Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Sejarah Gerakan Sosial Keagamaan di Indonesia Melalui Kiprah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama Farah Zakia Badriati a,1. Moch Jaka Lelana b,2. Ahmad Daniel Irsyad c,3. Fahri Hidayat d,4 Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. Saifuddin Zuhri. Purwokerto. Indonesia Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. Saifuddin Zuhri. Purwokerto. Indonesia Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. Saifuddin Zuhri. Purwokerto. Indonesia Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. Saifuddin Zuhri. Purwokerto. Indonesia 234110402110@mhs. 2 234110402121@mhs. 3 234110402101@mhs. fahrihidayat@uinsaizu. * Corresponding Author. Farah Zakia Badriati Received 27 November 2025. accepted 8 Desember. published 21 Desember 2025 KEYWORDS ABSTRACT This study examines the historical role of Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama, the two largest socio-religious organizations in Indonesia, which have significantly shaped the countryAos religious landscape and social development since the early twentieth century. Rooted in the social reality that both organizations operate through extensive networks of education, religious outreach, and community This research aims to describe their historical origins, patterns of movement, and contributions to the modernization of Islam in Indonesia. The study employs a literature review method by analyzing books, academic journals, organizational documents, and relevant previous studies. A comparative analytical approach is used to highlight the similarities and differences in the social-religious characteristics of Muhammadiyah and NU. The findings reveal that Muhammadiyah emerged as a reformist movement focusing on educational modernization and purification of Islamic teachings, while NU played a crucial role in preserving pesantren traditions and local religious culture. Together, they have become essential pillars in strengthening Islamic moderation and fostering social cohesion in Indonesia. This study contributes to Indonesian Islamic historiography by offering a more comprehensive understanding of the socio-religious dynamics that have shaped the distinctive character of Indonesian Islam. Muhammadiyah. Nahdatul Ulama. Socio-Religious Movements. This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Indonesia tidak pernah terlepas dari peran organisasi Islam yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri. Sejak awal abad ke-20, dinamika reformisme Islam yang berkembang di dunia Islam turut memengaruhi gerakan pembaruan di Nusantara. Dalam kajian sejarah pendidikan Islam disebutkan bahwa AuReformisme Islam yang digerakkan melalui gagasan pan-Islamisme membawa semangat modernisasi dalam bidang pendidikan, menekankan rasionalisasi sistem klasik, kurikulum terstruktur, serta integrasi pendidikan agama dengan pengetahuan umum. Periode ini menjadi titik awal lahirnya model pendidikan Islam modern yang berbeda dari pola tradisional sebelumnya. Ay Kehadiran organisasi seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) kemudian menjadi kanal utama bagi transformasi tersebut melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial. Sekolah Muhammadiyah, pesantren NU, serta jaringan pengajian yang berkembang di berbagai daerah telah membentuk corak keberagamaan masyarakat selama lebih dari satu abad. (Dr. Fahri Hidayat dan Mujibur Rohman, 2. menggambarkan bagaimana modernisasi pendidikan Islam di Nusantara pada awal abad ke-20 menjadi wahana perubahan sosial yang lahir dari dialektika antara tradisi keagamaan lokal dan tuntutan modernitas global, menandai titik penting lahirnya organisasi-organisasi Islam berpengaruh seperti Muhammadiyah yang memperkenalkan pendekatan pendidikan Islam yang sistematis dan adaptif terhadap perubahan zaman. Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan bahwa gerakan sosial Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) memainkan peran fundamental dalam pembentukan karakter sosial, keagamaan, dan politik masyarakat Indonesia. Damanhuri dan Sofwan . dalam artikelnya AuRekonstruksi Hubungan Islam 32585/keraton. pendidikansejarahunivet@gmail. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . dan Politik dalam Perspektif TransdisiplinerAy menjelaskan bahwa Muhammadiyah dan NU tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu merumuskan strategi perlawanan terhadap ketimpangan sosial dan politik melalui pendekatan transdisipliner yang menyatukan nilai agama dan modernitas. Penelitian oleh Sahroni . melalui risetnya AuRespons Aktivis Islam Indonesia terhadap Pendudukan Yahudi di Palestina 1917Ae1948Ay menunjukkan bahwa semangat solidaritas keumatan yang diusung Muhammadiyah dan NU sejak awal abad ke-20 telah membentuk basis gerakan sosial Islam yang bersifat transnasional, memperkuat posisi Islam Indonesia dalam politik global. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran yang utuh mengenai kiprah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam sejarah gerakan sosial-keagamaan di Indonesia. Secara khusus, penelitian ini diarahkan untuk menjelaskan kondisi sosial-keagamaan Indonesia pada awal abad ke-20 yang menjadi latar lahirnya kedua organisasi tersebut, menguraikan bentuk dan karakter gerakan sosial-keagamaan yang mereka jalankan melalui bidang pendidikan, dakwah, dan layanan sosial, serta menelusuri perbedaan pendekatan dan strategi yang berkembang di antara keduanya. Selain itu, penelitian ini juga dimaksudkan untuk menilai kontribusi historis Muhammadiyah dan NU terhadap proses modernisasi Islam dan pembentukan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Indonesia hingga masa kini. Dengan menyajikan analisis yang komprehensif, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai peran kedua organisasi tersebut sebagai bagian dari kekuatan sosial yang turut menentukan arah perkembangan Islam Indonesia. Penelitian ini menjadi penting karena dinamika keagamaan Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin, seperti menguatnya konservatisme, polarisasi identitas, serta penggunaan agama dalam kontestasi politik. Dalam situasi tersebut, memahami kembali peran historis Muhammadiyah dan NU memberikan landasan yang kuat untuk melihat bagaimana kedua organisasi ini dapat menjadi penopang moderasi beragama dan penguatan solidarita sosial. Selain itu, kajian komparatif berbasis sejarah tentang kedua organisasi ini masih terbatas, sehingga penelitian ini berpotensi mengisi kekosongan literatur sekaligus memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai pola gerakan sosialkeagamaan yang membentuk karakter Islam Indonesia hingga hari ini. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur sebagai pendekatan utama. Metode ini dipilih karena fokus penelitian terletak pada penelusuran sejarah, pemikiran, serta perkembangan gerakan sosial-keagamaan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama melalui sumber-sumber tertulis. Pengumpulan data dilakukan dengan menelaah berbagai literatur yang relevan, baik berupa buku, artikel jurnal, hasil penelitian terdahulu, dokumen organisasi, maupun publikasi ilmiah yang berkaitan langsung dengan dinamika kedua organisasi tersebut. Setiap sumber dipilih berdasarkan kredibilitas, keterbaruan, serta relevansinya terhadap topik penelitian. Prosedur studi literatur dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, peneliti mengidentifikasi tema-tema pokok yang terkait dengan sejarah lahirnya Muhammadiyah dan NU, karakter gerakan sosialkeagamaan keduanya, serta konteks sosial yang melatarbelakangi perkembangan organisasi. Kedua, peneliti melakukan seleksi literatur dengan mempertimbangkan kualitas akademik, kejelasan metodologi, serta kontribusi ilmiahnya terhadap topik penelitian. Ketiga, peneliti melakukan analisis isi . ontent analysi. terhadap setiap literatur untuk menemukan pola, kesamaan, perbedaan, dan gagasan penting yang muncul dari penelitian-penelitian sebelumnya. Analisis juga dilakukan secara komparatif untuk melihat perkembangan pemikiran tentang kedua organisasi dari waktu ke waktu. Hasil analisis literatur kemudian disintesis untuk membangun pemahaman yang utuh mengenai peran historis Muhammadiyah dan NU dalam gerakan sosial-keagamaan di Indonesia. Melalui pendekatan studi literatur ini, peneliti dapat menghasilkan gambaran yang sistematis, menyeluruh, dan berdasarkan bukti ilmiah tanpa melakukan pengumpulan data lapangan. Dengan demikian, metode ini memungkinkan peneliti menyusun kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis sekaligus memberikan ruang bagi integrasi berbagai pandangan ilmiah yang berkembang dalam kajian tentang Islam Indonesia. Farah Zakia Badriati. Moch Jaka Lelana. Ahmad Daniel Irsyad. Fahri Hidayat (Sejarah Gerakan Sosial Keagamaan di Indonesia Melalui Kiprah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulam. Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. December 2025, pp. Pembahasan Kondisi Sosial Keagamaan Indonesia Awal Abad ke-20 Pada awal abad ke-20, kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Indonesia berada dalam sebuah masa transisi penting. Masyarakat masih hidup di bawah penjajahan Belanda dengan struktur sosial yang timpang antara kaum pribumi dan golongan non-pribumi, sehingga kesadaran sosial dan gerak keagamaan mulai mengalami perubahan signifikan. Dalam konteks keagamaan. Islam menjadi agama mayoritas yang berperan kuat dalam kehidupan sosial masyarakat, namun praktik keislamannya masih bercampur dengan adat dan tradisi lokal yang kuat, mencerminkan sifat keagamaan yang masih sinkretis dan tradisional sebelum munculnya gerakan pembaharuan . embaharuan Isla. yang sistematis dalam ranah pendidikan dan sosial-politik (Rusdi, 2. Munculnya gerakan pembaharuan Islam merupakan titik perubahan penting dalam dinamika sosial-keagamaan tersebut. Tokoh-tokoh seperti KH. Ahmad Dahlan terkenal memperkenalkan gagasan modernisasi dalam pendidikan Islam, serta menekankan pentingnya kombinasi antara ilmu agama dan ilmu umum. Melalui pendirian organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912. Dahlan memperjuangkan pendidikan yang rasional dan reformis, serta pemberantasan praktik takhayul (Akhyar, 2. Peran H. Tjokroaminoto dengan gerakan Sarekat Islam juga sangat penting dalam menciptakan kesadaran sosial dan politik di kalangan umat Islam pada masa itu. Sarekat Islam awalnya lahir dari organisasi dagang namun kemudian berkembang menjadi wadah perjuangan sosial-politik yang menggabungkan nilai-nilai Islam dengan tuntutan perbaikan kondisi sosial dan kesetaraan (Setiawan. Gerakan tradisional Islam juga memainkan peran besar dalam menjaga nilai-nilai keagamaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Nahdlatul Ulama (NU) berdiri pada tahun 1926 sebagai reaksi dan bentuk pelestarian tradisi keagamaan yang diwariskan oleh pesantren, menekankan pemahaman Islam dalam konteks tradisi pesantren dan fiqh mazhab serta pentingnya pendidikan pesantren (Rusdi. Perubahan besar turut terjadi dengan munculnya pendidikan Islam modern dan meningkatnya kesadaran politik umat. Lembaga-lembaga seperti sekolah HIS Muhammadiyah dan madrasah-madrasah modern memperkenalkan ilmu agama yang dipadukan dengan ilmu umum, memunculkan golongan intelektual muslim yang lebih kritis terhadap sistem kolonial dan ketimpangan sosial (Syaifuddin,2. Peran pers Islam masa itu seperti majalah dan media dakwah membantu membentuk opini publik umat, mendorong modernitas, serta menanamkan semangat kebangsaan di kalangan muslim melalui diskusi pemikiran dan kritik kolonial. Pers menjadi sarana dakwah sekaligus media perlawanan terhadap hegemoni kolonial (Rusdi, 2. Kondisi sosial-keagamaan Indonesia pada awal abad ke-20 ditandai oleh interaksi antara tradisi dan modernitas. Islam berperan ganda sebagai kekuatan spiritual sekaligus ideologi perlawanan terhadap penjajahan. Baik kalangan modernis maupun tradisionalis memberikan kontribusi dalam membentuk kesadaran kebangsaan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, mencerminkan kompleksitas dan dinamika dialog antara nilai lama dan tuntutan baru di masyarakat Muslim Nusantara. Kiprah Muhammadiyah sebagai Gerakan Sosial Keagamaan Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912 di Kauman. Yogyakarta, oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan, seorang ulama pembaru yang memiliki pandangan Islam progresif dan adaptif terhadap Pendirian Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari kegelisahan intelektual Dahlan terhadap kondisi umat Islam pada awal abad ke-20 yang masih kuat dipengaruhi oleh praktik-praktik keagamaan yang bercampur dengan takhayul, bidAoah, dan khurafat, serta lemahnya akses terhadap pendidikan modern (Burhani, 2. Sebelum mendirikan Muhammadiyah secara formal. Ahmad Dahlan telah merintis Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah sebagai embrio pembaruan pendidikan Islam yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum (Nashir, 2. Motivasi utama pendirian Muhammadiyah berangkat dari kebutuhan mendesak untuk mereformulasi pemahaman keislaman agar selaras dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan sumber ajaran utama Islam, yakni Al-QurAoan dan Sunnah. Muhammadiyah secara resmi memperoleh pengakuan hukum dari pemerintah Hindia Belanda pada 22 Agustus 1914, yang menandai legitimasi organisasi ini sebagai gerakan sosial-keagamaan modern (Alfian, 2. Melalui organisasi ini. Ahmad Dahlan menegaskan pentingnya Islam yang rasional, terbuka, dan berorientasi pada praktik amal saleh sebagai manifestasi konkret dari keimanan. Perkembangan Muhammadiyah yang bermula di Yogyakarta kemudian meluas ke berbagai wilayah di Jawa dan selanjutnya ke seluruh Nusantara. Dalam konteks ini. Muhammadiyah tampil sebagai pelopor Farah Zakia Badriati. Moch Jaka Lelana. Ahmad Daniel Irsyad. Fahri Hidayat (Sejarah Gerakan Sosial Keagamaan di Indonesia melalui Kiprah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulam. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . modernisme Islam di Indonesia dengan menggabungkan pemurnian akidah dan pembaruan sosial secara Secara konseptual, tujuan Muhammadiyah mencakup beberapa dimensi utama. Pertama, pelaksanaan tajdid melalui pemurnian akidah dengan kembali kepada Al-QurAoan dan Sunnah serta penolakan terhadap praktik keagamaan yang tidak memiliki dasar normatif yang jelas (Burhani, 2. Kedua, pengembangan sistem pendidikan modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum sebagai sarana pembentukan umat Islam yang berkemajuan (Nashir, 2. Ketiga, penguatan pelayanan sosial dan kemanusiaan melalui lembaga amal dan filantropi sebagai wujud dakwah amar maAoruf nahi munkar (Suyatno, 2. Dengan demikian. Muhammadiyah memahami Islam tidak hanya sebagai ajaran ritual, tetapi juga sebagai pedoman untuk membangun tatanan sosial yang adil, bermartabat, dan beradab. Kolonialisme Hindia Belanda yang memarginalkan umat Islam secara sosial dan ekonomi, gerakan Muhammadiyah dapat dipahami sebagai bentuk perlawanan kultural transformasi dan intelektual terhadap dominasi Barat sekaligus kritik internal terhadap kemunduran umat Islam. Muhammadiyah menegaskan dirinya sebagai organisasi sosial-keagamaan yang memadukan iman, ilmu, dan amal saleh sebagai fondasi masyarakat (Alfian, 2. Kiprah sosial Muhammadiyah diwujudkan melalui pendirian berbagai lembaga pendidikan dan layanan publik. Sejak 1913. Muhammadiyah telah mengembangkan sekolah-sekolah dengan kurikulum modern, dan pada 1923 mendirikan rumah sakit pertama di Yogyakarta yang dikelola secara profesional. Hingga kini. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) mencakup ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, serta rumah sakit dan klinik yang tersebar di seluruh Indonesia, menjadikan Muhammadiyah sebagai salah satu aktor masyarakat sipil terbesar di Asia Tenggara dalam bidang pendidikan dan kesehatan (Suyatno, 2. Seluruh aktivitas sosial Muhammadiyah berakar pada pemahaman teologis terhadap Surat al-MaAoun yang menekankan kewajiban membela kaum dhuafa, fakir miskin, dan anak yatim. Oleh sebab itu, amal usaha Muhammadiyah diposisikan sebagai bentuk dakwah bil-hal yang berorientasi pada pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Burhani, 2. Pendekatan ini menegaskan bahwa kesalehan individual harus terwujud dalam kesalehan sosial yang nyata. Konsep Islam Berkemajuan merupakan formulasi intelektual Muhammadiyah dalam merespons tantangan modernitas dan globalisasi. Islam Berkemajuan menempatkan Islam sebagai kekuatan pembebasan, pencerahan, dan kemajuan peradaban manusia melalui ijtihad dan tajdid yang berkelanjutan (Nashir, 2. Konsep ini menolak sikap keagamaan yang kaku, eksklusif, dan ekstrem, serta menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai kemanusiaan universal sebagai bagian integral dari kehidupan umat Islam. Dalam praktiknya. Islam Berkemajuan diwujudkan melalui pendidikan rasional, pelayanan sosial yang profesional, serta praktik keagamaan yang moderat dan inklusif (Suyatno, 2. Pengaruh Muhammadiyah sangat kuat terutama di kalangan masyarakat perkotaan dan kelas menengah terdidik. Karakter modern dan profesional dari amal usaha serta filantropi Muhammadiyah menjadikannya wahana penting bagi pembentukan intelektual Muslim modern di Indonesia. Perguruan tinggi Muhammadiyah, seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Ahmad Dahlan, telah melahirkan lulusan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan ilmu pengetahuan dan tanggung jawab sosial (Alfian, 2. Melalui pendidikan dan gerakan sosialnya. Muhammadiyah berperan aktif dalam membangun budaya keagamaan yang rasional, terbuka, dan berorientasi pada pembentukan masyarakat madani yang mandiri dan berdaya. Kiprah Nahdlatul Ulama sebagai Gerakan Sosial Keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya oleh para kiai pesantren yang dipelopori oleh KH. Hasyim AsyAoari dengan tujuan utama mempersatukan ulama, pengasuh pesantren, serta komunitas pesantren dalam pengembangan ilmu dan keagamaan. NU lahir sebagai respons terhadap upaya perubahan Islam yang mengancam praktik keagamaan tradisional yang berkembang di pesantren dan masyarakat pedesaan. Melalui pendirian organisasi ini, para kiai tradisional berusaha mempertahankan praktik lokal seperti pengajian kitab kuning, tradisi tarekat, dan praktik sosial keagamaan yang telah hidup di masyarakat pesantren, sekaligus memberikan jawaban kultural terhadap tuntutan perubahan radikal dalam kehidupan keagamaan. NU bukan hanya berkembang sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai gerakan sosial keagamaan yang berbasis masyarakat pesantren dan Struktur organisasinya yang mencakup tingkat ranting, cabang, hingga wilayah membangun jaringan kuat yang mampu melakukan mobilisasi sosial, baik di bidang pendidikan, dakwah, kerja sosial, maupun tanggap darurat. Pesantren sebagai basis intelektual dan sosial NU menjadi pusat pembentukan identitas, tradisi pembelajaran, dan modal sosial untuk aksi kolektif (Suhendra dkk, 2. Farah Zakia Badriati. Moch Jaka Lelana. Ahmad Daniel Irsyad. Fahri Hidayat (Sejarah Gerakan Sosial Keagamaan di Indonesia Melalui Kiprah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulam. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. Dalam ranah pendidikan, pesantren yang dikelola oleh para kiai NU menjadi pusat pembelajaran agama dan moral yang menghasilkan kader ulama, guru, dan tokoh masyarakat. NU juga aktif mengembangkan pendidikan pesantren selaras dengan kurikulum nasional yang menanamkan nilai pluralisme dan nasionalisme (Rosila & Khobir, 2. Pendekatan dakwah NU menekankan kebudayaan dan konteks lokal sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat luas dan memperkuat ikatan sosial Tradisi gotong royong dan praktik sosial komunal seperti kerja bakti, bantuan saat musibah, serta jaringan bantuan antar warga pesantren-desa memperkuat peran NU sebagai aktor sosial yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. NU juga memainkan peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui keterlibatan para kiai dan jaringan organisasi dalam gerakan sosial-politik pada masa penjajahan dan pasca-proklamasi. Kajian kontemporer menyoroti peran NU dalam penguatan nasionalisme, ketahanan sosial, serta pencegahan radikalisme melalui praktik moderasi beragama di berbagai komunitas (Firmansah, 2. Di masa kini. NU memperkenalkan dan mengembangkan konsep Islam Nusantara suatu pendekatan Islam yang menekankan kerja sama, adaptasi budaya lokal, dan penerimaan praktik tradisi yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Konsep ini menunjukkan bahwa cara beragama dapat berintegrasi dengan adat dan budaya daerah sehingga agama menjadi jawaban atas kebutuhan sosial masyarakat di Nusantara (Aminuddin & Ulfah, 2. Peran Sosial Keagamaan Muhammadiyah dan NU Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sejak lama menjadi dua pilar utama dalam kehidupan keagamaan dan sosial di Indonesia. Keduanya berfokus pada penguatan nilai moral Islam, peningkatan pendidikan, serta upaya pemenuhan kesejahteraan umat Islam di tengah masyarakat pluralistik Indonesia. Sejarah mencatat bahwa kedua organisasi ini telah aktif menyelesaikan persoalan sosial dan keagamaan yang dihadapi umat Muslim di berbagai periode sejarah bangsa. Muhammadiyah menekankan pembangunan lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, dan berbagai gerakan sosial yang dilandasi semangat modernitas dan rasionalitas beragama, sedangkan NU menekankan penguatan tradisi pesantren, pengajian, dan jaringan ulama atau kiai yang memiliki kedekatan sosial dengan masyarakat di perkotaan maupun pedesaan. Perbedaan pendekatan ini mencerminkan perbedaan strategi dakwah dan basis kepercayaan umat keduanya, tetapi secara keseluruhan memiliki tujuan yang sama: memperkuat keimanan dan kesejahteraan umat melalui pendidikan serta layanan sosial yang inklusif (Hamami, 2. Muhammadiyah cenderung menggunakan pendekatan yang lebih rasional dan modern, menafsirkan Al-QurAoan dan hadis dengan metode kritis dan kontekstual, serta membangun institusi formal seperti sekolah, universitas, rumah sakit, dan lembaga penelitian untuk mengubah kondisi sosial melalui pendidikan dan pelayanan profesional yang sistematis. Di sisi lain. NU mengadopsi pendekatan tradisional yang berbasis budaya lokal, menggunakan pesantren dan para kiai sebagai pusat pendidikan agama serta pembinaan sosial budaya yang akomodatif terhadap praktik kehidupan masyarakat setempat. Perbedaan tersebut bukan sekadar gaya dakwah, tetapi juga membentuk jaringan sosial yang khas dan cara organisasi mendapatkan legitimasi serta kepercayaan di kalangan umat Muslim. Perbedaan nilai tradisi dan modernitas dalam praktik keagamaan ini tercatat sebagai bagian dari kontestasi ideologis yang sekaligus memperkaya wajah Islam di Indonesia (Rohman et al. , 2. Interaksi kedua organisasi ini kadang mengalami perubahan sesuai dinamika sosial politik, tetapi sering kali mereka bekerja sama dalam momen-momen penting sejarah Indonesia, terutama dalam proses pendidikan nasional, peneguhan nilai kebangsaan, hingga advokasi demokrasi dan masyarakat sipil pada era Reformasi. Pada masa awal kemerdekaan dan setelahnya, kedua organisasi ini berkontribusi dalam pembangunan sistem pendidikan nasional dan penanaman nilai kebangsaan yang moderat. Selama era Reformasi, mereka semakin aktif dalam proses demokratisasi, memperkuat peranan masyarakat sipil, serta memperluas wacana mengenai moderasi beragama. Di banyak program publik seperti penanganan kemiskinan, kampanye kesehatan, dan pendidikan inklusif. Muhammadiyah dan NU menunjukkan kerja sama meskipun tetap mempertahankan karakter dan strategi organisasionalnya masing-masing (Nurul Fadzilah et al. , 2. Kontribusi gabungan kedua organisasi ini juga sangat penting dalam pembentukan Islam moderat di Indonesia. Muhammadiyah berperan dalam menyebarkan narasi Islam Berkemajuan yang mengedepankan rasionalitas, pengetahuan, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan modern. Sementara itu. NU melalui konsep Islam Nusantara menekankan pendekatan dialogis, akulturatif Farah Zakia Badriati. Moch Jaka Lelana. Ahmad Daniel Irsyad. Fahri Hidayat (Sejarah Gerakan Sosial Keagamaan di Indonesia melalui Kiprah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulam. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . terhadap budaya lokal, serta toleransi sosial dan penghormatan terhadap perbedaan. Kolaborasi antara kedua organisasi ini, baik melalui lembaga formal maupun jaringan sosial budaya, telah membantu memperkuat tradisi yang menghargai keragaman, mendorong dialog antar kelompok sosial, dan menolak ide ekstremisme dalam kehidupan beragama di Indonesia. Kontribusinya terhadap Modernisasi Islam di Indonesia Muhammadiyah memainkan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar organisasi organisasi ini menjadi motor transformasi sosial yang menggeser arah perkembangan Islam di Indonesia dari pola keagamaan berbasis tradisi lisan menuju rasionalitas modern. Ketika dunia Islam di Nusantara dihadapkan pada keterbelakangan pendidikan akibat sistem kolonial dan sekaligus muncul kesadaran baru tentang perlunya modernitas. KH. Ahmad Dahlan menangkap kegelisahan itu dan membawanya ke dalam bentuk gerakan konkret yang berlandaskan ijtihad dan pembaruan (Amir & Abdul Rahman, 2. Dengan langkah berani mengintegrasikan ilmu umum dalam pendidikan Islam. Muhammadiyah tidak hanya mereformasi struktur sekolah, tetapi juga mengubah cara masyarakat Muslim memahami pengetahuan itu sendiri. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai wilayah eksklusif pesantren tradisional, melainkan sebagai sarana mobilitas sosial dan pemberdayaan umat (Husna et al. Dari sinilah lahir generasi Muslim yang tidak canggung berhadapan dengan modernitas, namun tetap berakar pada nilai-nilai keislaman. Keberanian Muhammadiyah untuk mendudukkan agama dalam ruang publik dan bukan sekadar dalam ruang ibadah menjadi babak penting dalam sejarah modernisasi Islam. Amal usaha seperti rumah sakit, balai kesehatan, panti sosial, dan koperasi merupakan proyek progresif yang menunjukkan bahwa iman dapat menjadi fondasi etis bagi pelayanan publik sekaligus pemberdayaan sosial (Alfazri & Anshori. Dalam konteks sejarah kolonial, tindakan ini bukan sekadar amal keagamaan, tetapi juga bentuk resistensi sosial yang cerdas: membangun kemandirian umat melalui pendidikan dan pelayanan ketimbang langsung menantang kolonialisme secara frontal. Modernisasi yang dibawa Muhammadiyah tidak berhenti pada ranah institusional, tetapi menyentuh bagaimana umat memaknai agama. Tradisi keilmuan Muhammadiyah menempatkan tafsir tidak hanya sebagai penukilan teks, tetapi upaya membaca realitas dan merespons problem manusia modern secara rasional dan kontekstual. Ini memungkinkan Muhammadiyah merumuskan pandangan keagamaan terhadap isu kontemporer, seperti pendidikan dan kesehatan publik (Trisno, 2. Kontribusi Muhammadiyah menjadi signifikan karena gerakan ini tidak hanya membawa modernisasi ke dalam komunitas Muslim, tetapi juga ikut membentuk watak Islam Indonesia yang terbuka, aktif, dan berorientasi kemajuan. Jaringan sekolah dan universitas Muhammadiyah yang tersebar hingga daerah terpencil menciptakan ekosistem baru bagi pertumbuhan intelektual umat (Sormin et al. Di ruang-ruang kelas itu tumbuh kesadaran bahwa menjadi Muslim modern bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi mengolahnya menjadi energi kreatif untuk membangun masyarakat. Modernisasi Islam di Indonesia juga dapat dilihat melalui lensa tradisi dan kearifan lokal yang diperjuangkan oleh Nahdlatul Ulama (NU). NU kerap dipahami sebagai organisasi tradisional, tetapi perjalanannya menunjukkan bahwa modernitas juga dapat dibumikan melalui strategi kultural yang matang (Ritonga & Rababah, 2. NU menggunakan pesantren sebagai pusat transformasi intelektual di mana keragaman fiqh dan budaya lokal dipertahankan sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Ulama NU merespons perubahan mulai dari teknologi, politik, hingga etika sosial melalui forum bahtsul masail, yaitu ruang deliberasi intelektual di mana persoalan kontemporer ditimbang dengan pendekatan fiqh yang matang dan kontekstual (Daulay & Dalimunthe, 2. Ini adalah bentuk modernisasi intelektual yang berbeda dengan modernisasi struktural, melalui pengembangan wacana yang kontekstual dan adaptif terhadap realitas sosial masyarakat Indonesia. NU juga memainkan peran penting dalam membangun toleransi dan menjaga integrasi sosial dalam masyarakat yang majemuk. Konsep Islam Nusantara yang menempatkan tradisi lokal sebagai mitra dialog bagi ajaran Islam menunjukkan bahwa keberagamaan dapat hidup berdampingan dengan budaya tanpa kehilangan esensi keislamannya (Ritonga & Rababah, 2. Kontribusi Muhammadiyah dan NU menunjukkan bahwa modernisasi Islam di Indonesia bukanlah proses tunggal yang berjalan pada satu jalur. Muhammadiyah mendorong modernitas melalui rasionalisasi pendidikan, pembangunan amal usaha, dan penguatan etos kemajuan berbasis tajdid, sementara NU meneguhkan modernisasi dengan cara merawat tradisi, menjaga kearifan lokal, dan memproduksi respons keagamaan yang adaptif. Kedua pendekatan ini membentuk corak Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan beradab. Farah Zakia Badriati. Moch Jaka Lelana. Ahmad Daniel Irsyad. Fahri Hidayat (Sejarah Gerakan Sosial Keagamaan di Indonesia Melalui Kiprah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulam. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. Simpulan Perjalanan sejarah Islam di Indonesia menunjukkan bahwa Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) adalah dua fondasi utama yang telah membentuk karakter keberagamaan umat hingga saat ini. Muhammadiyah muncul dengan semangat pembaruan yang menekankan pengembangan pemikiran, peningkatan pendidikan yang rasional, serta kemajuan sosial melalui lembaga yang modern. Di sisi lain. NU melestarikan tradisi pesantren, kebijaksanaan lokal, serta praktik keagamaan yang berakar dari budaya masyarakat, sambil tetap beradaptasi dengan perubahan zaman. Perbedaan pendekatan ini tidak menjadi penghalang, tetapi justru menciptakan keselarasan yang memperkuat struktur sosial dan keagamaan di berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Peran kedua organisasi ini sangat signifikan dalam proses modernisasi Islam dari awal hingga pertengahan abad ke-20, serta dalam menjaga moderasi beragama di zaman sekarang. Muhammadiyah mencetak generasi Muslim yang berpendidikan lewat sekolah dan lembaga amal modern, sementara NU menanamkan nilai-nilai toleransi, keharmonisan sosial, dan penghargaan terhadap budaya lokal melalui jaringan pesantren dan komunitas tradisional. Sinergi antara keduanya melahirkan bentuk Islam Indonesia yang inklusif, beradab, dan mampu berinteraksi dengan baik terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan tantangan global. Saat ini, di tengah maraknya radikalisme, perpecahan sosial, dan penggunaan agama untuk politik, peran Muhammadiyah dan NU menjadi semakin penting sebagai penyangga moderasi Islam. Kedua organisasi ini menunjukkan bahwa modernitas dan tradisi bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat diintegrasikan menjadi kekuatan transformasi sosial yang menjaga identitas, memajukan umat, dan memperkuat persatuan bangsa. Karakter Islam Indonesia yang moderat, toleran, dan dinamis saat ini adalah hasil kontribusi historis dari kedua organisasiAiwarisan yang akan tetap relevan untuk membimbing masa depan Islam Indonesia menuju masyarakat yang lebih inklusif dan beradab. References