Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 ISSN 2528-4967 . dan ISSN 2548-219X . Kolaborasi Multidisiplin Pelaksanaan Discharge Planning Helmi Juwita1. Elly L. Sjattar2. Abdul Majid3. Sartika Lukman4 Manajemen Keperawatan. Program Studi Magister Ilmu Keperawatan. Fakultas Keperawatan. Universitas Hasanuddin Bagian Keperawatan Medikal Bedah. Program Studi Magister Ilmu Keperawatan. Fakultas Keperawatan. Universitas Hasanuddin Email: Helmi. juwita@yahoo. com1, ellylilianty@unhas. majid@med. id3, tikalukman90@gmail. *Corresponding author: Helmi. juwita@yahoo. ABSTRAK Discharge planning adalah suatu proses multidisplin yang melibatkan Profesioanal Pemberi Asuhan (PPA) dan Manajer Pelayanan Pasien (MPP) yang bertujuan untuk mengurangi lama tinggal atau perawatan di rumah sakit, mencegah terjadinya readmisi dan meningkatkan kordinasi layanan setelah keluar dari rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kolaborasi multidisiplin pelaksanaan discharge planning di RSUD Haji Makassar dengan menggunakan pendekatan observasional pre-post implementasi pendokumentasian discharge planning dan metode wawancara dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) terhadap kepala bidang keperawatan, kepala ruangan, ketua tim, perawat pelaksana dan tim pokja. Instrumen yang digunakan adalah instrumen wawancara dan instrumen discharge planning terintegrasi. Hasil yang didapatkan yaitu pendokumentasian discharge planning di RSUD Haji Makassar belum optimal sehingga dilakukan beberapa program kegiatan yaitu studi literatur, penyegaran tim, pelatihan, pembuatan panduan, form dan SOP discharge planning, uji coba form dan evaluasi. Setelah implementasi didapatkan peningkatan pendokumentasian discharge planning menjadi 77. Selain itu, discharge planning juga dilakukan pada saat pasien masuk di ruang rawat inap hingga pasien sebelum pulang. Oleh karena itu, pada penelitian selanjutnya dibutuhkan penelitian terkait pendokumenatsian discharge planning secara multidisiplin, serta perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan discharge planning. Keyword: Kolaborasi Multidisiplin. Discharge Planning Multidisciplinary Collaboration on Discharge Planning Implementation ABSTRACT Discharge planning is a multidisciplinary process that involves the professional care provider and the patient services manager aims to reduce the length of stay or treatment in the hospital, prevent readmissions and improve service coordination after discharge from the hospital. This research to evaluate multidisciplinary collaboration implementation of discharge planning in Haji Hospital Makassar using an observational approach pre-post implementation of discharge planning documentation and interview method in Focus Group Discussions (FGD) of head nurse, chief nurse, team leader, nurse associate, and team. The instrument used was an interview instrument and an integrated discharge planning instrument. The results obtained were documentation of discharge planning in Haji Hospital Makassar was not optimal so that several program activities were literature study, team refreshment, training, making guidelines, form and SOP discharge planning, trial form, and evaluation. After implementation, there was an increase in the Copyright A 2021. Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. http://journal. um-surabaya. id/index. php/Axiologiya/index DOI: http://dx. org/10. 30651/aks. Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 documentation of discharge planning to 77. In addition, discharge planning was also carried out when the patient entered the inpatient room to the patient before leaving. Therefore, further research is needed in order to discharge planning documentation by a multidisciplinary team, monitoring, and evaluation of the discharge planning implementation. Keyword: Multidisciplinary Collaboration. Discharge Planning PENDAHULUAN Perencanaan Pemulangan Pasien (P. atau discharge planning adalah kegiatan yang merencanakan pasien ke fasyankes lain atau ke rumah dengan lancar dan aman. Discharge pasien dalam mengatur perawatan yang diperlukan setelah tinggal di rumah sakit dan perawatan di rumah (Gonyalves-Bradley. Lannin. Clemson. Cameron, & Shepperd. Discharge planning bertujuan untuk mengurangi lama tinggal atau perawatan di rumah sakit, mencegah penerimaan kembali yang tidak direncanakan dan meningkatkan kordinasi layanan setelah keluar dari rumah sakit (Gonyalves-Bradley et , 2. Discharge merupakan suatu proses multidisiplin yang melibatkan Profesional Pemberi Asuhan (PPA) Manajer Pelayanan Pasien (MPP) yang dimulai saat admisi rawat inap (KARS, 2. Berdasarkan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) di Indonesia, discharge terintegrasi atau dilakukan oleh berbagai disiplin ilmu yaitu PPA dan difasilitasi oleh MPP. PPA terdiri atas bidang keperawatan, kedokteran, farmasi, fisioterapi dan ahli gizi yang Peran PPA yaitu memfasilitasi pemenuhan kebutuhan asuhan pasien dan mengoptimalkan terlaksananya pelayanan berfokus pada pasien, komunikasi dan koordinasi, edukasi dan advokasi, serta kendali mutu dan kendali biaya pelayanan pasien. Sedangkan MPP berperan mendorong keterlibatan pasien dan keluarga dalam asuhan pasien termasuk dalam perencanaan pemulangan pasien. Hasil penelitian menunjukkan penerapan discharge planning dengan pendekatan SNARS terhadap kepuasan pasien (Proborini. Anggorowati, & Rofii, 2. Menurut The National Integrated Care Guidance, salah satu kunci pengguna layanan atau professional multidisiplin yang bekerja sama kesehatan dan perawatan yang komperehensif terhadap pasien dan keluarga (Health Service Executive National Integrated Care Advisory Group, 2. Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 Namun, discharge planning saat ini belum optimal dan belum dilaksanakan secara terintegrasi oleh PPA. Hasil penelitian Abdul-Kareem. Lindo, & Stennett Canada planning dilakukan hanya sebesar 14% dalam 72 jam pertama pemulangan hanya 18,3%. Perawat perencanaan dalam 24 jam pertama masuk karena hanya 6,9% catatan telah didokumentasikan. Berdasarkan data laporan residensi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar, planning belum optimal pada tahun 2018, begitupun pada periode Maret Discharge planning hanya diisi oleh perawat atau dokter. Oleh karena itu, pada penelitian ini kolaborasi multidisiplin pelaksanaan discharge planning di RSUD Haji Makassar. RSUD Haji Makassar merupakan salah satu rumah sakit yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan yang dijadikan sebagai tempat praktek residensi mahasiswa keperawatan dan diharapkan mampu membantu rumah sakit dalam peningkatan mutu pelayanan sesuai dengan standar nasional akreditasi rumah sakit dengan menerapkan teori dan model keperawatan. Pendekatan yang digunakan adalah pengkajian untuk mengidentifikasi kebutuhan dan merumuskan masalah perencanaan, pelaksanaan rencana penyelesaian masalah dan melakukan METODE PENELITIAN Metode observasional pre-post implementasi planning dan menggunakan metode wawancara dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) terhadap kepala bidang keperawatan, kepala pelaksana dan tim pokja. Instrumen yang digunakan adalah instrumen wawancara dan instrumen discharge planning terintegrasi. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Haji Makassar Provinsi Sulawesi Selatan pada periode September - November 2019 dengan tahap pelaksanaan sebagai berikut: Tahap Penentuan Masalah Tahap penentuan masalah diawali dengan melakukan pengkajian atau pengumpulan data . re implementas. yang dilaksanakan pada tanggal 11 September hingga 10 Oktober 2019 pada 3 tingkat manajerial yaitu kepala bidang keperawatan, kepala ruangan, ketua tim serta perawat pelaksana dan tim pokja. Data dikumpulkan metode wawancara, kuesioner, observasi dan FGD kepada 12 Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 kepala ruangan, 12 ketua tim dan 24 perawat pelaksana di masingmasing ruangan untuk mengkaji masalah terkait pendokumentasian discharge planning di RSUD Haji Makassar. Tahap Identifikasi dan Prioritas Masalah Identifikasi dilaksanakan bersama dengan bidang keperawatan. Penentuan prioritas menggunakan metode Urgency. Seriousness dan Growth (USG) menurut Kotler . dengan menggunakan skala likert dengan nilai yaitu 1-5 . = Sangat Besar, 4 = Besar, 3 = Sedang, 2 = Kecil dan 1 = Sangat Keci. Tahap Analisis Masalah dan Rencana Kegiatan Analisis dengan menggunakan analisis fish bone dan analisis SWOT. Adapun rencana pemecahan masalah menggunakan metode Capability. Accesability. Readiness. Leverage (CARL) bersama dengan pihak manajemen keperawatan dengan penilaian 1-4 (Nilai 1 = tidak mampu, nilai 2 = cukup mampu, nilai 3 = mampu, nilai 4 = sangat Pelaksanaan Pelaksanaan dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober hingga 29 November 2019 dengan kegiatan sebagai Melakukan studi literature terkait discharge planning Penyegaran tim Penyusunan panduan. SOP dan form discharge planning Pelatihan pendokumentasian discharge planning Sosialisasi format discharge Uji coba format discharge Evaluasi Evaluasi Evaluasi dilaksanakan secara langsung pada tanggal 15-29 November 2019 dengan menilai planning menggunakan lembar observasi dan kuosiener di ruang percontohan (Ar-Raodah . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil identifikasi masalah didapatkan bahwa pendokumentasian discharge planning di RSUD Haji Makassar belum optimal. Sehingga kegiatan berupa studi literature, panduan. SOP dan form discharge discharge planning, uji coba format discharge planning dan evaluasi pelaksanaan discharge planning. Sebelum implementasi, terdapat 8 ruangan yang belum menerapkan discharge planning dengan persentasi 0%, 1 ruangan 25%, 1 ruangan 66% dan 2 ruangan 100%. Jumlah persentasi Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 masing-masing ruangan di RSUD Haji Makassar dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini: Tabel 1. Persentasi Pengisian Discharge planning di RSUD Haji Makassar Ruangan Persentasi Pengisisan Discharge Planning Ar-Raodah 1 Ar-Raodah 2 Ar-Raodah 3 Rinra Sayang 1 Rinra Sayang 2 Ar-Rahman ICU IGD Perinatologi Ad-Duha Al-Kausar Al-Fajar Setelah implementasi di ruang percontohan (Ar-Raodah planning meningkat menjadi 77. yang dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2. Persentasi pengisian discharge planning di ruang (Ar-Raodah . sebelum dan setelah Persentasi Pengisisan Discharge Planning Waktu Pre Implementasi Post Implementasi Adapun persentasi PPA yang discharge planning yaitu paling tinggi dilakukan oleh perawat 74%, ahli gizi 48%, dokter 37%, ahli farmasi 0% dan fisioterapi 0% yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3. Persentasi pendokumentasian discharge planning oleh PPA Pendokumentasian Discharge Planning PPA Pre Implemen Post Implemen Dokter Perawat Ahli Gizi Ahli Farmasi Fisioter Berdasarkan tabel tersebut, terjadi perubahan pelaksanaan dan planning di ruang percontohan (ArRaodah . setelah dilakukan implementasi pelatihan, revisi dan Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 sosialisasi form dan panduan Discharge planning dilakukan pada saat pasien masuk di ruang pelaksanaan uji coba form discharge perawatan hingga sebelum pulang. Hasil evaluasi didapatkan Adapun bahwa discharge planning sudah dilakukan secara terintegrasi dan discharge planning pada pasien diisi oleh dokter, perawat dan ahli pulang di raung Ar-Raodah 2 dapat gizi di ruang percontohan (Ardilihat pada tabel di bawah ini: Raodah . berdasarkan diagnosa penyakit masing-masing pasien. Tabel 4. Pendokumentasian Form Discharge Planning di ruang Ar-Raodah 2 Item Observasi Data Pasien Tanggal pasien masuk dan tanggal perencanaan pulang Kriteria pasien dan factor risiko pasien pulang Rencana pemulangan . disertai tanggal dan paraf Pemberian informasi tentang hasil pengkajian medis, diagnosis, tatalaksana, prognosis, rencana pemulangan pasien Rencana pemulangan pasien didiskusikan dengan keluarga Pemberitahuan rencana pemulangan pasien Tanda dan gejala yang perlu dilaporkan Edukasi untuk pasien di rumah . erawat dan fisoterap. disertai tanggal dan paraf Jenis aktifitas yang boleh dilakukan di rumah Alat bantu yang digunakan Informasi tambahan Edukasi tentang nutrisi pasien di rumah . hli giz. disertai tanggal dan paraf Diet dan batasan makanan Pola makan Informasi tambahan tentang nutrisi Edukasi tentang perawatan lanjut di rumah . disertai tanggal dan paraf Edukasi tentang hygiene . BAB. BAK, dl. Edukasi tentang cara mengenakan pakaian Edukasi tentang perawatan luka Edukasi tentang perawatan NGT, catheter Edukasi tentang cara pencegahan dan control adanya infeksi Edukasi tambahan Pengisian Discahrge Planning Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 Pemberian edukasi tentang pemberian obat . disertai tanggal dan paraf Edukasi tentang nama dan penggunaan obat Edukasi tentang efek samping obat Edukasi tentang dosisi dan waktu pemberian obat Edulasi tentang cara pemberian obat Edukasi tambahan tentang pemberian obat Persiapan pulang . erawat dan case manage. disertai tanggal dan paraf Tempat perawatan selanjutnya setelah pulang Hasil pemeriksaan yang akan dibawa pulang Obat untuk di rumah Alat bantu/peralatan kesehatan di rumah Tanggal rencana control Alat transportasi yang digunakan untuk pulang: ambulance/ kendaraan pribadi Kelengkapan administrasi Tanda tangan DPJP dan pasien/keluarga disertai tanggal dan Catatan perubahan pencatatan pemulangan Berdasarkan penggunaan form discharge planning kepada PPA, didapatkan bahwa: dilakukan pada saat pasien masuk di ruang perawatan hingga sebelum pulang. discharge planning dilakukan sesaat setelah pemberian edukasi pasien/keluarga. 7% PPA setuju dan 33. sangat setuju panduan discharge planning memudahkan dalam perencanaan pemulangan pasien di ruangan. 7% PPA setuju dan 33. sangat setuju form discharge planning mudah diisi. 7% PPA setuju dan 33. sangat setuju perlu ditambahkan discharge planning. 7% PPA setuju dan 33. sangat setuju perlu adanya kolom perencanaan pulang terintegrasi . dukasi pasien di ruma. oleh masing-masing PPA. 7% PPA setuju dan 33. sangat setuju pendokumentasian discharge planning penting untuk dilakukan. 7% PPA tidak setuju dan 3% sangat tidak setuju planning menghambat proses asuhan yang lain. 7% PPA setuju format dan panduan discharge planning dapat dijadikan rekomendasi Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 sebagai format baku di RSUD Haji Makassar. Berdasarkan hasil kuosiner di ruang Ar-Raodah 2. PPA menyarankan agar sebaiknya discharge planning dilengkapi dengan form edukasi untuk pasien pulang dan diberikan untuk pasien dibawa pulang ke Selain itu, diharapkan seterusnya di RSUD Haji Makassar. Pada didapatkan bahwa pendokumentasian discharge planning di RSUD Haji Makassar belum optimal yang ditandai dengan beberapa ruangan planning sebanyak 0%. Menurut penelitain Hardivianty . , ada planning yaitu: sumber daya manusia planning kurang memahami tentang pentingnya discharge planning, belum tersedianya SOP dan panduan discharge planning yang sesuai dan belum tersedianya form discharge planning yang sesuai. Pada saat pengkajian di RSUD Haji Makassar juga ditemukan bahwa PPA belum discharge planning, belum terdapat form. SOP dan panduan discharge planning sesuai SNARS. Oleh karena itu, dilakukan beberapa pelaksanaan discharge planning dengan melakukan revisi form. SOP dan panduan discharge planning, melaksanakan pelatihan . n house trainin. serta pendampingan uji coba form discharge planning terintegrasi oleh PPA yaitu perawat, dokter, fisioterapi, ahli gizi dan farmasi sesuai dengan SNARS. Setelah implementasi, terjadi peningkatan 7% di ruang percontohan . uang Ar-Raodah . Di ruangan percontohan PPA sudah memiliki format. SOP dan panduan discharge planning sehingga memudahkan PPA discharge planning. Format yang digunakan terdiri atas beberapa item yaitu asesmen pasien yang dimulai pada saat pasien masuk di ruang Format planning yang digunakan memiliki kriteria umur, keterbatasan mobilitas, perawatan atau pengawasan lanjutan, dan bantuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang tercantum pada SNARS yang diisi dengan menggunakan form checklist (KARS, 2. Selain itu, juga terdapat faktor-faktor resiko pasien pulang yaitu pasien tinggal sendiri, pasien/keluarga khawatir ketika kembali di rumah, pasien di rumah tidak ada yang merawat, pasien tinggal di kamar lantai atas rumah, pasien masih ada perawatan lanjutan/penggunaan alat medis yang harus dilakukan di rumah . awat luka, kateter urin, dl. , pasien pulang dengan jumlah obat> 6 jenis, pasien Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 pendampingan ke rumah saki. (RSUP Wahidin Sudirohusodo. Rencana terintegrasi disertai tanggal dan paraf PPA juga dicantumkan pada form. Hal tersebut sesuai dengan dasar atau filosofi discharge planning atau Perencanaan Pemulangan Pasien (P. pada SNARS yaitu keberhasilan asuhan pasien di rawat inap merupakan proses multidisiplin yang PPA (Profesional Pemberi Asuha. dan MPP (Manajer Pelayanan Pasie. Hal tersebut juga dikembangkan oleh Kelly dan Mc Celland . bahwa discharge planning dan rujukan adalah tanggung jawab anggota tim Oleh karena itu, dilakukan revisi form terintegrasi yang memuat seluruh PPA dan MPP. Sebelum planning di ruang percontohan yaitu 0% baik oleh dokter, perawat, ahli farmasi, ahli gizi dan fisioterapi. Sedangkan pelatihan dan sosialisasi discharge peningkatan pengetahuan discharge planning yang ditandai dengan adanya bukti pendokumentasian discharge planning pada buku status pasien dengan persentasi dokter 37%, perawat 74%, ahli gizi 48%, ahli farmasi dan fisiotreapi 0%. Menurut (Kurniadi, 2. , organisasi akan berkembang efektif jika kompetensi individu di dalam organisasi tersebut bisa ditingkatkan melalui berbagai pendidikan dan pelatihan yang terkait dengan perubahan perilaku individu yang Salah pengembangan karir yang bisa dilakukan adalah pendidikan di tempat kerja . nservice educatio. Pendidikan atau pelatihan ini dilakukan di tempat kerja sehingga mampu merubah apa yang ingin dirubah, pelatihan ini bertujuan untuk melakukan kegiatan-kegiatan baru sehingga dapat terbiasa tanpa paksaan atau pengawasan. Sehingga memudahkan PPA untuk melakukan Pendokumentasian discharge planning oleh PPA sebagai berikut: Dokter Dokter planning sebesar 37% di ruang Pendokumentasian perencanaan pulang kepada Sebagai team leader, dokter yang menentukan jadwal perencanaan pulang pasien di rumah sakit sesuai dengan diagnosa masing-masing pasien. Memberikan informasi tentang prognosis, rencana pemulangan pasien, rencana pemulangan Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 pasien didiskusikan dengan keluarga, dan memberitahukan rencana pemulangan pasien. Perawat Perawat planning sebesar 74%. Edukasi yang diberikan berupa edukasi tentang hygiene . BAB. BAK, dl. , edukasi tentang cara mengenakan pakaian, edukasi tentang perawatan luka, edukasi tentang cara pencegahan dan kontrol adanya infeksi. Ahli Gizi Ahli planning sebesar 48% dengan memberikan informasi tentang diet dan batasan makanan, serta pola makanan pasien. Ahli Farmasi Pendokumentasian planning di ruang percontohan sebesar 0%. Informasi mengenai pemberian obat tidak diberikan oleh farmasi, namun dilakukan oleh perawat kepada pasien atau keluarga pasien sebelum pulang. Ahli Fisioterapi Pendokumentasian planning di ruang percontohan sebesar 0%. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya pasien yang membutuhkan perawatan ahli fisioterapi selama dilakukan penelitian tersebut. Adapun format discharge planning yang terisi pada tiap item yaitu sebagai berikut: Data pasien sebesar 89%, tanggal pasien masuk dan tanggal perencanaan pulang Menurut pelaksanaan discharge planning KARS tanggal yang diharapkan untuk pemulangan/transfer 24-48 jam Expected Discharge Date (EDD) oleh PPA. Kriteria pasien dan faktor risiko pasien pulang sebesar 82%. Hal keadaan pasien. Identifikasi pasien dengan masalah yang dihadapi sehingga dapat disusun rencana mengatasi masalah dan proses pemulangan aman dan lancar (KARS, 2. Pemberian informasi tentang prognosis, rencana pemulangan Rencana pemulangan pasien dengan keluarga 64%. Pemberiathuan rencana pemulangan pasien 57%, serta informasi tanda dan gejala yang perlu dilaporkan Menurut Nursalam . , hal-hal yang harus diketahui oleh pasien dan keluarga sebelum pulang adalah intruksi tentang penyakit yang diderita, pengobatan yang harus masalahmasalah atau komplikasi yang dapat terjadi, masalah yang timbul dan cara mengatasinya. Pasien dan keluarga harus Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 dilibatkan dalam informasi kesehatan dan perencanaan pulang pasien dengan tujuan mengurangi peristiwa buruk dan terjadinya readmisi (AHRQ. Edukasi oleh perawat dan fisioterapi yaitu jenis aktifitas yang boleh dilakukan di rumah 5%, alat bantu yang digunakan 5%, dan informasi tambahan Informasi tentang keperawatan dan aktivitas yang boleh dilakukan di rumah harus dijelaskan kepada pasien dan Edukasi tentang nutrisi pasien di rumah yaitu diet dan batasan makanan 78%, pola makan 75% dan informasi tambahan 0%. Dalam perencanaan pulang pengaturan tentang diet khusus dan bertahap harus dijalankan dan diinformasikan kepada pasien dan keluarga. Edukasi tentang perawatan lanjut di rumah oleh perawat yaitu edukasi tentang hygiene 14%, cara mengenakan pakaian 5%, perawatan luka 3. perawatan NGT, catether 0%, cara pencegahan dan kontrol adanya infeksi 10% dan edukasi tambahan 35%. Edukasi tersebut merupakan edukasi yang harus diberikan kepada pasien dan keluarga tergantung kebutuhan Edukasi tentang pemberian obat oleh ahli farmasi sebanyak 0%. Pada uji coba form ini, dilakukan oleh ahli farmasi. Namun, pemberian obat didelegasikan ke perawat untuk menjelaskan cara pemberian obat, nama obat, dosis obat yang harus diminum di rumah. Edukasi Persiapan pulang oleh perawat dan case manager yaitu tempat perawatan selanjutnya setelah pulang 46%, hasil pemeriksaan yang akan dibawa pulang 53%, obat untuk di rumah 20%, alat bantu/peralatan kesehatan di rumah 0%, tanggal rencana kontrol 71%, alat transportasi yang digunakan untuk pulang 0%, kelengkapan administrasi 50%. Menurut AHRQ . , ada 5 hal utama untuk pencegahan masalah di tentang perawatan di rumah, obat-obatan yang dikonsumsi, tanda dan masalah, menjelaskan hasil tes kepada pasien dan keluarga, dan buat janji tindak lanjut . Tanda tangan DPJP dan pasien/keluarga disertai tanggal dan paraf. DPJP merupakan team leader dalam proses pemberi asuhan kepada pasien. Adapun setiap paraf oleh PPA pendokumentasian atau bukti pelaksanaan discharge planning pasien dan keluarga. Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 Catatan perubahan pemulangan pasien 0%. Kolom rencana pemulangan pasien didasarkan pada perubahan perencanaan pemulangan pada pasien. Form discharge planning pendokumentasian dari pelaksanaan pasien yang dilakukan oleh PPA. Pendokumentasian adalah pencatatan kegiatan atau jasa pelayanan yang dianggap berharga dan penting, serta persoalan hokum (Hidayah & Rauf. Form discharge planning di ruang percontohan (Ar-Raodah . diisi pada saat pasien masuk di ruangan hingga sebelum pulang dan pencatatan form discharge planning dilakukan sesaat setelah pemberian edukasi perencanaan pulang ke pasien/keluarga. Hal tersebut sudah sesuai dengan prinsip perencanaan pemulangan pasien pada SNARS bahwa discharge planning dimulai saat admisi rawat inap dan dilanjutkan pada hari berikutnya sesuai kebutuhan hingga sebelum pasien pulang dengan melibatkan PPA. Hasil penelitian (Proborini. Anggorowati, & Rofii, 2. menunjukkan bahwa pelaksanaan pendekatan SNARS . elibatkan semua PPA dan difasilitasi MPP) dapat meningkatkan kepuasan pasien PPOK di rumah sakit. Keluarga dan pasien diberikan edukasi tentang perawatan pasien sebelum pulang di rumah sehingga terjadi kesehatan yang optimal dan tidak terjadi Discharge planning juga diberikan perawatan hingga sebelum pulang (Komisi Akreditasi Rumah Sakit. Pada tahun 1985. Kelly dan Mc Celland telah mengembangkan model discharge planning secara multiprofessional collaboration atau sebagai tanggungjawab anggota tim kesehatan interdisiplin. Hal ini juga sesuai dengan teori Poer & Perry . dalam (Noviyanti. Noprianty, & Hafsa, 2. yang menyebutkan bahwa keberhasilan proses discharge planning sangat ditentukan oleh tim multidisiplin atau PPA (Profesional Pemberi Asuha. Discharge planning harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan semua tim dirumah sakit, mencakup semua pemberi layanan kesehatan yang terlibat dalam memberikan layanan kesehatan kepada pasien. Potter and Perry . (Fitri. Herliawati. ,& Wahyuni, planning terdiri atas tiga fase yaitu fase akut, fase transisional, dan fase pelayanan berkelanjutan. Fase akut adalah fase yang berfokus pada usaha perencanaan pulang. Fase transisional adalah tahap pesrsiapan merencanakan kebutuhan perawatan Sedangkan pelayanan berkelanjutan adalah Helmi Juwita. Elly L. Sjattar. Abdul Majid. Sartika Lukman/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. November 2021 Hal 524 Ae 537 berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas perawatan setelah pemulangan. Secara singkat ketiga fase ini dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu tahap pengkajian yang dilakukan pada saat pasien baru masuk atau baru dirawat di rumah persiapan satu hari sebelum pasien penatalaksaan pada hari kepulangan pasien (Fitri. Herliawati, & Wahyuni, 2. Di RSUD Haji Makassar, pelaksaanaan discharge planning sudah mulai berjalan dengan pendampingan mahasiswa residensi perencanaan pemulangan hingga discharge planning meskipun masih ada beberapa PPA lainnya yang belum melakukan pendokumentasian discharge planning di ruangan. Sehingga diperlukan upaya untuk pelaksanaan perencanaan pulang secara optimal kedepannya dengan perawat dan PPA lainnya, serta pelaksanaan dan pendokumentasian discharge planning. Hasil penelitian Natasia. Andarini, & Koeswo . didapatkan bahwa terdapat pengaruh supervisi terhadap kinerja perawat dalam pendokumentasian discharge planning, motivasi juga memberikan kontribusi terhadap kinerja perawat dalam pendokumentasian discharge Perawat yang disupervisi dengan baik akan melakukan planning dengan lengkap sebanyak 46 kali dibandingkan dengan perawat yang kurang mendapatkan supervisi. SIMPULAN Pendokumentasian discharge planning lebih meningkat dibanding sebelum dilakukan implementasi program terutama pelatihan dan planning dan form discharge Selain planning juga dilakukan secara kolaborasi multidisiplin oleh PPA dan MPP serta dilaksanakan pada saat pasien masuk di ruang rawat inap hingga pasien sebelum pulang. Sehingga pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan penerapan form discharge planning dengan sampel yang lebih banyak lagi dan perlu dilakukan monitoring dan supervisi discharge planning di rumah sakit. DAFTAR PUSTAKA