Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities Vol. 2 No. eISSN: 2797-1821 Analysis of the Potential Development of the Wanurejo Tourism Village. Magelang Regency. Central Java Lintang Muliawanti . Annisa Zafirah. Athia Fidian Universitas Muhammadiyah Magelang. Indonesia lintang@unimma. https://doi. org/10. 53017/ujsah. Received: 14/05/2022 Revised: 23/07/2022 Accepted: 04/10/2022 Abstract Tourism is one of the most important pillars in the movement of the Indonesian economy. Wanurejo Village is one of the tourist villages located in Borobudur District. Magelang Regency which is one of the parts of the National Tourism Strategic Area (KSPN) of Borobudur Temple. The purpose of this study is to analyze the development of tourism potential in Wanurejo Village with the 4A approach (Attraction. Amenities. Ancillary and Accessibilit. Data obtained by interview, observation and documentation and analyzed descriptively qualitatively. Based on the results, the development of tourism in the Wanurejo based on the supporting components of tourism cannot be said to be optimal. These findings are expected to be input to the local government as a reference for the development of the Wanurejo Tourism village as one of the buffer zones of Borobudur temple. Keywords: Tourism Village. Tourism Development. Tourism Component Analisis Potensi Pengembangan Desa Wisata Wanurejo Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah Abstrak Pariwisata adalah salah satu pilar terpenting dalam pergerakan roda ekonomi Indonesia. Desa Wanurejo merupakan salah satu desa wisata yang terdapat di Kecamatan Borobudur. Kabupaten Magelang yang merupakan salah satu dari bagian Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Candi Borobudur. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengembangan potensi pariwisata di Desa Wanurejo dengan pendekatan 4A (Attraction. Amenities. Ancilliary, dan Accesibilit. Data diperoleh dengan wawancara, observasi dan dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, pengembangan pariwisata di Desa Wisata Wanurejo berdasarkan dari komponen-komponen penunjang kepariwisataannya belum dapat dikatakan optimal. Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan kepada pemerintah daerah sebagai acuan pengembangan desa Wisata Wanurejo sebagai salah satu desa penyangga KSPN candi Borobudur. Kata kunci: Desa Wisata. Pengembangan Pariwisata. Komponen Pariwisata Pendahuluan Pariwisata adalah salah satu pilar terpenting dalam pergerakan roda ekonomi Indonesia. Menurut UU nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha. Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. Kegiatan kepariwisataan ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, dan mempererat persahabatan antarbangsa . Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities. Vol. 2 No. Lintang Muliawanti et al Salah satu destinasi wisata yang menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional adalah Candi Borobudur. Oleh karena pentingnya, pembangunan infrastruktur pendukung pada masa Pandemi Covid-19 tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Bahkan 10 desa penyangga . uffer zon. di Kecamatan Borobudur juga tidak luput dari perhatian. Salah satunya adalah Desa Wisata Wanurejo yang menjadi pintu masuk ke Candi Borobudur. Terlebih. Gubernur Jawa Tengah juga telah menetapkan Desa Wanurejo sebagai desa Berdikari atau desa mandiri . Desa Wanurejo juga dikenal sebagai AuDesa Wisata Budaya dan KriyaAy karena memiliki banyak industri rumah tangga yang memproduksi segala sesuatu mulai dari patung hingga pernakpernik, dan karena budayanya masih mengakar kuat pada warisan leluhur. Desa Wanurejo terbagi lagi menjadi 9 dusun yaitu Brojonalan. Tingal Kulon. Tingal Wetan. Bejen. Ngentak. Soropadan. Barepan. Jowahan dan Gedongan, yang mana masing-masing dusun memiliki potensinya masing-masing. Ragam potensi wisata di Desa Wanurejo, diantaranya wisata budaya, religi, wisata kuliner dan wisata alam. Studi terkait analisis potensi wisata bukanlah hal yang baru, salah satu peneliti terfokus melakukan studi analisa desa wisata dengan berbagai peruntukan kepentingan, diantaranya Asmoro et al. yang melakukan penelitian mengenai analisis potensi wisata desa dengan kerangka 6A, yaitu daya tarik wisata . , aksesibilitas . , aktivitas wisata . , fasilitas wisata . , ketersediaan paket . vailable package. , layanan tambah . ncillary service. Pentingnya penelitian terkait analisis potensi desa wisata dapat menjadi acuan bagi pemerintah dalam proses analisis kelayakan setiap objek wisata untuk dikembangkan. Sebagai langkah awal dalam mengembangkan desa wisata, kajian analitik ini juga dapat digunakan untuk memetakan potensi wisata dari segi pasar dan produk . Berdasarkan fakta-fakta dan penelitian sebelumnya, maka diperlukan studi terkait identifikasi potensi wisata yang bertujuan untuk memetakan potensi wisata, baik dari sisi pasar maupun produk. Hal ini menjadi langkah awal pengembangan kepariwisataan di Desa Wanurejo. Kecamatan Borobudur. Kabupaten Magelang. Studi yang dilakukan dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah sebagai acuan pengembangan desa Wisata Wanurejo sebagai salah desa penyangga KSPN candi Borobudur. Metode Pendekatan penelitian tindakan partisipatif digunakan dalam penelitian ini. Pendekatan ini adalah salah satu pilihan dalam metodologi penelitian kualitatif deskriptif yang menggabungkan metode dan pengamatan serta dokumentasi, analisis, dan interpretasi pola, atribut, dan fenomena . , . Tahapan penelitian ini dibagi menjadi 4 . , yaitu: menyiapkan pondasi, merencanakan penelitian, mengumpulkan dan menganalisis data, dan bertindak atas temuan penelitian . Peneliti menggunakan berbagai alat selama proses pengumpulan data, termasuk daftar periksa untuk observasi, daftar pertanyaan, dan daftar topik untuk diskusi. Hasil dan Pembahasan Potensi Desa Wanurejo dilakukan dengan melakukan analisa pada empat komponen Keempat komponen kepariwisataan tersebut adalah Attraction. Amenities. Ancilliary, dan Accesibility. Atraksi . sebagai komponen penunjang pertama, diartikan sebagai segala hal yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke kawasan wisata. Atraksi dilihat melalui keunikan objek wisata, ketersediaan lahan, kondisi fisik dan nilai objek dari Desa Wisata Wanurejo. Desa Wanurejo memiliki daya tarik wisata melalui keunikan objek wisatanya. Karakteristik dan keindahan alam khas pegunungan menoreh merupakan kekuatan daya Tarik Desa Wanurejo. Akan tetapi, terdapat beberapa objek wisata yang memiliki karakteristik yang sama, sehingga diperlukan inovasi untuk masing-masing produk wisata agar memiliki keunikan dan perbedaan antara satu dengan Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities. Vol. 2 No. Lintang Muliawanti et al yang lainnya. Ketersediaan lahan sebagai kompleks wisata dengan pemandangan yang menarik dan wahana permainan pendukung merupakan kekuatan yang dimiliki oleh Desa Wanurejo, akan tetapi beberapa objek wisata mengalami kerusakan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab. Karakter masyarakat yang ramah, pemandangan dan kebudayaan yang menarik juga merupakan daya tarik tersendiri dari Desa Wanurejo. Akan tetapi kelebihan tersebut menjadi kurang maksimal karena kurangnya penataan agar potensi tersebut dapat saling berkolaborasi dan bersinergi. Penambahan variasi atraksi yang berbeda dengan objek wisata lain juga perlu difikirkan untuk pemeratan kunjungan terhadap tempat wisata di Desa Wanurejo. Beberapa atraksi yang disajikan seperti acara saparan, rafting aliran sungai Elo, agrowisata kelengkeng, sunrise di pertemuan sungai elo dan Progo, eduwisata pembuatan tempe, sanggar avadana, saggar kinara-kinari, melukis di atas daun bodi, camping ground, eduwisata rengginang, eduwisata kopi luwak. Pawon Night Market, kesenian kayu Aurik rokAy, batik Lumbini, batik tingal art, batik Dewi Wanu, wingko singkong, junk yard, balkondes, mini zoo, dan jamur keriping. Dilihat dari sisi komponen penunjang kedua yaitu aksesibilitas yang merupakan fasilitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh wisatawan untuk menuju destinasi wisata. Desa Wanurejo mempunyai keunggulan pada jarak antar destinasi wisatanya yang mudah Hal tersebut diperkuat dengan tersedianya fasilitas kendaraan menarik yang bisa disewa oleh wisatawan, seperti VW, sepeda onthel dan dokar/kereta kuda. Namun hal tersebut kurang didukung oleh kondisi jalan yang membutuhkan perbaikan dikarenakan banyak dilalui oleh kendaraan yang berat, padahal jalan tersebut adalah jalan utama menuju titik tempat destinasi wisata. Komponen penunjang ketiga, amenitas adalah berbagai fasilitas pendukung yang dibutuhkan oleh wisatawan di destinasi wisata. Amenitas di Desa Wanurejo tersedia lumayan lengkap mulai dari keberadaan warung yang mudah ditemui dan menawarkan harga yang terjangkau, maupun restoran atau cafe yang di desain dengan cukup menarik, kekinian dan instagramable. Fasilitas parkir dan toilet yang tersedia di beberapat tempat dengan lahan yang memadai juga merupakan kelebihan yang menunjang komponen ini. Demi kenyamanan wisatawan, fasilitas ibadah. ATM maupun beberapa jenis penginapan juga tersedia di Desa Wanurejo. Akan tetapi, terdapatnya warung dalam jumlah yang cukup banyak dan kurang tertata beserta beberapa fasilitas toilet yang kurang memadai agaknya menjadikan keberadaan keduanya menjadi kurang maksimal. Promosi atau pemasaran dari penginapan yang ada di Desa Wanurejo juga kurang dilakukan dengan maksimal dan menarik, sehingga wisatawan hanya berkunjung dan tidak banyak yang tinggal atau menginap di penginapan atau hotel di Desa Wanurejo. Apabila semua fasilitas tersebut tertata dan dilakukan pengecekan secara berkala tentunya akan memaksimalkan fungsi dari ketersediaan fasilitas tersebut. Begitupun apabila dilakukan peningkatan strategi pemasaran beserta fasilitasnya tentunya akan menambah length of stay dari wisatawan di Desa Wanurejo. Komponen penunjang keempat adalah ancillary yang merupakan dukungan yang disediakan oleh organisasi, pemerintah daerah, kelompok atau pengelola destinasi wisata untuk menyelenggarakan kegiatan wisata. Dukungan dari pemerintah, tentunya menjadi salah satu komponen penunjang yang cukup penting dalam pengembangan desa wisata. Tanpa dukungan dari pemerintah tentunya potensi Desa Wanurejo tidak akan tergali dan tersaji dengan optimal. Pemerintah memberikan dukungan melalui kebijakan dan bantuan dari pemerintah pusat untuk pengembangan Desa Wanurejo. Akan tetapi, terdapat permasalahan terhadap pemerataan bantuan tersebut, sehingga membuat situasi dan kondisi menjadi kurang kondusif. Keempat komponen tersebut juga harus sejalan dengan pemenuhan tiga prinsip konsep Konsep wisata didefinisikan dalam tiga prinsip yang terdiri dari something to see, something to do, dan something to buy. Kepuasan pengunjung juga dapat dilihat dari pemenuhan tiga prinsip tersebut . Something Aoto seeAo merupakan sumberdaya yang Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities. Vol. 2 No. Lintang Muliawanti et al Sementara something Aoto doAo dan Aoto buyAo merupakan sumberdaya yang diciptakan dan pendukung . Something to see terkait dengan apa yang dapat wisatawan lihat atau nikmati melalui wisata atraksi yang disajikan. Pengembangan destinasi pariwisata di Desa Wanurejo Situs dan Budaya yang menawarkan ragam situs peninggalan sejarah dengan Candi Pawon sebagai titik tengah candi budha yang menghubungkan Candi Borobudur dengan Candi Mendhut. Dengan dibangunnya Jalur Aksis Budaya sebagai upaya integrasi 3 candi budha, dan tidak terfokus hanya pada Candi Borobudur saja, elemen dan fungsi edukasi nilai-nilai budaya dapat dinikmati wisatawan, khususnya dalam mendukung program KSPN Candi Borobudur. Selain Candi Pawon situs dan budaya di Desa Wanurejo juga menawarkan Museum Wayang (Pondok Tinga. Bedug Peninggalan Pangeran Diponegoro . i Masjid Tiban Tingal Weta. Situs Sejarah (Situs Budha/Kali Lanang Kali Wado. Pentas dan Gelar Budaya yang disajikan untuk menarik wisatawan. Dengan potensipotensi seni yang sudah dimiliki, beberapa agenda tahunan diselenggarakan secara rutin yaitu Gelar Budaya Desa Wanurejo yang sudah memecahkan 7 rekor MURI. Gelar budaya perlu dilakukan dengan agenda tahunan bertaraf nasional hingga internasional seperti Wanurejo International Cultural Carnival dengan menampilkan ragam potensi seni dan budaya selain oleh pegiat wisata lokal seperti Jatilan Siswo Turonggo. Jatilan Panji Paningal. Jatilan Sekar Dyu. Kobro Siswo Adi Siswo. Jatilan Cahyo Marsudi Budoyo. Arumba. Topeng Ireng Wira Catra. Pitutur . Topeng Hitam Manusia Rimba. Laras madyo. Karawitan. Pagelaran Wayang Padat. Sendra Tari Kinara Kinari, dan penampilan dari kelompok seni budaya di seluruh Indonesia yang dapat menarik perhatian internasional. Wisata Alam yang dimiliki Desa Wanurejo memegang peranan penting dalam pengembangan wisata, diantaranya pemandangan pegunungan menorah yang apik, persawahan, suasana desa dan ada beberapa potensi wisata alam yang ditawarkan seperti. Mata Air Asin. Mata Air Umbul Tirta. Spot Selfie Kedung Gelung. Sunrise pertemuan Sungai Elo dan Progo. Wisata alam yang dimiliki Desa Wanurejo seperti. Mata Air Asin. Mata Air Umbul Tirta. Spot Selfie Kedung Gelung. Sunrise pertemuan Sungai Elo dan Progo. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan masyarakat untuk membuka warung makan atau jajanan di Kawasan wisata alam tersebut yang perlu ditata dengan estetika dengan pembangunan akses jalan yang layak dan petunjuk jalan untuk menuju ke beberapa lokasi yang sudah mangkrak. Galeri dan Seni kolaborasi antar seniman dari Desa Wanurejo akan menjadi nilai tambah untuk pariwisata di Wanurejo. Something to do merupakan apa yang dapat wisatawan lakukan di tempat wisata tersebut melalui wisata aktivitas. Pengembangan tersebut dilakukan melalui. Eduwisata dan Sanggar Seni untuk memberikan pengalaman wisatawan dalam belajar tarian khas daerah Magelang khususnya karya seniman lokal, lukisan, membatik hingga membuat dolanan tradisional. Dengan beberapa sanggar yang menawarkan beberapa opsi disamping Latihan tari, juga menawarkan edukasi terkait praktik penggunaan kostum tradisonal, praktik gamelan dan karawitan, praktik membuat batik yang didampingi pengrajin batik langsung, bernostalgia membuat mainan tradisonal di Kampung Dolanan hingga melukis diatas daun Beberapa sanggar seni yang menawarkan wisata ini diantaranya. Sanggar Seni Joyowiyatan. Sanggar Seni Budiharjo. Gandok Nitiharjan. Sanggar Tari Avadana. Sanggar Tari Kinara Kinari. Rik-Rok. Batik Lumbini. Tingal Art. Batik Dewi Wanu, dan lain-lain. Outbond yang terbuka untuk umum dengan memberikan experience dalam camping ground. Dengan ketersediaan lahan yang ada serta adanya sawah dan sungai dapat diselenggarakan wisata di sawah, dimana wisatawan dapat merasakan pengalaman menanam padi, berternak. Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities. Vol. 2 No. Lintang Muliawanti et al wisata agrowisata hingga rafting di Sungai Elo tepatnya di Dusun Bejen. Sehingga wisatawan dapat merasakan ambience sebagai penduduk lokal. Hal tersebut seharusnya didukung dengan ketersediaan trainer dan tour guide yang dapat memberikan edukasi kepada wisatawan. Wisata keliling desa menikmati pemandangan desa Wanurejo dengan menggunakan Sepeda dan VW yang disedikan oleh BUMDES. Wisata Religi, wisatawan yang memiliki segmen wisatawan tersendiri seperti penggemar ritual budaya atau spiritual journey. Terdapat Makam BPH Tejo Kusumo (Adipati Wonorej. dan Makam Tokoh-tokoh di 9 dusun. Something to buy merupakan apa yang dapat wisatawan beli dari tempat wisata tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui wisata ekonomi kreatif yang ditawarkan. Pengembangan tersebut dilakukan melalui. Bazaar Kuliner dan oleh-oleh yang menjual ragam makanan tradisional, jajanan pasar khas Desa Wanurejo dan Borobudur, makanan kering khas Magelang, hingga oleh-oleh berupa madu, kopi batu dan wedang dari rempah-rempah dan empon-empon yang merupakan potensi dari Desa Wanurejo. Bazaar Kriya/handycraft untuk memamerkan produk kerajinan dari mata pencaharian masyarakat Desa Wanurejo yang produknya dipasarkan di Taman Wisata Candi Borobudur seperti sablon kaos, fiber glass, ukir bamboo, pahat kayu, lukisan kepala budha dan lain-lain. Guna menciptakan daya tarik dan aktivitas wisata yang khas, imajinatif, dan mutakhir yang menjadi ciri khas Wanurejo, maka konsep wisata Wanurejo yang meliputi unsur wisata budaya, seni, alam, religi hingga eduwisata dapat masuk melalui something to see dan something to do. Menurut Kartika dkk. , wisatawan saat ini tidak puas hanya dengan memahami budaya. sebaliknya, mereka berusaha untuk belajar lebih banyak tentang itu. Kemudian, mereka berinteraksi dengan budaya lokal dan berkembang menjadi insan kreatif. Mereka berhenti menjadi pengamat pasif budaya lokal dan mulai bertindak sebagai pencipta sekaligus konsumen, atau prosumen. Pada akhirnya, pengetahuan menggantikan pengalaman. Ini disebut sebagai pariwisata kreatif. Namun, pengembangan desa wisata tentunya membutuhkan perencanaan yang matang. Dalam rangka mengembangkan aspek sosial budaya. Desa Wisata Wanurejo perlu peningkatan keterampilan melalui ragam pelatihan dan edukasi. Diantaranya pelatihan pengelolaan pemasaran wisata, pengelolaan media sosial, pelatihan tour guide, hospitality, pelatihan pengelolaan keuangan, edukasi Bahasa asing, dan manajemen sumber daya yang keseluruhannya dilakukan oleh masyarakat sekitar. Sehingga dapat dihasilkan multiplier effect, terdapat peningkatan taraf hidup masyarakat diiringi dengan pengembangan aspek sosial Selain itu, dalam implementasi pengembangan wisata kreatif juga perlu adanya something to buy melalui pengembangan wisata ekonomi kreatif sebagai penggerak ekonomi wisata yang apabila dimaksimalkan pengelolaannya dengan baik akan memberikan stimulasi ekonomi masyarakat. Tidak hanya itu, pada akhirnya manfaat non material juga akan dirasakan oleh masyarakat, seperti bertambahnya pengetahuan, perbaikan akses jalan, dan lainnya . Kesimpulan Pengembangan pariwisata di Desa Wisata Wanurejo berdasarkan dari komponen-komponen penunjang kepariwisataannya belum dapat dikatakan optimal. Atraksi yang tersedia sebenarnya cukup banyak, akan tetapi pengemasannya belum maksimal sehingga kunjungan ke berbagai destinasi wisata di Desa Wanurejo menjadi kurang optimal dan tidak merata. Pengorganisasian belum dilakukan sehingga penyajiannya masih terkesan berdiri sendiri-sendiri. Kedekatan jarak antara satu destinasi wisata dengan yang lainnya dan ketersediaan bermacam alat transportasi menjadi suatu kelebihan di Desa Wanurejo. Akan tetapi keunggulan tersebut tidak diiringi oleh aksesibilitas lain di Desa Wanurejo yaitu jalan menuju ke tempat destinasi wisata tersebut. Sehingga, dari sisi komponen aksesibilitas di Desa Wanurejo juga belum dapat dikatakan baik, dikarenakan masih banyak jalan menuju destinasi wisata yang perlu untuk Urecol Journal. Part H: Social. Art, and Humanities. Vol. 2 No. Lintang Muliawanti et al Ketersediaan amenitas di Desa Wanurejo dapat dikatakan cukup lengkap dengan tersedianya pemenuhan kebutuhan pokok seperti warung, restoran maupun cafe, tempat ibadah. ATM, toilet dan juga lahan parkir. Akan tetapi masi perlu peningkatan fasilitas pendukung kebersihan dan peningkatan strategi pemasaran fasilitas penginapan. Berkaitan dengan ancillary, terdapat dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah, melalui kebijakan maupun bantuan dana untuk pengembangan Desa Wisata Wanurejo. Akan tetapi dukungan tersebut belum tersampaikan secara merata sehingga membuat situasi menjadi kurang kondusif. Laju pariwisata di Wanurejo didukung oleh tersedianya paket-paket wisata yang berpotensi untuk dipromosikan secara langsung maupun tidak langsung kepada wisatawan. Dengan memanfaatkan relasi para penyedia jasa paket wisata tidak sedikit wisatawan yang tertarik untuk meng explore tempat wisata menggunakan paket dengan memanfaatkan ketersediaan paket wisata pengunjung tidak perlu repot mencari tempat wisata mana yang layak untuk dikunjungi. Tidak hanya dikhususkan bagi Desa Wanurejo, para pegiat wisata dapat memasarkan paketpaket wisata lain di sekitar Borobudur yang berada di luar Kawasan Desa Wanurejo. Tersedianya paket ini juga dapat menjangkau secara merata potensi-potensi wisata, baik di desa Wanurejo maupun desa sekitar Borobudur. Lebih lanjut, paket wisata juga harus dintegrasikan dengan produk unggulan Desa Wanurejo seperti hasil pertanian, perkebunan, ataupun produk kreatif Dengan beragam potensi yang tersedia. Bumdes/Pokdarwis dapat menjadi entitas masyarakat yang mengelola pemasaran paket-paket wisata secara terpadu. References