Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index ISLAMIC EDUCATION FOR ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS IN DEVELOPING ATTITUDES OF TOLERANCE AND TOGETHERNESS PENDIDIKAN ISLAM KEPADA SISWA SD DALAM MENUMBUHKAN SIKAP TOLERANSI DAN KEBERSAMAAN Emir Faisal Alfarobi1 UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA Jl. Ki Hajar Dewantara No. Tembokrejo. Kec. Purworejo. Kota Pasuruan. Jawa Timur 67118 emirfaisal03@gmail. com, 082335331636 Muhammad Briliano Raditya Syandana 2 UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA Jl. Ki Hajar Dewantara No. Tembokrejo. Kec. Purworejo. Kota Pasuruan. Jawa Timur 67118 nanobriliano@gmail. com, 081333345411 Abstract. This study describes the importance of teaching interfaith respect and appreciating local culture starting from elementary school. Indonesia, which has many religions, tribes, and cultures, still experiences problems with low understanding of the importance of tolerance. One of the main reasons is the lack of knowledge in society. This study aims to investigate how Islamic education can build attitudes of tolerance and coexistence among elementary school students. The method used is literature analysis by examining information from various sources such as books, journals, and research The results of the study indicate that the role of teachers is very important not only in academic aspects, but also in instilling Islamic values, introducing diversity, and carrying out activities that help build attitudes of tolerance. Islamic education contributes to shaping students' character so that they can live harmoniously amidst differences. Therefore, it is hoped that educators can create effective ways to insert attitudes of tolerance from the beginning in the elementary school environment. Keywords. Islamic education, tolerance, togetherness, diversity. Islamic values Abstrak. Studi ini menguraikan pentingnya mengajarkan saling menghormati antaragama dan menghargai budaya lokal mulai dari pendidikan dasar. Indonesia, yang memiliki banyak agama, suku, dan budaya, masih mengalami masalah dengan rendahnya pemahaman tentang pentingnya toleransi. Salah satu alasan utama adalah adanya kurangnya pengetahuan di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana pendidikan Islam dapat membangun sikap toleransi dan koeksistensi di kalangan siswa SD/MI. Metode yang digunakan adalah analisis pustaka dengan meneliti informasi dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan artikel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran pengajar sangat penting tidak hanya dalam aspek akademis, tetapi juga dalam menanamkan nilai-nilai Islam, memperkenalkan keragaman, dan melaksanakan kegiatan yang membantu membangun sikap toleransi. Pendidikan Islam berkontribusi dalam membentuk karakter siswa agar dapat hidup dengan harmonis IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 70 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index di tengah perbedaan. Oleh sebab itu, diharapkan para pendidik dapat menciptakan cara yang efektif untuk menyisipkan sikap toleransi sejak awal di lingkungan sekolah dasar. Kata Kunci. Pendidikan Islam, toleransi, kebersamaan,keberagaman, nilai-nilai Islam. PENDAHULUAN Untuk mendukung minat dan keterampilan siswa secara maksimal, pendidikan berfungsi sebagai proses belajar yang efisien dan aktif. Selain itu, pendidikan juga memberikan pengetahuan yang dapat meningkatkan kualitas hidup siswa dalam berbagai aspek, termasuk pembentukan nilai-nilai etika dan sikap positif terhadap orang lain (Atiratul Jannah, 2. Dalam rangka menumbuhkan sikap toleransi di dalam kelas, penting untuk mengajarkan materi yang melibatkan interaksi dengan individu yang memiliki keyakinan berbeda. Definisi toleransi merujuk pada kemampuan untuk menerima berbagai hal dengan kesabaran, pikiran terbuka, serta kontrol emosi yang baik. Sebagai contoh, seseorang tetap tenang dan siap untuk menerima ide-ide yang mungkin berbeda atau bertentangan dengan pandangan pribadi mereka (Sri Hariyanto, 2. Di Indonesia, masalah intoleransi yang menjadi perhatian publik merupakan salah satu tantangan di era globalisasi saat ini. Ada kekhawatiran bahwa isu ini dapat berdampak pada siswa SD dan generasi muda. Oleh karena itu, perspektif serta perkembangan moral para siswa sangat dipengaruhi oleh pendidikan Islam. Penanaman nilai-nilai Islam, seperti toleransi dan persatuan, adalah hal yang krusial dalam pendidikan ini. Pendidikan Islam juga menekankan pentingnya harmoni dan kebersamaan untuk membangun masyarakat yang damai. Penelitian tertentu menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat membantu siswa sekolah dasar dalam mengembangkan rasa persatuan serta toleransi. Ratnaningsi. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa anak-anak yang menjalani pendidikan Islam lebih cenderung untuk menunjukkan perilaku toleran dan memiliki pandangan demokratis terhadap masyarakat. Meskipun memberikan data yang bermanfaat, penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan. Salah satunya adalah kurangnya pengawasan terhadap penggunaan teknologi oleh anak-anak, yang dapat mengurangi kepedulian mereka terhadap lingkungan dan menimbulkan sikap acuh tak acuh. Berbagai masalah telah muncul akibat dari penelitian yang dilakukan. Contohnya, penerapan strategi pengajaran berbasis pendidikan Islam yang tidak konsisten dalam mendukung sikap toleransi dan saling menghargai. Selain itu, terdapat gap antara realitas IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 71 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index di masyarakat dan ajaran idealis Islam yang disampaikan dalam institusi pendidikan. Kuatnya rasa toleransi dan persatuan di kalangan siswa juga mengalami gangguan. pengaruh eksternal seperti dampak media dan pengalaman di luar kelas Pendidikan Islam dapat digunakan untuk memahami toleransi antara berbagai kelompok agama dan etnis di Indonesia. Ini dapat direalisasikan melalui pendidikan yang menyeluruh dalam keluarga, sekolah, dan komunitas, untuk mengatasi berbagai hambatan bagi anak-anak serta meningkatkan perkembangan mereka secara keseluruhanAikognitif, emosional, dan spiritual. Ini sangat penting bagi sistem pendidikan karena memberikan pedoman untuk keputusan yang bermanfaat bagi siswa (Roqib, 2. Melalui pendidikan Islam, prinsip-prinsip positif dapat dikembangkan untuk menanamkan rasa inklusif dan toleran di ruang kelas. Para guru seharusnya mampu mengartikan program pendidikan yang efektif dan mencapainya dengan pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang menunjang perkembangan toleransi dan solidaritas. Dengan langkah ini, penulis berupaya untuk memperdalam pemahaman tentang pendidikan Islam dan menawarkan beberapa kebijakan pendidikan yang sesuai untuk membantu siswa mengembangkan karakter agar dapat menghadapi tantangan keragaman dan pluralisme di masyarakat saat ini. Sebagai pendidik, kita harus terus menekankan kepada anak-anak tentang pentingnya toleransi antaragama agar mereka bisa menghargai perbedaan di Indonesia (Ayu Suciartini, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka . ibrary researc. , yang secara metodologis bertumpu pada telaah sistematis terhadap berbagai sumber literatur yang relevan. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan kajian, yaitu mengeksplorasi kontribusi Pendidikan Islam dalam menumbuhkan sikap toleransi dan kebersamaan pada siswa sekolah dasar, melalui penguatan basis teori dan refleksi atas temuan konseptual. Data diperoleh dari beragam referensi akademik yang mencakup buku ilmiah, artikel jurnal terindeks, publikasi institusi pendidikan, dan sumber digital kredibel yang membahas tema terkait nilai-nilai pendidikan Islam, toleransi, multikulturalisme, dan pembentukan karakter pada anak usia dini. Pemilihan sumber dilakukan secara purposif, dengan mempertimbangkan aktualitas, validitas ilmiah, dan keterkaitannya dengan fokus permasalahan penelitian. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 72 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index Proses analisis data dilakukan melalui teknik analisis isi deskriptif . escriptive content analysi. , di mana peneliti membaca secara mendalam seluruh bahan pustaka, mengidentifikasi pola-pola tematik, serta mengkategorikan informasi berdasarkan relevansinya terhadap variabel utama: pendidikan Islam, toleransi, dan kebersamaan. Selanjutnya, peneliti melakukan sintesis data dengan pendekatan reflektif-kritis untuk membangun argumentasi konseptual yang kuat. Melalui prosedur ini, penelitian tidak hanya berupaya memetakan teori-teori yang telah ada, tetapi juga mengonstruksi ulang pemahaman tentang bagaimana nilai-nilai Islam dapat diinternalisasikan dalam dunia pendidikan dasar secara efektif dan aplikatif. Dengan demikian, hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis sekaligus praktis dalam ranah pengembangan kurikulum dan strategi pembelajaran PAI yang HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Islam sebagai Fondasi Inklusivitas dan Moderasi Sosial bagi Siswa Sekolah Dasar Dalam konteks pendidikan dasar di Indonesia, di mana keberagaman agama, budaya, dan latar belakang sosial menjadi realitas yang tidak terelakkan, pendidikan Islam memiliki peran yang amat strategis dalam membentuk kesadaran kolektif generasi muda untuk hidup berdampingan secara damai. Pendidikan Islam tidak boleh dipahami semata sebagai instrumen pembelajaran dogmatik, tetapi lebih sebagai wahana pembentukan karakter dan internalisasi nilai-nilai etik universal sejak dini. Dengan demikian, sekolah dasar menjadi titik awal yang signifikan untuk menanamkan prinsip-prinsip Islam yang bersifat inklusif dan toleran, yang esensial untuk menciptakan kohesi sosial di tengah keragaman. Esensi ajaran tauhid dalam Islam, yang menegaskan keesaan Tuhan, membawa implikasi bahwa seluruh umat manusia berasal dari sumber yang sama, memiliki martabat yang setara, dan dipanggil untuk hidup saling menghargai. Prinsip ini, jika ditanamkan dalam pendidikan di jenjang sekolah dasar, akan membentuk kesadaran bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus ditolak, melainkan realitas yang harus diterima dan dimaknai sebagai kekayaan sosial. Dalam kerangka ini, pendidikan Islam tidak hanya membentuk keimanan yang kuat, tetapi juga menumbuhkan empati, penghormatan terhadap perbedaan, serta IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 73 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index kemampuan untuk hidup dalam kebersamaan yang harmonis. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dasar idealnya menjadi media untuk mengenalkan konsep rahmah . asih sayan. Aoadl . , ukhuwah . , dan tasamuh . , tidak dalam bentuk abstraksi semata, tetapi dalam format praktik pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif. Guru bukan hanya berperan sebagai fasilitator pembelajaran, tetapi juga sebagai figur teladan yang menampilkan perilaku moderat dan adil dalam menyikapi keberagaman di lingkungan sekolah. Dalam lingkungan yang masih rentan terhadap polarisasi identitas dan prasangka, kehadiran guru yang memiliki integritas moral dan sensitivitas sosial akan sangat menentukan keberhasilan pendidikan karakter berbasis nilai Islam. Pada jenjang sekolah dasar, peserta didik berada dalam masa perkembangan afektif yang sangat plastis. Inilah saat paling tepat untuk membentuk sikap dan kebiasaan sosial melalui pembiasaan nilai yang berkelanjutan. Konsep taAodibAi yakni penanaman adabAidan tarbiyahAipengembangan potensi manusia secara utuhAiharus menjadi kerangka kerja utama dalam setiap proses pendidikan Islam di sekolah. Penerapan dua konsep ini secara simultan akan membentuk siswa yang tidak hanya paham ajaran agamanya, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan, menghormati perbedaan, dan mampu menjalin relasi sosial secara sehat dalam keberagaman. Dalam konteks kehidupan sekolah yang plural, pembelajaran PAI yang menekankan pada dialog, interaksi sosial, dan kerja sama lintas latar belakang menjadi sangat penting. Ketika siswa sejak kecil dibiasakan berdialog dan bekerja sama dengan teman yang berbeda agama, suku, atau status sosial, maka secara psikologis mereka sedang membentuk struktur penerimaan sosial yang akan menjadi fondasi sikap toleransi di masa depan. Pendidikan Islam harus merangkul pendekatan pedagogis yang reflektif dan partisipatif, yang membuka ruang bagi siswa untuk memahami makna nilai-nilai Islam tidak hanya dari aspek normatif, tetapi melalui pengalaman langsung dalam interaksi sosialnya. Pendidikan Islam yang dilaksanakan di tingkat sekolah dasar, dengan orientasi pada nilai-nilai moderasi dan kebersamaan, sesungguhnya adalah bentuk praksis dari ajaran Islam yang rahmatan lil Aoalamin. Dalam kerangka inilah, pendidikan Islam menjadi bukan hanya instrumen peningkatan kompetensi religius. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 74 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index tetapi juga sebagai benteng moral yang membekali siswa untuk tumbuh menjadi warga negara yang inklusif, toleran, dan mampu menjaga keutuhan sosial dalam kehidupan masyarakat yang multikultural. Tantangan Praktis dalam Menanamkan Nilai Toleransi pada Siswa Sekolah Dasar Melalui Pendidikan Islam Meskipun secara konseptual pendidikan Islam menawarkan kerangka normatif yang kuat dalam menumbuhkan sikap toleransi dan kebersamaan, penerapannya di lingkungan sekolah dasar seringkali menghadapi beragam tantangan praktis yang kompleks. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur seperti saling menghormati, menerima perbedaan, dan hidup berdampingan secara damai belum sepenuhnya terinternalisasi dalam keseharian Hal ini menjadi indikasi adanya kesenjangan antara idealitas ajaran Islam dan realitas pelaksanaannya di ruang-ruang pendidikan formal. Salah satu tantangan utama adalah terbatasnya pemahaman peserta didik terhadap makna perbedaan dan keberagaman. Siswa sekolah dasar, yang secara psikologis masih berada dalam tahap egosentris dan pembentukan identitas, cenderung menunjukkan kecenderungan untuk menilai segala sesuatu dari perspektif personal dan kelompoknya sendiri. Akibatnya, tidak jarang muncul bentuk-bentuk perilaku diskriminatif seperti mengejek teman yang berbeda agama, memperolok suku, atau menertawakan kondisi fisik teman sebaya. Ini merupakan gejala awal dari rendahnya literasi keberagaman dan lemahnya penguatan nilainilai toleransi melalui pembelajaran agama. Pendidikan Islam di sekolah dasar seringkali juga masih terjebak dalam pendekatan tekstual yang normatif-dogmatis. Kurikulum yang bersifat informatif belum cukup mendorong pemahaman reflektif siswa terhadap konteks sosial yang mereka hadapi. Sebagai akibatnya, peserta didik cenderung memahami ajaran agama secara kaku dan eksklusif, bahkan pada beberapa kasus, menumbuhkan benih-benih superioritas kelompok. Pembelajaran yang tidak memberi ruang bagi eksplorasi nilai-nilai lintas budaya dan keyakinan, justru berpotensi mempersempit cakrawala berpikir siswa terhadap pentingnya koeksistensi dalam masyarakat Tantangan lain datang dari minimnya integrasi antara nilai toleransi dan kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sering kali, nilai-nilai seperti empati. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 75 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index solidaritas, dan saling menghormati hanya muncul sebagai bagian dari narasi moral teoritis, tanpa terjemahan dalam praktik sosial yang konkret. Ketika sekolah gagal mengondisikan lingkungan inklusifAidi mana semua siswa merasa dihargai tanpa memandang latar belakangnyaAimaka pesan-pesan toleransi yang disampaikan di ruang kelas tidak akan efektif mengakar dalam perilaku siswa. Keteladanan yang seharusnya ditampilkan oleh para pendidik kerap kali tidak muncul secara konsisten. Guru, sebagai figur yang paling dekat dengan siswa dalam keseharian, memiliki tanggung jawab besar dalam memperagakan nilai-nilai Islam dalam tindakan, bukan hanya dalam wacana. Namun pada praktiknya, belum semua guru mampu atau terbiasa menjadi role model yang memperlihatkan bagaimana prinsip keadilan dan kesetaraan dijalankan dalam interaksi sosial di lingkungan sekolah. Ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan pendidik dapat mengurangi kredibilitas pesan yang ingin disampaikan, sehingga nilai toleransi hanya berhenti sebagai teori yang tidak menyentuh kehidupan nyata peserta didik. Pengaruh lingkungan sosial seperti media digital dan praktik kehidupan di rumah juga memainkan peran penting. Siswa yang menyerap pesan intoleran dari konten media atau menyaksikan praktik diskriminatif dalam keluarganya akan membawa pola pikir tersebut ke dalam lingkungan sekolah. Di sinilah tantangan pendidikan menjadi multidimensi, tidak hanya bersifat pedagogis, tetapi juga sosial-kultural. Kendala lain yang signifikan adalah belum meratanya pemutakhiran kurikulum Pendidikan Agama Islam yang mampu merepresentasikan realitas multikultural secara komprehensif. Masih banyak materi ajar yang terlalu fokus pada aspek ritual dan dogma, namun belum menempatkan isu toleransi, keberagaman, dan etika sosial sebagai pilar utama. Padahal, dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, pembelajaran agama yang tidak responsif terhadap realitas sosial dapat mengabaikan fungsi etis-agama dalam membentuk kepekaan sosial peserta didik. Mengatasi tantangan-tantangan tersebut membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan lintas aktor. Pendidikan Islam di tingkat sekolah dasar harus diarahkan pada penguatan internalisasi nilai, bukan sekadar penguasaan konsep. Dengan demikian, dibutuhkan sinergi antara pendekatan kurikuler yang inklusif, metode pembelajaran yang kontekstual, serta keteladanan dari lingkungan belajar. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 76 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index Transformasi ini menjadi urgen agar pendidikan Islam tidak hanya berfungsi sebagai transmisi ajaran normatif, tetapi menjadi kekuatan transformatif yang membentuk generasi muda yang mampu hidup dalam keragaman dengan penuh empati dan kesadaran kolektif. Strategi Implementatif Pendidikan Islam dalam Internaliasi Nilai Toleransi dan Kebersamaan di Sekolah Dasar Agar pendidikan Islam benar-benar berfungsi sebagai instrumen rekayasa sosial dalam menumbuhkan sikap toleransi dan kebersamaan pada peserta didik sekolah dasar, maka diperlukan strategi implementatif yang bersifat sistematis, berlapis, dan kontekstual. Proses internalisasi nilai tidak dapat dilakukan secara instan ataupun bersifat linier. Ia menuntut pendekatan pedagogis yang berbasis pada pengalaman, pengulangan, penguatan sosial, serta dukungan ekosistem pendidikan yang kondusif. Strategi pertama menyasar dimensi kurikulum. Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat SD harus dirancang dengan pendekatan multikultural berbasis nilai . alue-based multicultural curriculu. , yaitu kurikulum yang mengintegrasikan materi akidah, ibadah, akhlak, dan sejarah Islam dengan dimensi kehidupan sosial yang plural. Nilai-nilai seperti tasamuh . , taAoawun . erja sam. , ukhuwwah wathaniyyah . ersaudaraan kebangsaa. , dan adab ikhtilaf . tika dalam perbedaa. tidak hanya dijelaskan sebagai konsep, tetapi harus diangkat melalui narasi kontekstual, studi kasus, serta pembelajaran yang menjembatani nalar normatif dengan realitas sosial anak. Kedua, pendekatan metodologis yang digunakan dalam pembelajaran PAI perlu disesuaikan dengan karakteristik perkembangan kognitif dan afektif siswa usia sekolah dasar. Penggunaan metode experiential learning, seperti role play, simulasi sosial, teknik storytelling berbasis kisah teladan Rasulullah SAW dan sahabat, diskusi reflektif, serta proyek kolaboratif antarsiswa terbukti efektif dalam memperkuat aspek afeksi dan sikap. Metode cooperative learning seperti ThinkPair-Share dan Jigsaw juga berkontribusi positif dalam membangun keterampilan sosial, meningkatkan empati, dan menghormati perspektif orang lain. Pembelajaran tidak lagi berorientasi pada hasil kognitif, tetapi pada bagaimana peserta didik mengalami dan menginternalisasi nilai dalam situasi yang otentik. Ketiga, diperlukan strategi habituasi nilai, yaitu pembiasaan nilai-nilai IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 77 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index toleransi melalui rutinitas sekolah yang terprogram secara sadar. Misalnya, penegakan aturan kelas yang mendorong siswa untuk menghormati pendapat teman, pengelolaan konflik yang berbasis mediasi dan restoratif, penyusunan agenda kegiatan lintas kelas dan budaya, hingga pengintegrasian nilai toleransi ke dalam program ekstrakurikuler berbasis sosial, seperti kegiatan Pramuka, bakti sosial lintas agama, dan forum dialog anak. Keempat, strategi implementasi yang efektif juga mensyaratkan adanya keteladanan fungsional dari pendidik. Guru bukan sekadar agen kognitif, melainkan aktor performatif yang menampilkan nilai toleransi dan kebersamaan dalam relasi sosial sehari-hari. Konsistensi antara ucapan dan tindakan guru menjadi media komunikasi nilai yang paling kuat. Dalam hal ini, guru PAI harus memiliki kompetensi etis dan pedagogis yang selaras: mampu menjelaskan konsep ajaran Islam dengan benar, sekaligus memodelkannya secara otentik dalam interaksi sosial yang bermartabat. Kelima, strategi penanaman nilai toleransi harus didukung dengan evaluasi afektif yang terstruktur. Instrumen evaluasi tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep . engetahuan deklarati. , tetapi juga mengukur sikap, persepsi, dan respons siswa terhadap keberagaman sosial di sekitarnya. Penilaian afektif ini dapat berupa observasi perilaku siswa dalam kelompok, jurnal reflektif, wawancara nonformal, maupun rubrik sikap selama kegiatan pembelajaran kolaboratif. Evaluasi semacam ini berguna untuk menilai keberhasilan proses internalisasi nilai secara holistik. Selanjutnya, rekayasa ekosistem sekolah yang suportif terhadap nilai-nilai toleransi juga harus diperhatikan. Sekolah sebagai lingkungan mikro-sosiologis perlu menciptakan budaya inklusif yang merayakan keragaman. Visualisasi simbolik seperti poster nilai kebersamaan, penggunaan media pembelajaran yang mengangkat narasi multikultural, serta narasi publik yang menghargai perbedaan di dalam kegiatan sekolah adalah bagian dari desain lingkungan belajar yang mendukung proses pembentukan karakter. Tidak kalah penting, pelibatan keluarga dan masyarakat sebagai aktor eksternal perlu dikembangkan secara kolaboratif. Kemitraan antara sekolah dan orang tua dapat difasilitasi melalui forum komunikasi, penyuluhan pendidikan karakter, serta program sinergi antara rumah dan sekolah dalam pembiasaan nilai. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 78 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index Sementara itu, komunitas sosial seperti tokoh agama, lembaga masyarakat, dan pegiat budaya dapat dilibatkan sebagai narasumber atau kolaborator kegiatan pendidikan karakter berbasis nilai toleransi. Implementasi nilai-nilai toleransi dan kebersamaan tidak dapat bersifat simbolik atau seremoni belaka. Diperlukan pendekatan strategis yang mencakup perencanaan sistematis, pelaksanaan berbasis pengalaman, dan evaluasi reflektif secara berkelanjutan. Pendidikan Islam di tingkat sekolah dasar akan berhasil memainkan peran rekonstruktifnya dalam masyarakat plural apabila dijalankan secara serius, adaptif, dan berpihak pada pembentukan kesadaran sosial yang adil dan setara. Dalam dinamika pembentukan karakter anak usia sekolah dasar, posisi guru memiliki kedudukan yang sangat strategis, bahkan seringkali lebih dominan daripada peran orang tua dalam konteks pendidikan nilai sosial. Hal ini dikarenakan lingkungan sekolah merupakan ekosistem kedua setelah rumah yang secara intensif mempengaruhi perilaku, persepsi, dan pembiasaan sikap peserta Pendidikan Islam, dalam kerangka ini, tidak cukup hanya disampaikan secara kognitif melalui kurikulum formal, tetapi harus ditransformasikan menjadi kultur nilai yang hidup dan dijalankan secara nyata di lingkungan sekolahAidan hal ini sangat ditentukan oleh kualitas peran guru. Guru bukan sekadar fasilitator pembelajaran, melainkan agen transformasi sosial yang menanamkan nilai-nilai etik transenden ke dalam kesadaran peserta Dalam konteks pendidikan toleransi, guru memiliki tanggung jawab untuk mengelola ruang kelas sebagai laboratorium sosial, di mana keberagamanAibaik agama, budaya, maupun identitas sosialAitidak hanya ditampilkan sebagai wacana, tetapi dihadirkan sebagai pengalaman konkret. Artinya, toleransi tidak dapat diajarkan sebatas narasi, tetapi harus dijadikan praktik yang terlihat, dirasakan, dan dialami oleh siswa melalui interaksi sehari-hari bersama guru dan teman sebayanya. Pada fase usia 6Ae12 tahun, yang merupakan tahapan pendidikan dasar, anakanak sedang berada dalam masa perkembangan afektif dan sosial yang sangat lentur. Ini adalah periode emas di mana struktur nilai dan arah kepribadian sedang dibentuk secara mendalam. Keteladanan guru yang konsisten dalam bersikap adil, menghormati perbedaan, tidak memihak, serta mampu menyelesaikan konflik secara konstruktif akan menjadi faktor krusial dalam pembentukan kerangka sikap toleran IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 79 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index pada diri siswa. Oleh karena itu, upaya menumbuhkan toleransi harus dimulai dari nilai-nilai Islam mengimplementasikannya dalam perilaku sehari-hari. Untuk memastikan nilai-nilai toleransi tidak berhenti pada tataran ideal, dibutuhkan intervensi kurikuler dan pedagogis yang sistematis. Pendidikan Islam di sekolah dasar harus diartikulasikan melalui kurikulum yang responsif terhadap realitas multikultural, dengan pendekatan yang berorientasi pada pembentukan kesadaran sosial. Kurikulum tidak hanya menyampaikan pengetahuan agama secara normatif, tetapi harus memuat dimensi aplikatif yang relevan dengan kehidupan anak-anak dalam konteks keberagaman yang mereka hadapi sehari-hari. Pelatihan guru menjadi kunci pertama dalam intervensi ini. Diperlukan program pengembangan profesionalisme guru yang secara spesifik membekali mereka dengan keterampilan pedagogis dalam mengelola diskusi lintas perspektif, menjawab pertanyaan-pertanyaan sensitif terkait keyakinan, serta membangun ruang kelas yang aman untuk perbedaan. Guru yang dibekali dengan pedagogi kritis dan literasi multikultural akan lebih siap dalam mentransformasikan pembelajaran agama menjadi media penyemaian nilai-nilai toleransi. Selanjutnya, pengembangan materi ajar yang inklusif merupakan keharusan. Bahan ajar PAI perlu diperbaharui secara berkelanjutan dengan menyertakan ilustrasi dari berbagai tradisi dan kepercayaan, serta memperkenalkan prinsipprinsip universal dalam agama seperti keadilan, kasih sayang, dan kemanusiaan. Materi ini harus disusun secara sensitif terhadap keberagaman latar belakang siswa, agar mereka merasa diakui dan dihargai, serta tidak membangun persepsi dominasi satu kelompok. Kurikulum juga perlu mengintegrasikan pendekatan dialogis sebagai metode utama pembelajaran. Alih-alih menekankan hafalan dogma, siswa diajak untuk berdialog, bertanya, dan memahami perbedaan secara terbuka namun terarah. Pendekatan ini bukan hanya meningkatkan pemahaman konseptual terhadap toleransi, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial seperti mendengarkan, menghargai opini, dan menghindari generalisasi negatif terhadap kelompok lain. Untuk menjamin keberlanjutan, diperlukan mekanisme evaluasi yang tidak hanya bersifat sumatif, tetapi juga formatif dan afektif. Umpan balik dari siswa, guru lain, dan pihak eksternal seperti orang tua atau pengamat pendidikan menjadi IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 80 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index komponen penting dalam menilai efektivitas program pendidikan toleransi. Evaluasi ini menjadi dasar untuk melakukan penyesuaian kurikulum dan strategi pembelajaran secara dinamis agar tetap relevan dengan kebutuhan sosial yang terus Usia sekolah dasar merupakan fase perkembangan yang sangat menentukan dalam proses pembentukan karakter sosial anak. Dalam rentang usia 6Ae12 tahun, peserta didik berada pada tahap perkembangan kognitif konkret operasional dan perkembangan afeksi yang progresif. Ini adalah periode krusial di mana anak mulai menyadari keberadaan orang lain sebagai entitas berbeda dengan dirinya, serta mulai belajar menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial dan harapan kelompok. Oleh karena itu, penanaman nilai toleransi dan kebersamaan harus dilakukan sejak tahap ini agar menjadi bagian permanen dalam struktur kepribadian anak. Anak-anak pada usia ini sedang mengalami proses sosialisasi yang intensif, baik melalui keluarga, sekolah, maupun media. Jika tidak diarahkan dengan pendekatan yang tepat, mereka dapat dengan mudah menyerap narasi-narasi diskriminatif, intoleran, atau eksklusif yang bersumber dari lingkungan sekitar. Maka dari itu, sekolah sebagai institusi pendidikan formal memiliki tanggung jawab untuk memberikan counter-narrative melalui pendekatan pembelajaran yang mengedepankan keberagaman sebagai kekayaan bersama, bukan ancaman. Pendidikan Islam yang diterapkan pada siswa sekolah dasar seharusnya tidak bersifat eksklusif ataupun monolitik, melainkan bersifat terbuka dan dialektik. Artinya, ajaran-ajaran keagamaan seperti ukhuwah, tasamuh, dan adab pergaulan harus dikontekstualisasikan dalam kehidupan nyata siswa, terutama dalam konteks multikultural Indonesia. Siswa harus diajak untuk menyadari bahwa toleransi bukan berarti kompromi terhadap keyakinan, melainkan kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai dengan mereka yang berbeda keyakinan. Pembentukan karakter multikultural di usia dini akan jauh lebih efektif jika . , . , dan penguatan nilai . Oleh karena itu, kegiatan sekolah seperti kerja kelompok lintas latar belakang, permainan kolaboratif, dan dialog antar siswa dapat dimanfaatkan untuk melatih keterbukaan, empati, dan sikap saling menghargai. Pendidikan karakter berbasis toleransi dalam Islam harus IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 81 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index menjadi bagian inheren dari proses belajar-mengajar, bukan sekadar pelengkap kurikulum formal. Dengan menanamkan nilai-nilai ini secara konsisten, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya religius secara formal, tetapi juga berkepribadian terbuka dan siap berinteraksi secara sehat dalam masyarakat plural. Dalam jangka panjang, strategi ini akan memperkuat fondasi persatuan dan keutuhan sosial bangsa, karena generasi yang lahir dari pendidikan yang menghargai perbedaan adalah generasi yang mampu merawat kebinekaan dengan kesadaran etis dan spiritual. KESIMPULAN Pendidikan Islam memiliki peran penting dalam memberikan pegangan nilai-nilai tradisional yang bersumber dari Al-QurAoan dan Hadis, terutama di tengah budaya yang beragam dan arus informasi yang begitu cepat. Melalui pendidikan Islam, sikap toleransi diajarkan agar individu mampu menerima perbedaan sudut pandang dalam masyarakat. Hal ini bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai moral dan sosial sebagai landasan yang kokoh dalam membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat. Toleransi sendiri merupakan pola pikir yang menekankan penghargaan terhadap sesama, kebebasan berekspresi, serta penerimaan terhadap keragaman budaya dengan sikap saling menghormati dan menghargai. Untuk mendorong toleransi, penting agar pola pikir ini tertanam sejak usia dini sebagai panduan untuk membantu masa depan siswa. Untuk mencegah perselisihan di antara siswa, pendidik memainkan peran penting dalam mempromosikan pola pikir ini di luar kelas. Menanamkan prinsip-prinsip Islam, mendidik siswa tentang keragaman, dan mengembangkan kegiatan yang mempromosikan toleransi nasional adalah beberapa ide yang dapat membantu siswa menjadi lebih toleran. Seperti yang ditunjukkan oleh banyaknya sengketa di antara siswa, banyak sekolah saat ini belum berhasil dalam membangun rasa toleransi. Oleh karena itu, sangat penting bagi pendidik untuk menekankan toleransi bagi setiap individu. ini adalah salah satu cara untuk menciptakan generasi muda yang toleran dan memiliki rasa persatuan. Diharapkan bahwa upaya penelitian ini akan meningkatkan seberapa baik pendidikan Islam menanamkan toleransi dan rasa kebersamaan di antara siswa sekolah dasar. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan | 82 Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 70Ae84 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index DAFTAR PUSTAKA