Hasil Penelitian Diserahkan: Maret 2026 / Direvisi: Mei 2026 / Diterima: Mei 2026 Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi p-ISSN: 2716-151X e-ISSN: 2722-869X Potensi Ekstrak Etanol Daun Afrika (Vernonia amygdalina Del. terhadap Perbaikan Kerusakan Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicu. yang Diberikan Sopi Potential of Etanol Extract of African Leaves (Vernonia amygdalina Del. ) on the Repair of Kidney Damage of White Rats (Rattus norvegicu. Induced by Sopi Petra Willem Rodnels Melatunan. Chomsa Dintasari Umi Baszary. Meillisa Carlen Mainassy* Program Studi Biologi. Fakultas Sains dan Teknologi. Unversitas Pattimura. Ambon, 97233 *Penulis Koresponden: meillisa. mainassy@lecturer. Abstrak. Konsumsi sopi secara berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti gagal ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak etanol daun afrika dalam memperbaiki kerusakan ginjal tikus putih yang diberikan sopi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan. Tikus yang digunakan sebanyak 18 ekor, dengan perlakuan K (-). K ( ). P1. P2 dan P3 yang diberikan sopi sebanyak 1,28 ml/ekor, sementara kelompok tikus K( ) diberikan Furosemide sebagai pembanding. Kelompok P1. P2 dan P3 diberikan ekstrak etanol daun afrika dengan dosis berturut-turut 1,28, 2,56 dan 5,12 ml/ekor/hari. Hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) kemudian dilanjutkan dengan uji post hoc tukey HSD. Hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh penurunan kadar kreatinin dan perbaikan kerusakan ginjal tikus putih yang diberikan ekstrak etanol daun afrika, dimana dosis efektifnya adalah 2,56ml/ekor/hari. Maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun afrika dengan dosis 2,56 ml/ekor/hari berpotensi dalam menurunkan kadar kreatinin dan memperbaiki kerusakan ginjal tikus putih terinduksi sopi yang hasilnya juga sama dengan yang ditunjukan oleh obat Furosemide. Namun pemberian dosis yang semakin tinggi akan bersifat toksik bagi tubuh. Kata Kunci: daun_afrika. ekstrak_etanol. Abstract. Excessive consumption of sopi in the long term can cause various chronic diseases such as kidney failure. This study aims to determine the potential of African leaf ethanol extract in repairing sopiinduced kidney damage in white rats. The experimental design used was a completely randomized design (CRD) with five treatments. The sample was 18 mice. Groups of mice K (-). K ( ). P1. P2 and P3 were induced with 1. 28 ml of sopi/animal. K ( ) mice were given Furosemide as a comparison. Groups P1. P2 and P3 were given ethanol extract of African leaves at doses of 1. 28, 2. 56 and 5. 12 ml/head/day The results obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA) then followed by the Tukey HSD post hoc test. The results of the study showed that there was an effect of reducing creatinine levels and improving kidney damage in white mice due to administration of African leaf ethanol extract, where the effective dose was 2. 56ml/head/day. So it can be concluded that the ethanol extract of African leaves at a dose of 2. 56 ml/head/day has the potential to reduce creatinine levels and repair sopi-induced kidney damage in white rats, the results of which are also the same as those shown by the drug Furosemide. However, giving higher doses will be toxic to the body. Keywords: african_leaves. ethanol_extract. DOI: 10. 55241/spibio. Pendahuluan Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memiliki sumberdaya hayati Salah satu kekayaannya yaitu tumbuh-tumbuhan dimanfaatkan bagi masyarakat sebagai bahan makanan maupun obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit . Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan Masyarakat menyadari bahwa terdapat efek samping yang besar dari obat sintetik jika dibandingkan dengan obat yang terbuat dari tumbuhan herbal. Efek samping yang ditimbulkan dari obat sintetik seperti pusing, sakit kepala, mual, reaksi alergi, serta dapat menimbulkan resistensi obat. Selain itu, obat sintetik juga memiliki harga yang relatif mahal . Salah satu tumbuhan yang sering digunakan masyarakat sebagai obat tradisional yaitu daun afrika (Vernonia amygdalina Del. Berdasarkan literatur belum banyak penelitian menggunakan daun afrika yang dilakukan secara ilmiah . Namun testimoni dari masyarakat mengungkapkan bahwa daun afrika dapat dipakai sebagai antidiabetes, hipertensi, reumatik, pengapuran tulang, penyakit ginjal, dan lainnya. Senyawa kimia yang terkandung dalam daun Afrika antara lain. golongan saponin . ernoniosida dan steroid saponi. , seskuiterpen lakton . ernolida, vernodalin, dan vernomygdi. , flavonoid, koumarin, asam fenolat, lignan, xanton, terpen, dan glikosida steroid seperti vernonioside B1 dan vernoniol B1 . Alkaloid adalah antimikroba yang menghambat pertumbuhan mikroba . Senyawa kimia lain seperti flavonoid dan tanin dapat meningkatkan jumlah fibroblas dalam proses penyembuhan luka, sehingga luka cepat membaik. Saponin membantu pembentukan kolagen, meningkatkan kecepatan epitelisasi, dan bertindak sebagai antiseptik untuk membantu membunuh atau mencegah pertumbuhan Penelitian lainnya yang membandingkan herbal ekstrak Vernonia amygdalina terbukti lebih efektif dalam penyembuhan luka diabetes, re-epitelisasi, dan pembentukan kolagen dibandingkan dengan terapi menggunakan ekstrak Zingiber officinalis dan ekstrak Ocimum gratissimum atau larutan garam fisiologis . Alkohol merupakan senyawa organik, apabila dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang dapat memengaruhi fungsi organ tubuh terutama dampak fisik, psikologis, dan dampak sosial. Minuman beralkohol termasuk senyawa bersifat menyebabkan efek negatif bagi kesehatan masyarakat dan sosial . Salah satu minuman alkohol yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Maluku ialah Sopi. Sebagai minuman lokal, sopi diolah dan diwariskan secara turun temurun hingga Mengkonsumsi sopi secara berlebihan dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai penyakit kronis seperti, gangguan fungsi ginjal, peningkatan tekanan darah, perlemakan hati dan sirosis . Gangguan fungsi ginjal dalam waktu lama akan menyebabkan terjadinya gagal ginjal. Gagal ginjal ialah suatu keadaan dimana ginjal kehilangan volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan asupan makanan normal . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak etanol daun afrika dalam memperbaiki kerusakan ginjal tikus putih yang diberikan sopi. Metode Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni 2024. Terdapat tiga tahapan dalam penelitian ini. Tahap perlakuan dilaksanakan pada Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pattimura. Tahap kedua pengukuran kadar kreatinin darah dilaksanakan pada Laboratorium Rumah Sakit Khusus Daerah. Provinsi Maluku. Tahap Laboratorium Anatomi Patologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Kontrol Positif ( ): Diberi sopi 60 selama hari dan Furosemide 30 Hari . Perlakuan 1 (P. : Diberi ekstrak etanol daun afrika 1,28ml selama 30 hari pasca pemberian sopi 60 hari . Perlakuan 2 (P. : Diberi ekstrak etanol daun afrika 2,56ml selama 30 hari pasca pemberian sopi 60 hari . Perlakuan 3 (P. : Diberi ekstrak etanol daun afrika 5,12ml selama 30 hari pasca pemberian sopi 60 hari. Pengukuran Kadar Kreatinin Pengukuran meliputi pembuatan monoreagen dengan perbandingan reagen . yaitu 4 bagian R1 dan 1 bagian R2. Larutan R1 dan R2 masing-masing sebanyak 1000L. merupakan Sodium klorid, sedangkan R2 ialah Asam pikrat. Larutan R2 dicampur dengan aquades sebanyak 50L. Kemudian larutan R1 dan R2 dicampur dengan perbandingan 4:1. Penetapan menggunakan 50L serum ditambahkan 1000L monoreagen kreatinin diinkubasi pada suhu ruang selama 3 menit spektrofotometer pada panjang gelombang 492nm . Kadar kreatinin normal pada tikus yaitu 0,2-0,8 mg/dL yang diukur dengan menggunakan spektrofotometer . Pengukuran kadar kreatinin pada hari ke-0, hari ke-60 & setelah pemberian ektrak etanol daun afrika pada hari ke-30. Prosedur Kerja Pembuatan secara maserasi yaitu menggunakan pelarut etanol 96%, dan menggunakan 500 gram simplisia serbuk daun afrika yang kemudian dituangi cairan penyari sebanyak 3,75L sampai simplisia terendam semua dan ditutup, dibiarkan selama 3 hari terlindung dari cahaya dan diaduk kemudian disaring, ampasnya dimaserasi dengan 1,25L etanol 96% disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk yang terlindung dari cahaya matahari selama 2 hari, kemudian dituangkan. Hasil penyarian yang diperoleh kemudian diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator A 40AC kemudian dipekatkan . Penelitian ini merupakan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hewan percobaan yang digunakan ialah 18 ekor tikus jantan dewasa dan sehat berumur 2-3 bulan, berat badan 200g300g, dibagi dalam 6 kelompok secara acak, masing-masing kelompok uji terdiri dari 3 pengulangan. Sebelum diberi perlakuan tikus diaklimatisasi selama 7 hari dan diberikan pakan komersil secara ad Pengelompokan hewan coba dilakukan sebagai berikut: Kontrol Normal (KN): Diberi makan dan minum . Kontrol Negatif (K-): Diberi sopi selama 90 hari Euthanasi Hewan Uji Setelah pemberian perlakuan, tikus akan dieuthanasi berdasarkan Institusional Animal Care and Use Committee (IACUC) yang menggunakan metode cervical diclocation . Tikus yang telah dieutanasi akan dibedah untuk pengambilan organ ginjal. Pembedahan dilakukan pada bagian Organ ginjal yang diperoleh kemudian disimpan ke dalam wadah yang berisi formalin-PBS 10%, yang akan digunakan untuk proses pembuatan preparat histopatologi ginjal . dan 2 sekitar dua menit untuk dilakukan deparafinasi kemudian dehidrasi dengan perendaman secara berturut pada alkohol absolut, alkohol 95%, dan alkohol 80% masing-masing selama dua menit, kemudian dicuci dengan air Pewarnaan dengan Hematoksilin dilakukan selama 8 menit, selanjutnya dibilas dengan air mengalir, dicuci dengan Lithium karbonat selama 15-30 detik, lalu dibilas dengan air mengalir, serta diwarnai dengan Eosin selama 2-3 Sediaan yang diwarnai eosin dicuci dengan air mengalir kemudian keringkan. Sediaan dimasukkan ke dalam alkohol 95% dan alkohol absolut masing-masing sebanyak 10 kali celupan, lalu ke dalam alkohol absolut 2 selama 2 Selanjutnya ke dalam xylol 1 selama 1 menit dan xylol 2 selama 2 menit. Preparat histopatologi perbedaan ginjal pada tikus secara kualitatif . Pembuatan Histopatologi Ginjal Preparasi organ ginjal dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE) sebagai berikut: Fiksasi dilakukan dengan cara organ ginjal dimasukan kedalam larutan Netral Buffer Formalin 10% selama minimal 24 jam. Kemudian jaringan dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam wadah spesimen yang terbuat dari plastik. Dehidrasi alkohol bertingkat dari konsentrasi yaitu alkohol 70%, 80%, 90% alkohol absolut I, absolut II masingmasing 2 jam. Penjernihan direndam jaringan dalam larutan xylol I selama 20 menit dan xylol II selama 30 menit. Penjernihan menggunakan parafin sehingga tercetak di dalam blok-blok parafin dan disimpan dalam lemari es. Blok-blok kemudian di potong tipis 5-6 AAm menggunakan mikrotom. Hasil potongan diapungkan dalam air hangat bersuhu 60AC . untuk meregangkan agar jaringan tidak berlipat. Sediaan kemudian diangkat dan diletakkan pada gelas objek untuk dilakukan pewarnaan Hematoxylin dan Eosin (HE). Pewarnaan sediaan preparat pada gelas objek direndam dalam xylol 1 Analisis Data Analisis program SPSS 25 dan uji ANOVA untuk menentukan perbedaan rata-rata diantara Selanjutnya uji Post Hoc Tukey HSD dengan tujuan melihat perbedaan Gambaran histopatologi organ ginjal dilakukan deskriptif kualitatif. Hasil dan Pembahasan Kadar Kreatinin Tikus Putih Terinduksi Sopi Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan kadar kreatinin sebelum pemberian sopi dan setelah pemberian ekstrak etanol daun afrika tidak berbeda nyata (P>0,. Hal membuktikan bahwa semua perlakuan masih dalam keadaan normal. Sementara perubahan kadar kreatinin darah tikus setelah pemberian sopi, menunjukkan adanya kenaikan kadar kreatinin antara semua perlakuan dibandingkan kelompok normal (P<0,. Hal ini membuktikan peningkatan kadar kreatinin tikus putih . Rataan perubahan kadar kreatinin tikus putih dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hari ke-30 pemberian ekstrak etanol daun afrika pasca pemberian sopi pada kelompok tikus yang diberikan obat furosemide dan ekstrak 2,56ml, mengalami penurunan namun tidak berbeda nyata (P>0,. dengan normal. Sedangkan kelompok tikus putih (K-) yang diberikan sopi 1,28ml kelompok normal (P<0,. Kelompok tikus yang diberikan ekstrak etanol dosis 1,28ml dan dosis 5,12ml mengalami peningkatan lebih dari kelompok normal (P<0,. Pemberian ekstrak etanol daun afrika menunjukkan adanya perubahan yang signifikan antara kelompok tikus yang diberikan dosis 2,56ml berbeda nyata dengan kelompok tikus yang diberikan sopi 1,28ml (P<0,. Sedangkan kelompok furosemide tidak berbeda nyata dengan kelompok tikus yang diberikan dosis 2,56ml (P>0,. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan kadar kreatinin tikus putih mencapai normal 0,2-0,8 mg/dL yang berarti pemberian ekstrak etanol daun afrika dosis 2,56ml dapat menurunkan kadar kreatinin. Kelompok tikus perlakuan ekstrak etanol daun africa dosis 5,12ml berbeda nyata dengan dosis 2,56ml (P<0,. Sedangkan dosis 1,28ml berbeda nyata dengan dosis 2,56ml (P<0,. Hal ini diduga karena kandungan fitokimia yang terdapat pada ekstrak etanol daun africa dosis 1,28ml belum mampu menurunkan kadar kreatinin. Kelompok tikus dengan perlakuan ekstrak etanol daun africa dosis 5,12ml mengalami penurunan kadar kreatinin namun belum maksimal seperti dosis 2,56ml hal ini diduga karena kandungan fitokimia pada ekstrak etanol daun afrika sudah tidak optimal. Pemberian dosis yang berlebih pada kelompok perlakuan akan memberikan pengaruh Tabel 1. Rataan perubahan kadar kreatinin tikus putih setelah diinduksi sopi selama 60 hari dan ekstrak etanol daun afrika selama 30 hari. Rata-rata kadar kreatinin . g/dL) Hari Normal Furosemide Ekstrak daun afrika ml/ekor/hari 1,28ml 2,56ml 5,12ml Sebelum Perlakuan Hari 0 0,7 A 0,10a 0,6 A 0,10a 0,7 A 0,05a 0,7 A 0,05a 0,6 A 0,10a 0,6 A 0,11a Setelah Pemberian Sopi Hari 60 0,6 A 0,11b 1,3 A 0,26a 1,2 A 0,17a 1,2 A 0,32a 1,4 A 0,20a 1,2 A 0,23a Setelah Pemberian Ekstrak hari 30 pasca diinduksi sopi selama 60 0,6 A 0,05c 1,4 A 0,11a 0,6 A 0,05c 1,0 A 0,10b 0,6 A 0,15c 0,9 A 0,05b Keterangan: Huruf superscript yang berbeda dalam satu baris menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,. antar kelompok perlakuan. Kadar kreatinin normal pada tikus 0,2-0,8 mg/dL. Kreatinin adalah zat yang digunakan dalam mengukur fungsi ginjal karena diproduksi secara konstan dari hasil metabolisme tubuh, difiltrasi oleh organ ginjal, tidak direabsorbsi dan dieksresikan oleh tubulus proksimal . Gagal ginjal kronik merupakan gangguan fungsi organ ginjal dalam mengatur keseimbangan cairan serta elektrolit dalam tubuh, selain itu ginjal juga kehilangan kemampuannya untuk proses metabolisme yang dapat menimbulkan kondisi uremia karena adanya penumpukan zat-zat yang tidak dapat dikeluarkan dari tubuh, yang menimbulkan kerusakan jaringan ginjal yang progresif dan reversibel . Hasil pengukuran awal kadar kreatinin pada setiap kelompok berkisar antara 0,6-0,7 mg/dL dimana masih dalam batas normal kadar kreatinin tikus yaitu 0,2-0,8 mg/dL. Namun setelah diberikan sopi sebanyak 1,28ml pada K (-). K ( ). P1. P2 dan P3 terjadi peningkatan pada kadar kreatinin yang melewati batas normal yaitu 1,2Ae1,4 mg/dL. Peningkatan ini menjadi indikator ginjal tikus telah mengalami kerusakan. Hal ini karena alkohol yang dikonsumsi menyebabkan peningkatan jumlah NADH (Nikotinamid Adenine Dinokleotida Dehydrogenas. yang dapat memicu timbulnya berbagai macam penyakit . Mengonsumsi alkohol dalam meningkatkan risiko terjadinya gagal ginjal . Alkohol yang dikonsumsi akan disekresikan secara aktif dari darah ke urin dan kemudian terakumulasi di dalam Alkohol terakumulasi di ginjal dan menyebabkan kerusakan, terutama pada tubulus ginjal yang berfungsi untuk reabsorpsi dan ekskresi zat-zat toksik dalam tubuh. Jika zat kimia dalam tubuh dieksresikan secara aktif dari darah ke urin, zat tersebut akan terakumulasi di tubulus proksimal, atau saat zat-zat kimia direabsorpsi dari urin ke darah melalui sel epitel dengan konsentrasi tinggi . Pengukuran kadar kreatinin tikus hari ke-30 pasca pemberian sopi terjadi penurunan pada kelompok yang diberikan obat furosemide, dimana memiliki tingkat penurunan yang sama dengan dosis ekstrak etanol daun afrika 2,56ml/ekor/hari. Penurunan kadar kreatinin pada kelompok tersebut telah mencapai kondisi yang sama dengan kelompok normal, yang ditunjukan dengan hasil yang tidak beda nyata antar Penurunan kadar kreatinin pada kelompok tikus yang diberikan obat furosemide disebabkan karena efek obat Furosemide merupakan obat diuretik golongan loop diuretic . Mekanisme kerja furosemide dalam menurunkan kadar kreatinin yaitu pada luminal cabang asenden lengkung henle Na /K /2Cl-. Dengan transporter tersebut, maka reabsorbsi NaCl akan berkurang dan akan diekskresikan bersama urin, serta dapat meningkatkan ekskresi K . Ca2 , dan Mg2 . Pada kelompok dosis ekstrak etanol daun afrika 1,28ml/ekor/hari belum terjadi penurunan kadar kreatinin. Hal ini diduga kandungan fitokimia yang terdapat dalam ekstrak etanol daun afrika dengan dosis 1,28ml belum optimal dalam menurunkan kadar kreatinin. Dosis ekstrak terkecil seringkali tidak memberikan efek optimal pada hewan coba karena berada di bawah ambang batas konsentrasi minimum yang diperlukan untuk mengaktifkan reseptor atau mekanisme biologis tubuh . Hal seperti ini dikenal sebagai sub-therapeutic dose . osis di bawah terapeuti. Kelompok dosis ekstrak etanol daun afrika 2,56ml/ekor/hari yang mengalami penurunan kadar kreatinin diduga karena pengaruh kandungan metabolit sekunder dalam ekstrak tersebut. Kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam daun afrika ialah Flavonoid. Alkaloid. Saponin. Tanin dan Steroid . Kandungan senyawa flavonoid dapat nefroprotektor . Mekanisme kerja flavonoid sebagai nefroprotektor yaitu untuk mencegah stress oksidatif di ginjal dengan cara meningkatkan aktivitas S-transferase (GSH), meningkatkan sintesis GSH dan menangkap ROS secara langsung dengan mendonorkan atom H dari gugus hidroksil (OH) ke senyawa radikal bebas, sehingga radikal bebas yang terbentuk menjadi tidak Sementara itu, senyawa flavonoid yang mendonor atom H akan berubah menjadi flavonoid radikal yang dapat berikatan dengan flavonoid radikal lainnya, membentuk senyawa yang tidak reaktif . Senyawa metabolit sekunder lain seperti Tanin juga mempunyai aktivitas sebagai antioksidan dengan mekanisme mencegah menempelnya radikal bebas seperti halnya lemak menempel pada LDL kapasitas sel sehingga tidak terjadi oksidasi . Pada kelompok dosis ekstrak etanol daun afrika 5,12ml/ekor/hari mengalami penurunan kadar kreatinin namun belum Hal ini menunjukan bahwa kandungan fitokimia dalam ekstrak etanol daun afrika kemungkinan berubah sifat menjadi toksik. Pada dosis tinggi diduga senyawa saponin dapat menyebabkan gangguan mekanisme yang merusak dengan cara meningkatkan permeabilitas lipid bilayer sel darah merah yang menyebabkan hemolisis. Saponin dapat menyebabkan terjadinya peningkatan permeabilitas lipid bilayer sel terhadap makromolekul sehingga terjadi kerusakan ireversibel . Fotomikrograf Sel Ginjal Tikus yang Diberikan Sopi Dengan Pewarnaan Hematoxylin Eosin Pada kelompok tikus yang diberikan sopi 1,28ml menunjukan bahwa ginjal mengalami kerusakan baik glomerulus Sementara kelompok tikus yang diberikan sopi 1,28ml kemudian diberikan furosemide dan ekstrak etanol daun afrika 2,56ml/ekor/hari menunjukan adanya perbaikan kerusakan Sementara itu kelompok tikus yang diberikan sopi 1,28ml dan ekstrak etanol daun afrika 1,28ml/ekor/hari, belum menunjukan adanya perbaikan. Hal ini diduga karena kandungan fitokimia dalam ekstrak daun afrika belum memiliki kemampuan optimal dalam meregenerasi Sedangkan pada kelompok tikus yang diberikan sopi 1,28ml dan ekstrak etanol daun afrika 5,12ml/ekor/hari menyebabkan kerusakan pada sel ginjal tikus, hal ini akibat terjadinya akumulasi peningkatan kandungan fitokimia yang berubah menjadi toksik (Gambar . Gambar 1. Fotomikrograf sel ginjal tikus putih dengan pewarnaan HE (Hematoxylin-Eosi. Hasil pengamatan dengan aplikasi Imagescope dengan perbesaran 400y (Potongan tranversa. A . B . opi 1,28m. C . D . osis ekstrak 1,28m. E . osis ekstrak 2,56m. dan F . osis ekstrak 5,12m. Keterangan : G (Glomerulu. DCT (Distal Convoluted Tubule/Tubulus dista. PCT (Proximal Convoluted Tubule/Tubulis proksima. , . Atrofi glomerulus . Nekrosis tubulus, . Nekrosis glomerulus, . Degenerasi hidrofis. Berdasarkan terhadap fotomikrograf sel ginjal dengan menggunakan pewarnaan hematoxylineosin, penelitian ini menunjukan bahwa pada kelompok normal tidak terjadi kerusakan glomerulus. Pada kelompok Kyaitu tikus yang diberikan sopi 1,28ml menunjukan bahwa ginjal mengalami kerusan baik glomerulus maupun tubulus. Kerusakan yang terjadi yaitu atrofi glomerulus, nekrosis, dan degenerasi Proses biasanya berlangsung melalui enzim Alcohol Dehydrogenase (ADH) di dalam hepar . Jika konsentrasi alkohol tinggi, metabolisme alkohol akan dilakukan oleh enzim cytochrome P450, yaitu enzim CYP2E1, yang menghasilkan produk sampingan berupa Reactive Oxygen Species (ROS). Sisa metabolit berbahaya tersebut akan melewati ginjal pada proses pembentukan urin . Alkohol yang masuk melalui aliran darah akan terakumulasi di tubulus mengalami reabsorpsi atau sekresi maka akan melewati sel epitel tubulus dengan kerusakan membran sel epitel . Kerusakan morfologi dan hilangnya pengaturan osmotik disebabkan oleh disfungsi mitokondria dan permeabilitas membran, yang dipicu oleh keberadaan ROS dan stres oksidatif intrasel. Disfungsi ini mengganggu fungsi membran secara signifikan, mempengaruhi keseimbangan antara sintesis dan degradasi, dan berujung pada atrofi . Senyawa ROS yang terbawa oleh filtrat ke dalam tubulus kontortus distal dapat merusak membran sel epitel, sehingga mengurangi aktivitas pengendapan di dalam lumen. Paparan radikal bebas yang berkepanjangan dapat membuat sel mengalami nekrosis . Nekrosis merupakan suatu kondisi dimana sel mengalami perubahan yang mengarah pada kematian. Pada sel ginjal, nekrosis terjadi akibat masuknya zat toksik melalui aliran darah ke ginjal . Terdapat tiga karioreksis, dan kariolisis yang masingmasing memiliki tanda berbeda-beda. Piknosis ditandai dengan inti yang berwarna gelap dan terkondensasi, karioreksis ditandai dengan fragmentasi inti sel yang terlihat hancur, sedangkan kariolisis ditandai dengan hilangnya inti sel dan pecahnya membran . Degenerasi hidrofis adalah kerusakan yang bersifat reversibel jika penyebabnya dihilangkan, memungkinkan tubulus kembali ke keadaan normal. Apabila kerusakan berlanjut maka akan bersifat ireversibel yaitu menyebabkan kematian sel . Degenerasi hidrofis ditandai dengan sitoplasma berwarna jernih pucat akibat peningkatan influx air ke dalam sel glomerulus atau tubulus ginjal . Secara mikroskopik tampak pembesaran ukuran sel karena akumulasi cairan di sitoplasma . (Gambar 4. 1 B). Atrofi glomerulus adalah kerusakan lanjutan dari terjadinya nekrosis. Atrofi ditandai dengan mengecilnya glomerular tuft, di mana kerusakan glomerulus yang parah dapat mengganggu sistem vaskular peritubular dan berpotensi mengalirkan zat toksik ke tubuli. Kerusakan yang parah pada tubuli akibat peningkatan tekanan intraglomerulus menyebabkan terjadinya atrofi glomerulus. Atrofi glomerulus ditandai dengan terjadi pelebaran ruang antar glomerulus dan kapsula Bowman . Kondisi ini terjadi akibat penurunan ukuran jaringan yang disebabkan oleh berkurangnya jumlah atau pengecilan ukuran sel . Gambaran fotomikrograf kelompok tikus yang diberikan sopi 1,28ml dan obat furosemide (Gambar 4. 1 C), menunjukkan adanya perbaikan sel ginjal. Hal ini ditunjukkan oleh adanya perbaikan ruang antara glomerulus dengan kapsul bowman dibandingkan dengan kelompok K(Gambar 4. 1 A). Hal itu terjadi karena Furosemide merupakan obat diuretik loop yang kuat, memberikan efeknya pada ginjal tikus terutama melalui penghambatan Na /K /2Cl pada luminal cabang asenden lengkung henle. Furosemide juga bekerja dalam Penghambatan Sintesis Asam Kynurenic yaitu dengan mengurangi sintesis asam kynurenic (KYNA) pada ginjal tikus, yang dapat memengaruhi fungsi ginjal dengan memodulasi keseimbangan elektrolit . Pada kelompok dosis ekstrak etanol daun afrika 1,28ml/ekor/hari belum menunjukan adanya perbaikan sel ginjal (Gambar 4. 1 D). Gambaran ini ditunjukan dengan masih ditemukan atrofi glomerulus, nekrosis glomerulus, nekrosis tubulus dan degenerasi hidrofis. Hal ini menandakan bahwa kandungan fitokimia yang terdapat dalam ekstrak etanol daun afrika belum optimal dalam memperbaiki kerusakan ginjal. Kelompok dosis ekstrak etanol daun afrika 2,56ml/ekor/hari menunjukan adanya perbaikan kerusakan ginjal sel (Gambar 4. E) yang terlihat dimana kondisi sel ginjal yang sudah membaik. Pada sel ginjal tidak ditemukan atrofi glomerulus yang ditandai Meskipun masih ditemukan adanya nekrosis glomerulus, nekrosis tubulus dan degenerasi hidrofis namun sudah terjadi perbaikan jika dibandingkan dengan dosis ekstrak etanol 1,28ml. Perbaikan kerusakan ginjal dipengaruhi oleh kandungan fitokimia pada ekstrak etanol daun afrika. Kandungan fitokimia berupa senyawa metabolit sekunder dalam seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan steroid . Flavonoid berfungsi menangkal radikal bebas melalui transfer peroksidasi . Tanin bertindak sebagai nefroprotektor dengan mengurangi stres oksidatif, menghambat produksi spesies oksigen NRF2 (Nuclear factor erythroid 2 related factor . , berinteraksi dengan membran untuk mempercepat regenerasi sel . Kelompok dosis ekstrak etanol daun 5,12ml/ekor/hari terjadinya kerusakan ginjal (Gambar 4. 1F). Hal ini nampak karena ditemukan kerusakan atrofi glomerulus dan masih terdapat ruang antara glomerulus dengan kapsul bowman, juga terdapat nekrosis Hal pemberian ekstrak etanol daun afrika yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. Pemberian ekstrak pada dosis tinggi diduga menyebabkan terjadinya toksisitas, terutama oleh senyawa saponin. Saponin adalah glikosida triterpen yang banyak ditemukan pada tanaman Salah satu cara khas untuk mengidentifikasi kandungan saponin dalam ekstrak tanaman adalah kemampuannya membentuk busa stabil dalam larutan air, terutama untuk jenis triterpen damaran . Saponin meningkatkan permeabilitas lipid bilayer sel terhadap makromolekul, yang dapat menyebabkan kerusakan Hemolisis akibat saponin juga mempengaruhi interaksi antara protein permukaan sitoplasma dan merusak sitoskeleton, sehingga morfologi sel menjadi rusak . Simpulan dan Saran Dosis terbaik ekstrak etanol daun afrika yang berpotensi memperbaiki kerusakan dan menurunkan kadar kreatinin ginjal tikus putih adalah 2,56ml/ekor/hari. Hal ini menjadi informasi awal mengenai pemanfaatan ekstrak etanol daun afrika terhadap perbaikan ginjal tikus putih yang diberikan sopi. Hasil penelitian dapat menjadi dasar ilmiah bagi penguatan edukasi kesehatan tentang bahaya sopi bagi kesehatan serta menjadi rujukan bagi penelitian lanjutan terkait mekanisme biologis kerusakan ginjal dan kadar ureum. Daftar Pustaka