22 JURNAL KAJIAN PEMBELAJARAN DAN KEILMUAN Volume 8 Nomor 1Tahun 2024 Halaman 22- 34 p-ISSN: 2579-4299, e-ISSN: 2621-0533, DOI: 10.26418/jurnalkpk.v8i1.71627 https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jurnalkpk KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DALAM PENGELOLAAN ADMINISTRASI SEKOLAH DI MAS MATHLA’UL ANWAR PONTIANAK Ariyanto, Sukmawati, Usman Radiana Administrasi Pendidikan FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak Article Info Article history: Received: 9 October 2023 Revised : 25 December 2023 Accepted: 27 April 2024 Keywords: Educational Administration, Transformational Leadership, ABSTRACT School administration is a process of cooperating with existing resources. Transformational leadership is a leader who has a vision and mission for the future and influences the people he leads to make rapid changes. This study aims to describe transformational leadership in managing school administration at MAS Mathla'ul Anwar Pontianak. The form of research is qualitative with a qualitative descriptive approach. Methods of data collection through interviews, observation, and documentation. The data analysis process implements the Miles and Huberman model, namely data analysis is carried out sequentially starting with data reduction, data exposure, and verification or conclusions. Data validity checking techniques use triangulation and member checks. The findings in this study (1) Charismatic style influences madrasa residents in managing school administration. (2) Inspirational style is capable of directing teachers and administrative staff to achieve common goals. (3) The style of attention makes the madrasa a place for self-actualization. (4) The style of intellectual stimulus encourages madrasa residents to think critically and creatively. The conclusions of this study (1) Charismatic style is able to direct madrasa residents. (2) Inspirational style is able to inspire madrasa residents. (3) The individual attention style of the leadership gives individual attention to the madrasah members. (4) The intellectual stimulus style is able to stimulate madrasa residents in managing school administration. Copyright © 2024 Ariyanto, Sukmawati, Usman Radiana 🖂 Corresponding Author: Ariyanto, Sukmawati, Usman Radiana Administrasi Pendidikan FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak Email: f2171211019@student.untan.ac.id, sukmawati@fkip.untan.ac.id., usmanradiana@gmail.com. PENDAHULUAN Perkembangan pendidikan masa kini lebih mengedepankan keterbukaan dalam proses pencapaian tujuan. Pengelolaan administrasi pendidikan yang baik berdampak besar pada perubahan dan inovasi dalam dunia pendidikan. Administrasi pendidikan merupakan suatu proses keseluruhan dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengoordinasian, pengawasan, dan pembiayaan dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personel, material, maupun spiritual, untuk mencapai 23 tujuan pendidikan secara efektif dan efisien (Iswan, 2018). Administrasi sekolah merupakan perangkat yang sangat vital dan harus dikelola dengan perencanaan atau manajemen yang matang. Menurut Sukatin dkk. (2021) administrasi sekolah adalah proses aktivitas kerja sama yang melibatkan beberapa orang atau lebih, guna mencapai tujuan pendidikan nasional. Jadi, pengelolaan administrasi sekolah adalah kegiatan kerja sama yang melibatkan semua sumber daya yang dimiliki sekolah. Pengelolaan administrasi sekolah yang dilaksanakan dengan perencanaan yang matang merupakan gambaran tata kelola di semua bidang administrasi. Menurut Buseri, 2017) administrasi sekolah adalah keseluruhan proses penyelenggaraan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, sehingga pendidikan dan pengajaran dapat berjalan secara efektif dan efesien untuk mencapai tujuan. Menurut Nawawi (dalam Hidayat dan Machali, 2012) administrasi sekolah adalah ilmu terapan dalam ranah bidang pendidikan yang mencakup rangkaian kegiatan proses pengendalian usaha berkolaborasi yang melibatkan semua semuber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan secara berencana dan sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu, terutama berupa lembaga pendidikan formal. Hidayat dan Machali (2012) menegaskan bahwa administrasi sekolah adalah seluruh proses aktivitas yang dilakukan bersama dalam kegiatan pendidikan dengan melibatkan semua sumber daya yang dimiliki dan dikelola untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengelolaan administrasi sekolah harus dilaksanakan secara efektif. Administrasi yang efektif adalah pengelolaan yang dapat menerapkan prinsip-prinsip atau fungsi pokok dalam administrasi. Sebagaimana pendapat Taylor dan Fayol (dalam Purwanto, 2017) menyatakan bahwa prinsip dan fungsi administrasi ialah planning, organizing, commanding, coordination, dan control atau yang disingkat dengan POCCC. Fungsi-fungsi administrasi juga dikemukakan George R. Terry (dalam Badrudin, 2015) menyatakan bahwa fungsi administrasi meliputi kegiatan Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organising), Tindakan (Actuating), dan Pengawasan (Controlling) atau yang disingkat menjadi POAC. Sedangkan menurut Payol (dalam Robbins dan Coulter, 2012) “classifying it into four functions of education administration, namely; planning, organizing, controlling, and leading”. Jadi, fungsi administrasi pendidikan diklasifikasikan atas empat bagian, yaitu; perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan memimpin. Menurut Bendre (2014) “management is the process consisting of the functions of planning, organizing, staffing, directing and controlling the operations to achieve specified objectives”. Pengelolaan administrasi di madrasah menyangkut semua kegiatan, baik mengenai materi, personil, perencanaan, kerja sama, kepemimpinan, kurikulum, kesiswaan, dan sebagainya, yang diatur sehingga tercipta suasana yang memungkinkan terselenggaranya kondisi sekolah yang baik guna mencapai tujuan pendidikan. Kegiatan pengelolaan administrasi sekolah perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang produktivitas kegiatan pendidikan pada sebuah sekolah. Hal tersebut sesuai pendapat Anwar (2013) bahwa penyelenggaraan kegiatan pendidikan sebagai suatu proses memerlukan penanganan yang terencana dan sistematis agar setiap sumber daya pendidikan yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga tercapai efektivitas dan efesiensi dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Ushansyah (2017) menyatakan bahwa administrasi merupakan semua kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Ukur (2020) bahwa administrasi pendidikan adalah keseluruhan proses menggerakkan dan mengintegrasikan seluruh aspek manusiawi, spiritual, dan material yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pendidikan. Pengelolaaan pendidikan yang baik dan benar menggambarkan sosok yang terlibat dalam proses pendidikan. Sosok yang yang menjadi sorotan adalah pimpinan pada sebuah sekolah atau madrasah. Pemimpin harus memiliki sifat atau karakter dalam menjalankan tugas yang diembannya. Salah satu gaya, sifat, karakter, tipe seorang pemimpin adalah gaya kepemimpinan 24 transformasional. Gaya kepemimpinan transformasional merupakan gaya yang senantiasa memberdayakan semua karyawan yang terlibat dalam organisasi untuk bersinergi meningkatkan kinerja dalam organisasi demi mencapai tujuan (Insan, 2019). Gaya kepemimpinan transformasional memiliki keunggulan yang sangat istimewa jika dibandingkan dengan gaya kepemimpinan yang lain. Adapun keunggulan gaya kepemimpinan transformasional menurut Iqbal (2021) adalah, 1) tidak membutuhkan biaya yang tinggi, 2) melahirkan komitmen pada bawahan yang bersifat mengikat emosional, 3) mampu memberdayakan potensi bawahan. 4) mampu menjalin hubungan interpersonal, 5) gaya kepemimpinan transformasional lebih menekankan pemimpin bertindak sebagai mentor atau coach, 6) pemimpin memberikan pelatihan dan motivasi kepada setiap orang yang di pimpin untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, 7) melalui bimbingan ekstensif, secara tidak langsung setiap bawahan dibina untuk menjadi calon pemimpin, 8) secara tak langsung setiap anggotanya akan menunjukkan bahwa dirinya yang terbaik. Berdasarkan hasil penelitian Den Hartog & Belschak (2012); Schmitt et al., (2016) bahwa kepemimpinan transformasional itu kepemimpinan yang memainkan peran atau kunci utama dalam menjelaskan segala sesuatu dengan baik kepada individu atau semua kelompok. Hal tersebut sesuai pendapat Syafhendry dan Utomo (2019) “transformational leadership is seen as an alternative solution to solve various challenges and problems related to pluralism and the challenges of globalization”. Gaya kepemimpinan transformasional merupakan alternatif jalan keluar dalam menghadapi segala tantangan dan problematika yang terkait dengan kebebasan dan tantangan globalisasi dalam melakukan perubahan. Menurut Wicaksono dan Muafi (2021) mengatakan bahwa “transformational leadership is also defined as a leadership approach that creates positive and valuable change for an organization”. Menurut Yukl (2014) mengatakan bahwa “transformational leaders are leaders who prioritize the realization of their vision and commitment to build the future”. Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memiliki visi dan komitmen untuk membangun kemajuan organisasi. Berdasarkan teori, gaya kepemimpinan transformasional yang dikemukakan oleh Sunaryo (2017); Northouse (dalam Adamy, 2016); Robbins dan Judge (2014); Yukl (2013); Bass (2006) bahwa terdapat empat indikator gaya kepemimpinan transformasional, yakni; karismatik, inspirasional, perhatian individual, dan stimulus intelektual. Bass (2006) mengemukakan bahwa “Ideal influence is the leader behaves to be a role model for followers and the leader is admired, respected, and trusted”. Jadi, kepemimpinan karismatik adalah kepemimpinan yang dapat diteladani, dikagumi, dihormati, dan dipercaya oleh orang yang dipimpin. Dengan demikian pemimpin harus mampu merancang atau menyampaikan visi dan misi, menanamkan rasa bangga, memberikan rasa hormat, dan kepercayaan kepada orang yang dipimpin. Hal tersebut sesuai pendapat Robbins dan Judge (2014) mengatakan bahwa “provides vision and sense of mission, instills pride, gains respect and trust”. Kepemimpinan inspirasioanl selalu mengomunikasikan visi, menggunakan simbol tertentu, dan fokus mengungkapkan tujuan utama dengan cara-cara yang sederhana. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Robbins dan Judge (2014) “Communicates high expectations, uses symbols to focus efforts, expresses important purposes”. Pendapat tersebut dipertegas oleh Yukl (2013) bahwa “inspirational motivation includes efforts to link the task to follower values and ideals with behavior such as articulating an inspirational vision”. Jadi, motivasi inspirasional merupakan upaya untuk menghubungkan tugas dengan nilai-nilai dan cita-cita orang yang dipimpin dengan perilaku seperti merumuskan visi yang berpandangan ke depan untuk kemajuan. Bass (2006) berpendapat “Individualized attention is the leader who pays special attention to each follower's individual needs for achievement and growth and acts as a mentor”. Maksudnya, perhatian individual adalah pemimpin transformasional yang senantiasa memberikan perhatian khusus secara individu kepada orang yang dipimpin untuk pencapaian dan pertumbuhan sesuai dengan arahan. Pendapat Bass sejalan dengan Yukl (2013) “individualized consideration 25 includes providing support, encouragement, and coaching to followers”. Dapat disimpulkan bahwa karakter tipe kepemimpinan perhatian individual selalu mengedepankan pertimbangan secara individual seperti memberikan dukungan, motivasi, dan pembinaan kepada orang-orang yang dipimpin. Yukl (2013) mengungkapkan tentang “intellectual stimulation is behavior that influences followers to view problems from a new perspective and look for more creative solutions”. Pernyataan Yukl memiliki makna bahwa stimulus intelektual merupakan perilaku yang mempengaruhi orang yang dipimpin untuk mengidentifikasi masalah dari berbagai perspektif dan mencari solusi yang kreatif. Selanjutnya dipertegas oleh Sunaryo (2017) menyatakan perilaku pemimpin menjadi faktor yang mendorong (stimulation) berkembangnya perilaku kerja bawahan yang inovatif dan kreatif, menggunakan pendekatan-pendekatan baru untuk mengatasi masalahmasalah pekerjaan dengan memunculkan ide-ide baru dan solusi-solusi yang kreatif. Seorang pimpinan adalah orang yang mampu memimpin sekolah atau madrasah dengan gaya tertentu agar mampu menghadapi perubahan. Perubahan yang dilakukan oleh pemimpin dengan gaya kepemimpinan transformasioanl tentu membawa dampak positif terhadap perilaku para wakil kepala, para guru, dan kepala tata usaha dalam menjalankan tanggung jawab sesuai tupoksi masing-masing. Hal ini dipertegas oleh Qori (2013) seorang pemimpin dapat dikatakan bergaya transformasional jika dapat mengubah keadaan, mengubah yang terbiasa dilakukan, membicarakan tujuan yang mulia, mempunyai pedoman, keadilan, dan kebersamaan. Sebuah madrasah akan menjadi lebih baik, jika dipimpin oleh kepala madrasah yang mampu mengayomi dan terbuka dalam mengelola pendidikan. Sikap terbuka seorang kepala madrasah memberikan ruang dan waktu yang luas kepada wakil kepala, para guru, dan kepala tata usaha untuk melakukan tugasnya dengan maksimal. Apalagi Madrasah Aliyah Swasta, tentu dalam pengelolaannya sangat memerlukan seorang pemimpin yang lebih mengedepankan visi dan misi agar madrasah yang di pimpin dapat mencapai tujuan pendidikan. Menurut Tatang (2017) bahwa salah satu ciri kepala madrasah yang menerapkan kepemimpinan transformatif yaitu memiliki kapasitas bersama orang yang dipimpin untuk merumuskan visi lembaga. Selanjutnya, untuk mengetahui kepala madrasah memiliki gaya kepemimpinan transformasional, perlu diadakan penelitian dengan indikator karismatik, inspirasional, perhatian individual, dan stimulus intelektual. Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti tergerak untuk mengetahui pentingnya gaya kepemimpinan transformasional dalam pengelolaan administrasi sekolah pada madrasah aliyah swasta di Kota Pontianak. Salah satu kepala madrasah yang mengimplementasikan gaya kepemimpinan transformasional dalam menjalankan tugasnya adalah Kepala MAS Mathla’ul Anwar Pontianak. Untuk mengetahui kepemimpinan transformasional di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak, peneliti mendesain penelitian yang diarahkan kepada penemuan untuk menguatkan suatu teori. Peneliti melakukan prariset dengan melakukan observasi dan wawancara dengan salah satu orang guru di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak. Hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan, memberikan gambaran umum karakterisitik gaya kepemimpinan transformasional Kepala MAS Mathla’ul Anwar. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan gaya kepemimpinan transformasional dalam pengeloan administrasi sekolah. Berdasarkan tujuan tersebut diharapkan hasil penelitian dapat memberikan deskripsi secara rinci kepala madrasah yang memiliki gaya kepemimpinan transformasional. Hal ini sesuai kenyataan yang ada, bahwa MAS Mathla’ul Anwar Pontianak sebagai salah satu institusi pendidikan di pimpin oleh kepala madrasah yang mengedepankan ketercapaian visi dan misi madrasah. Kenyataaan lain di lapangan menunjukan bahwa kepemimpinan Kepala MAS Mathla’ul Anwar Pontianak lebih banyak melibatkan wakil kepala, pendidik, dan kepala tata usaha dalam pencapaian tujuan sekolah. Hal tersebut dapat dilihat dari kekompakan kepala madrasah dan para guru dalam pengelolaan administrasi sekolah. Atas dasar 26 itulah, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian kepemimpinan transformasional di MAS Mathla’ul Anwar dalam pengelolaan administrasi sekolah. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan menjelaskan fenomena sosial, yaitu mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena-fenomena apa adanya yang bersifat alamiah (Afifuddin dan Saebani, 2018). Danim (2013) juga berpendapat bahwa fenomena atau ciri khusus individual, situasi, atau kelompok tertentu secara akurat. Fenomena yang dimaksud terkait dalam kepemimpinan transformasional dalam pengelolaan administrasi sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak. Metode yang digunakan dalam penelitian merupakan metode penelitian yang berangkat dari filsafat postpositivisme, yang digunakan untuk meneliti suatu objek pada kondisi yang alamiah dan peneliti sebagai instrumen utama, pegambilan sumber data dilakukan secara purposive, teknik pengumpulan dengan triangulasi, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2014) penelitian kualitatif. Sedangkan pendekatan yang digunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu data yang diperoleh atau terkumpul berupa kata-kata, gambar, bukan angka dan lebih dari sekadar angka atau frekuensi, termasuk menyajikan gambaran umum tentang situasi yang sedang dipertimbangkan (Danim, 2013). Hal ini sejalan dengan pendapat Bogdan dan Biklen (2007) penelitian kualitatif memiliki beberapa ciri, yaitu; naturalistic, descriptive data, inductive, dan meaning. Selanjutnya, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sekaligus instrumen. Menurut Creswell (2019) dan Johnson & Christensen (2014) menyatakan bahwa “researcher as key instrument”. Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen kunci pada pengumpulan data. Partisipan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang terkait dengan pengeloalaan administrasi sekolah (kepala madrasah, wakil kepala dan tenaga administrasi), lokasi (kondisi fisik MAS Mathla`ul Anwar), dan kertas (dokumen dan catatan) yang terkait dengan administrasi sekolah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, dan dokumentasi (studi kepustakaan) (Afifuddin dan Beni, 2018). Demikian juga menurut Creswell (2012) that data collection techniques in qualitative research using techniques observations, interviews, and documents. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model analisis data Miles dan Huberman (2014) yaitu “Qualitative data analysis is an analytical process in which three activities occur simultaneously, namely data reduction, data presentation, and inference or verification. Data analysis runs interactively and continuously until it is finished so that the data is saturated.” Analisis data berjalan secara interaktif dan terus menerus sampai selesai agar datanya jenuh. Semua informasi yang diterima oleh peneliti dari MAS Mathla’ul Anwar Pontianak diperiksa keabsahanya dengan triangulasi teknik, triangulasi sumber, dan member check. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil 1. Gaya Karismatik Kepemimpinan Transformasional dalam Pengelolaan Administrasi Sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak Kepala MAS Mathla’ul anwar Pontianak sudah menujukkan ciri-ciri gaya karismatik dalam kepemimpinan transformasional dalam pengelolaan administarsi sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak. Gaya kepemipinan karismatik kepala madrasah terlihat sebagai sosok pemimpinan yang dapat dibanggakan dan diteladani oleh warga madrasah. Kepala madrasah mempunyai keyakinan dan pendirian yang teguh dan totalitas dalam menjalankan tugas. Selain itu, kepala madrasah juga mempunyai komitmen, konsisten, dan membangun sinergitas dengan para guru dan tenaga administrasi dalam pengelolaan administrasi 27 sekolah. Kepala madrasah senantiasa berupaya menunjukkan ide-ide penting dalam pengelolaan adminsitrasi sekolah, terutama ide-ide yang berkaitan dengan bidang kurikulum. Ide-ide yang disampaikan kepala madrasah berupa memberikan arahan kepada para guru dan tenaga administrasi agar selalu fokus menjalankan tugas sesuai tupoksi masing-masing. Selain itu, kepala madrasah juga mengingatkan warga madrasah agar lebih mengedepankan nilai-nila moral dalam menjalankan tugas kesehariannya. Untuk itu kepala madrasah memberikan arahan kepada para guru dalam membuat perencanaan pembelajaran wajib memasukkan dalildalil Al-Quran yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Kepala madrasah selaku pimpinan, melakukan kegiatan berupa perencanaan, pengarahan, dan pengawasan pengelolaan administrasi sekolah. Selain itu, ciri kepala madrasah yang karismatik adalah mempunyai kemampuan merumuskan visi dan misi. Visi madrasah diupayakan dapat menggambarkan nilai-nilai moral yang akan menjadi keberhasilan MAS Mathla’ul Anwar Pontianak. Visi sebuah madrasah merupakan gambaran keteladanan dari seorang pimpinan. 2. Gaya Inspirasional Kepemimpinan Transformasional dalam Pengelolaan Administrasi Sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak Kepala madrasah berusaha untuk menginspirasi dan memotivasi para guru dan tenaga administrasi untuk mencapai tujuan bersama. Inspirasi diimplementasikan kepala madrasah kepada para guru dan tenaga administrasi agar mereka mendapat ide-ide dalam penyelesaian administrasi sekolah dan senatiasa konsisten untuk memenuhinya. Kepala madrasah juga senantiasa menyampaikan motivasi kepada para guru dan tenaga administrasi saat rapat evaluasi yang dilakukan setiap bulan. Motivasi disampaikan kepala madrasah kepada warga madrasah agar warga madrasah mempunyai kesiapan saat diadakan perubahan. Perubahan pada dasarnya cara mengubah pandangan, sikap, dan perilaku para guru dan tenaga administrasi berkenaan dengan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pengelola administrasi sekolah. Kepala madrasah juga menghimbau para guru dalam penyusunan RPP agar memasukkan dalil-dalil yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Dalil-dalil yang dimasukkan adalah dalil yang bersumber dari AL-Quran dan Hadits. Perubahan yang dilakukan kepala madrasah tersebut merupakan bentuk inspirasi kepala madrasah dalam penyusunan RPP. Kepala madrasah senantiasa membangun komunikasi dan selalu memotivasi para guru dalam pengelolaan administrasi sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak. Komunikasi yang dilakukan oleh kepala madrasah menggunakan komunikasi yang humanis. 3. Gaya Perhatian Individual Kepemimpinan Transformasional dalam Pengelolaan Administrasi Sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak Kepala madrasah terlihat cendrung memberikan perhatian secara individu kepada para guru dan tenaga administrasi dalam mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi. Perhatian individual diberikan kepada para guru dan tenaga administrasi diharapkan pemimpin transformasional dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang aktif dan inovatif di sekolah. Selain itu, kepala madrasah memberikan keleluasaan dalam pengelolaan administrasi sekolah kepada warga madrasah. Untuk itu kepala madrasah memberikan waktu kepada para warga madrasah untuk menyampaikan keluhan yang terkait dengan kendala dalam pemenuhan dan pengelolaan administrasi sekolah. Diskusi antara kepala madrasah dan para guru sebagai upaya untuk mencari solusi atas kendala-kendala yang dihadapi para guru dan tenaga administrasi dalam penyelesaian administrasi sekolah. Kepala madrasah dalam menunjang dan pemenuhan administrasi sekolah selalu memberi kesempatan kepada warga sekolah untuk meningkatkan kompetensi sesuai bidang masing-masing. Bentuk peningkatan kompetensi yang harus dilakukan warga madrasah berupa workshop, in house training, MGMP. Pada awal tahun 2023, kepala madrasah melaksanakan kegiatan in house training kurikulum merdeka. Demikian juga dengan kepala madrasah, kepala 28 sangat aktif mengikuti kegiatan Program Kegiatan Berkelanjutan dalam bentuk Kelompok Kerja Kepala Madrasah tingkat madrasah aliyah di wilayah Kota Pontianak. 4. Gaya Stimulus Instelektual Kepemimpinan Transformasional dalam Pengelolaan Administrasi Sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak Kepala madrasah memberikan motivasi kepada para guru dan tenaga administrasi agar senantiasa berpikir kreatif dan inovatif dalam melaksanakan tugasnya. Kepala madrasah memberi kesempatan pendidik dan tenaga kependidikan menyampaikan ide-ide berkaitan dengan pengelolaan administrasi sekolah. Kepala MAS Mathla’ul Anwar juga melakukan inovasi, seperti pelaksanaan penilaian akhir tahun dilakukan berbasis website, yaitu menggunakan G-Form. Kepala MAS Mathla’ul Anwar juga memberikan reward dan apresiasi kepada pendidik dan tenaga kependidikan serta kepada siswa yang berprestasi. Reward diberikan sebagai bentuk empati kepala madrasah para guru dan TU yang benar-benar sudah menyelesaikan administrasi dan masuk dalam kategori tidak pernah melakukan pelanggaran. Demikian juga dengan reward yang diberikan kepada siswa, siswa yang diberikan reward masuk dalam kategori siswa berprestasi dan berakhlakul karimah. Bentuk reward yang diberikan kepala madrasah kepada pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa berupa sertifikat, insentif, dan apresiasi ataupun pujian. Tujuan diberikan reward agar prodiktivitas para pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa supaya lebih meningkat lagi. Pembahasan 1. Gaya Karismatik Kepemimpinan Transformasional dalam pengelolaan Administrasi Sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak Berdasarkan pemaparan hasil penelitian ditemukan bahwa Kepala MAS Mathla’ul anwar Pontianak sudah menujukkan ciri-ciri gaya karismatik dalam kepemimpinan transformasional dalam pengelolaan administarsi sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak. Gaya kepemipinan karismatik kepala madrasah terlihat sebagai sosok pemimpinan yang dapat dibanggakan dan diteladani oleh warga madrasah. Kepala madrasah mempunyai keyakinan dan pendirian yang teguh dan totalitas dalam menjalankan tugas. Hal ini sesuai pendapat Robbins dan Coulter (2012) mengatakan bahwa “Charismatic leaders are enthusiastic, confident leaders with personal values and actions to influence people to act in certain ways. People can learn to be charismatic. Visionary leaders must be able to articulate and formulate a vision for the future in an attractive, realistic and credible manner”. Seorang pemimpin karismatik adalah pemimpim visioner yang mampu menciptakan dan mengartikulasikan yang realistis, kredibel, dan menentukan visi masa depan. Selain itu, kepala madrasah juga mempunyai komitmen, konsisten, dan membangun sinergitas dengan para guru dan tenaga administrasi dalam pengelolaan administrasi sekolah. Kepala madrasah senantiasa berupaya menunjukkan ide-ide penting dalam pengelolaan adminsitrasi sekolah, terutama ide-ide yang berkaitan dengan bidang kurikulum. Ide-ide yang disampaikan kepala madrasah berupa memberikan arahan kepada para guru dan tenaga administrasi agar selalu fokus menjalankan tugas sesuai tupoksi masing-masing. Perlikau tersebut sesuai pendapat Sunaryo (2017) menyatakan bahwa perilaku pemimpin karismatik akan menjadi “role models” bagi orang yang dipimpin dan senantiasa memotivasi bawahannya untuk bekerja secara gigih (persistent) dengan tekad yang bulat (determination), dan mengerahkan segala kemampuan terbaik yang dimilikinya. Kepala madrasah dalam menjalankan tugasnya, selalu melakukan pengawasan kepada para guru dan tenaga administrasi dalam pemenuhan administrasi sekolah. Hal ini merupakan salah satu fungsi administrasi sekolah, yaitu fungsi pengawasan (George R. Terry dalam Badrudin, 2015). Selain itu, kepala madrasah juga mengangatkan warga madrasah agar lebih mengedepankan nilai-nila moral dalam menjalankan tugas kesehariannya. Untuk itu kepala madrasah memberikan arahan kepada para guru dalam membuat perencanaan pembelajaran wajib 29 memasukkan dalil-dalil Al-Quran yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Sesuai dengan fungsi administrasi sekolah, yaitu fungsi perencanaan dan pengarahan (Bendre, 2014). Kepala madrasah selaku pimpinan, melakukan kegiatan berupa perencanaan, pengarahan, dan pengawasan pengelolaan administrasi sekolah. Salah satu wujud kegiatan yang harus dilakukan kepala madrasah adalah perumusan visi madrasah. Perumusan visi oleh kepala MAS Mathla’ul Anwar sebagai pemimpin yang bergaya karismatik sesuai dengan pendapat Robbins dan Judge (2014) mengtakan bahwa “provides vision and sense of mission, instills pride, gains respect and trust”. Maksud pernyataan tersebut bahwa pemimpin harus mampu merancang atau menyampaikan visi dan misi, menanamkan rasa bangga, memberikan rasa hormat, dan kepercayaan kepada orang yang dipimpin. Salah satu ciri kepala madrasah yang karismatik adalah mempunyai kemampuan merumuskan visi dan misi. Visi sebuah madrasah merupakan gambaran keteladanan dari seorang pimpinan. Sejalan dengan pendapat Chabra (2016) “the leader who follows transformational leadership style is a real leader who encourages his teammates with a collective vision of the future”. Maksud pernyataan tersebut bahwa pemimpin yang mengikuti gaya kepemimpinan transformasional adalah pemimpin sejati yang mendorong rekan satu timnya senantiasa membahas visi masa depan. Kepemimpinan memang menjadi kekuatan penting, apalagi dalam pengelolaan administrasi sekolah, sehingga kemampuan pemimpin karismatik merupakan kunci keberhasilan madrasah. H al ini sesuai pendapat Yukl (2013) “idealized influence is behavior that increases follower identification with the leader, such as setting an example of courage and dedication and making self‐sacrifices to benefit followers”. Maksud pernyataan tersebut bawa pemimpin karismatik adalah perilaku yang dapat meningkatkan hubungan emosional yang kuat antara pengikut dengan pemimpin. Pemimpin karismatik dapat menjadi sosok yang diteladani dan disegani. Sosok pemimpin karismatik mampu melakukan perubahan dan tanggung jawab bagi orang yang dipimpin. Dengan demikian kepala MAS Mathla’ul Anwar Pontianak sudah menunjukkan pemimpin yang bergaya karismatik dalam pengelolaan administrasi sekolah. Hal itu tergambar bahwa kepala madrasah, a) mempunyai keyakinan dan pendirian yang teguh; b) harus totalitas dalam menjalankan tugas; c) mempunyai komitmen yang tinggi; d) mempunyai niat yang konsisten; e) menunjukkan ide-ide penting; f) mengutamakan nilai-nilai moral; g) mempunyai visi misi yang jelas; h) pemimpin menjadi teladan; i) tanggung jawab. 2. Gaya Inspirasional Kepemimpinan Transformasional dalam pengelolaan Administrasi Sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak Berdasarkan pemaparan hasil penelitian ditemukan bahwa kepala madrasah sudah menunjukkan ciri-ciri gaya inspirasional kepemimpinan transformasional dalam pengelolaan administarsi sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak. Kepala madrasah berusaha untuk menginspirasi dan memotivasi para guru dan tenaga administrasi untuk mencapai tujuan bersama. Sesuai pendapat Menurut Robbins dan Judge (2014) “Communicates high expectations, uses symbols to focus efforts, expresses important purposes”. Maksud pernyataan tersebut bahwa kepemimpinan inspirasioanl selalu mengomunikasikan visi dan fokus mengungkapkan tujuan utama dengan cara-cara yang sederhana. Inspirasi diimplementasikan kepala madrasah kepada para guru dan tenaga administrasi agar mereka mendapat ide-ide dalam penyelesaian administrasi sekolah dan senatiasa konsisten untuk memenuhinya. Kepala madrasah senantiasa menyampaikan motivasi kepada para guru dan tenaga administrasi saat rapat evaluasi yang dilakukan setiap bulan. Motivasi disampaikan kepala madrasah kepada warga madrasah agar warga madrasah mempunyai kesiapan saat diadakan perubahan. Perubahan pada dasarnya cara mengubah pandangan, sikap, dan perilaku para guru dan tenaga administrasi berkenaan dengan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pengelola administrasi sekolah. Sesuai pendapat Sunaryo (2017) inspirational motivation, yaitu perilaku pemimpin yang senantiasa mendorong tumbuhnya inspirasi dan motivasi bagi bawahannya, 30 melalui pemberian tugas-tugas yang bermakna dan menantang serta menumbuhkan komitmen untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Kepala madrasah juga menghimbau para guru dalam penyusunan RPP agar memasukkan dalil-dalil yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Dalil-dalil yang dimasukkan adalah dalil yang bersumber dari AL-Quran dan Hadits. Perubahan yang dilakukan kepala madrasah tersebut merupakan bentuk inspirasi kepala madrasah dalam penyusunan RPP. Kepala madrasah melakukan perubahan dalam penyusunan RRP di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak. Demi mewujudkan hal di atas, kepala madrasah senantiasa membangun komunikasi dan selalu memotivasi para guru dalam pengelolaan administrasi sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak. Komunikasi yang dilakukan oleh kepala madrasah menggunakan komunikasi yang humanis. Hal ini sejalan dengan pendapat Wicaksono dan Muafi (2021) “transformational leadership creates deep and influential relationships with people who anticipate major change. These changes may reflect goals mutually agreed upon by leaders and employees”. Maksud pernyataan tersebut bahwa kepemimpinan transformasional menciptakan hubungan yang mendalam dan berpengaruh kepada orang-orang yang mengharapkan perubahan yang besar. Dengan demikian bahwa kepala MAS Mathla’ul Anwar Pontianak sudah menunjukkan pemimpin yang bergaya inspirasional dalam pengelolaan administrasi sekolah. Hal itu tergambar bahwa kepala madrasah, a) meningkatkan motivasi kepada orang-orang yang dipimpin; b) selalu menjadi sumber inspirasi bagi orang yang dipimpin; c) selalu melakukan perubahan dan perbaikan; d) selalu menjalin komunikasi yang intensif; e) selalu mencari dan menawarkan solusi. 3. Gaya Perhatian Individual Kepemimpinan Transformasional dalam pengelolaan Administrasi Sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak Berdasarkan pemaparan hasil penelitian ditemukan bahwa kepala MAS Mathla’ul anwar Pontianak sudah mengimplementasikan gaya perhatian indvidual dalam menjalankan tugasnya. Kepala madrasah terlihat cendrung memberikan perhatian secara individu kepada para guru dan tenaga administrasi dalam mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi. Sesuai pendapat Robbins dan Judge (2014) “Gives personal attention, treats each employee individually, coaches, advises”. Maksud pernyataan tersebut bahwa pemimpin dengan tipe perhatian individual senantiasa memberikan perhatian dan perlakuan kepada orang yang dipimpin secara individual dengan cara melatih dan memberikan nasihat. Perhatian individual diberikan kepada para guru dan tenaga administrasi diharapkan pemimpin transformasional dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang aktif dan inovatif di sekolah. Hal ini juga sesuai pendapat menurut Yukl (2013) “individualized consideration includes providing support, encouragement, and coaching to followers”. Maksud pernyataan tersebut bahwa karakter tipe kepemimpinan perhatian individual selalu mengedepankan pertimbangan secara individual seperti memberikan dukungan, motivasi, dan pembinaan kepada warga madrasah. Keleluasaan diberikan kepala madrasah dalam pengelolaan administrasi sekolah kepada warga madrasah. Hal ini sesuai pendapat Maisaroh dan Danuri (2020) administrasi sekolah bertujuan memberikan kerja yang sistematis dalam manajemen pendidikan sehingga pekerjaan administrasi sekolah dilaksanakan secara efektif dan efisien. Kepala madrasah juga melakukan diskusi dengan para guru sebagai upaya untuk mencari solusi atas kendala-kendala yang dihadapi para guru dan tenaga administrasi dalam penyelesaian administrasi sekolah. Selain itu juga, pemenuhan administrasi sekolah merupakan tanggung jawab setiap guru dan tenaga administrasi. Kepala madrasah dalam menunjang dan pemenuhan administrasi sekolah selalu memberi kesempatan kepada warga sekolah untuk meningkatkan kompetensi sesuai bidang masing-masing. Bentuk peningkatan kompetensi yang harus dilakukan warga sekolah berupa workshop, in house training, MGMP. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara online maupun secara tatap muka. Pada awal tahun 2023, kepala madrasah juga melaksanakan kegiatan in house training kurikulum merdeka. 31 Demikian juga dengan kepala madrasah, kepala sangat aktif dan hadir mengikuti kegiatan Program Kegiatan Berkelanjutan dalam bentuk Kelompok Kerja Kepala Madrasah tingkat madrasah aliyah di wilayah Kota Pontianak. Kegiatan-kegiatan di atas selalu difasilitasi kepala madrasah karena memang kepala madrasah mempunyai komitmen untuk memberikan keleluasaan warga madrasah untuk meningkatkan kompetensi masing-masing. Gaya-gaya tersebut sesuai pendapat Sunaryo (2017) yang menyatakan bahwa pemimpin senantiasa memberikan perhatian besar terhadap kebutuhan-kebutuhan bawahan agar dapat berprestasi dan berkembang, melalui kegiatan-kegiatan “teaching, coaching, or mentoring”. Dengan demikian bahwa kepala MAS Mathla’ul Anwar Pontianak sudah menunjukkan pemimpin yang bergaya perhatian individual dalam pengelolaan administrasi sekolah. Hal itu tergambar bahwa kepala madrasah, a) menjadikan lembaga yang dipimpin sebagai wadah untuk mengaktualisasikan diri bagi warga madrasah; b) mengedepankan pertimbangan individual dalam memberikan solusi; c) memberikan kesempatan dan memfasilitasi warga madrasah; d) bertukar pengalaman dengan warga madrasah; dan e) hadir diberbagai kesempatan. 4. Gaya Stimulus Intelektual Kepemimpinan Transformasional dalam pengelolaan Administrasi Sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak Berdasarkan pemaparan hasil penelitian ditemukan bahwa kepala MAS Mathla’ul anwar Pontianak telah menunjukkan gaya stimulus intelektual dalam menjalankan tugasnya. Kepala madrasah mengedepankan memberikan kesempatan kepada para guru dan tenaga administrasi agar senantiasa berpikir kreatif dan inovatif dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini sesuai pendapat Yukl (2013) “Innovative leadership can inspire employees by doing things that improve making employees prioritize better work results, encouraging employees to prioritize the interests of the organization rather than their own interests, and prioritize the interests of the Commonwealth”. Kepala madrasah mendorong pendidik dan tenaga kependidikan agar meningkatkan pola pikir yang kreatif dan diberi kesempatan menyampaikan ide-ide berkaitan dengan pengelolaan administrasi sekolah. Sesuai pendapat Robbins dan Judge (2014) “promotes intelligence, rationality, and careful problem solving”. Maksud dari pernyataan tersebut bahwa pemimpin dengan gaya stimulus intelektual lebih mengutamakan meningkatnya kecerdasan, rasionalitas, dan pemecahan masalah yang cermat. Pengelolaan administrasi sekolah pola pikir yang cerdas karena sangat berkaitan erat dengan peningkatan mutu administrasi dan harus sesuai ketentuan ataupun regulasi yang ada. Kepala MAS Mathla’ul Anwar juga melakukan inovasi, seperti pelaksanaan penilaian akhir tahun dilakukan berbasis website, yaitu menggunakan G-Form. Demikian juga dengan pelaksanaan Ujian Madrasah juga dilaksanakan dengan model yang sama. Hal ini sesuai pendapat Risnawati (2014) bahwa ruang lingkup pembahasan administrasi sekolah menitikberatkan pada kegiatan pengelolaan pendidikan yang fokus utama pada layanan pembelajaran yang dilakukan oleh madrasah. Kepala MAS Mathla’ul Anwar juga memberikan reward dan apresiasi kepada pendidik dan tenaga kependidikan serta kepada siswa yang berprestasi. Reward diberikan sebagai bentuk empati kepala madrasah para guru dan TU yang benar-benar sudah menyelesaikan administrasi dan masuk dalam kategori tidak pernah melakukan pelanggaran. Demikian juga dengan reward yang diberikan kepada siswa, siswa yang diberikan reward masuk dalam kategori siswa berprestasi dan berakhlakul karimah. Bentuk reward yang diberikan kepala madrasah kepada pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa berupa sertifikat, insentif, dan apresiasi ataupun pujian. Tujuan diberikan reward agar prodiktivitas para pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa supaya lebih meningkat lagi. Hal ini sesuai pendapat Sergiovanni dan Carver (dalam Maisaroh dan Danuri, 2020) salah satu tujuan administrasi sekolah adalah kepuasan kerja. Selain itu, kepala madrasah menyampaikan ide-ide atau gagasan yang berkenaan dengan masa depan madrasah. Ide-ide dari kepala madrasah disampaikan saat dilakukan rapat evaluasi setiap bulan. Hal ini dilakukan agar madrasah menjadi 32 lebih baik lagi dalam pengelolaan administrasi sekolah. Perilaku-perilaku kepala madrasah di atas sesuai pendapat Sunaryo (2017) bahwa perilaku pemimpin menjadi faktor yang mendorong (stimulation) berkembangnya perilaku kerja bawahan yang inovatif dan kreatif, menggunakan pendekatan-pendekatan baru. Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kepala MAS Mathla’ul Anwar Pontianak sudah menunjukkan pemimpin yang bergaya stimulus intelektual dalam pengelolaan administrasi sekolah. Hal itu tergambar bahwa kepala madrasah, a) mendorong warga madrasah untuk senantiasa berpikir kreatif dan inovasi dalam menjalankan tugas; b) memberikan kesempatan membangun ide-ide ataupun gagasan; c) melakukan inovasi-inovasi; dan e) memberikan apresiasi. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian kepemimpinan transformasional dalam pengelolaan administrasi sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak dapat disimpulkan bahwa gaya karismatik dalam kepemimpinan transformasional dalam pengelolaan administrasi sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak sudah baik dan sesuai dengan karakteristik gaya kepemimpinan transformasional memiliki mengarahkan warga madrasah dalam pengelolaan administrasi sekolah. Gaya inspirasional kepemimpinan transformasional dalam pengelolaan administarsi sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak sudah baik dan sesuai dengan karakteristik kepemimpinan transformasional dengan memberikan inspirasi bagi warga madrasah dalam pengelolaan administrasi sekolah Gaya perhatian individual kepemimpinan transformasional dalam pengelolaan administarsi sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak sudah baik dan sesuai dengan karakteristik gaya kepemimpinan transformasional. Kepala MAS Mathla’ul Anwar dengan gaya perhatian individualnya memberikan perhatian kepada warga madrasah dalam pengelolaan administrasi sekolah. Gaya stimulus intelektual kepemimpinan transformasional dalam pengelolaan administrasi sekolah di MAS Mathla’ul Anwar Pontianak sudah baik dan sesuai karakteristik gaya kepemimpinan transformasional mampu memberikan dorongan kepada warga madrasah dalam pengelolaan administrasi sekolah. Sesuai simpulan dalam penelitian ini, maka peneliti memberikan saran kepada kepala madrasah agar dapat mengimplementasikan gaya kepemimpinan transformasional sesuai dengan indikator, yaitu karismatik, inspirasional, perhatian individual, dan stimulus intelektual dalam pengelolaan admnistrasi sekolah. Berdasarkan simpulan dan saran dalam penelitian ini, peneliti merekomendasikan kepada para peneliti berikutnya agar dapat melakukan penelitian gaya-gaya kepemimpinan selain gaya kepemimpinan transformasional, seperti gaya kepemimpinan visioner, gaya kepemimpinan profetik, dan gaya kepemimpinan transaksional. DAFTAR PUSTAKA Adamy, M. (2016). Manajemen sumber daya manusia: teori, praktik dan penelitian. Unimal Press. Afifuddin dan Beni A. S. (2018). Metode penelitian kualitatif. Cetakan ke-3. Pustaka Setia. Anwar, M. I. (2013). Administrasi pendidikan dan manajemen biaya pendidikan. Cet. ke-2. Rajagrafindo Persada. Badrudin. (2015). Dasar-dasar manajemen. cetakan ke-3. Alfabeta. Bass, B. M. dan Ronald, E. R. (2006). Transformational leadership-2nd ed. Lawrence Erlbaum Associates. 33 Bendre, P.M. (2014). Principles of management. https://www.Pdfdri ve.com/principles-ofmanagement-extra-income-d17852997.html Bogdan, R. C. dan Biklen, S. K. (2007). Qualitative research for education: An introduction to theories and methods. Pearson Education. Buseri, K. (2017). Administrasi dan manajemen pendidikan islam (paradigma, teori dan aplikasi). Aswaja Pressindo. Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approachs: 4th ed. Sage. Danim, S. (2013). Penelitian kualitatif. cetakan ke-2. Pustaka Setia. Hartog, D. N. & Belschak, F. D. (2012). When does transformational leadership enhance employee proactive behavior? The role of autonomy and role breadth self-efficacy. Journal of Applied Psychology, 97, 194e202. DOI: 10.1037/ a0024903. Hidayat, A. dan Machali, I. (2012). Pengelolaan pendidikan: Konsep, prinsip dan aplikasi dalam mengelola sekolah dan madrasah. Kaukaba. Insan, N. (2019). Kepemimpinan transformasional: suatau kajian empiris di perusahaan. Alfabeta. Iqbal, M. (2021). Kepemimpinan transformasional dalam upaya pengembangan sekolah/madrasah. Pionir: Jurnal Pendidikan VOLUME 10 NO 3 2021 P-ISSN 23392495/ E-ISSN 2549-6611. https://jurnal.ar-raniry. ac.id/index.php/Pionir/issue/view/881. Iswan. (2018). Administrasi dan manajemen pendidikan. Rajawali Press. Johnson, R. B., & Christensen, L. (2014). Educational research fifth edition. SAGE Publication. Miles, M. B. dan Huberman, A. M. (2014). Qualitative data analysis: a methods sourcebook: third edition. SAGE Publications. Purwanto, M. N. (2019). Administrasi dan supervisi pendidikan. Cet. ke-25. Remaja Rosdakarya. Qori, H.L.A. (2013). Kepemimpinan karismatik versus kepemimpinan transformasional. Analisa, Vol. 1, No. 2, Agustus 2013: 70–77. https://www.academia.edu /9567435/ Robbins, S. P. dan Coulter, M. (2012). Management: 11th ed. Prentice Hall. Robbins, S. P. dan Judge, T. A. (2014). Essentials of organizational behavior: twelfth edition. Pearson Education Samsu. (2017). Teori dan aplikasi penelitian kualitatif, kuantitatif, mixed methods, serta research & development. Pusaka. Schmitt, A. Hartog, D. N., & Belschak, F. D. (2016). Transformational leadership and proactive work behaviour: a moderated mediation model including work engagement and job strain. Journal of Occupational and Organizational Psychology, 89, 588e610. https://doi.org/10.1111/joop.12143. Sugiyono. (2014). Metode penelitian pendidikan (pendekatan kuantitaif, kualitatif, dan r&d). Alfabeta. Sukatin dkk. (2021). Administrasi pendidikan. Insan Cendekia Mandiri. Sunaryo, W. (2017). Instrumen pengukuran gaya kepemimpinan: konsep dan metode pengukuran gaya-gaya kepemimpinan yang efektif untuk mengelola kondisi dan situasi organisasi yang spesifik. Yayasan Warkat Utama. Syafhendry dan Setyo U. (2019). Transformational leadership in the middle of plurality and global challenges. Proceeding ICOGISS 2019 Page 690-697. ISBN: 978-602-6 988-75-1. http:// jurnal. Unmuh jember.ac.id/. Tatang, S. (2017). Administrasi pendidikan. Pustaka Setia. Ukur, J. (2020). Manfaat dan kendala administrasi pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Jurnal Ilmiah Research Sains Vol. 6 No. 1 Pebruari 2020. http://www.jurnalmudiraindure.com/ 34 Ushansyah. (2017). Pentingnya administrasi sekolah untuk kemajuan pendidikan. Ittihad Jurnal Kopertais Wilayah XI Kalimantan Volume 15 No.27 April 2017. https://jurnal.uinantasari.ac.id/. Wicaksono, P. B. dan Muafi. (2021). The effect of transformational leadership and organizational culture on organizational commitment in mediating organizational cynicism. Research Article. published: September 20, 2021. doi: 10.21070/jbmp.v7vi2.1525. September 2021 | Volume 7 | Issue 2 203. ISSN 2528-4649 (online) ISSN 2338-4409. https://jbmp.Umsida. ac.id/index.php/jbmp. Yukl, G. (2013). Leadership in organizations- 8th ed. Pearson.