Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2621-2628 Kelayakan Usahatani Cabai Merah Monokultur Lahan Sawah dengan Sistem Irigasi Manual di Kapanewon Galur Kabupaten Kulon Progo Feasibility of Monoculture Red Chili Farming in Paddy Field with Manual Irrigation System in Kapanewon Galur Kulon Progo District Bintang Kusuma Yudha*. Francy Risvansuna Fivintari Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta *Email: bintang. yudha2014@gmail. (Diterima 19-03-2025. Disetujui 01-07-2. ABSTRAK Cabai merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki potensi untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya, penerimaan, pendapatan, keuntungan, dan kelayakan usahatani cabai merah monokultur di lahan sawah dengan sistem irigasi manual di Kapanewon Galur. Penentuan responden menggunakan metode sensus sehingga sampel yang di ambil 28 Hasil penelitian menunjukkan biaya produksi yang dikeluarkan petani cabai merah monokultur di lahan sawah dengan sistem irigasi manual per 1. 239,6 m2 sebesar Rp 13. 754,9, dengan memperoleh penerimaan sebesar Rp 21. 647,11, pendapatan sebesar Rp 11. 329,95, dan keuntungan sebesar Rp 7. 892,26. Kelayakan usahatani cabai merah monokultur di lahan sawah dengan sistem irigasi manual di Kapanewon Galur dilihat dari R/C sebesar 1,55, produktivitas lahan sebesar Rp 6. 474,17/m2 , produktivitas tenaga kerja sebesar Rp 311. 481,75/HKO, dan produktivitas modal sebesar 80,62%. Kata kunci: Cabai Merah. Irigasi Manual. Kelayakan. Sawah ABSTRACT Red chili is one of the horticultural commodities that has the potential to be developed because it has high economic value. This study aims to analyze the cost, revenue, income, profit, and feasibility of monoculture red chili farming in paddy fields with manual irrigation systems in Kapanewon Galur. Determination of respondents using the census method so that the samples taken were 28 farmers. The results showed that the production costs incurred by monoculture red chili farmers in paddy fields with manual irrigation systems per 239,6 m2 amounted to Rp 13. 754,9, by obtaining receipts of Rp 21. 647,11, revenues of Rp 329,95, and profits of Rp 7. 892,26. The feasibility of monoculture red chili farms in paddy fields with manual irrigation systems in Kapanewon Galur is seen from the R/C of 1,55, land productivity of Rp 474,17/m2 , labor productivity of Rp 311. 481,75/HKO, and capital productivity of 80,62%. Keywords: Feasibility. Manual Irrigation. Red Chili. Rice Field PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia disebut sebagai negara agraris karena memiliki sumber daya alam melimpah yang dapat membantu menunjang perekonomian bangsa. Sektor pertanian di negara ini menjadi salahsatu tempat mata pencaharian yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Pertanian memiliki peran penting bagi pendapatan sebagian besar masyarakat Indonesia, sehingga pertanian tidak dapat dipisahkan dari negara. Selain itu, sumberdaya pertanian yang ada di Indonesia juga beragam di mana setiap daerah memiliki karakteristik masing-masing sehingga hasil pertanian yang dihasilkan juga berbeda (Zuhdi, 2. Salahsatu subsektor tanaman pangan yang memiliki potensi besar dalam perkembangan perekonomian Indonesia yaitu sektor hortikultura. Hal ini dikarenakan tanaman pangan hortikultura termasuk kedalam tanaman pangan pokok masyarakat yang setiap harinya mengalami kenaikan permintaan selaras dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia. Sektor ini merupakan salahsatu sektor unggulan yang sangat 2 perlu dikembangkan oleh pemerintah untuk dapat meningkatkan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan nasional dibidang pertanian (Lawani dkk. , 2. Salahsatu tanaman hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan komersial adalah Kelayakan Usahatani Cabai Merah Monokultur Lahan Sawah dengan Sistem Irigasi Manual di Kapanewon Galur Kabupaten Kulon Progo Bintang Kusuma Yudha. Francy Risvansuna Fivintari tanaman cabai merah. Tanaman cabai merah memiliki peran penting dalam pola konsumsi masyarakat maka dari itu cabai merah berindikasi memiliki peluang pasar yang semakin luas. Kabupaten Kulon Progo adalah salahsatu daerah penghasil cabai merah yang mengalami peningkatan produksi secara signifikan di provinsi DIY. Berikut data statistik dari 5 kapanewon yang memiliki produktivitas tanaman cabai merah terbesar di Kulon Progo: Tabel 1. Data Statistik Peningkatan Produksi Cabai Merah di Kulon Progo Tahun 2022-2023 Luas Panen (H. Produksi . Produktivitas . w/h. Kapanewon Panjatan 116,28 130,51 Wates 105,81 147,67 Galur 104,91 155,63 Temon 112,89 151,92 Lendah 132,34 129,02 Sumber : BPS Kulon Progo Dalam Angka . Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa pada tahun 2022 dan 2023 tingkat produktivitas di setiap kapanewon mengalami kenaikan, kecuali pada Kapanewon Lendah. Kenaikan produktivitas di Kapanewon Galur memiliki kenaikan yang paling besar pada tahun 2022-2023 yaitu sebesar 50,72 kw/ha. Guna memanfaatkan luas lahan yang dimiliki, petani di Kapanewon Galur menggunakan sistem pola tanam monokultur. Pola tanam monokultur merupakan pola tanam yang digunakan saat melakukan budidaya dengan hanya menggunakan satu jenis komoditas yang terdapat dilahan dalam waktu yang sama, dan merupakan pola tanam yang paling banyak digunakan oleh petani di Kulon Progo saat ini. Terdapat beberapa persoalan yang dialami oleh petani di Kapanewon Galur seperti sulitnya mendapatkan pupuk subsidi. Sulitnya mendapatkan pupuk subsidi ini dikarenakan oleh tidak meratanya persebaran pupuk subsidi yang dilakukan pemerintah dan jumlah pasokan pupuk subsidi yang tidak sebanding dengan kebutuhan petani di Kapanewon Galur. Harga pupuk non-subsidi dipasaran memiliki harga lebih dari dua kali lipat dari harga pupuk subsidi. Seperti contohnya pupuk NPK yang menjadi salahsatu pupuk yang digunakan oleh petani di Kapanewon Galur memiliki perbedaan harga yang sangat signifikan untuk harga pupuk subsidi dan non-subsidinya. Harga pupuk NPK subsidi sebesar Rp 115. 000/50kg, sedangkan harga pupuk NPK non-subsidi sebesar Rp 000/25kg. Pada saat permasalahan ini muncul petani lebih memilih untuk menggunakan pupuk non-subsidi agar usahataninya tetap berjalan. Hal ini akan memberikan pengaruh yang signifikan pada besarnya biaya yang dikeluarkan petani dalam melakukan usahatani cabai merah di Kapanewon Galur. Permasalahan kedua yang dialami oleh petani di Kapanewon Galur yaitu hama. Hama juga menjadi salah satu persoalan yang sering dihadapi oleh petani. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan hama menyerang tanaman cabai merah, salahsatu yang memiliki peran paling besar adalah keadaan Lahan sawah memiliki kondisi lingkungan yang lembab dan akan memudahkan hama untuk berkembangbiak. Petani di Kapanewon Galur sendiri pada periode tanam Bulan Juni Ae September 2024 mengalami serangan hama pada tanaman cabai yang mereka tanam. Hama tersebut menyerang buah dan batang tanaman yang menyebabkan kualitas buah menurun bahkan tanaman bisa sampai mati. Untuk mengatasi permasalahan ini, petani akan mengeluarkan biaya untuk membeli pestisida. Petani akan menggunakan pestisida pada saat mulai ada tanda-tanda akan adanya Dengan adanya serangan hama ini, memberikan efek negatif kepada petani cabai merah di Kapanewon Galur karena produk hasil usahataninya akan mengalami penurunan kualitas dan biaya produksi akan meningkat. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Kapanewon Galur. Kabupaten Kulon Progo. Pemilihan tempat penelitian ini dipilih secara sengaja . dengan mempertimbangkan bahwa Kapanewon Galur memiliki produktivitas tertinggi di Kabupaten Kulon Progo tahun 2023 (Tabel . Berdasarkan hasil survei ke Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kapanewon Galur bahwa Kalurahan Pandowan serta Kalurahan Brosot menjadi kalurahan yang paling banyak memproduksi cabai merah menggunakan lahan sawah. Alasan dipilihnya Kalurahan Pandowan dan Kalurahan Brosot sebagai tempat penelitian juga karena petani di tempat penelitian memiliki kriteria yang sesuai dengan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2621-2628 penelitian ini yaitu usahatani cabai merah pada lahan sawah dengan sistem tanam monokultur menggunakan sistem irigasi manual. Populasi dalam penelitian ini adalah 28 petani yang melakukan usahatani cabai merah pada lahan sawah yang menggunakan sistem irigasi manual di Kalurahan Pandowan dan Kalurahan Brosot. Dari total petani cabai merah dilahan sawah dengan sistem tanam monokultur yang sebesar 28 petani, dipilihlah teknik pengambilan sampel sensus dalam penelitian ini. Artinya semua petani cabai merah anggota kelompok tani pada dua kalurahan tersebut diambil sebagai responden. Analisis data pada penelitian ini merupakan analisis kuantitatif yang dipergunakan untuk menganalisis kelayakan dari usahatani cabai merah monokultur pada lahan sawah yang menggunakan sistem irigasi manual. Persamaan tersebut dituliskan sebagai berikut: Total Biaya Produksi TC = TEC TIC Keterangan: TC = Total Cost (Biaya Tota. (R. TEC = Eksplisit Cost (Biaya Eksplisi. (R. TIC = Implisit Cost (Biaya Implisi. (R. Penerimaan TR = Q x P Keterangan: TR = Total Revenue (Total penerimaa. (R. Q = Jumlah Panen Cabai Merah (K. P = Harga Jual Cabai Merah (R. Pendapatan NR = TR Ae TEC Keterangan: = Pendapatan (R. = Total Revenue (Total penerimaa. (R. TEC = Total Eksplisit Cost (Total Biaya Eksplisi. (R. Keuntungan = NR Ae TIC Keterangan: = Keuntungan (R. NR = Pendapatan (R. TIC = Total Implisit Cost (Total Biaya Implisi. (R. Kelayakan Usahatani R/C Untuk mengetahui nilai R/C digunakan rumus : R/C = Keterangan: Penerimaan Total = Besarnya penerimaan yang diperoleh (R. Biaya total = Besarnya biaya yang dikeluarkan (R. Ketentuan: - Jika nilai R/C > 1, maka usahatani cabai merah layak untuk diusahakan - Jika nilai R/C = 1, maka usahatani cabai merah berada di titik impas - Jika nilai R/C < 1, maka usahatani cabai merah tidak layak untuk diusahakan Kelayakan Usahatani Cabai Merah Monokultur Lahan Sawah dengan Sistem Irigasi Manual di Kapanewon Galur Kabupaten Kulon Progo Bintang Kusuma Yudha. Francy Risvansuna Fivintari Produktivitas lahan Untuk menghitung produktivitas lahan digunakan rumus : PL = Keterangan: = Produktivitas Lahan (Rp/m. = Net Revenue (Pendapata. (R. Nilai TKDK = Nilai Tenaga Kerja Dalam Keluarga (R. BMS = Bunga Modal Sendiri (R. Ketentuan: - Usahatani cabai merah dapat dikatakan layak apabila nilai produktivitas lahan lebih besar daripada nilai sewa lahan yang berlaku di Kapanewon Galur. Produktivitas tenaga kerja Untuk menghitung produktivitas tenaga kerja digunakan rumus : PTK = Keterangan: PTK = Produktivitas Tenaga Kerja (Rp/HKO) = Net Revenue (Pendapata. (R. BMS = Bunga Modal Sendiri (R. Nilai SLS = Sewa Lahan Sendiri (R. Jumlah TKDK = Jumlah Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HKO) Ketentuan: - Jika produktivitas tenaga kerja Ou dari upah minimum harian Kabupaten Kulon Progo, maka usahatani cabai merah layak dilakukan. - Jika produktivitas tenaga kerja < dari upah minimum harian Kabupaten Kulon Progo, maka usahatani cabai merah tidak layak dilakukan. Produktivitas modal Untuk menghitung produktivitas modal digunakan rumus : PM = ycu 100 Keterangan: = Produktivitas Modal (%) = Net Revenue (Pendapata. (R. Nilai TKDK = Nilai Tenaga Kerja Dalam Keluarga (R. Nilai SLS = Nilai Sewa Lahan Sendiri (R. TEC = Total Eksplisit Cost (Total Biaya Eksplisi. (R. Ketentuan: - Apabila produktivitas modal Ou dari tingkat suku bunga pinjaman yang berlaku di Kapanewon Galur, maka usahatani cabai merah tersebut layak untuk dijalankan. - Apabila produktivitas modal < dari tingkat suku bunga pinjaman yang berlaku di Kapanewon Galur, maka usahatani cabai merah tersebut tidak layak untuk dijalankan. HASIL DAN PEMBAHASAN Total biaya merupakan keseluruhan biaya yang perlu dikeluarkan oleh petani dalam melakukan usahatani selama satu musim tanam. Biaya usahatani terdiri atas biaya eksplisit dan biaya implisit. Berikut total biaya produksi yang dikeluarkan cabai merah monokultur lahan sawah dengan sistem irigasi manual di Kapanewon Galur dapat dilihat pada tabel berikut. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2621-2628 Tabel 2. Penggunaan Biaya Usahatani Cabai Merah Monokultur di Lahan Sawah dengan Sistem Irigasi Manual di Kapanewon Galur Uraian Biaya (R. Persentase (%) Biaya Eksplisit Bibit Pupuk Pestisida Penyusutan Alat Biaya TKLK Biaya Sewa Lahan Pinjaman Modal Biaya Lain-lain Total Biaya Eksplisit Biaya Implisit Biaya Sewa Lahan Sendiri Biaya TKDK Bunga Modal Sendiri Total Biaya Implisit Total Biaya Produksi Tabel 2 merupakan uraian dari total biaya yang dikeluarkan petani dalam melakukan usahatani cabai merah di Kapanewon Galur. Total biaya terdiri atas biaya eksplisit dan biaya implisit. Usahatani cabai merah yang dilakukan oleh petani di Kapanewon Galur rata-rata mengeluarkan biaya eksplisit yang lebih besar dibandingkan biaya implisit. Rata-rata petani memiliki dari total biaya produksi yang terdiri atas 72% biaya eksplisit dan 28% biaya implisit. Sebagian besar biaya ekplisit digunakan untuk biaya TKLK atau sebesar 28% dari total biaya eksplisit. Selain digunakan untuk biaya TKLK, biaya eksplisit juga terdiri atas biaya pembelian bibit, pestisida, penyusutan alat, pupuk, sewa lahan, dan biaya lain-lain. Biaya lain-lain ini terdiri atas pengeluaran petani untuk membeli bahan bakar . dan iuran irigasi. Selain biaya eksplisit yang harus dikeluarkan petani dalam usahatani cabai merah, petani juga memperhitungkan biaya implisit walaupun biaya implisit tidak benar-benar secara nyata dikeluarkan oleh petani namun tetap harus diperhitungkan. Mayoritas petani memanfaatkan anggota keluarganya untuk membantu petani dalam usahatani cabai merah, sehingga biaya implisit yang paling besar dikeluarkan yaitu biaya tenaga kerja dalam keluarga. Sebesar 24% dari total biaya digunakan petani untuk biaya tenaga kerja dalam keluarga. Sebagai perbandingan penelitian yang dilakukan (Lulu , 2. menyatakan bahwa usahatani cabai merah di Desa Sragi Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi menunjukkan total biaya sebesar Rp 37. 833/musim tanam dengan luasan 1. Analisis Kelayakan Kelayakan usahatani merupakan suatu analisis yang digunakan untuk menentukan apakah suatu usahatani layak atau tidak untuk dijalankan. Perhitungan analisis kelayakan suatu usahatani dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode analisis, seperti analisis R/C, produktivitas lahan, produktivitas tenaga kerja, dan produktivitas modal. Analisis kelayakan ini dapat digunakan petani untuk mengambil keputusan yang lebih tepat dalam merencanakan dan mengelola usahatani mereka, sehingga kemungkinan mencapai kesuksesan dan keuntungan yang lebih tinggi akan semakin besar. Tabel 3. R/C Usahatani Cabai Merah Monokultur di Lahan Sawah dengan Sistem Irigasi Manual di Kapanewon Galur Uraian Biaya (R. Penerimaan Total Biaya R/C 1,47 Analisis R/C usahatani cabai merah monokultur lahan sawah dengan sistem irigasi manual di Kapanewon Galur diperoleh nilai 1,55 yang berarti usahatani cabai merah layak untuk diusahakan. Kelayakan Usahatani Cabai Merah Monokultur Lahan Sawah dengan Sistem Irigasi Manual di Kapanewon Galur Kabupaten Kulon Progo Bintang Kusuma Yudha. Francy Risvansuna Fivintari dikatakan layak karena sesuai dengan ketentuannya apabila nilai R/C yang diperoleh lebih dari 1 maka usahatani layak untuk diusahakan oleh petani. Nilai R/C 1,47 artinya setiap Rp 1. 000 yang dikeluarkan oleh petani akan menghasilkan Rp 1. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani ini tidak hanya menguntungkan, tetapi juga memiliki potensi untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi petani di Kapanewon Galur. Hal ini sejalan dengan penelitian (Shalsabilla dkk. , 2. menyatakan bahwa dalam usahatani cabai merah di Desa Kertojayan Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo memiliki nilai R/C sebesar 1,61 yang artinya menunjukkan bahwa penerimaan lebih besar dari total biaya yang dikeluarkan petani, maka usahatani cabai merah layak untuk diusahakan. Tabel 4. Produktivitas Lahan Usahatani Cabai Merah Monokultur di Lahan Sawah dengan Sistem Irigasi Manual di Kapanewon Galur Uraian Biaya (R. Pendapatan (R. Biaya TKDK (R. Biaya Bunga Modal Sendiri (R. Luas Lahan . Produktivitas Lahan (Rp/m ) Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui produktivitas lahan untuk usahatani cabai merah di Kapanewon Galur. Pada Kapanewon Galur, biaya sewa lahan yang berlaku sebesar Rp 4. 000/1. 400m2/tahun atau Rp 3. 200/m2/tahun atau Rp 1. 067/m2/musim. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani cabai merah monokultur lahan sawah dengan sistem irigasi manual di Kapanewon Galur layak untuk dilakukan, karena nilai produktivitas lahan lebih tinggi daripada biaya sewa lahan yang berlaku. Dengan adanya produktivitas lahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sewa lahan yang berlaku, dapat diketahui bahwa lahan sawah pertanian di Kapanewon Galur jauh lebih menguntungkan jika digunakan untuk berusahatani cabai merah dibandingkan dengan menyewakan lahan tersebut. Selain itu, tingginya produktivitas ini mencerminkan potensi lahan yang baik dan praktik pertanian yang efektif di daerah tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian (Rahayu dkk. , 2. , menyatakan bahwa produktivitas lahan usahatani cabai merah di Desa Wukirsari. Kecamatan Cangkringan. Kabupaten Sleman. Yogyakarta sebesar Rp 5. 184/m2 lebih besar dari biaya sewa lahan sebesar Rp 333/m2 per musim tanam. Tabel 5. Produktivitas Tenaga Kerja Usahatani Cabai Merah Monokultur di Lahan Sawah dengan Sistem Irigasi Manual di Kapanewon Galur Uraian Biaya (R. Pendapatan (R. Sewa Lahan Sendiri (R. Bunga Modal Sendiri (R. Jumlah TKDK (HKO) 35,63 Produktivitas Tenaga Kerja (Rp/HKO) Kelayakan produktivitas tenaga kerja dapat dinilai dengan membandingkan produktivitas tersebut dengan upah tenaga kerja harian yang berlaku. Jika produktivitas tenaga kerja lebih besar dibandingkan dengan upah tenaga kerja harian maka usahatani dianggap layak. Sebaliknya, jika produktivitas lebih rendah dibandingkan upah tenaga kerja harian maka usahatani tidak layak untuk Berdasarkan tabel 5 dapat diketahui besarnya produktivitas tenaga kerja dalam usahatani cabai merah monokultur lahan sawah dengan sistem irigasi manual di Kapanewon Galur. Hasil ini menunjukkan bahwa usahatani cabai merah monokultur lahan sawah dengan sistem irigasi manual di Kapanewon Galur layak untuk dilakukan, karena produktivitas tenaga kerja tersebut lebih besar dibandingkan upah tenaga kerja harian sebesar Rp 100. 000 untuk laki laki dan Rp 80. 000 untuk perempuan di Kapanewon Galur. Dengan demikian, petani cabai merah di Kapanewon Galur lebih baik mengerjakan usahatani cabai merahnya sendiri daripada menjadi buruh tani usahatani cabai merah oranglain. Hal ini sejalan dengan penelitian (Nova dkk. , 2. menyatakan bahwa produktivitas tenaga kerja pada usahatani cabai merah di Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang sebesar Rp 689. 708/HKO lebih besar dari upah tenaga kerja harian sebesar Rp 40. 000/HKO. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2621-2628 Tabel 6. Produktivitas Modal Usahatani Cabai Merah Monokultur di Lahan Sawah dengan Sistem Irigasi Manual di Kapanewon Galur Uraian Biaya (R. Pendapatan (R. Sewa Lahan Sendiri (R. Biaya TKDK (R. Biaya Eksplisit (R. Produktivitas Modal (%) Berdasarkan tabel 6, dapat diketahui besarnya produktivitas modal usahatani cabai merah monokultur lahan sawah dengan sistem irigasi manual di Kapanewon Galur. Sementara itu, tingkat suku bunga pinjaman bank yang berlaku adalah 6% per tahun atau setara dengan 2% per musim tanam cabai merah. Jika melihat hasil produktivitas modalnya dapat disimpulkan bahwa nilai produktivitas modal jauh lebih besar daripada suku bunga pinjaman yang berlaku, maka usahatani cabai merah monokultur lahan sawah dengan sistem irigasi manual di Kapanewon Galur layak untuk Produktivitas modal yang besar juga akan berdampak pada proses peminjaman modal berikutnya apabila petani membutuhkan kembali hal tersebut karena usahatani yang dilakukan petani memiliki produktivitas modal yang jauh lebih besar dibandingkan dengan suku bunga pinjaman bank. Hal ini sejalan dengan penelitan yang dilakukan oleh (Shalsabilla dkk. , 2. menunjukkan bahwa usahatani cabai merah di Desa Kertojayan Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo dianggap layak karena tingkat produktivitas modalnya mencapai 60,8%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat KUR yang hanya sebesar 6% pertahun. KESIMPULAN Dari hasil penelitian mengenai kelayakan usahatani cabai merah monokultur lahan sawah dengan sistem irigasi manual di Kapanewon Galur dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut. Total biaya usahatani cabai merah sebesar Rp 14. Total penerimaan yang diperoleh petani mencapai Rp 21. 647, menghasilkan pendapatan sebesar Rp 10. 306 dan keuntungan sebesar Rp 6. Berdasarkan analisis kelayakan usahatani cabai merah dengan sistem monokultur pada lahan sawah di Kapanewon Galur dapat dikatakan layak diusahakan dilihat dari R/C, produktivitas lahan, produktivitas tenaga kerja, dan produktivitas modal. DAFTAR PUSTAKA