Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 INSIDE-OUTSIDE-CIRCLE. AN INNOVATIVE ISLAMIC EDUCATION LEARNING METHOD TO ENHANCE STUDENTS' LEARNING MOTIVATION Nena Ayu Agustin*. Ida Faridatul Hasanah. Imam SyafeAoi. Baharudin. Zahra Rahmatika Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Article History: Received: 11/2/2025 Revised: 19/6/3025 Accepted: 27/3/2025 Published: 26/4/2025 Keywords: Inside-Outside Circle. Learning Motivation. Islamic Education Kata Kunci: Inside-Outside Circle. Motivasi Belajar. Pendidikan Agama Islam Correspondence Address: Abstract: This study aims to examine the impact of implementing the InsideOutside Circle (IOC) learning model on students' learning motivation in Islamic Religious Education (PAI). The research adopts a quantitative approach with a quasi-experimental design. The study sample consists of two classes: an experimental class that applies the IOC model and a control class that follows conventional teaching methods. Data analysis results indicate that the T-test value of 3. 904 exceeds the t-table value of 667, with a significance level of 0. 000, which is less than 0. These findings confirm that the IOC model significantly influences students' learning motivation. This learning approach has been shown to enhance student interaction, active participation, and engagement in the learning process, ultimately contributing to increased motivation. The study supports the effectiveness of social interaction-based learning models in religious education to promote student involvement. Therefore, the IOC model is recommended as an alternative teaching strategy to improve the Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penerapan model pembelajaran Inside-Outside Circle (IOC) terhadap motivasi belajar peserta didik dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain eksperimen semu . uasi-experimenta. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas, yaitu kelas eksperimen yang menerapkan model IOC dan kelas kontrol yang tidak menggunakan model IOC. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai uji-T sebesar 3,904 lebih tinggi dibandingkan t tabel sebesar 1,666, dengan tingkat signifikansi 0,000 yang lebih kecil dari 0,005. Hal ini membuktikan bahwa model IOC memiliki pengaruh yang signifikan terhadap motivasi belajar peserta didik. Model pembelajaran ini terbukti dapat meningkatkan interaksi, partisipasi aktif, serta keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan motivasi belajar mereka. Temuan penelitian ini mengonfirmasi bahwa model pembelajaran IOC dapat diterapkan secara efektif dalam pendidikan agama islam untuk meningkatkan keterlibatan peserta Oleh karena itu, model IOC direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran alternatif yang dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 PENDAHULUAN Berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945, pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni untuk mewujudkan masyarakat yang maju, adil makmur, dan beradab. Untuk menghasilkan generasi yang bermartabat di Indonesia, pendidikan memiliki peran strategis dan penting. Pendidikan memengaruhi semua aspek kehidupan diantaranya ekonomi, social. Kesehatan, teknologi dan inovasi, lingkungan, moran dan etika (Biatun, 2. Kegiatan pembelajaran terdapat elemen-elemen yang terlibat salah satunya yaitu peserta didik. Peserta didik adalah orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran, baik di lingkungan formal, maupun non-formal. Mereka dapat berupa peserta didik, mahasiswa, atau orang yang mengikuti program pendidikan dan pelatihan. Peserta didik berperan aktif dalam proses belajar, di mana mereka tidak hanya menerima informasi tetapi juga berinteraksi dengan materi, guru, dan teman sebaya untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan (Harahap, 2. Dalam pendidikan, diharapkan peserta didik memperoleh sikap, prinsip, dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Peserta didik yang memiliki motivasi belajar yang tinggi sangat mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran. Ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan prestasi peserta didik karena peserta didik belajar lebih baik dengan motivasi yang lebih tinggi (Ramli, 2. Motivasi merupakan komponen yang membantu menentukan intensitas belajar, mendorong pengalaman belajar yang lebih baik, meningkatkan pemahaman dan keinginan peserta didik, serta memandu fokusnya pada tujuan yang diinginkan. Pentingnya menciptakan motivasi belajar untuk mengubah pembelajaran ke arah yang lebih positif (Tjahjono & Makhsun, 2. Menurut Nashar, motivasi belajar merupakan dorongan yang mendorong peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan belajar dengan tujuan mencapai hasil Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 yang optimal. Jika peserta didik memiliki motivasi yang tinggi, mereka akan lebih bersemangat dalam belajar. Sebaliknya, kurangnya motivasi dapat menyebabkan penurunan semangat belajar, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar. Hal ini dapat diamati melalui cara peserta didik belajar di Oleh karena itu, keterlibatan dalam aktivitas belajar memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan mereka (Ayu Desy N. Endah Lulup T P. Suharsono Naswan, 2. Menurut Arianti, motivasi merupakan kondisi mental yang mendorong seseorang untuk bertindak. Terdapat tiga elemen utama dalam motivasi, yaitu kebutuhan, dorongan, dan tujuan. Kebutuhan timbul ketika seseorang merasa ada kesenjangan antara apa yang dimiliki dengan yang Sementara itu, dorongan adalah kekuatan mental yang menggerakkan individu untuk berusaha mencapai harapannya. Dorongan ini berfokus pada pencapaian tujuan, yaitu sesuatu yang ingin diraih. Dalam konteks belajar, tujuan tersebut akan memengaruhi dan mengarahkan perilaku seseorang dalam proses pembelajaran (Jainiyah et al. , 2. Menurut Hamzah B. Uno, motivasi belajar terbagi menjadi dua jenis, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Masing-masing jenis motivasi ini memiliki beberapa indicator yaitu . adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil, . Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, . Adanya harapan dan cita-cita masa depan, . adanya penghargaan dalam belajar, . Adanya keinginan yang menarik dalam belajar, dan . Adanya lingkungan belajar yang kondusif. Tiga indikator pertama masuk dalam motivasi intrinsik, sedangkan tiga yang terakhir termasuk dalam motivasi ekstrinsik (Azzahra et al. , 2. Motivasi intrinsik berasal dari dalam diri seseorang, seperti dorongan untuk mengembangkan keterampilan, memperoleh pengetahuan, membentuk sikap terhadap keberhasilan, pengakuan dari orang lain. Sementara itu, motivasi ekstrinsik dipengaruhi oleh faktor luar, seperti pemberian hadiah, pujian, ajakan, atau instruksi yang memotivasi seseorang untuk bertindak dalam kondisi tertentu (Suharni & Purwanti, 2. Semua peserta didik memiliki kondisi fisiologis dan psikologis yang berbeda, jadi ada faktor yang mendukung dan menghambat motivasi belajar. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Materi dan bahan yang dipelajari juga memengaruhi proses belajar dan hasil yang Selain itu, bahan yang dipelajari juga memengaruhi metode belajar dan waktu yang digunakan, serta apakah siswa memiliki kemampuan dan keinginan untuk mengikuti proses pembelajaran (Fay, 2. Ketidaksesuaian antara metode pengajaran yang digunakan dan gaya belajar individu peserta didik dapat menimbulkan peserta didik tidak terlibat dalam pembelajaran secara optimal. Setiap peserta didik memiliki cara unik dalam menyerap dan memproses informasi, yang sering kali dipengaruhi oleh gaya belajar mereka, seperti visual, auditori, atau kinestetik. Ketika metode pengajaran yang diterapkan oleh guru tidak selaras dengan preferensi belajar peserta didik, mereka cenderung merasa kesulitan untuk memahami materi yang diajarkan, yang pada gilirannya dapat mengurangi motivasi mereka untuk berpartisipasi dalam proses belajar (Mardiningrum, 2. Peserta didik yang kesulitan memahami Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan belajar yang beragam dalam satu kelas dapat menyebabkan kesenjangan dalam pencapaian akademis, di mana peserta didik yang lebih mampu dapat terus berkembang, sementara mereka yang membutuhkan perhatian lebih justru tertinggal (Riduwan, 2. Beberapa institusi pendidikan masih menerapkan metode pengajaran klasik yang belum memanfaatkan teknologi secara maksimal, sehingga mengakibatkan kurangnya integrasi teknologi dalam proses belajar mengajar. Ketidakmaksimalan pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya menghambat keterlibatan Peserta didik, tetapi juga berpotensi mengurangi inovasi pembelajaran, karena Peserta didik mungkin merasa kurang termotivasi dan terlibat dalam proses belajar (Ertmer & Ottenbreit-Leftwich, 2. Berdasarkan hasil pra penelitian yang telah lakukan melalui observasi dan wawancara terhadap salah satu pendidik mata Pelajaran PAI (Yuniarti, n. ) dan 3 peserta didik kelas Vi yaitu ARR. HIA dan NS di sekolah SMP Al Huda Jatiagung Lampung Selatan, mengungkap beberapa permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan pembelajaran PAI yaitu 1. kurang nya motivasi belajar peserta Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 didik pada mata Pelajaran PAI, 2. Ketidaksesuaian antara metode pengajaran yang digunakan dan gaya belajar individu peserta didik juga dapat menyebabkan peserta didik kurang terlibat dalam pembelajaran, 3. Kurangnya integrasi teknologi dalam pembelajaran, 4. Peserta didik yang membutuhkan bantuan tambahan atau penyesuaian pembelajaran yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka mungkin tidak mendapatkan dukungan yang memadai, yang dapat menghambat kemajuan belajar mereka. Model pembelajaran yang sering digunakan diantaranya model pembelajaran konvensional, berbasis proyek dan model pembelajaran PBL (Project Based Learnin. (ARR, n. HRR, n. NS, Kemudian, berikut hasil pra penelitian yang dilakukan oleh penulis tentang motivasi belajar, sebagai berikut. Hasil Angket Motivasi Belajar hasrat dan keinginan dorongan dan kebutuhan dalam belajar penghargaan dalam kegiatan yang menarik dalam belajar Lingkungan yang Gambar 1 Hasil Angket Motivasi Belajar Peserta Didik Mata Pelajaran PAI Berdasarkan Gambar 1. Motivasi belajar mata pelajaran PAI di SMP Al Huda Jati Agung, bahwasannya indikator hasrat dan keingian berhasil memiliki presentase 24 %, dorongan dan kebutuhan dalam belajar memiliki presentase 17 %, penghargaan dalam belajar memiliki presentase 20 %, kegiatan yang menarik dalam kegiatan memiliki presentase 18 %, dan lingkungan yang kondusif memiliki presentase 21 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 peserta didik masih belum maksimal. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara, terdapat kebutuhan mendesak untuk menerapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran, peneliti perlu merancang dan menerapkan model yang menarik serta mampu memotivasi peserta didik untuk belajar. Belajar yang aktif dan menarik karena adanya inovasi dalam proses pembelajaran salah satunya yaitu model pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Model pembelajaran adalah suatu pola yang digunakan oleh guru untuk mempermudah dalam proses pembelajaran. salah satu model alternatif yang dapat digunakan untuk kegiatan yang menarik dalam proses belajar adalah dengan menggunakan model pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) (Kenedy, 2. Spencer Kagan memperkenalkan model pembelajaran ini pada tahun 1990, yang melibatkan peserta didik yang singkat dan teratur membagi informasi dengan pasangan yang berbeda secara bersamaan (Rezka, 2. Menurut Suyatno, model pembelajaran Lingkaran Dalam-Luar (InsideOutside-Circle (IOC) termasuk dalam metode pembelajaran kooperatif yang menggunakan dua lingkaran, yakni lingkaran kecil dan lingkaran besar. Dalam model ini, peserta didik bertukar informasi dengan pasangan yang berbeda secara terstruktur dan dalam waktu singkat. Prosesnya dimulai dengan setengah dari peserta didik membentuk lingkaran kecil yang menghadap keluar, sementara setengah lainnya membentuk lingkaran besar yang menghadap ke dalam. Setiap peserta didik berpasangan dan berbagi informasi secara bersamaan. Setelah itu, peserta didik di lingkaran luar bergeser untuk bertukar pasangan, sehingga interaksi terus berlanjut. Dan berbagi informasi dengan orang . (Ufuk Dizer et al. , 2. Penelitian mengenai model pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) sudah pernah dilakukan, diantaranya Penelitian yang dilakukan oleh Nurfitasari (Nurfitasari, 2. , yang berjudul efektivitas model Inside-Outside-Circle dalam meningkatkan aspek kognitif peserta didik pada pembelajaran fiqih kelas Vi A di Mts Bojo Kajuara dengan hasil bahwasan nya model pembelajarn Inside- Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Outside-Circle (IOC) efektif dalam aspek kognitif peserta didik pada pembelajaran fiqih kelas Vi A di MTs Bojo. Nurul Hadia (Hadia, 2. yang berjudul penerapan model Inside-Outside-Circle (IOC) pada mata pelajaran fikih untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V MIN 4 Aceh Selatan dengan hasil bahwasan nya penerapan model pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) pada mata pelajaran fikih materi bersuci dari hadas besar dan mandi wajih dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V MIN 4 Aceh Selatan. Andi Haruni Haq (Haq, 2. yang berjudul penerapan strategi pembelajaran kooperatif tipe InsideOutside-Circle dalam meningkatkan hasil belajar mata pelajaran pai kelas V SDN 035 Paku Polman dengan hasil bahwasan nya penerapan strategi pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside-Circle dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran PAI kelas V SDN 035 Paku Polman. Arum Dwi Indras Wari (Indraswari, 2. yang berjudul penerapan model pembelajaran tipe InsideOutside-Circle untuk meningkatkan pemahaman konsep pada mata pelajaran fiqih kelas i MI mambaul huda ngabar dengan hasil bahwasan nya penerapan model pembelajaran tipe Inside-Outside-Circle dapat meningkatkan pemahaman konsep pada mata pelajaran fiqih kelas i MI Mambaul Huda Ngabar. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa model pembelajaran InsideOutside-Circle (IOC) terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep dan hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), terutama di tingkat MI dan SD. Namun, masih sedikit penelitian yang secara khusus membahas pengaruh model ini terhadap motivasi belajar peserta didik di jenjang SMP dalam pembelajaran PAI. Oleh karena itu, penelitian ini menghadirkan inovasi dengan meneliti bagaimana penerapan model IOC dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik, baik dari segi intrinsik maupun ekstrinsik. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi bagaimana interaksi aktif dalam model IOC dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik, meningkatkan keterlibatan peserta didik, serta mendorong partisipasi aktif dalam pembelajaran PAI. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 pemahaman konsep, tetapi juga mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik di tingkat SMP dalam mata pelajaran PAI. IOC memungkinkan peserta didik untuk berinteraksi langsung dengan temantemannya secara bergantian, yang tidak hanya mengembangkan pemahaman materi tetapi juga melatih keterampilan sosial seperti komunikasi, empati, dan kerja sama. Interaksi ini bisa menjadi faktor pendorong motivasi belajar, terutama bagi siswa yang merasa lebih nyaman belajar melalui diskusi atau kerja Di era modern yang menuntut kemampuan kolaboratif, pembelajaran dengan model IOC memberikan peserta didik pengalaman bekerja dalam tim dan berdiskusi secara aktif. Motivasi belajar peserta didik cenderung meningkat ketika mereka merasa bahwa keterampilan yang mereka pelajari relevan dengan kebutuhan dunia nyata (Jainab, 2. Melalui model IOC, peserta didik memiliki peluang untuk mengutarakan pendapat dalam kelompok kecil, sehingga dapat memperkuat rasa percaya diri mereka. Saat peserta didik merasa dihargai dan didengar, motivasi mereka untuk terlibat dalam proses pembelajaran cenderung meningkat (Hidayati et al. , 2. Tujuan dari penelian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Melalui interaksi langsung dan diskusi bergantian. IOC membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam serta melatih keterampilan sosial seperti komunikasi, empati, dan kerja sama. Selain itu, model ini dapat menjadi faktor pendorong motivasi belajar karena mereka merasa bahwa keterampilan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan dunia nyata. IOC juga memberikan peluang bagi peserta didik untuk menyampaikan pendapat mereka dalam kelompok kecil, yang dapat menambahkan rasa percaya diri serta keterlibatan mereka dalam kegiatan pembelajaran. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian quasi eksperimental design. Metode quasi eksperimen bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara variabel dalam kelompok eksperimen dan kontrol. Oleh karena itu, pendekatan ini digunakan untuk memahami bagaimana variabel Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 saling berinteraksi serta mengungkap alasan di balik hubungan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2024/2025 di SMP Al-Huda Jatiagung. Lampung Selatan, yang berlokasi di Desa Jati Mulyo. Kecamatan Jatiagung. Kabupaten Lampung Selatan. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas Vi, yang terdiri dari lima kelas dengan total 186 siswa. Sampel penelitian ini mencakup kelas Vi Thariq sebagai kelompok eksperimen dan kelas Vi Khalid sebagai kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling dengan bantuan aplikasi Spin the Wheel untuk memastikan pemilihan sampel kelas secara acak. Instrumen penelitian ini menggunakan instrumen non test yaitu angket motivasi belajar. Indikator motivasi belajar yang digunakan oleh peneliti menggunakan teori dari Hamzah B. Uno yang terdiri dari 6 indikator yaitu . adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil, . Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, . Adanya harapan dan cita-cita masa depan, . adanya penghargaan dalam belajar, . Adanya keinginan yang menarik dalam belajar, dan . Adanya lingkungan belajar yang kondusif (Azzahra et al. , 2. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan angket motivasi belajar yang keterangan pilihan jawaban menggunakan skala likert dengan lima alternatif jawaban yang diberikan kepada peserta didik kelas eksperimen dan kelas control. HASIL DAN PEMBAHASAN Model Pembelajaran Inside-Outside Circle (IOC) Pada Mata Pelajaran PAI Model pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang dikembangkan untuk meningkatkan interaksi peserta didik dalam proses pembelajaran. Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Spencer Kagan dan telah terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana penerapan model IOC berpengaruh terhadap motivasi belajar peserta didik dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) (Hussain,I. Ali. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Menurut Spencer Kagan, model pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) merupakan metode yang menerapkan sistem lingkaran kecil dan lingkaran besar. Model ini diawali dengan pembentukan kelompok besar yang terdiri dari lingkaran luar dan lingkaran dalam. Dengan metode ini, peserta didik dapat berbagi informasi secara terstruktur dalam waktu singkat dan bersamaan. Pembelajaran ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk memproses informasi dengan lebih efektif serta memperdalam pemahaman mereka terhadap konsep yang dipelajari (Anti et al. , 2. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, model IOC memungkinkan peserta didik untuk lebih memahami konsep-konsep ke-Islaman melalui diskusi yang interaktif. Model ini mendukung teori konstruktivisme yang dikemukakan oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa interaksi sosial berperan penting dalam membangun pemahaman individu (Rahmawati, 2. Dengan berdiskusi dalam kelompok, peserta didik dapat lebih mudah memahami makna ayat-ayat AlQurAoan dan hadis serta bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), model InsideOutside-Circle (IOC) dapat diterapkan dalam berbagai topik, seperti akidah, akhlak, fikih, atau sejarah Islam. Misalnya, dalam pembelajaran tentang kisah para nabi, siswa dapat bertukar informasi tentang karakter dan peristiwa penting dalam kehidupan nabi tertentu. Metode ini membantu siswa lebih aktif dalam belajar, meningkatkan daya ingat, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dalam bertukar pendapat dan ilmu pengetahuan. (Nurhayati & . Langlang Handayani, 2. Selain meningkatkan pemahaman konsep, model Inside-Outside-Circle (IOC) dalam pembelajaran PAI juga berperan dalam membentuk karakter siswa. Interaksi yang terjadi selama diskusi melatih siswa untuk mendengarkan dengan baik, menghargai pendapat orang lain, serta berani mengemukakan gagasan. Nilai-nilai ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya ukhuwah . , musyawarah, dan sikap saling menghormati dalam kehidupan Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 kognitif, tetapi juga membentuk kepribadian Islami yang lebih baik. (Lase & Laoli. Model Pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Inovasi model pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) bertujuan untuk menarik perhatian peserta didik agar tidak pasif, selalu aktif dan mampu mengembangkan pemahaman peserta didik secara mendalam sehingga dapat meningkatkan motivasi peserta didik terutama dalam mata pelajaran PAI. Untuk melihat pengaruh model Inside-Outside-Circle (IOC) dalam meningkatkan motivasi belajar dengan cara melakukan pengujian hipotesis. Sumber data yang didapat dari peserta didik melalui angket yang telah diberikan oleh peneliti Sebelum angket di sebar ke responden maka angket harus diuji coba diluar responden untuk menunjukkan tingkat kevalidan instrumen tersebut. Untuk menguji validitas instrumen menggunakan IBM SPSS v26. dengan kriteria Rhitung > Rtabel dengan = 5 % . maka data dapat dikatan valid. Tabel 1. Deskripsi Hasil Uji Validitas Item Rhitung Rtabel 0,685 0,633 0,654 0,441 0,565 0,531 0,639 0,066 0,279 0,213 0,271 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 Hasil Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid InValid InValid InValid InValid Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 0,597 0,428 0,285 0,391 0,204 0,540 0,100 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 Valid Valid InValid Valid InValid Valid InValid Selanjutnya, melakukan uji reliabilitas pada instrumen. Dikatakan reliabil apabila nilai alpha memenuhi kriteria nilai reliabilitas yaitu R tabel. Berikut tabel hasil dari uji reliabilitas. Tabel 2. Deskripsi Uji Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items Berdasarkan hasil uji reliabilitas butir pernyataan, dapat diperoleh nilai reliabitas sebesar 0,667. Adapun kriteria nilai reliabilitas yaitu Rhitung > Rtabel dengan = 5 % . Didapatkan bahwa R tabel = 0,329, maka hal tersebut menunjukkan bahwa Rhitung > Rtabel . ,667 > 0,. Jadi dapat disimpulkan bahwa seluruh butir pernyataan yang valid dinyatakan sudah reliabil. Berdasarkan analisis data yang diperoleh dari peserta didik SMP Al-Huda Jatiagung, hasil interprestasi sebagai berikut. Uji normalitas Uji normalitas adalah untuk menguji apakah variabel independen dan variabel dependen berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian kuantitatif, uji normalitas biasanya digunakan untuk memastikan bahwa data yang diamati memenuhi asumsi yang diperlukan oleh beberapa teknik analisis statistik, seperti uji t atau analisis regresi. Jika data tidak memiliki distribusi normal, teknik-teknik tersebut mungkin tidak memberikan hasil yang akurat, sehingga Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 penting untuk mengetahui apakah data tersebut normal (Usmadi, 2. Dasar pengambilan Keputusan bahwa data tersebut berdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan Tingkat alpha 5 % atau 0,05, dengan ketentuan sebagai berikut. Jika nilai sig. > 0,05 maka data berdistribusi normal. Jika nilai sig. < 0,05 maka data berdistribusi tidak normal. Tabel 3. Deskripsi Uji Normalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov Kelas Motivasi Belajar Eksperimen Kontrol Statistic Shapiro-Wilk Sig. Statistic Sig. Berdasarkan hasil pada tabel tersebut, hasil uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov, hasil kelas eksperimen yang mengaplikasikan model pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) diperoleh sig 0,200 > 0,05 dan hasil kelas kontrol yang tidak mengaplikasikan model pembelajaran Inside-OutsideCircle (IOC) diperoleh sig 0,019 > 0,05 hal ini menunjukkan bahwa masingmasing kelas memiliki data yang berdistribusi normal. Namun, terdapat perbedaan dari hasil kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran Inside-OutsideCircle (IOC) dengan hasil kelas kontrol yang tidak menerapkan model pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC). Uji homogenitas Uji homogenitas adalah uji yang digunakan untuk melihat sama . atau tidak variasi-variasi suatu populasi dari distribusi data (Muhson, 2. untuk menguji uji homogenitas peneliti menggunakan teknik uji bartlett. Dasar pengambilan keputusan menggunakan tingkat alpha 5% atau 0,05, dengan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Jika nilai sig. > 0,05 maka data berdistribusi sama atau homogen. Jika nilai sig. < 0,05 maka data berdistribusi tidak sama atau tidak Tabel 4. Deskripsi Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic Motivasi Belajar Sig. Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Berdasarkan hasil uji homogenitas data pada tabel tersebut, diketahui bahwa nilai sig. 094 > 0,05, hal ini berarti bahwa antara kelas ekperimen dan kelas kontrol di SMP Al-Huda Jatiagung kelas Vi memiliki varians yang sama atau Uji hipotesis Uji hipotesis adalah metode pengambilan keputusan yang didasarkan dari analisis information, baik dari percobaan yang terkontrol, maupun dari observasi . idak terkontro. Uji hipotesis digunakan untuk mengetahui apakah nilai suatu pembanding berbeda secara nyata atau tidak dengan rata rata sampel (Waipoie, 2. Tabel 5. Deskripsi Uji T Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Motivasi Equal Belajar Std. 95% Confidence Sig. Mean Error Interval of the . - Differenc Differen Difference Lower Upper Sig. Equal Peneliti melakukan pengujian hipotesis menggunakan teknik uji T. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa nilai T_hitung untuk variabel model pembelajaran Inside-Outside Circle (IOC) sebesar 3,904, sedangkan nilai T_tabel adalah 1,666. Karena T_hitung lebih besar daripada T_tabel . ,904 > 1,. dan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,005, maka HCA ditolak dan HCa diterima. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Inside-Outside Circle (IOC) memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar PAI pada peserta didik kelas Vi di SMP Al-Huda Jatiagung. Penelitian ini juga menemukan bahwa peserta didik yang sebelumnya kurang termotivasi menjadi lebih antusias dalam belajar setelah model IOC Mereka merasa lebih nyaman dalam menyampaikan pendapat karena suasana belajar yang lebih kolaboratif. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Putri dan Wahyudi, lingkungan belajar yang suportif dapat meningkatkan rasa percaya diri peserta didik dan mendorong mereka untuk lebih aktif dalam pembelajaran (Putri, , & Wahyudi, 2. Selain meningkatkan motivasi belajar, model IOC juga terbukti mengurangi kejenuhan dalam pembelajaran PAI. Metode ceramah yang terlalu dominan sering kali membuat peserta didik merasa bosan dan kurang tertarik. Dengan model IOC, pembelajaran menjadi lebih dinamis karena peserta didik diajak untuk bergerak dan berdiskusi dengan berbagai teman dalam kelas. Hal ini sejalan dengan pendapat Prasetyo dan Lestari, metode pembelajaran yang bervariasi dan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 interaktif dapat meningkatkan keterlibatan kognitif, afektif, dan psikomotor peserta didik (Prasetyo. , & Lestari, 2. Motivasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh model pembelajaran yaitu Inside-Outside-Circle (IOC), tetapi motivasi didik juga dipengaruhi oleh berbagai faktor internal, salah satunya adalah minat. Ketika peserta didik mengerjakan tugas yang sesuai dengan ketertarikannya, mereka akan merasa lebih bahagia dan bersemangat. Minat yang tinggi juga membuat mereka lebih fokus, meningkatkan kemampuan kognitif, serta menghubungkan materi yang dipelajari secara lebih sistematis. Selain itu, ekspektasi dan nilai juga berperan penting dalam meningkatkan motivasi. Peserta didik akan lebih terdorong untuk menyelesaikan tugas jika mereka memiliki keyakinan bahwa mereka mampu berhasil dan menganggap tugas tersebut memiliki nilai atau manfaat yang penting bagi mereka. Tidak hanya itu, memiliki tujuan yang jelas juga dapat mendorong semangat belajar karena peserta didik memiliki arah yang ingin dicapai. Selain faktor internal, terdapat faktor eksternal seperti lingkungan juga berperan besar dalam membentuk motivasi belajar. Keluarga menjadi faktor utama dalam memberikan pendidikan dasar, di mana suasana rumah, ketersediaan fasilitas belajar, serta dukungan dari orang tua dapat berpengaruh terhadap semangat belajar anak. Lingkungan sekolah juga menjadi aspek penting, karena sekolah yang memiliki aturan disiplin yang baik serta suasana belajar yang kondusif akan membantu peserta didik lebih mudah memahami materi dan meningkatkan motivasi mereka dalam belajar. Model Inside-Outside-Circle (IOC) meningkatkan interaksi dan kolaborasi antar peserta didik. Metode ini tidak hanya terbatas pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), tetapi juga dapat diterapkan secara luas di berbagai tingkat pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Sebagai pendekatan yang berorientasi pada interaksi dan kolaborasi antar peserta didik, model ini dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan pembelajaran di setiap jenjang pendidikan. Di tingkat SD, model ini dapat digunakan untuk membangun keterampilan sosial dasar dan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 pemahaman konsep melalui aktivitas yang lebih sederhana dan visual. Sementara itu, di jenjang SMP dan SMA. IOC dapat diterapkan dalam diskusi untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan analitis. Di tingkat perguruan tinggi, metode ini dapat dimanfaatkan dalam seminar, studi kasus, atau debat akademik untuk mendorong pertukaran gagasan yang lebih kompleks. baik untuk meningkatkan pemahaman konsep, keterampilan komunikasi, maupun motivasi Oleh karena itu, fleksibilitas model ini memungkinkan penerapannya di berbagai jenjang pendidikan dengan menyesuaikan strategi dan teknik pengajaran yang digunakan. Tantangan Implementasi Model Pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) Salah satu tantangan dalam penerapan model pembelajaran Inside-OutsideCircle (IOC) adalah keterbatasan waktu dan kelas dalam proses pembelajaran. Karena model ini melibatkan banyak interaksi serta pergantian pasangan diskusi, guru perlu mengatur waktu dan kelas dengan baik agar setiap peserta didik memiliki kesempatan berdiskusi tanpa mengurangi durasi untuk aktivitas pembelajaran lainnya. Selain itu, tata ruang kelas yang kurang mendukung, seperti ruang yang sempit atau jumlah peserta didik yang terlalu banyak, dapat menghambat pergerakan dan efektivitas model ini. Guru juga harus memastikan bahwa seluruh peserta didik tetap fokus dan benar-benar memahami materi yang dibahas, karena ada kemungkinan beberapa peserta didik hanya mengikuti alur tanpa mendalami isi pembelajaran. Oleh sebab itu, diperlukan strategi pengelolaan kelas yang efektif, pemantauan yang intensif, serta pemanfaatan waktu yang optimal agar model pembelajaran IOC dapat berjalan dengan baik. Dilihat dari peran guru, penelitian ini mengungkapkan bahwa penerapan model IOC menuntut guru untuk lebih inovatif dalam mengelola pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan jalannya diskusi agar tetap terstruktur dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. peran guru dalam model pembelajaran kooperatif sangat penting untuk memastikan setiap peserta didik mendapatkan kesempatan belajar yang maksimal (Mashuri et al. , 2. Menghadapi tantangan dalam meningkatkan motivasi peserta didik, model Inside-Outside-Circle (IOC) dapat berkontribusi dalam meningkatkan hasil belajar Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 serta mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih kondusif. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa model IOC memiliki dampak positif terhadap motivasi belajar peserta didik dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Dengan menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan, model ini membantu peserta didik menjadi lebih fokus dan termotivasi dalam memahami materi agama. Ke depannya, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi penerapan model ini dalam berbagai mata pelajaran dan jenjang pendidikan yang berbeda. Penelitian ini direkomendasikan untuk dikaji lebih lanjut karena telah Inside-Outside-Circle (IOC) berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan motivasi belajar peserta didik, khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa metode pembelajaran kooperatif dapat menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif serta meningkatkan partisipasi siswa dalam memahami konsep-konsep keagamaan (Hamdani, 2. Studi yang dilakukan oleh Rahmawati (Rahmawati, 2. menunjukkan bahwa metode pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) dan interaksi sosial mampu meningkatkan pemahaman peserta didik dalam mata pelajaran sosial, yang relevan dengan pendekatan yang diterapkan dalam PAI. Sementara itu. Johnson dalam penelitiannya tentang cooperative learning mengungkapkan bahwa model pembelajaran berbasis kerja sama, termasuk IOC, mampu meningkatkan motivasi belajar serta keterampilan berpikir kritis peserta Dengan demikian, penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa model IOC tidak hanya berpengaruh dalam mata pelajaran umum, tetapi juga dapat diterapkan secara optimal dalam pembelajaran agama Islam(Johnson. , & Johnson. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Hasil uji normalitas dan homogenitas dalam penelitian ini menunjukkan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 bahwa data memiliki distribusi normal dan varians yang homogen, sehingga memenuhi asumsi untuk penggunaan analisis statistik parametrik. Kondisi ini memastikan bahwa teknik uji statistik yang diterapkan dapat menghasilkan kesimpulan yang valid, akurat, dan dapat digeneralisasikan. Dengan demikian, perbedaan motivasi belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat diinterpretasikan sebagai pengaruh dari penerapan model pembelajaran InsideOutside-Circle (IOC). Selain itu, hasil uji-T menunjukkan bahwa nilai T_hitung sebesar 3,904 lebih besar daripada T_tabel yang bernilai 1,666, serta nilai signifikansi sebesar 0,000, yang lebih kecil dari 0,005. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan model Inside-Outside-Circle (IOC) berpengaruh dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Penerapan model Inside-Outside-Circle (IOC) telah terbukti mampu menyenangkan, didukung oleh adanya interaksi dalam kelompok, peserta didik lebih termotivasi untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta memahami materi secara lebih mendalam. Selain itu, model pembelajaran ini juga memba ntu meningkatkan rasa percaya diri peserta didik dalam mengemukakan pendapat serta memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep-konsep keagamaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa metode pembelajaran berbasis interaksi sosial dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari. Sebagai langkah tindak lanjut, guru disarankan untuk lebih sering menggunakan model Inside-Outside-Circle (IOC) dalam proses pembelajaran, terutama pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam maupun mata pelajaran Agar penerapan model ini berjalan optimal, guru perlu menyusun strategi pembelajaran yang sesuai, termasuk dalam pengelolaan waktu, pemberian instruksi yang jelas, serta memastikan keterlibatan aktif seluruh peserta didik dalam diskusi. Selain itu, pihak sekolah juga dapat memberikan pelatihan kepada guru terkait penerapan metode pembelajaran kooperatif agar dapat diterapkan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Penelitian ini memberikan wawasan bagi pengembangan studi selanjutnya. Untuk penelitian mendatang, disarankan untuk meneliti pengaruh model InsideOutside-Circle (IOC) dengan mempertimbangkan faktor lain, seperti karakteristik peserta didik, tingkat pemahaman materi, serta dampaknya terhadap hasil belajar secara keseluruhan. Selain itu, penelitian juga dapat dilakukan di berbagai jenjang pendidikan yang berbeda guna mengetahui sejauh mana model ini dapat diterapkan secara luas. Dengan demikian, model Inside-Outside-Circle (IOC) dapat terus dikembangkan sebagai pendekatan pembelajaran yang inovatif dan efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Keberhasilan penelitian ini juga memperkuat pentingnya inovasi dalam metode pengajaran Pendidikan Agama Islam agar lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik saat ini. pembelajaran yang melibatkan interaksi aktif antara peserta didik dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan mereka dalam proses belajar, yang selaras dengan hasil penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini bisa dijadikan direkomendasikan untuk menjadi referensi bagi para pendidik dan peneliti dalam mengembangkan model pembelajaran yang lebih efektif dalam pendidikan Islam. Dengan semakin berkembangnya metode pembelajaran Inside-Outside-Circle (IOC) , diharapkan penelitian lanjutan dapat terus mengeksplorasi dan menyempurnakan penerapan model Inside-Outside-Circle (IOC) dalam berbagai konteks pendidikan Islam, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara lebih luas REFERENSI