LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Juni 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || BAHASA GAUL PADA MEDIA SOSIAL SISWA SEKOLAH DASAR : KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Rusti 1. Sutardi 2. Mustofa 3 *1-3 Universistas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 rustia123455@gmail. 2 sutardi@unisda. 3 tofa09@unisda. ABSTRAK Bahasa gaul telah menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari, terutama di kalangan siswa sekolah dasar yang aktif menggunakan media sosial. Fenomena ini menarik untuk dikaji karena menunjukkan bagaimana bahasa berkembang dan beradaptasi dalam lingkungan digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk modifikasi kata, pola pembentukan istilah baru, serta struktur kalimat gaul yang digunakan siswa dalam interaksi di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik yang menyoroti hubungan antara bahasa dan faktor sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, angket, dan Sampel penelitian adalah siswa kelas 4-6 di SD Negeri 4 Pelang. Kecamatan Kembangbahu. Kabupaten Lamongan, yang dipilih secara purposif berdasarkan keaktifan mereka di media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi kata gaul dilakukan melalui pemendekan kata, perubahan ejaan, serta penambahan imbuhan khas. Istilah baru banyak dibentuk melalui singkatan, akronim, serta adopsi dari bahasa asing atau daerah. Media sosial memainkan peran besar dalam penyebaran istilah-istilah ini, terutama melalui tren dan konten kreator. Dari segi struktur kalimat, siswa cenderung menggunakan pola yang lebih santai dengan menghilangkan kata formal, mencampurkan berbagai bahasa, dan menyusun ulang tata bahasa untuk menciptakan kesan akrab atau humoris. Penelitian ini mengungkap bahwa bahasa gaul di media sosial bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan kreativitas dan identitas linguistik siswa sekolah dasar dalam era Kata kunci: Bahasa Gaul. Media Sosial. Siswa Sekolah Dasar. Sosiolinguistik. Komunikasi Digital. ABSTRACT Slang has become part of everyday communication, especially among elementary school students who actively use social media. This phenomenon is interesting to study because it shows how language develops and adapts in the digital environment. This research aims to analyze the forms of word modification, patterns of forming new terms, and the structure of slang sentences used by students in interactions on social media. This research uses a sociolinguistic approach which highlights the relationship between language and social factors. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques in the form of observation, interviews, questionnaires and documentation. The research sample was students in grades 4-6 at SD Negeri 4 Pelang. Kembangbahu District. Lamongan Regency, who were selected purposively based on their activity on social media. The results of the research show that modification of slang words is carried out through shortening words, changing spellings, and adding distinctive affixes. Many new terms are formed through abbreviations, acronyms, and adoption from foreign or regional languages. Social media plays a big role in the spread of these terms, especially through trends and content creators. In terms of sentence structure, students tend to use more relaxed patterns by eliminating formal words, mixing various languages, and rearranging grammar to create a familiar or humorous impression. This research reveals that slang on social media is not just a communication tool, but also a reflection of elementary school students' creativity and linguistic identity in the digital era. Kata Kunci: Slang. Social Media. Elementary School Students. Sociolinguistics. Digital Communication . This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. PENDAHULUAN Bahasa merupakan alat komunikasi utama yang memungkinkan manusia untuk menyampaikan gagasan, perasaan, dan informasi secara efektif. Dengan bahasa, manusia dapat menjalin interaksi sosial yang mempererat hubungan dalam berbagai konteks kehidupan. Bahasa juga menjadi cerminan budaya dan identitas sosial, yang menggambarkan nilai-nilai serta norma yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Kridalaksana . menyatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan digunakan manusia untuk berkomunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat fleksibel dan dapat mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Perkembangan teknologi digital, khususnya media sosial, membawa perubahan besar terhadap cara manusia berkomunikasi. Media sosial menyediakan ruang luas bagi penggunanya untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai aktivitas komunikasi, baik dalam bentuk teks, gambar, maupun video Suryani . Dalam lingkungan digital ini, muncul berbagai bentuk penggunaan bahasa yang khas, salah satunya adalah bahasa gaul. Bahasa gaul sering digunakan oleh generasi muda sebagai bentuk ekspresi diri dan komunikasi yang lebih Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi turut membentuk dinamika bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa gaul semakin marak di kalangan anak-anak usia sekolah dasar yang aktif menggunakan media sosial. Dalam interaksi digital mereka, anak-anak sering mengadopsi kata-kata baru yang berbeda dari bahasa formal. Proses ini tidak hanya mencerminkan kreativitas linguistik, tetapi juga menunjukkan bagaimana mereka beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Saputra . menjelaskan bahwa bahasa yang digunakan anakanak dipengaruhi oleh kelompok teman sebaya serta tren budaya populer. Dengan demikian, bahasa gaul menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas sosial anak-anak di era Kemudahan akses terhadap internet dan media sosial membuat anak-anak sekolah dasar semakin akrab dengan berbagai bentuk bahasa gaul. Anak-anak tidak hanya menggunakannya dalam percakapan daring, tetapi juga dalam komunikasi sehari-hari. Menurut Prasetyo . , istilah-istilah gaul sering kali diadopsi dari influencer, tren viral, atau budaya populer yang berkembang di dunia digital. Bahasa ini kemudian menyebar dengan cepat dan menjadi bagian dari gaya komunikasi anak-anak. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial memainkan peran penting dalam penyebaran dan pembentukan pola komunikasi generasi muda. Meskipun bahasa gaul dapat menjadi bentuk kreativitas linguistik, penggunaannya juga menimbulkan tantangan tersendiri. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara penggunaan bahasa gaul dengan kemampuan berbahasa Nugroho . menyatakan bahwa penggunaan bahasa gaul yang berlebihan dapat berpengaruh terhadap kemampuan anak dalam memahami dan menggunakan bahasa baku. Oleh karena itu, penting bagi pendidik dan orang tua untuk memahami bagaimana bahasa gaul memengaruhi perkembangan linguistik anak-anak. Dengan pemahaman ini, mereka dapat membimbing anak dalam menggunakan bahasa secara lebih bijak. Bahasa gaul yang digunakan oleh anak-anak di media sosial juga mencerminkan pengaruh lingkungan digital terhadap perkembangan sosial mereka. Menurut Rahmawati . , bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas individu dan kelompok. Anak-anak menggunakan bahasa gaul untuk menyesuaikan diri dengan komunitasnya dan membangun hubungan sosial yang lebih erat. Dalam proses ini, media sosial menjadi wadah di mana anak-anak dapat mengeksplorasi berbagai bentuk komunikasi yang sesuai dengan kelompok sosial mereka. Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa berperan dalam membentuk dinamika sosial di era digital. Sayangnya, penelitian yang secara khusus membahas penggunaan bahasa gaul oleh siswa sekolah dasar di media sosial masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian sosiolinguistik di Indonesia lebih banyak berfokus pada remaja dan dewasa muda Suryanto . Padahal, anak-anak usia sekolah dasar juga mengalami perubahan bahasa yang signifikan akibat paparan media sosial. Kekosongan penelitian ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk mengkaji lebih dalam bagaimana bahasa gaul berkembang di kalangan anak-anak. Studi ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru mengenai dinamika bahasa anak di era digital. Kajian mengenai bahasa gaul siswa sekolah dasar juga penting dalam konteks pendidikan. Guru sering kali menghadapi tantangan dalam mengajarkan bahasa formal kepada siswa yang terbiasa menggunakan bahasa gaul Rahayu . Dalam hal ini, diperlukan pendekatan yang lebih adaptif agar pembelajaran bahasa Indonesia tetap relevan dengan kehidupan siswa. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengintegrasikan unsur bahasa gaul dalam pembelajaran, tanpa mengabaikan pentingnya penguasaan bahasa baku. Dengan demikian, siswa dapat memahami perbedaan antara bahasa formal dan informal serta menggunakannya sesuai dengan konteks yang tepat. Selain dalam pendidikan, pemahaman mengenai penggunaan bahasa gaul juga penting bagi orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka di dunia digital. Setiawan . menegaskan bahwa keluarga memiliki peran utama dalam membentuk kebiasaan berbahasa anak sejak dini. Dengan memahami bagaimana bahasa gaul berkembang, orang tua dapat lebih bijak dalam mengarahkan anak-anak dalam berkomunikasi. Hal ini penting agar anak-anak tetap mampu menggunakan bahasa dengan baik dalam berbagai situasi. Selain itu, pemahaman ini juga dapat membantu membangun komunikasi yang lebih efektif antara orang tua dan anak di era digital. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bahasa gaul merupakan fenomena linguistik yang terus berkembang. Kurniawati . menemukan bahwa bahasa gaul di media sosial dipengaruhi oleh interaksi antar kelompok dan tren global. Prasetyo . menyatakan bahwa bahasa gaul mencerminkan kreativitas linguistik namun memiliki potensi untuk mengurangi kemampuan penggunaan bahasa formal. Sementara itu. Nugroho . menunjukkan bahwa bahasa gaul sering digunakan sebagai alat untuk memperkuat solidaritas Penelitian ini memiliki persamaan dengan tesis yang akan dilakukan, yaitu fokus pada bahasa gaul dan media sosial, namun berbeda dalam lingkup kajian yang lebih spesifik pada siswa sekolah dasar. Berdasarkan penjabaran di atas, dan hasil penelitian terdahulu. Maka peneliti melakukan penelitian Bahasa Gaul pada Media Sosial Siswa Sekolah Dasar : Kajian Sosiolinguistik. Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji fenomena bahasa gaul yang digunakan oleh siswa sekolah dasar di media sosial. Penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk memahami pola penggunaan bahasa gaul, tetapi juga dampaknya terhadap perkembangan bahasa anak. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi bidang sosiolinguistik, khususnya dalam memahami perubahan bahasa di era digital. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat ditemukan strategi yang efektif dalam membimbing anak-anak dalam menggunakan bahasa dengan baik dan sesuai dengan Oleh karena itu, penelitian ini menjadi langkah awal dalam memahami dinamika bahasa anak-anak di dunia digital. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten untuk memahami fenomena penggunaan bahasa gaul oleh siswa SD Negeri 4 Pelang di media sosial. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menggali lebih dalam mengenai pola bahasa yang berkembang dan konteks sosial di balik penggunaannya. Analisis konten diterapkan untuk mengidentifikasi, mengkategorikan, dan menafsirkan berbagai bentuk modifikasi kata, produksi istilah baru, serta perubahan struktur kalimat dalam bahasa gaul yang digunakan siswa di media sosial. Dengan metode ini, penelitian dapat memberikan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana bahasa gaul berkembang di lingkungan digital siswa. Subjek penelitian terdiri dari siswa SD Negeri 4 Pelang yang aktif menggunakan media sosial, serta guru dan orang tua yang memberikan perspektif tambahan mengenai fenomena Data dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk percakapan siswa di media sosial, wawancara dengan siswa, guru, dan orang tua, serta dokumentasi berupa tangkapan layar dan catatan observasi. Pemilihan subjek dilakukan secara purposif dengan mempertimbangkan tingkat partisipasi mereka dalam interaksi digital dan variasi penggunaan bahasa gaul dalam komunikasi mereka. Proses pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, observasi langsung dilakukan dengan mengamati pola komunikasi siswa di media sosial dan mencatat bentuk-bentuk bahasa gaul yang muncul. Kedua, wawancara semi-terstruktur dilakukan dengan siswa, guru, dan orang tua untuk mendapatkan perspektif lebih mendalam mengenai penggunaan bahasa gaul serta alasan di balik modifikasi bahasa yang mereka lakukan. Ketiga, angket digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif terkait frekuensi dan kecenderungan penggunaan bahasa gaul oleh siswa. Keempat, dokumentasi berupa tangkapan layar interaksi siswa di media sosial dikumpulkan sebagai bukti empiris untuk mendukung hasil observasi dan wawancara. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini mencakup lembar observasi, pedoman wawancara, dan angket. Lembar observasi digunakan untuk mencatat secara sistematis pola penggunaan bahasa gaul yang muncul dalam interaksi siswa di media sosial. Pedoman wawancara membantu memastikan bahwa pertanyaan yang diajukan kepada siswa, guru, dan orang tua relevan dengan tujuan penelitian. Sementara itu, angket dirancang untuk mengukur frekuensi penggunaan bahasa gaul serta variasi modifikasinya di media sosial. Dengan menggunakan berbagai instrumen ini, penelitian dapat memperoleh data yang kaya dan valid. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sistematis, dimulai dari pengorganisasian data, kategorisasi temuan, hingga interpretasi hasil. Data yang diperoleh dari observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi dianalisis untuk mengidentifikasi pola umum dalam modifikasi kata, produksi istilah baru, dan perubahan struktur kalimat yang digunakan siswa. Triangulasi metode dilakukan untuk memastikan validitas data dengan membandingkan hasil dari berbagai teknik pengumpulan data. Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian sosiolinguistik, khususnya dalam memahami perkembangan bahasa gaul di kalangan siswa sekolah dasar dalam era digital. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa gaul di media sosial oleh siswa SD Negeri 4 Pelang sangat dinamis dan beragam. Mereka tidak hanya menggunakan bahasa gaul yang sudah umum, tetapi juga memodifikasinya sesuai dengan gaya komunikasi mereka sendiri. Modifikasi ini terjadi melalui berbagai cara, seperti pemendekan kata, perubahan fonetis, serta penggunaan simbol dan emotikon untuk memperjelas makna. Selain itu, pola komunikasi dalam media sosial yang cenderung cepat dan spontan turut memengaruhi perkembangan bahasa gaul mereka. Dengan demikian, bahasa yang digunakan oleh siswa di media sosial mencerminkan kreativitas serta pengaruh budaya digital yang semakin melekat dalam kehidupan mereka. Dalam aspek modifikasi kata, ditemukan bahwa siswa sering mengubah kata-kata baku menjadi bentuk yang lebih sederhana dan mudah diucapkan. Contohnya, kata "sudah" diubah menjadi "udah," "tidak" menjadi "gak" atau "enggak," dan "kamu" menjadi "km" atau "lo. Selain itu, terdapat kecenderungan untuk mengadaptasi kata-kata dari bahasa asing yang kemudian disesuaikan dengan pengucapan mereka, seperti "sorry" menjadi "sori" atau "thank you" menjadi "makasi. " Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa gaul yang digunakan oleh siswa mengalami penyederhanaan yang bertujuan untuk mempercepat komunikasi dalam interaksi digital mereka. Selain modifikasi kata, siswa SD Negeri 4 Pelang juga aktif dalam menciptakan istilahistilah baru yang hanya dipahami oleh komunitas mereka. Istilah-istilah ini biasanya muncul dari tren yang sedang populer atau sebagai bentuk ekspresi khas yang merepresentasikan identitas kelompok mereka. Contohnya, kata "bocil" yang digunakan untuk menyebut anak kecil atau "santuy" yang berasal dari kata "santai" tetapi diberi nuansa yang lebih unik. Keberadaan istilah-istilah baru ini menunjukkan bahwa bahasa gaul terus berkembang seiring dengan perubahan budaya digital yang terjadi di kalangan anak-anak. Dalam hal modifikasi kalimat, ditemukan bahwa siswa cenderung menggunakan struktur kalimat yang lebih pendek dan ringkas. Mereka sering menghilangkan subjek atau predikat dalam kalimat saat berkomunikasi di media sosial, misalnya "Mau makan nih" tanpa menyebutkan subjeknya. Selain itu, penggunaan kata-kata seru dan gabungan huruf kapital dengan huruf kecil seperti "HAHAHA" atau "wkwkwk" juga menjadi ciri khas komunikasi Gaya komunikasi ini menunjukkan bahwa siswa lebih mengutamakan ekspresi emosional dan kecepatan dalam berkomunikasi daripada kesesuaian dengan kaidah bahasa Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial berperan penting dalam perkembangan bahasa gaul siswa SD Negeri 4 Pelang. WhatsApp. TikTok. Instagram, dan YouTube menjadi wadah utama bagi mereka untuk berinteraksi dengan teman-temannya dan menyesuaikan gaya komunikasi sesuai dengan tren yang berkembang. Penggunaan bahasa gaul di media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas sosial mereka. Oleh karena itu, fenomena ini perlu dipahami lebih dalam, terutama dalam kaitannya dengan perkembangan linguistik dan sosial anak-anak di era digital. Pembahasan Dalam kajian sosiolinguistik mengenai bahasa gaul pada media sosial siswa SD Negeri 4 Pelang, ditemukan bahwa modifikasi kata yang mereka gunakan mencerminkan kreativitas dan dinamika perkembangan bahasa di kalangan anak-anak. Bahasa gaul yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai bentuk identitas sosial mereka dalam lingkungan digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa terus berevolusi mengikuti tren yang berkembang di media sosial dan kehidupan sehari-hari siswa. Modifikasi Kata Gaul pada Media Sosial Siswa SD Negeri 4 Pelang Modifikasi kata gaul dalam interaksi digital siswa SD Negeri 4 Pelang terbagi dalam tiga kategori utama, yaitu pemendekan kata, pengubahan huruf atau ejaan, dan penambahan imbuhan gaul. Ketiga bentuk ini menunjukkan bahwa siswa mengadaptasi bahasa untuk mencerminkan ekspresi mereka dengan cara yang lebih santai, akrab, dan sesuai dengan gaya komunikasi mereka. Pemendekan Kata. Pemendekan kata banyak ditemukan dalam percakapan media sosial siswa, terutama di platform WhatsApp. Pemendekan ini bertujuan untuk mempercepat komunikasi dan mencerminkan kebiasaan mengetik cepat. Contoh yang ditemukan dalam penelitian ini antara lain:AuPAy dari kata AupingAy digunakan sebagai sapaan singkat. AuYAy dari kata AuiyaAy sebagai bentuk persetujuan cepat. AuQAy dari kata AuakuAy dengan mengganti huruf AuaAy menjadi AuQAy karena kemiripannya. AuTpAy dari kata AutapiAy yang hanya menyisakan huruf konsonan utama. Penggunaan pemendekan ini tidak hanya menghemat waktu dalam mengetik, tetapi juga memberikan kesan lebih santai dan akrab dalam percakapan daring . Pengubahan Huruf atau Ejaan. Siswa SD Negeri 4 Pelang juga sering mengubah huruf atau ejaan dalam suatu kata untuk memberikan kesan yang lebih unik dan ekspresif. Perubahan ini bertujuan untuk menyesuaikan bahasa agar lebih menarik bagi mereka. Contoh modifikasi ejaan yang ditemukan meliputi: AuAyukAy sebagai variasi dari kata AuayoAy yang menambahkan huruf AukAy agar terdengar lebih akrab. AuKamyuAy dari kata AukamuAy dengan tambahan huruf AuyAy yang memberikan kesan lebih imut atau manja. AuBangetzzAy dari kata AubangetAy dengan tambahan AuzzAy untuk menambah ekspresi yang lebih kuat. AuOkeeAy dan AuMakasiAy, dengan penambahan huruf vokal di akhir kata untuk memberi kesan lebih akrab dan ekspresif. Penambahan Imbuhan Gaul. Salah satu cara lain yang digunakan siswa untuk memodifikasi kata adalah dengan menambahkan imbuhan gaul yang tidak baku, seperti: AuGaskuyAy, dari kata AugasAy yang berarti ajakan dengan tambahan imbuhan Au-kuyAy dari AuyukAy. AuMagerinAy, dari kata AumagerAy dengan imbuhan Au-inAy untuk menyatakan sesuatu yang membuat malas. AuGabutersAy, dari kata AugabutAy dengan tambahan Au-ersAy yang memberikan kesan lebih santai dan gaul. Penambahan imbuhan ini menunjukkan bagaimana siswa berkreasi dalam bahasa mereka untuk menciptakan kata-kata baru yang lebih sesuai dengan gaya komunikasi digital Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi modifikasi kata gaul yang digunakan oleh siswa SD Negeri 4 Pelang dalam media sosial. Faktor-faktor ini meliputi pengaruh teman sebaya, adaptasi dari tren media sosial, dan kreativitas dalam komunikasi digital. Berikut . Pengaruh Teman Sebaya, teman sebaya memainkan peran utama dalam penyebaran dan penggunaan bahasa gaul di kalangan siswa. Mereka sering meniru kata-kata yang digunakan oleh teman-temannya, sehingga tercipta pola komunikasi yang seragam dalam kelompok mereka. Contohnya, kata AumantulAy . antap betu. yang kemudian berkembang menjadi AumantuyAy atau Aumantap jiwaAy. Adaptasi dari Tren Media Sosial, tren di media sosial juga sangat mempengaruhi modifikasi bahasa gaul siswa. Banyak kata yang mereka gunakan berasal dari konten viral atau istilah yang sering digunakan oleh influencer dan kreator digital. Contohnya, kata AugasAy yang awalnya berarti AupergiAy atau Aumelakukan sesuatu dengan semangat,Ay berkembang menjadi AugaskanAy atau AugaspollAy mengikuti tren yang beredar di media sosial. Kreativitas dalam Komunikasi Digital, selain faktor eksternal, kreativitas siswa dalam berbahasa juga menjadi pendorong utama dalam modifikasi kata gaul. Siswa sering kali menciptakan istilah baru atau memodifikasi kata-kata yang ada untuk memberikan kesan yang lebih unik. Misalnya, kata AusembakolAy yang merupakan gabungan dari AusembakoAy dan AuLOL,Ay digunakan untuk menyebut sesuatu yang dianggap remeh atau bercanda. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa terus berkembang seiring dengan kreativitas Produksi Istilah Baru dalam Bahasa Gaul pada Media Sosial Siswa SD Negeri 4 Pelang Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produksi istilah baru dalam bahasa gaul dapat dikelompokkan menjadi tiga pola utama, yaitu singkatan unik, akronim atau gabungan kata, serta pengaruh bahasa asing dan budaya populer. Pola-pola ini mencerminkan kreativitas anak-anak dalam memodifikasi bahasa untuk menyesuaikan dengan kebutuhan komunikasi mereka yang cepat dan efisien di media sosial. Singkatan Unik dalam Bahasa Gaul. Salah satu pola utama dalam pembentukan istilah baru adalah singkatan unik, yaitu pemendekan kata atau frasa dengan cara menghilangkan beberapa huruf atau suku kata tetapi tetap mempertahankan makna aslinya. Misalnya, penggunaan istilah AukwkwkwAy sebagai bentuk singkatan dari tawa tertulis yang bervariasi dari Auwkwkwk. Ay Anak-anak menggunakan variasi ini untuk memberikan nuansa yang lebih ekspresif dalam komunikasi digital mereka. Selain itu, istilah AuCMIIWAy (Correct Me If IAom Wron. juga banyak digunakan oleh siswa untuk menunjukkan keraguan dan membuka ruang bagi koreksi dalam percakapan online. Fenomena ini menunjukkan bahwa anak-anak mampu menyesuaikan bahasa digital dengan gaya komunikasi mereka yang santai dan fleksibel. Singkatan unik juga digunakan untuk mengekspresikan emosi, seperti istilah AuBTMAy (Bete Mat. yang dipakai untuk menunjukkan perasaan bosan atau jengkel. Penggunaan singkatan ini menunjukkan kecenderungan anak-anak dalam menyingkat ungkapan panjang menjadi lebih ringkas dan mudah dipahami. Dengan demikian, pola singkatan unik dalam bahasa gaul tidak hanya membantu mempercepat komunikasi, tetapi juga memberikan warna dalam interaksi digital mereka. Akronim dan Gabungan Kata. Akronim atau gabungan kata juga menjadi pola yang dominan dalam pembentukan istilah baru di kalangan siswa SD Negeri 4 Pelang. Salah satu contohnya adalah istilah AuOTWAy yang berasal dari bahasa Inggris AuOn The Way,Ay digunakan untuk menginformasikan bahwa seseorang sedang dalam perjalanan. Penggunaan istilah ini menunjukkan bahwa anak-anak lebih memilih komunikasi yang cepat dan efisien, terutama dalam konteks media sosial yang bersifat dinamis. Contoh lain, istilah AugabutAy yang berasal dari akronim AuGaji ButaAy mengalami perubahan makna dalam konteks anakanak, menjadi istilah yang digunakan untuk mengekspresikan kebosanan. Hal ini menunjukkan bagaimana akronim yang awalnya memiliki makna spesifik dalam dunia kerja dapat mengalami adaptasi makna sesuai dengan konteks penggunaannya dalam komunikasi anak-anak. Demikian pula, istilah seperti AukicepAy . ikuk dan kecew. dan AunolepAy . o lif. menunjukkan bagaimana anak-anak menggabungkan kata-kata untuk membentuk istilah baru yang sesuai dengan pengalaman dan perasaan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh Bahasa Asing dan Budaya Populer. Selain singkatan dan akronim, banyak istilah gaul yang diadopsi dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris, serta dipengaruhi oleh budaya populer seperti game, media sosial, dan film. Misalnya, kata AuoutfitAy yang berasal dari bahasa Inggris telah diadopsi dan digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk merujuk pada pakaian atau gaya berpakaian seseorang. Fenomena ini menunjukkan bagaimana tren dari dunia fashion yang diperkenalkan melalui media sosial dapat mempengaruhi penggunaan bahasa anakanak. Istilah seperti AuomgAy . odifikasi dari OMG Ae Oh My Go. menunjukkan kreativitas anak-anak dalam menyesuaikan ejaan untuk memberikan ekspresi yang lebih kuat. Mereka menambahkan huruf berulang untuk menekankan perasaan keterkejutan atau Istilah lain seperti AungechatAy yang berasal dari kata AuchatAy dalam bahasa Inggris juga mengalami penyesuaian dengan penambahan awalan Aunge-Ay yang lazim dalam bahasa lisan informal di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa anak-anak tidak hanya menyerap istilah dari bahasa asing, tetapi juga memodifikasinya agar lebih sesuai dengan gaya komunikasi mereka. Media sosial berperan besar dalam penyebaran istilah gaul di kalangan siswa SD Negeri 4 Pelang. Platform seperti TikTok. Instagram, dan YouTube menjadi sumber utama bagi anakanak untuk menemukan dan mengadopsi istilah baru. Fitur komentar, video pendek, dan berbagi konten mempermudah penyebaran kata-kata baru yang sedang populer. Contohnya, istilah AubestieAy yang awalnya viral di TikTok kini telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari siswa SD untuk menyebut sahabat mereka. Kecepatan penyebaran bahasa gaul di media sosial juga dipengaruhi oleh interaksi anak-anak dengan konten digital. Mereka meniru istilah yang sering mereka dengar dalam video atau membaca di komentar, kemudian menerapkannya dalam percakapan mereka Sebagai contoh, istilah AugaskeunAy yang awalnya berasal dari komunitas game kini banyak digunakan dalam berbagai konteks sebagai ajakan untuk melakukan sesuatu. Konten kreator dan influencer juga memiliki pengaruh besar dalam pembentukan dan penyebaran istilah gaul. Banyak siswa SD yang mengikuti akun-akun populer dan meniru bahasa yang digunakan oleh influencer favorit mereka. Istilah seperti Auauto winAy yang sering digunakan oleh YouTuber gaming menjadi populer di kalangan anak-anak, tidak hanya dalam konteks permainan tetapi juga dalam percakapan sehari-hari. Proses adaptasi ini juga dipengaruhi oleh gaya bicara khas dari para influencer. Nada atau intonasi tertentu dalam mengucapkan sebuah kata dapat membuat istilah tersebut lebih menarik dan mudah diingat. Misalnya, istilah AuanjayAy yang awalnya dipopulerkan oleh influencer kini digunakan secara luas oleh anak-anak sebagai ungkapan kekaguman. Bahasa gaul yang digunakan oleh anak-anak terus mengalami perubahan makna dan perluasan penggunaan. Kata-kata yang awalnya memiliki arti spesifik sering kali dimaknai ulang sesuai dengan kebutuhan komunikasi mereka. Misalnya, istilah AugaskeunAy yang awalnya hanya digunakan dalam komunitas game, kini banyak digunakan dalam berbagai situasi lain, seperti mengajak teman bermain atau mengerjakan tugas bersama. Selain itu, beberapa istilah mengalami perluasan makna yang tidak terduga. Kata AubocilAy yang awalnya berarti anak kecil, kini juga digunakan untuk menyebut seseorang yang dianggap kekanak-kanakan. Demikian pula, istilah AuslayAy yang berasal dari komunitas fashion kini digunakan oleh anak-anak untuk memuji teman yang percaya diri atau tampil keren. Dengan adanya perubahan dan perluasan makna ini, dapat disimpulkan bahwa bahasa gaul yang digunakan oleh siswa SD Negeri 4 Pelang merupakan fenomena linguistik yang Bahasa gaul tidak hanya mencerminkan tren komunikasi digital, tetapi juga menggambarkan kreativitas anak-anak dalam menyesuaikan dan mengembangkan bahasa sesuai dengan kebutuhan sosial mereka. Modifikasi Kalimat Gaul pada Media Sosial Siswa SD Negeri 4 Pelang Bahasa gaul yang digunakan oleh siswa sekolah dasar dalam media sosial mengalami berbagai modifikasi, terutama dalam bentuk kalimat. Modifikasi ini dilakukan agar komunikasi lebih cepat, santai, dan sesuai dengan gaya bicara mereka. Salah satu bentuk utama modifikasi kalimat dalam bahasa gaul anak adalah penghilangan kata formal, penggunaan kata serapan dalam satu kalimat, dan penyusunan ulang tata bahasa. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran dalam penggunaan bahasa di kalangan anak-anak yang dipengaruhi oleh budaya digital dan lingkungan pergaulan mereka. Berikut penjelasannya : Penghilangan Kata Formal dalam Kalimat Gaul. Dalam komunikasi di media sosial, siswa SD Negeri 4 Pelang sering menghilangkan kata-kata formal yang seharusnya ada dalam struktur kalimat baku. Penghilangan ini dilakukan untuk menyingkat pesan dan membuat bahasa terdengar lebih santai serta Misalnya, mereka lebih sering menulis "Mau main nggak?" daripada "Apakah kamu mau bermain?". Kata "apakah" dihilangkan karena dianggap tidak terlalu penting dalam pemahaman kalimat. Selain itu, penghilangan kata formal juga terjadi dalam bentuk perintah atau ajakan. Misalnya, "Ayo ke rumahku" sering disingkat menjadi "Ke rumahku yuk!" tanpa menyertakan subjek "ayo" secara eksplisit. Hal ini mencerminkan kecenderungan anak-anak dalam menyederhanakan struktur kalimat agar lebih mudah dipahami dan direspons dengan cepat. Penggunaan Kata Serapan dalam Satu Kalimat. Pengaruh budaya luar, terutama melalui internet dan media sosial, menyebabkan siswa SD Negeri 4 Pelang sering mencampur kata-kata serapan dalam satu kalimat. Kata serapan ini biasanya berasal dari bahasa Inggris, tetapi sering mengalami penyesuaian dalam pelafalan atau penulisannya agar lebih sesuai dengan gaya komunikasi mereka. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari di media sosial, mereka menggunakan frasa "Aku lagi on the way nih" sebagai pengganti "Aku sedang dalam perjalanan sekarang". Kata "on the way" dipilih karena lebih singkat dan sering digunakan dalam konteks digital. Beberapa kata serapan juga mengalami modifikasi, seperti "download" yang menjadi "donlot" dan "message" yang disingkat menjadi "meces". Penyusunan Ulang Tata Bahasa. Salah satu karakteristik unik dari bahasa gaul anak di media sosial adalah penyusunan ulang tata bahasa dalam kalimat. Struktur kalimat yang seharusnya mengikuti aturan baku sering kali diubah agar terdengar lebih santai dan mudah Misalnya, dalam bahasa baku, "Aku tidak tahu harus bagaimana" sering kali diubah menjadi "Gimana dong, aku nggak tahu. Perubahan ini mencerminkan fleksibilitas bahasa gaul dibandingkan dengan bahasa baku. Selain itu, elemen-elemen ekspresif seperti "nih", "dong", "kan", dan "loh" sering ditambahkan dalam kalimat. Misalnya, "Dia tadi udah bilang" bisa menjadi "Udah bilang dia tadi, kan?". Perubahan ini membuat komunikasi terasa lebih natural dan akrab. Modifikasi kalimat dalam bahasa gaul sering digunakan dalam percakapan santai di media sosial, seperti di grup chat atau kolom komentar. Kalimat-kalimat yang digunakan cenderung ringkas, penuh improvisasi, dan mencerminkan keakraban di antara mereka. Contohnya: "Gw gas dulu yaa, nyokap udah manggil!", "Sumpah ini ngakak parah!", "Santuy aja, gausah panik!". Modifikasi ini menunjukkan bahwa bahasa gaul mencerminkan identitas dan keakraban dalam kelompok pertemanan mereka. Anak-anak sering menyesuaikan bahasa mereka dengan fenomena yang sedang populer agar tetap relevan dengan lingkungan pergaulan mereka. Ungkapan dalam tren ini sering kali bersifat sementara, tetapi tetap meninggalkan jejak dalam pola komunikasi mereka. Beberapa contoh modifikasi kalimat dalam tren media sosial adalah: "Gak ada lo, gak rame!" , "Auto viral sih ini kalau dipost!", "Bentar, gw setting dulu biar estetik!". Fenomena ini menunjukkan bagaimana tren digital mempengaruhi cara anak-anak mengekspresikan diri mereka dalam bahasa sehari-hari. Modifikasi kalimat dalam bahasa gaul anak-anak dapat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa mereka. Di satu sisi, hal ini mencerminkan kreativitas dan fleksibilitas dalam berbahasa. Namun, di sisi lain, penggunaan bahasa gaul yang berlebihan dapat menyebabkan menurunnya kemampuan mereka dalam memahami dan menggunakan bahasa baku secara benar. Oleh karena itu, penting bagi pendidik dan orang tua untuk memberikan pemahaman tentang penggunaan bahasa yang tepat dalam berbagai konteks. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa SD Negeri 4 Pelang melakukan berbagai bentuk modifikasi kata dalam bahasa gaul mereka. Modifikasi ini umumnya dilakukan dengan cara pemendekan kata, pengubahan ejaan, serta penambahan imbuhan khas bahasa gaul. Contohnya, kata "banget" berubah menjadi "bgt", "yuk" menjadi "skuy", dan "mantap betul" menjadi "mantul". Fenomena ini menunjukkan bahwa anak-anak cenderung menyederhanakan kata-kata agar lebih ringkas dan mudah diketik saat berkomunikasi di media sosial. Modifikasi kata semacam ini dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama, adanya kebutuhan efisiensi dalam komunikasi digital, terutama dalam aplikasi perpesanan dan media sosial yang menuntut kecepatan dalam merespons. Kedua, pengaruh teman sebaya yang memperkuat penggunaan bentuk-bentuk gaul tertentu sehingga menjadi bagian dari identitas kelompok mereka. Dalam konteks ini, bahasa gaul tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol keakraban dan solidaritas dalam komunitas anak-anak di dunia maya. Produksi istilah baru yang berkembang di kalangan siswa SD Negeri 4 Pelang muncul sebagai hasil kreativitas anak-anak dalam menciptakan kosakata baru yang lebih relevan dengan pengalaman sosial dan digital mereka. Misalnya, istilah "mabar" . ain baren. digunakan untuk mengajak bermain gim daring bersama, "gabut" . aji but. digunakan untuk menggambarkan perasaan bosan atau tidak ada aktivitas, serta "bestie" . ari best frien. yang menandakan kedekatan dengan teman. Produksi istilah baru ini menunjukkan bahwa anak-anak memiliki kemampuan bahasa yang fleksibel dan adaptif. Mereka tidak hanya sekadar menyerap istilah yang sudah ada, tetapi juga menciptakan dan menyebarkan kosakata baru yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi Istilah-istilah ini sering kali berasal dari campuran bahasa Indonesia dan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, yang menunjukkan adanya interaksi dengan budaya global. Selain itu, tren yang muncul dari konten kreator dan influencer di media sosial juga turut mempengaruhi perkembangan istilah baru ini, sehingga bahasa gaul anak-anak terus berkembang dan mengalami dinamika yang cepat. Selain kata dan istilah baru, penelitian ini juga menemukan bahwa siswa SD Negeri 4 Pelang sering kali memodifikasi struktur kalimat dalam bahasa gaul mereka. Kalimat-kalimat ini sering mengalami penyederhanaan dengan penghilangan kata formal, penggunaan kata serapan, serta perubahan susunan tata bahasa agar terdengar lebih santai dan ekspresif. Contohnya, kalimat "Lagi apa?" disederhanakan menjadi "G ngap?", "Aku auto sedih" menggantikan "Aku langsung merasa sedih", dan "Dah lah, males" digunakan sebagai bentuk ekspresi keengganan untuk melakukan sesuatu. Modifikasi kalimat ini mencerminkan bagaimana bahasa gaul digunakan tidak hanya untuk komunikasi sehari-hari, tetapi juga sebagai sarana ekspresi emosi dan identitas diri. Kalimat-kalimat yang digunakan sering kali memiliki nuansa humor, ironi, atau hiperbola yang membuat percakapan lebih menarik dan dinamis. Fenomena ini memperlihatkan bahwa bahasa gaul bukan hanya sekadar bentuk penyimpangan dari bahasa baku, tetapi juga memiliki sistem dan pola yang dapat dianalisis secara sosiolinguistik. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa gaul pada media sosial siswa SD Negeri 4 Pelang merupakan fenomena linguistik yang berkembang akibat interaksi antara faktor sosial, budaya, dan teknologi. Fenomena ini sejalan dengan teori sosiolinguistik dari Abdul Chaer yang menyatakan bahwa bahasa mengalami variasi dan perubahan sesuai dengan lingkungan sosial penggunanya. Dalam konteks ini, bahasa gaul bukan sekadar bentuk komunikasi yang menyimpang dari kaidah baku, tetapi juga refleksi dari identitas sosial dan kebiasaan berbahasa anak-anak di era digital. DAFTAR RUJUKAN Anggini. Afifah. , & Syaputra. Pengaruh Bahasa Gaul (Slan. Terhadap Bahasa Indonesia Pada Generasi Muda. Jurnal Multidisiplin Dehasen, 1. , 143Ae148. Darojah. Ihsan. , & Sukowati. Penggunaan Jenis Kata Tabu pada Tuturan Anak Usia 6Ai12 Tahun (Kajian Sosiolinguisti. Jurnal Pendidikan Rungkat, 1. https://ejurnal. id/index. php/rungkat/article/view/6541 Darojah. , & Huda. Perbandingan gramatika tata bahasa baku bahasa Indonesia. Jurnal Ilmiah Pentas, 3. , 1Ae10. https://ejurnal. id/index. php/pentas/article/view/1119 Kridalaksana. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Kurniawati. Dinamika bahasa gaul di media sosial: Pengaruh interaksi dan tren Jurnal Linguistik Digital, 4. , 112Ae126. Lestari. , & Wahyudi. Dinamika Bahasa Gaul di Kalangan Remaja: Kajian Sosiolinguistik. Bandung: Lingua Press. Nugroho. Bahasa gaul dan solidaritas kelompok dalam interaksi sosial remaja. Jurnal Sosiolinguistik Indonesia, 9. , 87Ae102. Prasetyo. Kreativitas linguistik dalam bahasa gaul: Dampak terhadap penggunaan bahasa formal. Bahasa dan Masyarakat, 7. , 45Ae58. Prasetyo. Peran media sosial dalam pembentukan bahasa gaul anak. Jurnal Linguistik Digital, 5. , 75Ae90. Rahayu. Bahasa dan Budaya Populer di Era Digital. Bandung: Pustaka Nusantara. Rahmawati. Bahasa dan Identitas Sosial dalam Era Digital. Yogyakarta: Pustaka Cendekia. Saputra. Dinamika bahasa anak di media sosial: Kajian sosiolinguistik. Jurnal Komunikasi dan Bahasa, 8. , 40Ae55. Setiawan. Peran keluarga dalam pembentukan kebiasaan berbahasa anak. Jurnal Psikologi dan Pendidikan, 10. , 50Ae65. Suryanto. Perilaku berbahasa remaja: Perspektif sosiolinguistik. Bahasa dan Budaya, 26. , 60Ae75. Sutardi. , & Ernaningsih. Proses Kreatif Menulis: Usaha Interpretasi Nilai Pendidikan dalam Karya Sastra. Jurnal Ilmiah Pentas, 8. , 1Ae12. https://ejurnal. id/index. php/pentas/article/view/3286