Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi https://journal. id/index. php/ABDIKAN ISSN 2828-4526 (Media Onlin. | ISSN 2828-450X (Media Ceta. Vol. 4 No. 4 (November 2. 408-415 DOI: 10. 55123/abdikan. Submitted: 10-09-2025 | Accepted: 22-10-2025 | Published: 15-11-2025 Gambaran Tingkat Pengetahuan Pelajar SMP Negeri 4 Seram Barat tentang HIV/AIDS Abraham Gainau1. Louisa Nindya Watratan2. Elgita Clara Tahitu3 Pendidikan dokter. Fakultas Kedokteran. Universitas Pattimura. Ambon. Indonesia Email: 1 abrahamgainau993@gmail. com, 2wlouisa62@gmail. 1,2,3 Abstract HIV/AIDS remains an infectious disease that poses a global health challenge in both developed and developing countries. The rising number of HIV/AIDS cases among adolescents indicates that this age group is highly vulnerable to infection due to physical, psychological, and social changes during their developmental stage. Adequate knowledge of HIV/AIDS plays a vital role in preventing and controlling its transmission among adolescents. This study aims to describe the level of knowledge about HIV/AIDS among students at SMP Negeri 4 Seram Barat in 2025. This research is a quantitative descriptive study using a cross-sectional design. Samples were obtained through simple random sampling, involving 65 Data were collected using a structured questionnaire and analyzed bivariately to present the frequency distribution of knowledge levels. The results showed that 11 respondents . 9%) had good knowledge, 42 . 6%) had moderate knowledge, and 12 . 5%) had low knowledge. It can be concluded that most students have moderate knowledge of HIV/AIDS. however, enhanced health education is needed to improve understanding of disease prevention and transmission. Keywords: HIV/AIDS. Adolescent Knowledge. Junior High School Students. Abstrak HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global di negara maju maupun berkembang. Peningkatan kasus HIV/AIDS pada remaja menunjukkan bahwa kelompok usia ini memiliki risiko tinggi terhadap penularan akibat perubahan fisik, psikologis, dan sosial selama masa Pengetahuan yang baik tentang HIV/AIDS sangat penting untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit ini di kalangan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pelajar tentang HIV/AIDS di SMP Negeri 4 Seram Barat tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling sebanyak 65 siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur, dan analisis dilakukan secara bivariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi tingkat pengetahuan Hasil penelitian menunjukkan bahwa 11 responden . ,9%) memiliki pengetahuan baik, 42 responden . ,6%) memiliki pengetahuan cukup, dan 12 responden . ,5%) memiliki pengetahuan kurang. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa memiliki pengetahuan yang cukup mengenai HIV/AIDS, namun perlu peningkatan edukasi kesehatan agar pemahaman mereka tentang pencegahan dan penularan penyakit lebih komprehensif. Kata Kunci: HIV/AIDS. Pengetahuan Remaja. Pelajar SMP. PENDAHULUAN Penyakit menular berbahaya yang dikenal dengan HIV (Human Immunodeficiency Viru. dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrom. masih menjadi tantangan besar dalam bidang kesehatan masyarakat di era modern. HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Tahap akhir dari infeksi HIV disebut AIDS, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh telah mengalami kerusakan parah akibat serangan virus tersebut. Penyakit ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data WHO tahun 2019, wilayah Asia Pasifik menempati posisi kedua tertinggi di dunia dalam jumlah kasus HIV dan Indonesia berada di urutan ketiga di kawasan tersebut setelah Tiongkok dan India. Dilaporkan bahwa jumlah orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia mencapai sekitar 37,7 juta jiwa, dengan 1,5 juta kasus infeksi baru dan 1,1 juta kematian akibat AIDS pada tahun yang sama. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Abraham Gainau1. Louisa Nindya Watratan2. Elgita Clara tahitu3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 408 Ae 415 Angka ini menunjukkan bahwa HIV/AIDS masih menjadi isu kesehatan global yang serius, meskipun berbagai upaya pencegahan dan pengobatan telah dilakukan secara luas. Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan mencatat 558. 618 kasus kumulatif HIV/AIDS, menandakan bahwa negara ini masih menghadapi tantangan besar dalam menekan laju penularan. Tingginya angka tersebut menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat strategi pengendalian, terutama dalam meminimalkan faktor risiko seperti perilaku seksual berisiko tinggi. (WHO, 2. Menurut laporan Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), situasi epidemiologi HIV/AIDS global menunjukkan kemajuan signifikan meskipun masih menghadapi tantangan besar. Secara global, sekitar 1,3 juta orang . ,0-1,7 jut. terinfeksi HIV pada tahun 2024, menurun 40% dibandingkan tahun 2010, dengan Afrika Sub-Sahara sebagai wilayah dengan beban tertinggi yang menyumbang sekitar 50% dari total infeksi baru, namun berhasil menurunkan kasus hingga 56% dalam periode yang sama. Lima negara di kawasan tersebut bahkan berada di jalur untuk mencapai penurunan 90% infeksi baru pada tahun 2030 dibandingkan 2010. Penurunan kasus ini merupakan hasil dari peningkatan akses terhadap pengobatan antiretroviral, perluasan layanan pencegahan, serta penguatan kebijakan nasional dalam penanggulangan HIV. Meski demikian. UNAIDS memperingatkan bahwa gangguan pendanaan global, terutama jika dukungan dari United States PresidentAos Emergency Plan for AIDS Relief (PEPFAR) terhenti, dapat memicu lebih dari 4 juta kematian tambahan terkait AIDS dan 6 juta infeksi baru hingga 2030. Kondisi ini diperburuk oleh konflik bersenjata, ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, dan instabilitas geopolitik yang berpotensi membalikkan kemajuan epidemiologis yang telah dicapai selama tiga dekade terakhir. (UNAIDS GLOBAL AIDS UPDATE 2025: Aids. Crisis and the Power to Transform, 2. Pencegahan penyebaran HIV juga menjadi bagian dari komitmen global dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. 2030, khususnya pada target untuk mengakhiri epidemi AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat dengan cara memperluas akses layanan kesehatan, meningkatkan edukasi, dan mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS. Dalam kaitannya dengan Sustainable Development Goals (SDG. , upaya penanggulangan HIV/AIDS memang tidak disebutkan secara eksplisit dalam satu tujuan tertentu. Hal ini disebabkan oleh sifat SDGs yang memiliki cakupan lebih luas dan universal dibandingkan dengan Millennium Development Goals (MDG. , di mana fokus utamanya adalah untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan bagi seluruh manusia sebagaimana tercantum pada tujuan ketiga. Oleh sebab itu dalam mewujudkan tujuan yang bersifat komprehensif dan inklusif tersebut, salah satu target yang ditetapkan adalah mengakhiri epidemi AIDS sebagai ancaman bagi kesehatan masyarakat pada tahun Target global ini juga menjadi komitmen Indonesia dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian. SDGs berfungsi sebagai kerangka kerja global dan nasional yang menjadi landasan strategis selama periode 15 tahun dalam upaya mencapai kesejahteraan dan kesehatan yang merata, termasuk melalui pencegahan serta pengendalian HIV/AIDS. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyebaran HIV masih menjadi tantangan besar yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Salah satu kelompok yang rentan terhadap penyebaran HIV adalah remaja, karena pada masa ini mereka berada dalam fase pencarian jati diri dan cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tanpa pengetahuan yang memadai, mereka berisiko melakukan perilaku berbahaya yang dapat meningkatkan kemungkinan tertular HIV (Rezqiqa Purba et al. , 2. Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan mencatat 558. 618 kasus kumulatif HIV/AIDS, menandakan bahwa negara ini masih menghadapi tantangan besar dalam menekan laju penularan. Tingginya angka tersebut menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat strategi pengendalian, terutama dalam meminimalkan faktor risiko seperti perilaku seksual berisiko tinggi. Berdasarkan data nasional, jumlah infeksi baru HIV pada kelompok usia di atas 15 tahun menurun signifikan dari 56. 187 kasus pada tahun 2010 menjadi 25. 740 kasus pada tahun 2022, mencerminkan adanya kemajuan dalam upaya pencegahan dan deteksi dini. Namun, kejadian tersebut berbanding terbalik dengan angka kematian akibat HIV/AIDS yang terus meningkat, dari 11. 971 kematian pada tahun 2010 501 kematian pada tahun 2022. Peningkatan angka kematian ini menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam penanganan kasus, termasuk keterbatasan akses terhadap klinik dan layanan HIV yang memadai, stigma dan diskriminasi sosial terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), serta rendahnya tingkat pengetahuan dan persepsi masyarakat mengenai HIV/AIDS. Faktor-faktor tersebut berkontribusi pada banyaknya kasus HIV yang tidak terdiagnosis, sehingga memperlambat proses pengobatan dan memperbesar risiko penularan baru. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan dalam menurunkan jumlah infeksi baru perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan kesehatan, edukasi masyarakat, dan penghapusan stigma agar target penanggulangan HIV/AIDS nasional dapat tercapai secara berkelanjutan (Arifin et al. , 2023. Fauk et al. , 2. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Abraham Gainau1. Louisa Nindya Watratan2. Elgita Clara tahitu3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 408 Ae 415 Pada tahun 2022. Provinsi Maluku Utara mencatat sebanyak 426 kasus HIV/AIDS yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Dari jumlah tersebut, dua wilayah dengan kasus tertinggi adalah Kota Ternate dengan 181 kasus dan Kabupaten Halmahera Utara dengan 127 kasus. Data ini menunjukkan bahwa penyebaran HIV di Maluku Utara masih menjadi perhatian serius, terutama di daerah perkotaan dengan mobilitas penduduk yang tinggi. Secara kumulatif, sejak tahun 2007 hingga Juli 2023. Kota Ternate melaporkan total 841 kasus HIV/AIDS, dengan rincian 449 orang meninggal dunia, 338 orang dengan HIV (ODHIV) yang masih menjalani terapi antiretroviral (ARV), 36 orang gagal mengikuti pengobatan, serta 18 orang ODHIV yang belum memulai terapi ARV. Angka-angka ini menggambarkan bahwa meskipun layanan pengobatan dan pendampingan bagi ODHIV telah tersedia, tantangan dalam keberlanjutan terapi dan pemantauan pasien masih perlu mendapat perhatian intensif guna menekan angka kematian dan mencegah penularan lebih lanjut di wilayah Maluku Utara (Lestari et al. , 2. Di wilayah Seram Barat, khususnya di SMP Negeri 4 Seram Barat, akses terhadap informasi kesehatan masih terbatas. Berdasarkan hasil wawancara awal dengan guru Bimbingan Konseling dan wali kelas, diketahui bahwa penyuluhan atau edukasi mengenai HIV/AIDS di sekolah hampir tidak pernah dilakukan. Banyak siswa memperoleh informasi hanya dari media sosial, yang tidak selalu memberikan sumber yang akurat dan ilmiah. Kondisi ini menyebabkan rendahnya tingkat pengetahuan siswa tentang HIV/AIDS, serta munculnya berbagai kesalahpahaman seperti anggapan bahwa HIV dapat menular melalui bersalaman atau menggunakan alat makan bersama. Kurangnya pengetahuan ini tidak hanya berdampak pada kesadaran diri siswa, tetapi juga berpotensi menumbuhkan stigma negatif terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) (Maris Bakara et al. , 2. Hal ini mempertegas adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan pembelajaran generasi digital dengan pendekatan edukasi konvensional yang masih dominan di sekolah. Mengatasi hal tersebut, teknologi edukatif terbukti meningkatkan motivasi dan pemahaman remaja melalui mekanisme interaksi, visualisasi dinamis, dan umpan balik langsung sehingga lebih efektif dalam menjelaskan jalur penularan HIV dan mengurangi stigma terhadap ODHA yang masih kuat di kalangan masyarakat. Penelitian terbaru menegaskan bahwa metode penyuluhan tradisional yang mengandalkan diskusi satu arah, poster statis, atau materi lisan terbukti kurang efektif meningkatkan retensi pengetahuan remaja, terlebih pada topik kompleks seperti HIV yang membutuhkan penjabaran mengenai visualisasi terhadap mekanisme penularan (Indiastari et al. , 2024. Maris Bakara et al. , 2. Bukti ilmiah lima tahun terakhir menunjukkan bahwa media edukasi digital mampu meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan HIV pada remaja secara signifikan dibandingkan penyuluhan konvensional (Ratnawati et al. , 2. Penelitian terdahulu pernah dilakukan di SMAN 8 Kota Kupang, menilai terkait Gambaran Pengetahuan. Sikap, dan Tindakan Pencegahan terkait dengan HIV-AIDS menghasilkan bahwa prevalensi pengetahuan terhadap perilaku pencegahan yang tinggi terhadap pencegahan HIV/AIDS pada siswa/I SMAN 8 Kota Kupang cukup besar. Penelitian ini juga masih ditemukan remaja dengan pengetahuan kurang yang dapat disimpulkan bahwa masih terdapat remaja yang kurang bahkan tidak mendapatkan informasi mengenai HIV baik itu dari orang lain maupun media sosial (Pengetahuan et al. , 2. Penelitian ini memiliki hasil yang sejalan dengan penelitian terdahulu yang berjudul Pengetahuan komprehensif remaja tentang hiv di kota Tangerang Selatan menuju end aids 2030, yang mana penelitian ini menggunakan survey cepat juga pada siswa SMP dan SMA di Tangerang Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan komprehensif mengenai HIV masih berada di bawah target yang ditetapkan, yaitu 90% pada tahun 2027. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa tanpa adanya intervensi yang efektif dan berkelanjutan, target global untuk mengakhiri epidemi AIDS pada tahun 2030 berpotensi tidak tercapai (Sabilla, n. Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian serupa yang mencari Gambaran terkait Pengetahuan HIV AIDS di SMAN 1 Baturiti yang ditemukan bahwa 89% responden memiliki pengetahuan yang baik, dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur jenis kelamin dan penghasilan orang tua (Winangsih et al. Banyak faktor yang harus dicari kaitanya seperti umur dan tingkatan sekolah yang belom di cari tahu kaitanya dengan tingkat pengetahuan siswa terhadap HIV-AIDS terhadap siswa SMPN 4 Seram bagian Dalam mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan upaya peningkatan pengetahuan siswa melalui kegiatan edukatif yang terarah, seperti penelitian deskriptif dan penyuluhan berbasis sekolah. Penelitian tentang AuGambaran Tingkat Pengetahuan Pelajar SMP Negeri 4 Seram Barat tentang HIV/AIDS Tahun 2025Ay menjadi langkah awal untuk memetakan sejauh mana pemahaman siswa terhadap penyakit ini. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar bagi pihak sekolah, dinas kesehatan, dan masyarakat dalam merancang program pendidikan kesehatan yang lebih efektif. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa dapat memperoleh informasi yang benar, membentuk sikap positif terhadap ODHA, serta mampu berperilaku hidup sehat sebagai bagian dari upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS di kalangan remaja. (Ratnawati et al. , 2. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Abraham Gainau1. Louisa Nindya Watratan2. Elgita Clara tahitu3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 408 Ae 415 PELAKSAAN DAN METODE Kegiatan ini di awali dengan dilakukannya penyuluhan mengenai HIV/AIDS yang di laksanakan pada hari Senin tanggal 3 November tahun 2025, jam 10. 00 WIT sampai selesai, bertempat di SMP Negeri 4 Seram Barat. Setelah itu, untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa, diukur dengan angket atau kuesioner dengan jumlah pertanyaan sebanyak 20 item. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross section. Jumlah sampel yang di gunakan dalam penelitian ini berjumlah 65 yang dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel random sampling, yaitu antara siswa kelas 7, 8, dan 9 b. Penelitian di buat dengan tujuan untuk memperoleh informasi terkait tingkat pengetahuan siswa tentang HIV/AIDS sebagai upaya pencegahan HIV/AIDS di kalangan pelajar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang telah disesuaikan dengan kondisi lapangan menggunakan satu kali pengukuran pengetahuan melalui kuesioner karena keterbatasan waktu dan kesempatan pelaksanaan di sekolah. Adapun metode pelaksanaannya sebagai Tahap 1: Analisis Kebutuhan Awal Tahap awal dilakukan melalui observasi situasi dan diskusi dengan pihak sekolah untuk mengidentifikasi kebutuhan edukasi terkait HIV/AIDS pada siswa. Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan menggunakan satu instrumen kuesioner berjumlah 20 item yang berfungsi sebagai gambaran umum pengetahuan siswa. Karena keterbatasan waktu, instrumen ini digunakan hanya satu kali, sehingga tidak dilakukan pre-test maupun post-test secara terpisah. Tahap 2: Pengembangan Media Edukasi Berbasis Sains dan Teknologi (SAINTEK) Media edukasi dirancang untuk mendukung proses penyuluhan dengan pendekatan saintek yang sederhana namun efektif. Materi disusun dalam bentuk presentasi digital yang memanfaatkan prinsip desain visual (UI/UX), termasuk visualisasi infografis untuk mempermudah siswa memahami mekanisme penularan HIV, dampak terhadap tubuh, serta pentingnya pencegahan. Penggunaan media digital ini bertujuan meningkatkan keterlibatan siswa dan memperjelas konsep yang disampaikan. Tahap 3: Pelaksanaan Penyuluhan Penyuluhan mengenai HIV/AIDS dilaksanakan pada hari Senin, 3 November 2025 pukul 10. 00 WIT bertempat di SMP Negeri 4 Seram Barat. Peserta terdiri dari 65 siswa kelas 7, 8, dan 9 yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Penyuluhan dilakukan secara interaktif menggunakan media digital yang telah disiapkan, meliputi penjelasan mengenai definisi HIV/AIDS, cara penularan, pencegahan, serta upaya mengurangi stigma terhadap ODHA. Tahap 4: Evaluasi Kegiatan Evaluasi dilakukan melalui pengisian kuesioner tunggal setelah kegiatan penyuluhan. Instrumen ini berfungsi sebagai alat untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah Meskipun tidak dilakukan pengukuran post-test terpisah, data yang diperoleh tetap memberikan gambaran mengenai tingkat pengetahuan siswa sebagai dasar evaluasi ketercapaian kegiatan PkM. Penggunaan satu kali kuesioner ini merupakan konsekuensi dari keterbatasan waktu dan situasi pelaksanaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 4 Seram barat dan dimulai pada selasa, 04 November Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang memuat sepuluh pertanyaan mengenai pengetahuan tentang pencegahan HIV/AIDS serta sepuluh pertanyaan terkait sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS. Data yang digunakan merupakan data primer, diperoleh melalui pembagian kuesioner secara langsung kepada para responden di lokasi penelitian. (Kesaulija & Sembiring, 2. Sosialisai yang dilakukan menggunakan media visual seperti video dan power point yang menyajikan informasi terkait definisi,stadium,penularan dan pencegahan terhadap penyakit HIV-AIDS agar dapat lebih menjangkau audiens yaitu siswa SMP N 4 Seram bagian Barat. Penggunaan media audiovisual dipilih berdasarkan beberapa penelitian terdahulu terkait sosialisasi tentang kesehatan kepada siswa SMP maupun SMA. Berdasarkan penelitian mengenai vulva hygiene pada remaja putri di Pesantren Syaichona Cholil, diketahui bahwa terjadi perubahan tingkat pengetahuan setelah diberikan intervensi. Pada kelompok yang mendapat Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Abraham Gainau1. Louisa Nindya Watratan2. Elgita Clara tahitu3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 408 Ae 415 media PPT, nilai rata-rata pengetahuan yang sebelumnya berada pada kategori cukup . ,1%) justru menurun menjadi kategori kurang . ,3%) setelah intervensi. Sebaliknya, kelompok yang diberikan media audiovisual menunjukkan peningkatan, dari kategori kurang . ,3%) sebelum intervensi menjadi kategori baik . ,3%) setelah intervensi (Luno et al. , 2. Didukung juga oleh penelitian terkait dengan pengetahuan siswa SMAN 11 Banda Aceh,terkait anemia ,penelitian ini menggunakan poster balik dan power point ,menemukan hasil bahwa pengetahuan siswa sebelum diberikan sosialisasi menggunakan power point memiliki tingkat pengetahuan lebih rendah dibandingkan setelah diberikan sosialisasi menggunakan power point ,hal ini kemudian dibandingkan dengan siswa yang menerima sosialisasi menggunakan poster balik memang meningkatkan tingkat pengetahuan mereka akan tetapi kenaikanya yang lebih rendah daripada siswa yang diberikan sosialisasi dengan menggunakan poster balik (Aisyah & Andriani, 2. Berdasarkan uraian beberapa penelitian diatas yang telah dilakukan sebelumnya terkait dengan sosialisasi kesehatan dan media yang digunakan untuk menyampaikanya,peneliti memilih untuk menggunakan media berupa power point dan audiovisual untuk menyampaikan materi terkait penyakit HIV-AIDS kepada siswa SMP N 4 Seram Bagian Barat . Dari distribusi jawaban responden yang diterima, data yang didapat bisa dikelompokan menurut umur, jenis kelamin dan nilai pengetahuan siswa berdasarkan nilai kuisioner yang dinilai berdasarkan jawaban yang diberikan siswa kepada 20 pertanyaan tersebut yaitu jika mereka mendapatkan nilai 1-10 berarti kurang,1115 berarti cukup dan 16-20 baik. Distribusi frekuensi data dilampirkan dibawah:(Hidayah et al. , 2018. Martilova, 2. Tabel 1. Distribusi frekuensi berdasarkan umur Umur Presentase (%) 12 Tahun 13 Tahun 14 Tahun 15 Tahun Total Distribusi responden berdasarkan usia menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berusia 13 tahun, yaitu sebanyak 36 orang . ,4%), yang mencerminkan lebih dari setengah total populasi. Sementara itu, jumlah siswa paling sedikit terdapat pada kelompok usia 12 tahun, yakni sebanyak 5 orang . ,7%). Tabel 2. Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin Jenis kelamin Presentase (%) Laki-Laki Perempuan Total Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa terdapat 37 orang . %) berjenis kelamin perempuan dan 28 orang . %) berjenis kelamin laki-laki. Hal ini mengindikasikan bahwa proporsi responden perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Tabel 3. Distribusi tingkat pengetahuan Umur Presentase (%) Baik Cukup Kurang Total Distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS menunjukkan bahwa sebanyak 11 orang . ,9%) memiliki pengetahuan baik, 42 orang . ,6%) memiliki pengetahuan cukup, dan 12 orang . ,5%) memiliki pengetahuan kurang. Temuan ini mengindikasikan bahwa mayoritas remaja berada pada kategori pengetahuan yang cukup mengenai HIV/AIDS. Hal ini bermakna sama dengan beberapa penelitian serupa yang sebelumnya dilakukan oleh (Ruth Kesaulija & Natalia Br Sembiring, )yang menghasilkan bahwa presentasi tertinggi dari tingkat pengetahuan siswa adalah cukup sebanyak 40 responden . ,6% ). Tidak mengesampingkan bahwa sumber jawaban berasal dari responden yang berbeda umur dan jenjang pendidikan tetapi memiliki presentasi hasil yang mirip. (Hidayah et al. , n. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Abraham Gainau1. Louisa Nindya Watratan2. Elgita Clara tahitu3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 408 Ae 415 Presentase nilai pengetahuan yang tertinggi yaitu siswa dengan nilai cukup menunjukkan hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor internal maupun eksternal dimulai dari sumber pengetahuan dari media sosial maupun dari proses belajar mengajar hingga dari sosialisasi yang sebelumnya pernah dijalankan,seperti jawaban siswa yang kebanyakan menunjukkan pengetahuan terkait pernyataan AuHIV menular dari seks bebas atau berganti ganti pasanganAy hampir semua siswa berjumlah 59 orang yaitu 90,7% siswa banyak yang menjawab setuju dan sangat setuju ,tetapi di satu sisi banyak yang belum menunjukkan pengetahuan terkait penularan dari jalur lain seperti Aupenularan HIV AIDS dapat terjadi karena menggunakan jarum suntik yang bergantianAy masih ada 16 siswa . ,6%) yang menjawab raguragu atau bahkan tidak setuju maupun sangat tidak setuju ,hal ini menunjukkan pengetahuan siswa terkait jalur penularan HIV-AIDS sudah cukup baik namun belum seluruhnya paham terkait apa saja jalur penularan HIV-AIDS. Selain mengetahui terkait bagaimana pencegahan dan penularan daripada HIVAIDS,tingkat pengetahuan tentang pengobatan HIV-AIDS juga dinilai dari jawaban siswa SMPN 4 Seram barat,pada pernyataan AuOrang yang terinfeksi HIV dapat hidup normal jika rutin minum obat ARVAy hanya 26 siswa . %) yang menjawab setuju yang mana mengetahui terkait dengan ARV lebih sedikit daripada bagian siswa yang tahu terkait pengobatan HIV-AIDS. Diluar daripada pengetahuan terkait jalur penularan ,beberapa pernyataan juga menunjukkan pengetahuan siswa terkait pencegahan HIV-AIDS salah satu pada pernyataan AuMenjaga perilaku hidup sehat dan setia pada satu pasangan dapat mencegah HIVAysebanyak 58 siswa . ,2%) menjawab setuju dan sangat setuju ,menunjukan tingkat pengetahuan siswa terhadap Tindakan preventif untuk mencegah HIV-AIDS hal ini juga didukung dengan jawaban siswa pada pernyataan AuMenggunakan kondom dapat membantu mencegah penularan HIVAu dijawab setuju dan sangat setuju oleh 52 siswa . %). Hal ini menjelaskan bahwa pengetahuan siswa terkait penecegahan HIV-AIDS sudah cukup baik secara keseluruhan,sedikit banyak mereka memahami terkait HIV-AIDS. Sedangkan jika ditinjau dari sumber pengetahuan siswa siswi sebanyak 46 siswa . %),setuju bahwa informasi yang mereka dapat tengtang HIV AIDS berasal dari guru atau sekolah,menunjukkan mereka lebih mengetahui HIV AIDS dari sekolah atau guru daripada dari media sosial yaitu sebanyak 41 siswa . %) yang setuju bahwa mereka mengetahui informasi tentang HIV-AIDS dari media sosial ,hal ini bisa dikarenakan berbagai faktor salah satunya jaringan internet yang belum memadai ,bisa menjadi salah satu alasan kenapa media sosial bukan menjadi sumber utama mereka mengetahui terkait HIV-AIDS. Rasa ingin tahu siswa terhadap informasi terkait HIV-AIDS cukup tinggi, hal ini didukung oleh jawaban 60 siswa . ,3%) menjawab setuju bahkan sangat setuju terhadap pernyataan Au Saya tertarik mengikuti penyuluhan tentang HIV/AIDS di sekolahAy,hal ini menunjukan antusiasme siswa terhadap informasi HIV-AIDS yang mereka dapat. Selain daripada tingkat pengetahuan yang dinilai,tim peneliti juga menilai stigma dari siswa SMPN 4 seram barat terkait perilaku dan sikap mereka terkait hidup berdampingan dengan ODHA (Orang dengan HIVAIDS) sebanyak 62 siswa . ,3%) setuju dengan pernytaan bahwa AuOrang dengan HIV/AIDS sebaiknya dijauhi agar tidak menularAy hal ini menunjukan stigma yang masih kuat dikalangan siswa bahwa ODHA adalah orang yang harus dijauhi agar mereka tidak tertular,dan bahwa HIV-AIDS adalah penyakit yang dapat tertular dengan sangat mudah. Menurut peneliti dari penjabaran jawaban dari siswa diatas memperlihatkan bahwa pemahaman siswa SMP Negeri 4 Seram Barat tentang HIV/AIDS dapat dikatakan cukup secara keseluruhan baik dari aspek pengetahuan secara umum, jalur penularan, pencegahan sampai pada stigma siswa terkait HIV-AIDS. PENUTUP Simpulan Hasil penelitian yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Seram Barat menunjukkan bahwa dari 65 orang responden, terdapat 11 siswa . ,9%) yang memiliki tingkat pengetahuan baik mengenai HIV/AIDS, 42 siswa . ,6%) berada pada kategori cukup, dan 12 siswa . ,5%) termasuk dalam kategori kurang. Temuan ini menggambarkan bahwa secara umum tingkat pengetahuan siswa mengenai HIV/AIDS masih berada pada tingkat cukup, yang berarti sebagian besar siswa telah memiliki pemahaman dasar tentang penyakit ini, namun belum sepenuhnya memahami aspek-aspek yang lebih mendalam seperti cara penularan, pencegahan, maupun dampak sosial dari HIV/AIDS. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan informasi dan pemahaman di kalangan siswa, khususnya terkait mitos dan stigma yang sering melekat pada penderita HIV/AIDS. Pengetahuan yang belum menyeluruh dapat berpotensi menimbulkan sikap diskriminatif serta ketakutan yang tidak berdasar terhadap individu dengan HIV. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi berkelanjutan melalui kegiatan Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Abraham Gainau1. Louisa Nindya Watratan2. Elgita Clara tahitu3 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 408 Ae 415 pembelajaran di sekolah, penyuluhan kesehatan, maupun kerja sama dengan pihak puskesmas dan lembaga Pendidikan kesehatan yang lebih intensif dan interaktif diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan pengetahuan kognitif siswa, tetapi juga dapat membentuk sikap empatik dan inklusif terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Dengan demikian, intervensi edukatif yang tepat akan berkontribusi pada terbentuknya generasi muda yang lebih berwawasan luas, bebas stigma, dan memiliki kesadaran tinggi dalam pencegahan penularan HIV/AIDS di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas. Saran Berdasarkan hasil dan analisis penelitian yang telah dilakukan, disarankan agar pihak sekolah lebih proaktif dalam meningkatkan kegiatan edukasi serta penyuluhan mengenai HIV/AIDS secara terencana dan Kegiatan ini sebaiknya tidak hanya dilakukan sesekali, tetapi dilaksanakan secara rutin dan terstruktur agar pengetahuan siswa mengenai HIV/AIDS menjadi semakin mendalam, akurat, dan berorientasi pada perubahan perilaku positif. Pihak sekolah dapat bekerja sama dengan puskesmas, dinas kesehatan, atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDS. Melalui kolaborasi ini, materi yang disampaikan kepada siswa akan lebih terarah, relevan dengan kondisi terkini, dan berbasis data ilmiah, sehingga mampu menumbuhkan kesadaran serta sikap empati terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Selain itu, guru diharapkan dapat berperan aktif sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai media edukatif yang menarik, seperti video dokumenter, animasi edukatif, poster, maupun infografis interaktif yang menjelaskan mekanisme penularan, pencegahan, serta penanganan dasar HIV/AIDS. Penggunaan metode diskusi kelompok, simulasi, dan studi kasus juga sangat disarankan, karena dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial terhadap isu kesehatan masyarakat. Dengan pendekatan pembelajaran yang partisipatif dan berbasis pengalaman nyata, diharapkan siswa tidak hanya memahami HIV/AIDS secara teoritis, tetapi juga mampu menginternalisasi nilai-nilai positif seperti empati, tanggung jawab, dan sikap tidak diskriminatif terhadap ODHA. Pada akhirnya, peningkatan kegiatan edukasi di lingkungan sekolah akan berkontribusi pada terbentuknya generasi muda yang berpengetahuan luas, berperilaku sehat, serta berperan aktif dalam pencegahan dan penghapusan stigma terhadap HIV/AIDS di masyarakat. DAFTAR PUSTAKA