Jurnal Kesehatan Budi Luhur. Vol. No. Juli, 2022 p-ISSN 1978-8479 e-ISSN 2581-0111 INTERVENSI KEPERAWATAN: STORYTELLING UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN ANAK USIA PRA SEKOLAH YANG MENJALANI PERAWATAN DI RUMAH SAKIT Mochamad Salman Hasbyalloh . Program Studi D i Keperawatan. STIKes Budi Luhur. Cimahi. Indonesia Abstrak Tahun 2010 di Indonesia terdapat sebanyak 33,2% dari 1. 425 anak mengalami dampak kecemasan akibat hospitalisasi berat, 41,6% mengalami kecemasan sedang, dan 25,2% mengalami kecemasan ringan. Penyebab stres yang utama pada anak-anak yang mengalami hospitalisasi adalah adanya perpisahan dengan orang tua, tidak bisa mengendalikan diri, adanya cedera pada tubuh, serta nyeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan storytelling dalam menurunkan kecemasan . kibat reaksi hospitalisas. anak yang menjalani hospitalisasi di ruang anak Lukmanul Hakim RSUD Al Ihsan Baleendah. Penelitian ini menggunakan metode quasi ekperimen dengan rancangan pre dan posttest design. Populasi penelitian ini semua anak usia prasekolah . tahun yang dirawat di Rumah Sakit dan sampel sebanyak 15 responden. Hasil pada pretest didapatkan nilai rata-rata 8,53 . ase putus as. , hasil posttest didapatkan nilai rata-rata 6 . ase prote. , terdapat penurunan sebanyak 0,27. Hasil uji statistik menggunakan uji-t berpasangan didapatkan nilai p-value 0,001, berarti pada alpha 5% terlihat ada perbedaan yang signifikan antara skor kecemasan sebelum dan setelah diberikan intervensi storytelling. Artinya, ada pengaruh yang signifikan antara skor kecemasan anak sebelum dan setelah diberikan intervensi. Terapi bermain berupa storytelling dapat dijadikan alternatif dalam menurunkan kecemasan akibat reaksi hospitalisasi pada anak usia pra sekolah yang dirawat. Kata Kunci : Hospitalisasi. Kecemasan. Storytelling NURSING INTERVENTION: STORYTELLING TO REDUCE ANXIETY IN PRESCHOOL-AGED CHILDREN UNDERGOING HOSPITAL TREATMENT Abstract In 2010 in Indonesia, 33. 2% of 1,425 children experienced the effects of anxiety due to severe hospitalization, 41. 6% experienced moderate anxiety, and 25. 2% experienced mild anxiety. The main causes of stress in children on hospitalization are separation from parents, inability to control themselves, injuries to the body, and pain. The purpose of this study was to determine the effectiveness of storytelling in reducing anxiety . ue to hospitalization reaction. of children on hospitalization in the Lukmanul Hakim children's room at Al Ihsan Baleendah Hospital. This study used a quasi-experimental method with pre and posttest designs. The population of this study were all preschool children . years who were hospitalized and a sample of 15 The results in the pretest obtained an average value of 8. esperate phas. posttest obtained an average value of 6 . rotest phas. , there was a decrease of 0. The results of the statistical test using paired t-test obtained a p-value of 0. 001, at 5% alpha there was a significant difference between the anxiety scores before and after the storytelling intervention was given. That is, there is a significant effect between children's anxiety scores before and after the intervention. Play therapy in the form of storytelling can be used as an alternative in reducing anxiety due to hospitalization reactions in pre-school age children who are treated. Keywords : Hospitalization. Anxiety. Storytelling Korespondensi: Mochamad Salman Hasbyalloh Prodi D i Keperawatan. STIKes Budi Luhur Jl. Kerkof No. Leuwigajah. Cimahi Selatan. Kota Cimahi. Jawa Barat. Indonesia, 40532 0822-1730-8062 mshasbyalloh@gmail. | Intervensi Keperawatan: Storyttelling untuk Menurunkan KecemasanA Jurnal Kesehatan Budi Luhur. Vol. No. Juli, 2022 p-ISSN 1978-8479 e-ISSN 2581-0111 Pendahuluan Di Indonesia pada tahun 2010 sebanyak 33,2% dari 1. 425 anak mengalami dampak hospitalisasi berat, 41,6% mengalami hospitalisasi sedang, dan 25,2% mengalami hospitalisasi Menurut Hockenberry, 2013, ada tiga fase kecemasan yang terjadi saat anak menjalani Pertama fase protes, anak menangis, berteriak, mencari dan memegang erat orang tua, menolak bertemu dan menyerang orang yang tidak dikenal secara verbal maupun Kedua, fase putus asa ditandai dengan anak tidak aktif, menarik diri, sedih tidak tertarik pada lingkungan, tidak komunikatif, dan menolak makan atau minum. Pada fase ketiga, yaitu fase menolak anak mulai menunjukkan ketertarikan pada lingkungan dan berinteraksi dangkal dengan orang lain atau perawat. Terapi bermain telah terbukti efektif dalam mengkondisikan anak saat dirawat di rumah Bercerita merupakan satu media yang terapeutik untuk mengungkapkan perasaan anak saat mengalami kecemasan (Urifah, 2. Penelitian lain oleh Natalie, 2011, menunjukkan terapi bermain dengan menggunakan teknik bercerita berpengaruh terhadap tingkat koperatif anak usia pra sekolah selama dirawat di rumah sakit. Rekomendasi dari penelitian ini adalah agar rumah sakit menggunakan teknik bermain storytelling untuk meringankan kecemasan anak akibat reaksi hospitalisasi selama dirawat di rumah sakit. Bercerita . adalah teknik yang efektif dalam mengalihkan perhatian anak dari keadaan cemas, dengan storytelling dapat tersampaikan pesan tertentu pada anak (Supartini, 2. Menurut Nurgiyantoro, 2004, cerita dapat bermanfaat sebagai obat untuk menyembuhkan sakit Salah satu jenis terapi yang dikembangkan untuk menurunkan kecemasan seseorang adalah terapi storytelling. Terapi storytelling membuat klien tidak cemas karena adanya peran dari hipotalamus (Suyatmi, 2. Sharma, 2014, menemukan bahwa penerapan atraumatic care dengan storytelling secara signifikan dapat menurunkan kecemasan anak saat dirawat di rumah sakit. Storytelling atau mendongeng berpengaruh mengatasi gangguan tidur pada anak usia prasekolah yang mengalami hospitalisasi (Kapti, et al. , 2. Terapi mendongeng dapat dijadikan sebagai alternatif tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah keperawatan seperti distres psikologis akibat perpisahan pada anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi (Irmawaty, 2013. Susanti & Safitri, 2017. Aidillah & Somantri, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh storytelling dalam menurunkan kecemasan . kibat reaksi hospitalisas. anak yang menjalani hospitalisasi di ruang anak Lukmanul Hakim RSUD Al Ihsan Baleendah. Metode Penelitian ini merupakan penelitian quasi-eksperimen dengan pendekatan one group pretest and posttest. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh pemberian storytelling terhadap kecemasan anak usia pra sekolah yang dirawat di Paviliun Lukmanul Hakim RSUD AlIhsan Provinsi Jawa Barat kepada sebanyak 15 responden anak usia pra sekolah. Analisis data yang digunakan meliputi analisis univariat terdiri dari analisis distribusi frekuensi dan presentase untuk jenis data numerik meliputi mean, median, dan standar deviasi . kor kecemasan sebelum dan sesudah intervens. Semua data dianalisa pada tingkat kemaknaan 95% ( =0,. , analisis bivariat menggunakan uji t-dependen dan independen untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan anak sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Adapun kriteria inklusi penelitian ini adalah anak bersedia menjadi responden penelitian, anak yang dirawat berusia 3-6 tahun, lama hari perawatan antara 1-4 hari, anak yang mengalami hospitalisasi pertama kali, anak dan orang tua dapat diajak berkomunikasi secara verbal, anak dalam keadaan sadar . , orang tua mengijinkan anak mereka dijadikan responden, dan orang tua anak bisa membaca dan menulis anak mau mengikuti kegiatan storytelling dari awal sampai akhir. Sedangkan untuk kriteria ekslusi dalam penelitian ini yaitu anak tidak koperatif, anak dalam kondisi sangat lemah, anak mengalami sesak nafas, | Intervensi Keperawatan: Storyttelling untuk Menurunkan KecemasanA Jurnal Kesehatan Budi Luhur. Vol. No. Juli, 2022 p-ISSN 1978-8479 e-ISSN 2581-0111 anak mengalami penurunan kesadaran, anak mengalami gangguan visual dan pendengaran, serta anak dengan cacat mental. Intstrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah instrumen berbentuk lembar observasi yang digunakan untuk melihat tingkat kecemasan anak usia prasekolah yang dirawat di rumah sakit. Pada instrumen terdapat data nama wali, inisial anak, pengalaman rawat, lama rawat dan 14 item pernyataan kecemasan yang diadaptasi dari Teori Hockenberry dan Wilson, 2011 tentang kecemasan akibat reaksi hospitalisasi. Pengujian instrumen menggunakan uji validitas isi dengan expert judgment yang merupakan seorang perawat anak dengan pengalaman bekerja di atas 5 tahun dan seorang dosen keperawatan anak. Hasil cronbach alpha > 0,6 sehingga seluruh item pernyataan reliabel. Pada hari pertama responden diukur kecemasannya . untuk menetapkan skor awal dengan menggunakan instrumen yang telah disiapkan. Selanjutnya, responden mendapatkan perlakuan terapi bermain yaitu storytelling diberikan sebanyak dua kali dengan sesi berlangsung 30-40 menit selama dua hari. Tahap-tahap storytelling yang diberikan di antaranya . berdoa bersama untuk mengawali kegiatan, . peneliti bercerita tentang kisah Bahtera nabi Nuh AS, . peneliti memberikan penghargaan/hadiah bagi responden yang mengikuti kegiatan hingga selesai, . peneliti melakukan kontrak dengan orang tua untuk pertemuan kedua, . peneliti mengucapkan terima kasih kepada responden dan orang tua yang sudah terlibat dalam penelitian, . setelah diberikan intervensi sebanyak 2 kali responden diukur kembali tingkat kecemasannya, . setelah dilakukan pengumpulan data, kemudian peneliti melakukan pengolahan data dan analisa data, dan . tahap penyusunan laporan. Hasil Table 1. Frekuensi Kecemasan Anak Usia Prasekolah yang Menjalani Perawatan di Rumah Sakit Sebelum Diberikan Intervensi Keperawatan Storytelling Skor Kecemasan Pre test Fase Protes Fase Putus Asa Total Sumber: Data Primer, 2018 Frekwensi Persen (%) Table 2. Frekuensi Kecemasan Anak Usia Prasekolah yang Menjalani Perawatan di Rumah Sakit Setelah Diberikan Intervensi Keperawatan Storytelling Skor Kecemasan Pre test Fase Protes Fase Putus Asa Total Sumber: Data Primer, 2018 Frekwensi Persen (%) | Intervensi Keperawatan: Storyttelling untuk Menurunkan KecemasanA Jurnal Kesehatan Budi Luhur. Vol. No. Juli, 2022 p-ISSN 1978-8479 e-ISSN 2581-0111 Table 3. Pengaruh Intervensi Keperawatan: Storytelling untuk Menurunkan Kecemasan Anak Usia Prasekolah yang Menjalani Perawatan di Rumah Sakit Mean Kecemasan 8,53 3,29 . re tes. Kecemasan 3,22 . ost tes. Penurunan kecemasan p-value 0,001 0,850 0,834 2,53 Sumber: Data Primer, 2018 Hasil penelitian didapatkan bahwa rata-rata skor kecemasan kelompok kontrol pada pengukuran pertama adalah 8,53 . ase putus as. dengan standar deviasi 3,29. Pada pengukuran kedua didapat rata-rata pengukuran kedua adalah 6 . ase prote. dengan standar deviasi 3,22. Terlihat adanya penurunan skor sebanyak 2,53. Hasil uji statistik didapatkan nilai p-value 0,001, maka dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara skor kecemasan anak pengukuran pertama dan kedua pada kelompok kontrol. Pembahasan Hari pertama anak dirawat di rumah sakit, anak berada pada fase pertama yaitu fase protes. Anak masih belum merasa nyaman berada di rumah sakit. Mereka menolak kenyataan bahwa mereka harus berada di rumah sakit dengan menerima berbagai macam terapi. Belum lagi, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan, rutinitas, dan orang-orang yang baru. Bukan lagi teman yang ada untuk mengajak bermain, akan tetapi perawat dan tim medis lain yang sering datang mengunjungi mereka dan memberikan berbagai macam prosedur yang membuat stres. Hal ini mengindikasikan bahwa anak belum melewati fase adaptasi untuk mencapai tahap penerimaan, karena tahap penerimaan ini biasanya terjadi setelah anak dirawat di rumah sakit selama beberapa hari atau dalam jangka waktu lebih dari tiga hari dan tiap anak memiliki waktu adaptasi yang berbeda-beda (Hockenberry, 2. Keadaan cemas anak usia pra sekolah mengalami penurunan, anak mulai mampu beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit. Terbukti bahwa atraumatic care dengan terapi bermain mampu menurunkan kecemasan seperti yang disebutkan dalam penelitian (Breving, et , 2. Penelitian lain oleh Natalie, 2011, menunjukkan terapi bermain dengan menggunakan teknik bercerita berpengaruh terhadap tingkat kooperatif anak usia pra sekolah selama dirawat di rumah sakit. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lumbansiantar, 2012, dimana pengaruh storrytelling terhadap tingkat kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia prasekolah di RSUD Bekasi menunjukan setelah dilakukan terapi bermain storytelling pada anak yang di hospitalisasi menunjukan bahwa 21 orang . ,8%) pada kecemasan ringan, 14 orang . ,9%), tidak cemas 4 orang . ,3%), dan tidak ditemukan lagi anak yang mengalami kecemasan berat. Reaksi anak terhadap sakit dan rawat inap di rumah sakit bereda-beda pada masingmasing individu. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Perkembangan usia anak merupakan salah satu faktor utama yang dapat mempengaruhi reaksi anak terhadap sakit dan proses perawatan. Pelayanan keperawatan harus sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangannya, anak usia prasekolah mempunyai kemampuan motorik kasar dan halus yang lebih matang dari pada anak usia toddler. Anak sudah lebih aktif, kreatif dan imajinatif. Salah satu jenis permainan yang tepat diberikan pada anak saat menjalani hospitalisasi yaitu dengan membacakan cerita atau dongeng. Terapi mendongeng dapat dijadikan sebagai alternatif tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah keperawatan seperti distres | Intervensi Keperawatan: Storyttelling untuk Menurunkan KecemasanA Jurnal Kesehatan Budi Luhur. Vol. No. Juli, 2022 p-ISSN 1978-8479 e-ISSN 2581-0111 psikologis akibat perpisahan pada anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi (Irmawaty. Susanti & Safitri, 2017. Aidillah & Somantri, 2. Terapi bermain merupakan penerapan sistematis dari sekumpulan prinsip belajar terhadap suatu kondisi atau tingkah laku. Begitu pula yang di kemukakan oleh Ridha, 2014, yang menyatakan bahwa tujuan bermain di rumah sakit diantaranya adalah untuk dapat melanjutkan tumbuh kembang yang normal selama dirawat di rumah sakit, selain itu dengan bermain dapat pula mengungkapkan pikiran, perasaan, maupun fantasinya. Metode bercerita merupakan suatu cara pemberian pengalaman belajar secara lisan dengan cara bertutur kata dan menyampaikan cerita atau memberikan keterangan secara lisan yang mempunyai daya tarik dan mengandung perhatian, serta menyentuh perasaan anak. Cerita yang dipaparkan memberikan pengalaman belajar, terutama dalam hal mendengarkan dan mengungkapkan sesuatu kepada orang lain melalui bahasa. Melalui cerita, anak belajar bagaimana mengungkapkan berbagai kebutuhan dan keingunannya kepada orang lain melalui bahasa. Hal ini berpengaruh terhadap penurunan kecemasan. Hasil penelitian Aidillah & Somantri, 2016, tentang Efektifitas Terapi Mendongeng terhadap Kecemasan Anak Usia Toddler dan Prasekolah mendapatkan hasil p-value < 0,001 dengan nilai mean dibawah 7 . oddler 4,40. prasekolah 1,. dari skor awal 7Ae9 yang berarti bahwa terapi mendongeng berpengaruh dalam menurunkan skor kecemasan terhadap tindakan keperawatan, baik pada anak usia toddler maupun prasekolah. Kedua kelompok ini dapat menerima terapi dongeng sebagai aktivitas yang mampu mengalihkan perasaan cemas mereka terhadap tindakan keperawatan yang bersifat invasif misalnya memasukan obat melalui selang Adapun nilai mean kelompok prasekolah menunjukkan lebih rendah dibandingkan dengan Hal tersebut berarti terapi mendongeng lebih efektif diberikan pada kelompok Sebagaimana studi Piaget bahwa anak usia prasekolah cenderung memiliki pemikiran perseptual yang terbatas, dimana anak-anak menilai orang, benda, dan kejadian dari penampilan luar atau apa yang tampaknya terjadi (Potter, 2. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil simpulan bahwa terdapat penurunan skor kecemasan anak usia pra sekolah pada anak usia pra sekolah yang dirawat di rumah sakit dan ada perbedaan yang sangat signifikan antara skor kecemasan pretest dan postest pada responden artinya ada pengaruh pemberian terapi storytelling terhadap penurunan kecemasan anak akibat hospitalisasi. Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan di pelayanan keperawatan dan bagi pendidikan keperawatan. Aplikasi di bidang pelayanan keperawatan, yaitu . rumah sakit perlu menyediakan fasilitas peralatan bermain yang cukup memadai, efisien dan tidak membahayakan untuk anakanak yang dirawat di rumah sakit, . intervensi storytelling islami pada anak usia prasekolah, sebagai salah satu alternatif metode bermain bagi anak usia prasekolah yang dirawat, . perawat perlu melibatkan orang tua saat menerapkan storytelling islami dalam upaya mengurangi kecemasan dan meningkatkan kemandirian selama dirawat di rumah sakit, sehingga anak lebih cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan . tenaga kesehatan khususnya perawat dapat diberikan pelatihan khusus dalam mendongeng untuk menunjang keterampilan komunikasi terapeutik saat merawat anak usia prasekolah. Sedangkan bagi pendidikan keperawatan. Selanjutnya intervensi storytelling islami dapat menjadi referensi baru bagi ilmu keperawatan sebagai alternatif kegiatan untuk menurunkan kecemasan anak usia prasekolah yang dirawat di rumah sakit, sesuai dengan tahap perkembangannya. Lebih lanjut, disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk membandingkan keefektifan storytelling dengan metode lain dan mengembangkan penelitian storytelling dengan variabel mekanisme koping anak yang dirawat dan persepsi anak terhadap hospitalisasi. | Intervensi Keperawatan: Storyttelling untuk Menurunkan KecemasanA Jurnal Kesehatan Budi Luhur. Vol. No. Juli, 2022 p-ISSN 1978-8479 e-ISSN 2581-0111 Daftar Pustaka