Drama Politik dalam Ingatan dan Visualisasi Seorang Pelukis Kajian Kritis Terhadap Trilogi Lukisan Karya Djokopekik Drama Politik dalam Ingatan dan Visualisasi Seorang Pelukis Kajian Kritis Terhadap Trilogi Lukisan Karya Djokopekik Suwarno Wisetrotomo1. Pradani Ratna Pramastuti2 Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Suryodiningratan 8. Yogyakarta Tlp: 0811251037 Email: 1suwarno. wisetrotomo@gmail. 2pradaniratna@gmail. ABSTRACT Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia in 1965 was a political tragedy that became a dark part of Indonesian history, it left trauma for many Indonesian people. Artists are not exceptions, a number of them were accused communist due to their involvement in artistsAo studios, or Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA). Their members were hunted, arrested and put behind bars. One of them was Djokopekik, who used to be active in Sanggar Bumi Tarung. He left Yogyakarta to Jakarta but was finally arrested and jailed in Vredeburgh Fortress and Wirogunan Prison. His works were exhibited in Indonesian Cultural Exhibition in the United States (KIAS 1990/1. His work covered humanity and justice issues. His three paintings (Trilog. have a long naration about himself: Lintang Kemukus . Sirkus September . , and Indonesia Berburu Celeng . which become the focus of this research. The approach used in this research is cultural and media study, with a descriptive method. Djokopekik works can be considered a way to heal from the political violence and trauma. Keywords: political drama, trauma healing. KIAS exhibition. New Ord ABSTRAK Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia 1965 merupakan tragedi politik sejarah gelap bangsa Indonesia, yang masih menyisakan pengalaman traumatis pada sebagian warga bangsa. Tak terkecuali, kalangan seniman, banyak yang terseret, karena keterlibatannya di sanggar seni atau Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA). Mereka yang terlibat diburu, ditangkap, dan Salah seorang di antaranya adalah Djokopekik, pernah aktif di Sanggar Bumi Tarung. Ia berupaya lari dari Yogyakarta ke Jakarta, dan akhirnya tertangkap, kemudian dipenjara di Benteng Vredeburgh dan Wirogunan. Djokopekik menuai sukses setelah karyanya dipamerkan pada Pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS, 1990/1. Tema karyanya sekitar persoalan kemanusiaan dan keadilan. Tiga karya . memiliki narasi panjang terkait dirinya adalah Lintang Kemukus . Sirkus September . , dan Indonesia Berburu Celeng . yang menjadi fokus penelitian ini. Metode menggunakan pendekatan kajian budaya dan media, utamanya kajian kritis ekonomi politik, serta bersifat deskriptif. Karya-karya Djokopekik dapat dimaknai sebagai penyembuhan . dari trauma kekerasan politik. Kata kunci: drama politik, penyembuhan trauma, pameran KIAS, kajian budaya. Orde Baru Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Suwarno Wisetrotomo. Pradani Ratna Pramastuti PENDAHULUAN 30 September atau G30S/PKI. Sanggar Bumi Jika karya seni dilahirkan bukan dari Tarung didirikan pada tahun 1961 oleh ruang hampa, maka hal ini menunjukkan, sejumlah pelukis. Nama Bumi Tarung Auadalah sandi bagi komitmen untuk membela kaum AusesuatuAy . de, pesan, ekspresi jiwa, atau Begitu PKI dinyatakan sebagai partai temeh, atau besar dan penting, yang ingin terlarang maka siapa pun yang terlibat di dikomunikasikan kepada orang lain. Seperti dalamnya, atau organisasi lainnya dengan AusesuatuAy ideologi yang sama, apa pun perannya, diburu, yang menjadi pemicu, tetap merupakan ditangkap, dan dipenjara oleh aparatus penentu kualitas karya seni yang digubah. AuSesuatuAy merupakan sumber ide, spirit, pada 8 November 1965, tidak mengalami dan pusat orientasi kekaryaannya, sekaligus penjara Pulau Buru, tetapi hanya di wilayah sumber energi seniman. Hasrat seniman Yogyakarta. di ruang tahahan sementara Benteng Vredeburgh dan akhirnya di penjara AusesuatuAy Wirogunan. Djokopekik dipenjara selama 7 AudisimpanAy dalam karyanya itulah maka, ia . tahun, kemudian dibebaskan, kembali terus berkarya untuk menyuarakan pesan berkumpul dengan keluarganya, dan terus Ketika karya sudah berada melukis (Wardaya, 2022, hlm. 147 dan 2013, di ruang publik, berikutnya adalah tugas BUruh dan TAniAy (Wardaya, 2013, hlm. penonton untuk menelusuri, menemukan, atau memaknai pesan yang tersembunyi itu. Salah seorang pelukis yang penuh ide . Djokopekik Sebagai bekas tahanan politik, tidak Djokopekik menikmati kebebasan itu, terutama aspek dan energi untuk melukis adalah Djokopekik . Energinya didapatkan dari sosial, sejak dibebaskan pada tahun 1972 Ae ia mengalami semacam pengucilan, karena tidak ia menjadi tahanan politik tanpa proses setiap orang berani secara terbuka bergaul pengadilan (Wawancara dengan Djokopekik. Di alam bebas pun, seperti dicatat 7 September 2. Penyebabnya adalah ketika oleh sejarawan Baskara T Wardaya . 3, ia tergabung dalam Sanggar Bumi Tarung, 27-. AuAia tetap diperlakukan seperti yang ditengarai para eksponennya adalah orang tahanan. Hak-hak politiknya dicabut. para pelukis yang memiliki afiliasi dengan Kartu tanda pengenalnya diberi kode khusus Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA) pada bahwa dia adalah mantan tahanan politik Ae 1950-1965, organisasi kebudayaan di bawah yang anehnya justru lebih ditakuti masyarakat naungan . Partai Komunis Indonesia daripada mantan tahanan kriminalAy. Hal itu (PKI), yang akhirnya menjadi partai terlarang, terjadi akibat dari kebijakan politik era Orde menyusul peristiwa pembunuhan 6 . Baru yang disebut Aubersih lingkunganAy, yakni orang jenderal, yang populer disebut Gerakan melacak genealogi dan jejaring pergaulan Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Secara Drama Politik dalam Ingatan dan Visualisasi Seorang Pelukis Kajian Kritis Terhadap Trilogi Lukisan Karya Djokopekik seseorang, apalagi bagi Pegawai Negeri Sipil seorang istri dan delapan anak dijalani dengan (PNS) atau pegawai Badan Usaha Milik Negara tidak mudah. (BUMN). Maksudnya, jika seseorang adalah Seperti sudah disebutkan, semangat aparatus negara, baik PNS. BUMN, anggota Djokopekik untuk melukis tidak pernah Tentara Nasional Indonesia . ulu disebut surut, bahkan tidak pernah berhenti. Dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/ berbagai cara, misalnya menggunakan sisa-sisa ABRI), maka harus bersih dari anasir partai cat minyak yang disumbangkan oleh maestro terlarang PKI. Kebijakan politik semacam dan seniornya, pelukis Affandi, ia dapat ini menimbulkan diskriminasi sosial-politik- melukis, dengan segenap keteguhan. Ia tetap ekonomi yang memiliki dampak luar biasa, fokus pada tema-tema manusia, kemanusiaan, tidak saja bagi yang terkena langsung, tetapi kesenjangan sosial, dan komentar kritis pada bahkan mengenai keluarganya dan orang- situasi sosial politik . ocial-politically correc. di orang dekatnya. Indonesia. Karya-karya Djokopekik pada era Di tengah kehidupan yang sulit itu, ini . 0-1990-a. berkisar pada pengamatan Djokopekik terus melukis. Untuk menghidupi dan penghayatan pada kehidupan diri dan keluarganya, juga realitas di sekitarnya. penjahit busana, utamanya untuk laki-laki. Titik Djokopekik dengan merek usaha LOGRO terletak di adalah ketika peristiwa Pameran Kebudayaan Jalan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) pada Dengan Salah satu agendanya adalah menggunakan motor jenis skuter (Vesp. , pameran seni rupa, yang dikuratori oleh Djokopekik membeli bahan lurik produksi Joseph Fisher dan Astri Wright sebagai ko- para perajin di daerah Cawas. Klaten. Jawa kurator, dan Soedarso Sp, sebagai kurator Tengah, yang menggunakan ATBM (Alat Indonesia. Dalam proses pemilihan seniman. Tenun Bukan Mesi. Usaha menjahit itu sempat terjadi ketegangan, karena pada pun, hanya melayani sedikit orang, terutama suatu waktu diskusi yang diselenggarakan di kawan-kawan dekatnya yang AuberaniAy tetap Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta. Mengapa seniman-seniman . LEKRA dalam AuberaniAy, karena hingga pada 1990-an, situasi pameran itu. Pendapat itu yang didukung oleh traumatis dan doktrin Aubersih lingkunganAy pelukis Nyoman Gunarsa dan Amri Yahya, masih melekat pada setiap orang. Djokopekik arahnya jelas, menolak nama-nama seperti Djokopekik. Lian Sahar . ang belakangan sekaligus tidak dapat melakukan apa pun memprotes, karena dirinya sudah dinyatakan terbebas dari LEKRA). Wirobrajan. Yogyakarta. Bagong Kussudiardja Atas penolakan itu, kemudian terjadi pergaulan dan komunikasi dengan orang lain polemik pro-kontra yang panas. Kurator secara leluasa. Kehidupan Djokopekik dengan dan ko-kurator (Joseph Fisher dan Astri Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Suwarno Wisetrotomo. Pradani Ratna Pramastuti Wrigh. menolak pendapat penentangan itu. Identitasnya sebagai eks tapol . ahanan Bagi Astri Wright, seniman-seniman yang politi. semakin sering ia ceritakan. Karya- ditolak oleh beberapa pelukis itu, karya- karya lukisannya semakin tajam mengolah karyanya justru sangat kuat dan penting tema-tema manusia, kemanusian, termasuk dalam konteks seni lukis Indonesia modern isu-isu sosial politik (Djokopekik, 2013, hlm. dan kontemporer. Polemik berakhir setelah Mochtar Kusumaatmadja, mantan Menteri Melukis bagi Djokopekik merupakan Luar Negeri era Orde Baru, yang menjabat upaya melawan lupa terhadap ketidakadilan sebagai Ketua Pelaksana KIAS mengatakan, kemanusiaan, upaya keluar dari trauma Auyang penting karyanya, bukan pelukisnyaAy. politik, dan sekaligus cara untuk berdamai Alhasil, pelukis Djokopekik. Lian Sahar, dengan masa lalu tanpa kehilangan sikap serta termasuk Affandi. Sudjojono. Hendra pandangan kritisnya. Tiga karya berjudul Gunawan tetap menjadi peserta pameran. Lintang Dalam buku yang diterbitkan oleh Panitia Indonesia Berburu Celeng, merupakan karya KIAS, karya Sudjana Kerton dan Djokopekik, yang mengolah Audrama politikAy dan dapat dibahas secara mendalam oleh Astri Wright. dikategorikan sebagai catatan kritis terhadap Pascapameran KIAS. Djokopekik Kemukus. Sirkus September, ketidakadilan kemanusiaan. Karya Lintang Kemukus menggambarkan situasi dan kondisi Djokopekik pasca PKI mendapatkan apresiasi pasar. Karya-karya dinyatakan sebagai partai terlarang, dan Djokopekik diburu oleh kolektor, pedagang ia menghindari penangkapan dari aparat seni . rt deale. , dan dipamerkan di berbagai Ia lari ke Jakarta, tidur dari kolong ke kota di Indonesia. Sejak 1990an. Djokopekik kolong, dan dari atap terbuka yang satu ke menjadi seorang bintang cemerlang dalam Pada suatu malam ia menyaksikan jagad seni rupa Indonesia (Fischer . , di langit dini hari, lintang kemukus . omet EdwinAos Gallery, 1990. Taman Budaya berekor asa. Sebagai orang Jawa, ia paham Surakarta, 1993. Four Seasons Hotel, 1995, dan tentang firasat alam seperti itu, yakni bakal lain-lai. terjadi bencana besar. Ia juga menyadari Kekuasaan Presiden Soeharto dipaksa bahwa dirinya tidak mungkin luput dari berakhir oleh gerakan reformasi pada 1998, penangkapan aparat. Benar, pada 8 November Orde Baru juga tumbang setelah menguasai 1965 ia ditangkap, dibawa ke Yogyakarta, dan politik Indonesia selama lebih kurang 32 dijebloskan ke dalam penjara tanpa melalui proses pengadilan (Wawancara Djokopekik, 7 Seiring Orde Baru, terjadi kelonggaran situasi politik, salah September 2. satunya tercipta kebebasan bersuara dan Lukisan Sirkus September berekspresi, termasuk ekspresi seni. Situasi menggambarkan panggung sirkus, penuh semakin terbuka. Djokopekik pun semakin Pada panggung, dua binatang berani memunculkan diri di tengah publik. badak Ae sejenis binatang yang tidak lazim. Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Drama Politik dalam Ingatan dan Visualisasi Seorang Pelukis Kajian Kritis Terhadap Trilogi Lukisan Karya Djokopekik bahkan tidak pernah ada dalam dunia sirkus dengan ingatan kolektif masyarakat terkait sesungguhnya Ae tengah diadu, dikelilingi oleh dengan wujud karya dan upaya melawan lupa para badut sirkus. Para badut ini bermuka serta trauma. riang, mengenakan sepatu lars, membawa Pilihan binatang badak merupakan Pendekatan metafora yang tajam, mengingat kata badak Penelitian ini menggunakan pendekatan juga sering digunakan untuk menstigma kualitatif, dengan analisis deskriptif kritis. Penelitian ini berbasis pada tiga lukisan karya Demikian pun kata AubadutAy juga dapat Djokopekik. Seturut pendekatan penelitian bermakna konotatif, sebagai orang-orang Fani Dila Sari dan Beni Andika . 0, hlm. yang hanya melucu dan dangkal. Pilihan . yang bertumpu pada Creswell . 0, diksi judul Sirkus September dapat dipahami . dan Jaeni . 5, hlm. bahwa sebagai kode peristiwa dan waktu traumatis dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah bagi Djokopekik, yang juga menjadi ingatan kolektif masyarakat Indonesia, bahkan dunia. sendiri data melalui dokumentasi, observasi. Karya ini secara kuat mengundang untuk dan wawancara serta karya seni menjadi ibu diteliti melalui pendekatan kajian kritis dari penemuan. Penelitian ini menggunakan ekonomi politik. Lukisan Indonesia Berburu Celeng. Djokopekik, menggambarkan situasi riuh penangkapan langsung pada tiga lukisan di studio Plataran celeng super besar dan gemuk, yang dapat Djokopekik. Bantul. Yogyakarta. dibaca sebagai penggambaran kekacauan politik tumbangnya Orde Baru pada 1998. Objek Penelitian Celeng besar yang tertangkap, dipikul, dan Tiga karya lukisan Djokopekik. Lintang dibawa di tengah kerumunan masan yang Kemukus . Sirkus September . riang penuh sukacita perayaan. Indonesia Berburu Celeng . , yang saling METODE Penelitian ini menggunakan metode Dengan . Efektif untuk menganalisis topik dan Memungkinkan menggambarkan objek atau subjek yang diteliti untuk mengamati secara saksama trilogi secara mendalam, luas, dan terperinci. Dalam karya lukisan Djokopekik. Mengungkap hal penelitian ini, melakukan pengamatan, pertautan antara latar belakang sosio-politik mendeskripsikan struktur tata bentuk dan dengan trilogi karya lukisan dan bagaimana rupa pada lukisan, wawancara mendalam Djokopekik mengelola trauma sosial-politik dengan pelukis Djokopekik, untuk melihat yang dialami. Dapat menggunakan waktu relasi antara ingatan personal Djokopekik secara efektif. Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Suwarno Wisetrotomo. Pradani Ratna Pramastuti sebagai rekaman sosio-politik secara visual. HASIL DAN PEMBAHASAN dan kedua, upaya menyuarakan komentar pendekatan kritis, bertolak dari tiga lukisan . sosial-politik pada praktik kekuasaan. karya Djokopekik, yaitu Lintang Kemukus Karya Djokopekik, trilogi yang dijadikan fokus . Sirkus September . , dan Indonesia penelitian ini, secara visual dapat ditengarai Berburu Celeng . yang menjadi fokus penelitian ini. Pada dasarnya, praktik seni menjadi simbol-simbol yang dimuati pesan- hampir selalu berhimpitan dengan situasi pesan kritis. Seperti diurai oleh Yuliansyah sosial-politik. Akibatnya, bagi seniman yang . 8, kritis, menjadikan karya seninya berwatak dilekatkan dengan simbol menjadi simbol dan bermuatan politis. Dalam seni lukis, presentasional, maka simbol presentasional dapat disebut sejumlah contoh karya yang tidak lagi dipahami sebagai bentuk parsial berwatak politis, antara lain. Penangkapan dan makna yang setengah-setengah atau Pangeran Diponegoro . oleh Raden Saleh sepotong-sepotong. Dalam kaitan itu maka. Sjarief Boestaman. Boeng Ajo Boeng . karya trilogi Djokopekik dapat ditelisik lebih lukisan poster oleh Affandi berkolaborasi jauh dalam konteks semacam itu. Penelitian dengan pelukis Dullah sebagai model dan Djokopekik penyair Chairil Anwar sebagai penulis teks. terpisahkan pada peristiwa penghancuran Dunia Anjing . oleh Agus Djaja. Ada paham komunisme oleh rezim Orde Baru Orkes . oleh S. Sudjojono. dan karya berikut kekerasan politik yang dirancang trilogi Lintang Kemukus. Sirkus September, dan secara sistematis dan masif melalui agen Indonesia Berburu Celeng oleh Djokopekik. kebudayaan (Herlambang, 2014, hlm. Pasca Pada ketiga karya Djokopekik itu dapat 1965, terjadi pergeseran estetik dan praktik disaksikan sepenggal drama sosio-politik seni di Indonesia, dan pelan-pelan komitmen Indonesia. Cara pandang dan cara baca . sosial sebagai tema pada karya seni rupa kritis terhadap karya-karya sejenis itu penting hilang dari praktik seni dan ruang perdebatan dilakukan, untuk melihat pertautan antara estetika seni di Indonesia (Miklouho-Maklai, latar belakang sosial, politik, dan trauma- 1991 atau 1998 dalam edisi Bahasa Indonesi. trauma yang melekat pada diri pelukis. Perkecualian pada Djokopekik, karena ia Selain itu juga, bagaimana ia menghadirkan tetap konsisten dengan tema kritis sekitar kembali ingatan itu sebagai bentuk melawan ketidakadilan dan kemanusiaan. lupa, upaya berdamai dengan masa lalu, atau Namun sesungguhnya praktik seni yang dihasratkan sebagai komentar/kritik sosial- kritis dalam memberikan respons terhadap praktik politik terus dilakukan, misalnya Karya lukisan yang dimuati pesan kritis ditunjukkan oleh Sibarani melalui karya semacam itu, pada umumnya memiliki aspek, karikaturnya (Sibarani, 2. Dalam beberapa pertama, penyembuhan diri . elft healin. aspek dan unsur, karya lukisan Djokopekik, terhadap trauma, dan lebih jauh dapat dilihat utamanya dalam trilogi ini menghadirkan Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Drama Politik dalam Ingatan dan Visualisasi Seorang Pelukis Kajian Kritis Terhadap Trilogi Lukisan Karya Djokopekik citra karikatural secara getir. Bagaimana kritik karena siapa pun yang ditengarai berafiliasi pada kekuasaan disampaikan, seniman selalu dengan PKI Ae dalam posisi apa pun Ae menjadi memiliki cara ungkap yang tepat, antara target penangkapan. lain melalui kartun, karikatur, monumen. Tidak terkecuali Djokopekik dan kawan- dan karya sastra (Anderson. kawannya aktivis Sanggar Bumi Tarung. Revianto Budi Santoso, 2. Dalam konteks menjadi sasaran aparat pemerintah untuk penelitian ini melihat lukisan trilogi tidak ditangkap, atau diburu, dan dijebloskan dapat dipisahkan dari sosok Djokopekik ke dalam penjara. Djokopekik berupaya sebagai pelukisnya yang sekaligus berada menghindari penangkapan itu, melarikan diri dalam kemelut drama politik di sekitar 1965 ke Jakarta. Di Jakarta, ia hidup dari satu tempat yang mengakibatkan dirinya menjadi tahanan ke tempat yang lain, dari atap bangunan yang politik, dengan sejumlah trauma kekerasan satu ke atap bangunan yang lain. Meskipun fisik maupun verbal yang dilakukan oleh dalam hati kecil Djokopekik merasa, bahwa aparatus negara, terutama aparat keamanan pada saatnya ia akan tertangkap. Hanya saja, . tidak terbayangkan, bagaimana dan seperti apa nasibnya setelah ditangkap. di penjara di penting karena kekuatan karya-karyanya mana, bahkan hidup atau mati sepenuhnya yang mengolah tema-tema kemanusiaan, berada di tangan aparatus negara. Djokopekik komentar kritis terhadap situasi sosial dan Djokopekik praktik politik, serta kekuasaan. Dilahirkan Yogyakarta, dan mulai 8 November 1965 mulai di Grobogan. Purwodadi. Jawa Tengah, pada ditahan di sejumlah tempat di Yogyakarta, 2 Januari 1937. Pada 1958 memulai meniti selama 7 . Pada 1972 Djokopekik karier sebagai pelukis dengan masuk kuliah Meski kondisi sebenarnya ia tidak di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) lagi memiliki hak-hak politik, bahkan di kartu Yogyakarta. tanda penduduk diberi tanda khusus dengan Pada 1961. Djokopekik dan sejumlah kode ET, maksudnya eks tahanan politik . ks pelukis muda lainnya, mendirikan Sanggar Kondisi itulah yang membatasi ruang Bumi Tarung, sanggar yang mengakomodasi para pelukis, yang diduga berafiliasi pada Djokopekik Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Pada 30 September 1965 . tau dini hari 1 Oktober membuka jasa menjahit pesanan pakaian 1. terjadi peristiwa berdarah, pembunuhan pria, terutama dari bahan tenun. Bahan- keji 7 . petinggi militer. Setelah peristiwa bahan tenun diambil dari industri rumahan itu, pemerintahan Orde Baru menyatakan PKI para perajin tenun ATBM (Alat Tenun Bukan sebagai partai terlarang. Pasca-pernyataan Mesi. dari daerah itulah, maka babak baru kehidupan sosial- Tengah. Di sela menerima pesanan menjahit politik di Indonesia dimulai dengan penuh pakaian. Djokopekik terus melukis. Cawas. Klaten. Jawa Tema-tema lukisannya masih konsisten Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Suwarno Wisetrotomo. Pradani Ratna Pramastuti drama-drama di sekitarnya. Misalnya ia melukis sosok-sosok ringkih para penebang kayu . ukisan Penebang Kayu, 1. , melukis para pencari pasir (Pencari Pasir, 1. , melukis para perempuan renta buruh yang melewati perbukitan (Bukit Parangtritis, 1. , atau lukisan tentang kerumunan rakyat penumpang kereta yang berjubel (Keretaku Tak Berhenti Lama, 1. Pasca-pameran KIAS . , secara ekonomi dan sosial. Djokopekik mengalami perubahan yang sangat signifikan karena semakin sering berada di ruang publik. Tidak ada perubahan terkait tema-tema yang menarik perhatian untuk dilukis, yakni tetap di sekitar persoalan manusia lapis bawah yang terpinggirkan secara sosial, ekonomi, dan kultural, serta komentar kritis pada kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, khususnya praktik kekuasaan. Secara terperinci narasi Gambar 1. Lintang Kemukus (Sumber: Djokopekik, 2. biru muda terang, mengesankan citra bukit. Ruang ketiga: tampak barisan tiga truk yang mengangkut sosok-sosok orang secara berjejal, di depannya satu mobil jip, kemudian paling depan dua kendaraan tank lengkap dengan moncong peluru meriamnya. Semua kendaraan itu mengarah ke kanan bidang gambar, dalam warna cokelat gelap. Ruang keempat: hampir sama luasnya dengan luas langit, dilukiskan kerumunan orang-orang, ketiga karya seperti berikut ini. berjejal, semua dengan mata ditutup, sebagian Lukisan Lintang Kemukus . kain merah. Pada bagian depan, terdapat Lukisan Lintang Kemukus berukuran 115 x 140 cm menggunakan cat minyak pada kanvas. Bidang gambar terbagi dalam 4 . Ruang pertama: separuh bidang bagian atas, melukiskan langit biru, penuh taburan bintang dalam warna putih. Kemudian terdapat warna terang putih kebiruan, melengkung dari tengah ke kanan bidang gambar. Pada bagian ujung tengah cahaya itu. Djokopekik menorehkan tulisan tipis. Auawal bencana lintang kemukus 1965Ay. Ruang kedua: pada bidang tipis tengah dilukiskan cakrawala berhimpitan antara warna biru gelap, dengan Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 dengan kain hitam, sebagian lainnya dengan tiga sosok, di bagian tengah satu orang yang penutup kepalanya terbuka. pada kiri bidang gambar, dengan ikat kepala merah putih, mata nanar melihat ke depan, mulut terbuka hingga tampak gigi putihnya, berkumis tebal. Warna ikat kepala ini sama dengan sosok yang berada di tengah kerumunan berjejal itu. Lalu, tepat di tengah, sosok dengan baju warna merah, ikat kepala merah, mata mengarah ke Kemudian sosok keempat, perempuan dengan baju warna merah, cantik, menatap sendu, dengan anting dan bunga terselip di telinga kirinya. Drama Politik dalam Ingatan dan Visualisasi Seorang Pelukis Kajian Kritis Terhadap Trilogi Lukisan Karya Djokopekik Adegan yang pekat dengan trauma. pelarian di Jakarta dalam upaya menghindari Munculnya lintang kemukus . intang atau komet bereko. di langit, bagi sebagian situasi pelarian, dengan segenap kenangan masyarakat, utamanya di Jawa, dipercaya sebagai pertanda akan terjadinya bencana tentang situasi yang gemuruh, kacau, penuh penderitaan lahir batin, yang kelak menjadi dalam skala besar. Djokopekik menyaksikan kenyataan, melalui lukisan yang sangat kuat. Djokopekik bayangan-bayangannya fenomena lintang kemukus itu dari sebuah atap bangunan bertingkat, di sebuah tempat Lukisan Sirkus September . di Jakarta, semasa pelarian. Sebagai orang Karya ini meskipun dilukis berjarak Jawa, ia juga menangkap isyarat alam dengan 13 tahun kemudian dengan lukisan Lintang pemahaman semacam itu. Sekaligus merasa. Kemukus . , secara tematik dapat dikatakan tidak mungkin selamanya akan hidup dalam merupakan sambungan . Lukisan ini Cepat atau lambat ia pasti akan menyajikan situasi kacau yang diisyaratkan oleh fenomena lintang kemukus dan sekaligus Setelah pelarangan PKI. Sanggar Bumi yang dibayangkan oleh Djokopekik ketika Tarung yang terletak di daerah Gampingan, berada dalam pelarian. Tentu saja rentang Yogyakarta, terkena dampaknya, bubar, dan waktu 13 tahun itu sudah melahirkan karya- para anggotanya ditangkap, dan sebagian karya lain dengan tema berbeda, meskipun lainnya berupaya melarikan diri . aksudnya tetap mengolah tema sekitar manusia dan sekadar lari dari kota Yogyakart. Mereka yang aktif di sanggar itu antara lain. Amrus Berbeda Lintang Natalsya. Misbach Tamrin. Ng. Sembiring. Isa Kemukus yang digubah pada 2016, berukuran Hasanda. Kuslan Budiman. Sutopo. Adrianus 500 x 200 cm dengan cat minyak pada kanvas. Gumelar. Sabri Djamal. Suharjiyo Pujanadi. Harmani. Haryatno, dan Djokopekik. Para lukisan Sirkus September, seperti tersurat pada judulnya dengan menggunakan kata AusirkusAy, lukisan yang pertama pada 1962 di Balai maka suasana yang dramatik dihadirkan Budaya Jakarta, dengan mengusung tema secara metaforis. Kata AusirkusAy diwujudkan Nasionalisme versus Imperialisme (Au50 Tahun menjadi pertunjukan sirkus pada sebuah Sanggar Belum panggung besar Ae semacam stadion Ae yang SelesaiAy, berdikarionline. com diunduh pada dipenuhi penonton. Di panggung besar itu Selasa, 28 September 2021, pukul 15. 56 WIB). Bumi Tarung: Revolusi Bumi terdapat badut-badut pelatih binatang dan Tarung, tak terkecuali Djokopekik, ditahan binatang yang berakrobat mempertunjukkan oleh aparatus negara di berbagai tempat. Nama-nama Sanggar Karya Lintang Kemukus merupakan Aurekaman ingatanAy Djokopekik Namun lukisan itu sungguh berbeda. Badut-badut Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Suwarno Wisetrotomo. Pradani Ratna Pramastuti Gambar 2. Sirkus September (Sumber: Dokumentasi Suwarno, 7 September 2021, pukul: 10. 00 - 11. 30 WIB) Gambar 3. Lukisan Indonesia Berburu Celeng (Sumber: Djokopekik, 2. setelah selama 32 tahun berkuasa. Lukisan itu menggunakan seragam mirip tentara. Indonesia Berburu Celeng, berukuran 500 x 200 Binatang yang di panggung juga bukan cm menggunakan cat minyak pada kanvas, seperti biasanya dalam sirkus, tetapi badak, juga menghadirkan suasana riuh, seperti yang sedang beradu kuat atau tepatnya parayaan dan dramatis. Djokopekik menghadirkan ingatan Bidang Ruang pertama, bagian atas, sangat lebih berjarak, lebih menerima kenyataan sempit, suasana langit, putih dengan mega secara kritis, kemudian digubah dengan keabu-abuan. Ruang kedua, dilukiskan jalan pendekatan karikatural. Dalam lukisan ini, layang membentang dengan tiang-tiangnya Djokopekik menempatkan dirinya sebagai berwarna hitam kokoh. dan dari kolong- yang mengalami peristiwa dramatis tersebut, kolong jalan layang itu tampak bangunan sekaligus memandang peristiwa tersebut, dan gedung-gedung tinggi menjulang. Rupanya menilainya sebagai AusirkusAy. bagian ini merupakan peneguhan tentang bukti pembangunan fisik. Ruang ketiga. Lukisan Indonesia Berburu Celeng . Seperti tertera dalam keterangan tahun lebih luas, sekitar 70% dari luas bidang Pada pembuatan, lukisan ini diciptakan lebih dekat bagian bidang kiri, yang menjadi fokus jaraknya dengan karya Lintang Kemukus . lukisan ini, digambarkan dua orang yang Ae jadi berjarak 6 . tahun Ae tetapi dalam terbungkuk, memikul celeng berwarna hitam, penelitian ini, saya posisikan pada sambungan sangat gemuk, diikat keempat kakinya dan narasi . yang ketiga. Lukisan Indonesia tubuhnya pada sebatang bambu, dalam posisi Berburu Celeng mengisyaratkan sebuah drama menggantung terbalik. pasca-1965, dengan segenap kemelut sosial- Kerumunan politiknya, yang jaraknya cukup jauh, yakni berakhirnya kekuasaan Orde Baru pada 1998 yang ditandai dengan pernyataan mundurnya para penari ledhek dengan busana Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia, menor menari-nari, kerumunan orang di Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Drama Politik dalam Ingatan dan Visualisasi Seorang Pelukis Kajian Kritis Terhadap Trilogi Lukisan Karya Djokopekik belakangnya juga larut dalam sukacita itu. Berburu Celeng. Djokopekik mewujudkan Lukisan ini dengan sangat metaforis kisah dirinya, sekaligus pandangan sosial- merupakan penggambaran situasi kacau pada politiknya, terhadap peristiwa yang menimpa sepotong waktu tahun 1997/1998 dengan dirinya, dan bagaimana ia mengelolanya. Presiden, hingga merasa terbebas dari masalah yang sekaligus tumbangnya rezim Orde Baru. Proses kreatif kepelukisannya Celeng gemuk yang berhasil dijerat itu menjadi bukan berarti diri Djokopekik dapat melupakan metafora yang kuat untuk menggambarkan luka-luka ambruk dan berakhirnya kekuasaan. kehidupan dirinya mampu membebaskan Soeharto Akan diri dari jeratan trauma yang menyakitkan, dan mampu merasa lebih ringan batinnya. SIMPULAN serta merasa berdamai dengan masa lalu. Poses kreatif seorang pelukis sedemikian Kreativitas sebagai pelukis, sungguh mampu erat dengan masa lalu kehidupan dirinya, mengembalikan dirinya memiliki kemampuan baik yang terkait dengan kehidupan pribadi, merebut harkat kemanusiaannya yang sempat yang bertautan dengan perkara sosial, politik, berada di titik terbawah kehidupannya. beserta drama-dramanya. Sebagian peristiwa Djokopekik yang dramatis itu, pada umumnya mengendap mengalami perlakuan politik dengan segala menjadi luka-luka batin yang traumatis akibatnya yang sangat pahit mampu melewati Djokopekik memiliki pengalaman masa-masa sulit dengan perjuangan yang mendapatkan perlakuan kekerasan secara tidak mudah. Meski berada dalam kondisi fisik maupun batin, dan mampu mengelola tertekan secara sosial dan politik, namun ide- trauma-traumanya itu menjadi energi yang ide yang mendasari penciptaan karya seninya memunculkan kreativitas. tidak bergeser sedikit pun. Ketika mengalami Penelitian ini mengungkap kehidupan titik balik situasi sosial-politik yang berakibat seorang pelukis yang mampu mengelola pada kehidupan sosial dan hak-hak politiknya, trauma-traumanya menjadi energi kreatif. Djokopekik tetap memelihara sikap kritisnya karya-karyanya. dengan masa lalu, meyakini bahwa sing Penelitian ini juga menguak bagaimana rezim uwis ya wis . ang sudah berlalu ya suda. , politik berkelindan dalam ide-ide kesenian seorang pelukis. demi sebongkah penderitaan Ae fisik, verbal, dan batin Ae yang dialaminya, kemudian diungkapkan menjadi karya-karya lukisan *** yang memiliki kekuatan visual dan pesan. Pelukis yang dimaksud adalah Djokopekik. Melalui Lintang Kemukus. Sirkus September, dan Indonesia Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Suwarno Wisetrotomo. Pradani Ratna Pramastuti DAFTAR PUSTAKA