Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 602-611 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA/I DI SD NEGERI SUKAKERTA 03 Ayunda Reslawati1 & Novita Dian Eva Prestiana2 Fakultas Psikologi. Universitas Islam 45 Bekasi Fakultas Psikologi. Universitas Islam 45 Bekasi Email: Novitaprestiana@yahoo. ABSTRACT Education is an important part of human life. The changes from the traditional era to the era of globalization that are so rapid in the last 20 years have resulted in changes in human behavior such as the order in society and cultural changes that occur in society itself. The era of the industrial revolution 4. 0 has the main goal of achieving assignments for literacy and numeracy materials. Motivation is the basic impulse in a person to do something or move someone to act in order to achieve the desired goal. In carrying out this activity, the participants involved were students of SD Negeri Sukakerta 03. The results obtained from the application of contextual teaching and learning, ice-breaking, and student center methods can be said to be effective and have a positive effect on increasing student motivation at SD Negeri Sukakerta 03. The limitation of our program is the need for teacher creativity in creating a comfortable atmosphere when learning. This creativity is still rarely owned by teachers, so it is hoped that teachers always look for the latest references regarding the right learning methods to be applied. Keywords: learning motivation, teaching campus, teacher creativity ABSTRAK Pendidikan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang penting. Adanya perubahan dari zaman tradisional ke era globalisasi yang begitu pesat di 20 tahun terakhir mengakibatkan perubahan perilaku manusia seperti tatanan dalam masyarakat dan perubahan budaya yang terjadi di masyarakat itu sendiri. Era revolusi industri 4. memiliki tujuan utama dalam mencapai penugasan terhadap materi literasi dan numerasi. motivasi adalah dorongan dasar pada diri seseorang untuk melakukan suatu hal atau menggerakkan seseorang untuk bertindak demi mencapai tujuan yang diinginkannya. Pada pelaksanaan kegiatan ini partisipan yang terlibat adalah siswa/i SD Negeri Sukakerta 03. Hasil yang diperoleh dari penerapan pembelajaran contextual teaching and learning, ice breaking, dan metode student center dapat dikatakan efektif dan berpengaruh positif pada peningkatan motivasi siswa di SD Negeri Sukakerta 03. keterbatasan pada program kami yaitu diperlukannya kreativitas guru dalam menciptakan suasana yang nyaman ketika pembelajaran. Kreativitas ini masih jarang dimiliki oleh guru sehingga diharapkan agar guru selalu mencari referensi terbaru terkait metode pembelajaran yang tepat untuk diterapkan. Kata kunci: motivasi belajar, kampus mengajar, kreativitas guru PENDAHULUAN Pendidikan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang penting. Adanya perubahan dari zaman tradisional ke era globalisasi yang begitu pesat di 20 tahun terakhir mengakibatkan perubahan perilaku manusia seperti tatanan dalam masyarakat dan perubahan budaya yang terjadi di masyarakat itu sendiri. Pendidikan merupakan salah satu dari budaya yang terkena imbas globalisasi. Saat ini motivasi belajar peserta didik mulai menurun akibat adanya teknologi yang lebih canggih dengan fitur-fitur terbaru. Selama ini tidak sedikit peserta didik yang kehilangan motivasi dalam belajar. Secara fisik mereka hadir di kelas untuk melakukan rutinitas belajar sesuai jadwal pelajaran yang tersusun oleh sekolah. Peserta didik seolah hanya menjadi objek dan hanya menampung apa yang disampaikan guru, sehingga banyak dari mereka yang kehilangan tujuan untuk apa mereka belajar. Hal ini menjadikan pembelajaran di sekolah hanya sebagai formalitas saja, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi pasif dan membosankan. Penurunan motivasi belajar pada peserta didik di era globalisasi saat ini mampu memberikan https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 602-611 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. dampak yang besar bagi kehidupan bangsa Indonesia. Secara jangkauan kecil peserta didik yang mengalami penurunan motivasi belajar sering mengabaikan kewajibannya dalam menuntut ilmu, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Sehingga peserta didik akan mengalami penurunan dalam kemampuan atau tidak adanya perkembangan dalam proses Hal ini jika terus dibiarkan dapat berdampak pada sektor pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan bangsa, sehingga generasi yang ada tidak mampu mengikuti perkembangan dan dapat terjadinya kesulitan dalam bersaing dengan dunia luar. Menurut Amran (Afandi et al. , 2. AuPendidikan sebagai salah satu sektor pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan sebagai penata sosial yang kuat serta berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara IndonesiaAy. Selain itu pendidikan menjadi usaha sadar guna membentuk manusia dengan karakter yang baik dan kaya akan ilmu pengetahuan. Karena hal tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbu. Republik Indonesia. Nadiem Anwar Makarim membuat program AuMerdeka BelajarAy yang bermaksud untuk merespon kebutuhan pendidikan era revolusi industri 4. Era revolusi industri 4. 0 memiliki tujuan utama dalam mencapai penugasan terhadap materi literasi dan numerasi. Dalam memaksimalkan penguasaan tersebut diperlukan adanya terobosan, salah satunya yaitu program Merdeka Belajar Ae Kampus Merdeka. Program ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kompetensi soft skills maupun hard skills agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan sesuai perkembangan zaman. Dari program Merdeka Belajar Ae Kampus Merdeka yang telah terjalankan. Mahasiswa ikut serta dalam membangun kecerdasan bangsa dengan menerapkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dengan menerapkan metode-metode pembelajaran pada lingkungan pendidikan terutama bagi pendidikan yang bertujuan meningkatkan motivasi belajar peserta Dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, kami melakukan dengan cara membuat suasana pembelajaran lebih menyenangkan seperti mengawali dengan bernyanyi bersama, memperhatikan lingkungan sekitar, menyiapkan barisan/duduk secara bergantian, kemudian kami menggunakan media belajar seperti flashcard, kami juga menerapkan ice breaking dan melakukan pendekatan contextual teaching and learning (CTL) serta pembelajaran yang berfokus pada siswa . tudent cente. sehingga terjadi timbal balik antara siswa dan pengajar. METODE PENELITIAN Terdapat banyak istilah yang digunakan dalam menyebut motivasi atau motif, antara lain kebutuhan . , desakan . , keinginan . , dan dorongan . Motivasi diartikan sebagai keadaan pribadi individu yang mendorong keinginan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi yang ada pada seseorang merupakan kekuatan pendorong yang dapat mewujudkan perilaku guna mencapai tujuan kepuasan diri (Oktiani, 2. Hamzah . alam Masni, 2. mendefinisikan Aumotivasi sebagai dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku, dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Dengan pendapat yang senada Sumadi Suryabrata . alam Masni, 2. menjelaskan Aumotivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuanAy. Motivasi ini dapat dimulai dari perasaan seperti yang diungkapkan McDonald . alam Masni, 2. Aumotivasi itu merupakan suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuanAy. Motivasi menurut Greenberg dan Baron didefinisikan sebagai serangkaian proses yang https://doi. org/10. 24912/jssh. Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa/i Di SD Negeri Surakerta 03 Reslawati et al. menggerakkan, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku individu untuk mencapai tujuan. untuk mencapai beberapa tujuan. Mathis dan Jackson menyatakan motivasi merupakan suatu dorongan yang diatur oleh tujuan dan jarang muncul dalam kekosongan. Istilah kebutuhan, keinginan, hasrat, atau dorongan sama dengan motif, yang merupakan asal dari kata motivasi. Memahami motivasi adalah penting, karena reaksi terhadap kompensasi dan masalah-masalah sumber daya manusia lainnya berkaitan dengan motivasi. Motivasi ini dapat dikatakan pembahasan yang membicarakan tentang bagaimana cara mendorong semangat seseorang untuk mau belajar secara optimal kemampuan dan keahliannya guna mencapai suatu tujuan (Oktiani, 2. Berdasarkan pendapat yang telah dipaparkan oleh beberapa ahli di atas, motivasi adalah dorongan dasar pada diri seseorang untuk melakukan suatu hal atau menggerakkan seseorang untuk bertindak demi mencapai tujuan yang diinginkannya. Dalam kaitannya terhadap motivasi belajar menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yang terletak pada aspek psikologis seseorang. terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas dalam perolehan hasil belajar peserta didik. Namun terdapat beberapa faktor yang esensial seperti kecerdasan seseorang, sikap, bakat, minat, dan motivasi belajar. Namun, pada realita lapangan yang terjadi menunjukkan masih rendah dan kurangnya motivasi belajar peserta didik dalam melakukan aktivitas pembelajaran. Hal ini didasari berbagai alasan peserta didik seperti malas bangun pagi dan akhirnya bolos, malas mengerjakan tugas, kurangnya konsentrasi, sekolah hanya sekedar formalitas, keluar masuk kelas dengan alasan yang kurang jelas, beranggapan bahwa sekolah atau beberapa pelajaran tidak penting ataupun menyatakan bahwa tidak tertarik dan bosan. Menurut Slamet (Rohman & Karimah, 2. peserta didik yang tergolong cerdas dapat terlihat bodoh disebabkan tidak adanya motivasi untuk mencapai prestasi sebaik mungkin. Pada pernyataan tersebut maka apabila peserta didik memiliki motivasi belajar yang rendah tidak akan mencapai prestasi akademik yang baik. Sebaliknya, apabila peserta didik yang tergolong kurang cerdas tetapi memiliki motivasi belajar tinggi maka peserta didik tersebut akan mencapai prestasi akademik yang baik. Pada penelitian yang dilakukan Rohman dan Karimah . terhadap faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi belajar siswa yaitu: Tempat belajar, di mana siswa menyatakan bahwa pembelajaran di kelas membosankan dan sulit berkonsentrasi akibat terlalu ramai . Faktor fungsi fisik, siswa banyak yang sering mengantuk di kelas ketika pembelajaran karena cara guru menyampaikan membosankan. Kecerdasan, hal ini tentunya menjadi salah satu faktor pendukung motivasi belajar . Sarana dan prasarana, hal ini berpengaruh pada motivasi belajar siswa karena jika sarana prasarana memadai maka siswa akan memiliki rasa penasaran dan semangat dalam mengikuti pembelajaran. Waktu, tingkat lama tidaknya jam pembelajaran juga menjadi salah satu faktor siswa memiliki semangat ketika belajar. Kebiasaan belajar, kebiasaan ini siswa yang tidak baik akan mengakibatkan motivasi belajar siswa rendah. Guru, salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran seorang guru sangat penting dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Orang tua. Orang tua merupakan faktor eksternal yang berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa, keduanya diperlukan untuk meningkatkan motivasi belajar melalui https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 602-611 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. dorongan serta pemberian semangat. Emosional siswa, ketika siswa mengalami masalah dalam emosional maka dapat mengganggu belajar siswa. Beberapa penjelasan yang terdapat pada teori humanistik bahwa motivasi dikontrol dari dalam diri individu itu sendiri. Terdapat strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar (Masni, 2. yaitu dapat melalui pengembangan bahan pembelajaran, dalam hal ini guru dapat menggunakan ilustrasi, gambar, dan grafis, ataupun menggunakan bahasa yang sederhana sehingga siswa mudah memahami. Kemudian dapat melalui pengawalan pembelajaran yang baik, guru dapat mengawali pembelajaran dengan membangun suasana agar lebih menyenangkan sehingga kedekatan antara guru dan siswa dapat terjalin dengan baik selama proses pembelajaran. Melihat dari beberapa faktor yang terdapat pada penjelasan di atas dan beberapa strategi yang dapat digunakan dalam meningkatkan motivasi belajar pada penelitian yang telah dilakukan. Maka diperlukan adanya kreativitas guru dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Kreativitas adalah bagian keadaan jiwa individu yang mana kemampuan kreatif ini merupakan bakat khusus atau bakat nyata di akhir usia atau dewasa. Sedangkan kreativitas talenta khusus individu yang memiliki bakat atau talenta kreatif yang luar biasa dalam bidang tertentu (Oktiani, 2. Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Mahasiswa Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Febriandar, 2. memperoleh hasil bahwa kreativitas guru memberikan kontribusi positif terhadap hasil belajar siswa. Kreativitas yang dilakukan di sini adalah ice breaking yang secara tidak langsung dapat menularkan semangat dan motivasi belajar kepada Implikasinya, ketika antusias siswa di dalam belajar bertambah, maka akan menambah durasi siswa untuk berkonsentrasi dalam mengikuti pembelajaran dan menyelesaikan tugas. Antusiasme siswa dalam belajar dapat dikatakan cerminan dari motivasi belajar siswa. Yang pada apabila siswa antusias dalam belajar maka siswa siap untuk belajar dan mampu berkonsentrasi penuh untuk belajar. Kemudian pada penelitian mengenai penerapan pendekatan contextual teaching and learning yang telah dilakukan pada siswa kelas 6 SD (Marta et al. , 2. yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa memperoleh hasil yang signifikan positif di mana pada aspek kognitif siswa meningkat dari 52% menjadi 81%, aspek afektif siswa meningkat dari 75% menjadi 81%, aspek psikomotor siswa meningkat dari 68% menjadi 87%, begitu juga dengan motivasi siswa yang meningkat dari 44% menjadi 81% setelah menerapkan pembelajaran contextual teaching and Jika ditinjau dari penelitian yang sudah ada maka solusi dari kelompok kami dapat mengatasi permasalahan yang terjadi. Penerapan contextual teaching and learning serta kreativitas guru dapat berjalan secara efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Faktor yang mendukung dalam efektifitas solusi yang kami lakukan adalah Faktor fungsi fisik pada penelitian yang telah dilakukan terdapat banyak siswa yang sering mengantuk di kelas ketika pembelajaran karena cara guru menyampaikan membosankan, sehingga dengan menerapkan pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) yaitu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan diharapkan mampu membantu siswa untuk tetap fokus pada pembelajaran serta adanya ice breaking memberi semangat dan suasana baru bagi siswa. Kemudian faktor kebiasaan belajar yang kurang baik dapat membuat siswa yang kehilangan motivasi belajar, sehingga kebiasaan belajar dengan metode student center dapat melatih siswa untuk selalu merespon kegiatan yang berlangsung dan https://doi. org/10. 24912/jssh. Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa/i Di SD Negeri Surakerta 03 Reslawati et al. berfikir secara terus menerus dalam memproses pembelajaran. Pada pelaksanaan kegiatan ini, partisipan yang terlibat adalah siswa/i SD Negeri Sukakerta 03 dengan partisipan siswa kelas 1 SD 24 siswa/i, kelas 2 SD 41 siswa/I, kelas 3 SD 26 siswa/I, kelas 4 SD 40 siswa/I, kelas 5 SD 21 siswa/I, dan kelas 6 SD 45 siswa/i. Pelaksanaan kegiatan ini dijalankan oleh mahasiswa kampus mengajar angkatan 3 di SD Negeri Sukakerta 03 yang berjumlah 5 mahasiswa/I dengan 1 mahasiswa laki-laki dan 4 mahasiswa Dalam melakukan pengamatan meningkatkan motivasi belajar kami menggunakan aplikasi pendukung dari Kemendikbud yaitu AKM kelas di mana aplikasi ini memiliki 2 tahapan dalam pengaplikasiannya. Untuk pengamatan yang kami lakukan dengan aplikasi AKM kelas ini yaitu kelas 5 SD dengan mengadakan pre-test dan post-test. Pada siswa/i kelas 1 sampai 4, dan siswa/i kelas 6 SD kami melakukan pengamatan dengan observasi langsung ketika mengajar dan ketika berada di lingkungan sekolah. Untuk penggunaan aplikasi AKM kelas dimulai dengan memasukkan daftar nama siswa pada akun proktor yang kemudian didaftarkan sebagai siswa yang akan mengikuti tes melalui AKM Setelah mendaftarkan nama siswa kemudian mahasiswa mencetak kartu peserta siswa yang berisikan identitas dan kode masuk pada AKM kelas ketika melaksanakan tes. Pada kelas 1 sampai 4 dan 6 SD kami melakukan observasi langsung untuk melihat bagaimana perubahan siswa ketika berada di lingkungan sekolah. https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 602-611 Tabel 1. Rancangan Program Kegiatan 1 Pre-test AKM kelas 2 Contextual teaching and learning ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. Pelaksanaan Dilaksanakan untuk kelas 5 SD Dilaksanakan ketika mengajar di kelas baik pada literasi, numerasi. IPA. IPS, dan PAI. 3 Ice breaking Dilaksanakan ketika siswa sudah terlihat kelahan dan mulai bosan sehingga ribut di kelas, hal ini biasanya dilakukan setelah pelajaran berlangsung selama 1 jam 30 4 Student center Dilaksanakan berlangsung, mahasiswa mengajak siswa untuk berdiskusi terkait pelajaran yang sedang dibahas serta memberi kesempatan untuk siswa menjelaskan mengenai pendapat mereka maupun kesempatan untuk maju ke depan untuk menjawab pertanyaan yang terdapat di papan tulis. 5 Kreativitas guru Kreativitas guru ini dilaksanakan ketika mengajar di perpustakaan. Mahasiswa melakukan pengajaran dengan beberapa media seperti flashcard untuk mengenal huruf dan menyusun kata maupun 6 Post-test AKM Kelas 7 Observasi langsung Dilaksanakan untuk kelas 5 SD Dilaksanakan pembelajaran berlangsung dan ketika di lingkungan sekolah. Pada tabel tersebut menjabarkan rencana program yang akan dijalankan dan kapan program tersebut dilaksanakan. Pada awal kami melakukan observasi yang kemudian kami melaksanakan pre-test AKM kelas pada kelas 5 SD selanjutnya kami melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan metode yang terdapat pada tabel. Setelah melaksanakan pembelajaran sesuai rencana program kami melakukan post-test untuk kelas 5 SD dan selalu mengobservasi siswa ketika di sekolah. https://doi. org/10. 24912/jssh. Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa/i Di SD Negeri Surakerta 03 Reslawati et al. Gambar 1. Student center. Pada gambar tersebut merupakan salah satu bagian dari program kerja yang dilaksanakan yaitu Student center dimana siswa/i diberi kesempatan dalam menjawab soal yang berada di papan tulis. Hal ini bermaksud untuk membuat siswa/i tidak bosan ketika pembelajaran berlangsung dan siswa/i juga akan menjadi lebih semangat serta percaya diri untuk menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. Selanjutnya dalam pelaksanaan pembelajaran contextual teaching and learning mahasiswa memberikan contoh terkait materi yang sedang dipelajari dengan kegiatan sehari- hari. Seperti ketika pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada materi Auperbuatan baik dan burukAy mahasiswa menjelaskan materi kemudian memberi contoh di kehidupan sehari-hari. Mahasiswa memberi pertanyaan kepada siswa/i AuBagaimana sikap kita ketika guru meminta tolong? Misalnya. Ibu minta tolong kalian untuk tetap tenang dan memperhatikan Ibu di Maka kalian harus mengikuti peraturan dan patuh dengan guruAy kemudian Auapa yang kalian lakukan jika ada teman yang meminta maaf? Maka kalian harus memaafkan karena jika tidak saling memaafkan nanti tidak ada yang mau menolong kita jika sedang susahAy. Selain pada pembelajaran PAI mahasiswa juga memberi contoh materi pada kehidupan sehari-hari pada beberapa mata pelajaran lainnya. PEMBAHASAN DAN HASIL Hasil yang diperoleh dari penerapan pembelajaran contextual teaching and learning, ice breaking,dan metode student center dapat dikatakan efektif dan berpengaruh positif pada peningkatan motivasi siswa di SD Negeri Sukakerta 03. Hal ini dapat dilihat dari tabel pelaksanaan pre-test dan post-test AKM kelas serta hasil observasi yang telah dilakukan selama 4 bulan penerapan pembelajaran pembelajaran contextual teaching and learning, ice breaking,dan metode student center. Berikut tabel hasil AKM kelas yang telah dilakukan pada kelas 5 SD. https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 602-611 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. Gambar 2. Pre-test dan post-test literasi. Dari gambar kedua terdapat perbandingan pada skor siswa kelas 5 SD sebelum dan setelah diterapkan pembelajaran contextual teaching and learning, ice breaking, dan metode student Pada skor siswa di awal masih terdapat banyak siswa yang masuk dalam kategori Perlu Intervensi Khusus (PIK) yaitu sebanyak 9 siswa yang memperoleh skor di bawah 30. Kemudian jika dilihat dari hasil post-test pada skor siswa sudah banyak peningkatan dan hanya 1 siswa yang memperoleh skor di bawah 30. Gambar 3. Pre-test dan post-test numerasi. https://doi. org/10. 24912/jssh. Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa/i Di SD Negeri Surakerta 03 Reslawati et al. Kemudian pada gambar ketiga terdapat perbandingan skor siswa kelas 5 SD pada pembelajaran numerasi sebelum dan setelah diterapkan pembelajaran contextual teaching and learning, ice breaking,dan metode student center. Pada skor siswa di awal masih terdapat banyak siswa yang masuk dalam kategori Perlu Intervensi Khusus (PIK) yaitu sebanyak 6 siswa yang memperoleh skor di bawah 20 namun pada skor siswa pada pre-test numerasi masih mendapat skor rendah yang masuk dalam kategori dasar dan belum terdapat siswa yang memperoleh kategori cakap. Kemudian jika dilihat dari hasil post-test pada skor siswa sudah banyak peningkatan sehingga sudah tidak terdapat siswa dengan kategori Perlu Intervensi Khusus (PIK). Pada observasi selanjutnya yang kami lakukan untuk melihat peningkatan motivasi belajar siswa kelas 1 sampai 4 dan kelas 6 SD yaitu dengan mengamati antusias yang dimiliki siswa ketika pembelajaran. Siswa memiliki antusias yang meningkat, pada kerangka berpikir telah dijelaskan Auketika antusias siswa di dalam belajar bertambah, maka akan menambah durasi siswa untuk berkonsentrasi dalam mengikuti pembelajaran dan menyelesaikan tugas. Antusiasme siswa dalam belajar dapat dikatakan cerminan dari motivasi belajar siswaAy. Jika dilihat pada observasi lapangan yang telah dilakukan menunjukkan antusias siswa meningkat yang ditandai dengan perilaku siswa yang selalu mengikuti mahasiswa dan meminta mahasiswa mengisi kelas ketika kelas kosong . idak ada gur. yang bahkan ketika mahasiswa sedang mengajar di kelas lain. Program yang kami sarankan untuk menjadi solusi dalam meningkatkan motivasi belajar pada siswa/i di SD Negeri Sukakerta 03 mampu diterima dengan sangat baik oleh pihak sekolah maupun siswa bahkan kami mendapat laporan dari guru kelas 1 bahwa selama kami mengajar orang tua siswa memberi tanggapan positif. Mereka mengatakan AuIya pak, anak saya jadi lebih senang terus saya lihat juga mahasiswa telaten dalam mengajar anak-anakAy berikut sedikit ungkapan dari salah satu orang tua siswa yang disampaikan kepada guru pamong kami. Selain itu siswa/i juga mampu menerima dengan baik dalam proses pembelajaran dengan metode yang kami terapkan di kelas. AuKakak ga ngisi di kelas aku?Ay Aukakak besok ngajar di kelas aku lagi ga?Ay Aukak PR nya . ekerjaan ruma. dikumpulin ga? Kak PR nya di nilai ga?Ay Aukak aku udah ngerjain PRAy. Berikut merupakan beberapa ungkapan siswa yang menunjukkan antusias mereka dalam belajar bersama mahasiswa kampus mengajar. Mereka juga sering kali mengajak mahasiswa untuk bermain bersama Aukak main bola yukAy Aukak aku tadi ngambil timun di sana . ebun belakang sekola. Ay ungkapan-ungkapan yang mereka lontarkan kepada mahasiswa memang beraneka ragam dan terlihat antusias dengan ketika menyampaikannya. Selain itu pada observasi lapangan siswa sering kali mendatangi mahasiswa ketika baru sampai di lingkungan sekolah. Budaya yang sebelumnya telah berangsur hilang yaitu menyapa guru dan menyalami guru ketika bertemu mulai kembali menjadi kebiasaan setelah mahasiswa memberi arahan kepada siswa untuk selalu menyapa dan menyalami guru yang dijumpai. Jika dilihat dari kepatuhan siswa pada mahasiswa maka dapat diimplementasikan bahwa bonding yang dilakukan mahasiswa berhasil serta mampu menumbuhkan semangat belajar dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Sehingga pada program yang kami laksanakan dapat dikatakan efektif untuk meningkatkan semangat belajar dan motivasi belajar pada siswa di SD Negeri Sukakerta 03. Dengan adanya program ini siswa/i yang tadinya kehilangan semangat dalam belajar dan motivasi belajar karena sudah terbiasa dengan kegiatan pembelajaran secara online atau daring yang kemudian sudah masuk di era pra-pandemi yang memperbolehkan pembelajaran https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 602-611 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. tatap muka atau offline, hal ini menimbulkan kebiasaan baru pada siswa/i. Selain itu pembelajaran yang biasanya menggunakan metode ceramah atau teacher center menjadikan siswa/i merasa bosan dan mengantuk ketika pembelajaran berlangsung. Maka, dengan adanya program pembelajaran contextual teaching and learning, ice breaking,dan metode student center siswa terlihat lebih semangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Hal ini terlihat dari cara siswa/i menyambut kami ketika hadir di kelas dan siswa/i yang selalu meminta untuk kami mengajar di kelasnya. Observasi kami juga memperoleh hasil bahwa ketika di kelas siswa/i terlihat lebih ceria dan tidak ada siswa/i yang mengantuk di kelas. Pada pengamatan yang kami lakukan dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik ini ditinjau atau diukur dari hasil observasi sehari-hari dan hasil AKM yang diadakan untuk kelas 5 SD. Namun, dari program yang kami terapkan tentunya memiliki keterbatasan, beberapa keterbatasan pada program kami yaitu diperlukannya kreativitas guru dalam menciptakan suasana yang nyaman ketika pembelajaran. Kreativitas ini masih jarang dimiliki oleh guru sehingga diharapkan agar guru selalu mencari referensi terbaru terkait metode pembelajaran yang tepat untuk diterapkan. Keterbatasan lain yaitu sarana dan prasarana yang terbatas yang mengakibatkan kami sedikit kesulitan dalam menerapkan program kami, media belajar yang tersedia di sekolah masih terbilang sedikit. Media yang kami gunakan untuk mengukur peningkatan motivasi siswa adalah AKM kelas yang mana media ini tidak selalu dapat digunakan sehingga untuk mengganti media tersebut kami menyarankan kepada pihak sekolah maupun pihak lain yang ingin melakukan pengamatan terkait peningkatan motivasi siswa dapat menggunakan aplikasi lain atau menggunakan pre-test dan post-test secara manual seperti G-form maupun hardcopy dari beberapa pertanyaan dari bahan pre-test dan post-test. Ucapan Terima Kasih (Acknowledgemen. Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung dalam proses pembuatan artikel ini. DAFTAR PUSTAKA