Vol 6 No 1 . P-ISSN 2807-9205 | E-ISSN 2808-0041 DOI: 10. 54180/joeces. Pembentukan Karakter Mandiri Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Kegiatan Rutin Di PAUD Cahya Mentari Galih Shefy Harvidha1 . Swantyka Ilham Prahesti2. Himmah Taulany 3. Nufitriani Kartika Dewi 4 *galihshefy2@gmail. com1, swantykailham@unw. id2, himmahtaulany@unw. id3, nufitrianikartika@unw. *Universitas Ngudi Waluyo. Jawa Tengah. Indonesia ABSTRAK Pembentukan karakter mandiri pada anak usia dini merupakan aspek fundamental yang perlu ditanamkan sejak masa golden age, khususnya pada rentang usia 5Ae6 tahun. Namun, di lapangan menunjukkan bahwa sebagian anak masih memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap orang dewasa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pembentukan karakter mandiri anak usia 5Ae6 tahun melalui kegiatan rutin di PAUD Cahya Mentari serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Subjek penelitian adalah anak usia 5Ae6 tahun di PAUD Cahya Mentari, dengan informan pendukung guru dan orang tua. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter mandiri anak dilakukan melalui kegiatan rutin seperti merapikan barang pribadi, mengambil makanan dan minuman sendiri, serta membereskan mainan setelah digunakan secara konsisten. Faktor pendukung meliputi konsistensi guru, lingkungan sekolah yang kondusif, kesiapan anak, dan dukungan orang tua, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan regulasi emosi anak, pola asuh orang tua yang kurang mendukung, serta kondisi lingkungan kelas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan rutin yang dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan berperan penting dalam pembentukan karakter mandiri anak usia Kata Kunci: Anak Usia 5-6 Tahun. Karakter Mandiri. PAUD. Pendidikan Anak Usia Dini ABSTRACT The formation of independent character in early childhood is a fundamental aspect that needs to be instilled during the golden age, especially between the ages of 5 and 6. However, in the field, it appears that some children still have a high level of dependence on adults in carrying out their daily activities. This study aims to analyze the process of developing independent character in children aged 5Ae6 years through routine activities at Cahya Mentari PAUD and to identify the factors that support and hinder this process. This study uses a qualitative approach with a descriptive The research subjects were children aged 5Ae6 years at Cahya Mentari Early Childhood Education Center, with supporting informants being teachers and parents. Data collection techniques included observation, semistructured interviews, and documentation. Data validity was tested through source, technique, and time triangulation, while data analysis was performed using the Miles and Huberman interactive model. The results of the study show that the formation of children's independent character is carried out through routine activities such as tidying up personal belongings, taking food and drinks by themselves, and consistently putting away toys after use. These activities contribute to the development of children's responsibility, self-confidence, and self-care abilities. Supporting factors include teacher consistency, a conducive school environment, child readiness, and parental support, while inhibiting factors include children's limited emotional regulation, unsupportive parenting patterns, and classroom It can therefore be concluded that routine activities carried out consistently and continuously play an important role in shaping the independent character of early childhood. Keywords: Children aged 5-6 years. Independent Character. PAUD. Early Childhood 1 Ae JOECES PENDAHULUAN Karakter mandiri merupakan salah satu aspek fundamental dalam proses tumbuh kembang anak usia dini. Kemandirian berperan penting dalam membentuk rasa tanggung jawab, kepercayaan diri, serta kemampuan anak dalam mengurus diri sendiri sejak dini. Pada fase usia 5Ae 6 tahun, anak berada pada tahap perkembangan yang menuntut adanya stimulasi optimal agar mampu melakukan berbagai aktivitas secara mandiri, baik dalam aspek fisik, sosial, emosional, maupun kognitif. Kemandirian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan anak menyelesaikan tugas secara individual, tetapi juga mencerminkan kematangan regulasi diri, pengambilan keputusan sederhana, serta kesadaran terhadap tanggung jawab pribadi (Maulida, 2. Secara umum. Pendidikan karakter pada anak usia dini merupakan fondasi utama dalam pembentukan perilaku dan nilai-nilai kehidupan. Pada tahap ini, anak mulai menyerap berbagai kebiasaan dan meniru perilaku yang ada di lingkungannya, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang mampu menyampaikan nilai-nilai moral secara konkret dan mudah dipahami. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan yang kontekstual dan dekat dengan dunia anak, seperti cerita atau pengalaman langsung, dapat membantu anak memahami serta menginternalisasi nilai-nilai karkter secara lebih efektif. Selain itu, pembelajaran yang menyentuh aspek kognitif, social dan emosional secara bersamaan akan memberikan dampak yang lebih menyeluruh terhadap perkembangan karakter anak (Apriliani et al. , 2. Pendidikan karakter pada anak usia dini merupakan upaya sistematis untuk menanamkan nilai-nilai moral dan kebiasaan positif yang akan menjadi landasan kepribadian anak di masa Pendidikan karakter di lembaga PAUD bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, serta sosial anak melalui proses pembiasaan, bimbingan, dan keteladanan yang dilakukan secara terstruktur (M. Putri et al. , 2. Salah satu karakter penting yang perlu ditanamkan sejak dini adalah kemandirian, karena kemampuan tersebut membantu anak beradaptasi dengan lingkungan serta mempersiapkan diri menghadapi jenjang pendidikan Selain itu penelitian tersebut juga menegaskan bahwa penanaman karakter seperti mandiri, tanggung jawab, disiplin, dan empati perlu dilakukan melalui kegiatan yang terjadwal dan konsisten agar nilai-nilai tersebut terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari anak. Dengan demikian, pembentukan karakter mandiri tidak cukup dilakukan melalui penjelasan verbal semata, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata yang menjadi bagian dari budaya sekolah. Pembentukan karaktermandiri pada anak usia 5Ae6 tahun juga berkaitan erat dengan kesiapan anak dalam menghadapi jenjang pendidikan dasar. Pada usia ini, anak mulai dituntut untuk mampu mengikuti aturan kelas, menyelesaikan tugas sederhana tanpa pendampingan intensif, serta bertanggung jawab terhadap barang-barang pribadinya. Apabila kemampuan tersebut belum berkembang secara optimal, anak berpotensi mengalami kesulitan dalam proses adaptasi di lingkungan sekolah dasar. Oleh karena itu, stimulasi kemandirian pada fase kehamilan menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. 2 Ae JOECES Pengembangan karakter kemandirian pada anak sangat bergantung pada pengaruh orang dewasa di sekitarnya. Figur orang dewasa seperti orang tua dan pendidik memegang peranan krusial dalam menyediakan dukungan, bimbingan, dan peluang bagi anak untuk mempraktikkan Pendidik, terutama di lembaga pendidikan anak usia dini, merupakan agen kunci yang memengaruhi pembentukan karakter mandiri anak melalui metode yang disesuaikan dengan fase perkembangan mereka. Dengan demikian, menanamkan karakter mandiri sejak usia dini merupakan fondasi esensial yang akan membekali anak secara berharga saat mereka beranjak dewasa, baik dalam konteks pendidikan formal maupun dalam menghadapi beragam tantangan kehidupan (Maulina Iqoh & Budiyono Alief, 2. Kemandirian anak usia dini tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan sekolah, namun juga sangat ditentukan oleh faktor keluarga, khususnya keterlibatan orang tua dan pola asuh yang diterapkan dirumah. Penelitian yang dilakukan (Alfiyah et al. , 2. menunjukkan bahwa keterlibatan pola asuh yang terapkan di rumah. Penelitian kesempatan anak melakukan aktivitas secara mandiri, serta penerapan pola asuh otoritatif yang seimbang antara kontrol dan kehangatan emosional, memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perkembangan kemandirian anak. Anak yang dibiasakan untuk bertanggung jawab melalui dukungan dan arahan yang tepat cenderung memiliki Tingkat kemandirian yang lebih tinggi dibandingkan anak yang terlalu bergantung pada bantuan orang dewasa. Secara simultan, kedua factor tersebut bahkan memberikan kontribusi yang kuat dalam membentuk kemandirian anak usia dini, sehingga menunjukkan bahwa pembentukan karakter mandiri merupakan hasil sinergi antara lingkungan keluarga dan Pendidikan di sekolah. Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kemandirian melalui proses pembelajaran yang terstruktur maupun pembiasaan seharihari. Lingkungan PAUD menjadi ruang sosial pertama bagi anak untuk belajar berinteraksi, mengikuti aturan, serta membangun tanggung jawab terhadap diri dan lingkungannya. Penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter di PAUD sangat dipengaruhi oleh strategi pembiasaan yang konsisten dan keteladanan guru dalam aktivitas harian (Siti Wardatuh Janah, 2. Namun demikian, pembentukan karakter anak tidak hanya menjadi tanggung jawab Lembaga Pendidikan, melainkan juga memerlukan keterlibatan aktif orang tua sebagai lingkungan Pendidikan pertama bagi anak. Keterlibatan orang tua meliputi pemberian perhatian, waktu berkualitas, dukungan emosional, serta partisipasi dalam pengalaman belajar anak sehari-hari. Kurangnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dapat menghambat perkembangan karakter anak, termasuk kemandirian, karena tidak adanya stimulus kesinambungan antara lingkungan rumah dan sekolah. Oleh karena itu, sinergi antara PAUD dan keluarga menjadi factor penting dalam mengoptimalkan pembentukan karakter mandiri anak sejak usia dini. Kegiatan rutin atau pembiasaan dalam pendidikan anak usia dini merupakan strategi efektif dalam membentuk karakter, karena anak belajar melalui pengulangan dan pengalaman langsung. Program pembiasaan yang dilakukan secara terstruktur, seperti kegiatan harian, aktivitas keagamaan, maupun kegiatan sosial, mampu menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian secara bertahap. Dalam 3 Ae JOECES pelaksanaannya, guru tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga berperan sebagai teladan serta melibatkan anak secara aktif dalam setiap kegiatan. Proses ini menjadi lebih optimal ketika didukung oleh peran orang tua yang melanjutkan pembiasaan tersebut di lingkungan rumah, sehingga terjadi kesinambungan pendidikan karakter (Hasanah, 2. Namun demikian, kondisi ideal tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam praktik di Berdasarkan pengamatan awal di salah satu PAUD, sebagian anak usia 5Ae6 tahun masih menunjukkan tingkat ketergantungan yang cukup tinggi terhadap guru maupun orang tua dalam melakukan aktivitas sederhana, seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, mengambil makanan sendiri, serta membereskan peralatan makan setelah digunakan. Fenomena ini menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai kemandirian belum optimal. Padahal, pembiasaan rutin dalam aktivitas sehari-hari terbukti efektif dalam membentuk karakter anak apabila dilakukan secara konsisten dan sistematis (Usnah et al. , 2. Selain itu, dinamika pola asuh orang tua yang cenderung protektif di era modern juga menjadi tantangan tersendiri dalam pembentukan kemandirian anak. Tidak jarang anak terbiasa terbiasa sehingga kurang memiliki kesempatan untuk mencoba dan belajar dari kesalahan. Kondisi ini mempertegas pentingnya peran lembaga PAUD dalam menyediakan lingkungan yang mendukung anak untuk berlatih mandiri melalui kegiatan rutin yang konsisten dan konsisten. Secara konseptual, pembentukan karakter tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses pembiasaan yang berulang dan bermakna. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari memiliki kekuatan dalam membentuk pola perilaku karena anak belajar melalui pengalaman langsung . earning by doin. Ketika anak secara konsisten dilibatkan dalam aktivitas seperti merapikan mainan, mencuci tangan, atau mengambil makanan sendiri, secara perlahan nilai tanggung jawab dan kemandirian akan terinternalisasi menjadi bagian dari karakter dirinya. Berbagai penelitian telah mengkaji pembentukan karakter anak usia dini melalui pendekatan tertentu, seperti metode Montessori (Usnah et al. , 2. , pembiasaan religius (Siti Wardatuh Janah, 2. , maupun kolaborasi orang tua dan guru dalam Pendidikan karakter. Namun. Sebagian besar penelitian tersebut berfokus pada penerapan satu metode spesifik dan belum banyak mengeksplorasi secara mendalam bagaimana kegiatan rutin harian sebagai strategi pedagogis yang terintegrasi dalam aktivitas sekolah dapat membentuk karakter mandiri, khususnta pada anak usia 5-6 tahun. Dalam demikian, terdapat celah penelitian pada penelitian terdahulu yang menyoroti peran kegiatan rutin sebagai strategi sistematis dalam pembentukan karakter mandiri serta faktorfaktor yang mendukung dan menghambat implementasinya di lingkungan PAUD. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis proses pembentukan karakter mandiri anak usia 5-6 tahun melalui kegiatan rutin di PAUD, serta mengkaji faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya dalam konteks pembiasaan sehari-hari di lingkungan sekolah (Salianty et al. , 2. Namun, sebagian besar penelitian tersebut fokus pada penerapan satu metode spesifik atau penggunaan media tertentu dan belum banyak mengeksplorasi secara mendalam bagaimana 4 Ae JOECES kegiatan rutin harian sebagai strategi pedagogis yang terintegrasi dalam aktivitas sekolah dapat membentuk karakter mandiri, khususnya pada anak usia 5Ae6 tahun. Padahal, kegiatan rutin harian di lingkungan sekolah memiliki keunggulan karena memberikan pengalaman langsung . xperiential learnin. kepada anak. Berbeda dengan media audiovisual yang bersifat representatif, kegiatan rutin memungkinkan anak mentransmisikan secara nyata perilaku mandiri melalui tindakan konkret yang dilakukan berulang-ulang. Dengan demikian, internalisasi nilai menjadi lebih mendalam dan berkelanjutan. Meskipun berbagai penelitian telah membahas pembentukan karakter mandiri melalui pendekatan tertentu, kajian yang secara khusus menganalisis kegiatan rutin harian sebagai strategi pedagogis yang terintegrasi dalam budaya sekolah masih relatif terbatas. Padahal, kegiatan rutin memiliki potensi besar karena bersifat kontekstual, berulang, dan dekat dengan pengalaman nyata Kurangnya penelitian yang mengkaji secara mendalam implementasi kegiatan rutin sebagai strategi sistematis dalam membentuk karakter mandiri menunjukkan perlunya penelitian yang lebih spesifik dan berbasis praktik lapangan. Selain itu, usia 5Ae6 tahun merupakan masa transisi menuju jenjang pendidikan dasar yang tuntutan kesiapan sosial dan emosional yang lebih matang. Pada fase ini, anak diharapkan memiliki kemampuan dasar untuk mengurus dirinya sendiri, mengikuti aturan, serta menunjukkan tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Oleh karena itu, strategi pembiasaan melalui kegiatan rutin di PAUD menjadi relevan untuk dikaji secara lebih spesifik dan sistematis. Dengan demikian, terdapat celah penelitian pada penelitian terdahulu yang menyoroti peran kegiatan rutin sebagai strategi sistematis dalam pembentukan karakter mandiri serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat implementasinya di lingkungan PAUD. Kemandirian pada anak usia dini diartikan sebagai kemampuan anak untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa ketergantungan berlebihan pada orang dewasa, yang mencakup aspek fisik, emosional, sosial, dan kognitif (Maulida, 2. Secara psikologis, kemandirian berkaitan dengan perkembangan self-regulation dan kontrol diri yang mulai berkembang pesat pada usia Menurut teori perkembangan Erikson, anak usia 3Ae6 tahun berada pada tahap initiative versus guilt, di mana anak mulai menunjukkan inisiatif dalam melakukan berbagai aktivitas secara Jika kesempatan ini didukung secara positif, maka anak akan berkembang menjadi pribadi yang percaya diri dan bertanggung jawab. PAUD berfungsi sebagai lingkungan social formal pertama yang memperkenalkan struktur, aturan dan pembiasaan. Guru memiliki peran sentral sebagai fasilitator, model, sekaligus pembimbing dalam proses internalisasi nilai karakter (W. Putri et al. , 2. Strategi pembentukan karakter di PAUD umumnya dilakukan melalui. lingkungan belajar yang mendukung. (Siti Wardatuh Janah, 2. menegaskan bahwa pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam kegiatan harian lebih efektif dibandingkan pendekatan instruksional yang bersifat verbal (Siti Wardatuh Janah, 2. 5 Ae JOECES Peran guru dalam pembentukan karakter anak tidak hanya sebatas pada pemberian contoh, tetapi juga berkaitan erat dengan kompetensi pedagogik yang dimilikinya. Kompetensi pedagogik mencakup kemampuan guru dalam memahami karakteristik perkembangan anak, merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai, serta melakukan evaluasi secara sistematis terhadap proses dan hasil belajar. Penelitian yang dilakukan oleh (Bina & Getsempena, 2. menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru PAUD yang baik memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan sikap positif anak usia dini (Bina & Getsempena, 2. Guru yang mampu merancang pembelajaran secara inovatif, menciptakan suasana kelas yang kondusif, serta melakukan refleksi pembelajaran secara berkelanjutan terbukti mampu menumbuhkan sikap sosial yang baik pada Kegiatan rutin harian seperti mencuci tangan, merapikan mainan, mengambil makanan sendiri, dan membersihkan peralatan makan merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang memungkinkan anak mempraktikkan nilai kemandirian secara langsung. Dalam pendekatan Montessori, aktivitas kehidupan praktis . ractical life activitie. menjadi fondasi utama dalam membangun kemandirian anak (Usnah et al. , 2. Namun demikian, implementasi kegiatan rutin seringkali belum dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan. Faktor seperti kurangnya konsistensi guru, keterbatasan waktu, serta pola asuh orang tua yang terlalu protektif dapat menjadi hambatan dalam pembentukan karakter mandiri. Berdasarkan kajian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kegiatan rutin memiliki potensi besar sebagai strategi pembentukan karakter mandiri, namun masih diperlukan penelitian empiris yang secara spesifik mengkaji efektivitas dan faktorfaktor yang memengaruhi implementasinya di PAUD. METODE PENELITIAN (TIME NEW ROMAN. BOLD. FONT 12. SPASI 1. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuliatatif dengan desain deskriptif yang bertujuan mendeskripsikan secara mendalam mengenai proses pembentukan karakter mandiri pada anak usia 5-6 tahun melalui kegiatan rutin di PAUD Cahya Mentari Kabupaten Semarang. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada pengungkapan makna, proses dan dinamika yang terjadi secara alami dalam konteks lingkungan pendidikan anak usia dini. Penelitian dilaksanakan di PAUD Cahya Mentari dengan subjek utama anak usia 5-6 tahun yang terlibat dalam kegiatan rutin harian. Informan pendukung dalam penelitian ini meliputi guru kelas dan orang tua anak. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan mempertimbangkan keterlibatan langsung dalam proses pembentukan karakter mandiri pada anak. Data yang dikumpulkan berupa data kuliatatif yang menggambarkan perilaku kemandirian anak dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara semi-terstruktur dan dokumentasi (Fadilah et al. , 2. Observsai dilakukan secara partisipatif untuk mengamati perilaku anak dalam melaksanakan kegiatan rutin, seperti merapikan barang pribadi, mengambil makan dan minum sendiri, serta membereskan mainan setelah digunakan. Wawancara dilakukan kepada guru, orang tua dan anak dengan menggunakan pedoman wawancara yang fleksibel untuk 6 Ae JOECES menggali informasi secara mendalam mengenai proses pembentukan kemandirian serta faktor pendukung dan penghambatnya. Dokumentasi berupa foto kegiatan, jadwal harian dan catatatan perkembangan anak digunakan untuk memperkuat data hasil obervasi dan wawancara. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, teknik dan waktu. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi secara berkelanjutan selama proses penelitian berlangsung. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan karakter pada anak usia dini pada dasarnya merupakan proses penanaman nilainilai moral yang dilakukan secara bertahap melalui berbagai stimulus yang sesuai dengan dunia Salah satu cara yang efektif dalam menanamkan nilai karakter adalah melalui media yang bersifat kontekstual dan menarik, seperti tayangan atau pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran yang mengandung nilai edukatif mampu membantu anak memahami dan meniru perilaku positif, seperti tanggung jawab, disiplin, kejujuran, kemandirian, serta kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dapat diinternalisasi melalui banyak dan pembiasaan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, proses pembentukan karakter akan lebih optimal apabila anak tidak hanya diberikan contoh melalui media, tetapi juga dilibatkan secara langsung dalam kegiatan rutin yang memungkinkan mereka menularkan nilai-nilai tersebut secara nyata dalam kehidupan sehari-hari (Kiromi et al. , 2. Pembentukan karakter mandiri pada anak usia 5-6 tahun di PAUD dibentuk melalui pelaksanaan kegiatan rutin yang dilakukan secara konsisten dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Kegiatan rutin ini bukan hanya menjadi proses pembelajaran, namun juga sebagai sarana pembiasaan bagi anak dalam menjalankan aktivitas secara mandiri. Dalam pembahasan ini, pembentukan karakter mandiri pada anak usia 5-6 tahun dianalisis melalui kegiatan rutin yang dilakukan, proses pembiasaan yang berlangsung, peran guru dalam pelaksanaannya serta perubahan berilaku mandiri pada anak yang ditunjukkan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Aini et al. , 2. , bahwa penerapan metode pembiasaan melalui kegiatan rutin di sekolah dapat memegang peran yang penting dalam pembentukan karakter mandiri pada anak usia Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter mandiri anak usia 5Ae6 tahun di PAUD Cahya Mentari dilakukan melalui berbagai kegiatan rutin yang dilaksanakan secara konsisten setiap hari. Kegiatan tersebut meliputi merapikan dan menjaga barang pribadi, mengambil makan dan minum secara mandiri, serta membereskan mainan setelah digunakan. Anak dibiasakan untuk melakukan aktivitas tersebut tanpa bantuan langsung dari guru, namun tetap dalam pengawasan dan bimbingan. Pembiasaan ini dilakukan sejak anak datang ke sekolah hingga kegiatan pembelajaran berakhir. Observasi menunjukkan bahwa melalui pengulangan kegiatan rutin tersebut, anak mulai terbiasa menyelesaikan tugas sederhana secara mandiri. Anak yang sebelumnya meminta bantuan guru untuk menyimpan tas atau mengambil makanan, secara bertahap mampu melakukannya sendiri. Kegiatan rutin tersebut menjadi sarana pembiasaan yang sistematis dalam menanamkan sikap tanggung jawab dan kemandirian pada anak. Selain melalui 7 Ae JOECES pembiasaan yang bersifat berulang, pembentukan karakter mandiri pada anak usia dini juga sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi yang terjadi selama kegiatan rutin berlangsung. Lebih lanjut, kegiatan rutin yang dilakukan secara konsisten juga berfungsi sebagai sarana pembentukan kebiasaan . abit pembentuka. yang menjadi dasar dari karakter anak. Ketika anak secara terus-menerus dilibatkan dalam aktivitas seperti merapikan barang, menjaga kebersihan diri, dan menyelesaikan tugas sederhana, maka perilaku tersebut akan terinternalisasi menjadi bagian dari dirinya. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini tidak lagi dilakukan karena instruksi guru, melainkan karena kesadaran internal anak. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan rutin tidak hanya berperan sebagai metode pembelajaran, tetapi juga sebagai strategi pembentukan karakter yang bersifat jangka panjang. Selain itu, penting untuk memperhatikan bahwa setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda-beda dalam mencapai kemandirian. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan dalam kegiatan rutin perlu bersifat fleksibel dan adaptif sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Guru perlu memberikan pendampingan yang proporsional, yaitu tidak terlalu banyak membantu, tetapi juga tidak membiarkan anak mengalami kesulitan tanpa arahan. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara memberikan dukungan dan kesempatan bagi anak untuk berkembang secara mandiri. Dalam praktiknya, kegiatan rutin juga dapat menjadi media untuk mengembangkan aspek sosial dan emosional anak. Ketika anak terlibat dalam aktivitas bersama, seperti membereskan mainan atau menunggu giliran, mereka belajar tentang kerja sama, kesabaran, serta menghargai orang lain. Nilai-nilai tersebut secara tidak langsung memperkuat pembentukan karakter mandiri, karena anak belajar bahwa kemandirian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu, tetapi juga dengan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan sosial. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kegiatan rutin memiliki peran yang sangat kompleks dalam pembentukan karakter mandiri anak usia dini. Tidak hanya sebagai sarana pembiasaan, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak secara holistik, mulai dari kognitif, sosial, emosional, hingga moral. Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan rutin di PAUD perlu dirancang secara sistematis, konsisten, dan didukung oleh interaksi yang berkualitas agar tujuan pembentukan karakter mandiri dapat tercapai secara optimal. 8 Ae JOECES Gambar 1. Kegiatan Makan Bersama Hal ini sejalan dengan teori pendidikan karakter Thomas Lickona (Lickona, 1. yang menekankan bahwa pembentukan karakter memerlukan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan rutin di PAUD berfungsi sebagai praktik konkret internalisasi nilai tanggung jawab dan kemandirian. Selain itu, menurut Hurlock (Hurlock, 1. , kemandirian pada anak berkembang melalui kesempatan untuk melakukan aktivitas sendiri dan pengalaman belajar yang berulang. Dengan demikian, kegiatan rutin yang dilakukan secara terstruktur menjadi media efektif dalam membentuk perilaku mandiri anak sejak dini. Penerapan kegiatan rutin di PAUD Cahya Mentari memberikan dampak positif terhadap perkembangan tanggung jawab dan rasa percaya diri anak. Anak yang terbiasa merapikan barang dan menyelesaikan tugas sederhana menunjukkan sikap lebih bertanggung jawab terhadap kewajiban pribadi. Selain itu, anak tampak lebih percaya diri ketika mampu menyelesaikan aktivitas tanpa bantuan, seperti mengambil makanan sendiri atau masuk kelas tanpa didampingi orang tua. Guru juga mengungkapkan bahwa anak yang telah terbiasa melakukan kegiatan rutin secara mandiri cenderung lebih berani mengambil keputusan sederhana, seperti memilih alat permainan atau warna saat kegiatan mewarnai. Keberhasilan menyelesaikan tugas sehari-hari menjadi pengalaman positif yang memperkuat rasa percaya diri anak. Lingkungan belajar yang memberikan stimulasi secara berkelanjutan memiliki peran penting dalam mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak usia dini. Anak yang terbiasa mendapatkan pengalaman belajar melalui interaksi, kegiatan rutin, dan pembiasaan yang terarah akan lebih mudah mengembangkan kemampuan sosial, emosional, serta kemandirian. Sebaliknya, kurangnya stimulasi baik di rumah maupun di sekolah dapat menghambat perkembangan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara guru dan orang tua dalam menciptakan lingkungan yang konsisten dan mendukung, sehingga anak memperoleh pengalaman belajar yang utuh dan berkesinambungan (Khoirotin et al. , 2. 9 Ae JOECES Gambar 2. Jadwal Kegiatan Rutin Hal ini elevan dengan teori perkembangan moral Piaget (Piaget, 2. yang menyatakan bahwa pada usia 5Ae6 tahun anak mulai memasuki tahap moralitas otonom awal, di mana anak mulai memahami aturan dan tanggung jawab secara bertahap melalui interaksi sosial. Selain itu, menurut Kohlberg (Kohlberg, 1. , perkembangan moral anak pada tahap prakonvensional ditandai dengan pemahaman tentang konsekuensi tindakan. Ketika anak diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas tugas sederhana, mereka belajar memahami hubungan antara tindakan dan Sejalan dengan pandangan Lickona, pengalaman moral yang nyata dalam kehidupan sehari-hari memperkuat pembentukan karakter tanggung jawab dan kepercayaan diri. Penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pembentukan karakter mandiri dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung, yaitu konsistensi guru dalam membimbing anak, lingkungan sekolah yang kondusif, kesiapan dan respon positif anak, serta dukungan orang tua di rumah. Guru berperan sebagai model dan fasilitator yang secara sabar membimbing anak dalam melaksanakan kegiatan rutin tanpa memberikan bantuan berlebihan. Selain itu, adanya keselarasan antara pembiasaan di sekolah dan di rumah turut mempercepat perkembangan kemandirian anak. Anak yang mendapatkan kesempatan melakukan aktivitas mandiri di rumah menunjukkan perkembangan yang lebih optimal dibandingkan anak yang cenderung dimanjakan. Kemandirian anak usia dini dapat dikembangkan secara efektif melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas kehidupan sehari-hari yang terstruktur dan bermakna. Dalam pendekatan Montessori, kegiatan praktis hidup menjadi salah satu strategi utama yang dirancang untuk melatih anak agar mampu melakukan berbagai tugas sederhana secara mandiri, seperti merawat diri, menjaga lingkungan, serta menyelesaikan aktivitas sehari-hari tanpa ketergantungan berlebihan pada orang dewasa. Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan motorik, tetapi juga membentuk tanggung jawab, konsentrasi, serta rasa percaya diri anak dalam menyelesaikannya. Selain itu, memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan aktivitas secara mandiri dengan bimbingan yang tepat dari guru maupun orang tua terbukti mampu meningkatkan kemampuan anak dalam mengambil inisiatif dan menyelesaikan masalah sederhana dalam kehidupan seharihari. Dengan demikian, pembiasaan kegiatan rutin yang terintegrasi dalam aktivitas pembelajaran 10 Ae JOECES di PAUD menjadi sarana yang sangat strategis dalam menginternalisasikan nilai kemandirian secara berkelanjutan pada anak usia 5Ae6 tahun (Kamil & Asriyani, 2. Proses pembentukan karakter mandiri melalui kegiatan rutin tidak terjadi secara instan, melainkan melalui pengalaman yang berulang dan berkesinambungan. Setiap kesempatan yang diberikan kepada anak untuk melakukan tugas secara mandiri, seperti merapikan perlengkapan, menjaga kebersihan diri, atau menyelesaikan tanggung jawab sederhana, menjadi pengalaman belajar yang memperkuat perilaku mandiri. Melalui pembiasaan tersebut, anak secara bertahap mampu memahami tanggung jawabnya, mengembangkan rasa percaya diri, serta mengurangi ketergantungan pada bantuan orang dewasa. Oleh karena itu, kegiatan rutin yang dilaksanakan secara konsisten memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kemandirian pada anak usia Gambar 3. Buku Penghubung Orang Tua Hal ini selaras dengan teori Lickona (Lickona, 1. yang menekankan pentingnya lingkungan moral dalam mendukung pembentukan karakter anak. Konsistensi guru dan dukungan orang tua membentuk ekosistem pendidikan yang saling menguatkan. Hurlock juga menyatakan bahwa perkembangan kemandirian sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan kesempatan yang diberikan orang dewasa kepada anak. Selain itu, kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi faktor krusial dalam memperkuat proses internalisasi nilai kemandirian. Di sisi lain, penelitian ini menemukan beberapa faktor penghambat dalam pembentukan karakter mandiri anak, yaitu keterbatasan regulasi emosi anak, pola asuh orang tua yang kurang mendukung, serta kondisi lingkungan kelas yang kurang kondusif. Beberapa anak masih menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap guru, terutama ketika menghadapi situasi baru atau merasa tidak nyaman. Selain itu, anak yang terbiasa dibantu secara berlebihan di rumah cenderung mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan kemandirian di sekolah. Kondisi ini menyebabkan proses pembiasaan menjadi lebih lambat dan memerlukan pendekatan yang lebih intensif dari guru. 11 Ae JOECES Kondisi tersebut dapat dipahami melalui perspektif perkembangan moral Piaget dan Kohlberg, yang menyatakan bahwa kemampuan anak dalam memahami aturan dan tanggung jawab berkembang secara bertahap sesuai kematangan kognitif dan pengalaman sosialnya. Anak yang belum mampu mengelola emosi dengan baik cenderung masih berada pada tahap awal perkembangan moral. Selain itu, menurut Hurlock, pola asuh yang terlalu protektif dapat menghambat perkembangan kemandirian karena anak kurang memperoleh kesempatan untuk belajar melalui pengalaman langsung. Sehingga, pembentukan karakter mandiri memerlukan pendekatan yang konsisten, bertahap, dan didukung oleh lingkungan yang responsif. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter mandiri anak usia 5Ae6 tahun di PAUD Cahya Mentari dilakukan melalui kegiatan rutin yang dilaksanakan secara konsisten dan terstruktur, seperti merapikan barang pribadi, mengambil makan dan minum secara mandiri, serta membereskan mainan setelah digunakan. Kegiatan rutin tersebut berkontribusi dalam menumbuhkan sikap tanggung jawab, kepercayaan diri, dan kemampuan mengurus diri pada anak. Keberhasilan proses pembentukan karakter mandiri dipengaruhi oleh konsistensi guru, lingkungan sekolah yang kondusif, kesiapan anak, serta dukungan orang tua, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan regulasi emosi anak, pola asuh yang kurang mendukung, dan kondisi lingkungan kelas. Dengan demikian, kegiatan rutin yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan didukung kolaborasi antara sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter mandiri anak usia dini. DAFTAR PUSTAKA