Jurnal JAPS Volume 6. Nomor 3 Desember 2025 P-ISSN: 2722-161X E-ISSN: 2722-1601 DOI: 10. 46730/japs. Local Resources Development: Model Pembangunan Desa Berbasis Sumber Daya Lokal Untuk Menekan Angka Migrasi Internasional Yuyun Fitriani1. Ari Gusnita2. Eka Gustinasari3. Hasbi Maulana Yusuf4. Jordan Aditya Radenda5. Sulistiani6 1,2,4,5,6, Prodi Administrasi Publik. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Dharma Wacana Prodi Bisnis Digital. Fakultas Teknologi Bisnis dan Sains. Universitas Dharma Wacana Email: yuyunfitriani01. yf@gmail. Kata kunci Abstrak Membangun Desa. Sumber Daya Lokal. Migrasi. Tenaga Kerja. lapangan kerja Penelitian ini dilatarbelakangi tingginya migrasi masyarakat usia produktif di Kota Metro untuk bekerja ke luar negeri, sementara desa membutuhkan tenaga produktif untuk mengembangkan potensi lokal. Penelitian bertujuan menganalisis model pembangunan desa berbasis sumber daya lokal (Local Resources Developmen. sebagai upaya menekan migrasi internasional. Menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi dokumen dan wawancara, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi pertanian. UMKM, dan ekonomi kreatif belum optimal sehingga belum mampu mengurangi dorongan migrasi. Migrasi juga dipengaruhi sifat musiman sektor pertanian, keterbatasan permodalan, serta minimnya dukungan teknologi dan pemasaran digital. Model LRD yang ditawarkan menekankan pemanfaatan sumber daya alam, penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, peningkatan kapasitas SDM, serta kolaborasi pemerintah dan swasta. Model ini diharapkan menyediakan alternatif kerja berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga menekan migrasi internasional. Abstract This study is motivated by the high number of productive-age residents in Kota Metro who choose to work abroad, while villages still need productive human resources to develop their local potential. The research aims to analyze a Local Resources Development (LRD) model as an effort to reduce international migration. Using a descriptive qualitative method through document studies and interviews, the findings show that the utilization of local potential such as agriculture, micro, small and medium enterprises (MSME. , and the creative economy has not been optimal and therefore has not reduced migration pressures. Migration is further driven by the seasonal nature of agriculture, limited MSME capital, and the lack of technological and digital marketing support. The proposed LRD model emphasizes the use of natural resources, strengthening of creative economies based on local wisdom, capacity-building for human resources, and collaboration between government and the private sector. This model is expected to provide sustainable employment alternatives and improve community welfare, thereby reducing international migration. Keywords Village Development. Local Resources. Migration. Labor. Employment Pendahuluan Berdasarkan data yang yang dihimpun oleh BP2MI yang dapat diakses melalui https://satudata. id/ jumlah pekerja migran yang berasal dari Kota Metro tahun 2024 sebanyak 305 orang. Angka ini tergolong cukup tinggi apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Metro yang mencapai 170. 986 jiwa (BPS Kota Metro, 2. Dengan mempertimbangkan skala kota yang relatif kecil serta terbatasnya peluang kerja lokal, proporsi masyarakat yang memilih bekerja di luar negeri menunjukkan adanya dorongan kuat dari faktor ekonomi dan keterbatasan lapangan kerja di dalam daerah (Y. Lendra, 2. Kondisi ini sekaligus mencerminkan bahwa ketenagakerjaan di Kota Metro masih menghadapi tantangan serius dalam menyediakan kesempatan kerja yang memadai bagi masyarakat. Selanjutnya, berdasarkan data yang dihimpun oleh BP2MI (Satu Data KemenP2m. Jumlah Penempatan Pekerja Migran Indonesia Tahun 2025 (Sd. Februar. Berdasarkan Asal Provinsi Lampung PMI sejumlah 3. 535 orang yang terdiri dari 1,733 orang yang mendapatkan penempatan di bulan Januari dan 1,802 orang yang mendapatkan penempatan di bulan Februari. Dari data awal tersebut ditemukan bahwa jumlah pekerja migran Kota Metro yang mendapatkan penempatan pada bulan Januari sebanyak 20 orang dan pada bulan Februari sebanyak 21 orang sehingga total pekerja migran Kota Metro yang mendapatkan penempatan sebanyak 41 orang. Rata-rata mereka yang memilih untuk bekerja di luar negeri adalah masyarakat yang masuk dalam kategori usia produktif yang mana mereka memiliki energi dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan sosial yang sangat besar. Membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan merupakan salah satu asta cita yang dicanangkan oleh presiden Prabowo Subianto (Sabarudin, 2. Pembangunan desa berbasis sumber daya lokal berfokus pada pembangunan sumber daya manusia terutama generasi usia produktif karena pengembangan generasi muda berdampak langsung pada pemberdayaan masyarakat (Abdillah et al. , 2. Strukturisasi dan eskalasi ekonomi desa dapat dikerjakan dengan cara memberdayakan sumber daya yang tersedia dan dimiliki oleh di suatu desa secara efisien, efektif dan bijaksana (Suwardi. Srie Juli Rchmawatie, 2. Pembangunan desa dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi angka migrasi penduduk usia produktif bekerja ke luar negeri. Penyebab utama migrasi menurut pendekatan makro yaitu: Gaji yang berbeda antara negara asal dan negara penempatan (Fitriani, 2. Selain itu, permintaan pasar kerja luar negeri akan tenaga kerja yang tinggi juga menjadi penyebab migrasi Masyarakat Indonesia (Yuliartini & Mangku, 2. NegaraAenegara tujuan seperti Malaysia. Singapura. Hong Kong. Korea Selatan, hingga Timur Tengah membuka peluang kerja yang relatif besar bagi pekerja dengan keterampilan menengah ke bawah, khususnya di sektor domestik, konstruksi, dan manufaktur (Zaky et al. , 2. Sementara kondisi desa yang hampir semua masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani tidak bisa menjamin untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga. Masyarakat yang bekerja di luar negeri sebagai PMI pada umumnya berasal dari desa (Syahmat & Jumaah, 2. Banyaknya Masyarakat yang bekerja ke luar negeri membuat desa menjadi tertinggal dan sepi (Lendra & Fitriani, 2. Ketergantungan terhadap migrasi menyebabkan desa kehilangan sebagian besar penduduk usia produktif, sehingga aktivitas ekonomi lokal menurun dan pembangunan desa berjalan lambat. Sektor pertanian serta usaha kecil yang sebelumnya menjadi tulang punggung ekonomi desa mengalami kekurangan tenaga kerja, sementara kegiatan sosial budaya pun berkurang karena minimnya partisipasi masyarakat (Gusman et al. , 2. Migrasi sendiri merupakan perpindahan orang dari daerah asal ke daerah tujuan (Astuti, 2. Keputusan migrasi didasarkan pada perbandingan untung rugi yang berkaitan dengan kedua daerah tersebut. Tujuan utama migrasi adalah meningkatkan taraf hidup migran dan keluarganya (Putri & Nugroho, 2. Sementara itu, pembangunan desa tidak akan terwujud tanpa adanya partisipasi warga desa dan pemerintah desa dengan bergotong royong bersama membangun desa (Sarja, 2. Penelitian terdahulu sebagian besar berfokus pada pengembangan sumber daya lokal sebagai fondasi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penguatan ekonomi pedesaan, baik melalui optimalisasi sektor pertanian, pengembangan pariwisata berbasis komunitas, penguatan usaha mikro, maupun peningkatan kapasitas sosial melalui kelembagaan lokal. Kajian pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya pada prinsipnya menekankan bagaimana pemberdayaan ekonomi dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa, tetapi belum secara tegas mengaitkan berbagai upaya tersebut dengan dinamika migrasi internasional sebagai salah satu konsekuensi sosial yang Dengan kata lain, arah penelitian lebih tertuju pada upaya peningkatan ekonomi semata, bukan pada analisis apakah strategi berbasis sumber daya lokal mampu memengaruhi keputusan individu atau rumah tangga untuk bermigrasi ke luar negeri. Oleh karena itu, terdapat kesenjangan konseptual dan empiris dalam memahami keterkaitan antara strategi pembangunan berbasis sumber daya lokal dan fenomena mobilitas penduduk lintas negara. Kesenjangan ini terutama tampak pada belum adanya penelitian yang merumuskan mekanisme struktural, kultural, maupun ekonomi yang menjelaskan bagaimana pemanfaatan potensi lokal dapat memperkuat ketahanan desa, sehingga masyarakat tidak terdorong untuk bermigrasi. Walaupun beberapa literatur mengenai pemberdayaan komunitas dan pengembangan ekonomi lokal menyinggung dampak tidak langsung terhadap stabilitas sosial, belum ada model yang secara eksplisit mengaitkan pemanfaatan sumber daya lokal, penguatan modal sosial, ekonomi, dan kelembagaan yang berdampak pada penurunan dorongan migrasi internasional. Gap tersebut juga menunjukkan bahwa belum terdapat uji empiris yang menilai sejauh mana peningkatan peluang ekonomi lokal mampu menjadi substitusi bagi peluang ekonomi luar Pengembangan model pembangunan desa berbasis sumber daya lokal yang secara langsung mengaitkan pemberdayaan ekonomi, peningkatan kualitas hidup, penguatan identitas komunitas, hingga reduksi migrasi internasional menjadi kebutuhan penelitian yang penting. Keseluruhan gap ini membuka ruang bagi penelitian baru untuk merumuskan model konseptual yang lebih integratif dan menilai efektivitasnya melalui pendekatan empiris, sehingga menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih tajam dan kontekstual dalam mengendalikan fenomena migrasi internasional dari desa. Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini akan berfokus pada bagaimana model pembangunan desa berbasis sumber daya lokal untuk menekan angka migrasi Metode Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Metode kualitatif menurut (Harahap, 2. adalah penelitian yang bersifat induktif dengan menyajikan data secara menyeluruh dan dapat dianalisis secara terbuka. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 5 Kecamatan yang terdiri dari 22 Lurah, 2 informan dari Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kota Metro, dan 2 orang dari Dinas Koperasi. UMKM dan Perindustrian Kota Metro. Informan ini dipilih karena memiliki keterkaitan langsung dengan penelitian yang mana informan bertindak sebagai Stakehorder kunci yang dapat melakukan pengambilan keputusan tentang pengembangan desa/kelurahan yang berbasis pada sumber daya lokal. Lokasi penelitian dilakukan di Kota Metro karena merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat migrasi internasional cukup tinggi, terutama pada kelompok usia produktif, sehingga relevan untuk mengkaji upaya penekanan mobilitas tersebut melalui pengembangan sumber daya lokal. Teknik pengumpulan data berupa studi dokumen dan wawancara kepada informan penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik analisis data menurut miles dan Huberman yang terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan menyaring, merangkum, dan memfokuskan data mentah yang diperoleh dari wawancara, observasi, dan studi dokumen yang dilakukan terhadap Literature dan Peraturan yang mendukung (Fadilla & Wulandari, 2. Pada tahap ini, peneliti mengidentifikasi informasi yang relevan terkait potensi sumber daya lokal desa . eperti pertanian. UMKM, atau pariwisat. , faktor-faktor pendorong migrasi internasional, serta strategi pembangunan desa yang telah diterapkan. Tahap selanjutnya adalah penyajian data, yaitu penyusunan data yang telah direduksi ke dalam bentuk visual maupun naratif agar mempermudah peneliti dalam melihat pola, hubungan, dan kecenderungan yang muncul. Penyajian data berbentuk matriks perbandingan antar desa, diagram keterkaitan antara pembangunan lokal dengan perubahan kecenderungan migrasi, serta narasi deskriptif yang disertai kutipan dari informan sebagai pendukung interpretasi. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, di mana peneliti merumuskan temuan-temuan utama berdasarkan pola dan keterkaitan yang telah dianalisis sebelumnya. Kesimpulan ini kemudian diverifikasi melalui teknik triangulasi, pengecekan ulang data dengan informan . ember chec. , dan diskusi mendalam dengan narasumber kunci. Hasil akhir dari proses ini adalah sebuah model konseptual pembangunan desa berbasis sumber daya lokal yang dirancang untuk menekan angka migrasi internasional secara berkelanjutan. Model ini diharapkan mampu menjadi alternatif kebijakan pembangunan yang lebih kontekstual, partisipatif, dan berpihak pada potensi lokal desa. Hasil dan Pembahasan Migrasi internasional sering dipicu oleh kombinasi push factors ekonomi . etidakmampuan memperoleh pendapatan laya. , kurangnya layanan publik, dan ketidakpastian masa depan (Fitriani et al. , 2. Model pembangunan berbasis sumber daya lokal (Local Resources DevelopmentAiLRD) muncul sebagai strategi untuk mengurangi tekanan migrasi dengan memaksimalkan aset lokal alam, manusia, budaya, dan sosial untuk menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan rumah Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan desa berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksana Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana desa, pengembangan potensi ekonomi lokal, dan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan. Agar tujuan tersebut dapat terwujud, maka diperlukan perencanaan pembangunan desa yang baik (Jaya et al. , 2. Agar pembangunan desa berjalan dengan baik perlu adanya partisipasi Pembangunan partisipatif harus dimulai dengan keterlibatan masyarakat sebagai manusia yang memiliki aspirasi dan paling mengetahui tentang kebutuhannya. Tujuan akhirnya adalah menunjang kegiatan masyarakat yang diharapkan dapat mendukung keberhasilan pembangunan desa. Untuk membangkitkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa, salah satu kegiatan yang perlu dilakukan adalah pemberdayaan masyarakat (Katili et al. , 2. Dalam Undang-Undang tentang Desa Nomor 6 Tahun 2014 butir 12 disebutkan bahwa Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah Upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat desa (Kiki Endah, 2. Friedmann . menyebutkan bahwa konsep pemberdayaan sebagai suatu alternatif pembangunan yang memberikan keleluasaan masyarakat untuk mengambil Keputusan yang didasarkan pada sumberdaya pribadi, bersifat langsung, demokratis dan pembelajaran sosial melalui pengalaman langsung. Fokus utama pemberdayaan, menurut Friedmann, adalah sumberdaya lokal (Windari, 2. Penelitian terdahulu telah menunjukkan pemberdayaan berbasis sumber daya lokal memiliki dampak positif dalam mengurangi kemiskinan. Ketika komunitas dapat mengenali dan mengoptimalkan asset-aset lokal mereka, maka mereka dapat mengatasi berbagai tantangan sosial dan ekonomi secara lebih efektif (Najamudin & Al Fajar, 2. Aset komunitas dalam konteks pemberdayaan masyarakat berbasis sumber daya lokal adalah sebuah konsep yang menekankan pentingnya identifikasi dan pemanfaatan segala jenis sumber daya yang dimiliki oleh komunitas (Wibhisana, 2. Aset-aset ini dapat berupa aset fisik, manusia, dan sosial, yang semuanya saling terkait dan dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta membantu pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Aset fisik merupakan sumber daya yang nyata dan dapat diukur, seperti tanah, air, kekayaan alam, dan infrastruktur yang ada di dalam suatu komunitas (Rahman et al. , 2. Aset manusia berfokus pada kapasitas individu dalam komunitas, termasuk keterampilan, pengetahuan, pengalaman yang mereka serta miliki. Aset ini sangat penting karena memberikan dasar bagi kemampuan komunitas untuk mengelola dan mengoptimalkan sumber daya yang ada (Mahmudah & Supiah, 2. Selain itu, pendidikan dan meningkatkan pelatihan keterampilan yang dapat memperkuat aset manusia ini dan membantu masyarakat untuk bersaing dalam dunia ekonomi yang lebih luas. Aset sosial mencakup jaringan sosial yang ada di dalam komunitas, termasuk hubungan antar individu, kelompok, organisasi masyarakat, dan kelembagaan lokal. Kekuatan jaringan sosial ini menjadi faktor penting dalam keberhasilan pemberdayaan komunitas. Di Kota Merto itu sendiri penekanan arah kebijakan utama yang disampaikan Wali Kota Bambang pada RPJMD tahun 2025-2029 adalah pembangunan sumber daya manusia dengan Peningkatan kualitas pendidikan berkarakter dan perluasan akses serta mutu layanan kesehatan. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik . ood governanc. dan pelayanan publik yang prima. Pemberdayaan UMKM dengan penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi. Kota Metro sendiri memiliki 5 Kecamatan dan 22 Kelurahan yang terdiri dari: Tabel 1. Data Kecamatan dan Kelurahan di Kota Metro Kecamatan Kelurahan Jumlah Metro Selatan Margodadi. Margorejo. Rejomulyo. Sumbersari Ganjar Agung,Ganjar Asri,Mulyojati. Mulyosari Metro Barat Metro Timur Iringmulyo. Tejo Agung. Tejosari. Yosodadi. Metro Pusat Metro Utara Yosorejo Hadimulyo Barat. Hadimulyo Timur. Imopuro. Metro. Yosomulyo Banjarsari. Karangrejo. Purwoasri. Purwosari Jumlah Sumber: BPS Kota Metro tahun 2025 Berdasarkan data diatas Kota Metro memiliki 22 kelurahan sehingga jumlah masyarakat yang menjadi PMI juga tersebar hampir di seluruh kelurahan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan demografis yang beragam. Fakta bahwa masyarakat yang menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) tersebar hampir di seluruh kelurahan menunjukkan bahwa fenomena migrasi internasional merupakan persoalan struktural yang dialami oleh berbagai lapisan masyarakat. Penyebab utamanya dapat ditelusuri pada keterbatasan kesempatan kerja, tingkat pendapatan lokal yang relatif rendah, serta adanya aspirasi masyarakat untuk memperoleh penghasilan yang lebih tinggi di luar negeri. Oleh karena itu, migrasi PMI di Kota Metro tidak dapat dipandang sebagai permasalahan individual, melainkan sebagai fenomena kolektif yang memerlukan strategi penanganan komprehensif melalui kebijakan pembangunan daerah berbasis pemberdayaan Sumber: Pendataan Potensi Desa (Ponde. BPS Tahun 2025 Gambar diatas menunjukkan jumlah desa atau kelurahan berdasarkan keberadaan warga yang sedang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Dari total desa/kelurahan yang tercatat, terdapat 20 desa atau kelurahan yang memiliki warga bekerja sebagai PMI/TKI, sementara hanya 2 desa atau kelurahan yang tidak memiliki warga bekerja sebagai PMI/TKI. Fakta ini menegaskan bahwa migrasi internasional masih menjadi pilihan dominan bagi masyarakat desa untuk mencari penghidupan. Kota Metro sendiri memiliki potensi sektor ekonomi yang merupakan sektor unggulan dengan kriteria sektor ekonomi tersebut maju dan tumbuh pesat, memiliki kemampuan bersaing . , dan merupakan sektor basis adalah sektor . pengadaan listrik dan gas, . perdagangan besar dan eceran. reparasi mobil dan sepeda motor, . real estate, . jasa perusahaan, . jasa pendidikan, . jasa lainnya. Sementara itu subsektor ekonomi Kota Metro yang merupakan subsektor unggulan adalah . industri furniture, . ketenagalistrikan, . perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya, . asuransi dan dana pensiun, dan subsektor . jasa keuangan lainnya (Haniyah & Pramono, 2. Hasil penelitian yang dilakukan di lima kecamatan di Kota Metro menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum sepenuhnya menunjukkan komitmen yang kuat dalam menekan angka migrasi penduduk melalui strategi pengembangan potensi lokal. Kondisi ini tercermin dari belum optimalnya program pembangunan yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya lokal, baik dalam bidang pertanian, ekonomi kreatif, maupun pengembangan sumber daya manusia. Padahal, penguatan potensi lokal diyakini mampu menjadi instrumen efektif dalam menyediakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mengurangi dorongan migrasi ke luar negeri. Sebagaimana dinyatakan oleh Todaro dan Smith . , migrasi internasional seringkali dipicu oleh ketidakseimbangan antara ketersediaan kesempatan kerja di daerah asal dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik di luar negeri. Oleh karena itu, tanpa adanya intervensi yang serius dari pemerintah daerah dalam mengoptimalkan aset lokal, maka kecenderungan migrasi penduduk akan tetap tinggi (Fitriani et al. , 2. Dalam konteks Model Pembangunan Desa Berbasis Sumber Daya Lokal, upaya yang dapat dilakukan antara lain berupa pemanfaatan sumber daya alam desa, penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Peningkatan kapasitas SDM desa dan kolaborasi antara pemerintah dan swasta dalam membangun desa. Pemanfaatan sumber daya alam desa . ertanian, perikanan, perkebunan, wisata ala. untuk menciptakan usaha produktif dan berkelanjutan (Ewert et al. , 2. Kecamatan Metro Selatan, masyarakat dapat mengembangkan pertanian hortikultura . ayuran, cabai, dan buah-buahan seperti pepaya Californi. yang dikombinasikan dengan wisata edukasi pertanian. Lahan sawah juga bisa dimanfaatkan untuk agrowisata padi sehingga tidak hanya menghasilkan beras tetapi juga menarik pengunjung. Selain itu, beberapa wilayah perdesaan Metro masih potensial untuk budidaya ikan air tawar . ele, gurame, nil. yang dipasarkan ke pasar tradisional Metro dan daerah sekitarnya. Dalam konteks model pembangunan desa berbasis sumber daya lokal, upaya pengelolaan sumber daya alam tersebut dapat dikonsolidasikan melalui pemberdayaan komunitas, peningkatan kapasitas petani, serta penguatan kelembagaan lokal. Pendekatan ini menekankan bahwa pembangunan desa tidak hanya mengandalkan intervensi eksternal, tetapi juga memaksimalkan kekuatan desa itu sendiri. Melalui pemetaan aset lokal baik sumber daya alam, manusia, maupun budaya desa dapat merancang strategi pembangunan yang sesuai karakteristiknya. Keterkaitan antara pemanfaatan sumber daya alam desa dan upaya menekan angka migrasi internasional terlihat dari peningkatan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat desa. Migrasi ke luar negeri banyak dipicu oleh faktor ekonomi, khususnya rendahnya pendapatan, kurangnya lapangan pekerjaan, dan minimnya akses usaha. Ketika pemanfaatan sumber daya alam dilakukan secara optimal melalui model pembangunan berbasis potensi lokal, tercipta peluang ekonomi baru seperti usaha tani hortikultura, usaha perikanan, pengolahan hasil pertanian, serta agrowisata. Diversifikasi ekonomi desa ini secara langsung meningkatkan pendapatan, membuka lapangan pekerjaan, dan mengurangi tekanan ekonomi yang mendorong masyarakat bekerja di luar negeri. Sementara itu, penguatan kelembagaan seperti koperasi tani, kelompok wanita tani, atau BUMDes sangat diperlukan untuk memperkuat model pembangunan lokal. Kelembagaan tersebut berperan dalam pengelolaan modal, pemasaran, hingga inovasi Ketika rantai ekonomi desa tersambung dengan pasar lokal maupun digital, nilai tambah produk meningkat, dan masyarakat merasakan manfaat ekonomi yang lebih Stabilitas ini menjadi faktor pencegah migrasi, karena masyarakat melihat peluang yang menjanjikan di desa tanpa harus mengambil risiko bekerja di luar negeri. Salah satu contoh penguatan kelembagaan yang dilakukan oleh pemerintah yakni di KWT Sahabat Tani Sejahtera Banjarsari. KWT ini dikelola oleh ibu-ibu yang sebagian anggotanya adalah purna PMI. Purna PMI adalah sebutan yang diperuntukkan bagi orang yang pernah bekerja di luar negeri sebelumnya. KWT tani Sejahtera berhasil mengelola lahan kebun milik desa. KWT ini mengelola lahannya dengan membagi lahan menjadi lahan yang dapat menghasilkan uang dengan kurun waktu mingguan dan bulanan. Lahan mingguan ditanami sayur mayur sedangkan lahan bulanan ditanami tumbuhan rimpang seperti jahe, kunyit, serai, kencur, dan tumbuhan lainnya yang dapat digunakan sebagai bahan dasar obat-obatan. Dari sini anggota KWT bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pemanfaatan sumber daya alam desa di Kota Metro dapat menghadirkan solusi strategis untuk menekan migrasi internasional. Pendekatan ini tidak hanya menekankan peningkatan produktivitas sektor riil, tetapi juga transformasi sosial dan ekonomi masyarakat desa menuju kemandirian. Keberhasilan model ini bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, serta perguruan tinggi dalam menciptakan inovasi, pendampingan, dan kebijakan yang mendukung penguatan ekonomi lokal. Dengan demikian, desa mampu berkembang sebagai ruang hidup yang produktif dan berdaya saing, sehingga masyarakat tidak perlu mencari penghidupan di luar negeri. Penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, seperti kerajinan tangan, kuliner khas, atau seni budaya, agar memiliki daya saing di pasar lokal maupun global di Kota Metro telah dilaksanakan di beberapa kelurahan. Sumber: Pendataan Potensi Desa (Ponde. BPS Tahun 2025 Gambar diatas merupakan Gambaran persebaran kelurahan di Kota Metro yang memiliki produk unggulan yang dapat dijadikan komoditas utama kelurahan. Untuk memperkuat ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Kota Metro, beberapa strategi perlu dijalankan secara simultan. Pertama, pemetaan potensi lokal: identifikasi secara detail kerajinan tangan, kuliner khas, atau seni budaya yang unik di Metro seperti kecukupan bahan baku lokal, keahlian artisan setempat, motif/cerita budaya, sampai pada rantai pasok lokal. Kedua, pelatihan peningkatan kapasitas untuk para pelaku kreatif (UMKM, pengrajin, senima. agar mereka menguasai teknik produksi berkualitas, manajemen usaha, standar mutu, desain sesuai pasar, dan penguasaan teknologi . ermasuk digital marketin. Ketiga, kolaborasi antar pemangku kepentingan . emerintah kota, perguruan tinggi, komunitas budaya, pelaku industri kreatif lokal, sektor swast. agar ada sinergi dalam hal pendanaan, promosi, regulasi, serta fasilitasi akses pasar. Keempat, transformasi model bisnis dengan inovasi memanfaatkan platform digital untuk pemasaran dan distribusi, penggunaan kemasan dan branding yang menarik, diversifikasi produk agar cocok dengan permintaan pasar global tanpa kehilangan identitas lokal. Kelima, pelestarian dan penguatan kearifan lokal sebagai bagian dari nilai jual motif, cerita, teknik tradisional harus dijaga dan dikembangkan agar tidak punah. juga mendorong pariwisata budaya yang bisa memperluas pasar. Keenam, dukungan infrastruktur, regulasi, dan akses modal, misalnya ruang produksi bersama, akses kredit/hibah/pembiayaan mikro, regulasi yang memudahkan Izin Usaha Industri Kreatif, dan standardisasi. Terakhir, berkelanjutan & monitoring evaluasi, dengan melakukan riset terapan agar strategi terus diperbaiki sesuai feedback pasar, tren konsumen, dan perkembangan teknologi. Hal ini telah dilaksanakan oleh masyarakat di Kecamatan Metro Barat dan Metro Pusat yang dapat mengembangkan kerajinan tangan berbahan bambu dan ecoprint dari daun lokal yang saat ini sedang tren. Produk kuliner khas Metro, seperti keripik pisang, emping melinjo, dan kue tradisional . ue lupis, seruit Lampun. bisa dikemas lebih modern untuk dijual di pasar oleh-oleh maupun e-commerce. Seni budaya seperti tari kreasi Lampung dan musik gamolan bisa dipromosikan sebagai paket hiburan wisata. Soft launching Metro Creative Hub sekaligus penyaluran bantuan untuk UMKM seperti plang nama, etalase kaca, freezer. AC, gerobak pedagang, etalase, celemek, payung pedagang, dll. Ini bertujuan menguatkan pusat-pusat kreatif di kecamatan/kelurahan sebagai wadah usaha kreatif masyarakat. Pasar kretif lainnya yang ada di Kota Metro dan mampu menjadi daya Tarik wisatawan adalah pasar payungi yang terletak di Kelurahan Yosorejo. Pasar payungi pada dasarnya adalah pasar kuliner yang digelar satu minggu sekali yakni setiap hari minggu. Berbagai macam makanan tersedia disana dari makanan ringan seperti jananan hingga makanan khas seperti gudeg. Omset yang didapatkanpun bisa mencapai ratusan juta rupiah sekali gelaran. Pedagang yang dapat berdagang di pasar payungi hanyalah masyarakat sekitar Lokasi pasar payungi yakni yang tinggal di Kelurahan Yosorejo sehingga keberadaan pasar ini sangat berdampak pada perekonomian masyarakat Kelurahan Yosorejo dan secara tidak langsung juga menekan angka migrasi internasional karena masyarakat bisa mendapatkan rejeki yang cukup di kampungnya. Peningkatan kapasitas SDM desa, misalnya melalui pelatihan kewirausahaan, digital marketing, serta akses permodalan, sehingga masyarakat mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Pemerintah Kota Metro dapat menyelenggarakan pelatihan digital marketing untuk UMKM desa agar produk lokal dapat dipasarkan melalui platform online seperti Shopee. Tokopedia, dan media sosial. Selain itu, pelatihan kewirausahaan berbasis potensi lokal . isalnya, cara mengolah hasil pertanian menjadi produk olahan bernilai tamba. dapat dilakukan bekerja sama dengan perguruan tinggi seperti IAIN Metro dan Universitas Muhammadiyah Metro. Akses permodalan dapat difasilitasi melalui Koperasi Simpan Pinjam atau Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kolaborasi dengan pemerintah dan swasta untuk memperluas akses pasar produk desa, sehingga hasil produksi lokal bisa lebih menguntungkan daripada harus bekerja di luar negeri. Kolaborasi antara pemerintah dan swasta menjadi kunci penting dalam memperluas akses produk ekonomi kreatif di Kota Metro. Pemerintah dapat berperan sebagai fasilitator dengan menyediakan regulasi yang mendukung, infrastruktur promosi, serta akses permodalan melalui program kredit usaha rakyat atau hibah. Sementara itu, sektor swasta dapat berkontribusi dalam aspek distribusi, pemasaran, dan inovasi produk, misalnya melalui kerja sama dengan retail modern, e-commerce, hingga jejaring pariwisata (Fauziah & Al Amrie, 2. Bentuk kolaborasi konkret misalnya pemerintah Kota Metro menggelar festival kuliner dan kerajinan lokal, lalu menggandeng pelaku usaha swasta seperti pusat perbelanjaan, kafe, atau marketplace untuk menyalurkan produk UMKM agar menjangkau konsumen yang lebih luas. Selain itu, pihak swasta dapat menyediakan pelatihan digital marketing, packaging, hingga branding, sehingga produk kreatif Metro tidak hanya dikenal di pasar lokal tetapi juga menembus pasar nasional dan global. Dengan pola publicAeprivate partnership ini, produk berbasis kearifan lokal seperti batik Metro, kerajinan tangan, maupun kuliner tradisional akan memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih kuat. Produk-produk lokal seperti kopi Metro, keripik pisang, dan batik Lampung dapat dipromosikan melalui event pemerintah . ameran UMKM. Festival Putri Nuba. serta kerja sama dengan ritel modern (Alfamart. Indomaret, dan supermarket loka. untuk pemasaran. Selain itu, pihak swasta seperti perbankan dan marketplace digital dapat menjadi mitra dalam membuka akses modal dan pasar, sehingga hasil produksi masyarakat Metro lebih menguntungkan dan berkelanjutan dibandingkan mencari kerja ke luar negeri. Dengan pendekatan ini, desa tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat produksi dan inovasi berbasis potensi lokal. Jika model pembangunan desa berbasis sumber daya lokal dijalankan dengan baik, maka masyarakat memiliki alternatif pekerjaan dan pendapatan yang layak di kampung halaman, sehingga motivasi untuk bermigrasi ke luar negeri akan berkurang secara signifikan. Model pengembangan sumber daya lokal di Kota Metro hingga saat ini belum berjalan dengan optimal sehingga belum mampu menekan angka migrasi masyarakat. Upaya pengembangan sebenarnya telah dilakukan, seperti melalui sektor pertanian dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, implementasinya masih bersifat parsial dan belum Sektor pertanian, misalnya, masih didominasi oleh pola usaha musiman yang kurang berkesinambungan, sehingga tidak memberikan jaminan penghidupan yang stabil bagi masyarakat. Sementara itu, pengembangan UMKM masih menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari aspek permodalan, pemasaran, maupun dukungan teknologi. Kondisi ini menyebabkan potensi lokal belum sepenuhnya mampu dimanfaatkan sebagai alternatif sumber penghidupan yang layak, sehingga migrasi tetap menjadi pilihan sebagian masyarakat. Sebaliknya, bekerja sebagai PMI di luar negeri menawarkan pendapatan yang lebih tinggi, stabil, dan dapat dikirim secara rutin kepada keluarga di tanah air. Selain itu, kontrak kerja di negara tujuan biasanya memberikan kepastian waktu, gaji, dan fasilitas yang tidak selalu tersedia pada lapangan kerja lokal. Faktor inilah yang membuat masyarakat menilai migrasi internasional sebagai pilihan yang lebih menjanjikan dibandingkan mengandalkan sektor pertanian musiman atau UMKM yang belum berkembang maksimal di Kota Metro. Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa tingginya migrasi internasional masyarakat Kota Metro bukan sekadar akibat keterbatasan lapangan kerja dan rendahnya pendapatan lokal, tetapi juga merupakan implikasi dari belum berfungsinya struktur ekonomi lokal sebagai penyangga kesejahteraan. Pembangunan desa berbasis sumber daya lokal memang menawarkan potensi sebagai strategi pengendalian migrasi. efektivitasnya terhambat oleh lemahnya institusionalisasi program dan minimnya integrasi antarpemangku kepentingan. Sektor pertanian. UMKM, dan ekonomi kreatif belum memberikan dampak signifikan bagi pendapatan masyarakat karena karakteristiknya yang musiman, keterbatasan adopsi teknologi, dan minimnya konektivitas pasar. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa desa belum mampu mengelola keunggulan lokalnya menjadi sumber akumulasi ekonomi yang stabil, sehingga masyarakat tetap terdorong untuk bermigrasi. Oleh sebab itu, diperlukan penguatan model pembangunan desa melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam secara produktif dan berkelanjutan untuk membentuk basis ekonomi yang resilien. revitalisasi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal sebagai diferensiasi daya saing. peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan kewirausahaan guna membangun kompetensi ekonomi. serta pembentukan jejaring kolaboratif pemerintahAe swasta untuk memastikan kepastian akses pasar dan permodalan. Apabila strategi tersebut dijalankan secara terintegrasi, maka struktur ekonomi lokal akan menguat, peluang kerja akan tercipta, dan intensi masyarakat untuk bermigrasi ke luar negeri dapat ditekan secara Referensi