Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 05 No. 02 (Juni 2. 143 Ae 157 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) e-ISSN 2775-4006 https://ejurnal. id/index. php/juteolog p-ISSN 2774-9355 https://doi. org/10. 52489/juteolog. Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Kehidupan Rohani Gen-Z Di GKII Pintu Elok Nanga Pinoh Yesaya. Yakob. Sekolah Tinggi Teologi Sungai Kehidupan Borneo, yakobasep@gmail. Recommended Citation Turabian 8th edition . ull not. Yesaya and Yakob. AiDampak Penggunaan Gadget Terhadap Kehidupan Rohani Gen-Z Di GKII Pintu Elok Nanga PinohAn. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) 5, no. 2 (Juni 30, 2. : 143-157, accessed Juni 30, 2025, https://doi. org/10. 52489/juteolog. American Psychological Association 7th edition (Yesaya & Asep. , 2025, p. Received: 27 Agustus 2025 Accepted: 07 Oktober 2025 Published: 30 Juni 2025 This Article is brought to you for free and open access by Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. It has been accepted for inclusion in Christian Perspectives in Education by an authorized editor of Jurnal Teologi (JUTEOLOG). For more information, please contact yakobasep@gmail. Yesaya. Yakob Abstract In the digital age, the development of gadgets has significantly impacted various aspects of human life. Gadgets also have a negative impact on the spiritual lives of believers, especially among the Gen-Z congregation of GKII Pintu Elok Nanga Pinoh. West Kalimantan. This research uses a qualitative case study approach to systematically and factually describe the positive and negative impacts of gadgets on the spirituality of Gen-Z congregation based on Colossians 2:6Ae8. The results of the study show that gadget usage positively affects the spiritual activities of Gen-Z, as well as negatively impacting their academic, moral, social, and spiritual lives. The researchers also found that pastors (Shepher. and Congregational Management Board (BPJ), teachers, and parents need to have an understanding and spiritual service strategies that address the needs and spiritual struggles of Gen-Z in the digital era. Keywords: Digital Era. Gadget Impact. Gen-Z. Spitual Life Abstrak Di era digital, perkembangan gadget telah berdampak signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan umat manusia. Gadget juga memberi dampak negatif pada kehidupan rohani orang percaya, terutama di kalangan jemaat Gen-Z GKII Pintu Elok Nanga Pinoh Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus untuk menggambarkan secara sistematis dan faktual mengenai dampak positif dan negatif gadget terhadap spiritualitas jemaat Gen-Z berdasarkan Kolose 2:6Ae8". Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gadget berdampak secara positif untuk kegiatan rohani Gen-Z, serta dampak negatif bagi kehidupan akademis, moral, sosial dan rohani Gen-Z. Peneliti juga menemukan pendeta (Gembala Sidan. dan Badan Pengurus Jemaat (BPJ), guru dan orang tua perlu memiliki pemahaman dan strategi pelayanan rohani yang menyasar kebutuhan serta pergumulan rohani Gen-Z di era digital. Kata Kunci: Era Digital. Gen-Z. Kehidupan Rohani. Penggunaan Gadget PENDAHULUAN Generasi Z biasanya dikenal sebagai Generasi Internet atau Generation Net, yaitu generasi yang lahir antara tahun 1995 s/d 2010 seiring dengan munculnya internet, sehingga tak heran generasi ini memiliki ketergantungan yang sangat kuat dengan internet (Akbar et al. , 2022, p. Oleh karena itu, kehidupan generasi ini juga erat kaitannya dengan penggunaan gadget dan teknologi digital yang sangat mendominasi kehidupan keseharian kelompok usia ini. Ada yang menilai kalau permasalahan kerohanian Gen-Z merupakan dampak dari ketergantungan pada gadget yang sangat tinggi, dan sering kali dianggap sebagai hal sepele saja. Padahal penelitian Woen mengemukakan bahwa dalam dunia kerja dan pelayanan gerejawi, masalah karakter dan spiritual Gen Z mendatangkan pengaruh negatif berupa persoalan etika yang ditandai dengan sikap egois, malas, susah untuk di atur dan bergaul dengan orang yang lebih tua, cenderung takut FOMO atau Fear of Missing Out, dan kehidupan rohani menjadi rapuh yang ditandai dengan menurunnya daya tahan iman dan pengharapan (Woen, 2023, p. 144 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob Kehidupan Gen-Z yang ada di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Jemaat Pintu Elok. Nanga Pinoh. Kalimatan Barat juga terimbas dengan pengaruh negative dari penggunaan dan ketergantungan kepada gadget yang tinggi yang ditandai dengan keseringan mengakses media sosial, seperti yang telah dipaparkan di atas. Dalam pengamatan peneliti dan perbincangan dengan sebagian besar informan mengakui bahwa praktik spiritual seperti doa pribadi dan pembacaan Alkitab belum menjadi bagian dari rutinitas harian. Aktivitas tersebut sering dilakukan secara sporadis dan tidak konsisten, bahkan sering terabaikan akibat dominasi aktivitas digital. Hal ini mengindikasikan lemahnya kedisiplinan spiritual serta kurangnya kesadaran akan pentingnya membangun hubungan yang konsisten dengan Tuhan melalui kebiasaan rohani yang teratur. Kecenderungan ini diperparah oleh dominasi aktivitas digital yang menyita perhatian dan waktu. Media sosial, hiburan daring, serta komunikasi digital yang intens telah menggeser prioritas harian informan, di mana waktu hening bersama Tuhan digantikan oleh scrolling konten, bermain game, atau menonton video hiburan. Situasi ini tidak hanya berdampak pada frekuensi praktik spiritual, tetapi juga pada kualitas spiritualitas itu sendiridi mana relasi dengan Tuhan menjadi dangkal, dan kehilangan kedalaman makna. Di samping itu, keterlibatan jemaat Gen-Z GKII Pintu Elok dalam komunitas gereja cenderung terbatas pada kehadiran ibadah umum yang bersifat seremonial dan tidak selalu mencerminkan kedalaman relasi spiritual dengan Tuhan maupun sesama. Kegiatan rohani yang bersifat lebih intensif dan bersifat komunal, seperti persekutuan doa dan pendalaman Alkitab, sering kali tidak diikuti secara rutin. Berdasarkan paparan di atas, maka pertanyaan penelitian yang diajukan adalah : AiBagaimana dampak penggunaan gadget terhadap kehidupan rohani Gen-Z di Gereja Kemah Injil Indonesia. Pintu Elok. Nanga Pinoh. Kalimantan Barat? Seiring dengan masalah penelitian yang diajukan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dampak penggunaan gadget di kalangan Gen Z GKII Pintu Elok. Nanga Pinoh. Kalimantan Barat itu sebenarnya. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus (Zaluchu, 2020, p. untuk memahami fenomena dampak pemakaian gadget dalam konteks gereja lokal yaitu kehidupan rohani jemaat Gen-Z GKII Pintu Elok. Nanga Pinoh. Kalimantan Barat. Yin mengemukakan bahwa penelitian studi kasus sangat berguna untuk mengeksplorasi fenomena dalam konteks nyata, terutama ketika batasan antara fenomena dan konteksnya tidak dapat dipisahkan dengan jelas (Yin, 2018, p. Pendekatan kualitatatif studi kasus memungkinkan peneliti untuk menyelidiki fenomena dalam konteks alami di mana batas antara fenomena dan konteksnya sering kali kabur. Hal ini membuat studi kasus menjadi metode yang efektif untuk memahami peristiwa atau isu yang kompleks dan kontekstual, di mana faktor-faktor eksternal dan internal saling mempengaruhi dan tidak dapat dipisahkan secara tegas. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara langsung dengan anggota jemaat Gen-Z. Pendeta. BPJ. Orang Tua di GKII Pintu Elok Nanga Pinoh dan analisis lieratur berkaitan dengan topik penelitian. 145 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob HASIL DAN PEMBAHASAN Kehidupan Rohani Berdasarkan Eksegesis Kolose 2:6-8 Berdasarkan eksegesis yang dilakukan oleh peneliti dalam Kolose 2:6-8 ditemukan bahwa bahwa kehidupan rohani jemaat Gen-Z dapat diketahui dari beberapa tanda sebagai berikut: Telah Menerima Kristus . Frasa AiTelah menerima KristusAn a A . labete ton Christon Iesou. Tense Aorist, aktif, 2nd plural. Makna: Aorist menunjukkan bahwa tindakan "menerima Kristus" adalah tindakan yang telah selesai, merujuk pada penerimaan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pada titik tertentu dalam kehidupan. Gender: Maskulin, plural . erujuk pada jemaat secara kolekti. (N. Wright. , 2. Dari kata dasar O . , yang berarti "menerima," dalam konteks ini merujuk pada penerimaan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini adalah penerimaan yang tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga sebagai penerimaan secara spiritual. A (Christon Iesou. : Kristus Yesus, yang berarti Yesus sebagai Mesias yang diurapi dan penyelamat umat manusia. Barclay mengartikan "telah menerima Kristus" dalam bahasa Yunani sebagai "A AU" . ambanein Christo. , yang secara harfiah berarti "menerima Kristus". Penerimaan ini bukan hanya pengakuan verbal, tetapi adalah langkah nyata dalam mengizinkan Kristus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seseorang, mencerminkan kehidupan yang bertransformasi sesuai dengan pengajaran-Nya. Dalam hal ini, "menerima" melibatkan tindakan berkomitmen dan perubahan sikap hidup (William Barclay, 1. Penerimaan ini mencakup komitmen dan perubahan sikap yang berkelanjutan, yang menghasilkan transformasi hidup yang mencerminkan ajaran dan teladan Kristus. Green menjelaskan bahwa dalam konteks gereja awal, "menerima Kristus" berarti "A AU" . amvynein Christy. , yang mencakup pertobatan, pengakuan iman, dan Penerimaan Kristus mengimplikasikan masuk ke dalam komunitas orang percaya dan berkomitmen untuk hidup sesuai dengan Injil. Ini bukan hanya pengakuan pribadi tetapi juga transformasi dalam konteks komunitas gereja (Green, 2. Konteks gereja awal, "menerima Kristus" yang diungkapkan dengan "A AU" . amvynein Christy. , melibatkan pertobatan, pengakuan iman, dan baptisan. Penerimaan ini berarti menjadi bagian dari komunitas orang percaya dan berkomitmen untuk hidup sesuai dengan Injil. Peneliti sepakat bahwa menerima Kristus bukan hanya sebagai Juruselamat, tetapi juga sebagai Tuhan yang memiliki otoritas atas kehidupan seseorang. Penerimaan ini melibatkan pengalaman hubungan pribadi dengan Kristus yang diperbarui oleh Roh Kudus, sehingga hidup dapat sesuai dengan kehendak Allah. Hidup Tetap di Dalam Kristus . Ungkapan kalimat AiHidupmu tetap di dalam DiaAn anA a a . eripateite en Bentuk present tense, imperatif, plural. Dengan makna: Tindakan yang terus-menerus "Hidup" di sini merujuk pada cara hidup yang harus berakar dalam Kristus setiap Isitilah Gender, maskulin, plural merujuk pada jemaat secara kolektif (OAoBrien, 2018, p. Kata peripates, yang berarti "berjalan" atau "hidup," merujuk pada cara hidup yang 146 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob mencerminkan ajaran Kristus. Frasa a a . n aut. , yang berarti "di dalam Dia," menekankan bahwa segala aspek hidup seharusnya dilakukan dalam persekutuan dengan Kristus, menunjukkan bahwa Kristus adalah pusat dari segala tindakan dan kehidupan seorang percaya. Dalam bukunya Hasan Susanto berjudul AiPerjanjian Baru Interlinear YunaniIndonesia dan Konkordansi Pernjanjian BaruAy Ini merujuk pada Kristus sebagai sumber dari segala kehidupan dan kekuatan rohani. AiTetap tinggal dalam KristusAn . a anA . n auto peripateit. kata kerja imperatif hadir orang kedua jamak aktif,An (Sutanto, 2014, p. Menuntut ketaatan dan kedisiplinan spiritual dalam menjalani hidup beriman. Hidup dalam Kristus mengarah pada hidup yang aktif dalam iman, yang berarti mengikuti jalan-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Hidup yang terus-menerus terhubung dengan Kristus adalah hidup yang diberkati dan disertai dengan pimpinan-Nya. Kata anA a a . eripateite en aut. , peripateite berasal dari kata peripates yang berarti "berjalan" atau "hidup. " Dalam konteks ini, peripateite tidak hanya merujuk pada berjalan secara fisik, tetapi lebih pada hidup secara rohani atau cara hidup yang berjalan dalam Kristus. Karena dalam bentuk present imperatif, ini menunjukkan perintah atau anjuran untuk menjalani kehidupan ini secara berkelanjutan. Maskulin, plural yang secara kolektif mengacu pada jemaat Kolose (R. Lenski, 2. Berdasarkan konteks ayat tersebut, maknanya lebih dari sekadar berjalan fisik, tetapi mengarah pada cara hidup yang mencerminkan prinsip-prinsip Kristus. Ini mengajarkan bahwa hidup seorang percaya harus secara terus-menerus mencerminkan hubungan yang mendalam dengan Kristus, yang merupakan inti dari kehidupan Kristen sejati. Berakar Di Dalam Kristus . Pernyataan kalimat "Berakar dan dibangun di dalam Dia" aO . "Berakar" (Present tense, partisip aktif, maskulin plura. Maskulin plural, karena merujuk pada jemaat secara kolektif. Present tense mengindikasikan bahwa tindakan ini adalah suatu proses yang berkelanjutan. Berakar dalam Kristus adalah tindakan yang terus-menerus berlangsung dalam kehidupan orang percaya. Bermakna: Berakar menggambarkan kedalaman iman yang harus mengakar dalam Kristus, menunjukkan kestabilan dan ketahanan dalam menghadapi tantangan hidup (OAoBrien, 2. Barclay menjelaskan bahwa frasa "aO a a" . rrizsmenoi en aut. , yang diterjemahkan sebagai "berakar di dalam Dia," menggambarkan kehidupan yang benar-benar terhubung dan berlandaskan pada Kristus. "aO". adalah bentuk kata kerja aktif yang menunjukkan bahwa orang percaya tidak hanya sekadar menumbuhkan akar di dalam Kristus, tetapi juga menerima kedalaman dan pemeliharaan dari-Nya. Tensi ini menunjukkan suatu keadaan yang sedang berlangsung, yaitu kehidupan yang terus-menerus dibangun dalam Kristus (William Barclay, 1. Ini mencerminkan sebuah keadaan yang berkelanjutan, di mana fondasi iman terus diperbaharui dan diperdalam seiring waktu. Bonhoeffer menjelaskan bahwa "aO a a". rrizsmenoi en aut. , menggambarkan pengikut Kristus yang hidup sepenuhnya terhubung dengan Kristus sebagai akar kehidupan (Stott, 2009, p. 147 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob Hal ini menandakan bahwa orang percaya harus terus menerus menerima kehidupan dan pertumbuhannya dari Kristus, yang memungkinkan jemaat berkembang dalam iman. Dengan demikian, berakar dalam Kristus berarti hidup yang didasarkan pada ketaatan kepada-Nya. Dibangun di Atas Kristus . Arti frasa "Dibangun di atas Dia" . aO a a . : Dari kata dasar AAUO . , yang berarti "membangun fondasi. " Menggambarkan Kristus sebagai dasar atau fondasi yang tak tergoyahkan dalam kehidupan rohani. a a . n aut. "Di dalam Dia" menunjukkan bahwa segala hal dalam kehidupan rohani harus dibangun di atas Kristus, yaitu pada ajaran-Nya dan pengorbanan-Nya. Barclay menjelaskan bahwa dalam Kolose 2:7b, frasa " aC a a" . ai epoikodomethentes en aut. "dan dibangun di atas Dia"), yang menggunakan bentuk pasif juga, menandakan bahwa kehidupan orang percaya sedang dibangun dan diperkuat di atas dasar Kristus. Bagian ini menunjukkan bahwa orang percaya terus-menerus diperkuat dan dibangun oleh Kristus (William Barclay, 1. Proses berkelanjutan di mana kehidupan orang percaya terus diperkuat dan dibangun di atas dasar Kristus. Stott mengartikan bahwa hidup yang "berakar di dalam Kristus" mengandung pengertian bahwa iman orang percaya harus selalu dipelihara dan dikuatkan oleh Kristus. Frasa "aO a a". rrizomynoi en aut. menggambarkan fondasi yang tidak tergoyahkan, yang tetap kokoh berakar pada Kristus. Sementara itu, "aC a a" ". rrizomynoi en aut. mengandung makna bahwa orang percaya dibangun di atas dasar Kristus Kristus adalah fondasi yang kokoh yang menopang kehidupan rohani. Bentuk pasif dari "aC" menunjukkan bahwa orang percaya dibentuk, disusun, dan diperkuat oleh Kristus (Stott, 2. Kata . , hal ini menekankan bahwa orang percaya dibentuk, disusun, dan diperkuat oleh Kristus. Proses ini menggambarkan kehidupan rohani yang terus berlanjut, yang terus dipelihara dan dibangun dengan Kristus sebagai fondasi utama. Kehidupan rohani yang dibangun di atas Kristus adalah kehidupan yang tidak akan mudah runtuh, meskipun menghadapi tantangan atau kesulitan. analogi pertumbuhan menunjukan bahwa iman memerlukan pondasi kuat serta proses pengembangan yang berkesinambungan. Bertambah Teguh Dalam Iman . Kalimat ini bermakna "Bertambah teguh dalam iman" . , bebaismenoi a N AA . : Dari kata dasar O . , yang berarti "memperkuat" atau "mengokohkan,An atau diteguhkan dalam penuh iman. Ini menggambarkan pertumbuhan yang berkelanjutan dalam iman yang semakin kokoh. a N AA . n te piste. : "Dalam iman" iman yang semakin teguh dalam ajaran dan kasih Kristus. (Aplikasi Hebrew/Greek Interlinear Bible V50-B241210-Db23. Copyright @ 2025 HagiosTech. Inc. All Right Reservet. Proses pertumbuhan iman ini adalah sebuah perjalanan yang terus-menerus mengarah pada keteguhan dalam percaya kepada Kristus, yang diperoleh melalui pengajaran dan pengalaman hidup dengan-Nya. Barclay menjelaskan bahwa "AsA a N AA" . ebaioumenoi en te piste. yang diterjemahkan sebagai "bertambah teguh dalam iman," mengandung arti bahwa orang 148 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob percaya seharusnya mengukuhkan diri dalam iman (William Barclay, 1. Proses ini bersifat berkelanjutan, di mana orang percaya semakin dikuatkan dalam iman, seiring berjalannya waktu. Bagian ini menegaskan bahwa memperkuat iman merupakan karya Tuhan yang terus berlangsung dalam kehidupan orang percaya. Stott mengartikan bahwa "AsA a N AA"(Bebaioymenoi en ty pyste. , berarti orang percaya harus terus-menerus mengukuhkan dan memperteguh iman mereka dalam Kristus. Kata "AsA" (Bebaioymeno. dalam bentuk pasif menunjukkan bahwa iman orang percaya dikuatkan oleh Tuhan. (John Stott, 2. Bentuk pasif ini menekankan bahwa meskipun orang percaya berusaha untuk mempertahankan iman mereka, kekuatan dan keteguhan itu datang dari Kristus yang bekerja dalam hidup mereka. Proses ini adalah hasil dari kasih karunia dan pemeliharaan Tuhan yang terus berlanjut. Melimpah dengan Ucapan Syukur . Intisari kalimat "Melimpah dengan ucapan syukur" . - asAC a a A aC. asAC . : Dari kata dasar asO . , yang berarti "melimpah" atau "berkelimpahan," menunjukkan buah yang melimpah dalam hidup A aC . eta eucharistia. "Dengan ucapan syukur" menunjukkan bahwa hidup yang berakar dalam Kristus menghasilkan sikap hati yang penuh rasa syukur. Rasa syukur adalah respons alami dari kehidupan yang berakar dan dibangun di dalam Kristus. Frasa "a a asAC" . n eucharistia perisseuonte. yang diterjemahkan sebagai "melimpah dengan ucapan syukur," menunjukkan kehidupan orang percaya yang penuh dengan pengucapan syukur yang melimpah. Kata "asAC" . adalah bentuk partisip aktif yang menunjukkan suatu tindakan berkelanjutan, yakni orang percaya harus selalu melimpah dalam ucapan syukur kepada Tuhan. (William Barclay, 1. Kata "asAC" . dalam bentuk partisip aktif menunjukkan bahwa ucapan syukur harus menjadi tindakan yang berkelanjutan, di mana orang percaya senantiasa memberikan syukur kepada Tuhan. Stott mengartikan bahwa "asAC" . menunjukkan kelimpahan yang terus-menerus dalam pengucapan syukur. Bentuk aktif ini menyiratkan bahwa orang percaya harus berterima kasih secara berkelanjutan atas keselamatan yang mereka terima dalam Kristus. Ucapan syukur yang melimpah mencerminkan hati yang penuh rasa terima kasih terhadap Tuhan, yang muncul dari pengalaman iman yang mendalam dan hubungan yang hidup dengan-Nya. Bagi Stott, kehidupan yang melimpah dalam ucapan syukur adalah salah satu tanda kehidupan rohani yang sehat (Stott, 2. Green menyatakan bahwa "asAC" . menggambarkan suatu kelimpahan yang tidak hanya satu kali, tetapi berkelanjutan dalam kehidupan orang percaya. Ucapan syukur yang melimpah adalah akibat dari hidup yang berakar dan dibangun di dalam Kristus. Ini bukan hanya sekadar ungkapan kata-kata, tetapi meliputi seluruh kehidupan yang penuh rasa syukur. Tensi aktif yang digunakan dalam "asAC" menunjukkan bahwa pengucapan syukur ini harus mencakup segala aspek kehidupan orang percaya yang terusmenerus dan melimpah (Green, 2. Ucapan syukur yang melimpah ini merupakan buah dari hidup yang berakar dan dibangun di dalam Kristus. Hal ini lebih dari sekadar kata-kata, melainkan mencakup seluruh 149 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob aspek kehidupan yang penuh rasa terima kasih. Penggunaan bentuk aktif pada "asAC" menunjukkan bahwa ucapan syukur tersebut harus melimpah dan terus menerus ada dalam setiap bagian kehidupan orang percaya. Hati-hati . Ayat 8a bertujuan "Hati-Hatilah" "ea " (Blepete me. Kata "ea" (Blepet. diterjemahkan sebagai "lihat" atau "perhatikan" "u" (M. adalah partikel negatif yang berarti "jangan" atau "tidak. " (OAoBrien, 2. Artinya adalah suatu larangan yang mendalam terhadap perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Yang menunjukkan perhatian dan Paulus ingin jemaat Kolose lebih berhati-hati dalam menghindari pengaruh ajaran sesat. OAoBrien menafsirkan "C E A A" (Tis alle sophian kai kenen phlyari. "Menawan dengan Filsafat Kosong dan Palsu" . , "E " (Alle sophia. berarti "filsafat lain," mengacu pada ajaran atau pandangan dunia yang bertentangan dengan ajaran Kristus. "A A" (Kenen phlyari. berarti "filsafat kosong dan siasia" (OAoBrien, 2018, p. , yang merujuk pada ajaran yang tampak bijaksana tetapi tidak berisi atau tidak memberikan kebenaran sejati. Filsafat semacam ini adalah omong kosong dan tidak membawa hidup rohani yang nyata. Dalam Kolose 2:8a, "a" . adalah bentuk kata kerja perintah dalam bentuk present yang berarti "lihatlah" atau "waspadalah. " Tong menginterpretasikan ayat ini sebagai peringatan aktif bagi orang percaya untuk terus-menerus menjaga kewaspadaan terhadap pengaruh ajaran palsu dan tradisi manusia yang tidak sesuai dengan kebenaran Kristus. Paulus mengingatkan jemaat Kolose untuk tidak terjebak dalam filsafat duniawi yang bertentangan dengan Injil. Peringatan ini mengindikasikan adanya ancaman yang berlangsung, sehingga orang percaya harus senantiasa hati-hati (Tong, 2. Peringatan ini menunjukkan pentingnya kewaspadaan yang berkelanjutan, karena ajaran palsu dan tradisi manusia dapat dengan mudah menyusup dan menggoyahkan iman. Sebagai suatu perintah untuk selalu waspada terhadap ajaran yang bisa merusak kebenaran Injil. Kata ini, yang digunakan dalam bentuk imperatif, mengingatkan orang percaya agar terus menjaga diri dari pengaruh yang dapat menjauhkan mereka dari Kristus. Ajaran-ajaran yang dimaksud bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti filsafat, tradisi, atau pengaruh budaya yang bertentangan dengan inti Injil. Dampak Positif Penggunaan Gadget Sebagian informan menyatakan bahwa penggunaan gadget memberikan manfaat rohani dan kehidupan sehari-hari antara lain: Kemudahan Akses Firman Tuhan (Materi Rohan. Lewat Gadget Sebanyak 20 dari 27 informan menyatakan bahwa gadget memudahkan mereka dalam membaca Alkitab melalui aplikasi digital, mendengarkan khotbah, mengikuti renungan harian, dan menyaksikan ibadah online. Hal ini membantu mereka tetap terhubung dengan Tuhan meskipun memiliki mobilitas tinggi. informan menyatakan bahwa gadget memudahkan dalam membaca Alkitab melalui aplikasi digital, mendengarkan khotbah, 150 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob mengikuti renungan harian, dan menyaksikan ibadah online. Kemudahan akses ini memungkinkan koneksi spiritual tetap terjaga meskipun berada dalam rutinitas yang padat atau mobilitas yang tinggi. Kehadiran berbagai platform digital rohani memberikan fleksibilitas dalam membangun kehidupan iman, baik secara pribadi maupun dalam komunitas virtual. Selain itu, materi rohani yang mudah diakses kapan saja dan di mana saja membuat pertumbuhan iman lebih terbuka bagi generasi yang terbiasa hidup dalam ritme Gadget, dalam konteks ini, menjadi sarana yang efektif untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan ketika digunakan secara bijak dan terarah. Informan juga menyampaikan bahwa grup WhatsApp dan platform Zoom Meeting memfasilitasi persekutuan dan doa bersama secara online, terutama berjarak jauh atau ketika tidak dapat hadir secara fisik bisa betemu melalui gadget. Ketika kondisi tidak memungkinkan untuk hadir secara fisikAibaik karena jarak, kesibukan, atau situasi tertentu gadget memungkinkan tetap terhubung dan bersekutu secara virtual. Melalui fitur panggilan video, pesan singkat, dan grup diskusi, komunikasi antaranggota jemaat tetap terjaga, bahkan suasana kebersamaan rohani dapat dirasakan meskipun dilakukan secara daring. Penggunaan gadget merupakan bagian dari proses pemuridan generasi muda melalui media digital (I. Darmawan et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi digital dapat menjadi jembatan bagi relasi iman, memperluas jangkauan pelayanan, dan mendukung keterlibatan aktif dalam komunitas gereja di tengah berbagai keterbatasan. Akses Informasi dan Edukasi Gadget membantu para informan dalam menyelesaikan tugas sekolah, mencari informasi, dan belajar hal-hal baru secara mandiri. Akses ke berbagai sumber belajar digital seperti e-book, video pembelajaran, forum edukasi, dan platform interaktif memberikan kemudahan dalam memperluas pengetahuan di luar ruang kelas. Dengan memanfaatkan teknologi ini, kemampuan literasi meningkat, begitu pula keterampilan berpikir kritis dan Kemampuan untuk belajar secara mandiri juga memperkuat kesiapan menghadapi tantangan di dunia pendidikan dan kehidupan sosial yang semakin kompetitif. Gadget, dalam konteks ini, berperan sebagai alat pendukung yang mendorong pengembangan potensi diri secara intelektual dan sosial. Memudahkan Jalinan Komunikasi dan Relasi Dari 22 dari 27 informan menyatakan bahwa mereka merasa lebih mudah berkomunikasi dengan keluarga, teman, dan rekan pelayanan melalui gadget. Hal ini memperkuat jejaring sosial dan mempercepat koordinasi dalam kegiatan harian. Melalui pesan instan, panggilan suara, dan video call, interaksi dapat dilakukan secara cepat dan efisien tanpa dibatasi oleh jarak atau waktu. Kemudahan ini turut memperkuat jejaring sosial, mempererat hubungan antarpersonal, serta memperlancar koordinasi dalam berbagai kegiatan, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun pelayanan gereja. Gadget menjadi alat yang mempermudah konektivitas dan kolaborasi, menjadikannya sarana penting dalam kehidupan sosial sehari-hari. Pihak gereja dapat memanfaatkan media sosial yang diminati Gen-Z sebagai sarana menjalin komunikasi virtual dan penyebaran firman Tuhan atau Injil (Tanhidy, 2. 151 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob Dampak Negatif Namun, sebagian besar informan juga menyadari dampak negatif ketergantungan pada gadget sangat mempengaruhi kerohanian dan kehidupan sehari-hari antara lain: Menurunnya Kualitas Ibadah dan Spiritualitas yang Dangkal Sebanyak 19 informan mengaku sering terganggu saat saat teduh atau ibadah karena notifikasi media sosial, game, atau tontonan. Ini menyebabkan konsentrasi jemaat Gen-Z dalam membangun hubungan dengan Tuhan menjadi lemah. Menurunnya kepekaan rohani dan kualitas ibadah dan mengaku sering merasa kering secara rohani akibat kurang fokus dan terlalu banyak waktu online. Fenomena ini menunjukkan bahwa kehadiran teknologi, jika tidak dikendalikan, bukan hanya mengganggu aktivitas spiritual secara teknis, tetapi juga memengaruhi kondisi batin, melemahkan relasi dengan Tuhan, dan menurunkan kerinduan akan hal-hal rohani. Karena itu, diperlukan kesadaran dan pendampingan yang serius agar jemaat Gen-Z mampu membangun disiplin rohani di tengah arus digital yang begitu kuat menarik perhatian. Beberapa informan menyampaikan bahwa mereka lebih tertarik menghabiskan waktu di media sosial dari pada membaca firman Tuhan. Akibatnya, mereka merasa jauh dari Tuhan dan kurang memiliki pemahaman mendalam tentang iman. Akses yang cepat dan konten yang menarik di platform digital membuat perhatian lebih mudah teralihkan dari hal-hal Akibatnya, muncul rasa jauh dari Tuhan, kehilangan kepekaan spiritual, serta kurangnya kedalaman dalam memahami ajaran iman. Waktu yang seharusnya digunakan untuk saat teduh, doa, atau pembelajaran Alkitab, sering tergeser oleh aktivitas online yang bersifat sementara dan dangkal. Kondisi ini mencerminkan pergeseran prioritas rohani yang jika dibiarkan, dapat melemahkan dasar iman serta komitmen dalam menjalani kehidupan Kristen secara utuh. Penurunan Fokus Belajar dan Interaksi Sosial Dari 18 dari 27 informan mengaku terlalu lama bermain gadget, sehingga tugas sekolah terbengkalai, pola tidur tidak teratur, dan produktivitas menurun. Penggunaan gadget yang tidak terkontrol berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Banyak informan mengaku sering menunda tugas sekolah karena terlalu asyik dengan gadget, bahkan hanya mengandalkan pencarian instan tanpa memahami materi, sehingga kualitas belajar menurun. Pola tidur juga menjadi tidak teratur akibat kebiasaan menggunakan gadget hingga larut malam. Hal ini menyebabkan kelelahan, kesulitan konsentrasi, dan suasana hati yang tidak stabil. Produktivitas pun menurun. hari-hari terasa cepat berlalu tanpa pencapaian Aktivitas seperti membaca Alkitab, membantu orang tua, atau terlibat dalam pelayanan sering tertunda karena waktu habis untuk konsumsi digital. Secara keseluruhan, penggunaan gadget yang tidak bijak membentuk pola hidup pasif dan ketergantungan tinggi terhadap stimulasi digital. Dampaknya tidak hanya pada akademik dan sosial, tetapi juga pada pertumbuhan rohani. Gereja dan keluarga perlu hadir sebagai pendamping aktif untuk membangun kedisiplinan, kesadaran, dan gaya hidup digital yang Banyak informan merasakan penurunan kualitas relasi secara langsung karena 152 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob terlalu fokus dengan dunia digital. Mereka lebih sering berada di dunia maya dibanding berinteraksi secara nyata dengan keluarga atau komunitas gereja. Hal ini menyebabkan hubungan sosial menjadi renggang, komunikasi tidak mendalam, dan rasa kebersamaan Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menumbuhkan sikap individualistis dan mengurangi rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Paparan Konten Negatif Gadget membuka akses tanpa batas ke konten yang tidak sehat seperti pornografi, kekerasan, atau budaya populer yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kekristenan, dan ini berdampak pada karakter serta pola pikir. Paparan yang terus-menerus terhadap konten semacam ini secara perlahan membentuk cara berpikir, memburamkan batas antara benar dan salah, serta menormalisasi perilaku yang tidak sesuai dengan prinsip iman Kristen. Beberapa informan mengaku mulai kehilangan kepekaan terhadap dosa, lebih permisif terhadap gaya hidup bebas, dan mengalami konflik batin antara ajaran Alkitab dan pengaruh budaya digital. Dalam jangka panjang, hal ini dapat merusak karakter, membentuk identitas yang kabur secara rohani, serta menjauhkan dari standar kebenaran yang diajarkan oleh Kristus. Tanpa bimbingan dan penyaringan yang tepat, gadget dapat menjadi pintu masuk bagi nilai-nilai duniawi yang secara halus namun kuat menggeser fondasi iman dan moral generasi muda. Temuan penelitian dari informan, menunjukkan bahwa gadget adalah alat yang bersifat netral namun memiliki dampak besar tergantung pada cara penggunaannya. Penggunaan yang positif dapat memperkuat iman dan meningkatkan kualitas hidup Gen-Z, sedangkan penggunaan yang tidak terkontrol dapat melemahkan spiritualitas dan menurunkan kualitas hidup sehari-hari. Oleh karena itu, peran gereja, keluarga, dan komunitas sangat penting dalam mendampingi Gen-Z agar menggunakan gadget secara bijak, baik untuk kerohanian dan kehidupan sehari-hari, dengan bertanggung jawab. Dalam Kolose 2:6-8. Rasul Paulus memberikan peringatan kepada jemaat Kolose agar tetap hidup dalam Kristus, berakar dan dibangun di dalam Dia, serta tidak terbawa oleh filsafat kosong dan tipu daya dunia. Ayat ini menekankan pentingnya fondasi iman yang kuat dan keteguhan dalam pengajaran Kristus di tengah pengaruh ajaran yang menyesatkan. Dalam konteks gadget di era digital, ayat ini sangat relevan, terutama bagi generasi muda (Gen-Z) yang hidup di tengah banjir informasi dan paparan gadget yang intensif. Gadget bukan hanya alat bantu informansi, akses materi rohani, penigkatan produkvitas kinerja dan peningkatan prestasi akademik, tetapi juga bisa menjadi saluran masuknya pengaruh dunia yang dapat melemahkan akar iman jika tidak digunakan dengan bijak. Berdasarkan Kolose 2:6Ae8 menjadi dasar yang sangat relevan untuk memahami dan merespon realitas tersebut. Empat pokok dari ayat ini selaras dengan empat isu utama dalam kehidupan rohani Gen-Z GKII Pintu Elok Nanga Pinoh. Relevansi bagi jemaat Gen-Z, kamu telah menerima Kristus AiHidupmu tetap di dalam DiaAn (Kol. , menjawab masalah iman pasif dan sekadar menjalani rutinitas gereja, ayat ini menekankan pentingnya komitmen pribadi dan hidup dalam Kristus secara aktif. Hal ini mengarahkan pelayanan gereja agar tidak hanya menciptakan kegiatan, tetapi membina relasi pribadi setiap jemaat Gen-Z dengan Kristus. Kaitan dengan Kajian Teori. Gen-Z berada dalam tahap pencarian identitas, tanpa 153 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob dasar iman yang kuat. Jemaat Gen-Z mudah mengadopsi identitas semu. Kolose 2:6 memberikan solusi berupa hidup dalam Kristus sebagai identitas utama. Pemimpin gereja harus menjadi agen perubahan dengan mengedepankan kepemimpinan transformatif seperti yang ditelandankan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya (Darsana et al. , 2. Berakar di dalam Dia dan dibangun di atas DiaAn (Kol. Menanggapi pemahaman iman yang dangkal di kalangan Gen-Z, ayat ini menekankan perlunya pendalaman iman melalui pembinaan berkelanjutan. Gereja perlu mengedepankan pembelajaran doktrin dan pembacaan Alkitab yang sistematis bagi jemaat Gen-Z. Kaitan dengan kajian teori menyatakan bahwa Gen-Z mulai kehilangan kedalaman iman dan kedalaman relasi rohani secara pribadi. Ayat ini mendorong gereja untuk membantu jemaat Gen-Z berakar bukan dalam dogma kosong, tetapi dalam relasi sejati dengan Kristus. Jemaat Gen-Z jangan terpapar roh-roh dunia melalui media sosial, seperti hedonisme, relativisme, dan individualisme, pluralisme (Kol. Brain Popcorn Di era digital yang serba cepat ini, banyak orang mengalami fenomena yang dikenal sebagai AuBrain PopcornAy. Brain popcorn ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2011 oleh David Levy, seorang profesor di University of Washington yang meneliti hubungan antara manusia dan teknologi (Levy, 2016, pp. 15Ae. Peneliti sepakat dengan penemuAuBrain Popcorn" menggambarkan fenomena ketika otak menjadi terbiasa dengan kecepatan informasi yang sangat cepat, seperti popcorn yang terus meletup tanpa henti. Brain Popcorn adalah istilah yang menggambarkan kondisi di mana otak terus-menerus terstimulasi oleh informasi yang datang dengan cepat dan bertubi-tubi, sering kali karena penggunaan teknologi. Fenomena ini berhubungan dengan bagaimana gangguan yang datang terus-menerus seperti pemberitahuan dari media sosial atau gadget menciptakan pola berpikir yang acak dan mengurangi kemampuan berpikir dalam cara yang mendalam (Levy, 2016, pp. 15Ae. Peneliti melihat, ketika informasi datang terlalu cepat dan terus-menerus, otak menjadi terbiasa dengan stimulasi yang instan, yang mengarah pada pola pikir yang lebih dangkal dan kurang reflektif. Ini menciptakan tantangan besar dalam menjaga konsentrasi dan pemikiran kritis. Gangguan Kesehatan Fisik dan Gangguan Mental Rini menyoroti "Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik pada anak, seperti masalah penglihatan dan gangguan postur tubuh akibat posisi duduk yang tidak ergonomis" (Rini, 2. Hasil riset Ernawati menyampaikan "Anak yang terlalu lama menggunakan gadget berisiko mengalami gangguan kesehatan mata, seperti mata kering dan rabun jauh, serta gangguan postur tubuh akibat posisi duduk yang tidak tepat" (Ernawati, 2. Paparan layar gadget yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik pada anak, termasuk gangguan penglihatan dan postur tubuh yang buruk. Darmawan menjelaskan "Penggunaan gadget yang tidak terkendali dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan fisik, seperti gangguan penglihatan dan postur tubuh akibat posisi duduk yang 154 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob tidak ergonomis. "(D. Darmawan, 2011, p. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan fisik, terutama pada anak-anak, seperti gangguan penglihatan dan masalah postur tubuh. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat meningkatkan tingkat stres, kecemasan, dan depresi, terutama di kalangan Gen-Z yang lebih rentan terhadap tekanan sosial dan konten negatif di media sosial. Kecanduan pada gadget dapat menyebabkan gangguan tidur, kecemasan sosial, serta rendahnya tingkat perhatian yang berdampak buruk pada kesejahteraan mental pengguna. Dampak buruk penggunaan gadget secara berlebihan tidak hanya terbatas pada masalah fisik, namun juga pada gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan masalah identitas sosial. Dampak negatif penggunaan gadget yang berlebihan tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga berdampak pada aspek mental, seperti meningkatnya kecemasan, depresi, serta gangguan dalam pembentukan identitas sosial. Ketergantungan pada perangkat digital dapat memperburuk kondisi psikologis individu, mengganggu keseimbangan emosi, dan menghambat perkembangan diri, terutama dalam interaksi sosial dan pemahaman terhadap peran sosial dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan gadget secara terus-menerus dapat menyebabkan gangguan yang besar pada kualitas tidur, di mana waktu tidur menjadi terganggu akibat paparan layar yang Hal ini pada gilirannya berdampak pada kesehatan mental, memperburuk kondisi seperti depresi dan stres, yang semakin diperparah oleh konsumsi konten-konten negatif yang ditemukan di media sosial atau platform digital lainnya. Kurangnya Interaksi Tatap Muka (Isolasi Sosia. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan isolasi sosial, karena individu lebih cenderung menghabiskan waktu di dunia digital, sehingga dapat mengurangi interaksi tatap muka dengan keluarga dan teman-teman. Kurangnya interaksi tatap muka dapat berujung pada perasaan kesepian serta isolasi sosial. Untuk itu orang tua perlu memberi pendampingan kepada anak dan lebih banyak berinteraksi dengan mereka. Hal ini akan menolong anak untuk punya waktu untuk kembali ke dunia nyata, dan mengurangi waktu untuk menggunakan gadget (Setyaningsih & Setyowatie, 2. Dampak negatif gadget, terutama dalam konteks isolasi sosial dan berkurangnya interaksi tatap muka, harus menjadi menjadi perhatian penting para pemimpin gereja, guru dan orang tua di rumah. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengurangi kualitas hubungan sosial dan memperburuk kesejahteraan mental individu, menciptakan perasaan terisolasi meskipun secara fisik mereka terhubung dengan banyak orang di dunia digital. KESIMPULAN Gadget dapat berfungsi sebagai alat yang mendukung pertumbuhan rohani, apabila digunakan dengan bijaksana. Gadget memungkinkan untuk tetap terhubung dengan firman Tuhan dan sesama umat percaya, bahkan ketika tidak dapat hadir secara fisik di gereja. Dengan demikian, jika dimanfaatkan secara bijak, gadget sebenarnya bisa menjadi media yang bisa memperkuat iman dan mendekatkan individu kepada Tuhan. Pemimpin gereja, guru dan 155 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 Juni 2025 Yesaya. Yakob orang tua perlu menolong generasi muda terhindar dari dampak negatif penggunaan gadget yang berlebihan. Penelitian ini diharapkan tidak hanya menjadi kajian akademik, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi gereja lokal dan masyarakat Kristen dalam menghadapi era digital secara bijak. Di tengah kemajuan teknologi yang terus berkembang, gereja perlu terus melakukan refleksi, pembaruan pendekatan, serta membangun pelayanan yang transformatif yang tidak hanya menjawab tantangan zaman, tetapi juga menuntun jemaat Gen-Z untuk hidup berakar dan bertumbuh dalam Kristus. DAFTAR PUSTAKA