Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com Volume 14, Nomor 2, Desember 2022 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERAT BADAN BAYI BARU LAHIR K 1 Eka Rati Astuti1, Harlen Yunita2 Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Gorontalo,Gorontalo, Indonesia 2 Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu, Indonesia Email Penulis Korespondensi (K): ratiastuti10@gmail.com ABSTRAK Keadaan gizi dan kesehatan bayi dapat digambarkan salah satunya dengan berat badan saat bayi baru lahir. Selain itu, kejadian yang muncul pada bayi dalam masa gestasi dan kaitannya dengan beragam faktor, meliputi: paritas, usia ibu, kadar hemoglobin, jarak kehamilan, pemeriksaan kehamilan, lingkar lengan atas, lingkungan sosial ekonomi, dan penyakit saat kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan bayi baru lahir di Kecamatan Kedurang Kabupaten Bengkulu Selatan tahun 2020. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain studi kohort retrospektif. Populasi yang digunakan berjumlah 57 orang yakni ibu hamil yang memiliki data kadar hemoglobin pada trimester III dan data persalinan di Kecamatan Kedurang. Seluruh anggota populasi dijadikan subjek penelitian (total sampling). Analisis data menggunakan chisquare dan regresi linier. Terdapat 57 responden, 80,7% berada di usia tidak berisiko, 45,6% memiliki pendidikan rendah, 56,2% merupakan multigravida, 54,8% mengalami anemia. Sebanyak 28,1% bayi lahir dengan BBLR, memiliki faktor risiko yang paling besar adalah anemia (54,8%), primigavida (40,5%), pendidikan dasar (28,6%), dan usia berisiko (19,1%). Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh antara umur ibu dengan berat badan bayi baru lahir (p=0,001) dengan nilai OR 1,1. Selain itu, ada pengaruh antara pendidikan dengan berat badan bayi baru lahir (p=0,009) dengan nilai OR 13. Terdapat pengaruh juga antara paritas dengan berat badan bayi baru lahir (p=0,003) dengan nilai OR 11,4. Di samping itu, ada pengaruh antara nilai Hb ibu dengan berat badan bayi baru lahir (p=0,004) dengan nilai OR 10,6. Berdasarkan nilai OR maka secara berurutan, faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan bayi baru lahir adalah pendidikan, paritas, nilai Hb, dan umur ibu. Kata Kunci: Anemia, Berat bayi lahir rendah, Kadar Hb, Paritas, Umur Ibu, ABSTRACT The nutritional status and health of the baby can be described, one of which is the weight at birth. In addition, the incidence that occurs in infants during gestation and its association with various factors, including parity, maternal age, hemoglobin level, gestational interval, pregnancy examination, upper arm circumference, socioeconomic environment, and disease during pregnancy. This study aims to analyze the factors that affect newborn weight in Kedurang District, South Bengkulu Regency, in 2020. This study used an analytical observational method with a retrospective cohort study design. The population used is 57 people, namely pregnant women with data on hemoglobin levels in the third trimester and delivery data in Kedurang District. All population members are used as research subjects (total sampling). Data analysis used chi-square and linear regression. There were 57 respondents; 80.7% were of no-risk age, 45.6% had low education, 56.2% were multigravida, and 54.8% had anemia. As many as 28.1% of infants born with low birth weight have the most significant risk factors anemia (54.8%), primigravida (40.5%), primary education (28.6%), and age at risk (19.1% ). The results showed an influence between the mother's age and the newborn's weight (p=0.001) with an OR value of 1.1. In addition, there is an effect between education and newborn weight (p = 0.009) with an OR value of 13. There is also an effect between parity and newborn weight (p = 0.003) with an OR value of 11.4. In addition, there was an effect between the mother's Hb value and the newborn's weight (p=0.004), with an OR value of 10.6. Based on the OR value, sequentially, the factors that affect the newborn's weight are education, parity, Hb value, and maternal age. Keywords: Anemia, Low birth weight babies, Hb level, Parity, Mother's age 108 Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com Volume 14, Nomor 2, Desember 2022 PENDAHULUAN Kesehatan janin dan anak sejak dini merupakan bagian dari pembangunan kesehatan. Persiapan ibu sejak remaja sampai selama hamil dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bayi. Kesehatan janin dalam uterus sampai paritas dan pertumbuhan bayi selanjutnya dapat dipengaruhi oleh gangguan kesehatan yang terjadi selama kehamilan (Astuti et al., 2016). Gangguan kesehatan ibu hamil yang sering terjadi adalah anemia kekurangan zat besi. Ibu hamil dikatakan menderita anemia apabila kadar hemoglobin di bawah 11 g/dl. Permasalahan yang sering terjadi di Negara berkembang seperti Indonesia adalah anemia pada kehamilan (Syifaurrahma, 2016). Ibu hamil yang mengalami anemia di Indonesia menjadi pokok masalah kesehatan yang menyebabkan angka kematian ibu dan bayi selalu meningkat, kematian janin dalam rahim, persalinan prematur, cacat pada persarafan, pecahnya ketuban, dan berat badan lahir rendah (Mamahit, Tandipajung and Makausi, 2020). Hasil utama Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2020, proporsi ibu hamil yang mengalami anemia di Indonesia sebanyak 48,9% meningkat dari Tahun 2013 hanya 37,1%. Anemia yang ditemukan di Indonesia sebagian besar dikarenakan defisiensi zat besi (Kemenkes RI, 2018). Data Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Tahun 2020, total kematian ibu di Bengkulu sebanyak 52 ibu. Jumlah kematian ibu tertinggi terjadi di Kabupaten Bengkulu Selatan yaitu sebanyak 20 ibu, 6 diantaranya disebabkan oleh perdarahan. Perdarahan ini disebabkan oleh kekurangan energi kronik dan anemia pada kehamilan (Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, 2020). Data Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun 2015 menunjukkan bahwa jumlah ibu hamil terbanyak dari 21 Puskesmas di Kabupaten Bengkulu Selatan yakni ada di Puskesmas Kedurang dengan jumlah ibu hamil yaitu 936 jiwa. Data awal yang didapatkan peneliti pada bulan April Tahun 2017, dari 121 data pemeriksaan hemoglobin yang dilakukan oleh ibu hamil, 71 diantaranya mengalami anemia (Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan, 2020). Parameter kesehatan bayi baru lahir, diantaranya adalah berat badan saat bayi lahir. Berat bayi baru lahir dikatakan normal apabila beratnya 2500-4000 gram pada masa kehamilan 37-42 minggu. Secara fisiologis, berat badan bayi baru lahir menentukan kemampuan bayi dalam beradaptasi sehingga pertumbuhan dan perkembangan bayi berjalan baik (Yanuarti, 2016). Masalah kesehatan yang sering ditemui di masyarakat adalah berat bayi lahir rendah (BBLR) apabila berat lahir seorang bayi di bawah 2500 gram (Astuti, 2021). Data Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu pada Tahun 2018 menujukkan bahwa kejadian BBLR tertinggi terjadi di Kabupaten Bengkulu Selatan yakni 250 bayi, Kabupaten Seluma sebanyak 144 bayi, Kabupaten Kaur sebanyak 121 bayi, Kabupaten Bengkulu Tengah sebanyak 113 bayi, Kabupaten Muko-muko sebanyak 77 bayi dan Kota Bengkulu sebanyak 73 bayi. Kejadian BBLR merupakan penyebab kematian neonatal tertinggi yakni sejumlah 85 neonatal dengan persentase 42,93%. Berat badan lahir seorang bayi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor, diantaranya: umur ibu saat hamil, status gizi ibu hamil, umur kehamilan, tingkat pendidikan dan penyakit ibu (Setiawan, 2013). Teori ini sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Suwarni (2016) dimana ada hubungan yang signifikan 109 Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com Volume 14, Nomor 2, Desember 2022 antara kadar Hb, usia ibu hamil, dan lingkar lengan atas (LILA) dengan berat bayi lahir. Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti melakukan penelitian tentang “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Berat Badan Bayi Baru Lahir”. METODE Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain studi kohort retrospektif dengan menggunakan data yang sudah terkumpul sebelumnya yaitu data berat badan bayi baru lahir. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Kedurang pada Bulan Agustus 2020. Variabel bebas yaitu umur, pendidikan, paritas, dan kadar hemoglobin ibu hamil. Variabel terikat yaitu berat badan bayi baru lahir. Populasi adalah ibu yang melahirkan di Kecamatan Kedurang pada Bulan Februari - Juli 2020 sebanyak 57 orang. Subjek adalah ibu yang melahirkan di Kecamatan Kedurang (total sampling), instrumen adalah lembar observasi. Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu data berat badan bayi baru lahir didapatkan dari hasil catatan dan pelaporan di Puskesmas Kedurang pada bulan Februari - Juli 2020. Penelitian ini menggunakan analisis uji chi kuadrat menggunakan aplikasi SPSS versi 16.0. HASIL Faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan bayi baru lahir disajikan pada Tabel 1 yang meliputi umur ibu,pendidikan ibu, paritas ibu serta nilai Hb ibu. Tabel 1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Berat Badan Bayi Baru Lahir Faktor Umur Ibu Berisiko Tidak Berisiko Pendidikan Ibu Rendah Menengah Tinggi Paritas Ibu Primipara Multipara Nilai Hb Ibu Tidak Anemia Anemia Berat Badan Bayi Baru Lahir ≥2500 < 2500 Gram Gram Jumlah Frekuensi Persentase P-Value OR 0,001 1,1 0,009 13 9 36 2 10 11 46 19,3 80,7 21 20 5 5 5 1 26 25 6 45,6 43,9 10,5 20 23 5 9 25 32 43,9 56,1 0,003 11,4 14 27 5 11 19 38 33,3 66,7 0,004 10,6 Berdasarkan Tabel 1 tersebut didapatkan bahwa umur ibu mempengaruhi berat badan bayi baru lahir dengan p-value 0,001 (<0,05) dan nilai OR 1,1 yang artinya ada pengaruh umur terhadap berat badan bayi baru lahir dan ibu yang memiliki umur berisiko (<20 tahun atau >35 tahun) memiliki peluang 1,1 kali lebih banyak untuk memiliki bayi BBLR. Selanjutnya, untuk variabel pendidikan ibu didapatkan p-value 0,009 (<0,05) dan nilai OR 13 yang artinya ada pengaruh pendidikan ibu terhadap berat badan 110 Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com Volume 14, Nomor 2, Desember 2022 bayi yang dilahirkan dan ibu yang berpendidikan rendah memiliki peluang 13 kali berisiko untuk melahirkan dengan BBLR. Untuk variabel paritas didapatkan p-value 0,003(<0,05) dan nilai OR 11,4 yang artinya ada pengaruh paritas terhadap berat badan bayi baru lahir dan ibu dengan primipara memiliki risiko 11,4 kali untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Untuk variabel anemia memiliki p-value 0,004 (<0,05) dan OR 10,6 yang artinya ada pengaruh nilai Hb ibu terhadap berat badan bayi baru lahir, dan ibu hamil dengan anemia berpeluang melahirkan bayi BBLR sebanyak 10,6 kali dibandingkan ibu hamil tidak anemia. BAHASAN Hasil penelitian mendapatkan bahwa distribusi umur yang memiliki risiko untuk melahirkan bayi BBLR sebanyak 19,3%, distribusi tingkat pendidikan paling dominan yaitu pada tingkat rendah sebanyak 45,6%, distribusi paritas paling dominan yaitu pada primipara sebanyak 43,9%, dan kadar hemoglobin ibu hamil yang anemia sebanyak 66,7%. Hasil penelitian Sohibien and Yuhan (2020) menunjukkan bahwa umur ibu memiliki hubungan yang bermakna dengan nilai OR 1,009. Hasil ini mempunyai arti bahwa semakin tua umur ibu hamil maka cenderung memiliki bayi dengan BBLR. Hal ini dikarenakan semakin tua umur ibu hamil maka proses pendistribusian zat-zat nutrisi yang dibutuhkan oleh janin mengalami kesulitan sehingga bayi yang dilahirkan dapat mengalami kondisi BBLLR. Faktor risiko 4T yaitu terlalu dekat jarak melahirkan, terlalu sering melahirkan, terlalu tua melahirkan (umur lebih dari 35 tahun), dan terlalu muda melahirkan (umur kurang dari 18 tahun) bisa menyebabkan komplikasi dan risiko tinggi pada ibu dan bayi. Faktor penting dalam kehamilan diantaranya adalah umur. Umur ibu hamil yang masih muda (kurang dari 20 tahun) bisa mengakibatkan penyulit kehamilan baik pada ibu maupun janin karena alat reproduksi belum matur sehingga menyebabkan BBLR, kelahiran prematur, dan cacat bawaan, sedangkan pada umur lebih dari 35 tahun, otot-otot dasar panggul tidak elastis lagi sehingga sering terjadi penyulit baik saat hamil maupun persalinan seperti hipertensi, preeklamsi, anemia, dan diabetes mellitus, yang dapat mengakibatkan BBLR dan prematur. Umur ibu hamil yang berisiko cenderung melahirkan BBLR dibandingkan umur ibu hamil yang tidak berisiko karena pada masa remaja awal, perkembangan organ-organ reproduksi dan fungsi fisiologinya belum maksimal. Selain itu, afeksi dan psikis belum cukup umur, sehingga pada saat kehamilan ibu belum dapat mengimbangi kehamilannya secara ideal dan sering kedapatan penyulit. Semakin muda umur ibu hamil, maka bayi yang akan dilahirkan memiliki berat badan lahir kurang dari normal. Walaupun kehamilan belum cukup umur sangat berisiko tetapi kehamilan di umur lebih dari 35 tahun juga berbahaya karena pada umur tersebut timbul komplikasi seperti tumor jinak alat reproduksi, hipertensi, penyakit degeneratif pada persendian tulang belakang, dan panggul (Mamahit, Tandipajung and Makausi, 2020). Pendidikan terakhir ibu memiliki pengaruh bermakna pada kategori tidak sekolah atau tidak tamat SD dengan nilai OR 1,4 yang artinya ibu yang tidak sekolah atau tidak tamat SD mempunyai 111 Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com Volume 14, Nomor 2, Desember 2022 kecenderungan 1,4 kali mempunyai bayi dengan keadaan BBLR dibandingkan ibu yang pendidikannya SMA ke atas. Keadaan tersebut bisa terjadi karena pendidikan ibu berhubungan dengan pola pikir ibu. Semakin tinggi pendidikan yang ibu tempuh maka semakin lancar pola pikir ibu saat menangkap info yang didapatnya. Ibu hamil dengan pendidikan yang lebih tinggi dapat lebih cepat mendapat dan menangkap info kehamilan dibandingkan ibu hamil dengan pendidikan yang lebih rendah sehingga ibu hamil dapat lebih lancar mengetahui tentang asupan gizi dan pemenuhan kebutuhan yang dibutuhkan supaya keadaan ibu dan bayi yang akan dilahirkan sehat dan bugar (Sohibien and Yuhan, 2020). Penelitian Hafid, Badu and Laha (2018) menunjukkan bahwa ibu hamil yang mempunyai tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah, SD, SMP) lebih banyak melahirkan bayi dengan keadaan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) sebanyak 73 ibu (53,3%). Pendidikan yaitu metode pentransferan perilaku dan cara berperilaku individu ataupun masyarakat dalam usaha mematangkan insan lewat pengajaran dan pelatihan. Pendidikan dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta membentuk pola pikir seseorang. Penggunaan dan pemanfaatan juga dapat dipengaruhi oleh pendidikan. Ibu dengan pendidikan yang tinggi mempunyai cara pandang dan berfikir secara masuk akal dalam berbuat mengakibatkan pemahamannya menggunakan jasa kesehatan pun akan lebih bagus. Pendidikan ibu hamil juga dapat berdampak pada berat badan bayi baru lahir karena tingkat pendidikan akan memiliki dampak pada kudapan makanan dengan upaya penentuan bahan kudapan. Ibu hamil yang mempunyai pendidikan lebih tinggi cenderung menentukan kudapan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih proporsional dibandingkan dengan ibu hamil yang mempunyai pendidikan lebih rendah. Semakin tinggi pendidikan orang tua, semakin baik status gizi anaknya. Anak-anak dari ibu yang berpendidikan lebih tinggi akan memperoleh harapan hidup serta berkembang lebih bagus. Hal ini disebabkan transparansi ibu untuk menyerap transformasi atau perkembangan informasi terkait kesehatan ibu dan anaknya (Hafid et al., 2018). Paritas adalah kuantitas kehamilan yang dijalani seorang ibu prakelahiran atau kehamilan saat ini. Kuantitas paritas ibu bisa meningkatkan kasus BBLR. Paritas berisiko tinggi jika kuantitas paritas lebih dari empat kali dan berisiko rendah jika kuantitas paritas kurang dari empat kali. Kuantitas paritas dan partus, jeda antar paritas dan partus sebelumnya, tingkat elastisitas otot uterus mengakibatkan otot uterus berkontraksi dengan tidak sempurna menyebabkan perdarahan ante-intra-pasca partum dan melahirkan bayi dengan BBLR atau bayi prematur. Hasil analisis bivariat menggunakan chi kuadrat menunjukkan bahwa paritas adalah faktor yang mempengaruhi kejadian BBLR dengan nilai p value = 0,000 (Hafid et al., 2018). Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara paritas ibu dengan berat badan bayi baru lahir dengan nilai p-value = 0,017, nilai OR 5,10 (CI 95% 1,36-4,73). Ibu dengan paritas tinggi menyebabkan fungsi pembuluh darah uterus terganggu. Paritas berulang mengakibatkan arteriosklerosis uterus. Hal ini mempengaruhi transportasi nutrisi dari ibu ke janin pada kehamilan berikutnya sehingga memberikan dampak berupa gangguan pertumbuhan janin akibatnya bayi yang lahir BBLR. Selain itu, penyulit-penyulit yang terjadi pada ibu dengan paritas tinggi atau berisiko akan 112 Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com Volume 14, Nomor 2, Desember 2022 memberikan dampak perkembangan dan pertumbuhan janin yang dikandung sehingga berdampak pada berat badan bayi (Diniya et al., 2016). Teori Asmawati, Fitriana and Putri (2016) menyatakan bahwa adaptasi fisiologis saat kehamilan dapat menyebabkan anemia kehamilan. Anemia kehamilan paling dominan disebabkan oleh anemia kekurangan zat besi. Faktor penyebabnya meliputi: status sosial ekonomi rendah, multipara, malaria, jarak anak yang tidak teratur, dan infeksi HIV. Menurut teori Hafid, Badu and Laha, (2018) menyatakan bahwa sebagian besar ibu hamil menderita anemia pada trimester ketiga dikarenakan pada masa ini janin menyimpan persediaan zat besi untuk dirinya sendiri demi cadangan pada bulan pertama sesudah lahir. Penelitian ini mendapatkan bahwa bayi yang lahir dengan berat badan normal sebanyak 71,9% dan bayi yang lahir dengan BBLR sebanyak 28,1%. Berdasarkan uji chi square didapatkan hitung = 0.043 dengan X tabel 3.841 maka X2 hitung < X tabel artinya Ha ditolak. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara kadar hemoglobin ibu hamil dengan berat badan bayi baru lahir. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sohibien and Yuhan (2020) bahwa berat badan bayi lahir dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur ibu saat hamil, status gizi ibu hamil, umur kehamilan, kehamilan ganda, penyakit ibu, faktor kebiasaan ibu, dan tingkat pendidikan. Hasil penelitian bahwa dari 38 ibu yang mengalami anemia, hanya 11 ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan bayi kurang dari 2500 gram atau BBLR. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua ibu hamil yang mengalami anemia akan melahirkan bayi BBLR, dan dari 14 ibu yang memiliki kadar hemoglobin normal terdapat 5 bayi yang dilahirkan dengan berat kurang dari 2500 gram atau BBLR. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua ibu hamil yang memiliki kadar Hb normal akan melahirkan bayi dengan berat badan normal. Penelitian ini sejalan dengan peneltian yang dilakukan oleh Setiawan (2013) tentang hubungan kadar hemoglobin ibu hamil trimester III dengan berat badan bayi baru lahir di Kota Pariaman. Hasil penelitian, tidak ditemukan adanya hubungan kadar hemoglobin ibu hamil trimester III dengan berat bayi lahir di kota Pariaman. Selain itu, sejalan dengan penelitian lain yang dilakukan oleh Agustina and Barokah (2018) tentang hubungan kadar hemoglobin ibu hamil dengan berat badan bayi lahir di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Hasil uji korelasi hubungan kadar hemoglobin ibu hamil dengan berat bayi lahir menunjukkan derajat kerentanan tingkat yang sangat lemah. Hal ini berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin ibu hamil dengan berat badan bayi lahir. Kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil yang lebih rendah atau lebih tinggi dari kadar normal bisa menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan janin atau kecil untuk masa kehamilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kadar hemoglobin ibu hamil dengan berat badan bayi baru lahir. Hasil ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Syifaurrahma (2016), tentang hubungan anemia dengan kejadian bayi berat lahir rendah pada kehamilan aterm di RSUD Achmad Darwis Saliki. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan anatara anemia pada ibu hamil aterm dengan kejadian bayi berat lahir rendah di RSUD Achmad Saliki. 113 Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com Volume 14, Nomor 2, Desember 2022 Ibu hamil yang mengalami anemia akan menyebabkan penyulit pada saat kehamilan karena kadar hemoglobinnya semakin turun. Kadar hemoglobin dalam darah dapat ditingkatkan dengan jadwal makan teratur, asupan nutrisi bergizi seimbang dan minum tablet Fe sesuai dengan aturan dosisnya. Anemia pada ibu hamil dapat mengakibatkan berat bayi lahir rendah (BBLR), angka prematuritas, kematian maternal, dan meningkatnya angka kematian perinatal. Oleh karena itu, ibu hamil dianjurkan tidak mengalami anemia selama kehamilannya. Pencegahan anemia dapat dilakukan dengan memperhatikan isi piringku yaitu asupan makanan bergizi, beragam dan berimbang (Diniya et al., 2016). Teori Manuaba et al.(2010), banyak hal yang dapat menyebabkan BBLR selain anemia. Secara garis besar pertumbuhan janin dipengaruhi oleh 3 kelompok yaitu dari faktor ibu, faktor kehamilan, dan faktor janin. Faktor ibu diantaranya umur saat hamil kurang dari 20 tahun dan diatas 35 tahun, gizi ibu hamil yang kurang, penyakit menahun seperti hipertensi, jarak hamil dan bersalin terlalu dekat, penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah bagi ibu perokok, serta pekerjaan yang terlalu berat. Faktor kehamilan diantaranya hamil ganda, hamil dengan hidramnion, komplikasi hamil seperti pereeklamsi/eklamsia, ketuban pecah dini,dan perdarahan antepartum. Faktor janin dapat disebabkan oleh infeksi kehamilan, genetik, dan cacat bawaan. Faktor-faktor yang belum diteliti diantaranya faktor eksternal, misalnya keadaan sosial ekonomi keluarga dan kebiasaan hidup ibu hamil. Faktor eksternal yang mempengaruhi berat bayi lahir belum bisa dikesampingkan sebagai faktor pengganggu dalam penelitian ini. Keadaan sosial ekonomi keluarga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap berat bayi lahir karena mempengaruhi kudapan gizi yang dikonsumsi oleh ibu selama hamil dan perawatan ibu saat hamil, sedangkan kebiasaan hidup ibu hamil berpengaruh terhadap ketidaknyamanan dan penyulit yang dialami ibu hamil. Dalam upaya untuk menurunkan angka kejadian berat bayi lahir rendah petugas kesehatan diharapkan menyampaikan pendidikan kesehatan dan KIE (konseling, informasi, dan edukasi) kepada ibu pada saat perencanaan kehamilan dan saat hamil serta meningkatkan kualitas ANC pada semua ibu hamil terutama ibu yang berisiko mengalami BBLR. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian bahwa berat badan bayi baru lahir dipengaruhi oleh faktor kadar hemoglobin, umur, pendidikan, dan paritas. Saran bagi penelitian selanjutnya adalah menambahkan variabel eksternal yang belum diteliti, seperti keadaan sosial ekonomi keluarga dan kebiasaan hidup ibu hamil serta dapat juga menggunakan data sekunder yang jumlahnya lebih besar dari penelitian ini. RUJUKAN Agustina, S. A., & Barokah, L. (2018). Determinan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Jurnal Kebidanan, 8(November), 143–148. Asmawati, N., Fitriana, & Putri, N. A. (2016). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Berat Badan 114 Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com Volume 14, Nomor 2, Desember 2022 Bayi Baru Lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Seputih Raman Lampung Tengah Tahun 2016. Jurnal Gizi Aisyah Stikes Aisyah Pringsewu. Astuti, E. R. (2021). Factors Associated with The Incidence of Low Birth Weight. Journal of Health Sciences and Research, 5(2), 81–87. https://doi.org/http://doi.org/10.29080/jhsp.v5i1.517 Received Astuti, E. R., Nurdiati, R. D. S., & Rokhanawati, D. (2016). Pengaruh Pemberian ASI terhadap Lama Masa Nifas di Puskesmas Trucuk I. Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan, 12(1), 69–76. https://doi.org/https://search.crossref.org/?q=2477-8184 Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan. (2019). Profil Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun 2018. Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan. Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. (2020). Laporan Provinsi Bengkulu. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diniya, N., Rahayu, A., & Musafaah. (2016). Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Berat Bayi Baru Lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura Kabupaten Banjar. Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia, 3(3), 100–105. Hafid, W., Badu, F. D., & Laha, L. P. (2018). Analisis Determinan Kejadian Berat Bayi Lahir Rendah ( BBLR ) di RSUD Tani dan Nelayan. Gorontalo Journal of Public Health, 1(April), 1–7. Kemenkes RI. (2018). Hasil Utama Riskesdas 2018. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mamahit, N. T., Tandipajung, T., & Makausi, E. (2019). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Berat Badan Bayi Baru Lahir di Ruangan Maternal Rumah Sakit Umum Daerah Noongan. Buletin Sariputra, 9(1), 25–31. Manuaba, I. A. C., Manuaba, I. B. G. F., & Manuaba, I. B. G. (2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan Bidan (EGC). Setiawan. (2013). Hubungan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil Trimester III Dengan Berat Bayi Lahir di Kota Pariyaman. Artikel Penelitian, 2(1). Sohibien, G. P. D., & Yuhan, R. J. (2019). Determinan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Indonesia. Jurnal Aplikasi Statistika & Komputasi Statistik, 11(1), 1–14. https://jurnal.stis.ac.id/index.php/jurnalasks/article/download/182/70/ Suwarni. (2016). Hubungan Antara Paritas, Lila, Kadar Hb, dan Usia Ibu Hamil dengan Berat Bayi Lahir Bayi. Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia, 1(1). Syifaurrahma. (2016). Hubungan Anemia dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah. Jurnal Kesehatan Andalas, 5(2). Yanuarti, F. (2016). Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil Trimester III Terhadap Asfiksia Bayi Baru Lahir di BPS Ny. Zakiyah Hadi. Journal of Dharma Praja, 4(1), 10–13. 115