Original Research HIJP : HEALTH INFORMATION JURNAL PENELITIAN Efektivitas Konseling terhadap Pengambilan Keputusan Penggunaan Kontrasepsi pada Ibu Postpartum Effectiveness of Counseling on Decision Contraceptive Use among Postpartum Mothers Ilsa Arfiyana1. Faizah Betty Rahayuningsih*2 Program Studi Ilmu Keperawatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia. *Email korespondensi: fbr200@ums. Kata kunci: Kontrasepsi. Konseling. Pengambilan Keputusan. Postpartum. Keywords: Contraception. Counseling. Decision-Making. Postpartum. Poltekkes Kemenkes Kendari. Indonesia ISSN : 2085-0840 ISSN-e : 2622-5905 Periodicity : Bianual vol. 17 no. jurnaldanhakcipta@poltekkes-kdi. Received : 29 Oktober 2025 Accepted : 19 Desember 2025 Funding source: Universitas Muhammadiyah Surakarta DOI : 10. 36990/hijp. URL : https://myjurnal. id/index. php/HIJP Contract number: - Making Regarding Ringkasan: Latar belakang: Penggunaan kontrasepsi postpartum di Indonesia belum optimal, meningkatkan risiko kehamilan berjarak dekat. Tujuan: Menilai pengaruh konseling kontrasepsi berulang terhadap pengetahuan dan pengambilan keputusan ibu Metode: Quasi-experimental pretestposttest with control group pada 90 ibu postpartum . perlakuan, 45 kontro. dipilih purposive di Kabupaten Sragen. Kelompok perlakuan mendapat lima sesi konseling (A25 menit sesi awal. A15-20 menit sesi lanjuta. , kelompok kontrol tanpa intervensi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi (Cronbach's =0,. Hasil: Skor kelompok perlakuan meningkat signifikan . ,11A1,50 menjadi 12,11A1,48. p<0,001. d=0,. dibanding kontrol . ,82A1,84 menjadi 10,38A1,. Pengambilan keputusan meningkat bermakna hanya pada kelompok perlakuan . ,91A2,46 menjadi 20,91A2,29. p<0,001. d=0,. , disertai peningkatan penggunaan MKJP (IUD 28,9%). Simpulan: Konseling meningkatkan pengetahuan dan pengambilan keputusan kontrasepsi postpartum. Saran: Direkomendasikan integrasi konseling terstruktur dalam pelayanan masa nifas dengan evaluasi berkala. Abstract: Background: The use of postpartum contraceptives in Indonesia is not optimal, increasing the risk of short-term Objective: To assess the effect of repeated contraceptive counseling on postpartum maternal knowledge and decision-making. Methods: Quasi-experimental pretest-posttest with control group in 90 postpartum mothers . treatments, 45 control. selected purposive in Sragen Regency. The treatment group received five counseling sessions (A25 minutes initial session. A1520 minutes follow-up sessio. , control group without intervention. Data were collected using a validated questionnaire (Cronbach's =0. Results: The knowledge score of the treatment group increased significantly . 11A1. 50 to 12. 11A1. p<0. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 369 d=0. compared to the control . 82A1. 84 to 10. 38A1. Decision-making increased significantly only in the treatment group . 91A2. 46 to 20. 91A2. p<0. d=0. , accompanied by an increase in the use of MKJP (IUD 9%). Conclusions: Repeated counseling is effective in improving knowledge and decision-making of postpartum Suggestions: It is recommended to integrate structured counseling in postpartum services with periodic PENDAHULUAN Kesehatan ibu merupakan indikator utama dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat dan menjadi fokus penting dalam pembangunan kesehatan. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tergolong tinggi, yaitu sebesar 305 per 100. kelahiran hidup. Kondisi ini mencerminkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu, khususnya pada periode setelah persalinan, masih memerlukan penguatan secara berkelanjutan. Masa postpartum merupakan periode kritis karena ibu mengalami perubahan fisiologis, psikologis, dan sosial yang signifikan. Pada fase ini, ibu membutuhkan pemulihan yang optimal sekaligus dukungan dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan reproduksi. Salah satu keputusan penting pada masa postpartum adalah penggunaan kontrasepsi. Kehamilan yang terjadi terlalu cepat setelah persalinan diketahui dapat meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu dan bayi, sehingga penggunaan kontrasepsi postpartum menjadi komponen penting dalam upaya menjaga kesehatan ibu dan anak (Sulastri et al. , 2019. Al Rehaili et al. , 2. Pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi pada masa postpartum merupakan proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat pengetahuan ibu, kondisi kesehatan, status menyusui, pengalaman penggunaan kontrasepsi sebelumnya, serta dukungan pasangan dan tenaga kesehatan. Ketidakcukupan informasi dan kurangnya pendampingan dapat menyebabkan ibu ragu atau menunda penggunaan kontrasepsi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kehamilan yang tidak direncanakan. Ada periode ini, ibu postpartum dihadapkan pada kebutuhan untuk mengambil keputusan terkait penggunaan kontrasepsi, sementara preferensi dan kebutuhan kontrasepsi bersifat dinamis serta dipengaruhi oleh nilai, pengalaman, dan kondisi pribadi yang berubah sejak masa kehamilan hingga postpartum (Rahayuningsih 2021. Pratiwi et al. , 2. Konseling kontrasepsi postpartum merupakan strategi pelayanan kesehatan yang berperan penting dalam membantu ibu memahami pilihan metode kontrasepsi secara komprehensif serta mengambil keputusan secara sadar dan rasional. Konseling yang dilakukan secara terstruktur dan komunikatif tidak hanya memberikan informasi mengenai jenis, manfaat, dan efek samping kontrasepsi, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kemandirian ibu dalam menentukan pilihan metode kontrasepsi yang sesuai kebutuhan reproduksinya (Budiarti & Santi, 2023. Maya Maftuha et , 2. Cakupan penggunaan kontrasepsi merupakan upaya strategis nasional dalam pengendalian pertumbuhan penduduk dan peningkatan kesehatan ibu dan keluarga. Dalam kerangka Program Bangga Kencana. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menetapkan peningkatan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) sebagai indikator kinerja utama karena efektivitas dan keberlanjutannya yang lebih tinggi dibandingkan metode non-MKJP. Berdasarkan Indikator Kinerja Utama (IKU) (BKKBN, 2. , target nasional penggunaan MKJP ditetapkan sebesar 28,39% dari peserta KB aktif. Namun, pada tahun 2023 capaian penggunaan MKJP secara Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 370 nasional baru mencapai sekitar 23,64%, sementara lebih dari 76% peserta KB masih menggunakan metode non-MKJP. Selain itu, prevalensi penggunaan kontrasepsi modern tercatat 60,4% dan angka unmet need KB masih relatif tinggi, yaitu 11,5%, yang menunjukkan bahwa kualitas pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang belum sepenuhnya optimal. Rendahnya proporsi penggunaan MKJP tersebut mengindikasikan bahwa sebagian ibu postpartum belum memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai efektivitas dan keamanan metode kontrasepsi yang tersedia. Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan konseling kontrasepsi postpartum sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan ibu nifas, agar ibu mampu mengambil keputusan penggunaan kontrasepsi berdasarkan informasi yang benar dan sesuai dengan kondisi kesehatannya (Ernawati et al. , 2022. Sey-Sawo et al. , 2. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa konseling kontrasepsi dapat meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pilihan metode kontrasepsi. Namun, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada aspek pengetahuan, belum secara spesifik menilai pengaruh konseling terhadap kemampuan pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi pada ibu postpartum. Selain itu, penelitian dengan desain intervensi yang membandingkan kelompok ibu postpartum yang mendapatkan konseling dan yang tidak mendapatkan konseling masih terbatas, khususnya pada tingkat pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah Kabupaten Sragen (Safiroh & Puspitasari, 2023. Putri et , 2. Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat pengetahuan dan kemampuan pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi antara ibu postpartum yang mendapatkan konseling dan yang tidak mendapatkan konseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran konseling kontrasepsi terhadap tingkat pengetahuan dan kemampuan pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi pada ibu postpartum. Penelitian ini menggunakan desain komparatif, dan hasilnya diharapkan memberikan bukti empiris mengenai efektivitas konseling kontrasepsi dalam mendukung pengambilan keputusan yang sadar, rasional, dan berkelanjutan. METODE Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan desain control group pre-test post-test untuk menilai efektivitas konseling terhadap pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi pada ibu Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Miri dan Tlogowungu. Kabupaten Sragen. Jawa Tengah, pada tanggal 7 Agustus sampai dengan 20 September 2025. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu postpartum di wilayah kerja Puskesmas Miri dan Puskesmas Tlogowungu. Sampel berjumlah 90 responden, terdiri dari 45 kelompok perlakuan dan 45 kelompok kontrol, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi meliputi ibu postpartum usia 18Ae50 tahun, kondisi fisik dan psikologis stabil, belum menentukan pilihan kontrasepsi, serta bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi mencakup ibu dengan gangguan komunikasi, kondisi medis berat, atau telah menggunakan kontrasepsi sebelumnya. Teknik ini dipilih agar intervensi konseling tepat sasaran. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 371 Pengumpulan Data Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas isi oleh pakar dan diuji coba pada 30 ibu postpartum, seluruh item dinyatakan valid dengan korelasi di atas r tabel 0,361 dan reliabel dengan CronbachAos Alpha 0,812 yang menunjukkan konsistensi internal baik. Kuesioner terdiri atas 20 butir, meliputi 15 item pengetahuan kontrasepsi postpartum . enarAesala. dan 5 item pengambilan keputusan berskala Likert 1Ae5. Pengumpulan data dilakukan melalui kunjungan rumah. kelompok perlakuan menerima konseling kontrasepsi audiovisual lima sesi, sedangkan kelompok kontrol hanya diukur pre-test dan post-test tanpa konseling. Pengukuran awal dan akhir menilai perubahan pengetahuan dan pengambilan keputusan, dengan sesi lanjutan konseling dua arah secara individual pada kelompok perlakuan, tingkat kepatuhan intervensi di atas 90%, tanpa drop out. Pengumpulan data dilakukan peneliti dan enumerator terlatih setelah penjelasan tujuan penelitian dan pemberian persetujuan tertulis responden. Bahan dan Alat Penelitian ini menggunakan media edukasi berupa video konseling kontrasepsi postpartum berjudul AuSatu Langkah Bijak Setelah Melahirkan: Kenali dan Pilih Kontrasepsi yang TepatAy. Video edukasi tersebut juga telah diunggah pada platform YouTube sebagai sarana pendukung edukasi publik dan dokumentasi penelitian, yang dapat diakses melalui tautan berikut : https://youtu. be/vXLeT-atqI?si=gTllI-DlFfvoYtn_. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan dan pengambilan keputusan kontrasepsi postpartum. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 24. Persetujuan Etik Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan nomor 5786/B. 1/KEPK-FKUMS/Vi/2025 tanggal 6 Agustus 2025, serta telah memperhatikan prinsip kerahasiaan identitas dan hak partisipasi responden. Pengolahan dan Analisis Data Data dianalisis menggunakan SPSS versi 24. Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi karakteristik responden meliputi usia, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, dan pengalaman KB. Analisis bivariat digunakan untuk menguji perbedaan pengetahuan dan sikap responden sebelum dan sesudah intervensi, serta membandingkan peningkatan pengetahuan dan sikap antara kelompok perlakuan dan kontrol. HASIL Karakteristik Responden Penelitian ini melibatkan 90 ibu postpartum sebagai responden, yang terbagi secara seimbang menjadi 45 peserta pada kelompok perlakuan dan 45 peserta pada kelompok kontrol. Karakteristik yang dikaji mencakup usia, domisili desa, tingkat pendidikan, status pekerjaan, jumlah anak, riwayat penggunaan kontrasepsi, serta jenis kontrasepsi yang dipilih. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 372 Tabel 1. Karakteristik Demografi Responden Variable Usia 17Ae20 th 21Ae25 th 26Ae30 th 31Ae35 th 36Ae40 th > 40 th Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Pekerjaan Swasta Guru Staf notaris Penjahit Wiraswasta Ibu rumah tangga Jumlah Anak 1 anak 2 anak 3 anak Ou4 anak Pengalaman Menggunakan KB Belum pernah Pernah KB Jenis Kontrasepsi yang Digunakan Tidak Pernah Pil KB Suntik KB IUD Perlakuan . Kontrol . 8,9% 13,3% 4,4% 2,2% 6,7% 13,3% 51,1% 80,0% 15,6% 4,4% 0,0% 0,0% 0,0% 0,0% Berdasarkan Tabel 1, menunjukkan karakteristik sampel pada kelompok perlakuan . dan kontrol . Mayoritas responden berada pada usia 26Ae30 tahun . ,2% perlakuan. 37,8% kontro. dan berpendidikan SMA . ,0% perlakuan. 51,1% kontro. Perbedaan terlihat pada pekerjaan, di mana kelompok kontrol mayoritas buruh . ,0%), sedangkan kelompok perlakuan lebih beragam, termasuk ibu rumah tangga . ,1%), wiraswasta . ,3%), dan penjahit . ,7%). Sebagian besar responden memiliki 1Ae2 anak . anak: 44,4% di kedua kelompok. 2 anak: 35,6% perlakuan, 44,4% kontro. Pengalaman menggunakan KB juga berbeda, dengan 53,3% responden di kelompok perlakuan dan 42,2% di kelompok kontrol pernah menggunakan kontrasepsi. Jenis kontrasepsi yang digunakan pada kelompok perlakuan paling banyak suntik KB . ,8%) dan IUD . ,8%), sementara kelompok kontrol mayoritas belum pernah menggunakan kontrasepsi . ,8%) dan 22,2% menggunakan pil KB. Analisis Univariat Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui pengaruh konseling terhadap peningkatan pengetahuan dan kemampuan pengambilan keputusan ibu postpartum dalam penggunaan kontrasepsi. Analisis ini menggunakan uji Paired Sample t-test untuk menilai perbedaan skor sebelum dan sesudah Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 373 intervensi dalam masing-masing kelompok, serta uji Independent Sample t-test untuk membandingkan hasil post-test antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Tabel 2. Distribusi Statistik dan Kategori Pengetahuan Ibu Postpartum Kelompok Waktu Pengukuran Mean A i Mean CohenAos Min Max Baik . Ae. Cukup . Ae. Kurang (O. Perlakuan Pre-test 7Ae14 . Post-test (Ic40%) 9Ae15 . Pre-test 5Ae13 . Post-test (Ic17. 7Ae14 . Kontrol Berdasarkan Tabel 2, kelompok perlakuan menunjukkan peningkatan mean sebesar 2,00 poin (Ic40%) dengan nilai CohenAos d 1,35 yang mengindikasikan efek besar, sedangkan kelompok kontrol mengalami peningkatan mean sebesar 1,56 poin (Ic17,8%) dengan CohenAos d 0,85 . fek besa. Secara kategori, terjadi pergeseran proporsi responden dari kategori AucukupAy dan AukurangAy ke kategori AubaikAy pada kedua kelompok, namun peningkatan proporsi kategori AubaikAy lebih dominan pada kelompok Tabel 3. Distribusi Statistik dan Kategori Pengambilan Keputusan Ibu Postpartum Kelompok Waktu Pengukuran Mean A SD MinAeMax Baik . Ae. Cukup . Ae. Kurang (O. Pre-test 91 A 2. 15Ae25 10 . Post-test 91 A 2. 17Ae25 27 . Pre-test 51 A 3. 11Ae24 12 . Post-test 67 A 3. 11Ae24 14 . Perlakuan Kontrol Berdasarkan Tabel 3, kelompok perlakuan menunjukkan peningkatan kemampuan pengambilan keputusan ibu postpartum, ditandai dengan kenaikan kategori baik dari 22,2% menjadi 60,0% dan penurunan kategori kurang dari 15,6% menjadi 4,4%. Pada kelompok kontrol, perubahan yang terjadi relatif keci. Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Keputusan Penggunaan Kontrasepsi Kelompok Perlakuan Kontrol Keputusan Penggunaan Kontrasepsi Tidak menggunakan Menggunakan Tidak menggunakan Menggunakan Pre-test n (%) Post-test n (%) 20 . Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 374 Berdasarkan Tabel 4, menunjukkan pada kelompok perlakuan terjadi peningkatan proporsi penggunaan kontrasepsi dari 55,6% pada pre-test menjadi 91,1% pada post-test. Sebaliknya, pada kelompok kontrol tidak terjadi perubahan, di mana proporsi penggunaan kontrasepsi tetap 46,7% sebelum dan sesudah pengukuran. Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Menggunakan Kontrasepsi Metode Kontrasepsi Tidak Pil KB Suntik KB IUD Kondom Steril Implan Perlakuan Pretest n (%) Perlakuan Post-test n (%) Kontrol Pretest n (%) Kontrol Post-test n (%) 20 . Berdasarkan Tabel 5. Pada kelompok perlakuan, proporsi ibu postpartum yang tidak menggunakan kontrasepsi menurun dari 44,4% pada pre-test menjadi 8,9% pada post-test. Penggunaan IUD meningkat dari 17,8% menjadi 46,7%, dan implan dari 0% menjadi 13,3%, sementara penggunaan suntik KB menurun dari 37,8% menjadi 31,1%. Pada kelompok kontrol, distribusi metode kontrasepsi tidak mengalami perubahan, di mana ibu yang tidak menggunakan kontrasepsi tetap 53,3%, penggunaan suntik KB 26,7%. IUD 8,9%, pil KB 6,7%, kondom 2,2%, dan steril 2,2% pada pre-test maupun post-test. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-test dan Independent Sample t-test untuk mengetahui pengaruh konseling terhadap peningkatan pengetahuan dan pengambilan keputusan ibu postpartum dalam penggunaan kontrasepsi. Tabel 6. Hasil Uji Paired Sample t-test pada Kelompok Perlakuan dan Kontrol Pasangan Variabel Mean Pre Mean Post Pengetahuan (Kelompok 10,11 12,11 Perlakua. Pengetahuan 2 (Kelompok 8,82 10,38 Kontro. Pengambilan Keputusan 18,91 20,91 (Kelompok Perlakua. Pengambilan Keputusan 17,51 17,67 (Kelompok Kontro. Keterangan : Signifikan jika p < 0,05 Selisih (Mean Diff. Selisih Sig. 2,00 0,213 62,929 0,000 0,85 . 1,56 1,271 8,208 0,000 0,40 . 2,00 0,369 36,332 0,000 0,79 . 0,16 2,383 0,438 0,664 0,03 . Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 CohenAos Page | 375 Berdasarkan Tabel 6. Berdasarkan hasil uji Paired Sample t-test, terdapat peningkatan pengetahuan dari 10,11 menjadi 12,11 . = 2,. dan pengambilan keputusan dari 18,91 menjadi 20,91 . = 2,. menunjukkan efek yang besar berdasarkan nilai CohenAos d . = 0,85 dan d = 0,. Pada kelompok kontrol, peningkatan pengetahuan dari 8,82 menjadi 10,38 . = 1,. juga signifikan secara statistik . < 0,. namun dengan efek sedang . = 0,. Sebaliknya, perubahan pada pengambilan keputusan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna . = 0,. dengan ukuran efek yang sangat kecil . = 0,. Tabel 7. Hasil Uji Independent Sample t-test antara Kelompok Perlakuan dan Kontrol Variabel Mean Perlakuan Mean Kontrol Selisih (Mean Diff. Sig. -taile. Pengetahuan (Post-tes. 12,11 10,38 1,73 5,54 0,000 Pengambilan Keputusan (Post-tes. 20,91 17,67 3,24 5,13 0,000 CohenAos 1,17 . 1,08 . Keterangan : Signifikan jika p < 0,05. Berdasarkan Tabel 7. Hasil analisis menunjukkan rata-rata skor pengetahuan pada kelompok perlakuan sebesar 12,11, lebih tinggi daripada kelompok kontrol yang hanya 10,38, dengan selisih mean 1,73. Uji t menunjukkan nilai t = 5,54, df = 88, dan p = 0,000, sementara besarnya efek (CohenAos . sebesar 1,17, yang tergolong besar. Hal ini menunjukkan bahwa konseling efektif meningkatkan pengetahuan ibu postpartum. Selain itu, pengambilan keputusan juga menunjukkan hasil yang Kelompok perlakuan memiliki rata-rata skor 20,91, lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol 17,67, dengan selisih mean 3,24. Uji t menghasilkan t = 5,13, df = 88, p = 0,000, dengan CohenAos d sebesar 1,08 . , menandakan konseling memberikan pengaruh kuat terhadap kemampuan ibu dalam mengambil keputusan penggunaan kontrasepsi. PEMBAHASAN Karakteristik Responden Penelitian ini melibatkan 90 ibu postpartum yang dibagi secara seimbang menjadi dua kelompok, yaitu 45 responden pada kelompok perlakuan dan 45 responden pada kelompok kontrol. Berdasarkan Tabel 1, mayoritas responden berada pada usia produktif 26Ae30 tahun . %), berpendidikan SMA . ,6%), bekerja sebagai buruh . ,4%), serta memiliki 1Ae2 anak . ,4%). Karakteristik ini menunjukkan bahwa responden berada pada fase awal pembentukan keluarga dengan kematangan kognitif yang baik, namun masih memiliki keterbatasan akses dan pengalaman terkait penggunaan kontrasepsi, yang ditunjukkan oleh lebih dari separuh responden belum pernah menggunakan KB sebelumnya (Rahayuningsih, 2023. Nyoman Tutiari et al. , 2. Kondisi sosiodemografi tersebut mencerminkan kebutuhan nyata akan edukasi dan konseling kontrasepsi postpartum yang terstruktur, terutama bagi ibu dengan latar sosial ekonomi menengah ke bawah yang cenderung memiliki keterbatasan waktu dan akses informasi. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa usia produktif dan pendidikan menengah mendukung penerimaan edukasi Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 376 kesehatan reproduksi, sementara keterbatasan pengalaman dan dukungan lingkungan dapat menghambat pengambilan keputusan kontrasepsi yang optimal tanpa pendampingan konseling yang memadai (Rahwanti Megasari & Rahayuningsih, 2018. Wulandari, 2. Pengaruh Konseling terhadap Pengetahuan Hasil Tabel 2, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan pada kedua kelompok, namun peningkatan yang lebih besar terjadi pada kelompok perlakuan. Rata-rata skor pengetahuan pada kelompok perlakuan meningkat dari 10,11 pada pre-test menjadi 12,11 pada post-test, dengan selisih rata-rata . sebesar 2,00 poin. Sementara itu, kelompok kontrol hanya mengalami peningkatan dari 8,82 menjadi 10,38 dengan selisih rata-rata 1,56 poin. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa konseling memberikan kontribusi tambahan terhadap peningkatan pengetahuan ibu postpartum dibandingkan tanpa konseling. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa konseling terstruktur dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan ibu mengenai kesehatan reproduksi dan pilihan kontrasepsi (Yuniarsih & Rahayuningsih. Tran et al. , 2. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan pada kelompok perlakuan bersifat signifikan . = 0,. dan didukung oleh ukuran efek yang besar (CohenAos d = 0,. Nilai effect size ini menunjukkan bahwa konseling memiliki dampak praktis yang kuat terhadap peningkatan pengetahuan, tidak hanya bermakna secara statistik tetapi juga relevan secara klinis. Pendekatan berulang seperti ini memperkuat daya ingat dan pemahaman ibu terhadap materi yang diberikan. Pola reinforcement dari pertemuan ke pertemuan membuat informasi yang diterima lebih mudah Konseling berulang terbukti lebih efektif dibandingkan konseling satu kali karena memberi waktu bagi peserta untuk memproses informasi, berdiskusi, dan memantapkan pilihan (Wu et al. , 2020. Payakachat et al. , 2. Pengaruh Konseling terhadap Pengambilan Keputusan Hasil berdasarkan Tabel 3, kemampuan pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi pada kelompok perlakuan mengalami peningkatan yang bermakna setelah diberikan konseling. Rata-rata skor pengambilan keputusan meningkat dari 18,91 A 2,46 pada pre-test menjadi 20,91 A 2,29 pada posttest, dengan selisih skor sebesar 2,00 poin. Uji Paired Sample t-test menunjukkan bahwa peningkatan tersebut signifikan secara statistik . = 0,. Sebaliknya, pada kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan bermakna, dengan skor rata-rata relatif stabil dari 17,51 A 3,19 menjadi 17,67 A 3,18 . = 0,. Konseling intensif memberi kesempatan bagi ibu untuk mengidentifikasi kebutuhan pribadi, menilai manfaat setiap metode, dan berdiskusi secara lebih mendalam dengan tenaga kesehatan (Dehlendorf et al. , 2013. Ernawati et al. , 2. Perbedaan antar kelompok juga terlihat jelas pada hasil post-test, di mana skor pengambilan keputusan kelompok perlakuan . secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol . , dengan selisih rata-rata 3,24 poin . = 0,000. Tabel . Temuan ini menunjukkan bahwa konseling berperan dalam meningkatkan skor pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi, dan peningkatan tersebut tidak terjadi secara alami tanpa intervensi konseling. Selain peningkatan kemampuan kognitif, konseling bertahap juga menumbuhkan kesadaran afektif dan motivasi dalam berpartisipasi aktif dalam program keluarga berencana. Melalui komunikasi dua arah yang konsisten, dapat meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menunjukkan peningkatan kualitas pemahaman dan kesadaran ibu dalam mengelola kesehatan reproduksi secara mandiri (Palinggi et al. , 2021. Ismawati. Kurnia, 2. Selain peningkatan skor keputusan, perubahan perilaku aktual juga tercermin pada Tabel 4, di mana proporsi ibu postpartum yang memutuskan menggunakan kontrasepsi pada kelompok perlakuan Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 377 meningkat dari 55,6% menjadi 91,1%, sementara pada kelompok kontrol tidak terjadi perubahan . etap 46,7%). Data ini memperkuat bahwa peningkatan skor pengambilan keputusan beriringan dengan perubahan keputusan penggunaan kontrasepsi secara nyata. Konseling yang dilakukan berulang mendorong pembentukan keyakinan diri dalam menentukan metode kontrasepsi. Pada awalnya ibu mungkin hanya memiliki sedikit informasi, namun melalui pertemuan berikutnya mereka mulai memahami dan menilai kesesuaian setiap pilihan dengan kondisi fisik maupun sosial mereka. Interaksi berulang dengan petugas kesehatan juga memperkuat rasa percaya diri ibu dalam mengambil keputusan (Dev et al. , 2019. Pratiwi et al. , 2. Perubahan Perilaku dan Jenis Kontrasepsi yang Digunakan Berdasarkan Tabel 4, proporsi ibu postpartum yang menggunakan kontrasepsi pada kelompok perlakuan meningkat secara signifikan setelah diberikan konseling, dari 55,6% pada pre-test menjadi 91,1% pada post-test. Sebaliknya, pada kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan proporsi penggunaan kontrasepsi . etap 46,7%). Temuan ini menunjukkan bahwa konseling berulang tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan pengambilan keputusan, tetapi juga berdampak nyata pada perilaku penggunaan kontrasepsi. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa peningkatan pemahaman melalui edukasi dapat mendorong perubahan perilaku kesehatan (Efendi et al. , 2. Selain itu, konseling juga mendorong pergeseran preferensi ke Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Berdasarkan Tabel 5, penggunaan IUD pada kelompok perlakuan meningkat dari 17,8% menjadi 46,7%, dan penggunaan implan meningkat dari 0% menjadi 13,3%, sementara kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna. Pergeseran ini menunjukkan bahwa konseling komprehensif membantu ibu postpartum memahami efektivitas dan kesesuaian MKJP dengan kondisi postpartum. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa konseling kontrasepsi yang komprehensif dapat meningkatkan penerimaan MKJP dengan membantu klien memahami karakteristik metode, efektivitas, serta kesesuaiannya dengan kondisi postpartum (Wulandari et al. , 2021. Charurat et al. , 2020. Tran et al. , 2. Keputusan menggunakan MKJP menggambarkan keberhasilan pendekatan konseling yang berfokus pada pemberdayaan ibu. Melalui penguatan informasi di setiap pertemuan, ibu tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pengambil keputusan aktif dalam perencanaan keluarganya. Hasil ini menegaskan pentingnya komunikasi yang berkesinambungan antara tenaga kesehatan dan ibu dalam membangun kepercayaan terhadap metode kontrasepsi modern (Eristu et al. , 2024. Essential Access Health, 2. Efektivitas Konseling Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan bahwa konseling kontrasepsi selama lima sesi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi pada ibu postpartum. Pada kelompok perlakuan, terjadi peningkatan bermakna pada skor pengetahuan . ean 10,11 menjadi 12,. dan pengambilan keputusan . ,91 menjadi 20,. dengan nilai p = 0,000. Sebaliknya, pada kelompok kontrol hanya ditemukan peningkatan pengetahuan, sementara pengambilan keputusan tidak menunjukkan perubahan signifikan . = 0,. Hasil Independent Sample t-test pasca intervensi memperkuat temuan tersebut, di mana kelompok perlakuan memiliki skor pengetahuan dan pengambilan keputusan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol . = 0,. Besarnya pengaruh konseling tergolong besar, ditunjukkan oleh nilai effect size CohenAos d sebesar 0,85 untuk pengetahuan dan 0,79 untuk pengambilan Temuan ini mengindikasikan bahwa konseling lima sesi tidak hanya signifikan secara statistik, tetapi juga memiliki dampak praktis yang kuat. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 378 Efektivitas konseling dipengaruhi oleh Pendekatan bertahap memungkinkan tenaga kesehatan menilai perkembangan pemahaman ibu dari waktu ke waktu dan memberikan umpan balik yang sesuai (Herlinadiyaningsih et al. , 2023. Tran et al. , 2024. Charurat et al. , 2. Selain aspek edukatif, dukungan pasangan dan lingkungan juga berperan memperkuat hasil konseling. Ibu yang mendapatkan dukungan dari suami menunjukkan peningkatan lebih cepat dalam pengambilan keputusan karena proses diskusi keluarga menjadi lebih terbuka dan saling mendukung (Laksono et al. , 2025. Aventin, 2. Efektivitas konseling pada penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian edukasi berbasis komunikasi dua arah dan pemahaman kebutuhan klien lebih berdampak daripada pendekatan edukasi satu arah. Konseling yang berulang, komunikatif, dan terencana meningkatkan kemampuan ibu postpartum dalam membuat keputusan dan berkelanjutan (Indrawati & Ulfiana, 2022. McCorry, 2022. Nurmiaty, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Konseling kontrasepsi berulang meningkatkan pengetahuan dan pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi pada ibu postpartum, dengan peningkatan skor pengetahuan . =2,00. p=0,000. d=1,. dan pengambilan keputusan . =2,00. p=0,000. d=1,. pada kelompok perlakuan, sementara pada kelompok kontrol peningkatan pengambilan keputusan tidak bermakna . =0,. Intervensi ini juga diikuti oleh pergeseran pilihan ke Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), terutama IUD ( 28,9%) dan implan ( 13,3%). Berdasarkan temuan tersebut, konseling kontrasepsi berulang dan terstruktur direkomendasikan untuk diintegrasikan dalam pelayanan masa nifas oleh tenaga kesehatan, disertai evaluasi berkala guna mendukung pengambilan keputusan kontrasepsi yang lebih optimal pada ibu postpartum. REKOMENDASI Penelitian lanjutan sebaiknya menggunakan desain Randomized Controlled Trial (RCT) dengan randomisasi yang ketat untuk meminimalkan bias seleksi yang inheren pada purposive sampling. Perhitungan power analysis a priori wajib dilakukan untuk memastikan keadekuatan sampel dan deteksi efek yang valid. Blinding pada peneliti dan analis data perlu dipertimbangkan untuk mengurangi detection bias, meskipun blinding partisipan sulit dilakukan pada intervensi behavioral. PERNYATAAN Ucapan Terimakasih Kami mengucapkan terimakasih kepada Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surakarta atas kesempatan untuk melakukan penelitian dan kepada Kepala Puskesmas Miri Kabupaten Sragen dan Kepala Puskesmas Tlogowungu Kabupaten Pati Jawa Tengah Indonesia atas terlaksananya penelitian ini Pendanaan Seluruh pendanaan dalam penelitian ini menggunakan dana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 379 Kontribusi Setiap Penulis Masing-masing penulis berkontribusi dalam keberlangsungan penelitian ini, baik dalam proses observasi awal, saat penelitian berlangsung, hingga proses pengolahan dan analisis data. Pernyataan Konflik Kepentingan Tidak ada konflik kepentingan dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA