ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Jurnal AGRI PEAT. Vol. 27 No. Maret 2026 :23 - 31 KAJIAN STATUS HARA MAKRO TANAH GAMBUT PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT RAKYAT DI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT Assessment of Macro-Nutrient Status of Peat Soils in Smallholder Oil Palm Plantations in Kotawaringin Barat Regency Ihda Andrey Yanuar Setiawan Program Studi Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan. Politeknik Lamandau Jl. Trans-Kalimantan. Kujan. Bulik. Lamandau Kontak person : andreyyanuarskun@gmail. Diterima : 03/12/2025 Disetujui : 01/04/2026 ABSTRACT Smallholder oil palm plantations on peatlands face major constraints related to low fertilization efficiency due to dynamic soil chemical properties and high nutrient losses, while the use of soil analysis as a basis for nutrient management remains limited. This study aimed to evaluate the status of macronutrients in peat soils as a basis for developing appropriate fertilization recommendations for smallholder oil palm plantations in Mendawai Seberang. Kotawaringin Barat Regency. The study employed a descriptive survey method, with soil sampling conducted using a grid system across 10 zones at three depth intervals . Ae15 cm, 15Ae30 cm, and 30Ae60 c. , which were composited for each The parameters analyzed included soil pH, total N, available P, available K, available Ca, available Mg, and cation exchange capacity (CEC). The results showed that soil pH was classified as very acidic . 37Ae4. across all zones and depths. Total N content ranged from low to very low . 03Ae0. 15%), available P was very low . 29Ae3. 48 pp. , and available K was also very low . 38Ae0. 71 cmol( )/k. Base cations Ca and Mg were similarly classified as very low, ranging from 0. 03Ae0. 67 cmol( )/kg and 10Ae0. 30 cmol( )/kg, respectively. In contrast. CEC values were moderate to high . 91Ae36. cmol( )/k. Nutrient distribution varied across zones and soil depths without showing a consistent These findings indicate limited macronutrient availability in peat soils, highlighting the need for improved nutrient management through liming, balanced fertilization, and water management based on soil analysis to enhance fertilization efficiency in smallholder oil palm plantations. Keywords : peat soil, macronutrients, soil analysis, oil palm, smallholder plantations. ABSTRAK Perkebunan kelapa sawit rakyat di lahan gambut menghadapi kendala utama berupa rendahnya efisiensi pemupukan akibat sifat kimia tanah yang dinamis serta tingginya kehilangan hara, sementara pemanfaatan analisis tanah sebagai dasar pengelolaan hara masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status hara makro tanah gambut sebagai dasar penyusunan rekomendasi pemupukan yang lebih tepat pada perkebunan kelapa sawit rakyat di Kelurahan Mendawai Seberang. Kabupaten Kotawaringin Barat. Penelitian menggunakan metode survei-deskriptif dengan pengambilan sampel secara grid pada 10 zona dengan tiga lapisan kedalaman . Ae15 cm, 15Ae30 cm, dan 30Ae60 c. yang dikompositkan per zona. Parameter yang dianalisis meliputi pH. N-total. P-tersedia. K-tersedia. Catersedia. Mg-tersedia, dan kapasitas tukar kation (KTK). Hasil menunjukkan bahwa pH tanah tergolong sangat masam . ,37Ae4,. pada seluruh zona dan lapisan. Kandungan N-total berada pada kategori rendah hingga sangat rendah . ,03Ae0,15%). P-tersedia sangat rendah . ,29Ae3,48 pp. , dan K-tersedia sangat rendah . ,38Ae0,71 cmol( )/k. Kation basa Ca dan Mg juga tergolong sangat rendah, masingmasing 0,03Ae0,67 cmol( )/kg dan 0,10Ae0,30 cmol( )/kg. Sebaliknya, nilai KTK tergolong sedang hingga tinggi . ,91Ae36,58 cmol( )/k. Distribusi hara menunjukkan variasi antar zona dan lapisan tanpa pola yang konsisten. Kondisi tersebut menunjukkan keterbatasan ketersediaan hara makro pada tanah gambut, sehingga diperlukan pengelolaan hara melalui pengapuran, pemupukan berimbang, dan pengaturan tata air berbasis hasil analisis tanah. Kata kunci : gambut, unsur hara makro, analisis tanah, kelapa sawit, perkebunan rakyat. Kajian Status Hara Makro Tanah Gambut A. Setiawan. Ihda AY. PENDAHULUAN pada strategi pemupukan yang tepat dan didasarkan pada hasil analisis tanah, meliputi pH tanah, kandungan bahan organic (C-organi. , unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), serta kapasitas tukar kation (KTK). Pada tingkat perusahaan besar, analisis tanah telah menjadi standar untuk menentukan dosis pupuk yang sesuai, namun pendekatan tersebut belum banyak diterapkan di perkebunan rakyat (Nazari, 2. Tanpa analisis yang memadai, petani berisiko memberikan pupuk dalam jumlah yang terlalu sedikit sehingga tanaman mengalami kekurangan hara, atau justru terlalu banyak sehingga menimbulkan pemborosan dan degradasi lingkungan. Pada lahan gambut, resiko ini semakin besar karena sifat kimia tanah sangat dinamis dan mudah berubah. Pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya kelapa sawit menimbulkan tantangan tersendiri terkait karakteristik kimia tanahnya. Ketersediaan unsur hara pada tanah gambut sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan, tingkat dekomposisi, dan kondisi hidrologinya. Dibeberapa tempat, kandungan hara dapat tergolong rendah, sementara di Lokasi lain dapat menunjukkan nilai yang cukup tinggi, meskipun demikian, tingginya kandungan unsur hara seperti nitrogen (N) dan fosfor (P) tidak selalu menjamin ketersediaan hara untuk tanaman, karena sebagian besar unsur tersebut berada dalam bentuk yang sulit untuk diserap (Wahyunto et al. , 2. Kapasitas Tukar Kation (KTK) pada gambut yang tinggi juga tidak selalu berbanding lurus dengan ketersediaan hara, sebab sebagian besar muatan koloid gambut dilekatkan oleh senyawa organic yang kurang stabil (Agus & Subiksa, 2. Kondisi kimia tanah yang tidak stabil berpengaruh langsung terhadap kesuburan lahan dan produktivitas tanaman kelapa sawit. Pada tingkat Perkebunan rakyat, tantangan tersebut lebih besar karena keterbatasan akses terhadap pemupukan berbasis analisis tanah. Kesuburan gambut yang cenderung rendah sering menyebabkan efisiensi serapan hara pada tingkat minimal, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetative maupun generative nya. (Corley & Tinker, 2. mencatat bahwa kelapa sawit di lahan gambut membutuhkan strategi pemupukan yang lebih hati hati karena proses pelindihan . berlangsung lebih cepat Kelapa sawit adalah salah satu Indonesia, dan permintaan pasar yang terus meningkat telah mendorong ekspansi luas areal tanam secara signifikan. Stabilnya harga dan tingginya nilai ekonomi pada komoditas ini berlangsung, termasuk pada lahan-lahan marginal yang sebelumnya jarang dimanfaatkan. Salah satu jenis lahan yang menjadi sasaran ekspansi adalah lahan gambut karena semakin terbatasnya lahan mineral yang sesuai untuk tanaman kelapa sawit (Winarna et al. , 2. Peningkatan kebutuhan lahan akibat pertumbuhan penduduk dan dinamika ekonomi, turut mempercepat alih fungi lahan menjadi perkebunan sawit. Konversi ini bahkan menjadi bentuk pemanfaatan lahan gambut yang paling dominan dibandingkan sektor lain seperti pertanian pangan atau bioenergi (Situmeang et , 2. Meskipun memberikan kontribusi secara ekonomi, alih fungsi ini membawa risiko penurunan kualitas tanah, terutama akibat tingginya kehilangan hara melalui proses drainase dan fluktuasi muka air tanah gambut. Unsur hara yang terlarut dalam air gambut mudah berpindah ketika terjadi perubahan hidrologi, sehingga pemupukan sering menjadi tidak efisien. Dampaknya, petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk pupuk, sementara hasil yang diperoleh tidak selalu meningkat secara signifikan (Pulunggono et al. Disisi lain, potensi pengembangan kelapa sawit rakyat tetap cukup besar, termasuk di Kabupaten Kotawaringin Barat. Pada tahun 2024, tercatat luas kebun sawit rakyat mencapai 183,35 hektare dengan produksi 85. 301,47 ton/tahun (Badan Pusat Statistik Kotawaringin Barat, 2. Kontribusi tersebut menunjukkan bahwa perkebunan rakyat memegang peran penting bagi perekonomian daerah. Namun, pengingkatan produktivitas tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap dinamika hara pada tanah gambut yang menjadi media tumbuh utama pada di wilayah tersebut. Kelapa sawit merupakan tanaman dengan kebutuhan hara yang tinggi, sehingga keberhasilan budidayanya sangat bergantung ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Jurnal AGRI PEAT. Vol. 27 No. Maret 2026 :23 - 31 dibandingkan pada tanah mineral, sehingga resiko rendahnya produktivitas menjadi lebih Melihat kondisi tersebut, analisis tanah menjadi langkah penting untuk mengetahui status hara yang tersedia bagi tanaman serta menentukan kebutuhan pemupukan secara tepat. Meskipun metode ini telah digunakan secara luas di perkebunan besar, penerapannya di perkebunan rakyat masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status hara tanah gambut pada lahan kelapa sawit rakyat di Kelurahan Mendawai Seberang. Kecamatan Arut Selatan. Kabupaten Kotawaringin Barat. Kalimantan Tengah, sebagai dasar perbaikan strategi pengelolaan lahan dan peningkatan produktivitas tanaman. bedasarkan pada kedalaman akar efektif tanaman kelapa sawit, yang dibagi menjadi tiga lapisan, yaitu 0 Ae 15 cm, 15 Ae 30, dan 30 Ae 60 Penentuan titik sampel menggunakan metode grid, lemudian sampel tanah pada setiap area dikompositkan untuk mewakili kondisi masing masing zona penelitian. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan pada pada bulan September 2024 hingga Agustus 2025. Pengambilan sampel dilakukan di Kelurahan Mendawai Seberang. Kecamatan Arut Selatan. Kabupaten Kotawaringin Barat. Kalimantan Tengah dengan kondisi areal gambut dengan elevasi datar, sedangkan untuk analisis hara dilakukan di Laboratorium Universitas Gadjah Mada Laboratorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Lokasi penelitian berada pada titik 2A39Ao24Ay LS dan 111A35Ao55Ay BT hingga 2A39Ao45Ay LS dan 111A36Ao14Ay BT dengan total luas area A 22 hektar dengan 10 zona perkebunan rakyat, dimana pembagian zona didasarkan pada variasi pengelolaan lahan dan kepemilikan kebun oleh masyarakat. Penelitian ini bersifat survei-deskriptif dengan pengambilan titik sampel didasarkan purposive sampling dengan metode grid, dan sampel diambil pada kedalaman 60 cm. Adapun parameter yang dianalisis pH. KTK dan hara makro yang meliputi analisis N. Ca serta Mg. Analisis data dilakukan dengan pendekatan korelasi antara data primer dengan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil observasi di lapangan dan data hasil analisis laboratorium yang dilakukan terhadap sampel Sementara itu, data sekunder diperoleh dari instansi terkait dan masyarakat setempat untuk melengkapi serta mendukung hasil Pengambilan sampel tanah dilakukan Gambar 1. Peta lokasi penelitian dan penentuan titik sampel berdasarkan kepemilikan kebun HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lokasi Penelitian Kelapa sawit merupakan komoditas utama dan satu-satunya yang ada di Kelurahan Mendawai Seberang. Badan Pusat Statistik Kotawaringin Barat . menyebutkan terdapat kurang lebih seluas 600 hektar lahan . %) dari luas kelurahan yang dikonversikan menjadi lahan perkebunan rakyat untuk tanaman kelapa sawit yang berada pada wilayah gambut. Diketahui lokasi penelitian ini berjarak 2,9 km dari sungai Arut dan Sungai Lamandau hasil dikonversikan sebagai lahan perkebunan rakyat mulai dari tahun 2015 yang dimulai dengan pengolahan lahan bekas kebakaran. Kajian Status Hara Makro Tanah Gambut A. Setiawan. Ihda AY. Daerah ini bersifat hidrologis yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut dengan fisiografi datar dengan ketinggian 15 Ae 17 mdpl. Lahan ini digolongkan pada ordo Histosols berdasarkan minipit yang telah dilakukan. Bahan organik pada lokasi penelitian menunjukkan ketebalannya > 50 cm dengan ketebalan gambut antara 110-120 cm . ambut sedan. yang dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 2. Analisis pH pada setiap zona penelitian. Kriteria* Lapisan 1 3,95 Sangat masam Zona Lapisan 2 3,97 Sangat masam Lapisan 3 4,22 Sangat masam Lapisan 1 3,37 Sangat masam Zona Lapisan 2 3,40 Sangat masam Lapisan 3 3,40 Sangat masam Lapisan 1 3,67 Sangat masam Zona Lapisan 2 3,75 Sangat masam Lapisan 3 3,78 Sangat masam Lapisan 1 3,53 Sangat masam Zona Lapisan 2 3,62 Sangat masam Lapisan 3 3,71 Sangat masam Lapisan 1 3,57 Sangat masam Zona Lapisan 2 3,66 Sangat masam Lapisan 3 3,79 Sangat masam Lapisan 1 3,95 Sangat masam Zona Lapisan 2 4,01 Sangat masam Lapisan 3 3,88 Sangat masam Lapisan 1 3,46 Sangat masam Zona Lapisan 2 3,57 Sangat masam Lapisan 3 3,64 Sangat masam Lapisan 1 3,53 Sangat masam Zona Lapisan 2 3,62 Sangat masam Lapisan 3 3,76 Sangat masam Lapisan 1 3,53 Sangat masam Zona Lapisan 2 3,63 Sangat masam Lapisan 3 3,83 Sangat masam Lapisan 1 3,52 Sangat masam Zona Lapisan 2 3,58 Sangat masam Lapisan 3 3,80 Sangat masam Tabel 1. Kedalaman gambut setiap zona Kedalaman Kriteria* Gambut . Zona 1 Gambut Sedang Zona 2 Gambut Sedang Zona 3 Gambut Sedang Zona 4 Gambut Sedang Zona 5 Gambut Sedang Zona 6 Gambut Sedang Zona 7 Gambut Sedang Zona 8 Gambut Sedang Zona 9 Gambut Sedang Zona 10 Gambut Sedang Keterangan : *Kriteria berdasarkan Balai Penelitian Tanah . dan (Badan Standardisasi Nasional, 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa pH tanah pada seluruh zona berada pada kisarann 3,37 Ae 4,22 yang tergolong sangat masam. Meskipun demikian, terdapat variasi nilai pH antar lapisan tanah pada masing masing zona. Secara umum. Sebagian kecenderungan peningkatan nilai pH seiring bertambahnya kedalaman, dimana lapisan 3 . Ae 60 c. memiliki nilai pH lebih tinggi dibandingkan pada lapisan 1 dan 2. Namun, terdapat variasi pola pada beberapa zona seperti pada zona 6 memiliki nilai pH tertinggi pada lapisan 2 . , serta zona 1 memiliki nilai pH tertinggi pada lapisan 3 . Variasi ini menunjukkan adanya perbedaan kondisi kimia tanah berdasarkan kedalaman gambut, yang dipengaruhi oleh akumulasi bahan organic dan proses dekomposisi. Secara umum, lapisan permukaan . cenderung lebih asam akibat akumulasi asam organik. Keterangan : Lapisan 1 kedalaman 0-15 cm. Lapisan 2 kedalaman 15-30 cm. Lapisan 3 kedalaman 30-60 cm. *Kriteria berdasarkan Balai Penelitian Tanah . dan (Badan Standardisasi Nasional, 2. Rendahnya nilai pH memberikan dampak negative terhadap tanaman, antara lain peningkatan ion H yang dapat merusak sel tanaman, penurunan ketersediaan kation basa seperti Ca. Mg dan K, serta terhambatnya pertumbuhan akar dan serapan air maupun unsur Selain itu, kondisi sangat masam juga ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Jurnal AGRI PEAT. Vol. 27 No. Maret 2026 :23 - 31 menyebabkan menurunnya ketersediaan fosfor (P) dan meningkatnya kelarutan unsur hara mikro yang bersifat toksik, serta menghambat aktivitas mikroorganisme. Menurut Darlita et al. , kondisi ini berpotensi menurunkan produksi Tandan Buah Segar (TBS), sementara Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian . menyebutkan bahwa pH < 4,2 kurang optimal bagi pertumbuhan tanaman. Rendahnya pH tanah gambut umumnya disebabkan oleh akumulasi asam organik seperti asam fulvat dan asam humat, sehingga diperlukan Upaya meningkatkan ketersediaan hara dan mendukung pertumbuhan tanaman. Tabel 3. Analisis unsur hara N. Ca. Mg, dan KTK tanah pada setiap zona. N-total (%) P2O5tersedia . K2Otersedia . mol( )/k. Ca-tersedia . mol( )/k. Mg-tersedia . mol( )/k. KPK . mol( )/k. Zona Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 0,14d 0,12d 0,15d 2,58e 0,82e 3,14e 0,42e 0,45e 0,56e 0,17e 0,16e 0,08e 0,15e 0,13e 0,23e 24,87c 29,69b 29,00b Zona Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 0,11d 0,10d 0,09e 2,29e 2,49e 0,68e 0,38e 0,41e 0,49e 0,14e 0,12e 0,22e 0,19e 0,26e 0,21e 21,18c 22,61c 24,55c Lapisan 1 0,12d 1,65e 0,48e 0,38e 0,19e 22,64c Lapisan 2 Lapisan 3 0,13d 0,14d 1,46e 1,72e 0,67e 0,65e 0,47e 0,25e 0,16e 0,10e 33,53b 30,09b Zona Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 0,12d 0,13d 0,09e 2,79e 2,88e 0,58e 0,51e 0,52e 0,63e 0,28e 0,26e 0,16e 0,11e 0,14e 0,12e 23,71c 36,58b 23,17c Zona Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 0,13d 0,11d 0,09e 3,31e 1,19e 2,98e 0,57e 0,63e 0,71e 0,37e 0,38e 0,06e 0,29e 0,20e 0,30e 23,40c 33,30b 28,35b Zona Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 0,10d 0,08e 0,14d 0,95e 1,59e 1,58e 0,55e 0,62e 0,64e 0,60e 0,67e 0,18e 0,26e 0,16e 0,19e 22,79c 28,72b 32,63b Zona Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 0,11d 0,15d 0,11d 2,15e 2,45e 3,48e 0,53e 0,49e 0,44e 0,34e 0,17e 0,15e 0,10e 0,16e 0,17e 27,54b 26,19b 28,94b Lapisan 1 0,09e 0,57e 0,41e 0,55e 0,14e 23,04c Lapisan 2 Lapisan 3 0,06e 0,07e 1,86e 1,17e 0,53e 0,49e 0,40e 0,11e 0,15e 0,19e 27,79b 24,11c Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 0,03e 0,04e 0,08e 0,69e 2,13e 1,28e 0,55e 0,50e 0,61e 0,04e 0,05e 0,03e 0,16e 0,13e 0,14e 19,91c 23,29c 24,86c Lapisan 1 Lapisan 2 0,07e 0,05e 0,29e 0,78e 0,41e 0,48e 0,08e 0,09e 0,13e 0,16e Zona Zona Zona Zona Lapisan 3 0,05e 0,62e 0,48e 0,34e 0,11e Keterangan : Lapisan 1 kedalaman 0-15 cm. Lapisan 2 kedalaman 15-30 cm. Lapisan 3 kedalaman 30-60 cm. sangat tinggi. b : tinggi. c : sedang. d : rendah. e : sangat rendah. *Kriteria berdasarkan Balai Penelitian Tanah . dan (Badan Standardisasi Nasional, 2. Kajian Status Hara Makro Tanah Gambut A. Setiawan. Ihda AY. N-Total Tabel 3 menunjukkan hasil analisis Ntotal pada nilai 0,03 Ae 0,15% yang termasuk dalam kategori sangat rendah hingga rendah pada semua zona dan lapisan tanah, berdasarkan kriteria Balai Penelitian Tanah . dan Badan Standardisasi Nasional . Secara spasial, terdapat variasi antar zona dimana nilai terendah ditemukan di zona 9 lapisan 1 . ,03%), sedangkan nilai relative lebih tinggi terdapat pada zona 1 lapisan 3 dan zona 7 lapisan 2 . ,15%). Secara vertical, distribusi N-total menunjukkan pola yang bervariasi antar zona, beberapa zona seperti zona 1 dan zona 3 memperlihatkan kecenderungan peningkatan pada lapisan yang lebih dalam sementara zona lain seperti zona 2, zona 5, dan zona 10 justru mengalami penurunan. Pada zona 6, terjadi pola fluktuatif dengan penurunan pada lapisan 2 . ,08%) kemudian meningkat kemnali pada lapisan 3 . ,14%), yang mengindikasikan adanya pengaruh kondisi hidrologi terhadap distribusi nitrogen. Rendahnya kandungan Ntotal ini menunjukkan bahwa tanah gambut memiliki keterbatasan dalam menyediakan nitrogen akibat dominasi bentuk N organic yang lambat dimineralisasi. Selain itu, curah hujan yang tinggi (A2761,53 mm/tahu. mempercepat kehilangan nitrogen melalui pelindihan, sementara kondisi anaerob dan pH sangat masam menghambat aktivitas mikroorganisme dalam proses mineralisasi (Yin et al. , 2022. Juliano et al. , 2023. Mahardika et al. , 2024. Badan Pusat Statistik Kotawaringin Barat, juga membatasi aktivitas mikroorganisme pelarut fosfat sehingga ketersediaan P bagi tanaman menjadi rendah (Permatasari et al. Selain itu, sifat fosfat sebagai anion menyebabkan unsur ini mudah hilang melalui pelindihan pada kondisi jenuh air. Oleh karena itu, pengelolaan seperti pengapuran dan penambahan unsur mikro diperlukan untuk (Nurhayati et al. , 2022. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, 2. K-tersedia Tabel 3 menunjukkan K-tersedia berkisar antara 0,38 Ae 0,71 cmol( )/kg dan tergolong sangat rendah pada semua zona dan lapisan (Balai Penelitian Tanah, 2009. Badan Standardisasi Nasional, 2. Nilai tertinggi terdapat pada zona 5 lapisan 3 . ,71 cmol( )/k. , sedangkan nilai terendah pada zona 2 lapisan 1 . ,38 cmol( )/k. Secara umum, beberapa zona menunjukkan peningkatan K pada lapisan yang lebih dalam, namun distribusinya tidak seragam. Rendahnya kandungan K ini menunjukkan bahwa tanah gambut memiliki kemampuan rendah dalam mempertahankan kation basa. Meskipun nilai KTK tergolong sedang hingga tinggi, sifat koloid gambut yang didominasi bahan organic menyebabkan KA tidak terikat secara kuat sehingga mudah terlindih (Oktania et , 2. Kondisi hidrologi yang jenuh air juga mempercepat kehilangan K melalui proses leaching sehingga efisiensi pemupukan menjadi rendah (MaftuAoah et al. , 2014. Ginting et al. P-tersedia Tabel 3 menunjukkan kandungan Ptersedia berada pada kisaran 0,29 Ae 3,48 ppm dan seluruhnya tergolong sangat rendah berdasarkan kriteria Balai Penelitian Tanah . dan Badan Standardisasi Nasional . Nilai tertinggi ditemukan pada zona 7 lapisan 3 . ,48 pp. , sedangkan nilai terendah ditemukan pada zona 10 lapisan 1 . ,29 pp. Secara vertical, beberapa zona menunjukkan peningkatan kandungan P pada lapisan yang lebih dalam, namun pol aini tidak konsisten diseluruh zona Rendahnya P-tersedia mengindikasikan bahwa sebagian besar fosfor berada dalam bentuk organic yang sulit Kondisi pH yang sangat masam Ca-tersedia. Mg-tersedia, dan Kapasitas Tukar Kation Table 3 menunjukkan kandungan Catersedia pada tanah berkisar pada 0,03 Ae 0,67 cmol( )/kg, sedangkan Mg-tersedia tanah berada pada kisaran 0,10 Ae 0,30 cmol( )/kg, yang seluruhnya dalam kategori sangat rendah berdasarkan kriteria Balai Penelitian Tanah . dan Badan Standardisasi Nasional . Secara spasial, nilai Ca tertinggi dijumpai pada zona 6 lapisan 2 . ,67 cmol( )/k. , sementara nilai terendah terdapat pada zona 9 lapisan 3 . ,03 cmol( )/k. Pada unsur hara Mg, nilai tertinggi ditemukan pada zona 5 lapisan 3 . ,30 cmol( )/k. , sedangkan ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Jurnal AGRI PEAT. Vol. 27 No. Maret 2026 :23 - 31 nilai terendah berada pada zona 3 lapisan 3 . ,10 cmol( )/k. Distribusi Ca dan Mg antar lapisan tidak menunjukkan pola yang konsisten, yang mengindikasikan tingginya mobolitas dan kehilangan kedua unsur tersebut akibat proses Rendahnya kandungan Ca dan Mg ini mendukung pernyataan bahwa tanah gambut umumnya miskin hara basa, serta dipengaruhi oleh dominasi bahan organic yang sulit terdekomposisi dan kondisi pH yang sangat Selain itu, dominasi ion HA dan AlAA pada kompleks pertukaran menyebabkan Ca2 dan Mg2 sulit dipertahankan dalam bentuk tersedia dan mudah hilang dari system tanah (Pulunggono et al. , 2020. Ardiansyah et al. Sebaliknya, hasil analisis menunjukkan bahwa nilai kapasitas tukar kation (KTK) berkisar antara 19,91 Ae 36,58 cmol( )/kg dan tergolong sedang hingga tinggi pada seluruh zona dan lapisan (Tabel . Nilai KTK tertinggi ditemukan pada zona 4 lapisan 2 . ,58 cmol( )/k. , sedangkan nilai terendah berada pada zona 9 lapisan 1 . ,91 cmol( )/k. peningkatan nilai KTK pada lapisan yang lebih dalam, meskipun tidak konsisten di seluruh lokasi penelitian. Tingginya nilai KTK ini mencerminkan kandungan bahan organic gambut yang tinggi, yang secara teoritis memiliki kemampuan besar dalam mengikat Namun, tingginya nilai KTK tidak berbanding lurus dengan ketersedian hara seperti Ca dan Mg karena sebagian besar muatan koloid didominasi oleh senyawa organic bermuatan Kondisi ini menyebabkan kation basa tidak terikat secara stabil dan tetap mudah terlindih, sehingga efektifitas KTK dalam mempertahankan hara menjadi terbatas (Nugroho et al. , 2. Nilai kapasitas tukar kation (KTK) tergolong sedang hingga tinggi, namun tidak diikuti oleh tingginya ketersediaan kation basa, yang mengindikasikan dominasi ion H dan Al3 pada kompleks pertukaran. Distribusi hara pada setiap zona dan lapisan menunjukkan variasi, namun secara umum tidak memperlihatkan pola peningkatan yang konsisten seiring kedalaman Berdasarkan parameter yang dianalisis, kondisi tanah menunjukkan keterbatasan dalam ketersediaan hara makro bagi tanaman kelapa Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan hara yang tepat, seperti pengapuran, pemupukan berimbang, dan pengelolaan tata air untuk meningkatkan ketersediaan hara dan mendukung produktivitas tanam. Analisis tanah menjadi dasar penting dalam penyusunan rekomendasi pemupukan yang sesuai dengan kondisi spesifik pada lahan gambut. DAFTAR PUSTAKA