Jurnal E-Bis:Ekonomi Bisnis Vol. 9 No. https://jurnal. politeknik-kebumen. id/index. php/E-Bis p-ISSN : 2580-2062 e-ISSN : 2622-3368 Strategi Teamwork Dalam Meningkatkan Sikap Solidaritas. Loyalitas Dan Kreativitas : Komunitas Gate Jhoner 21 Dimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 Manajemen. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Indonesia *Email: Widyadimas7@gmail. com1, mailto:sumartik1@umsida. ,verafirdaus@umsida. Doi: https://doi. org/10. 37339/e-bis. Diterbitkan oleh Politeknik Piksi Ganesha Indonesia Info Artikel Diterima : 2025-07-20 Diperbaiki : 2025-07-26 Disetujui : 2025-07-30 ABSTRAK Komunitas Gate Jhoner 21 merupakan salah satu komunitas pendukung sepak bola yang memiliki karakter kuat dalam kebersamaan. Penelitian ini bertujuan membahas strategi teamwork yang diterapkan komunitas dalam membangun sikap solidaritas, loyalitas, dan kreativitas Gate Jhoner 21, persebaya surabaya. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan seperti nonton bareng, aksi sosial, dan pelatihan kreatif mampu memperkuat rasa kebersamaan dan tanggung jawab antar anggota. Solidaritas dibentuk melalui interaksi rutin, loyalitas tumbuh dari partisipasi aktif dan rasa memiliki, sementara kreativitas difasilitasi melalui ruang ekspresi seperti desain konten dan koreografi. Meski menghadapi kendala seperti keterbatasan dana dan perbedaan karakter, strategi teamwork yang melibatkan komunikasi terbuka dan kepemimpinan partisipatif menjadi kunci dalam membangun komunitas yang solid dan aktif. Kata Kunci : Komunitas. Kreativitas. Loyalitas. Solidaritas. Team Work ABSTRACT The Gate Jhoner 21 community is one of the soccer support communities that has a strong character in togetherness. This study aims to discuss the teamwork strategy applied by the community in building the attitude of solidarity, loyalty, and creativity of Gate Jhoner 21. Persebaya Surabaya. Using descriptive qualitative methods, data was collected through observation, and interviews. The results showed that activities such as watching together, social action, and creative training were able to strengthen a sense of togetherness and responsibility between Solidarity is formed through regular interactions, loyalty grows from active participation and a sense of belonging, while creativity is facilitated through expression spaces such as content design and choreography. Despite facing obstacles such as limited funds and character differences, teamwork strategies involving open communication and participatory leadership are key in building a solid and active community. Keywords: Community. Creativity. Loyalty. Solidarity. Teamwork Alamat Korespondensi Jl. Letnan Jenderal Suprapto No. 73 Kebumen. Jawa Tengah. Indonesia 54311 PENDAHULUAN Sepak bola adalah salah satu dari banyaknya olahraga yang memiliki banyak penggemar nya,tentu tidak hanya dari kalangan remaja saja yang memiliki ketertarikan dalam olahraga ini Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 bahkan dari kalangan anak anak maupun orang dewasa juga memiliki ketertarikan yang kuat terhadap olahraga ini. Salah satu contohnya yaitu klub kebanggan arek arek suroboyo yaitu PERSEBAYA SURABAYA yang namanya sudah melegenda sejak tahun awal berdirinya yaitu pada tahun 1927 dan telah meraih beberapa gelar juara yaitu pada tahun 1941, 1950, 1951, 1952, 1975, 1978, serta 1987 - 1988 serta 2004. Persebaya surabaya sendiri juga pernah menjuarai kompetisi bergengsi di liga 2 setelah menumbangkan PSMS Medan pada waktu itu dengan skor 3-2 untuk kemenangan Persebaya Surabaya dan sekaligus bisa kembali bermain di kasta tertinggi liga indonesia yaitu liga 1 pada tahun 2018,setelah sejak tahun 2010-2017 persebaya berada di titik terendah mereka karena terjadinya masalah internal yang tidak kujung bisa diselesaikan yaitu Audualisme persebayaAy. (Febrian, 2. Arek bonek 1927 itulah julukan bagi suporter persebaya surabaya yang memiliki jiwa fanatisme dan solidaritas yang tinggi. Berkat perjuangan mereka lah persebaya surabaya kembali di akui di mata PSSI dan memulai kembali kompetisi dari liga 2. Bonek dan persebaya tidak bisa dipisahkan baik dimana pun persebaya berlaga pasti selalu setia mendampingi, dengan seiring berjalanya waktu banyak terbentuknya komunitas bonek dari penjuru kota bahkan dunia. Bonek selain dikenal sebagai salah satu suporter yang memiliki solidaritas yang tinggi mereka juga dikenal memiliki sikap loyalitas yang sangat baik, loyalitas yang bonek miliki terlihat jelas ketika Persebaya Surabaya bertanding di stadion Gelora Bung Tomo Surabaya yang berasal dari luar kota pun mereka rela meluangkan waktu,pikiran dan uang demi melihat secara langsung kebanggaan mereka berlaga. Karena sikap loyalitas yang tinggi itu membuat mereka bisa memicu perilaku negatif yang tentunya hal itu dapat saja merugikan banyak pihak, salah satunya club kebanggaan mereka sendiri juga bisa saja terkena sanksi dan hukuman berupa denda. (Syauqi & Setyowati, 2. Kreativitas Bonek 1927 disini seperti berupa spanduk atau mural yang berisi kalimat atau ujaran guna memberikan semangat kepada pemain yang bertanding. Selain spanduk atau mural terdapat juga kreativitas yang lain seperti chant dan yel yel yang beraneka ragam serta ada juga koreografi yang belum pernah dilakukan oleh supporter di indonesia tetapi sudah dilakukan oleh supporter persebaya surabaya pada saat laganya melawan Tira Persikabo yang bertujuan untuk berbagi kebahagiaan kepada anak-anak penderita kanker. Tidak cukup sampai disitu saja, pada laga melawan persija jakarta 24 agustus 2019 salah satu supporter terbaik di indonesia ini menyalurkan kreatifitasnya melalui koreografi yang dilakukan oleh 4 penjuru tribun Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya. Lokasi penelitian sendiri memiliki arti yaitu lokasi dimana penelitian kali ini dilakukan, lokasi ini berpengaruh untuk penelitian kali ini karena dari konteks sosial dan budaya serta aksesibilitasnya yang pastinya berbeda beda. Selain itu, penelitian ini dilakukan di markas arek gate jhoner 21, serta dilakukan secara langsung di Homebase persebaya yang berlokasi di Gelora Bung Tomo Surabaya sehingga memungkinkan untuk melakukan observasi juga wawancara secara mendalam dengan anggota suporter dari komunitas lain maupun Berdasarkan penelitian terdahulu, komunitas Bonek Green Nord 27 menunjukkan bahwa rasa kekeluargaan antar anggota dapat terbentuk melalui beberapa indikator pendukung seperti keterlibatan aktif anggota dalam kegiatan bersama serta atmosfer kolektif yang Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 diciptakan dari waktu ke waktu. (Husna & Setyowati, 2. Penelitian dari (Rijal et al. , 2. menyoroti pentingnya komunikasi multifungsi yang mampu menjembatani perbedaan sudut pandang antar anggota, mempererat ikatan, serta menciptakan kesamaan visi dalam komunitas. Selanjutnya menurut (Kurniansah, 2. peran seorang pemimpin yang mampu mengayomi, memberikan keteladanan, serta memahami kondisi anggotanya menjadi faktor utama dalam menjaga kohesi dan rasa kebersaman dalam komunitas. Sementara itu, (Risanto, n. ) dalam studi tentang Chelsea Indonesian Suppoerters Club (CISC) Regional Jogja menemukan bahwa pola komunikasi yang bersifat terbuka dan akomodatif berkontribusi besar terhadap kekompakan serta partisipatif anggota. Penelitian oleh (Wulan Eka Permatasari & Rani Kurniasari, 2. menyebutkan bahwa kolaborasi dalam tim secara langsung berkontibusi pada peningkatan kreativitas individu dalam menyelesaikan tugas Bersama. Hal ini juga tercermin dalam komunitas Gate Jhoner 21 yang sering melakukan kegiatan bersama, seperti pembuatan koreografi atau proyek sosial yang membutuhkan ide kreatif dari berbagai anggota Namun demikian. Sebagian besar penelitian terdahulu masih terfokus pada salah satu aspek secara terpisah baik itu solidaritas, loyalitas, atau kreativitas tanpa mencari tahu bagaimana ketiganya bisa dibentuk secara bersamaan melalui strategi kerja tim . Selain itu, studi yang mengangkat komunitas suporter di tingkat lokal seperti Gate Jhoner 21 masih sangat terbatas, padahal komunitas ini memiliki dinamika sosial yang unik dan layak untuk dikaji lebih lanjut. Dari celah tersebut, penelitian ini berupaya memiliki fokus lebih spesifik pada analisis berbagai strategi yang digunakan oleh komunitas suporter Gate Jhoner 21, yang bermarkas di Driyorejo. Kabupaten Gresik, dalam membangun sikap kekeluargaan, solidaritas, loyalitas, dan kreativitas anggotanya. Penelitian ini tidak hanya ingin menjelaskan bentuk-bentuk kegiatan komunitas, tetapi juga bagaimana strategi kerja tim diterapkan dan memengaruhi nilai-nilai sosial dalam komunitas tersebut. Harapannya, temuan dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan model organisasi komunitas yang lebih kuat, inklusif, dan adaptif di era saat ini. KAJIAN PUSTAKA Strategi TeamWork Teamwork atau kerja sama tim merupakan kemampuan sekelompok orang untuk bekerja secara kooperatif dalam mencapai tujuan bersama. Kerja sama tim dalam konteks komunitas tidak hanya mencakup pembagian tugas, tetapi juga melibatkan komunikasi efektif, kepemimpinan partisipatif, dan evaluasi berkelanjutan yang membentuk kekompakan serta rasa saling percaya antaranggota. Salah satu teori klasik yang mendasari dinamika kerja tim adalah Team Development Stages oleh Bruce W. Tuckman . , yang mencakup lima tahapan perkembangan tim: Forming: Tahap pembentukan awal, ketika anggota mulai saling mengenal dan memahami tujuan komunitas. Storming: Munculnya konflik akibat perbedaan pendapat atau peran yang belum jelas. Norming: Terbentuknya kesepakatan norma, peran, dan komitmen bersama. Performing: Tim bekerja secara produktif dan efisien, masing-masing anggota menjalankan Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 peran dengan optimal. Adjourning: Penutupan atau peralihan peran setelah tujuan tercapai. Dalam konteks Komunitas Gate Jhoner 21, strategi teamwork terlihat dari pembagian peran yang jelas antara ketua, pengurus, dan anggota. Mereka menjalankan rapat rutin sebagai bentuk komunikasi terbuka, mengadakan evaluasi pasca kegiatan, dan memberikan ruang partisipasi yang merata. Kondisi ini menunjukkan bahwa komunitas berada dalam tahap norming dan performing, di mana anggota telah memahami perannya dan mampu bekerja bersama secara efektif. ((Fitri et al. , 2. Solidaritas Sosial Konsep solidaritas sosial merujuk pada hubungan antar individu yang terbentuk melalui keterikatan nilai, norma, dan tujuan bersama. yOmile Durkheim . membedakan dua jenis solidaritas sosial, yakni: solidaritas mekanik: terbentuk dalam masyarakat tradisional, di mana anggota memiliki kesamaan nilai dan aktivitas, solidaritas organik: berkembang dalam masyarakat modern melalui diferensiasi fungsi dan ketergantungan antaranggota. Dalam konteks komunitas Gate Jhoner 21, solidaritas sosial lebih mencerminkan bentuk solidaritas organik, karena meskipun latar belakang anggota beragam, mereka saling melengkapi dalam peran seperti koreografi, dokumentasi, dan humas. Setiap anggota memiliki fungsi yang berbeda namun saling terkait satu sama lain dalam mencapai tujuan komunitas. (Gustarini & Hidayah, 2. Loyalitas Komunitas Loyalitas komunitas bisa diartikan sebagai rasa setia yang terwujud karena adanya sikap tanggung jawab, rela berkorban dan menjaga kehormatan komunitas. Menghargai dan mengakui kontribusi anggotanya juga dapat meningkatkan loyalitas dalam sebuah (Adolph, 2. Meyer dan Allen . membagi loyalitas atau komitmen organisasi menjadi tiga bentuk: Affective commitment: keterikatan emosional terhadap komunitas. Normative commitment: kewajiban moral untuk tetap bergabung. Continuance commitment: loyalitas karena pertimbangan untung-rugi jika keluar dari Dalam komunitas Gate Jhoner 21, loyalitas terlihat dari kesediaan anggota untuk hadir dalam kegiatan meski memiliki kesibukan lain, perasaan bangga menjadi bagian dari komunitas, dan partisipasi aktif dalam menjaga nama baik komunitas. Ini mencerminkan dominasi affective dan normative commitment, di mana keterikatan emosional dan nilai sosial menjadi faktor utama penggerak loyalitas. Kreativitas Anggota Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan ide, solusi, atau karya yang orisinal, bermanfaat, dan sesuai konteks. Kreativitas tidak hanya terbatas pada seni atau desain, tetapi juga dapat muncul dalam bentuk pemikiran inovatif, penyelesaian masalah, dan inisiatif dalam kegiatan sosial atau organisasi. Menurut Amabile . dalam Componential Theory of Creativity, kreativitas muncul dari interaksi tiga komponen utama: Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 Keahlian . omain-relevant skill. : Pengetahuan dan keterampilan teknis. Gaya berpikir kreatif . reativity-relevant skill. : Kemampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Motivasi intrinsik . ntrinsic motivatio. : Dorongan dari dalam diri individu untuk menghasilkan ide baru. Dalam komunitas Gate Jhoner 21, kreativitas diwujudkan dalam berbagai bentuk seperti desain koreografi, konten visual, merchandise komunitas, hingga ide-ide baru untuk kegiatan Aktivitas ini mencerminkan penerapan teori Amabile, di mana anggota dengan keahlian berbeda diberi ruang untuk berkontribusi dan termotivasi oleh kecintaan terhadap komunitas, bukan sekadar penghargaan eksternal. (Aziz et al. , 2. METODE Jenis penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hal ini bertujuan untuk memberikan proses penjelasan fenomena mendalam, agar tidak melakukan manipulasi pada variabel yang akan diteliti, serta beberapa data berbentuk foto/fenomena yang terjadi di lapangan. (Akhiyat & Setyowati, 2. Subjek penelitian ini fokusnya pada komunitas bonek (GATE JHONER . dalam menumbuhan sikap solidaritas, loyalitas, dan kreativitas pada anggotanya. Berikut yang dapat diteliti antara lain: . Bagaimana cara komunitas Gate Jhoner 21 dalam menumbuhkan sikap solidaritas kepada anggotanya, . Apa upaya yang dilakukan komunitas tersebut dalam meningkatkan loyalitas anggotanya, . bagaimana strategi komunitas dalam mendorong kreativitas anggotanya, . apa kendala yang dihadapi oleh komunitas Tribun Gate Jhoner 21 dalam menerapkan strategi strategi tersebut. Lokasi penelitian adalah tempat dimana melakukan suatu kegiatan atau obyek penelitian Pemilihan lokasi penelitian sangat penting guna memastikan serta memperjelas validitas dan relevansi hasil penelitian. Lokasi juga dapat mempengaruhi metode pengumpulan data dan analisis yang akan digunakan. Dalam penelitian ini, tempat atau lokasi yang akan dilakukan adalah di BaseCamp Gate Jhoner 21 pada alamat Driyorejo Kabupaten Gresik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian kali ini yaitu menggunakan metode observasi,dokumentasi dan wawancara secara mendalam. Teknik observasi kali ini dilakukan secara langsung dimana peneliti ikut menyaksikan langsung ke lapangan guna lebih mengetahui dan memahami perihal permasalahan penelitian ini. Dengan metode observasi secara langsung membantu peneliti untuk mengetahui lokasi yang digunakan untuk dilakukanya penelitian dan memastikan apakah subyek penelitian kali ini memenuhi kriteria. Hal ini memastikan rumusan masalah terjawab dengan benar dan hasil penelitian dapat Selanjutnya yaitu memperoleh data mengenai informan di komunitas AuGATE JHONER 21Ay dengan cara mengamati apa yang menjadi fokus pada penelitian ini. Wawancara adalah komunikasi dua arah yang melibatkan antara peneliti dan subjek peneliti. Pada penelitian ini peneliti menggunakan wawancara semi-terstruktur sebagai instrumen utama dalam pengumpulan data, wawancara dilakukan dengan Capo. Koordinator utama serta anggota komunitas AuGATE JHONER 21Ay yang menjadi informan utama. Pedoman wawancara memiliki 3 indikator yakni: . solidaritas kerja sama tim, . tingkat loyalitas terhadap komunitas, . kreativitas dalam kegiatan bersama. Berikut beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 Strategi teamwork: Bagaimana proses pembagian tugas atau peran dalam komunitas Gate Jhoner 21 dilakukan? Bagaimana sistem komunikasi yang digunakan dalam komunitas Gate Jhoner 21? Bagaimana cara komunitas melakukan evaluasi setelah kegiatan? Solidaritas: Apa kegiatan komunitas yang menurut anda mampu mempererat hubungan atau solidaritas antar anggota? Apakah pembagian tugas yang merata dapat meningkatkan semangat kebersamaan? Bagaimana peran komunikasi terbuka dalam menjaga kekompakan komunitas? Loyalitas: Apa yang membuat anggota tetap aktif dan loyal dalam komunitas meski memiliki kesibukan pribadi? Apakah anda merasa memiliki tanggung jawab pribadi terhadap keberlangsungan Kreativitas: Bagaimana komunitas menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan kreativitas Apakah kegiatan kreatif hanya dilakukan oleh anggota tertentu? Tujuan dilakukannya wawancara secara mendalam sendiri guna untuk menggali info lebih dalam pemahaman, pengalaman, dan sudut pandang informan. Selanjutnya yang terakhir, dokumentasi bertujuan untuk membuktikan informasi dengan mengumpulkan data berupa foto ,video, dan juga rekaman, sehingga membantu peneliti untuk arsip bukti dalam penemuan Selanjutnya yang pertama teknik analisis data berupa reduksi data dengan cara memilih, menyaring, dan mengeola informasi yang telah dilakukan. Kedua, display data adalah metode penyajian informasi yang bertujuan untuk menggambarkan atau menyajikan hasil temuan penelitian dalam bentuk yang mudah dipahami. Ketiga, penarikan kesimpulan dengan cara merangkum hasil dari observasi maupun wawancara yang telah dilakukan. Keempat, melakukan pengecekan atau pemeriksaan guna memastikan bahwa informasi atau data yang didapat benar dan juga sesuai dengan fakta, pengecekan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa data atau informasi yang didapat akurat dan dapat dipercaya sehingga hasilnya bisa dipertanggung jawabkan. (Warsa Syadzwina et al. , 2. ANALISA DAN PEMBAHASAN Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai strategi teamwork dalam meningkatkan solidaritas, loyalitas, dan kreativitas di Komunitas Gate Jhoner 21, peneliti melibatkan sejumlah informan yang memiliki latar belakang dan peran berbeda dalam Profil para responden ini menjadi penting untuk memberikan konteks terhadap jawaban dan perspektif yang mereka sampaikan selama proses wawancara. Melalui keberagaman usia, jenis kelamin, lama bergabung, serta posisi atau tanggung jawab dalam komunitas, informasi ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang utuh mengenai dinamika internal komunitas. Adapun profil responden yang menjadi narasumber dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut: Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 No. Kode Responden Jenis Kelamin LakiLaki Lakilaki Lakilaki Lakilaki Lakilaki Lakilaki Lakilaki Tabel 2. Data Respoden Usia Jabatan (Tahu. Ketua Komunitas Pengurus Keterangan Tambahan Leader/capo Fokus Koreografi Pengurus Humas Pengurus Koordinator Acara Pengurus Dokumentasi Anggota Editing visual Anggota Membantu Berdasarkan tabel di atas, penelitian ini melibatkan tujuh orang responden yang terdiri dari anggota dan pengurus aktif komunitas Gate Jhoner 21. Seluruh responden berjenis kelamin lakilaki dengan rentang usia antara 24 hingga 28 tahun, yang mencerminkan kelompok usia produktif dan aktif secara fisik maupun sosial dalam kegiatan komunitas. Dari segi peran, satu responden menjabat sebagai Ketua Komunitas (R. yang berfungsi sebagai pemimpin dan capo saat pertandingan berlangsung. Empat responden lainnya merupakan pengurus dengan tanggung jawab yang beragam, seperti penanggung jawab koreografi (R. , humas (R. , koordinator acara (R. , dan dokumentasi (R. Sementara dua responden lainnya (R. 6 dan R. merupakan anggota aktif yang turut berkontribusi dalam kegiatan komunitas, seperti editing visual dan dukungan teknis dalam setiap acara. Keberagaman peran ini memberikan sudut pandang yang komprehensif terhadap strategi teamwork yang diterapkan dalam komunitas, mulai dari aspek kepemimpinan, koordinasi acara, hingga kontribusi kreatif dari para anggota. Komposisi responden yang seimbang antara pengurus dan anggota ini juga memungkinkan peneliti untuk memahami bagaimana strategi kerja tim dijalankan secara struktural dan praktikal dalam kehidupan komunitas sehari-hari. Hasil Strategi Teamwork Dalam Komunitas Gate Jhoner 21 : Indikator 1: Pembagian Peran dan Tanggung Jawab Ketua komunitas (R. menjelaskan bahwa Ausetiap anggota diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan mengambil peran sesuai kapasitasnya. Contohnya, pengurus seperti koreografi bertanggung jawab dalam pengelolaan koreografi, sementara anggota lain seperti editing visual fokus pada editing konten visual komunitasAy. Strategi ini menciptakan rasa kebersamaan yang kuat, karena seluruh anggota merasa dilibatkan dan dihargai. Indikator 2: Komunikasi yang Efektif Berdasarkan wawancara salah satu anggota aktif (R. Aukomunikasi dilakukan secara Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 intensif melalui grup komunitas, serta diadakannya rapat beberapa kali dan juga dengan melakukan koordinasi harian menjelang kegiatan berlangsungAy. Hal tersebut menjadi strategi bahwa komunikasi menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga kekompakan dan kelancaran kegiatan Komunitas Gate Jhoner 21. Indikator 3: Evaluasi terhadap Kerja Tim Berdasarkan wawancara (R. menyatakan Aubiasanya setelah acara selesai, kita mengadakan evaluasi, untuk membahas apa yang kurang dalam kegiatan dan apa yang bisa diperbaiki kedepannya. Dari evaluasi itu kita jadi tahu siapa yang kurang maksimal, dan terkadang juga muncul ide baru untuk kegiatan selanjutnyaAy. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa strategi teamwork dalam bentuk evaluasi ini dapat memperkuat komunikasi, meningkatkan efektivitas kerja tim, dan pertumbuhan komunitas secara Strategi Teamwork dalam meningkatkan solidaritas : Indikator 1: Kepedulian Antar Anggota Berdasarkan hasil wawancara dengan ( R. 1 ) selaku ketua komunitas. Aukegiatan rutin seperti momen perayaan ulang tahun komunitas yang diadakan setiap tahunnya, menjadi wadah untuk saling mengenal dan mendukung antar anggota. Selain itu antar anggota merasa lebih solid. Ay terlihat bahwa strategi teamwork anggota Gate Jhoner 21 menunjukkan kepedulian tinggi, dari meningkatnya semangat gotong royong, ketersediaan anggota untuk saling membantu tanpa paksaan, rasa kebersamaan yang kuat dan komunikasi terbuka sebagai jembatan antar anggota untuk saling memahami, menghindari kesalahpahaman, serta membangun kepercayaan agar mencegah konflik internal. Indikator 2: Rasa Memiliki Terhadap Komunitas Para informan menyatakan bahwa mereka merasa bangga menjadi bagian dari komunitas, ditunjukkan melalui partisipasi aktif dalam setiap kegiatan dan menjaga nama baik komunitas dimedia sosial meupun di lingkungan sekitar. Indikator 3: Kerja Sama dalam Kegiatan Solidaritas antar anggota tercermin dalam kekompakan mereka saat mengadakan acara. Setiap anggota memiliki peran atau tugas masing-masing dan saling melengkapi tanpa merasa lebih penting satu sama lain. Hal tersebut terbukti menjadi kunci dalam strategi teamwork untuk memperkuat ikatan solidaritas diantara mereka karena akhirnya merasa punya tanggung jawab dan merasa punya kontribusi penting. Strategi teamwork untuk meningkatkan loyalitas antar anggota: Indikator 1: Komitmen Jangka Panjang Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi teamwork yang dijalankan oleh komunitas Gate Jhoner 21 turut berperan dalam meningkatkan loyalitas antar anggota, hal ini sejalan dengan wawancara yang telah dilakukan dengan (R. sebagai anggota yang aktif dalam komunitas ini Ausaya tetap aktif karena merasa nyaman dan sudah seperti keluarga dikomunitas ini, walaupun mempunyai kesibukan, saya usahakan hadirAy. Dengan begitu terlihat komitmen Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 mereka untuk terus berkontribusi dalam komunitas secara jangka Panjang, bahkan setelah memiliki kesibukan lain seperti pekerjaan atau kuliah. Indikator 2: Rasa Memiliki Terhadap Komunitas Berdasarkan wawancara dengan (R. selaku salah satu anggota aktif dalam komunitas menyatakan Ausaya merasa bertanggung jawab, karena komunitas ini tumbuh karena semua anggota saling dukung. Dan saya sendiri punya tugas dibagian dokumentasi, jadi saya merasa bertanggung jawab untuk memastikan kegiatan komunitas bisa dibagikanAy. Strategi team work dalam Komunitas Gate Jhoner 21 terbukti dengan adanya rasa memiliki satu sama lain dan mereka berusaha mematuhi aturan dan kesepakatan komunitas sehingga faktor tersebut dapat memperkuat loyalitas ini. Strategi teamwork untuk meningkatkan kreativitas anggota: Indikator 1: Kemampuan Menghasilkan Ide Baru Strategi teamwork yang diterapkan oleh Komunitas Gate Jhoner 21 berperan signifikan dalam meningkatkan kreativitas anggotanya. Hal ini sejalan dengan wawancara (R. yang mengatakan Aukomunitas memberi kebebasan bagi siapapun untuk menyampaikan ide, seperti dalam pembuatan konten media sosial, mendesain merchandise asal tetap mencerminkan identitas komunitas. Kami medorong untuk menyampaikan setiap ide. Bahkan yang awalnya ide sederhana bisa dikembangkan bersama. Jika bentuk kreativitas lainnya komunitas mengadakan workshop antar anggota dan lomba desain poster untuk memperingati perayaan ulang tahun persebayaAy. Strategi teamwork dalam komunitas Gate Jhoner 21 terbukti mendukung perkembangan kreativitas anggota. Hal ini terlihat dari adanya komunikasi terbuka yang memungkingkan setiap anggota menyampaikan ide. Indikator 2: Kolaborasi Anggota dalam Proses Kreativitas Berdasarkan wawancara dengan (R. mengatakan Aukami semua mempunyai kesepakatan yang sama, semua anggota ikut terlibat dalam kegiatan kreatif, jika ada ide bisa langsung dibahas bersamaAy. Dengan hal tersebut, lingkungan komunitas memberikan kebebasan berekspresi dibangun melalui strategi teamwork Gate Jhoner 21 berbasis musyawarah. Pengambilan keputusan dilakukan secara bersama, sehingga ide-ide kreatif merupakan hasil kesepakatan Hal ini menunjukkan bahwa teamwork tidak hanya memperkuat solidaritas dan loyalitas, tetapi juga mampu menjadi wadah bagi pengembangan potensi dan menghasilkan ideide yang sesuai kebutuhan komunitas. Kolaborasi antar anggota yang terbuka, lingkungan suportif menjadi faktor utama dalam berkembangnya kreativitas tersebut. Pembahasan Strategi Teamwork dalam Komunitas Indikator 1: pembagian peran dan tanggung jawab Ketua komunitas (R. menyampaikan bahwa setiap anggota diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan mengambil peran sesuai dengan kapasitas dan minatnya. Contohnya, anggota yang memiliki minat di bidang koreografi akan bertanggung jawab dalam Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 kegiatan lapangan, sedangkan anggota dengan kemampuan editing akan fokus mengelola konten visual. Berkaitan dengan teori Team Development Stages oleh Bruce Tuckman . , situasi ini menunjukkan bahwa komunitas telah berada dalam tahap Norming dan Performing. Norming: Terjadi ketika anggota mulai menemukan peran yang sesuai, menciptakan norma bersama, dan mengembangkan kepercayaan. Performing: Dicapai saat anggota bekerja secara produktif dalam peran masing-masing dengan tingkat kemandirian tinggi. Pembagian tugas yang jelas dan sesuai potensi menunjukkan bahwa tim sudah mampu berfungsi secara optimal. Anggota yang merasa dilibatkan akan cenderung lebih loyal, karena memiliki rasa memiliki terhadap peran dan tujuan tim. Strategi ini juga menumbuhkan solidaritas karena tidak ada peran yang dianggap lebih penting dari yang lain, semuanya saling Indikator 2: Komunikasi yang Efektif Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi dalam komunitas Gate Jhoner 21 dilakukan secara intensif dan terbuka, baik melalui media daring seperti grup komunitas maupun dalam forum luring melalui rapat dan diskusi rutin. Salah satu anggota aktif (R. mengungkapkan bahwa komunikasi dilakukan secara harian menjelang kegiatan, dan rapat diadakan beberapa kali untuk memastikan seluruh anggota terkoordinasi. Hal ini sejalan dengan teori komunikasi organisasi dari Gary Kreps . yang menyatakan bahwa komunikasi yang efektif dalam suatu organisasi tercermin dari adanya keterbukaan informasi, transparansi dalam penyampaian pesan, dan ruang dialog yang merata bagi semua anggota. Kondisi tersebut tampak nyata dalam komunitas ini, di mana tidak terdapat dominasi informasi oleh pengurus Sebaliknya, seluruh anggota diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, saran, maupun kritik secara langsung maupun melalui media grup. Keterbukaan ini menciptakan rasa dihargai dan meningkatkan partisipasi aktif anggota. Indikator 3: Evaluasi terhadap Kerja Tim Evaluasi menjadi salah satu elemen penting dalam strategi teamwork yang diterapkan oleh komunitas Gate Jhoner 21. Berdasarkan wawancara dengan salah satu anggota (R. diketahui bahwa evaluasi rutin dilakukan setelah setiap kegiatan, dengan tujuan meninjau kembali kekurangan yang terjadi serta merumuskan perbaikan untuk kegiatan selanjutnya. Praktik evaluasi ini sejalan dengan prinsip continuous improvement dalam teori manajemen partisipatif dan komunikasi organisasi, di mana evaluasi menjadi sarana memperkuat komunikasi dua arah antara anggota dan pengurus. Dalam kerangka teori functional theory of group decision making oleh Hirokawa dan Gouran . , proses evaluasi merupakan bagian dari mekanisme pengambilan keputusan kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas tim melalui identifikasi masalah dan penyempurnaan langkah kerja. Selain itu, evaluasi yang dilakukan secara terbuka dan kolaboratif mendorong keterlibatan emosional anggota terhadap dinamika komunitas. Dengan adanya ruang evaluatif yang konsisten, komunitas ini mampu menciptakan pola komunikasi yang transparan, meminimalisir konflik Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 internal, dan meningkatkan kohesi tim. Hal ini pada akhirnya berkontribusi pada pertumbuhan komunitas yang berkelanjutan. Strategi Teamwork dalam Meningkatkan Solidaritas Indikator 1: Kepedulian Antar Anggota Kegiatan rutin seperti perayaan ulang tahun komunitas menjadi medium penting untuk mempererat hubungan personal. Momentum ini tidak hanya menciptakan suasana yang emosional dan hangat, tetapi juga membangun kepercayaan serta memperkuat ikatan sosial (Novitasari et al. , 2. Semangat gotong royong yang muncul tanpa paksaan mencerminkan bahwa solidaritas bukan hanya dibentuk melalui struktur formal, tetapi tumbuh secara organik melalui kebiasaan dan interaksi sehari-hari. Sejalan dengan teori Social Exchange (Homans, 1. , hubungan sosial yang positif cenderung dibentuk dan dipertahankan ketika interaksi tersebut memberikan timbal balik berupa dukungan, rasa dihargai, dan pengakuan. Indikator 2: Rasa Memiliki Terhadap Komunitas Ditunjukkan oleh kebanggaan anggota dalam menjadi bagian dari Gate Jhoner 21. Partisipasi aktif dan kesediaan menjaga nama baik komunitas baik di media sosial maupun lingkungan sekitar memperlihatkan bahwa anggota tidak hanya terlibat secara fisik, tetapi juga secara emosional. Hal ini mendukung pandangan Theory of Organizational Identification (Ashforth & Mael, 1. , yang menyatakan bahwa individu akan lebih loyal dan berkontribusi maksimal ketika mereka mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai dan tujuan organisasi atau Indikator 3: Kerja Sama Dalam Kegiatan Menjadi cerminan nyata dari solidaritas yang diwujudkan dalam praktik. Setiap anggota memegang tanggung jawab yang berbeda, namun tetap saling melengkapi tanpa dominasi atau rasa superioritas. Dapat dilihat, setiap anggota memegang tanggung jawab yang berbeda, seperti 2 yang fokus pada koreografi. 5 di bagian dokumentasi, dan R. 6 di bidang editing visual. Meski berbeda peran, mereka saling melengkapi tanpa dominasi atau rasa lebih penting satu sama lain. Ini menunjukkan terbentuknya struktur kerja yang sehat dan inklusif. Kerja sama yang demikian menjadi implementasi nyata dari prinsip interdependensi positif dalam teori Cooperative Learning dari Johnson & Johnson . , yang menekankan bahwa keberhasilan individu dalam tim sangat dipengaruhi oleh keberhasilan kolektif. Strategi Teamwork untuk Meningkatkan Loyalitas Indikator 1 : Komitmen Jangka Panjang. Tercermin dari pernyataan anggota (R. yang menunjukkan kesediaan untuk tetap aktif di komunitas meskipun memiliki kesibukan lain. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antaranggota tidak bersifat transaksional, melainkan telah membentuk ikatan emosional yang kuat, layaknya keluarga. Hal ini sejalan dalam teori Organizational Commitment dari Meyer dan Allen . , kondisi ini dapat digolongkan dalam bentuk affective commitment, yaitu keterikatan emosional anggota terhadap organisasi yang membuat mereka ingin terus menjadi Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 bagian dari komunitas secara sukarela. Semakin kuat keterikatan ini, semakin tinggi pula tingkat loyalitas yang ditunjukkan oleh anggota. Indikator 2 : rasa memiliki terhadap komunitas Rasa memiliki ini tercermin dari kesadaran dan tanggung jawab anggota terhadap peran yang mereka emban. Sebagaimana dinyatakan oleh (R. , keterlibatannya dalam dokumentasi kegiatan membuatnya merasa bertanggung jawab untuk memastikan eksistensi komunitas tetap hidup melalui media. Fenomena ini mendukung teori Social Identity (Tajfel & Turner, 1. , di mana anggota yang mengidentifikasi diri secara kuat dengan kelompoknya akan menunjukkan komitmen, kedisiplinan, dan keterlibatan aktif sebagai bentuk loyalitas terhadap kelompok tersebut. Strategi Teamwork untuk Meningkatkan Kreativitas Anggota Indikator 1 : Kemampuan Menghasilkan Ide Baru Seperti yang diungkapkan oleh (R. , ide-ide yang awalnya sederhana dapat berkembang melalui diskusi bersama dan akhirnya diwujudkan dalam bentuk karya nyata seperti konten media sosial, desain merchandise, hingga lomba desain internal komunitas. Hal ini sejalan dengan teori Komponen Kreativitas dari Teresa Amabile . yang menekankan bahwa kreativitas akan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung kebebasan berpikir, otonomi, dan penghargaan terhadap ide baru. Komunikasi terbuka dan iklim yang mendukung eksplorasi ide menjadi kunci berkembangnya kreativitas tersebut. (Ali, 2. Indikator 2 : Kolaborasi Anggota Dalam Proses Kreativitas Setiap anggota dilibatkan dalam proses kreatif, baik sebagai penggagas ide maupun Hal ini mengindikasikan bahwa teamwork yang dibangun komunitas ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural di mana partisipasi dan tanggung jawab bersama menjadi budaya kerja tim yang utama. Teori Collaborative Creativity oleh Sawyer . menyatakan bahwa kreativitas terbaik sering kali muncul dari kolaborasi dinamis antar individu yang saling membangun ide secara literatif, sebagaimana yang terjadi dalam komunitas ini. SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi teamwork yang diterapkan oleh komunitas Gate Jhoner 21 secara signifikan berkontribusi dalam membentuk dan meningkatkan sikap solidaritas, loyalitas, dan kreativitas anggotanya. Strategi tersebut diwujudkan melalui pembagian peran yang merata, kepemimpinan partisipatif, komunikasi yang terbuka, serta evaluasi rutin pasca kegiatan. Setiap anggota diberi ruang untuk berpartisipasi aktif, menyampaikan ide, serta terlibat dalam pengambilan keputusan, yang menciptakan rasa kebersamaan dan kepercayaan. Dalam aspek solidaritas, strategi teamwork mendorong munculnya kepedulian antaranggota, rasa memiliki, dan kerja sama yang kuat dalam setiap kegiatan. Kegiatan rutin seperti perayaan komunitas menjadi ruang yang memperkuat ikatan sosial dan nilai gotong Dalam aspek loyalitas, terbentuknya komitmen jangka panjang serta tanggung jawab anggota terhadap keberlangsungan komunitas menunjukkan bahwa ikatan emosional menjadi Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. ADimaz Widya Syahputra1. Sumartik2*. Vera Firdaus3 penggerak utama dalam mempertahankan partisipasi aktif, bahkan di tengah kesibukan pribadi Sedangkan dalam aspek kreativitas, komunitas ini berhasil membangun lingkungan yang mendukung kebebasan berekspresi, memfasilitasi kolaborasi dalam ide, serta mendorong eksplorasi gagasan melalui kegiatan seperti pembuatan konten visual, desain, dan lomba kreatif. Strategi teamwork menjadi fondasi terciptanya inovasi yang relevan dan berkelanjutan. Dari temuan tersebut, implikasi manajerial yang dapat diambil adalah bahwa komunitas atau organisasi yang ingin meningkatkan loyalitas dan kreativitas anggotanya perlu menciptakan lingkungan yang mendukung kerja sama tim secara sehat. Praktik pembagian peran yang adil dan pemberian ruang bagi inisiatif anggota. Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan karena belum menggunakan pendekatan kuantitatif sehingga belum dapat mengukur secara numerik tingkat solidaritas, loyalitas, dan kreativitas anggota. Selain itu, data yang dikumpulkan bersifat kontekstual dan kualitatif, sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasi secara luas ke semua komunitas serupa. Penelitian ini juga hanya berfokus pada satu komunitas dalam satu wilayah, yang dapat membatasi keberagaman perspektif. Melihat keterbatasan dalam penelitian ini, disarankan agar penelitian selanjutnya dapat menggabungkan pendekatan kuantitatif untuk mengukur tingkat solidaritas, loyalitas, dan kreativitas anggota secara lebih terukur dan objektif. Dengan menggunakan instrumen survei atau kuesioner, peneliti selanjutnya dapat memperoleh data numerik yang dapat diuji secara statistik untuk memperkuat hasil temuan. REFERENSI