El-Muntashir : Journal of QurAoanic Studies Vol. Issue. DOI : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Mataram Kontekstualisasi Nilai-Nilai Akhlak Rasulullah SAW Terhadap Gen-Z: Studi Analisis Deskriptif Qs. Al-Ahzab . 21 Perspektif Tafsir Al-Qurthubi First Author : Hartawan Second Author : Muhammad Taufik Corresponding Author : Author Name*: Hartawan Email*: hartawanone149@gmail. Received: Revised: Accepted: Published: Abstract: Penelitian ini membahas upaya kontekstualisasi nilai-nilai akhlak Rasulullah SAW terhadap generasi Z melalui kajian deskriptif terhadap QS. AlAhzab . : 21 berdasarkan perspektif tafsir Al-Qurthubi. Ayat tersebut menggarisbawahi pentingnya menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam kehidupan. Melalui pendekatan kualitatif dan studi pustaka, penelitian ini mengeksplorasi kandungan tafsir Al-Qurthubi mengenai akhlak Rasulullah, lalu mengaitkannya dengan karakteristik dan tantangan yang dihadapi Gen-Z, seperti krisis identitas, keterikatan dengan teknologi, serta penurunan sensitivitas terhadap nilai-nilai spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai akhlak Nabi seperti kesabaran, menjauhi sifat munafik, bersemanagt, dan sifat kepemimpinan yang komplit dapat menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter Gen-Z yang seimbang secara moral dan spiritual. Kontekstualisasi ini diharapkan mampu menjembatani nilai-nilai keislaman klasik dengan kebutuhan generasi modern. Keywords: Al-QurAoan. Akhlak Rasulullah. Gen Z. Tafsir Al-Qurthubi. Pendahaluan Al-QurAoan adalah kalamullah yang berfungsi sebagai petunjuk atau hidayah untuk seluruh umat Sebagai kitab hidayah, al-QurAoan mempunyai kandungan dan kajian dari berbagai aspek, mulai dari kisah dan sejarah masa lalu umat manusia, fenomena alam, hukum, dan lain sebagainya. Semua itu diracik dengan bahasa yang sangat indah dan memikat bagi mereka yang memahami aspek sastra bahasa Arab. Kitab yang memiliki berbagai macam aspek keilmuan ini wajib dibaca dan diamalkan, khususnya bagi umat yang beragama Islam. 1 Adapun salah satu ajaran penting yang terdapat dalam al-QurAoan adalah tentang akhlak yang menjadi landasan utama bagi manusia dalam bersikap. Bahkan hal ini merupakan misi daripada ajaran Islam itu MannaAo Al-Qathan. Mabahits FycnI UlycImil QurAoycaIn, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1. , hlm. sendiri yakni menyempurnakan akhlak umat manusia. Sebagaimana yang termaktub dalam sabda Rasulullah SAW: AuSesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusiaAy (HR. BukhycaIrycnI). Dewasa ini, tidak bisa dipungkiri bahwa derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, serta budaya populer yang mendominasi kehidupan sehari-hari, generasi muda saat ini atau yang sering disebut sebagai Generasi Zilenial (Gen-Z) menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam menjaga nilai, identitas, dan integritas moral. Generasi Zilenial, yang lahir di era digital dan tumbuh dalam lingkungan yang serba instan dan serba terbuka, sangat rentan terhadap krisis akhlak, dekadensi moral, serta penyimpangan perilaku akibat derasnya informasi yang tidak selalu dibarengi dengan filter etika dan nilai-nilai keislaman. 3 Dalam konteks ini, nilai-nilai akhlak Rasulullah SAW menjadi oase sekaligus kompas moral yang relevan untuk dijadikan acuan dalam pembinaan karakter dan spiritualitas generasi tersebut. Islam sejak awal telah meletakkan fondasi yang sangat kokoh dalam pembinaan akhlak. Rasulullah SAW diutus tidak semata-mata untuk menyampaikan wahyu, melainkan juga sebagai teladan utama dalam perilaku dan kepribadian. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya: "Sesungguhnya telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, . bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. " (QS. al-Ahzab . : . Ayat ini menjadi landasan utama bahwa kehidupan Nabi Muhammad SAW bukan hanya berfungsi sebagai model spiritual, tetapi juga model sosial yang dapat dikontekstualisasikan dalam berbagai zaman dan situasi, termasuk zaman modern yang tengah kita hadapi saat ini. Tafsir al-Qurthubi memberikan penekanan yang tajam terhadap nilai keteladanan . swah hasana. dalam ayat tersebut. Menurut al-Qurthubi, keteladanan Rasulullah SAW mencakup aspek lahir dan batin, mencakup segala tindakan, ucapan, maupun sikap beliau yang mencerminkan kesempurnaan akhlak manusia. Dengan demikian, mempelajari dan meneladani akhlak Nabi SAW tidak boleh dimaknai secara tekstual semata, tetapi harus dikontekstualisasikan dalam bingkai zaman yang terus berubah. Upaya ini penting agar generasi saat ini tidak merasa bahwa nilai-nilai Islam, khususnya akhlak Rasulullah SAW, bersifat asing atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. HR. BukhaIriI dalam al-Adabul Mufrad no. 273 (ShahycnIhul Adabil Mufrad no. Ahmad (II/. , dan al-Hakim (II/. , dari Abu Hurairah RadhiyallahuAoanhu. Di-shahycnIh-kan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul AhycaIdycnIts ash-ShahycnIh . Fitrah Sugiarto dan Indana Ilma Ansharah. AuPenafsiran Quraish Shihab Tentang Pendidikan Akhlak Dalam QS al-ahzycaIb ayat 21 Perspektif TafsycnIr Al-MisbycaIhAy. Al-Furqon : Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir. Vol. Nomor 2, 2 Desember 2021, hlm. Kementerian Agama RI. Al-QurAoan dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-QurAoan, 2. QS. al-Ahzab . : 21, hlm. Al-Qurub. Al-JAmiAo li AukAm al-QurAoAn, juz 14, (Beirut: DAr al-Kutub al-AoIlmiyyah, 2. , hlm. Dalam realitas kehidupan Gen-Z, di mana interaksi digital mendominasi, identitas seringkali terbentuk oleh algoritma media sosial daripada nilai-nilai transendental. Fenomena seperti cancel culture, cyber bullying, krisis empati, dan individualisme ekstrem menunjukkan gejala lunturnya nilai akhlak dalam perilaku sosial. Dalam situasi ini, pendekatan kontekstual terhadap nilai-nilai akhlak Rasulullah SAW menjadi sangat urgen. Kontekstualisasi ini berarti menempatkan akhlak Rasulullah SAW dalam kerangka zaman sekarang tanpa mengurangi substansi dan orisinalitasnya. Misalnya, prinsip kejujuran Nabi dapat diaplikasikan dalam penggunaan media sosial secara etis, prinsip kasih sayang diterapkan dalam interaksi virtual, dan prinsip amanah direalisasikan dalam penggunaan data dan privasi digital. Studi deskriptif terhadap QS. al-Ahzab . : 21 melalui lensa tafsir klasik seperti al-Qurthubi menjadi penting untuk menggali bagaimana para ulama terdahulu memahami konsep uswah hasanah, dan bagaimana pemahaman tersebut bisa dijadikan pijakan dalam merespon tantangan kekinian. Tafsir al-Qurthubi dikenal memiliki pendekatan tematik dan detail, serta memperhatikan konteks sosiologis saat ayat diturunkan. Oleh karena itu, menjadikan tafsir ini sebagai objek analisis akan memperkaya perspektif dalam menjawab kebutuhan moral Gen-Z secara lebih holistik. Lebih dari sekadar upaya akademik, penelitian ini merupakan bentuk ikhtiar spiritual dan intelektual dalam menjawab kebutuhan zaman. Bahwa Islam dengan seluruh ajarannya, termasuk aspek akhlaknya, tetap dan akan selalu relevan di setiap zaman dan untuk setiap generasi. Oleh sebab itu, penting bagi para pendidik, pemuka agama, orang tua, dan komunitas muslim untuk membumikan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan Gen-Z, bukan dengan pendekatan menggurui atau memaksa, melainkan dengan membangun narasi yang inspiratif, aplikatif, dan kontekstual. Di sinilah urgensi penelitian ini diletakkan: sebagai jembatan antara keteladanan Rasulullah SAW dan realitas kontemporer yang dihadapi Gen-Z. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yaitu metode yang fokus pada pengamatan mendalam dengan menganalisis isi . ontent analysi. untuk mendapatkan suatu hasil, kesimpulan atau keputusan dari berbagai dokumen tertulis dengan cara mengidentifikasi secara sistematis dan objektif suatu hasil atau data dalam konteksnya. 7 Sedangkan jenis penelitian yang digunakan yakni kajian kepustakaan . ibrary researc. yaitu penelitian yang menggunakan dokumen tertulis sebagai sumber data. 8 Dalam hal ini, peneliti urcholish Madjid. Kontekstualisasi Islam dalam Sejarah, (Jakarta: Paramadina, 1. , hlm. Muri Yusuf . Metode Penelitian: Kuantitatif. Kualitatif, dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: Kencana, 2. Nashruddin Baidan dan Erwati Aziz. Metodologi Penelitian Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , hlm. membaca dan memahami berbagai literatur terkait pembahasan, kemudian menganalisis isi hingga mendapat kesimpulan dari beberapa sumber data yang digunakan. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada pemahaman makna teks Al-QurAoan, khususnya QS. al-Ahzab . : 21, serta bagaimana nilai-nilai akhlak Rasulullah SAW dikontekstualisasikan dalam kehidupan Generasi Zilenial (Gen-Z). Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali secara mendalam nilai-nilai akhlak Rasulullah SAW yang terkandung dalam ayat tersebut berdasarkan Tafsir al-Qurthubi, kemudian mengaitkannya dengan realitas sosial dan psikologis generasi masa HASIL DAN PEMBAHASAN Selayang Pandang Sosok Imam Al-Qurthubi Nama lengkap Imam Al-Qurthubi adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Abi Bakr bin Farh alAnshori al-Khajraji al-Qurthuby al-Andalusi. 9 Imam Al-Qurthubi adalah seorang cendikiawan islam, ahli hukum, dan seorang mufasir yang terkenal. Para ahli sejarah berbeda pendapat akan tanggal kelahirannya dikarenakan tidak ada fakta sejarah yang menjadi sumber otentik tentang hal ini. Akan tetapi pendapat yang paling masyhur bahwa Imam Al-Qurthubi lahir sekitar abad ke-6 hijriyah pada zaman pemerintahan khalifah YaAoqub bin Yusuf bin Abdul Mukim . dari dinasty muwahhidin. Sejak kecil. Imam Al-Qurthubi hidup di daerah orang-orang yang mencintai ilmu. Orang tuanya adalah orang yang mencintai ilmu pula, dan Kota Qurthubah termasuk pusat ilmu di daerah Andalusia ketika itu. Oleh karena itu, sejak masa kecilnya sudah mempelajari al-QurAoan, bahasa dan syair. Apa yang dipilih oleh Imam AlQurthubi dipandang aneh oleh kebanyakan orang, karena teman-teman sebayanya hanya belajar al-QurAoan saja. Akan tetapi, ternyata hasil belajar bahasa Arab dan syair dapat mempermudah Imam Al-Qurthubi mempelajari dan memahami al-QurAoan. Setelah menjalani masa kecil di daerahnya. Imam Al-Qurthubi pergi merantau keluar untuk belajar ilmu-ilmu agama, sehingga menjadi sarjana yang teliti dan kehidupannya cenderung aketisisme 11 dan selalu meditasi tentang kehidupan setelah mati. 12 Pernah juga Imam Al-Qurthubi menuntut ilmu ke arah timur di dataran tinggi Mesir kepada beberapa guru dan mempelajari ilmu hadis, fikih, nahwu, dan qiraAoat. Sebagimana juga beliau mempelajari Ilmu Balaghah. UlycImul QurAoycaIn, dan juga ilmu-ilmu lainnya. Serta meneruskan cita-citanya untuk mengarang dan menulis kitab yang berguna pada masanya. Imam Al-Qurthubi. Muhammad Ibrahim al-Hifnawi. TafsycnIr al-QurthycIbi, terjm. Mahmud Hamid Utsman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. , hlm. Mahmud Zalath Al-Qasbi. Al-QurthycIbi: Manhajuhu yaycnI TafsycnIr (Kairo: Darul Anshar, 1. , hlm. Paham yang mempraktekkan kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan berkorban. Mahmud Zalath Al-Qasbi. Al-QurthycIbi: Manhajuhu yaycnI TafsycnIr (Kairo: Darul Anshar, 1. , hlm. Muhammad Husain Adz-Zahabi. At TafsycnIr wal MufassirycIn. Juz II, (Kairo: Al-Azhar, 1. , hlm. Al-Qurthubi adalah salah seorang hamba Allah yang shalih dan ulama yang sudah mencapai tingkat maAorifatullycaIh. Beliau sangat zuhud terhadap kehidupan dunia, bahkan selalu disibukkan dengan urusan-urusan Usianya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT dan menyusun kitab. Mengenai sosok Imam Al-Qurthubi ini. Syaikh Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa Imam Al-Qurthubi adalah seorang imam yang memiliki ilmu yang luas dan mendalam, juga sempurna kepandaiannya. Mengenai tanggal wafatnya, para ahli sejarah Islam sepakat bahwa beliau meninggal pada malam senin tanggal 9 syawal tahun 671 H di Kota Manya15, sebuah kota di sebelah timur sungai Nil. Imam Al-Qurthubi meninggalkan warisan pengetahun dan keilmuan yang terus menginspirasi dan membimbing umat Islam di seluruh dunia. Karyanya tetap menjadi sumber daya yang berharga bagi para pelajar, ulama, dan siapapun yang tertarik untuk memahami ajaran Islam. Profil Tafsir al-Qurthubi Pada bagian ini, penulis memberikan gambaran ringkas mengenai sumber utama yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tafsir-al-Qurthubi. Judul Asli: Al-JAmiAo li AukAm al-QurAoAn wa al-Mubayyin li MA Tasammanahu min al-Sunnah wa Ay al-FurqAn Penulis: Imam Ab AoAbdullah Muuammad ibn Aumad al-AnAr al-Qurub . 671 H) Latar Belakang Penulisan: Tafsir al-Qurub ditulis sebagai tafsir tematik-hukum . afsr fiq. , yang memfokuskan pada penjelasan ayat-ayat hukum . dalam Al-QurAoan. Namun seiring perkembangan pembahasannya, tafsir ini juga mencakup aspek bahasa, akidah, akhlak, dan sejarah, menjadikannya salah satu tafsir klasik yang sangat komprehensif. Karakteristik Tafsir al-Qurubi:17 A Bercorak Fiqh Maliki: Al-Qurub merupakan ulama dari mazhab Maliki. Oleh karena itu, penjelasan hukum dalam tafsir ini sangat dipengaruhi oleh pendekatan fiqh Maliki. Pendekatan Tahlili dan Tematik: Ayat-ayat ditafsirkan secara runut berdasarkan susunan mushaf, tetapi dengan fokus kuat pada tema hukum dan nilai aplikatif. Imam Al-Qurthubi. Muhammad Ibrahim al-Hifnawi. TafsycnIr al-QurthycIbi, terjm. Mahmud Hamid Utsman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. , hlm. Mahmud Zalath. Al-QurthycIbi: Manhajuhu. , hlm. Al-Qurub. Al-JAmiAo li AukAm al-QurAoAn. Juz 14 (Beirut: DAr al-Kutub al-AoIlmiyyah, 2. , hlm. Ibid. , hlm. Penggunaan Bahasa Arab Tinggi: Tafsir ini banyak menggunakan analisis gramatikal . ahwu dan shara. , serta penjelasan makna kata. Kutipan dari Ulama Salaf: Al-Qurub sering mengutip pendapat para mufassir klasik seperti alabar, az-Zamakhsyar, dan Ibnu AoAiyyah. Keseimbangan Antara Akal dan Naql . alil tekstua. : Meskipun sangat menghargai nalar, al-Qurub sangat hati-hati dalam menetapkan tafsir dengan logika, dan tetap menjadikan riwayat sahih sebagai Kelebihan Tafsir al-Qurubi:18 A Memberikan kedalaman hukum Islam dalam setiap ayat yang relevan. Sangat aplikatif, menjelaskan bagaimana ayat-ayat Al-QurAoan diterapkan dalam kehidupan nyata. Kaya dengan analisis kebahasaan, cocok bagi para penuntut ilmu yang ingin memperdalam tafsir dan bahasa Arab. Menjadi rujukan utama di berbagai lembaga pendidikan Islam klasik dan kontemporer. Kekurangan . alam konteks moder. :19 A Beberapa istilah atau penjelasan kurang kontekstual dengan problem kontemporer. Bahasanya cukup berat untuk pemula, karena penuh dengan istilah fiqh dan gramatika Arab. Jumlah Juz/Kitab:Tafsir al-Qurub terdiri dari 20 jilid dalam cetakan modern, atau sekitar 14Ae16 jilid dalam beberapa edisi lama. Disusun secara urut dari Surah al-Fatihah hingga an-Nas. Penafsiran QS. al-ahzab . 21 Perspektif Tafsir al-Qurthubi a a ca a a a a a a e a e a e a a ca a e a a a a a U a a a U a e a ca a a a a e a ca AacEE E aOA AacEE O I acEI EI OO acEE OEOOI E a OEA a AEC EI EE eI aAO aO aEA Sesungguhnya telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu . bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Ibid. , hlm. Al-Qurub. Al-JAmiAo li AukAm al-QurAoAn. Juz 14 (Beirut: DAr al-Kutub al-AoIlmiyyah, 2. , hlm. U a ca Aac a e a a a a e a a EA Dalam ayat ini membahas dua masalah, yaitu: Pertama: Firman Allah SWT AacEE e aO a a aIA a a AEC EI EEI aAO OA AuSesungguhnya telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimuAy. Ayat ini juga termasuk sindirin terhadap orang yang absen dari peperangan. Maksudnya adalah, mengapa kalian tidak ikut berperang padahal kalian telah diberikan contoh yang baik dari Nabi Muhammad SAW, dimana beliau berusaha dengan keras untuk memperjuangkan agama Allah dengan cara ikut berperang dalam perang Khandak. Kata uswah sama artinya dengan qudwah yaitu teladan. Imam AoAshim membaca kata uswah ini dengan menggunakan harakat dhammah pada huruf hamzah, sedangkan ulama lainnya menggunakan harakat kasrah. Namun kedua bentuk qiraAoah ini sama artinya dan sama-sama sering digunakan untuk makna yang sama. Bentuk jamak untuk kedua kata ini juga sama menurut Al-Farra. Namun ada pula yang berpendapat bahwa kata yang berakhiran huruf wau dan kata yang berakhiran huruf yaAo itu berbeda jamaknya, seperti kata kiswatu dan kisa, atau lihyati dan liha. Imam Al-Jauhari berkata . Aukata uswah yang menggunakan harakat kasrah dan yang menggunakan harakat fathah itu dua bentuk bahasa yang berbeda. Bentuk jamak dari kedua kata ini pun berbeda, kata uswah yang menggunakan harakat dhammah itu bentuk jamaknya usycaI, sedangkan kata uswah yang menggunakan harakat kasrah itu bentuk jamaknya adalah isycaI. Aqabah bin Hasan Al Hijri meriwayatkan dari Malik bin Anas, dari NafiAo, dari Ibnu Umar, ia berkata. Ua a ca a a a a e a ca AuFirman Allah : AacEE e aO a aIA a A EC EI EE eI aAO aO aEASesungguhnya telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. Teladan yang dimaksud pada ayat ini adalah kelaparan yang dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW. Riwayat ini disampaikan oleh Al Khathib Abu Bakar Ahmad, namun ia mengatakan, riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Aqabah bin Hassan dari Malik. Selain itu, hanya sanad ini yang meriwayatkannya. Kedua: Firman Allah SWT. AAu aa e aO a a aIASuri tauladan yang baikAy adalah perbuatan Nabi Muhammad SAW dan teladan yang baik yang harus diikuti oleh seorang muslim pada setiap perbuatannya dan pada setiap Terkadang Nabi Muhammad SAW mendapatkan luka di kakinya, goresan di wajahnya, perut kosong. Bahkan. Hamzah pamannya wafat terbunuh saat berjihad, namun beliau tetap sabar dan bersahaja, tetap bersyukur dan menerima apapun keadaannya Imam Al-Qurthubi. Muhammad Ibrahim al-Hifnawi. TafsycnIr al-QurthycIbi, terjm. Mahmud Hamid Utsman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. , hlm. Imam Al-Qurthubi. Muhammad Ibrahim al-Hifnawi. TafsycnIr al-QurthycIbi, terjm. Mahmud Hamid Utsman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. , hlm. Selanjutnya para ulama berlainan pendapat mengenai hukun meneladani Rasulullah SAW yang tertera pada ayat ini, apakah diwajibkan ataukah hanya disunnahkan saja? Mengenai hal tersebut ada dua pendapat yang berkembang dikalangan para ulama tentang masalah ini, yaitu : Perrtama. Perintah ini bersifat wajib, kecuali jika ada dalil lain yang mengatakan bahwa perintah ini hanya sunnah. Dan kedua. Perintah ini hanya bersifat sunah saja, kecuali ada dalil lain yang menyebutkan bahwa perintah ini wajib. Namun besar kemungkinan bahwa perintah pada ayat ini diwajibkan pada permasalahan keagamaan, sedangkan untuk masalah keduniaan perintah ini hanya bersifat sunnah saja. a a ca a a a a a a e a e a e a a ca a e a a a a a Ketiga. Firman Allah SWT. AacEE E aOA A( acEI EI OO acEE OEOOI E a OEAbagi orang yang mengharap . Allah dan . Hari Kiamat dan dia banyak menyebut AllahAy. Sa'id bin Jubair berkata bahwa makna dari firman Allah SWT ini adalah bagi siapa saja yang mengharapkan bertemu Allah SWT dengan membawa keimanan, meyakini hari kebangkitan dimana seluruh anal perbuatan manusia akan diberi ganjarannya. 22 Selain itu, ada yang berpendapat bahwa makna firman ini adalah, bagi siapa saja yang mengharapkan pahala dari Allah di akhirat nanti. Menurut para ulama ilmu Nahwu, kata A OOAhanya boleh ditulis tanpa menggunakan huruf alif pada akhir kata apabila bentuk yang dimaksudkannya adalah bentuk tunggal. Karena huruf illat yang ada pada bentuk jamak tidak ditemukan dalam bentuk tunggal. Ada juga yang mengatakan, bahwa kata liman adalah badal dari Namun pendapat ini dibantah oleh ulama Bashrah, karena bentuk ghaib . rang ketig. tidak dapat menjadi badal dari bentuk mukhatab . rang kedu. Yang benar adalah, huruf lam pada liman terkait pada Sedangkan kata uswatun adalah isim kana dan khobar kana adalah lakum. Lalu para ulama berbeda pendapat mengenai orang-orang yang dimaksudkan dalam firman ini. Ada dua pendapat yang berkembang di kalangan mereka, yaitu : Mereka yang dimaksudkan adalah orang-orang munafik, karena ayat ini terhubung dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang mereka. Orang-orang yang dimaksud untuk mengambil teladan dari Nabi SAW adalah orang-orang yang beriman, karena pada firman a A( acEaI aEAbagi orang yang mengharap . Allah dan . a ca AI aO e a OA e AacEE aO eE aO eO aIA selanjutnya disebutkan AE a a aA a a ca a a a a Hart Kiamat. AacEE E aOA A OEAdan dia banyak menyebut Allah, maksudnya adalah karena mengharapkan pahala dari Allah dan takut akan hukuman yang diberikan-Nya. Imam Al-Qurthubi. Muhammad Ibrahim al-Hifnawi. TafsycnIr al-QurthycIbi, terjm. Mahmud Hamid Utsman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. , hlm. Ibid. , hlm. Kontekstualisasi Penafsiran Al-Qurthubi Terhadap Gen-Z Pengunaan pendekatan kontekstual dalam penafsiran al-QurAoan adalah suatu upaya untuk memahami ayat-ayat al-QurAoan dengan memperhatikan dan mengkaji konteks atau aspek-aspek diluar teks yang dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa atau keadaan-keadaan yang menyebabkan turunnya suatu ayat, apa 24Ketika mengkontekstualisasikan penafsiran Al-Qurtubi tentang ayat 21 dari Surat Al-AhzycaIb terhadap generasi Z, peneliti melihat beberapa aspek yang relevan dengan tantangan dan kondisi yang dihadapi oleh generasi ini: Teladan dalam kepemimpinan: Generasi Z sering kali mencari sosok yang dapat dijadikan teladan dalam kepemimpinan dan tindakan mereka. Dalam ayat ini. Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai teladan yang baik dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam perilaku, sikap, dan kepemimpinan. Hal ini dapat menginspirasi generasi Z untuk meniru keteladanan Nabi dalam cara mereka memimpin dan berinteraksi dengan orang lain. Kesetiaan kepada nilai-nilai agama: Generasi Z sering dihadapkan pada berbagai tantangan dan tekanan dari lingkungan sekitarnya yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai agama. Ayat ini mengingatkan mereka untuk tetap setia kepada ajaran agama dan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh dalam menghadapi segala situasi, baik dalam kesuksesan maupun kesulitan. Kasih sayang dan empati: Generasi Z sering kali memiliki kepedulian sosial yang tinggi dan memperjuangkan isu-isu kemanusiaan. Akhlak Rasulullah SAW yang penuh dengan kasih sayang dan empati dapat menjadi inspirasi bagi mereka dalam berbuat kebaikan dan berempati terhadap sesama, serta memperjuangkan keadilan dan perdamaian. Toleransi dan keharmonisan: Dalam suasana global yang sering kali dipenuhi dengan konflik dan perpecahan, generasi Z dihadapkan pada tuntutan untuk mempromosikan toleransi dan kerukunan antarumat beragama dan antarbudaya. Akhlak Rasulullah SAW yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, kerukunan, dan perdamaian dapat menjadi panduan bagi mereka dalam membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain. Dengan memahami dan meneladani akhlak Rasulullah SAW yang terkandung dalam ayat 21 Surat AlAhzycaIb, generasi Z dapat mengambil inspirasi dan panduan dalam menghadapi tantangan-tantangan yang mereka hadapi serta menjadi agen perubahan yang positif dalam masyarakat dan dunia saat ini. Abudin Nata. Peta Keagamaan Pemikiran-pemikiran Islam di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2. Adapun bentuk pengamalan dari nilai-nilai akhlak Rasulullah SAW yang bisa diteladani menurut penafsiran Imam al-Qurthubi dalam surat al-AhzycaIb ayat 21 ini yaitu : Menjauhi sifat munafik Dalam konteks Islam, munafik merujuk pada individu yang berpura-pura menjalankan ajaran agama Islam, tetapi hatinya sebenarnya tidak ikhlas. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), munafik adalah suatu upaya berpura-pura percaya ataupun setia kepada agama dan lainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak. Mereka kemudian selalu mengatakan sesuatu yang tak sesuai dengan perbuatannya serta bermuka dua. 25 Rasulullah SAW bersabda : a a e a a a a a a a a a a ca a a U a a a a e a a a A aOu a e aI aI aAUa AIA A O au O EAUA au EA:AO cEI aA aC aEA Ciri orang munafik ada tiga, . : Apabila bicara, dusta. apabila berjanji, ingkar, dan apabila dipercaya, (HR. BukhycaIrycnI) Dalam penafsiran Imam Al-Qurthubi diketahui bahwa bentuk kemunafikan yang dilakukan oleh umat Rasulullah saat itu adalah mereka mengaku beriman kepada Rasulullah SAW, akan tetapi mereka enggan untuk mengikuti apa yang dicontohkan oleh beliau, sehingga mereka lari dari peperangan, padahal Rasulullah saat itu berjuang keras untuk membela agama Islam. Dalam hal tersebut dapat menjadi teladan bagi generasi zilenial (Gen-Z) untuk tidak melakukan perbuatan munafik yang dimana saat ini marak terjadi, baik antar teman ataupun dengan orang lain, baik secara langsung ataupun melalui media sosial seperti penyebaran berita hoax, penipuan dan lain sebagainya. Bersemangat Mengingat generasi zilenial adalah harapan masa depan suatu bangsa, ditangan merekalah maju atau mundurnya suatu negara ditentukan. Generasi zilenial diharpakan agar mampu untuk membawa umat menuju kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, dalam mengemban amanah tersebut hendaklah gen-Z memiliki semangat juang yang tinggi. Rasulullah SAW sendiri telah mencontohkan hal tersebut dalam membakar semangat para sahabat saat menggali parit untuk perang Khondak. Rasulullah SAW dikisahkan dalam QS al-AhzycaIb ayat 21 dalam TafsycnIr al-MisbycaIh karya M. Quraish Shihab yaitu bahwa Rasulullah SAW dalam menggali parit, hal yang beliau lakukan adalah membakar http://kbbi. id/munafik. [Online, diakses tanggal 1 Juni 2. semangat para kaumnya dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan pujian kepada Allah. Begitu Juga dalam suka dan duka, haus dan dahaga yang dialami oleh seluruh pasukan kaum muslimin. Rasulullah tetap memberikan semangat kepada kaumnya. 26 Semangat juang yang tinggi akan memberikan dampak yang baik terhadap kelancaran suatu kegiatan. Semboyan yang biasa terdengar dalam perkara semangat adalah Auman jadda wajadaAy (Siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berhasi. Sabar Akhlak ini selalu Rasulullah lakukan dalam masa berdakwah. Sabar dalam menerima dan memenuhi segala perintah Allah. Sabar di sini tidak dalam artian pasrah atau menerima saja segala keadaan yang dijumpai. Tetapi sabar dalam arti kemampuan menahan diri terhadap halangan dan rintangan yang dijumpai agar tetap konsisten melaksanakan apa yang dikerjakan. Sebagimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi bahwa terkadang Nabi SAW mendapatkan luka di kakinya, goresan di wajahnya, perut kosong. Bahkan, hamzah pamannya wafat terbunuh saat berjihad, namun beliau tetap sabar dan bersahaja, tetap bersyukur dan menerima apapun keadaannya. Ini merupakan contoh akhlak Rasulullah yang patut untuk diteladani oleh setiap manusia, terlebih bagi generasi zilenial karena pada dasarnya generasi zilenial dikenal sebagai generasi yang tidak sabaran. Pemicu dari ketidaksabaran itu adalah dimana gen-z dikelilingi oleh teknologi yang semuanya serba cepat, contohnya : Pesan makanan dari gadget, mencari tau tentang orang tanpa harus berinteraksi hanya melihat dari postingan foto instagram atau media sosial lainya. Disatu sisi ini bagus karena perkembangan teknologi sudah membantu untuk hidup dengan nyaman dan mandiri dari generasi sebelumnya. Disisi lain ada masalah yang muncul gen-z mau segala hal dengan instan, tidak sabar dan cemas. 27 Terlebih lagi dalam menghadapi masalah hidup, betapa banyak generasi zilenial yang salah dalam mengambil keputusan ketika terjadi masalah dalam kesehariannya. Seperti contoh . banyak terjadi kasus bunuh diri lantaran diputuskan pacar, menjadi remaja nakal dengan masuk club, minum khamar hingga melakukan tindakan kriminal dan lain sebaginya. Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS al-Baqarah ayat 153 : ca a a a ca ca a ca a e ca a a e a a a a ca a ca a a AEAA AOIA a a AOON E aOI IIO aOIO aEA a OEAEO a o auI acEE IA Quraish Shihab. TafsycnIr Al-MisbycaIh: Pesan. Kesan. Dan Keserasian Al-QurAoan. Vol. 10 (Jakarta: Lentera Hati, 2. , hlm. Abi Manyu. AuProblem Gen-ZAy diakses melalui https://w. kompasiana pada hari Sabtu, 7 Juni 2025 pukul 14. WITA "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Kepemimpinan Rasulullah SAW Adapun bentuk-bentuk dari kepemimpinan Rasulullah SAW antara lain: Kejujuran (Ash-Shid. : Kejujuran adalah dasar dari semua hubungan sosial yang sehat. Dalam konteks Gen Z, ini dapat diterjemahkan menjadi integritas digital, yaitu bersikap jujur dalam interaksi online dan offline. Dapat dipercaya (Amana. : Rasulullah dikenal sebagai al-Amin . ang terpercay. Sifat amanah merupakan sikap yang dimana ketika seseorang itu dibebani suatu urusan kepadanya, maka orang tersebut harus melaksanakan urusan tersebut dengan sebaik-baiknya. Bagi Gen-Z, hal ini bisa diterapkan dalam kerjasama kelompok sebagai pemegang keuangan, dan lain sebaginya. Kedermawanan (Al-KarycnI. : Rasulullah SAW selalu berbagi dan membantu orang lain, terutama yang membutuhkan. Bagi Gen- Z, ini dapat diterapkan melalui partisipasi dalam kegiatan sosial dan amal, serta mendukung gerakan-gerakan positif di media sosial. Keadilan (Al-'Ad. : Nabi Muhammad selalu adil dalam semua keputusan dan perlakuannya terhadap orang lain. Gen-Z dapat menerapkan ini dengan memperlakukan semua orang dengan setara, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, agama, atau latar belakang sosial. Kasih Sayang (Ar-Rahma. : Rasulullah penuh kasih sayang terhadap semua makhluk. Gen-Z dapat mengimplementasikan nilai ini melalui empati dan kepedulian terhadap sesama, serta menjaga lingkungan hidup. Cerdas . : Gen-Z harus memiliki keccerdasan demi kemuliaan individu tersebut, karena manusia yang tidak memiliki akal yang cerdas atau pandai, derajatnya sama halnya dengan binatang. KESIMPULAN QS. al-Ahzab ayat 21 menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah suri teladan terbaik . swah hasana. yang harus diikuti oleh umat Islam, khususnya mereka yang memiliki harapan kepada Allah dan hari akhir serta sering mengingat-Nya. Berdasarkan tafsir al-Qurthubi, keteladanan Rasulullah meliputi seluruh aspek kehidupan, mulai dari akhlak, sikap, hingga keteguhan menghadapi ujian dan tekanan sosial, seperti yang terjadi pada Perang Khandaq. Nilai-nilai akhlak Rasulullah, seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan tanggung jawab, sangat relevan dan penting untuk diterapkan oleh Generasi Zilenial yang hidup di era digital penuh tantangan moral dan sosial. Kontekstualisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan Gen-Z dapat dilakukan melalui pendidikan karakter, pemanfaatan teknologi, serta teladan dari lingkungan terdekat. Dengan demikian, nilai-nilai akhlak Rasulullah SAW tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga pedoman hidup yang mampu membentuk karakter Gen-Z yang berintegritas dan berakhlak mulia di masa kini dan mendatang. DAFTAR PUSTAKA