PENGARUH EKSTRAK UMBI BAWANG TIWAI (Eleutherine bulbosa (Mill. ) Urb. ) SEBAGAI ANTIOKSIDAN TERHADAP DIAMETER LUMEN TUBULUS GINJAL MENCIT BETINA (Mus musculus L. ) YANG DIPAPAR RHODAMIN B Adi Efendi1. Rusdiati Helmidanora1 dan Eka Siswanto Syamsul1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda Email : adimuhammad121@gmail. ABSTRACT The circulating food may contain Rhodamine B, rhodamine B is one of the compounds that trigger free radicals that can damage the kidney tubules by affecting the reabsorption process so that inflammation causes the diameter of the lumen of the kidney tubules. Tiwai onions contain flavonoid and polyphenolic compounds which are antioxidants. Antioxidants can overcome free radicals by the transfer of hydrogen atoms. This research is true experimental research, namely, the sample used for the experiment and as a control group is taken randomly from a certain population. The purpose of this study was to determine the effect of tiwai onion bulb extract (Eleutherine bulbosa (Mill. ) Urb. ) as an antioxidant on the renal tubular diameter of female mice exposed to rhodamine B and to determine the Effective Dose 50 (ED. of tiwai onion bulb extract that could affect the diameter of the kidney tubule lumen of mice. exposed to rhodamine B. The study was conducted using 25 female mice which were divided into 5 groups, namely the negative treatment group was given rhodamine B 0. 08mg/25gBW, the positive group was given rhodamine B 0. 08mg/25gBW and vitamin C 1. 3mg/25gBW, the positive group was given rhodamine B 0. 08mg/25gBW and vitamin C 1. 3mg/25gBW. Treatment 1 (P. was given rhodamine B 0. 08mg/25gBB and tiwai onion bulb extract 1. 25mg/25gBW, treatment group 2 (P. was given rhodamine B 0. 08mg/25gBW and tiwai onion bulb extract 2. mg/25gBW and Treatment group 3 (P. was given rhodamine B 0. 08 mg/25gBW and tiwai onion extract 5 mg/25gBW with the treatment carried out every day for 15 days. The results of the activity of tiwai onion tuber extract were observed from the histology of the kidney tubules of mice in the form of the diameter of the lumen of the kidney tubules by analyzing using ANOVA followed by Tukey's test p = <0. The results showed that the administration of tiwai onion tuber extract was significant . <0. on the renal tubular lumen diameter variable by showing an increase in the size of the lumen diameter. Thus, the administration of tiwai onion bulb extract can improve the renal tubular lumen with the effect of ED50 on the tiwai onion bulb extract of 1. 28 mg/25gBW. Keywords: Rhodamine B. Tiwai Onion. Diameter of the Lumen of the Renal Tubules PENDAHULUAN Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) salah-satunya ditentukan Keamanan merupakan suatu hal yang harus diperhatikan karena dapat berdampak pada kesehatan, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Makanan yang beredar di pasaran secara umum dihasilkan melalui proses teknologi tinggi yang tidak menutup kemungkinan memperpanjang masa konsumsi ataupun memperindah warna dan menambahkan cita rasa suatu produk dan sering disebut Bahan Tambahan Pangan (BTP). Menurut data dari laporan BPOM RI. Pada tahun 2019. BPOM RI menemukan sampel pangan jajanan yang mengandung pewarna yang dilarang seperti Rhodamin Hasilnya, seluruh jajanan yang diteliti tersebut mayoritas mengandung 4 jenis zat berbahaya yang tidak memenuhi syarat, yakni rhodamin B 38,3 %, boraks 33,4 %, dan formalin 27,7 % dan Data menunjukan bahwa penggunaan pewarna bukan untuk pangan memiliki persentase yang paling besar dalam pencemaran bahan kimia pada pangan jajanan dibandingkan dengan boraks dan formalin sepanjang tahun 2019, insiden keracunan akibat mengonsumsi makanan menduduki posisi paling tinggi, yaitu 66,7%, dibandingkan dengan keracunan akibat penyebab lain,misalnya obat. Salah keracunan makanan adalah adanya cemaran. Observasi yang dilakukan oleh BPOM menunjukkan ada 4 Jenis ditambahkan pada bahan makanan yaitu Rhodamin B. Methanyl Yellow . ewarna teksti. , formalin dan boraks . Hasil penelitian menunjukkan temuan terbesar pada jajanan adalah Rhodamin B. Rhodamin B termasuk salah satu zat pewarna berbahaya dan dilarang digunakan pada produk pangan. Namun Rhodamin B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering terjadi di lapangan dan diberitakan di beberapa media massa Pengaruh buruk Rhodamin B bagi kesehatan antara lain meimbulkan iritasi pada saluran pernapasan, kulit, mata, dan saluran pencernaan . Rhodamin B ada didalam makanan atau minuman sebagai zat pewarna, senyawa tersebut masuk ke dalam saluran pencernaan, kemudian melalui sirkulasi darah mengalami proses diekresikan oleh ginjal melalui urin . Ginjal merupakan organ penting untuk mengeluarkan zat yang tidak berguna bagi tubuh sehingga ginjal menjadi organ yang sangat rentan terhadap efek toksik. Salah satu bagian ginjal yang rawan terhadap kerusakan akibat toksisitas suatu zat yaitu tubulus proksimal karena berfungsi sebagai reabsorpsi 80% filtrate dan tubulus distal berfungsi sebagai reabsorpsi kembali natrium dan penambahan asam urat dalam urin. Hal ini dapat terjadi karena adanya akumulasi bahan-bahan toksik dan karakter tubulus yang memiliki epitel yang lemah dan mudah bocor . Zat kimia pemicu toksisitas yang terlalu banyak pada ginjal dapat menyebabkan kerusakan sel ginjal bahkan sampai terjadi kematian sel atau nekrosis terutama pada tubulus ginjal . Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menetralkan radikal bebas dan dalam tingkat molekul dapat menonaktifkan ROS (Reactive Oxygen Specie. dan dapat menghambat atau memperlambat reaksi oksidasi dengan memutuskan reaksi rantai radikal. Penelitian mengenai senyawa antioksidan telah banyak dilakukan khususnya Antioksidan nonenzimatis ditemukan buahan. Senyawa antioksidan diantaranya flavonoid, -karoten, vitamin E, vitamin C, bilirubin, dan albumin . Salah satu tanaman yang memiliki senyawa antioksidan adalah bawang tiwai (Eleutherine americana Merr. Bawang senyawa bioaktif berupa alkaloid, flavonoid, fenolik, berfungsi sebagai antioksidan . Selain itu, bawang tiwai mengandung senyawa metabolit sekunder golongan naftokuinon dan turunannya seperti elecanacin, eleutherin, eleutherol, eleutherinon. Naftokuinon antimikroba, antifungal, antivirial, dan Selain itu, naftakuinon memiliki bioaktivitas sebagai antikanker dan antioksidan yang biasanya terdapat di dalam sel vakuola dalam bentuk glikosida . METODE PENELITIAN Penelitian penelitian true eksperimental yaitu eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari . Penelitian eksperimenadalah metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat . ausal-effect relationshi. Bentuk desain penelitian yang dipilih adalah Post-test Only Control Group Design. Dalam desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol dipilih secara Penelitian ini menggunakan hewan coba mencit betina DDY dengan 5 masing-masing kelompok dipapar dengan radikal bebas . hodamin B), kemudian diberikan ekstrak bawang tiwai. Setelah itu dilakukan perlakuan, kemudian mencit diterminasi dan selanjutnya dilakukan pengukuran variabel dependen/terikat pada masing-masing kelompok dan Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut . Kriteria Inklusi : Mencit Betina DDY. Berat badan 20-30 gram. Usia 3-4 bulan. Mencit dalam keadaan sehat dan Kriteria Ekslusi: Sedang hamil atau menyusui dan Mencit terdapat cacat fisik HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengaruh dari ekstrak umbi bawang tiwai pada lumen tubulus ginjal diamati dari hasil preparat histologi tubulus ginjal mencit yang telah hematoksilin-eosin. Pengamatan histologi Bilokular merek Olympus XC 30 dengan perbesaran 400 kali. Hasil pengamatan berupa gambar diamati dengan Software Image Raster 3. Pengamatan dilakukan dari 4 lapang pandang yang berbeda dan dipilih tubulus pada bagian terdekat Pengamatan dilakukan untuk mengetahui perbedaan diameter lumen pada tiap kelompok perlakuan secara mikrokopis. Hasil dari pengukuran diameter lumen tubulus Tabel 1. Hasil Pengamatan Ukuran Diameter Lumen Tubulus Mencit . Kelompok K27. Berdasarkan perbedaan diameter lumen tubulus ginjal mencit yang telah diberikan perlakuan menunjukan bahwa kelompok perlakuan kontrol negatif memiliki diameter perlakuan yang lain karena hanya diberikan perlakuan berupa rhodamin B. Sedangkan diameter lumen tubulus kelompok perlakuan 3 yang diberikan rhodamin B dosis 0,08mg/25gBB dan ekstrak umbi bawang tiwai dengan dosis 5 mg/mg25gBB. Hal ini menunjukan bahwa ekstrak umbi bawang tiwai dapat mempengaruhi diameter lumen tubulus ginjal mencit yang dipapar rhodamin B. Rata-rata diameter lumen K (-) sebesar 56 m, sedangkan kelompok K ( ) diameter lumen sebesar 28. 46 m. Hal ini dikarenakan pada kontrol (-) diberikan rhodamin B. Rhodamin B memiliki gugus Cl- yang memiliki sifat Sehingga terjadi penyempitan pada diamater lumen tubulus ginjal mencit karena pembesaran pada epitel Pemberian merupakan antioksidan yang dapat mendonorkan elektron pada radikal bebas . Sehingga dapat mengurangi penyempitan diameter lumen yang disebabkan oleh radikal bebas. Perbedaan terlihat juga pada pemberian ekstrak umbi bawang tiwai pada kelompok perlakuan 1, 2 dan 3 yang diberikan ekstrak umbi bawang tiwai sebagai antioksidan. Perlakuan 1 memiliki rata-rata diameter lumen 38. MeanASD 56A1. 46A3. 86A0. 27A1. 50A0,96537 m, perlakuan 2 memiliki rata-rata diameter lumen 42. 27 m. Sedangkan kelompok perlakuan 3 memiliki diameter lumen sebesar 48. 50 m. Hal ini karena umbi bawang tiwai memiliki kandungan polifenol dan flavonoid. Polifenol dan flavonoid merupakan antioksidan yang dapat menangkap radikal dan menghasilkan aktivitas Berikut hasil gambar pengamatan preparat histologi pada lumen tubulus ginjal mencit yang dipapar rhodamin B. Penelitian terhadap pengaruh ekstrak umbi bawang tiwai pada diameter lumen tubulus mencit betina yang dipapar radikal bebas berupa rhodamin B menunjukan hasil bahwa ekstrak umbi bawang tiwai dapat menanggulangi radikal bebas dari rhodamin B. Hasil ini dibuktikan dari pengamatan preparat histopatologi ginjal mencit yang menunjukan bahwa perlakuan kelompok kontrol negatif yang hanya diberikan rhodamin B mengakibatkan penebalan penyempitan Sedangkan perlakuan yang diberikan umbi bawang tiwai menunjukan perbedaan signifikan terhadap kelompok kontrol negatif. Senyawa xenobiotik adalah semua senyawa kimia yang tidak dibutuhkan oleh tubuh . at asin. Senyawa xenobiotik akan dikeluarkan melalui jalur metabolisme detoksifikasi sistem enzim fase 1 . dan fase 2 . Fase 1 dektosifikasi akan membuat produk senyawa xenobiotik menjadi kurang berbahaya dan fase 2 akan mengubahnya menjadi zat larut air. Sistem dektoksifikasi tidak spesifik, satu substrat bisa dikatalis oleh beberapa enzim dan satu enzim bisa mengkatalis beberapa substrat. Senyawa xenobiotik ada pula yang setelah dimetabolisme justru menjadi senyawa yang reaktif atau bersifat radikal bebas. Hal ini mengakibatkan radikal bebas akan berikatan dengan DNA atau protein dalam tubuh yang akan mengakibatkan efek toksik. Rhodamin B . etraethyl3Ao,6Ao-diaminoflura. yang masuk ke dalam tubuh melalui cara oral, akan melalui saluran penceranaan makanan. Tetapi rhodamin B yang masuk dalam Rhodamin b hanya sebesar 3-5% yang ditemukan dalam urin atau feses dalam bentuk yang tidak diubah . Rhodamin B yang masuk dalam tubuh melalui proses penyerapan oleh vena mesentrika dan vena porta hepatica akan dimetabolisme di hepar. Proses metabolisme rhodamin B dimulai pada fase 1 dengan katalis enzim CYP. Pada proses fase 1 terjadi dietilasi yaitu rhodamin B (. -carboxypheny. - 6. -3H-xanthen-3-yliden. diethylamonium chlorid. diuraikan menjadi 3Ao,6Ao-diaminofluran dan NAo,NAo Aedietil -3Ao,6Ao diaminofluran. Senyawa dari fase pertama merupakan senyawa radikal yang dapat merusak jaringan tubuh termasuk ginjal. Pada fase 1, enzim CYP mengaktivasi senyawa menghasilkan radikal bebas yang sangat berbahaya karena memiliki reaktivitas yang tinggi untuk mencapai kestabilan . Rhodamin termetabolisme dihati melalui 2 tahap yaitu oksidasi yang dikatalis oleh sekelompok ezim CYP dan hidrolisis senyawa menjadi senyawa polar yang spesifik . Hasil dari metabolisme rhodamin B akan dikeluarkan melalui ginjal karena ginjal memiliki peran melalui urin Pada hasil penelitian yang dilakukan kontrol negatif yang diinduksi rhodamin B sebagai radikal bebas tampak adanya penyempitan pada lumen tubulus ginjal. Hal ini sesuai dengan literatur pemberian rhodamin B pada tikus putih menunjukan tubulus ginjal mengalami hipertropi sehingga lumen tubulus terlihat menyatu . Hal ini dikarenakan pemberian rhodamin B yang merupakan senyawa xenobitik dapat menghasilkan radikal bebas. Radikal bebas dari rhodamin B dapat merusak ginjal . Penyempitan dimungkinkan terjadi karena penebalan pada epitel tubulus. Penebalan epitel dimungkinkan karena terjadinya reaksi Reaksi inflamasi atau radang merupakan respon alami tubuh pada setiap penyakit, trauma maupun cidera Inflamasi berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau mengurung agen pencedera maupun jaringan yang mengalami cidera. Proses pembesaran epitel karena terjadinya pergeseran cairan ekstraseluler ke dalam sel yang diakibatkan adanya toksin . Suatu zat kimia yang disekresi terlebih dahulu akan diakumulasi dalam tubulus proksimal atau bila zat kimia direabsorpsi dari urin akan melalui epitel tubulus dengan konsentrasi tinggi. Proses pemekatan ini akan terakumulasi diginjal dan menyebabkan kerusakan pada ginjal. Pembengkaan epitel tubulus dimungkinkan terjadinya pergeseran air esktraseluler ke dalam sel. Pergeseran terjadi karena adanya toksin yang menyebabkan perubahan muatan listrik pada permukaan sel epitel tubulus, perubahan transpor aktif ion dan asam mengkosentrasikan dari ginjal yang akhirnya mengakibatkan tubulus rusak. Hal ini memungkinkan terjadinya penyempitan lumen hingga menutup. Terganggunya proses sekresi akan mengakibatkan kerusakan pada ginjal Radikal bebas dari rhodamin B dapat ditanggulangi oleh antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat meredam dampak negatif dari radikal bebas . Senyawa antioksidan memiki struktur molekul yang dapat memberikan satu elektronya pada radikal bebas sehingga dapat memutus reaksi berantai radikal bebas. Pada penelitian ini penanggulangan radikal bebas dari rhodamin B digunakan umbi bawang tiwai sebagai antioksidan karena mengadung polifenol dan flavonoid. Hal ini sesuai literatur yang menyatakan umbi bawang tiwai memiliki senyawa bioaktif berupa alkaloid, flavonoid, saponin yang . Berdasarkan pemberian ekstrak umbi bawang tiwai dengan dosis 1,25 mg/hari, dosis 2,5mg/hari mg/hari lumen tubulus ginjal mencit yang dipapar radikal bebas dari rhodamine B. Hal ini dikarenakan umbi bawang tiwai mengandung polifenol, flavonoid, dosis ekstrak umbi bawang tiwai dengan 5 mg/hari menunjukan perbaikan tubulus ginjal tertinggi. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menetralkan radikal bebas dan dalam tingkat molekul dapat menonaktifkan ROS (Reactive Oxygen Specie. dan dapat menghambat atau memperlambat reaksi oksidasi dengan memutuskan reaksi rantai radikal . Senyawa fenol atau polifenol berperan sebagai scavenger . radikal peroksil karena memiliki struktur molekul yaitu cincin aromatik dan gugus hidroksil yang mengandung hidrogen yang dapat berpindah. Antioksidan fenolik (ArOH) berperan memutuskan inisiasi radikal bebas oleh transfer atom hidrogen atau transfer elektron dengan cara membentuk kation radikal fenoksil yang secara cepat dan reversibel mengalami deprotonasi dan membentuk radikal fenoksil. Suatu radikal fenoksil dapat bergabung dengan radikal peroksil membentuk produk yang non-radikal. Antioksidan fenolik juga dapat bereaksi dengan radikal hidroksil atau sebagai agen penangkap terhadap senyawa genotoksik elektrofilik . enzim yang berperan dalam menghasilkan anion superperoksida, serta mencegah proses Antioksidan fenolik mampu mencegah terjadinya autooksidasi lidid serta mampu menghambat oksidasi lipid dengan melalui penghambatan aktivitas . Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Perlakuan DiameterLumenTubulus Statistic Sig. Shapiro-Wilk Statistic Sig. Kontrol Negatif Kontrol Positif This is a lower bound of the true significance. Lilliefors Significance Correction Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi Data yang baik mempunyai pola distribusi normal tanpa adanya condong Pengujian normalitas dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov. Dasar Pengambilan Keputusan Uji Normalitas dilihat jika nilai signifikansi > 0,05 maka data berdistribusi normal. Jika nilai signifikansi < 0,05 maka data tidak Berdasarkan analisis output SPSSKontrol negatif memiliki nilai signifikansi sebesar 0,188. Kontrol positif memiliki nilai signifikansi sebesar 0,164. Dosis I memiliki nilai signifikansi sebesar 0,916. Dosis II memiliki nilai signifikansi sebesar 0,333 dan Dosis i memiliki Nilai signifikansi sebesar 0,775. Maka data berdistribusi normal, karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (> 0,. Artinya, asumsi normalitas Dosis efektif rata-rata (ED. adalah jumlah obat yang mencapai efek separuh maksimum, atau mencapai efek 50% pada kelompok hewan coba (Muchtaridi et al. , 2. Berdasarkan dari hasil analisis menunjukan bahwa ED50 yaitu sebesar 2,09 mg/25gBB. Hal ini menunjukan bahwa dosis 1,28 mg/25gBB pemberian ekstrak umbi bawang tiwai dapat mencapai efek 50% pada kelompok hewan coba SIMPULAN Terdapat pengaruh pemberian ekstrak umbi bawang tiwai (Eleutherine bulbosa (Mill. ) Urb. ) pada pelebaran diameter lumen tubulus ginjal mencit betina yang dipapar rhodamin B. Effective dose 50% (ED. ekstrak umbi bawang tiwai (Eleutherine bulbosa (Mill. ) Urb. ) diameter lumen sebesar 1,28 mg/25gBB DAFTAR PUSTAKA