penting dari tradisi masyarakat Biak yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan kemandirian dan keterampilan motorik anak. Permainan ini membentuk ketangkasan, ketepatan, serta daya juang anak laki-laki untuk menjadi mansonanem . elempar jit. dan berproses menjadi mambri . ahlawan atau pelindung masyaraka. Dengan demikian, tujuan penelitian untuk menjelaskan pengertian, bentuk, dan fungsi edukatif permainan Saso Kapyaf dalam membina anak hidup mandiri telah Secara lebih khusus, penelitian ini menunjukkan lima temuan penting. Pertama, permainan Saso Kapyaf berfungsi sebagai sarana pelatihan keterampilan fisik dan mental anak, yang selaras dengan pendidikan kontekstual berbasis budaya lokal. Kedua, permainan ini mengandung nilai-nilai pendidikan Kristen, seperti ketekunan, disiplin, keberanian, dan rasa tanggung jawab, yang dapat diintegrasikan dalam pembinaan iman anak di gereja maupun keluarga. Ketiga. Saso Kapyaf memperkuat proses pembentukan karakter anak, terutama dalam menumbuhkan kemandirian, kerja sama, serta sportivitas sebagai bekal hidup bermasyarakat. Keempat, permainan ini juga memiliki dimensi kerohanian, di mana nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya dapat memperkaya pemahaman iman Kristen tentang tubuh sebagai bait Allah dan perjuangan hidup sebagai panggilan iman. Kelima, permainan ini berperan dalam pelestarian kearifan lokal Biak, sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pendidikan budaya dan strategi pembelajaran berbasis tradisi. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian permainan tradisional Biak, khususnya Saso Kapyaf, memiliki manfaat besar dalam membangun karakter, kreativitas, keterampilan sosial, kecerdasan fisik dan mental, serta iman anak, sehingga dapat dijadikan sebagai media pendidikan kontekstual di era modern. Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan karena ruang lingkupnya hanya terfokus pada Kampung Kbusdori dengan jumlah informan terbatas, sehingga belum mencakup variasi praktik permainan Saso Kapyaf di wilayah Biak lainnya. Oleh sebab itu, penelitian lanjutan dengan cakupan lokasi yang lebih luas sangat diperlukan untuk memperkaya pemahaman, penguatan integrasi dengan pendidikan Kristen, serta upaya pelestarian permainan tradisional ini sebagai warisan budaya edukatif masyarakat Biak. Saran bagi Pendidikan Kristen. Permainan tradisional Saso Kapyaf dapat dijadikan sebagai media kontekstual dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK), baik di sekolah maupun di jemaat. Guru dan pendidik Kristen dapat memanfaatkan nilai-nilai ketekunan, sportivitas, tanggung jawab, dan keberanian dalam permainan ini untuk menanamkan prinsip iman, kasih, dan pelayanan. Bagi Keluarga dan Gereja. Orang tua dan gereja diharapkan dapat melestarikan permainan ini dengan mengintegrasikannya dalam kegiatan anak dan remaja, sehingga generasi muda tidak kehilangan identitas budaya lokalnya. Selain itu, gereja dapat menggunakan permainan ini sebagai sarana pembinaan karakter iman anak, terutama dalam mengajarkan hidup mandiri, disiplin, dan kerja sama. Bagi Dunia Pendidikan dan Budaya Lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal, perlu memberikan ruang bagi permainan tradisional seperti Saso Kapyaf dalam kurikulum muatan lokal atau kegiatan ekstrakurikuler. Hal ini akan membantu peserta didik mengembangkan kecerdasan fisik, sosial, emosional, dan spiritual sekaligus melestarikan budaya daerah. Bagi Pemerintah Daerah dan Lembaga Kebudayaan Pemerintah daerah bersama lembaga kebudayaan perlu memberikan perhatian terhadap pelestarian permainan tradisional dengan cara mendokumentasikan, mengajarkan kembali kepada generasi muda, serta memasukkan ke dalam program penguatan kearifan lokal. Dengan demikian, permainan Saso Kapyaf dapat terus hidup sebagai warisan budaya yang bermanfaat untuk pendidikan karakter bangsa. Bagi Peneliti Selanjutnya Penelitian berikutnya disarankan untuk memperluas lokasi penelitian ke berbagai kampung lain di Biak, agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai variasi praktik permainan Saso Kapyaf. Selain itu, penelitian interdisipliner yang mengaitkan aspek pendidikan, antropologi, teologi, dan psikologi anak juga sangat diperlukan guna memperkaya pemahaman akademik serta mendukung pelestarian budaya dalam konteks modern. DAFTAR PUSTAKA