https://jurnal. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG GEJALA KANKER LEHER RAHIM Fatin IzzatiA. Sri RezekiA AMahasiswa Akper Gita Matura Abadi Kisaran ADosen Akper Gita matura Abadi Kisaran *Email koresponden : srirezekisst@gmail. Abstract Cervical cancer is a cancer that attacks the lower end of the uterus that protrudes into the vagina, is generally invisible, but can be felt by the sufferer. The early stages of uterine cancer begin with gradual cell mutation, but are progressive and eventually develop into carcinoma. Cervical cancer can spread through blood vessels, lymph vessels, or directly to other vital organs. Until now, cervical cancer is still the first disease that most often attacks women in Indonesia. The purpose of this study was to determine the extent of knowledge of young women about the symptoms of cervical cancer. This type of research is a descriptive survey and the design of this study is cross-sectional. The population is 41 students and the sample obtained is 19 women, the sampling technique uses purposive sampling. Based on the results of the study on the knowledge of young women about the symptoms of cervical cancer, the results obtained were with a score of 3. 22%), it can be concluded that the knowledge of young women about the symptoms of cervical cancer is categorized as "not good". It is recommended for young women to further explore knowledge about the symptoms of cervical cancer so that it can be detected early, and it is hoped that young women should seek more information about the symptoms of uterine cancer to increase knowledge about the symptoms of cervical cancer. Keywords: Knowledge, symptoms of cervical cancer, adolescent girls Abstrak Kanker leher rahim adalah kanker yang menyerang bagian ujung bawah rahim yang menonjol ke vagina umumnya tidak tampak, tetapi dapat dirasakan oleh penderitanya. Tahap awal munculnya kanker rahim dimulai dengan terjadinya mutase sel secara bertahap, tetapi progresif dan akhirnya berkembang menjadi karsioma. kanker leher rahim dapat menyebar melalui pembuluh darah, pembuluh limfa, atau langsung ke organ vital lain. Hingga saat ini kanker leher rahim masih menempati urutan pertama penyakit yang paling banyak menyerang wanita di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan remaja putri tentang gejala kanker leher Jenis penelitian ini bersifat Deskriptif Survey dan rancangan penelitian ini secara Cross jumlah populasi 41 pelajar dan sampel yang didapat 19 orang putri, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian tentang pengetahuan remaja putri tentang gejala kanker leher rahim diperoleh hasil dengan score 3,422 . ,22%), maka dapat disimpulkan pengetahuan remaja putri tentang gejala kanker leher rahim dikategorikan Autidak BaikAy. Disarankan bagi remaja putri untuk lebih menggali pengetahuan tentang gejala kanker leher rahim untuk dapat di deteksi sejak dini, dan diharapkan bagi remaja putri sebaiknya lebih banyak mencari informasi mengenai gejala kanker rahim baik untuk menambah pengetahuan tentang gejala kanker leher rahim. Kata kunci: Pengetahuan, gejala kanker serviks, remaja putri Vol 1. No 1. Januari, 2025 *Corresponding author email : srirezekisst@gmail. Page 16 of 21 Copyright: @ 2025 Authors PENDAHULUAN Kanker leher rahim . anker servik. merupakan salah satu jenis kanker yang paling mematikan bagi perempuan di dunia. Menurut Global Cancer Observatory (GLOBOCAN. , 2. , kanker serviks menempati urutan keempat sebagai penyebab kematian akibat kanker pada perempuan secara global, dengan sekitar 604. 000 kasus baru dan 342. 000 kematian per tahun. Mayoritas kasus terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia, di mana kesadaran dan deteksi dini masih tergolong rendah (World Health Organization. , 2. Di Indonesia, kanker serviks menjadi kanker kedua terbanyak pada perempuan setelah kanker payudara. Data GLOBOCAN 2020 menunjukkan terdapat lebih dari 36. kasus baru dan lebih dari 21. 000 kematian akibat kanker serviks di Indonesia. Penyebab utama kanker ini adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV), khususnya tipe 16 dan 18, yang menyebar melalui hubungan seksual. Rendahnya kesadaran akan pentingnya vaksinasi HPV dan deteksi dini menjadi faktor risiko utama yang memperparah kondisi ini (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pemerintah Indonesia Kementerian Kesehatan telah menetapkan strategi nasional untuk eliminasi kanker serviks melalui Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Serviks 2023Ae2030. Upaya ini mencakup pemberian vaksinasi HPV pada anak perempuan usia sekolah dasar, serta skrining menggunakan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan HPV DNA Test. Namun, cakupan skrining masih rendah, hanya mencapai 7,02% dari target 70% pada tahun 2023 (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. , 2. Di tingkat provinsi. Sumatera Utara Berdasarkan data (Dinas Kesehatan Sumatera Utara. , 2. , jumlah perempuan yang melakukan skrining kanker serviks masih sangat rendah, terutama di daerah Faktor penyebab rendahnya cakupan ini antara lain kurangnya informasi dan edukasi kesehatan, serta keterbatasan fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu melakukan deteksi dini. Kabupaten Asahan sebagai salah satu kabupaten di Sumatera Utara belum memiliki data spesifik yang lengkap terkait insiden kanker serviks. Namun, laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja putri mengenai gejala kanker serviks dan pentingnya pencegahan masih sangat terbatas. Minimnya sosialisasi dan reproduksi di sekolah-sekolah menjadi penyebab utama rendahnya kesadaran ini (Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan. Remaja putri adalah kelompok usia yang rentan karena berada pada masa transisi menuju dewasa dan mulai mengalami perubahan biologis serta perilaku yang dapat meningkatkan risiko HPV (Yuliana. Pengetahuan tentang gejala awal kanker serviks seperti keputihan yang tidak normal, pendarahan di luar siklus menstruasi, atau nyeri saat berhubungan seksual sangat penting untuk diketahui sejak dini agar remaja memiliki kesadaran untuk melakukan pencegahan (Sari, 2. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang kanker serviks. Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi melalui kurikulum maupun program Selain itu, keterlibatan tenaga kesehatan dalam memberikan informasi yang benar dan terpercaya dapat memperkuat upaya pencegahan sejak usia dini (Nuraini. , & Andriani, 2. Copyright: @ 2025 Authors Peran orang tua dan masyarakat juga tidak kalah penting. Budaya tabu dalam membahas kesehatan reproduksi seringkali menjadi penghalang bagi remaja putri untuk mendapatkan informasi yang benar. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang tepat, berbasis komunitas, dan melibatkan semua elemen masyarakat agar edukasi mengenai gejala dan pencegahan kanker serviks dapat (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. , 2. Berdasarkan uraian di atas, penting dilakukan penelitian mengenai gambaran pengetahuan remaja putri tentang gejala kanker leher rahim, khususnya di Kabupaten Asahan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data yang berguna bagi pengambil kebijakan dalam merancang program edukasi yang tepat sasaran untuk meningkatkan kesadaran dan mencegah kanker serviks sejak usia remaja. METODE Desain penelitian yang akan dilakukan bersifat Ausurvei deskriptifAy yang artinya dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang gejala kanker leher Rahim di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Sei Apung Jaya Kecamata Tanjung Balai Kabu Paten Asahan. Teknik menggunakan formulir kuesioner, observasi, wawancara dan dokumentasi. HASIL Distribusi Karakteristik Berdasarkan Umur Tabel 1 Distribusi Berdasarkan Umur Umur Karakteristik Umur 15 tahun 16 tahun 17 tahun Total Berdasarkan tabel 1, mayoritas kriteria umur 17 tahun sebanyak 10 orang . 6%). Aspek Pengetahuan tentang Gejala Kanker Rahim Responden Hasil Keterangan Total 0,106 0,527 0,157 Rumus : Total skor Responden 0,316 Total hasil y Bobot 0,316 Total 3,422 Maka : 3,422 y = 34,22% Kategori tidak baik Dari aspek pengukuran pengetahuan remaja putri tentang gejala kanker leher rahaim Autidak baikAy dimana hasil score 3,422 dengan presentase 34,22 %. PEMBAHASAN Responden Responden Penelitian ini bertujuan untuk remaja putri tentang gejala kanker leher Berdasarkan hasil yang diperoleh, mayoritas responden dalam penelitian ini berusia 10 tahun dan menunjukkan kategori Copyright: @ 2025 Authors pengetahuan yang tidak baik mengenai gejala kanker leher rahim. Temuan ini menjadi sorotan penting dalam upaya promotif dan preventif terhadap penyakit yang menjadi salah satu penyebab utama kematian perempuan di Indonesia. Usia 10 tahun merupakan masa transisi dari anak-anak menuju remaja awal. Pada masa ini, pemahaman tentang kesehatan reproduksi, termasuk gejala kanker leher rahim, masih sangat terbatas. Hal ini dapat disebabkan oleh keterbatasan akses informasi, kurangnya kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi di tingkat sekolah dasar, serta minimnya komunikasi terbuka antara orang tua, guru, dan anak mengenai topik kesehatan reproduksi (Utami, 2. Pengetahuan yang tidak baik pada usia dini sangat berisiko terhadap keterlambatan deteksi dini penyakit kanker serviks di kemudian hari. Pengetahuan yang rendah ini dapat mengakibatkan para remaja tidak mengenali gejala-gejala awal seperti keputihan yang tidak normal, perdarahan di luar masa haid, atau nyeri panggul yang berkepanjangan (Ningsih. , & Wardani, 2. Oleh karena itu, diperlukan intervensi pendidikan yang sistematis dan disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak usia dini. Kurangnya sumber informasi yang terpercaya juga berkontribusi terhadap rendahnya pengetahuan remaja putri. Hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa sebagian besar informasi yang diperoleh berasal dari teman sebaya atau media sosial, yang belum tentu menyajikan informasi yang Hal ini sejalan dengan penelitian oleh (Lestari. Puspitasari. , & Yuliana, 2. , yang menunjukkan bahwa media informasi informal cenderung memberikan pemahaman yang tidak utuh bahkan keliru mengenai kesehatan reproduksi. Remaja usia 10 tahun cenderung belum memahami risiko-risiko jangka panjang dari penyakit kanker leher rahim, terutama jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini. Mereka juga belum menyadari pentingnya pemeriksaan dini seperti Pap smear atau vaksinasi HPV, yang padahal menjadi langkah penting dalam pencegahan (Kartika. , & Anindita, 2. Hal ini memperkuat pentingnya integrasi edukasi pembelajaran sejak sekolah dasar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi kesehatan yang dilakukan saat ini belum menyentuh kelompok usia dini secara optimal. Diperlukan inovasi media pembelajaran yang menarik dan sesuai usia, misalnya melalui permainan edukatif, video animasi, atau cerita bergambar yang menjelaskan secara sederhana namun jelas tentang anatomi tubuh dan gejala penyakit reproduksi (Sari. Aprilianti. , & Nugroho, n. )g. Penting juga untuk melibatkan peran keluarga, khususnya ibu, dalam memberikan edukasi sejak dini kepada anak perempuan mereka. Keterlibatan keluarga terbukti meningkatkan efektivitas penyampaian informasi, karena anak akan merasa lebih nyaman bertanya dan berdiskusi (Fauziah. , & Wulandari, 2. Selain itu, pelatihan guru tentang pendidikan kesehatan reproduksi juga sangat dibutuhkan agar penyampaian informasi di sekolah dapat dilakukan secara profesional dan terstruktur. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi para pemangku kebijakan pendidikan dan kesehatan anak. Program penyuluhan kesehatan yang menyasar anakanak usia SD perlu dikembangkan dan dijalankan secara konsisten. Edukasi yang dimulai sejak dini dapat menjadi investasi jangka panjang dalam membangun generasi yang sadar akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, serta mampu Copyright: @ 2025 Authors mendeteksi gejala-gejala penyakit sejak dini (Wahyuni. , & Pratiwi, 2. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menggarisbawahi pentingnya edukasi kesehatan reproduksi sejak usia dini. Dengan mayoritas remaja putri berusia 10 tahun dan menunjukkan pengetahuan yang tidak baik, komprehensif, partisipatif, dan berbasis keluarga serta sekolah. Dengan demikian, diharapkan pengetahuan remaja terhadap gejala kanker leher rahim dapat meningkat dan menurunkan angka kejadian penyakit ini di masa depan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai gambaran pengetahuan remaja putri tentang gejala kanker leher rahim, diperoleh bahwa mayoritas responden berusia 10 tahun dan memiliki tingkat pengetahuan yang tidak baik. Hal ini menunjukkan bahwa pada usia dini, pemahaman mengenai masalah kesehatan reproduksi, khususnya gejala kanker leher rahim, masih sangat rendah. Kurangnya informasi dan edukasi yang sesuai usia menjadi salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya tingkat pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, disarankan agar pihak reproduksi ke dalam kurikulum sejak usia dini dengan pendekatan yang mudah dipahami. Orang tua juga diharapkan dapat berperan aktif dalam memberikan informasi yang benar dan mendampingi anak dalam memahami Upaya berkelanjutan dan menarik sangat penting mencegah keterlambatan deteksi dini terhadap gejala kanker leher rahim. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis ucapkan terimakasih kepada tempat penelitian dan institusi yang telah mendukung penelitian ini, semoga studi kasus ini membawa manfaat bagi pembaca. DAFTAR PUSTAKA