Jurnal Inovasi Teknologi Politeknik Negeri Bengkalis. VOL. NO. NOVEMBER 2025 Inovtek Polbeng: Jurnal Inovasi Teknologi Politeknik Negeri Bengkalis (Bengkalis State Polytechnic Technology Innovation Journa. 2580-2798 . 2588-6225 . journal homepage: https://jurnal. id/index. php/IP/index ANALISIS FENOMENA PEMBEKUAN EVAPORATOR DAN KOMPRESOR PADA SISTEM AC SENTRAL KAPAL DENGAN KOMPRESOR SEMIHERMETIK CARLYLE 06EA599 DAN REFRIGERAN R-407C Suyanto. Ratna Dwi Kurniawan. Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. Sudarto. Tembalang. Kec. Tembalang. Kota Semarang. Jawa Tengah 50275 Corresponding Author: suyantoeset@gmail. Article Info Abstract Keywords: Floodback. Evaporator Frosting. TXV Superheat. Marine HVAC. Abstrak Sistem AC sentral pada kapal kerap mengalami gangguan berupa pembekuan ekstrem . pada evaporator dan saluran hisap kompresor, yang dapat menurunkan kinerja pendinginan dan membahayakan kompresor. Penelitian ini bertujuan menganalisis penyebab utama fenomena frosting pada sistem AC kapal dengan kompresor semihermetik Carlyle 06EA599 dan refrigeran R-407C, serta memberikan rekomendasi teknis untuk meningkatkan keandalan Metode yang digunakan adalah studi kasus terapan melalui inspeksi langsung, pengukuran tekananAe temperatur, perhitungan superheat dan subcooling, serta analisis kondisi komponen sesuai panduan Service Guide Carlyle. Hasil menunjukkan bahwa tekanan evaporasi rendah . ,2 ba. , nilai superheat mendekati 0 K, fenomena liquid floodback, serta hunting pada TXV merupakan faktor dominan penyebab pembekuan. Overcharge refrigeran dan kondisi ruang mesin yang panas turut memperparah ketidakseimbangan siklus. Kesimpulannya, penyesuaian superheat TXV, pengurangan refrigeran, dan verifikasi ulang aliran udara efektif menghilangkan flooding dan Article history: Received: 16/11/2025 Last revised: 21/11/2025 Accepted: 22/11/2025 Available online: 23/11/2025 Published: 28/11/2025 menstabilkan operasi sistem. DOI:https:// 10. 35314/p4myz386 Abstract Centralized air-conditioning systems on ships often experience severe frosting on the evaporator and suction line, which reduces cooling performance and poses risks to the compressor. This study aims to analyze the root causes of frosting in a marine AC system using a Carlyle 06EA599 semi-hermetic compressor and R-407C refrigerant, and to provide technical recommendations to improve system reliability. The applied case-study method was used through direct inspection, pressureAetemperature measurements, superheat/subcooling evaluation, and component assessment based on the Carlyle Service Guide. The results show that low evaporating pressure . 2 ba. , near-zero superheat, liquid floodback, and TXV hunting were the dominant causes of frosting. Refrigerant overcharge and high engine-room temperature further aggravated system imbalance. In conclusion, adjusting TXV superheat, reducing refrigerant charge, and verifying airflow were effective in eliminating flooding and stabilizing system performance PENDAHULUAN Kapal modern dirancang sebagai struktur tertutup yang memiliki tingkat kerapatan tinggi untuk menjamin keselamatan dan stabilitas selama pelayaran. Karakteristik konstruksi ini menyebabkan terbatasnya pertukaran udara secara alami, sehingga hampir seluruh ruang pada kapal sangat bergantung pada sistem ventilasi mekanis dan pendingin udara atau AC. Sistem ini tidak hanya Jurnal Inovasi Teknologi Politeknik Negeri Bengkalis. VOL. NO. NOVEMBER 2025 bertujuan memberikan kenyamanan termal, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam mempertahankan kualitas udara dan mendukung operasi keseluruhan kapal. Ruang akomodasi, ruang navigasi, serta ruang mesin merupakan area yang memerlukan suplai udara dalam jumlah memadai untuk mendukung kesehatan awak kapal, efisiensi peralatan, serta keselamatan operasional. Kebutuhan ventilasi kapal berperan penting dalam menjaga kondisi udara di area kerja, meminimalkan akumulasi kontaminan, serta memastikan tersedianya suplai oksigen yang cukup . Pada ruang mesin, kebutuhan udara tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan manusia, tetapi juga terkait langsung dengan proses pembakaran pada mesin diesel sebagai penggerak utama kapal atau penghasil energi listrik. Selain itu, udara ventilasi berfungsi membantu mengangkut panas yang dilepaskan oleh mesin, boiler, generator, dan peralatan lainnya. Sistem HVAC pada kapal memikul beban termal lebih tinggi dibandingkan instalasi darat akibat lingkungan laut yang lebih ekstrem, ruang sempit, dan kontinuitas operasi mesin . Ketersediaan udara segar dan sistem pendingin yang efisien merupakan syarat bagi keandalan kapal secara keseluruhan. Sistem dan komponen HVAC pada kapal bisa dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Sistem dan komponen HVAC pada kapal . Selain kebutuhan ventilasi, kapal juga wajib memenuhi aturan klasifikasi dan standar internasional mengenai desain ruang, keselamatan kerja, serta batasan lingkungan. Biro klasifikasi seperti BKI. ABS. LR, dan DNV memberikan ketentuan detail terkait temperatur maksimum ruang mesin, jumlah pergantian udara per jam, serta kapasitas minimal sistem pendingin untuk menjamin keselamatan operasional. Studi keselamatan ventilasi kapal . menyatakan bahwa batas suhu ruang mesin, kelembapan, dan konsentrasi gas harus dijaga secara ketat untuk mempertahankan kondisi kerja yang aman. Hal ini sejalan dengan regulasi nasional, termasuk ketentuan dari Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) yang mensyaratkan bahwa suhu ruang mesin tidak boleh melebihi ambang tertentu demi mencegah risiko kerusakan peralatan dan kelelahan termal pada awak kapal . Sistem AC sentral pada kapal tanker atau kapal niaga lainnya berfungsi menjaga kestabilan suhu di seluruh area akomodasi dan ruang khusus. Pemanfaatan kompresor semihermetik di lingkungan maritim telah lama direkomendasikan karena efisiensi volumetriknya tinggi dan konstruksinya mampu menahan Jurnal Inovasi Teknologi Politeknik Negeri Bengkalis. VOL. NO. NOVEMBER 2025 beban mekanis berkelanjutan . Desainnya yang memungkinkan perawatan ditempat juga menjadi keuntungan signifikan mengingat keterbatasan ruang dan fasilitas di kapal. Sistem pendingin udara pada kapal dirancang untuk mampu beroperasi dalam kondisi berat, sehingga gangguan teknis berpotensi dapat terjadi, terutama pada komponen evaporator dan Salah satu gangguan yang sering ditemukan pada sistem AC sentral kapal adalah terbentuknya lapisan es berlebih . pada permukaan evaporator hingga menjalar ke saluran hisap kompresor. Frosting terjadi ketika suhu permukaan evaporator turun di bawah titik beku udara lembap sehingga menyebabkan kondensasi dan pembentukan kristal es . Fenomena ini dapat menurunkan efisiensi perpindahan panas dan membatasi aliran udara, serta dalam kasus ekstrem dapat memicu shutdown operasional sistem pendingin. Permasalahan frosting pada sistem pendingin kapal dapat memiliki akar penyebab beragam. Salah satu penyebab yang paling krusial adalah fenomena liquid floodback, yakni masuknya refrigeran dalam fase cair menuju sisi hisap kompresor. Floodback adalah salah satu kondisi paling merusak dalam sistem refrigerasi, karena refrigeran cair dapat mengencerkan oli pelumas kompresor, merusak pelat katup, dan mengakibatkan keausan mekanis premature . Lebih jauh, floodback menurunkan temperatur saluran hisap secara ekstrem sehingga mempercepat terbentuknya lapisan es yang meluas pada pipa dan badan kompresor, sebuah gejala yang juga ditemukan pada kasus AC kapal, sebagaimana bisa dilihat pada Gambar 2. Pada kondisi lebih lanjut, kompresor yang tadinya normal seperti terlihat pada Gambar 3 . , kemudian terkena dampak tertutup bunga es, seperti pada Gambar 3 . Gambar 2. Evaporator yang mengalami Frosting, . Pintu AHU yang diganjal dibiarkan sedikit terbukauntuk mengurangi Frosting (Suber: Ek. Gambar 3 . Kompressor untuk melayani AC di seluruh ruang di kapal,dalam kondisi normal tidak mengalami Frosting, . Penggantian Filter Evaporator . umber: Ek. Fenomena floodback sering kali berkaitan erat dengan pengaturan superheat yang tidak tepat pada katup ekspansi termostatik (TXV). TXV bertanggung jawab mengontrol jumlah refrigeran cair Jurnal Inovasi Teknologi Politeknik Negeri Bengkalis. VOL. NO. NOVEMBER 2025 yang masuk ke evaporator berdasarkan sinyal suhu pada bulb sensor. Ketika TXV terlalu terbuka atau mengalami hunting . embukaAemenutup secara berulan. , aliran refrigeran menuju evaporator menjadi tidak stabil, sehingga proses penguapan tidak berlangsung sempurna. TXV merupakan salah satu komponen paling sensitif dalam siklus refrigerasi, dan kesalahan kecil dalam penyetelan superheat dapat mengakibatkan kondisi starving maupun flooding. Selain itu, penggunaan refrigeran R-407C pada sistem pendingin kapal memiliki karakteristik tersendiri yang dapat memperbesar risiko frosting . R-407C merupakan campuran zeotropik yang memiliki temperature glide cukup besar sehingga perubahan kecil pada tekanan evaporasi dapat menghasilkan perubahan signifikan pada suhu penguapan. R-407C sangat sensitif terhadap overcharge dan ketidakseimbangan tekanan, yang dapat menyebabkan evaporating temperature turun di bawah batas yang diinginkan . Pada kasus nyata di banyak kapal, upaya awal untuk mengatasi frosting biasanya dilakukan melalui pembersihan evaporator, penggantian filter udara, serta pemeriksaan kebocoran refrigeran. Tindakan perawatan rutin tidak selalu mampu mengatasi akar penyebab, terutama jika masalah terletak pada ketidakseimbangan termodinamika system . Permasalahan serupa juga terlihat pada sistem AC sentral yang menjadi objek penelitian ini, di mana frosting tetap terjadi meskipun serpihan prosedur pemeliharaan telah dijalankan secara menyeluruh. Kondensor telah dibersihkan, evaporator dicuci, filter diganti, dan sistem pendingin diperiksa tanpa menemukan adanya kebocoran. Namun, lapisan es tetap terbentuk pada pipa isap dan kompresor. Ketidaktepatan penyetelan superheat dan kemungkinan overcharge refrigeran sering menjadi pemicu flooding pada sistem refrigerasi industri maupun maritim . Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk memperdalam pemahaman mengenai mekanisme terjadinya frosting dan floodback pada sistem AC sentral kapal yang menggunakan kompresor semihermetik Carlyle tipe 06EA599 dan refrigeran R-407C. Dengan menggabungkan analisis kasus nyata dan tinjauan literatur terbaru, penelitian ini bertujuan memberikan rekomendasi teknis yang aplikatif dalam menangani gangguan thermodinamika sistem pendingin kapal. Lebih jauh, hasil studi ini diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap peningkatan keandalan sistem HVAC maritim serta mendukung upaya keselamatan dan kenyamanan kerja di lingkungan kapal. METODE Penelitian ini menerapkan pendekatan applied case study untuk menganalisis secara mendalam fenomena pembekuan ekstrem . pada sistem AC sentral kapal yang menggunakan kompresor semihermetik Carlyle tipe 06EA599 dan refrigeran R-407C. Pemilihan metode studi kasus memungkinkan peneliti mengevaluasi gejala, parameter teknis, dan konteks operasional secara langsung berdasarkan kondisi lapangan actual. Objek penelitian merupakan sistem pendingin udara terpusat pada sebuah kapal tanker berkapasitas 40 kW yang memanfaatkan kompresor semihermetik seri 06E. Sistem ini umum dipasang pada kapal komersial karena konstruksi mekanisnya kuat terhadap getaran dan lingkungan laut. Kompresor semihermetik juga dikenal memiliki ketahanan yang baik, namun tetap rentan terhadap fenomena termodinamika seperti floodback apabila parameter operasi tidak seimbang . Pengumpulan data dilakukan saat inspeksi berkala, tepat setelah muncul laporan pembekuan berlebih pada evaporator dan saluran hisap kompresor. Data teknis yang direkam meliputi tekanan sisi tinggi (HP), tekanan sisi rendah (LP), temperatur pipa hisap, temperatur evaporator, serta kondisi komponen mekanis seperti filter, coil evaporator, dan permukaan kondensor. Penggunaan manifold gauge dan temperature probe untuk mengukur nilai tekanan dan temperatur. Parameter lingkungan juga diperhatikan, mengingat sistem pendingin maritim sangat dipengaruhi kondisi eksternal. Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan dokumentasi pemeliharaan. Catatan ini meliputi riwayat pembersihan evaporator, penggantian filter udara, pemeriksaan filter drier, pembersihan Jurnal Inovasi Teknologi Politeknik Negeri Bengkalis. VOL. NO. NOVEMBER 2025 kondensor air laut, serta inspeksi perpipaan. Analisis teknis mengacu pada Service Guide Carlyle 06E, yang menyediakan pedoman diagnosis gangguan pada kompresor dan sistem refrigerasi, seperti tekanan hisap terlalu rendah, superheat tidak stabil, atau indikasi liquid floodback . Analisis termodinamika dilakukan dengan membandingkan tekanan hisap aktual dengan nilai suhu jenuh berdasarkan PressureAeTemperature Chart untuk R-407C. Perhitungan superheat digunakan untuk menilai apakah refrigeran yang masuk ke kompresor berada dalam kondisi uap Nilai superheat ideal untuk aplikasi AC komersial berkisar antara 6Ae10 K. Apabila superheat mendekati 0 K, maka terdapat risiko aliran balik refrigeran cair menuju kompresor, yang dapat memicu kerusakan mekanis serius . Nilai subcooling juga diperhatikan untuk mengidentifikasi kemungkinan overcharge refrigeran. Nilai subcooling yang terlalu tinggi sering menunjukkan bahwa refrigeran cair menumpuk di kondensor dan mengganggu distribusi fase di evaporator. Sistem yang menggunakan R-407C sangat sensitif terhadap kondisi pengisian berlebih karena refrigeran ini memiliki temperature glide yang besar . Pembandingan hasil lapangan dengan hasil penelitian terdahulu digunakan untuk memperkuat interpretasi teknis. Misalnya, pola pembekuan evaporator dibandingkan dengan hasil yang meneliti dampak suhu evaporasi rendah terhadap pembentukan frost . , sementara literatur lain memberikan wawasan mengenai ketidakseimbangan aliran udara sebagai pemicu frosting . Selain itu, bagaimana floodback dapat menyebabkan penurunan temperatur ekstrem pada pipa hisap dan kompresor . Tahap akhir metode adalah penyusunan rekomendasi teknis. Berdasarkan hasil analisis, penyesuaian TXV untuk menaikkan superheat ke kisaran aman 6Ae8 K menjadi langkah utama. Pengurangan jumlah refrigeran dilakukan bertahap untuk menaikkan tekanan sisi rendah dan menghilangkan kondisi floodback. Pemeriksaan sistem defrost dan verifikasi aliran udara memastikan evaporator tidak mengalami kelebihan es selama operasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil inspeksi terhadap sistem AC sentral pada kapal tanker menunjukkan adanya anomali signifikan pada tekanan kerja, temperatur komponen, serta pola pembekuan pada evaporator dan saluran hisap kompresor. Tekanan sisi rendah tercatat pada 3,2 bar, jauh di bawah tekanan operasi normal untuk sistem refrigerasi berbasis R-407C, yang umumnya beroperasi pada rentang 4,5Ae5,0 Berdasarkan Pressure - Temperature Chartsesuai sesuai dengan Gambar 4 dan Tabel 1, tekanan 3,2 bar setara dengan suhu jenuh sekitar Oe2 AC, yang menandakan bahwa evaporator beroperasi pada zona sub-zero. Penurunan tekanan evaporasi ini menjadi indikasi awal terjadinya ketidakseimbangan kontrol refrigeran pada siklus pendingin . Suhu evaporator yang berada di bawah titik beku menyebabkan udara lembap yang melewati coil langsung mengalami kondensasi dan pembekuan, membentuk lapisan es yang semakin menebal. Evaporator dengan permukaan di bawah 0 AC akan memicu progressive frosting, yaitu penumpukan es yang berkembang cepat dan menghambat aliran Dalam kasus ini, lapisan es tidak hanya terbentuk pada coil evaporator, tetapi menjalar hingga pipa suction dan menuju bodi kompresor. Pola pembekuan meluas ini menjadi petunjuk kuat bahwa penyebab utamanya bukan sekadar aliran udara terhambat, tetapi lebih mengarah pada fenomena liquid floodback. Kondisi tersebut terjadi ketika refrigeran cair tidak sepenuhnya menguap di evaporator dan terbawa menuju Floodback merupakan kondisi paling berbahaya bagi kompresor karena cairan yang masuk ke ruang kompresi dapat menyebabkan pengenceran oli pelumas, kerusakan katup, retak mekanis, bahkan liquid hammer . Dalam kasus kapal, gejala-gejala visual seperti pipa hisap yang membeku hingga housing kompresor, turunnya arus listrik kompresor dari nilai normal, serta temperatur discharge yang lebih rendah dari standar sangat konsisten dengan karakteristik floodback. Jurnal Inovasi Teknologi Politeknik Negeri Bengkalis. VOL. NO. NOVEMBER 2025 Superheat rendah merupakan indikator TXV yang terlalu terbuka atau mengalami hunting. Hunting TXV terjadi ketika katup membuka dan menutup secara osilatif akibat perubahan cepat pada temperatur bulb sensor atau beban pendinginan. Dalam lingkungan ruang mesin yang memiliki fluktuasi panas ekstrem. TXV memang rentan mengalami ketidakstabilan. Ketidakseimbangan superheat ini kemudian menyebabkan refrigeran cair memasuki suction line, memicu pembekuan ekstrem seperti yang diamati . Gambar 4. Diagram P-h R-407C . Tabel 1. Data suhu dan tekanan R-407C pada kondisi cair dan uap. TEMPERATURE R-407C -20,6 -17,8 -12,2 -9,4 -6,7 -3,9 -1,1 PRESSURE R-407C Liquid Vapor 17,526 10,971 20,631 13,524 23,943 16,284 27,531 1,932 31,464 22,632 35,604 2,622 40,158 30,084 44,988 34,224 50,094 38,709 55,683 43,539 61,548 48,714 67,827 54,303 Jurnal Inovasi Teknologi Politeknik Negeri Bengkalis. VOL. NO. NOVEMBER 2025 Evaluasi Kondisi Kompresor dan Evaporator Kompresor semihermetik seperti Carlyle 06EA599 dirancang dengan toleransi tinggi terhadap perubahan beban dan kondisi lingkungan. Namun kompresor tidak dirancang untuk menangani refrigeran cair yang masuk ke ruang kompresi. Pada inspeksi lapangan, kompresor menunjukkan gejala operasi tidak normal, yaitu: . Temperatur bodi kompresor sangat rendah, bahkan membentuk lapisan es di sebagian permukaan, . Tekanan hisap berfluktuasi, mengindikasikan bahwa TXV hunting atau aliran refrigeran tidak stabil, . Arus motor lebih rendah dari normal, mengindikasikan refrigeran diisap dalam kondisi sangat dingin dan tidak memiliki superheat yang cukup. Ketika kompresor mengisap uap jenuh atau uap dingin dengan superheat rendah, daya kompresi berkurang sehingga konsumsi arus juga menurun. Fenomena ini diamati secara konsisten dalam kasus ini, memperkuat hipotesis bahwa kompresor mengalami refrigerant return yang tidak sesuai desain . Pembekuan evaporator seringkali disebabkan oleh hambatan aliran udara. Namun berdasarkan hasil inspeksi menunjukkan bahwa: . evaporator telah dibersihkan, . filter udara baru dipasang, . blower berfungsi dengan kecepatan normal, maka hambatan aliran udara bisa dikatakan bukan penyebab terjadinya pembekuan evaporator. Frosting akibat aliran udara buruk hanya terjadi bila kapasitas aliran udara turun lebih dari 30% . Dalam kasus ini, aliran udara berada dalam kondisi Maka, dapat dipastikan bahwa penyebab pembekuan bukan terletak pada sisi airflow, melainkan berasal dari ketidakstabilan refrigeran. Pengaruh Overcharge Refrigeran dan Sensor TXV R-407C merupakan campuran zeotropik yang memiliki temperature glide 5Ae7 AC sehingga sensitif terhadap perubahan tekanan. Adanya overcharge sebesar 10Ae15% dapat menurunkan tekanan evaporasi secara drastis, memicu ketidakseimbangan komposisi refrigeran, dan menurunkan superheat . Dalam kasus kapal ini, indikasi overcharge terlihat dari nilai subcooling yang lebih tinggi dari standar dan tekanan kondensasi yang cenderung stabil. Kondisi ini menandakan refrigeran cair menumpuk di kondensor dan masuk ke TXV dalam kondisi sangat dingin. TXV kemudian merespons dengan membuka lebih besar, menyebabkan overfeeding refrigeran ke evaporator. Overfeeding inilah yang memicu kondisi superheat rendah dan floodback berat. Sensor TXV berfungsi menjaga keseimbangan antara jumlah refrigeran cair yang masuk dan beban pendinginan evaporator. Namun, bulb sensor TXV pada sistem pendingin kapal terpapar fluktuasi temperatur, getaran, dan lingkungan ruang mesin yang panas. Sensasi panas dari lingkungan luar dapat menyebabkan TXV salah menafsirkan perubahan temperatur pada suction line. Bahwa TXV mudah mengalami hunting cycle jika terdapat lonjakan beban termal atau perubahan tekanan mendadak . Dalam kasus ini. TXV yang sering membuka terlalu besar menyebabkan volume refrigeran cair masuk ke evaporator secara berlebih. Ketika hal ini terjadi terus-menerus, kondisi evaporator menjadi sangat dingin dan tidak mampu menguapkan semua refrigeran cair sehingga sebagian cairan terbawa menuju kompresor. Analisis pola pembekuan menunjukkan bahwa es terbentuk di seluruh permukaan evaporator, di suction line, hingga mencapai body kompresor. Pola kejadian extended icing adalah sebuah kondisi yang hanya terjadi ketika superheat = 0 K dan aliran refrigeran cair mencapai kompresor . Extended icing berbahaya karena bisa merusak oli pelumas, menimbulkan korosi internal, menurunkan umur kompresor, dan dapat menyebabkan kegagalan kompresor total. Dari hasil inspeksi, analisis termodinamika, dan kajian literatur, didapatkan beberapa penyebab utama pembekuan ekstrem pada sistem AC kapal yaitu . Tekanan evaporasi terlalu rendah . ,2 ba. , . uperheat mendekati 0 K adalah indikasi langsung terjadi floodback, . TXV mengalami Jurnal Inovasi Teknologi Politeknik Negeri Bengkalis. VOL. NO. NOVEMBER 2025 hunting dan overfeeding, . Kemungkinan besar sistem mengalami overcharge refrigeran, . Lingkungan ruang mesin yang panas memperparah ketidakstabilan TXV. KESIMPULAN Hasil analisis terhadap sistem AC sentral kapal menunjukkan bahwa fenomena pembekuan ekstrem pada evaporator serta terbentuknya lapisan es hingga ke pipa hisap kompresor disebabkan oleh kombinasi ketidakseimbangan tekanan, rendahnya nilai superheat, serta ketidakstabilan kontrol aliran refrigeran. Tekanan evaporasi yang turun hingga 3,2 bar menyebabkan suhu jenuh berada pada Oe2 AC, sehingga evaporator bekerja di zona sub-zero dan memicu pembekuan cepat pada permukaan Kondisi ini diperburuk oleh nilai superheat yang mendekati 0 K, yang menunjukkan bahwa refrigeran belum sepenuhnya menguap sebelum mencapai suction line, sehingga terjadi liquid floodback yang berpotensi merusak kompresor. Selain itu. TXV mengalami hunting dan overfeeding akibat fluktuasi suhu ruang mesin, getaran, serta pembacaan sensor yang tidak stabil, yang menyebabkan refrigeran cair masuk secara berlebihan ke evaporator. Faktor overcharge refrigeran dan tingginya temperatur ruang mesin semakin memperparah ketidakseimbangan siklus refrigerasi, sehingga pembekuan meluas hingga ke suction line dan body kompresor. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih kepada bapak Teki Handoyo (Ek. Perwira Listrik Kapal (ETO), yang bertugas di Kapal Tanker, yang telah membantu dalam memberikan data dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA