Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 41-48 Pemanfaatan Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indic. Sebagai Bahan Aktif Deodoran Spray Alami Maulin Hayatun Qariza1. Ratna Sari1,*. Elfiana1. Ratni Dewi1. Nir Fathiya2 1Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe. Jl. Banda Aceh-Medan Km. 280,3 Buketrata. Kota Lhokseumawe. Aceh 24301. Indonesia 2Departemen Pendidikan Biologi. FKIP. Universitas Syiah Kuala. Jl. Tgk Hasan Krueng Kale. Darussalam. Banda Aceh, 23111. Indonesia *E-mail: ratnasari@pnl. Abstract Article history: Received: 14-01-2026 Accepted: 27-02-2026 Published: 28-03-2026 Keywords: antioxidant activity. beluntas leaves. deodorant spray. Body odor is a common problem experienced by people in tropical climates such as Indonesia. Continuous use of chemical-based deodorants risks causing irritation and other skin disorders, thus driving the need for natural alternatives that are safer and more environmentally friendly. This study aims to obtain the optimal powder size and soaking time in producing beluntas leaf extract as well as the optimal concentration as a spray Extraction was carried out through the maceration method with variations in powder size of 60/80, 80/100, 100/120, 120/140 and 140/160 mesh and soaking times of 2, 3, 4, 5 and 6 days. Parameters analyzed included yield, residual solvent content, flavonoid content, and antioxidant activity (ICCICA). The best extract was then formulated into a spray deodorant with concentrations of 10%, 15%, 20%, 25% and 30%, then tested for physical stability, organoleptic properties, and antibacterial activity against Staphylococcus The results showed that 100/120 mesh powder with a five-day soaking time produced the best extract with a yield of 11. 75% and a residual solvent content of 0. The extract contains active flavonoids with very strong antioxidant activity (ICCICA = 3. The deodorant formulation with a 25% concentration provided the most optimal physical and antibacterial performance, thus having the potential to be developed as an effective and safe natural deodorant product. Pendahuluan Bau badan merupakan masalah kesehatan dan sosial yang umum dialami banyak orang, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Iklim dengan suhu udara dan kelembaban yang tinggi memicu produksi keringat berlebih. Pada sebagian individu, keringat yang dihasilkan dapat menimbulkan bau badan. Hal ini terjadi akibat aktivitas bakteri pada permukaan kulit menguraikan senyawa organik, seperti asam amino menjadi asam lemak volatil. Senyawa timbulnya bau khas pada area ketiak. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi bau badan diantaranya adalah penggunaan deodoran yang mengandung senyawa antiseptik sehingga mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Berdasarkan Kantar Worldpanel . , sekitar 64,2% masyarakat tercatat rutin menggunakan deodoran. Namun, sebagian besar produk deodoran yang beredar di pasaran masih mengandung bahan kimia seperti aluminium klorohidrat, triclosan, dan paraben. Penggunaan bahan-bahan tersebut dalam jangka panjang dikaitkan dengan risiko kesehatan, salah satunya kanker payudara. Kekhawatiran ini mendorong meningkatnya minat terhadap produk berbahan alami seiring tren back to nature karena dinilai lebih aman, terjangkau, dan minim efek samping. Salah satu tanaman herbal yang berpotensi sebagai deodoran alami adalah daun beluntas (Pluchea indic. Sejak lama, daun beluntas telah digunakan secara tradisional untuk mengatasi bau badan. Daun beluntas mengandung berbagai senyawa aktif, seperti flavonoid, tanin, dan minyak atsiri. Senyawa tersebut efektif menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis, yaitu bakteri utama penyebab bau badan. Beberapa berpengaruh signifikan terhadap kualitas ekstrak dan efektivitas sediaan. Kajian Octavia melaporkan bahwa semakin kecil ukuran partikel simplisia sirih merah, kadar flavonoid yang dihasilkan semakin tinggi. Handoyo menunjukkan bahwa lama waktu maserasi mempengaruhi rendemen ekstrak daun sirih, dengan hasil tertinggi pada 72 jam Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 41-48 perendaman. Sementara itu. Handayani memformulasikan deodoran spray berbahan ekstrak daun beluntas, dengan konsentrasi 15% yang menunjukkan zona hambat paling efektif terhadap S. Epidermidis. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada optimasi ukuran bahan, lama waktu perendaman, dan konsentrasi ekstrak dalam formulasi deodoran spray berbahan daun Optimalisasi menghasilkan ekstrak daun beluntas dan sediaan deodoran spray dengan mutu terbaik. Hasil penelitian juga diharapkan memberi kontribusi pada pengembangan produk deodoran alami yang aman dan berkelanjutan. Metode Bagian ini memberikan penjelasan rinci tentang penelitian yang dilakukan. Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan meliputi oven, crusher, blender, ayakan dengan ukuran 60/80, 80/100, 100/120, 120/140, dan 140/160 mesh, neraca analitik, bejana ekstraksi, rotary vacuum evaporator, corong, kertas saring, beaker glass, gelas ukur, ball pipet, batang pengaduk, spatula, tabung reaksi, labu takar 10 mL, cawan porselen, pH meter, piknometer, viscometer, colony counter, spektrofotometer UV-Vis, serta botol Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi daun beluntas (Pluchea indic. , etanol 96% sebagai pelarut. NaOH 10% untuk uji kualitatif flavonoid, larutan DPPH sebagai reagen uji antioksidan, tween 20, gliserin, aquades, serta essential oil sebagai bahan tambahan dalam formulasi deodoran spray. Rancangan Percobaan Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan perlakuan pada dua tahap, yaitu pembuatan ekstrak daun beluntas dan formulasi deodoran spray. Pada tahap ekstraksi, variabel bebas yang diuji adalah ukuran partikel serbuk daun beluntas . /80, 80/100, 100/120, 120/140, dan 140/160 mes. serta lama perendaman . , 3, 4, 5, dan 6 har. Variabel tetap pada tahap ini adalah jumlah daun beluntas kering . dan volume pelarut etanol 96% . mL). Selanjutnya, pada tahap formulasi deodoran spray, variabel bebas adalah konsentrasi ekstrak . %, 15%, 20%, 25%, dan 30%), sedangkan variabel tetap meliputi gliserin 2 mL, tween 20 sebanyak 4 mL, serta essential oil 0,5 mL untuk setiap 100 mL sediaan. Variabel terikat penelitian meliputi rendemen ekstrak, penetapan kadar air, kadar sisa pelarut, kandungan flavonoid, aktivitas antioksidan, serta sifat fisik dan organoleptik dari sediaan deodoran spray. Pengambilan dan Persiapan Sampel Daun beluntas yang diperoleh disortir untuk memisahkan kotoran, kemudian dicuci dengan air mengalir hingga bersih. Daun kemudian dikeringkan menggunakan oven pada suhu 50 AC hingga kadar air menurun. Setelah kering, daun dihancurkan menggunakan crusher/blender hingga berbentuk serbuk, lalu diayak dengan variasi ukuran mesh sesuai rancangan percobaan. Serbuk yang diperoleh ditimbang sebanyak 100 g untuk setiap perlakuan, kemudian disiapkan untuk proses maserasi menggunakan etanol 96%. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap: proses ekstraksi daun beluntas dan formulasi sediaan deodoran spray ekstrak daun beluntas. Diagram blok proses pembuatan ekstrak daun beluntas ditunjukkan pada Gambar 1, sedangkan diagram blok proses pembuatan sediaan deodoran spray ekstrak daun beluntas ditunjukkan pada Gambar 2. Pengujian Ekstrak daun beluntas dianalisis untuk rendemen, kadar sisa pelarut, kandungan flavonoid secara kualitatif menggunakan reaksi NaOH, serta aktivitas antioksidan dengan metode DPPH untuk menentukan %inhibisi dan nilai IC50. Sementara itu, sediaan deodoran spray yang diformulasikan dari ekstrak daun beluntas diuji untuk mengetahui karakteristik fisik, stabilitas, serta efektivitasnya sebagai produk perawatan tubuh. Pengujian meliputi pH untuk memastikan kesesuaian dengan pH kulit, dan berat jenis. Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode colony counter untuk menghitung jumlah koloni bakteri yang Selain itu, uji organoleptik dilakukan dengan melibatkan 25 panelis untuk menilai tingkat penerimaan produk berdasarkan parameter aroma, warna, dan sensasi setelah penggunaan . fter fee. pada kulit. Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 41-48 Hasil dan Pembahasan Pengaruh Ukuran bahan dan Waktu Perendaman terhadap Rendemen Ekstrak Seluruh rendemen di atas 10% yang menunjukkan efektivitas metode ekstraksi. Rendemen meningkat seiring pengecilan ukuran bahan dan lamanya perendaman. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya luas permukaan kontak serta difusi senyawa aktif yang efisien selama proses ekstraksi. Tren perubahan rendemen pada berbagai ukuran bahan dan waktu perendaman dapat dilihat pada Gambar 3. Persiapan Sampel Daun Beluntas (Pluchea indic. Sortasi Basah Pencucian Menggunakan Air Mengalir Pengeringan Menggunakan Oven Suhu 50AC Penghalusan Variasi Ukuran Serbuk Daun Beluntas . /80, 80/100, 100/ 120, 120/140, dan 140/160 Pengayakan Variasi Waktu Perendaman: 2, 3, 4, 5, dan 6 hari Proses maserasi 1:5 Etanol 96% Rendemen (%) Filtrasi Penguapan Pelarut (Rotary Vacuum Evaporato. Penentuan Rendemen Ekstrak 60/80 mesh 100/120 mesh 140/160 mesh 80/100 mesh 120/140 mesh Penentuan Kadar Sisa Pelarut 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari Gambar 3. Pengaruh ukuran bahan dan waktu rendaman terhadap rendemen ekstrak Ekstrak Kental Uji Flavonoid Secara Kualitatif dan Antioksidan Gambar 1. Diagram alir proses pembuatan ekstrak daun beluntas Ekstrak daun beluntas Konsentrasi . , 15, 20, 25, 30%) Emulsifier (Tween . Gliserin Tween 20 Essential oil Aquades Pencampuran Penambahan Selama 5 menit Pencampuran Pengemasan Tahap Analisa Berat Jenis Viscositas Data menunjukkan bahwa ekstraksi maserasi dengan ukuran serbuk 60/80 mesh menghasilkan rendemen antara 10,68Ae11,15%. Peningkatan ukuran serbuk menjadi 80/100 mesh meningkatkan rendemen menjadi 10,98Ae 11,44%. Rendemen tertinggi diperoleh pada ukuran 100/120 mesh yaitu sebesar 11,75% pada hari ke-5 lama perendaman dan cenderung stabil pada hari ke-6 sebesar 11,74%. Sebaliknya, ukuran serbuk yang lebih halus, 120/140 dan 140/160 mesh, awalnya menunjukkan rendemen tinggi, namun menurun setelah hari ke-4. Hal ini akibat adanya degradasi senyawa aktif. Antibakteri Organoleptik Gambar 2. Diagram alir pembuatan sediaan deodoran spray ekstrak daun beluntas Pengaruh Ukuran Bahan dan Waktu Perendaman terhadap Kadar Sisa Pelarut Berdasarkan Gambar menunjukkan bahwa kadar sisa pelarut pada seluruh perlakuan berada di bawah batas maksimum 1% sesuai standar BPOM RI. Ukuran serbuk 60/80 mesh menunjukkan kadar tertinggi yaitu 0,95% pada hari ke-2 dan menurun menjadi 0,87% pada hari ke-5. Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 41-48 60/80 mesh 100/120 mesh 140/160 mesh 80/100 mesh 120/140 mesh pada flavonol dan menghasilkan senyawa turunan tertentu. Konsistensi hasil positif pada semua variasi ukuran serbuk dan waktu perendaman menegaskan bahwa kandungan flavonoid dalam daun beluntas relatif stabil. Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas terhadap Aktivitas Antioksidan Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Sampel berupa ekstrak daun beluntas ukuran 100/120 mesh hari ke-5 dipilih karena menghasilkan rendemen tertinggi. Hasil pengaruh ekstrak terhadap aktivitas antioksidan ditunjukkan pada Tabel 2. dan Gambar 5. Tabel 2. Pengaruh ekstrak daun beluntas terhadap aktivitas antioksidan 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari Waktu perendaman . Gambar 4. Pengaruh ukuran bahan dan waktu perendaman terhadap kadar sisa pelarut Pengaruh Ukuran Bahan dan Waktu Perendaman terhadap Kandungan Senyawa Flavonoid Berdasarkan Tabel 1, seluruh variasi ukuran dan lama perendaman menunjukkan hasil positif ( ) pada uji flavonoid secara kualitatif, sehingga dapat dipastikan bahwa senyawa flavonoid terdeteksi konsisten pada semua perlakuan. Tabel 1. Pengaruh ukuran bahan dan waktu perendaman terhadap kandungan senyawa Ukuran Bahan (Mes. 60/80 80/100 100/120 120/140 140/160 Waktu perendaman . Keterangan: tanda ( ) menandakan ekstrak mengandung senyawa flavonoid Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa seluruh sampel ekstrak daun beluntas positif mengandung flavonoid, ditandai dengan perubahan warna kuning setelah penambahan larutan NaOH 10%. Perubahan warna ini sesuai dengan mekanisme reaksi flavonoid terhadap basa yang dapat memutus struktur isoprena Konsentrasi 0 kontrol Absorbansi Inhibisi Inhibisi 1,2308 0,819 0,6748 0,56 0,4685 0,3956 0,181 0,3252 0,440 0,5315 0,6044 32,52 44,00 53,15 60,44 Ic50 3,79 Persentase inhibisi meningkat dari 18,1% hingga 60,44% pada konsentrasi 10 hingga 50 ppm dengan nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,9825. Hal ini menandakan adanya hubungan linear yang sangat kuat antara peningkatan konsentrasi ekstrak dan persentase daya inhibisi. Semakin tinggi konsentrasi, semakin besar daya inhibisinya. Inhibisi (%) Kadar sisa pelarut (%) sedangkan ukuran 80/100 mesh menurun dari 0,92% menjadi 0,84%. Kadar sisa pelarut yang paling rendah ditunjukkan ukuran 100/120 mesh dengan nilai sebesar 0,73% pada hari ke-5. Sebaliknya, ukuran 120/140 dan 140/160 mesh justru mengalami peningkatan hingga hari ke-6. Tingginya kadar sisa pelarut disebabkan oleh proses penguapan yang kurang optimal sehingga pelarut masih tertinggal dalam jumlah signifikan pada ekstrak. y = 10. RA = 0. Konsentrasi . Gambar 5. Pengaruh ekstrak daun beluntas terhadap aktivitas antioksidan Berdasarkan persamaan y = 10,531x 10,049, diperoleh nilai ICCICA sebesar 3,79 ppm. Nilai ini termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sangat kuat yaitu <50 ppm, yang Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 41-48 Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Beluntas terhadap pH Berdasarkan Gambar 6, deodoran spray ekstrak daun beluntas dalam penelitian ini memiliki pH antara 4,0-5,2. Rentang ini masih sesuai standar SNI 16-4951-1998, yang mensyaratkan pH sediaan deodoran berada dalam kisaran 3,0-7,5. Namun apabila dibandingkan dengan pH fisiologis kulit normal yang baik berkisar 4,5-6,5. Pada konsentrasi rendah 10 hingga 25%, pH masih berada dalam kisaran fisiologis kulit sesuai standar SNI, sedangkan pada konsentrasi 30%, pH turun hingga 4,0. Penurunan ini diduga akibat semakin banyak senyawa asam seperti flavonoid yang terlarut pada konsentrasi tinggi, sehingga menurunkan pH formulasi. Pola ini sejalan dengan penelitian Alvianti dkk. Mulyono dkk, yang menyatakan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak cenderung menurunkan pH. , . Viscositas . P) 7 Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Beluntas terhadap Viscositas Berdasarkan Gambar 8. Pengujian viscositas dilakukan untuk menilai kekentalan sediaan deodoran spray ekstrak daun beluntas. Pada kosentrasi 15% didapatkan sebesar 23,80 cP, lalu meningkat sebesar 24,10 cP pada 20% dan sedikit menurun menjadi 23,55 cP pada 25%. Peningkatan viscositas pada konsentrasi ekstrak diduga disebabkan oleh kandungan senyawa bioaktif dan zat terlarut yang memengaruhi kekentalan sistem. Meskipun terdapat fluktuasi, seluruh nilai viscositas yang diperoleh berada dalam rentang SNI yaitu 23,55-24,10 cP. Konsentrasi (%) Gambar 7. Pengaruh konsentrasi ekstrak daun beluntas terhadap berat jenis menunjukkan bertambahnya jumlah zat terlarut yang terdispersi secara homogen, sehingga menandakan kestabilan sistem. Nilai berat jenis tersebut masih sesuai dengan standar SNI 164951-1998 untuk sediaan cair semprot, yaitu 1,01Ae1,19. Berat Jenis . /m. menunjukkan bahwa ekstrak daun beluntas mampu menghambat 50% radikal bebas pada konsentrasi rendah. Semakin kecil nilai ICCICA, maka semakin tinggi efektivitas antioksidannya . Temuan ini sejalan dengan penelitian Hamdan yang melaporkan nilai IC50 ekstrak daun beluntas sebesar 37,25 ppm. Aktivitas ini diduga berasal dari flavonoid yang berperan sebagai penangkal radikal bebas sekaligus antibakteri, sehingga ekstrak daun beluntas berpotensi sebagai bahan aktif alami dalam formulasi deodoran spray. Konsentrasi (%) Konsentrasi (%) Gambar 6. Pengaruh konsentrasi ekstrak daun beluntas terhadap pH Gambar 8. Pengaruh konsentrasi ekstrak daun beluntas terhadap viscositas Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Beluntas terhadap Berat Jenis Berdasarkan Gambar 7. , berat jenis sediaan deodoran spray meningkat seiring kenaikan konsentrasi ekstrak, dari 1,08 g/mL . %) hingga 1,16 g/mL . %). Peningkatan ini Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Beluntas terhadap Antibakteri Gambar 9 menunjukkan perbandingan jumlah koloni Staphylococcus epidermidis sebelum dan sesudah uji pada deodoran ekstrak daun beluntas 25% dan deodoran komersial. Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 41-48 Jumlah colony Sebelum pengujian, jumlah koloni tercatat 4 pada sediaan deodoran spray ekstrak daun beluntas dan 5 pada deodoran komersial. Setelah pengujian, jumlah koloni tersisa 2 pada deodoran ekstrak daun beluntas dan hilang seluruhnya pada deodoran komersial. Hasil ini menunjukkan efektivitas komersial lebih tinggi, namun penurunan 50% koloni pada sediaan beluntas tetap mengindikasikan potensi antibakteri dari senyawa aktifnya, seperti flavonoid, tanin, fenol, alkaloid, dan minyak atsiri yang mampu merusak dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhan. sebelum pengujian setelah pengujian 30% dengan nilai tingkat kesukaan sebesar 10%. Hal ini dikarenakan warna yang pekat dianggap kurang menarik. Sementara, pada aspek aroma ditunjukkan pada Gambar 11, dimana tingkat kesukaan terhadap aroma meningkat hingga pada konsentrasi 25% dengan nilai yang diperoleh sebesar 24%. Namun, kembali menurun pada konsentrasi 30% dengan nilai kesukaan sebesar Hal ini disebabkan aroma yang terlalu kuat kurang disukai oleh panelis, sehingga konsentrasi 20Ae25% dari segi aspek aroma dinilai paling seimbang. Sampel Gambar 9. Pengaruh konsentrasi ekstrak daun beluntas terhadap antibakteri Gambar 11. Pengujian organoleptik terhadap Pada aspek after-feel ditunjukkan pada Gambar 12, dimana tingkat kenyamanan setelah pemakaian deodoran di kulit panelis meningkat hingga konsentrasi 25% yaitu dengan nilai kesukaan sebesar 26%. Namun, berkurang pada konsentrasi 30% dengan nilai tingkat kesukaan sebesar 21%. karena dapat menimbulkan rasa Secara keseluruhan, konsentrasi 20Ae 25% dianggap paling optimal karena menghasilkan warna yang tetap menarik, aroma yang seimbang, serta sensasi after-feel yang nyaman sesuai preferensi mayoritas panelis. Pengujian Organoleptik Pengujian ini melibatkan penggunaan indera untuk menilai karakteristik produk, seperti warna, aroma, dan after-feel. Hasil uji deodoran spray ekstrak daun beluntas menunjukkan perbedaan tingkat kesukaan panelis pada tiap konsentrasi. Pengujian organoleptik warna ditunjukkan pada Gambar Gambar 10. Pengujian organoleptik terhadap Gambar 10, mengindikasikan bahwa tingkat kesukaan tertinggi diperoleh pada konsentrasi 10% dengan nilai sebesar 28% tingkat kesukaan dan menurun pada konsentrasi Gambar 12. Pengujian organoleptik terhadap after-feel Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 41-48 Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan Ukuran serbuk dan lama perendaman terbukti berpengaruh signifikan terhadap kualitas ekstrak daun beluntas. Ukuran serbuk 100/120 mesh dengan waktu perendaman lima hari menghasilkan ekstrak terbaik dengan rendemen 11,75%, kadar sisa pelarut 0,73%, kandungan flavonoid stabil, serta aktivitas antioksidan sangat kuat (ICCICA 3,79 pp. , sehingga berpotensi tinggi untuk diformulasikan lebih lanjut. Selain itu, variasi konsentrasi ekstrak dalam sediaan deodoran memengaruhi sifat fisik, aktivitas antibakteri, dan tingkat kesukaan Konsentrasi 25% memberikan hasil paling optimal dengan pH 4,5, berat jenis 1,14 g/mL, viskositas 23,55 cP, mampu menghambat 50% pertumbuhan Staphylococcus epidermidis, serta memperoleh penilaian terbaik dari panelis pada aroma dan after-feel. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Laboratorium Teknik Kimia atas dukungan dan fasilitas penggunaan alat yang diberikan sehingga penelitian ini dapat terlaksana. Daftar Pustaka