Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Ambiguitas Leksikal Dalam Serial Bocah Ngapa(K) Ya Laili Etika Rahmawati1*. Putri Haryanti1. Zahy Riswahyudha Ariyanto1 Universitas Muhammadiyah Surakarta ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Fenomena ketaksaan makna dari hari ke hari semakin menjadi sorotan. Dalam proses komunikasi serial Bocah Ngapa. Ya telah berhasil menempatkan ambiguitas terutama ambiguitas leksikal pada posisi strategis yang memungkinkan mempengaruhi konteks makna yang dimaksud. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud ambiguitas dalam serial Bocah Ngapa. Ya. Sumber data dalam penelitian ini berupa tuturan tokoh dalam serial Bocah Ngapa. Ya. Metode pengumpulan data menggunakan metode simak bebas libat cakap. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis Miles and Huberman sehingga dapat diketahui tuturan yang mengandung ambiguitas secara leksikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 data penelitian, terdapat 14 data yang termasuk dalam pelanggaran ambiguitas leksikal. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar tuturan dalam serial Bocah Ngapa. Ya terdapat ketaksaan makna secara leksikal. Namun, fenomena ambiguitas atau ketaksaan makna justru dimanfaatkan sebagai ide kreatif dalam pembuatan skenario cerita. Wujud ambiguitas tidak dianggap sebagai kesalahan berbahasa tetapi justru dikemas dengan cara disengaja untuk menjadi dasar pengembangan ide cerita. DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Ambiguitas. Leksikal. Bocah Ngapak Ya This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Laili Etika Rahmawati Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. Yani. Surakarta 57162. Indonesia Email: laili. rahmawati@ums. PENDAHULUAN Belakangan ini, stasiun TV saling berlomba-lomba menyajikan sesuatu untuk menarik para Mulai dari program hiburan/komedi, sinetron atau film bahkan hiburan musik tidak pernah absen setiap harinya. Hampir semua stasiun TV di Indonesia menyajikan program andalan mereka dari pukul 18. sampai dengan pukul 23. Yang perlu diperhatikan bahwa program di TV tidak hanya ditujukan untuk remaja ataupun dewasa, tetapi juga untuk anak-anak. Menurut Pratiwi . pada saat menonton televisi, seharusnya anak tidak hanya mendapatkan hiburan, melainkan juga menyerap berbagai informasi untuk memperkaya khasanah pengetahuan serta menyerap pesanpesan pendidikan dari berbagai peristiwa bermakna yang dialami oleh tokoh. Salah satu film pendek yang viral saat ini yaitu serial AuBocah Ngapa. Ya ?Ay. Serial yang dibintangi oleh trio cilik asal Kebumen ini sukses menyita perhatian publik lewat aksi kocaknya. Ditambah percakapan yang menggunakan bahasa khas AongapakAo ini sukses membuat siapapun yang menyaksikannya tertawa terpingkal-pingkal. Serial AuBocah Ngapa. Ya ?Ay merupakan acara televisi di Indonesia yang bergenre komedi. Serial ini ditayangkan oleh stasiun televisi Trans 7 sejak 16 Februari 2019. Serial ini merupakan pengembangan dari film Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X pendek akun YouTube Polapike. Serial ini dibintangi oleh tiga orang anak asli desa Sadangwetan. Sadang. Kebumen, yaitu Ahmad Azkal Fuadi. Fadli Dwi Ramadan, dan Ilham Dwi Ramadan. Sejak pertama kali diunggah pada akhir tahun 2018, serial ini telah menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Rendra Polapike adalah orang yang melatarbelakangi pembuatan serial Polapike sebelum karyanya dijadikan acara televisi. Akun Youtube Polapike juga telah memiliki 801. 000 subcriber. Bahkan salah satu serialnya yang berjudul AuPulang KampungAytelah ditonton lebih dari 1,4 juta kali dan sekitar 115 ribu orang menyukainya (Polapike, 2. Serial ini semakin populer ketika diunggah pada Akun Youtube Trans 7 Official. Kesuksesan Trans 7 mengangkat serial ini dapat dilihat dari total viewers mencapai 715 ribu kali ditambah orang yang menyukai mencapai 816 ribu dan 10 juta subcriber (Trans 7 Official, 2. Sesuai dengan keterangan judulnya, ketiganya berbicara dengan bahasa Jawa berlogat AongapakAo khas Kebumen. Kisah yang diangkat dalam serial ini berasal dari keseharian khas anak-anak, seperti memancing di sungai, membeli bakso hingga obrolan cita-cita. Kisah tersebut semakin kocak karena paduan kepolosan dan sikap Aosok tahuAo khas anak-anak serta bahasa 'ngapak' tadi. Selain itu, alur cerita yang disajikan dalam serial ini selalu mengundang gelak tawa penontonnya. Hal ini dikarenakan percakapan mereka yang selalu diselimuti dengan Percakapan pada serial AuBocah Ngapa. Ya ?Ay sangat menarik untuk diteliti karena banyak memanfaatkan penggunaan bahasa khas AongapakAo. Bahasa mencerminkan identitas pemakainya sehingga bahasa juga merupakan bentuk ekspresi dari batin Komunikasi dan kegiatan berbahasa melibatkan penutur dan pendengar serta aspek yang disebut Dalam konteks bahasa lisan terdapat istilah penutur (PN) dan mitra tutur (MT). Dalam proses berbahasa, terutama dalam memproduksi sebuah tuturan ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan oleh penutur, diantaranya kesesuaian jawaban, pemilihan kata, dan kesepahaman dengan mitra tutur. Dalam percakapan formal maupun nonformal sering kali ditemui kesalahpahaman antara penutur (PN) dan mitra tutur (MT). Kesalahpahaman ini dapat disebabkan oleh munculnya makna ganda dalam percakapan penutur (PN) dan mitra tutur (MT). Apabila munculnya makna ganda ini tidak diatasi maka akan berdampak buruk terhadap suatu percakapan yang tidak berjalan dengan baik bahkan sampai berakhir dengan kericuhan (Sulistyorini, 2. Menurut Setiawan. Andayani, & Winarni . ambiguitas juga dapat mengakibatkan penyimpangan arti dalam kata. Akhirnya, akan ada pihak-pihak tertentu yang merasa tersinggung dan tidak terima atas kesalahpahaman tersebut. Namun hal ini berbeda dengan serial AuBocah Ngapa. Ya ?Ay. Fenomena ambiguitas atau ketaksaan makna dapat dimanfaatkan sebagai ide kreatif dalam pembuatan skenario cerita. Wujud ambiguitas tidak dianggap sebagai kesalahan berbahasa tetapi justru dikemas dengan cara disengaja untuk menjadi dasar pengembangan ide cerita. Ambiguitas atau ketaksaan makna adalah gejala dapat terjadinya tafsiran lebih dari satu makna. Hal ini dapat terjadi baik dalam ujaran lisan maupun tulisan. Tafsiran lebih dari satu ini dapat menimbulkan keraguan dan kebingungan dalam mengambil keputusan tentang makna yang dimaksud. Kalimat ambiguitas adalah kalimat yang memiliki makna ganda, mempunyai dua pengertian, dan bersifat taksa (Moeliono, 1. Kalimat ambigu dapat menimbulkan salah arti karena didalamnya terdapat struktur kalimat maupun pengulangan kata yang tidak Dalam kajian semantik ada beberapa pengertian tentang ambiguitas . Pertama, sebagai gejala terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Kedua, sebagai sifat konstruksi yang dapat diberi lebih dari satu tafsiran (Chaer, 2. Lebih lanjut menurut Chafe . ambiguitas atau kekaburan makna bisa disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya: . Sifat kata atau kalimat yang bersifat umum . , . Kata atau kalimat tidak pernah homogen seratus persen. Maksudnya, kata akan jelas maknanya jika berada di dalam kalimat, dan kalimat akan jelas maknanya jika berada dalam konteks, . Batas makna yang dihubungkan dengan bahasa yang berada di luar bahasa tidak jelas, . Kurang akrabnya kata yang digunakan dengan acuannya. Kalimat yang bermakna ganda seperti kalimat ambiguitas memiliki struktur logika yang ganda pula. Keambiguitasan dapat menyebabkan kalimat tidak efektif. Kalimat yang tidak efektif selain mengganggu kelancaran komunikasi juga akan merusak struktur bahasa (Suwarna, 1. Ambiguitas dibagi menjadi tiga tipe utama, yaitu ambiguitas tingkat fonetik, tingkat leksikal, dan tingkat gramatikal (Ramadhanti, 2. Ambiguitas tingkat fonetik timbul akibat membaurnya bunyi-bunyi bahasa yang diujarkan, kadang karena kata-kata yang membentuk kalimat diujarkan terlalu cepat sehingga orang menjadi ragu akan makna kalimat yang diujarkan. Ambiguitas tingkat leksikal adalah macam ambiguitas yang disebabkan oleh bentuk leksikal yang Hal ini berkaitan dengan makna yang dikandung setiap kata yang dapat memiliki lebih dari satu makna atau mengacu pada sesuatu yang berbeda sesuai lingkungan pemakaiannya. Ambiguitas tingkat gramatikal, ambigu ini muncul pada tataran morfologi dan sintaksis. Pada tataran morfologi ambiguitas muncul dalam pembentukan kata secara gramatikal. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Adapun menurut Kem . ambiguitas leksikal merupakan makna lebih dari satu, dapat mengacu pada benda dan sesuai dengan lingkungan pemakaiannya. Ketaksaan leksikal dapat dilihat dari dua segi, yakni sebagai Polisemi adalah suatu kata yang mempunyai makna lebih dari satu. Homonim adalah kata yang penamaan dan pengucapannya sama, tetapi artinya berbeda. Sebuah serangkaian penelitian telah dilakukan oleh peneliti tentang ambiguitas. Adriana . yang mengkaji AuAmbiguitas dalam Teks Al-QurAoan. Ay Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa di dalam Al-QurAoan terdapat banyak kosa kata yang ambigu,sehingga kalau al-Qur`an diterjemahkan ke dalam bahasa lain, tanpa diikuti oleh penafsiran terhadap teks yang sangat rawan terhadap penafsiran, yakni teks-teks yang ambigu, dengan teliti dan cermat, tidak mustahil akan bisa merubah cara pandang umat muslim terhadap hukum yang ada. (Anwari, 2. mengkaji tentang AuAnalisis Kalimat Ambigu dalam Novel Suatu Tinjauan SemantikAy. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kedua novel yaitu Madogiwa no Totto-chan dan novel Utsukushisato Kanashimito, ditemukan dua jenis ambiguitas kalimat yaitu ambiguitas tata bahasa dan ambiguitas leksikal. Beberapa aspek menyebabkan ini ambiguitas seperti: . kurangnya konteks, konteks situasional dan konteks kalimat, . struktur tata bahasa yang tidak akurat, . kurangnya tanda baca. Oliver. mengkaji AuAmbiguity. Ambivalence and Extravagance in The Hunger GamesAy. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa AuThe Hunger Games figures Katniss as an in-between masculine and feminine, maternal and paternalAiit undermines binary oppositions that force girls onto one side or the other, and thereby promotes a feminist aesthetics of ambiguity as an imaginary space where alternatives identities are possible. Ay Selanjutnya. Ekawati & Wijaya . meneliti AuKetaksaan Makna Judul Berita dan Implikasinya pada PembacaAy. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Ketaksaan leksikal terdiri atas homonimi, polisemi, dan perlawanan makna. Ketaksaan gramatikal disebabkan oleh kurangnya subjek atau penggunaan tanda baca yang tidak tepat. Implikasi ketaksaan tersebut adalah sebanyak 20% responden terdidik dan 90% responden tidak terdidik tidak mampu memahami judul berita dengan baik. Penelitian sejenis juga dilakukan oleh Penelitian selanjutnya juga dilakukan oleh (Prasetyawan. Myartawan, & Suprianti, 2. yang mengkaji Ambiguitas dalam Resep Online. Prasetyawan menemukan 35 kata dan frasa yang ambigu yang terdiri atas 9 ambigu leksikal . 71%), 2 ambigu rujukan . ,71%), dan 24 ambigu struktural . ,57%). Ambigu struktural muncul sebagai jenis ambigu yang paling dominan dalam resep Yusmawati & Restiawan . mengkaji tentang AuMakna Ambiguitas Pesan Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus: Kampanye Sosial AuKetimbang NgemisAy di Media Sosial. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kegiatan kampanye sosial oleh Komunitas Ketimbang Ngemis bertujuan untuk mengedukasi, mengajak, dan menyadarkan masyarakat melalui informasi-informasi yang dimuat di media sosial. Namun, sebagai suatu peristiwa tutur, pemaknaan terhadap tuturan tidak dapat begitu saja dilepaskan dari konteks. Tuturan yang sama yang diucapkan pada situasi yang berbeda berpotensi untuk memiliki makna yang berbeda pula. Oleh sebab itu, istilah Ketimbang Ngemis memunculkan makna yang ambigu. Apabila dianalisis berdasarkan makna denotatif, istilah ini memiliki kesan bahwa sebagian besar lansia dan penderita cacat akan melakukan tindakan mengemis. Sedangkan dilihat berdasarkan makna konotatif, istilah ini berisi ajakan kepada masyarakat luas agar tidak mengasihani para pengemis karena perilaku mengemis adalah perilaku malas, yang membuat seseorang menjadi tidak berdaya dan mampu hidup mandiri tanpa adanya ketergantungan dengan pihak lain. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Carter . mengkaji tentang AuCinematic Intertextuality and the Aesthetics of Ambiguity from Antonioni to AldridgeAy. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Authe Antonionian film tapestry to identify the prior bricolage in the creation of AldridgeAos hypertextual work, we initiate a captivating semiotic discourse that leads to a strong sense of ambiguity. Faced with such ambiguity the reader is subsequently free to interpret the photograph elevating the role of the reader/spectator to that of co-authorAy. Hubungan beberapa penelitian di atas dengan penelitian ini sama-sama mengkaji ambiguitas. Adapun perbedaannya, penelitian di atas mengkaji tentang ambigu pada film, game, teks Al-QurAoan, novel, dan resep. Sedangkan penelitian ini mengkaji ambiguitas dalam serial Bocah Ngapa. Ya. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pada kasus ini peneliti tertarik untuk mengumpulkan, mengklasifikasikan, dan menafsirkan bentuk ambiguitas dalam serial AuBocah Ngapa. Ya ?Ay. Penelitian ini membahas ambiguitas leksikal dalam AuBocah Ngapa. Ya ?Ay. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak bebas libat cakap, dimana peneliti tidak terlibat dalam peristiwa pertuturan dalam serial AuBocah Ngapa. YaAy. Adapun bahasa yang sedang diteliti baik berupa kata-kata, kalimat, atau wacana yang mengandung ambiguitas (Mahsun, 2. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata, frasa, kalimat atau tuturan yang terdapat ambiguitas dalam serial AuBocah Ngapa. YaAy. Adapun data sekunder berupa buku, jurnal, dan literatur lain yang berkaitan dengan kesalahan berbahasa. Teknik validasi data dilakukan dengan menggunakan teknik trianggulasi sumber data. Teknik trianggulasi sumber data dilakukan dengan Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X membandingkan dan mengecek balik data yang mengandung derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2012:. Teknik analisis data menggunakan metode padan pada intralingual dan padan pragmatis, serta metode interaktif. Metode padan intralingual dilakukan dengan menghubung-bandingkan data penelitian yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda (Kesuma, 2. Dalam penelitian ini juga menggunakan teknik analisis padan pragmatis yang alat penentunya mitra bicara. Adapun yang dipakai sebagai metode padan pragmatis dalam penelitian ini menggunakan teknik dasar seperti teknik pilah unsur penentu. Sedangkan metode interaktif meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data (Miles. Huberman, & Saldana, 2. Gambar 1. Metode Interaktif Milles & Huberman HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data penelitian, terkumpul 20 data percakapan dalam serial Bocah Ngapa. Ya. 14 data diantaranya termasuk ke dalam kategori ke dalam bentuk pelanggaran ambiguitas secara leksikal dan data sisanya termasuk pelanggaran ambiguitas secara gramatikal dan fonetik. Nomor Tabel 1. Wujud ambiguitas dalam serial Bocah Ngapa. Ya Jenis Ambiguitas Jumlah Presentase (%) Ambiguitas Ambiguitas Gramatikal & Fonetik Total Berdasarkan tabel di atas, wujud ambiguitas leksikal dalam Serial Bocah Ngapa. Ya disajikan sebagai Data 1 Azkal : Auham, tukar posisilah inyong sing ngarepAy (Ham, tukar posisilah aku yang di depa. Ilham : Aujare koen pengenne nang ngarepe nyong ? koen kan wis nang ngarep e nyongAy (Katanya kamu ingin aku di depanmu ? Sekarang kamu kan sudah didepanku ?) Data 1 terjadi pada konteks perlombaan bakiak yang diadakan untuk memeriahkan HUT RI Indonesia. Azkal meminta Ilham untuk bertukar posisi, karena perlombaan membutuhkan tenaga dari orang yang lebih kuat. Oleh karena itu. Azkal yang memiliki postur tubuh lebih besar mengajak bertukar posisi dengan Ilham. Azkal memang menggunakan kata Auposisi ngarepmuAy atau Auposisi depanmuAy untuk bertukar posisi, tetapi dalam konteks tersebut kata Auposisi ngarepmuAy atau Auposisi depanmuAy mengalami ambiguitas secara Hal ini dikarenakan kata Auposisi ngarepmuAy atau Auposisi depanmuAy merupakan polisemi atau kata yang memiliki makna ganda namun kata tersebut masih memiliki keterkaitan. Kata Auposisi ngarepmuAy atau Auposisi depanmuAy dapat berarti posisi nomor satu dan dua atau depan-belakang namun Auposisi ngarepmuAy atau Auposisi depanmuAy juga dapat berarti posisi saling berhadapan. Dengan demikian, walaupun kata Auposisi ngarepmuAy atau Auposisi depanmuAy mengalami ketaksaan makna tetapi kedua maknanya masih saling berkaitan. Data 2 Penjual : Augorengane rong ewu, teluAy (Gorengannya dua ribu, tig. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Ilham : Augorengane nek dipangan iso marai mules. Gorengan e kan 2003, saiki kan 2019Ay (Gorengannya kalau dimakan bisa bikin mules. Gorengannya kan 2003, sekarang kan 2. Data 2 terjadi pada konteks Azkal. Fadly, dan Ilham yang sedang membeli gorengan usai berenang di Fadly bertanya kepada penjual tentang harga gorengannya. Kemudian penjual menjawab dua ribu, tiga. Penggunaan kata Audua ribu tigaAy yang dituturkan oleh penjual gorengan menandakan jumlah nominal barang yang dijualnya. Tetapi dalam konteks tersebut kata Audua ribu tigaAy terdapat ambiguitas secara leksikal. Ambiguitas ini dapat terjadi karena kata Audua ribu tigaAy terjadi polivalensi berupa homonimi. Homonimi terjadi ketika kata, frasa atau kalimat yang bentuknya sama dengan ungkapan lain . uga berupa kata, frasa atau kalima. tetapi maknanya tidak sama. Kata Audua ribu tigaAy dapat berarti menyatakan jumlah nominal gorengan yang dijual. Atau dengan kata lain, dua ribu mendapat tiga buah gorengan. Di sisi lain. Audua ribu tigaAy juga dapat berarti tahun produksi barang yang akan dijual. Oleh karena itu, kata Audua ribu tigaAy dapat dikatakan mengalami ketaksaan makna dan kedua maknanya tidak sama. Data 3 Ilham : Auseko endi Az ?Ay (Darimana Az ?) Azkal : Autuku obat nyamuk HamAy. (Beli obat nyamuk ha. Ilham : AunyamukAoe lara apa?Ay (Nyamuknya sakit ap. Azkal : Audeneng sih ?Ay (Maksudnya apa sih ?) Ilham :Aulah iku nyamukke ditukuke obat,lara apa?Ay(Lah itu nyamuknya dibelikan obat,sakit apa ?) Data di atas terjadi pada konteks Azkal bertemu dengan Ilham ketika perjalanan membeli obat nyamuk. Percakapan mereka berlangsung singkat, namun mengalami kendala karena Ilham yang posisinya sebagai mitra tutur tidak memahami maksud Azkal sebagai penutur. Hal ini dikarenakan penggunaan kata Auobat nyamukAy yang dapat menimbulkan makna ganda. Penggunaan kata Auobat nyamukAy yang dituturkan Azkal menimbulkan makna ganda bagi Ilham. Dalam konteks tersebut kata Auobat nyamukAy terdapat ambiguitas secara leksikal. Ambiguitas ini dapat terjadi karena kata Auobat nyamukAy merupakan polisemi atau kata yang memiliki makna ganda. Namun kata-kata tersebut masih memiliki keterkaitan makna. Kata Auobat nyamukAy dapat berarti menyatakan obat untuk membasmi nyamuk, namun di sisi lain kata Auobat nyamukAy juga dapat berarti obat untuk mengobati atau menyembuhkan nyamuk. Oleh karena itu, kata Auobat nyamukAy dapat dikatakan mengalami ketaksaan makna tetapi kedua maknanya masih saling berkaitan. Data 4 Bu guru : Aunah, siapa yang tahu, bagian bunga yang terlihat Indah ?Ay Ucup : Aubagian matanya bu. Ay Bu guru : Auloh, kok bagian matanya. Cup ?Ay Ucup : Auiya, bu. Si Bunga kelas empat. Dipandang matanya, sangat indah sekali. Ay Data 4 terjadi pada konteks pembelajaran di kelas yang sedang membahas bagian dalam tumbuhan. guru bertanya kepada murid-murid tentang salah satu bagian tumbuhan yang terlihat indah yaitu bunga. Bunga memiliki bagian-bagian di dalamnya yang membuat bunga enak dipandang yaitu mahkota bunga. Hal ini dikarenakan mahkota bunga memiliki aneka warna yang dapat mempercantik tampilan bunga. Namun pada konteks percakapan di atas. Ucup berpendapat bahwa bagian bunga yang paling indah terletak pada mata. Penggunaan kata AubungaAy pada konteks percakapan di atas mengalami ketaksaan makna sehingga menimbulkan makna ganda. Ketaksaan ini disebut ambiguitas. Ambiguitas pada konteks percakapan di atas terjadi karena kata AubungaAy mengalami polivalensi berupa homonimi. Homonimi terjadi ketika kata, frasa atau kalimat yang bentuknya sama dengan ungkapan lain . uga berupa kata, frasa atau kalima. tetapi maknanya tidak sama. Kata AubungaAy pada konteks percakapan di atas seharusnya menyatakan salah satu bagian tumbuhan yang paling indah yaitu mahkota bunga. Akan tetapi terjadi ambiguitas secara leksikal sehingga kata AubungaAy dimaknai sebagai nama orang yang bagian paling indah terletak pada matanya. Ambiguitas ini mengakibatkan maknanya mengalami perubahan. Oleh karena itu, kata AubungaAy mengalami ketaksaan makna dan kedua makna tersebut tidak saling berkaitan. Data 5 Chun : Autakut-takut apa ? ini bukan soal takut, saya dapat nilai merah semua ini. Nilai Matematika semua jelek. Aku takut kalau pulang, nanti mama pukul aku. Ay Ilham :AuChun, manusia itu tidak lepas dari kesalahan. Mamamu pasti gak akan marah. Ay Chun : Ausudah Ilham. Aku sudah bilang seperti yang kamu bilang. Tapi tetap saja. Aku pulang sandal tetap melayang. Kamu salah. Ay Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X : Auya maklumlah. Chun. Aku kan manusia. Manusia tidak lepas dari kesalahan. Iya kan ?Ay Data di atas terjadi pada konteks Chun yang merasa takut dimarahi mamanya karena nilai matematikanya Kemudian Ilham menjawab Aumanusia tidak luput dari kesalahanAy, jangan takut pulang. Dengan mudahnya Chun mempercayai perkataan Ilham tersebut. Kemudian ia memberanikan diri untuk pulang ke rumah. Namun keesokan harinya Chun bercerita bahwa ia tetap dimarahi mamanya, walaupun ia sudah berkata Aumanusia tidak luput dari kesalahanAy. Ketika ia memprotes Ilham karena ia tetap saja dimarahi mamanya. Ilham dengan santainya menjawab Aumanusia tidak luput dari kesalahanAy. Penggunaan kata Aumanusia tidak luput dari kesalahanAy dalam konteks percakapan tersebut menimbulkan makna ganda, sehingga menimbulkan fungsi kata menjadi berbeda. Ketaksaan makna ini dapat terjadi karena kata Aumanusia tidak luput dari kesalahanAy mengakibatkan makna ganda diantaranya . sifat alami manusia yang tidak sempurna dan banyak melakukan kesalahan, . sifat manusia yang dapat dijadikan sebagai alasan ketika melakukan kesalahan. Kedua makna di atas mengalami pergeseran fungsi makna kata namun masih Data 6 Ilham : AuSaiki nyong tak takon. Apa persamaan air dengan Ucup ?Ay . h, seperti itu. Nah, sekarang aku Tanya. Apa persamaan air dengan Ucup ?) Azkal : Auemm. apa ya ? apa sih Ham ?Ay Ilham : Aupersamaan air dengan Ucup sama-sama bisa menguap. Kae deleng kaeAy . ersamaan air dengan Ucup sama-sama bisa menguap. Tuh lia. Ilham Data 6 terjadi pada konteks percakapan yang membahas mengenai sifat benda pada lingkungan Ilham menyatakan bahwa persamaan air dengan Ucup yaitu sama-sama dapat AumenguapAy. Penggunaan kata AumenguapAy pada konteks percakapan di atas tentu mengalami ketaksaan sehingga menimbulkan makna Ketaksaan ini disebut ambiguitas. Ambiguitas pada konteks percakapan di atas terjadi karena kata AumenguapAymengalami polivalensi berupa homonimi. Homonimi terjadi ketika kata, frasa atau kalimat yang bentuknya sama dengan ungkapan lain . uga berupa kata, frasa atau kalima. tetapi maknanya tidak sama. Kata AumenguapAy dapat berarti . salah satu sifat benda mati seperti air, . mengangakan mulut dengan mengeluarkan napas karena mengantuk. Pada konteks percakapan di atas memposisikan kata AumenguapAy mempersamakan benda mati . dengan makhluk hidup (Ucu. , sehingga menimbulkan makna ganda tetapi kedua makna tersebut tidak saling berkaitan. Data 7 Ucup : Aukoe apa. Ham ?Ay . amu apa. Ham ?) Ilham : Aunyong teh panasAy . ku teh pana. Ucup : Auora nganggo es berarti ya ?Ay . gga pakai es berarti ya ?) Ilham : Auya nganggo lah. Cup. Teh panas ya nganggo AoSAo lah. Cup. Nek ora nganggo AoSAo kuwi jenenge AoTEH PANAAoAy ( ya pakai lah. Cup. Teh panas ya pakai AoSAo lah. Cup. Kalau tidak pakai AoSAo itu namanya AoTEH PANAA. Data 7 terjadi pada konteks ketika Ucup bertanya kepada Ilham tentang minuman apa yang diinginkan Ilham. Ilham menjawab kalau ia menginginkan teh panas. Kemudian Ucup mempertegas jika teh panas berarti tidak perlu ditambahkan es. Namun pada konteks percakapan di atas. Ilham berpendapat bahwa jika teh panas tidak memakai AuesAy akan berubah namanya menjadi Auteh panaAy. Penggunaan kata AuesAy pada konteks percakapan di atas mengalami ketaksaan makna sehingga menimbulkan makna ganda. Ketaksaan ini disebut ambiguitas. Ambiguitas pada konteks percakapan di atas terjadi karena kata AuesAy mengalami polivalensi berupa homonimi. Homonimi terjadi ketika kata, frasa atau kalimat yang bentuknya sama dengan ungkapan lain . uga berupa kata, frasa atau kalimat tetapi maknanya tidak sama. Kata AuesAypada konteks percakapan di atas seharusnya menyatakan benda padat untuk dikonsumsi. Akan tetapi terjadi ambiguitas secara leksikal sehingga kata AuesAy dimaknai sebagai salah satu huruf alfabet yang posisinya hadir sebagai pelengkap dalam sebuah kata maupun kalimat. Ambiguitas ini mengakibatkan maknanya mengalami perubahan. Oleh karena itu, kata AuesAy mengalami ketaksaan makna dan kedua makna tersebut tidak saling berkaitan. Data 8 Ilham : Aukiye nyong menjalankan nasihat pak UstadzAy . ni aku sedang menjalankan nasihat Pak Ustad. Azkal : Aunasihat ? nasihat apa ?Ay Ilham : Aujadilah manusia yang lembutAy Fadly : Aulha terus apa ana hubungane rendeman kaya awak e dewek. Ham ?Ay . ha terus apa hubungannya dengan merendam badan kaya gitu. Ham ? Ilham : Aunyong rendeman nganggo kiyeAy . ku berendam, pakai ini . ambil menunjukkan pelembut pakaia. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Data di atas terjadi pada konteks Azkal dan Fadly yang menjemput Ilham untuk berenang bersama-sama. Tetapi mereka heran ketika melihat Ilham yang berendam di pekarangan belakang rumah. Kemudian Ilham menjawab sedang menjalankan salah satu nasihat Pak Ustadz yaitu Aujadilah manusia yang lembutAy. Tetapi Azkal dan Fadly masih belum paham mengenai kaitan nasihat Pak Ustadz dengan berendam. Kemudian Ilham menunjukkan bahwa ia berendam menggunakan pelembut pakaian. Penggunaan kata AulembutAy dalam konteks percakapan tersebut menimbulkan makna ganda sehingga menimbulkan fungsi kata menjadi berbeda. Ketaksaan makna ini dapat terjadi karena kata AulembutAy mengakibatkan makna ganda diantaranya . sifat manusia yang baik hati dan penyabar, . sifat kulit manusia yang halus. Ambiguitas pada konteks percakapan di atas terjadi karena kata AulembutAy mengalami polivalensi berupa homonimi. Homonimi terjadi ketika kata, frasa atau kalimat yang bentuknya sama dengan ungkapan lain . uga berupa kata, frasa atau kalima. tetapi maknanya tidak sama. Data 9 Azkal : Auwong mancing kuwe ora ana keinginan untuk majuAy . rang mancing tuh tidak ada keinginan untuk maj. Fadly : Aumaksudnya bagaimana ?Ay Azkal : Aujajal cekel pancingku, kiye wuwune tak gawane. Nah koe mancing ! mancing ! ora ana keinginan untuk maju, hahaha (Azkal mendorong Fadly ke sunga. Ay . oba kamu pegangin pancingku. Sini wuwunya aku pegangin. Nah kamu mancing ! mancing, tidak ada keinginan untuk maju, hahaha (Azkal mendorong Fadly ke sunga. ) Data di atas terjadi pada konteks Azkal dan Fadly sedang mancing di sungai. Azkal menyatakan kalau Aumancing itu tidak ada keinginan untuk majuAy. Kemudian Fadly bertanya maksud perkataan Azkal tersebut. Dengan runtut Azkal menjelaskan maksud tuturannya. Ia menjelaskan langkah-langkah dari maksud tuturannya. Namun, tiba-tiba dia malah mendorong Fadly ke sungai. Penggunaan kata AumajuAydalam konteks percakapan tersebut menimbulkan makna ganda, sehingga menimbulkan fungsi kata menjadi berbeda. Ketaksaan makna ini dapat terjadi karena kata AumajuAy mengakibatkan makna ganda diantaranya . sifat manusia untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, . posisi ketika memancing. Fadly mengira bahwa maksud tuturan Azkal yaitu sifat orang yang suka memancing itu tidak ada keinginan untuk berubah menjadi lebih Namun ternyata salah. Maksud tuturan Azkal yaitu posisi orang memancing yang tidak ada keinginan untuk Apabila terlalu maju ia akan tercebur ke sungai. Ambiguitas pada konteks percakapan di atas terjadi karena kata AumajuAy mengalami polivalensi berupa homonimi. Homonimi terjadi ketika kata, frasa atau kalimat yang bentuknya sama dengan ungkapan lain . uga berupa kata, frasa atau kalima. tetapi maknanya berbeda. Data 10 Fadly : AuHam, arep OTW nang endi ?Ay (Ham, mau OTW kemana ?) Ilham : AuBALI !!Ay (BALI !!) Fadly dan Azkal : AuBALII !! Denpasar ?Ay (BALI !! Denpasar ?) Ilham : AuBALI ngumah dikira nang pasar ?Ay (BALI ke rumah dikira mau ke pasar ??) Data di atas terjadi pada konteks Azkal. Fadly, dan Ilham sedang membicarakan tempat yang pernah mereka kunjungi. Fadly bertanya kepada Ilham hendak pergi kemana. Kemudian Ilham menjawab AubaliAy. Fadly dan Azkal tertegun. Mereka mengira Ilham akan pergi ke Denpasar. Bali. Tetapi ternyata Ilham tidak akan pergi kesana, melainkan akan kembali ke rumah. Penggunaan kata AubaliAy dalam konteks percakapan tersebut menimbulkan makna ganda sehingga menimbulkan fungsi kata menjadi berbeda. Ketaksaan makna ini dapat terjadi karena kata AubaliAy mengakibatkan makna ganda diantaranya . menyatakan tempat atau lokasi suatu daerah, . perjalanan pulang kembali ke Ambiguitas pada konteks percakapan di atas terjadi karena kata AubaliAymengalami polivalensi berupa Homonimi terjadi ketika kata, frasa atau kalimat yang bentuknya sama dengan ungkapan lain . uga berupa kata, frasa atau kalima. tetapi maknanya berbeda. Data 11 Bu Guru : AuIlham kan dapat nilai 100, coba Ilham kasih tahu teman-teman yang lain, rahasianya apa bisa dapat nilai 100 ? supaya teman-teman yang lain juga bisa dapat 100Ay *Ilham hanya terdiam Fadly : Aulah, kok meneng bae ? bagilah-bagilah rahasinyaAy . ah, kok malah diam saja ? bagi-bagilah Bu Guru : Auiya Ham. Berbagi ilmu itu hukumnya wajib loh. Ay Ilham : Auiya. Bu, nyong tauAy . ya bu, aku tah. Bu Guru : Auiya. Terus kenapa kamu diam saja ? Gak mau kasih tau rahasinya ?Ay Ilham : AuGak mau. Bu. Ay Bu Guru : Aukenapa gak mau ?Ay Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X : Aukan rahasia. Bu. Kalau nyong kasih tau namanya bukan rahasia mbogAy . an rahasia. Bu. Kalau aku kasih tau namanya bukan rahasi. Data di atas terjadi pada konteks pembagian nilai ulangan di dalam kelas. Bu Guru meminta Ilham untuk rahasia mendapat nilai 100. Namun beberapa saat Ilham tetap diam dan tidak berkata sepatah apapun. Sikap Ilham yang demikian ini merupakan interpretasi dirinya sendiri berupa sebuah rahasia tetaplah menjadi rahasia yang tidak boleh diberitahukan kepada siapapun. Penggunaan kata AurahasiaAydalam konteks percakapan tersebut menimbulkan makna ganda sehingga menimbulkan fungsi kata menjadi berbeda. Ketaksaan makna ini dapat terjadi karena kata AurahasiaAy mengakibatkan makna ganda diantaranya . menyatakan sebuah tips dan trik dalam mencapai sesuatu, . suatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain. Ambiguitas pada konteks percakapan di atas terjadi karena kata AurahasiaAy mengalami polivalensi berupa homonimi. Homonimi terjadi ketika kata, frasa atau kalimat yang bentuknya sama dengan ungkapan lain . uga berupa kata, frasa atau kalima. tetapi maknanya Data 12 Pak RT : Auguntinge ora landep kokAy . untingnya kayaknya tidak tajam ko. Ilham : Aucoba nganggo lidah pak RTAy . oba pakai lidah, pak RT) Pak RT : Aungango lidah, emang bisa ?Ay (Pakai lidah, apa bisa ?) Ilham : Aubisa pak RT, coba saja. Ay Pak RT : Auora bisa Ham, sapa sek ngomong bisa ?Ay . idak bisa Ham, siapa yang bilang bisa ?) Ilham : Aukata pak ustadz, ana benda sek luwih tajam daripada pedang yaitu lidah, tapi kok ora bisa ya ?Ay (Kata Pak Ustadz, ada yang lebih tajam dari pedang, yaitu lidah. Tapi kok tidak bisa ya ?) Ilham Data 12 terjadi pada konteks ketika Pak RT mengalami kesulitan memotong tali menggunakan gunting. Namun. Ilham malah menawarkan untuk memakai lidah. Atas nasihat Pak Ustadz yang mengatakan bahwa Auada sesuatu yang lebih tajam daripada pedang yaitu lidahAy. Penggunaan kata AutajamAy dalam konteks percakapan tersebut menimbulkan makna ganda sehingga menimbulkan fungsi kata menjadi berbeda. Ketaksaan makna ini dapat terjadi karena kata AutajamAy mengakibatkan makna ganda diantaranya . benda yang berbentuk runcing atau berujung lancip, . sifat manusia yang mudah melukai hati orang lain. Ambiguitas pada konteks percakapan di atas seharusnya bermakna sesuatu yang runcing untuk memotong tali, tetapi Ilham menawarkan lidah yang dianalogikan sebagai benda Ambiguitas tersebut muncul karena kesalahpahaman Ilham akan nasihat Pak Ustadz. Ambiguitas ini terjadi karena kata AutajamAy mengalami polivalensi berupa homonimi. Homonimi terjadi ketika kata, frasa atau kalimat yang bentuknya sama dengan ungkapan lain . uga berupa kata, frasa atau kalima. tetapi maknanya berbeda. Data 13 Di saat jam istirahat. Ilham (I) terlihat kesulitan mengerjakan soal. Kemudian ia bertanya kepada Bu Guru (B). I : Aubu guru, tomorrow artinya apa bu ?Ay B : AubesokAy I : Aukepriben si bu guru ? Ditanyain jawabnnya malah besok. Kelamaan, mbogAy (Kepriben si bu guru ? Ditanyain jawabannya malah besok. Kan kelamaa. Data di atas terjadi pada konteks Ilham kebingungan terhadap arti AutomorrowAy. Kemudian dia berinisiatif bertanya kepada Bu Guru. Namun Ilham masih kebingungan akan jawaban Bu Guru yang menyatakan arti kata AutomorrowAy yaitu besok. Pada konteks percakapan di atas, kata AutomorrowAy mengalami ambiguitas secara leksikal. Hal ini dikarenakan kata AutomorrowAy merupakan polisemi atau kata yang memiliki makna ganda namun kata tersebut masih memiliki keterkaitan. Kata AutomorrowAy pada konteks percakapan di atas dapat berarti . arti dari kata AutomorrowAy yaitu besok, . menunggu jawaban sampai besok hari. Dengan demikian, walaupun kata AutomorrowAy mengalami ketaksaan makna tetapi kedua maknanya masih saling berkaitan. Data 14 Mba Tyas : Aulah buka kok iso nasi padange ora nana, primen sih ?Ay . ah buka kok bisa nasi padangnya nggak ada, gimana sih ?) Ilham : Auiya, mbak. Ora nana nasi padang. Soale mau lampune matiAy . ya, mbak. Nggak ada nasi padang. Soalnya tadi lampunya mat. Mba Tyas : Aulah terus kenapa nek lampune mati. Ham ?Ay . ah terus kenapa kalau lampunya mati. Ham ?) Ilham : Auiki kan wes bengi. Nek lampune mati iku jenenge udu nasi padang, anane nasi petengAy . a kan sudah malam. Kalau lampunya mati bukan nasi AopadangAo . , adanya nasi AopetengAo . ) Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Data 14 di atas terjadi pada konteks Mba Tyas menyuruh Ilham untuk membeli nasi padang malam hari. Namun menurut Ilham nasi padang ketika di malam hari tidak ada. Yang ada Aunasi petengAy atau gelap. Hal ini dikarenakan pada warung makan tidak ada lampu sehingga gelap gulita. Pada konteks percakapan di atas, kata Aunasi padangAymengalami ambiguitas secara leksikal. Hal ini dikarenakan kata Aunasi padangAy merupakan polisemi atau kata yang memiliki makna ganda namun kata tersebut masih memiliki keterkaitan. Kata Aunasi padangAypada konteks percakapan di atas dapat berarti . makanan khas dari Padang. Sumatera Barat, . kata sifat yang berarti terang, bersinar, jelas, dapat dilihat. Dengan demikian, walaupun kata Aunasi padangAymengalami ketaksaan makna tetapi kedua maknanya masih saling berkaitan. KESIMPULAN Dari hasil uraian pembahasan yang menjawab rumusan masalah, penelitian ini mendeskripsikan wujud ambiguitas leksikal dalam serial Bocah Ngapa. Ya. Data percakapan yang dianalisis sejumlah 20 data. Dari data tersebut ditemukan bahwa sejumlah 14 data menunjukkan adanya pelanggaran yang termasuk ambiguitas leksikal. Ambiguitas dapat mengakibatkan kekaburan makna yang akan dibingungkan penutur dan mitra tutur. Konteks latar percakapan dalam serial Bocah Ngapa. menjadi sangat penting diperhatikan, karena menentukan makna kata di dalamnya. Namun hal ini berbeda dengan serial AuBocah Ngapa. Ya ?Ay. Fenomena ambiguitas atau ketaksaan makna dapat dimanfaatkan sebagai ide kreatif dalam pembuatan skenario cerita. Wujud ambiguitas tidak dianggap sebagai kesalahan berbahasa tetapi justru dikemas dengan cara disengaja untuk menjadi dasar pengembangan ide cerita. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan data, informasi, dan bantuan lainnya yang diperlukan dalam penelitian ini. Partisipasi dan kontribusi yang sangat penting bagi kelancaran dan keberhasilan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA