KONSEPSI DAN PRAKSIS BELAJAR DALAM DUNIA PENDIDIKAN Entoh Tohani Dosen Jurusan PLS FIP UNY E-mail: entds@yahoo. Abstrak This article try to explain conception of learning in educational process. It is important to explore the conception in order to get good understanding of the meaning which is useful for teachers and other educators, hopefully they could be good teachers, e. they can do teaching learning proses well by application the right concept of learning. known, there are many cases in our education system which describes problems on achieving quality of human resources especially low spirit of learning in our country which must be overcome. Keyword: education, conception of learning, and teachers. Perkembangan kehidupan manusia mengalami perubahan-perubahan di mana dengan segenap kemampuannya manusia dapat melakukan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Perkembangan manusia dari manusia yang tradisional dengan kehidupan yang bersahaja dengan tradisinya menjadi manusia modern dengan kehidupannya yang berbasis ilmu pengetahuan, industri, dan pemanfaatan teknologi tidak lepas dari kemampuan manusia untuk menggali berbagai informasi atau pengetahuan yang bermanfaat untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Dalam hal ini, manusia merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dan dunianya. Kemajuan manusia dimaksud adalah kapasitas untuk belajar . earning capacit. Kapasitas belajar merupakan suatu potensi untuk mengembangkan individu menjadi pribadi yang produktif, kreatif, dan memiliki nilai Oleh karena itu, pendidikan perlu mengembangkan kapasitas belajar dari individu untuk gemar belajar sekaligus membangun masyarakat gemar belajar . earning societ. , di mana setiap warga masyarakat yang ada di lingkungannya selalu beraktivitas belajar baik secara individu maupun dengan menggunakan fasilitas yang di masyarakat. Konsepsi Belajar Belajar dapat dipahami dari aktivitas konkritnya di mana belajar dapat menjadi sebagai proses atau hasil yang mana keduanya tidak dapat dipisahkan. Sebagai proses menunjukkan bahwa belajar merupakan aktivitas seseorang, sebagai hasil menunjukkan perubahan perilaku seseorang setelah mengikuti proses belajar. Van Rossum-Hamer . dalam bukunya berjudul Ay The meaning of learning and knowingAy menjelaskan mengenai konsep belajar. Belajar dapat dibedakan menjadi enam pengertian, yang mana masingmasing pengertian memiliki konsekuensi pada aspek pembelajaran dan aspek pemahaman . Berikut uraian rinci mengenai konsepsi belajar: Pertama, belajar sebagai peningkatan pengetahuan. Konsep belajar ini mengandung makna bahwa belajar merupakan proses mengetahui sesuatu yang belum diketahui sebelumnya. Individu hanya mengumpulkan informasi-informasi yang belum diketahui . dan akhirnya informasi menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya . Proses belajar bukan suatu obyek refleksi. Pada konsepsi belajar ini, pengetahuan yang belum diketahui individu akan ditanamkan oleh pendidik/guru. Dalam hal ini transfer pengetahuan dalam proses pembelajaran cukup kuat dilakukan oleh guru terhadap peserta didik, di mana peserta didik hanya menerima pengetahuan yang disampaikan guru dan akhirnya menjadikan pengetahuan dalam pikirannya. Kedua, belajar sebagai kegiatan mengingat. Konsepsi belajar sebagai proses mengingat . menggambarkan bahwa belajar merupakan proses yang mana individu atau murid diminta untuk mengingat materi-materi/pengetahuan yang dijelaskan oleh guru. Guru menyampaikan materi kepada murid secara terstruktur dan lebih membekali murid dengan materi yang ada relevansinya dengan ujian kelak. Murid diminta untuk mengingat materi yang akan kelak diujikan. Dalam hal ini belajar adalah proses reproduksi pengetahuan seperti dalam tercermin penerapan metode kuis atau tanya jawab di proses Selain itu, ada pandangan mengenai kecerdasan khususnya kecerdasan intelektual di mana kecerdasan intelektual anak adalah bersifat tetap atau ajeg dan kemampuan mengingat murid dipengaruhi oleh faktor hereditas/keturunan. Ketiga, belajar sebagai pemahaman fakta, prosedur, dan lain-lain untuk digunakan di masa depan. Konsepsi belajar ini menekankan pada penguasan rumus-rumus, formula atau prosedur yang akan dapat digunakan untuk kehidupan di masa depan. Semua pengetahuan dipandang harus memiliki kebergunaan atau manfaat. Murid belajar mengenai prosedur atau lainnya yang dipandang oleh dirinya memberikan manfaat. dan mereka akan merasa mampu menerapkan pengetahuan dalam kehidupannya. Pengetahuan yang dimiliki akan diterapkan oleh murid seperti penggunaan prinsip algoritma. Guru akan menyelenggara pembelajaran yang bersifat adanya interaksi pembelajaran antara dirinya dengan peserta diri, sekaligus interaksi ini membentuk . pemahaman anak mengenai materi yang dipandang bermanfaat kelak. Proses pembelajaran seperti ini dapat diwujudkan dalam bentuk kerja kelompok terstruktur, pembelajaran berbasis proyek, dan analisis faktual. Metode-metode ini memungkinkan terjadi tindakan-tindakan cerdas atau kreatif yang dilakukan oleh murid dalam proses belajarnya di mana ia dapat mengembangkan intellegence behaviornya. Intelegence behavior memandang bahwa anak akan dalam berkembang tanpa mempersoalkan faktor keturunan dan kecerdasaan intelektual. Keempat, belajar sebagai pengabstraksian makna. Belajar sebagai pengabtraksian makna merupakan suatu proses belajar yang dilakukan oleh murid dengan mengkonstruk makna mengenai apa yang diketahui baik berupa fakta-fakta maupun prosedur. Murid melakukan aktivitas belajar ini bukan dipahami bahwa ia hanya melakukan aktivitas pereproduksi pengetahuan, namun melakukan aktivitas mengabstaksi makna dari apa yang olehnya lihat dan dengar. Dalam hal ini, pemahaman materi yang dipelajar menjadi objek Murid memiliki kesempatan untuk mengembangkan cara berfikirnya . ay of thingkin. dimana ia dapat membuat hubungan-hubungan dari beragam sumber atau materi. Murid dapat mengkonstuk teori mendasakan pengetahuan yang telah dimilikinya secara leluasi tanpa adanya dominasi dari pihak luar. Untuk mengembangkan cara berfikir murid yang tepat, tentunya seorang guru harus menyelenggarakan pembelajaran yang mengarahkan atau menunjukkan murid untuk nenelaah lebih jauh apa yang sudah diperolehnya dan menciptakan suasana yang bersifat menantang murid untuk berfikir terhadap dirinya sendiri. Murid dapat menggunakan pengetahuannya dengan cara-cara yang fleksibel baik di dalam maupun di luar setting pendidikan dimana kreativitas murid dimungkinkan muncul dan dapat dimanfaatkan. Terkait dengan ini, pandangan bahwa kecerdasan bersifat ajeg sudah tidak dapat digunakan, karena kecerdasan dalam konsepsi belajar ini dipahami sebagai sesuatau yang tidak ajeg/relatif misalnya adanya kecerdasan ganda . ultiple intelegenc. dan terdapat pandangan bahwa individu dapat berfikir bebas dalam mengatasi masalahmasalah kehidupan yang mana tidak selalu dapat diatasi dengan kecerdasan intelektual. Kelima, belajar sebagai pengembangkan cakrawala . Konsepsi belajar sebagai pengembangan cakrawala . dicirikan dengan harapan-harapan bahwa apa yang dipeljai murid seharusnya membantu murid menginterpretasikan realitas dalam Belajar bergerak keluar batas-batasan pendidikan sekolah. Karakteristik lain adalah belajar memerlukan interpretasi makna personal. Dalam hal ini, belajar melibatkan diri pelajar sebagai pelaku aktif kegiatan belajar. Apa yang dipelajari belum cukup signifikan secara personal, namun perlu memahami pikiran dan teori-teori orang lain sehingga murid dapat memiliki perspektif yang beragam dalam memahami sesuatu. Hasil dari proses ini adalah kemampuan untuk melihat sesuatu atau dunia dari suatu pandang yang berbeda, suatu pandangan kontekstual dan personal mengenai realitas. Murid dapat mengembangkan berbagai perspektif untuk melihat, mengetahui, dan memahami relatias dunia, melalui selalu mengembangkan keterbukaan pada perspektif-perspektif yang ada dan tidak bersikap mengunci dari dengan satu sudut pandangyang dapat mengembangkan kualitas dirinya. Dengan kata lain obyek refleksi dari konsep belajar ini adalah pengembangan diri. Belajar pada level ini dapat diibaratkan sebagai metapora yaitu sebagai suatu perjalanan, dengan murid sebagai AypelancongAy yang disertai oleh guru dan teman sebaya, dimana murid menikmati pemandangan selama perjalanannya. Dalam konteks pembelajaran, metapora ini mengarahkan bahwa guru perlu melaksanakan pembelajaran yang mengarahkan pada kebersamaan guru dan murid untuk bersama-sama mencari persamaan pemahaman mengenai kehidupan. Murid dalam pembelajaran bertindakan sebagai partisipan yang aktif dalam proses pembelajaran yang dialogis, di mana murid memiliki kebebasan dalam mengembangkan dan menyampaikan argumen-argumennya. Pembelajaran problem solving dalam cara-cara yang heuristik dapat menjadi suatu cara untuk terjadinya belajar ini. Keenam, belajar sebagai realisasi diri. Konsep belajar yang terakhir ini dicirikan dengan adanya suatu dimensi eksistensial. Diri peserta didik atau murid dilihat sebagai fokus Aspek proses dari dimensi eksistensial adalah tumbuhnya kesadaran diri, yaitu kesadaran untuk mempertanyakan Aysiapa diri saya?Ay untuk menjadi manusai yang diharapkan dirinya, manusia yang dapat bermanfaat untuk kehidupan masyarakatnya. Secara ringkas keenam konsepsi belajar diringkas dalam tabel di bawah ini: Konsepsi Meningkatan Pengetahuan Obyek Tidak satu Mengingat Relevansi Konsepsi Menanamkan pengetahuan yagn baik/jelas Menyampaian pengetahuan yang Konsepsi Memahami setiap kata, setiap Konsepsi Membandingkan fakta-fakta terhadap realitas Konsepsi Intelegensi Menjawab pertanyaan ujian Reproduksi pada Bawaan dan IQ ajeg terstruktur . enerima yang Berinteraski dan . nteracting and Pemahaman pplikasi atau Aplikasi depan/ramala Keberguna an di masa Memahami materi belajar Materi Menantang untuk berfikir terhadap dirimu sendiri suatu cara Memperluas Pengemban gan pribadi Pengajaran yang Menumbuhka n kesadaran Diri . Saling percaya dan hubungan yang otentik: Mengasilkan focus utama . enggunakan apa yang Membuat diantara sumbersumber. maksud penulis Merumuskan argument untuk mendukung atau menggunakan apa yang dipelajari dalam argument Menjawab pertanyaan ujian. Menggunakan dalam praktek Bawaan dan IQ ajeg Perilaku . ntellegent Menggunakan dalam cara-cara yang fleksibel, di dalam dan di luar creativitas dicapai dg mengikuti Problem solving dalam cara-cara heuristic dan Tidak ajeg Secara bebas berfikir dan Pengembang an pribadi. solving skiil. Kreativitas Kecerdasan Realita Saat Ini Keenam konsep belajar sebagaimana di atas, menggambarkan adanya perubahan konsep belajar mulai dari level yang paling rendah . elajar sebagai peningkatan pengetahua. sampai level belajar yang paling tinggi yaitu self aktualisasi. Dilihat dari sudut pandang teori belajar, khususnya pada bagaimana proses pembelajaran atau pendidikan yaitu hubungan pendidik dan peserta didik dilakukan, keenam konsepsi belajar di atas dapat dikategorikan ke dalam: pertama, pembelajaran behavioristik . elajar sebagai peningkatan pengetahuan, belajar sebagai aktivitas mengingat, dan belajar sebagai aplikasi reproduktif, dan kedua, pembelajaran konstukstivistik mencakup belajar sebagai memahami substansi, belajar sebagai mengembangkan wawasan, dan belajar sebagai aktualisasi diri. Pembelajaran pendidikan/pembelajaran di mana diri mereka kurang memiliki kebebasan dalam aktivitas Mereka ditempatkan sebagai apa yang disebut oleh Freire . dengan bejana kosong dalam pendidikan banking system. Murid dapat diisi dengan pengetahuanpengetahuan atau materi yang dimiliki guru melalui penstransferan. Pengetahuanpengetahuan akan diukur dengan instrumen ujian yang dilakukan pada akhir pembelajaran sehingga dapat dikatakan bahwa pendekatan ini adalah bersifat instrumental (Jarvis. Peter at al, 2003:. Guru memegang peranan yang dominan dalam pembelajaran, dimana ia menjadi seorang figur yang memiliki otoritas besar akan pribadi murid. Dengan kata lain, pembelajaran behavioristik merupakan teacher centered learning. Sedangkan pembelajaran konstruktivistik mengarah pada kekebasan individu atau murid untuk mengembangkan aktivitas belajarnya, menekankan student centered learning. Pembelajaran konstruktivisme merupakan aktivitas yang memungkinkan murid/peserta didik mengkonstruksi pemahaman dan pengetahuan mengenai realitas atau dunia, melaui proses mengalami sesuatu dan merefleksikan pengalaman-pengalamannya. Murid dapat merekonsialisasi pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki, mungkin mengubah pengetahuan yang ada, atau mungkin menghilangkan apa yang sudah diyakini, atau menolak pengetahuan yang baru karena tidak relevan. Dalam kasus ini, murid menjadi pencipta aktif dari pengetahuannya. dan untuk menjadikan demikian murid perlu mengajukan pertanyaan, mengeksplorasi, dan menilai apa yang dirinya ketahui. Belajar konstruktivistik terjadi apabila murid dalam mengkonstruk sendiri pengetahuan difasilitasi pendidik/guru, adanya rasa ingin tahu yang tinggi, aktif terlibat dalam proses pembelajaran, mampu merefleksikan apa yang dipelajari, dan melibatkan semua pihak atau sumber belajar . org/constructivism ). Dalam realitas, nampaknya proses pendidikan atau pembelajaran bahkan dalam konteks pengambilan kebijakan pendidikan di masyarakat masih didominasi oleh pemikiranpemikiran behavioristik. Sebagai misal, sering ditemukan tindakan-tindakan guru yang menghakimi murid dengan cara-cara yang tidak wajar, hubungan teman sebaya yang masih mengutamakan senioritas-yunioritas dengan berbagai bentuknya, kegiatan pembelajaran yang masih dilakukan di dalam ruang kelas dengan fasilitas yang terbatas, dan praktek penyelenggaraan ujian nasional (UAN) yang telah mengakibatkan munculnya perilaku yang kontraproduktif dalam kegiatan pembelajaran, serta adanya praktek-praktek pendidikan yang mengarah pada komersialisasi pendidikan. Adanya phenomena di atas, dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: pertama, dalam pengambilan kebijakan pendidikan yang sifatnya global lebih disebabkan pada kebijakan yang diwujudkan dalam satu pedoman umum yang mana sifatnya berlaku untuk semua secara homogen. dengan asumsi dapat mengatasi permasalahan yang ada dengan efektif dan efesien. Apalagi kebijakan pendidikan yang diambil merupakan hasil proses borrowing dari luar masyarakat yang mana tanpa ada penelaahan kembali secara kritis. Akibatnya tenaga pendidik atau guru sebagai pelaksana kebijakan pendidikan kurang memiliki kebebasan untuk melaksanakan proses pembelajaran sehingga kreativitas guru tidak dapat dikembangkan yang mana akhirnya guru menjadi individu yang stagnan dan tidak memiliki keinginan untuk berkembang, termasuk dalam menjalankan peran dan Ketua, penyempitan makna pendidikan atau belajar. Pendidikan atau belajar pada sebagai pendidik dan masyarakat masih sering disamakan dengan persekolahan. Masyarakat kadang merasa bangga dan menuntut anaknya untuk mengikuti pembelajaran di sekolah. Tidak jarang di kota-kota besar, keluarga sering kebingungan untuk melanjutkan pendidikan formal anaknya karena adanya persaingan yang kuat dengan keluarga lainnya. Kebingungan keluarga akan berakibat pada tindakan antisipasi keluarga untuk mempersiapkan anaknya dengan cara sedini mungkin mengarahkan dan kadang memaksa anaknya untuk mengikuti berbagai bimbingan belajar baik individu maupun organisasi. Ini menunjukkan betapa besarnya Auparential choiceAy dalam pendidikan formal anak. Akhirnya anak hanya dibekali dengan kemampuan-kemampun teknis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian. Apabila porsi waktu untuk mengikuti bimbingan belajar, tidak menutup kemungkinan anak akan kehilangan memahami kehidupan dan masyarakatnya. Padahal proses pendidikan dapat terjadi di manapun dan diselenggarakan oleh siapa pun misalnya lembaga pendidikan agama, lembaga swadaya masyarakat, dll. Pendidikan atau belajar merupakan suatu aktivitas yang berlanjut sepanjang hayat . ifelong learnin. Ketiga, budaya belajar yang rendah. Rendahnya budaya belajar yang baik pada guru maupun anak akan menyebabkan suatu lingkungan yang kurang tidak berkembang. Budaya belajar merupakan cerminan bagaimana individu atau masyarakat memiliki etos, dan sikap menghargai, memiliki antusiasme terhadap pengetahuan dan mempraktekkannya secara berkelanjutan dalam setiap kesempatan. Kondisi saat ini, terutama dalam masyarakat kita, budaya belajar masih memerlukan perhatian yang serius, misalnya daya beli masyarakat terhadap buku-buku bacaan lebih kecil dibanding dengan konsumsi masyakat terhadap barang-barang hedonis, toko buku lebih sepi dibanding supermarket atau mall. Sering terdengar bahwa masyarakat kita masih mementingkan budaya lisan dari pada budaya Konon, orang Eropa jika berada di dalam kereta api mereka membaca majalah atau lainnya, sebaliknya tidak di masyarakat kita. Hal ini menggambarkan bahwa kebutuhan akan pengetahuan masih terkalahkan dengan adanya kebutuhan atau keinginan lainnya. terjadi persaingan prioritas kebutuhan. Maka, dapat dikatakan bahwa budaya belajar sangat dipengaruhi oleh kehidupan sosial budaya masyarakat. Upaya Perbaikan Agar murid atau siapa pun yang belajar dapat melaksanakan aktivitas belajar ke arah yang lebih diharapkan yaitu belajar yang konstruktif, maka pengembangan pendidikan umumnya, dan perbaikan pembelajaran khususnya dalam upaya mengembangkan individu dan warga masyarakat yang mampu memberdayakan dirinya perlu dilakukan. Berikut ini beberapa pemikiran yang dapat dikemukakan:. Pertama, secara makro penyelenggaraan pendidikan perlu dilandasi oleh paham-paham Paham humanism yang memandang bahwa peserta didik memiliki segenap potensi yang dapat dikembangkan, memiliki keinginan dan kebebasan dalam mengembangkan dirinya, dan memiliki tujuan sendiri. Peserta didik bebas untuk mengembangkan dirinya (Whitehead, 1. Oleh karena itu, peserta didik perlu menyadari akan tujuan belajar dan pendidikannya dengan baik, dengan penuh kesadaran, disiplin dan tanggung jawab untuk mencapainya. Tentunya dibutuhkan bimbingan dan bantuan orang dewasa, orang tua, dan fasilitator untuk membantu peserta didik untuk mengetahui Kedua, perubahan sikap dan perilaku pendidik perlu dilakukan. Dalam pembelajaran, para pendidik perlu mengubah paradigm yang selama ini menerapkan paradigm keliru yaitu memandang peserta didik sebagai obyek, menjadi paradigm yang memandang siswa adalah subyek, yang perlu dihargai dalam proses pembelajaran, mengganggap hanya dirinya sebagai narasumber ahli dan tidak melakukan perlakuan-perlakuan behavioristik yang menyesatkan dan melemahkan/menghancurkan potensi peserta didik. Ketiga, pengembangan iklim positif untuk belajar. Kegiatan pembelajaran perlu dibangun dengan melaksanakan komunikasi dan dialog yang setara dalam proses mencari pengetahuan antara murid dan pendidik. Saling menghargai, saling menumbuhkan semangat belajar, dan saling memberi-menerima pengetahuan yang bermanfaat baik antar guru dan murid, atau antar murid harus diciptakan secara baik. Dalam hal ini, guru memiliki peran lebih yaitu sebagai pemberi arahan atau petunjuk mengenai kegiatan pembelajaran sekaligus mengenai materi yang akan dipelajari, dan memberikan fasilitasi untuk memungkinkan murid untuk melakukan aktivitas belajarnya. Selain itu, berbagai fasilitas pembelajaran harus disediakan sesuai dengan minat belajar peserta didik tentunya memerlukan penyediaan sumberdaya yang memadai. Ketiga, penguasaan substansi pembelajaran harus diarahkan pada perbaikan diri dan Materi atau pengetahuan yang dikembangkan di suatu lembaga pendidikan disusun mendasarkan pada pemikiran bahwa individu dapat menggunakannya baik untuk pengembangan kehidupan dirinya maupun untuk masyarakatnya. Pengetahuan yang diberikan harus bersifat memberi manfaat. Maka, pengetahuan perlu diinternalisasikan kepada peserta didik dengan berbagai pendekatan yang manusiawi, sesuai dengan perkembangan anak dan bermakna. Pembelajaran berbasis masalah . roblem based learnin. , pembelajaran kontekstual . onstextual learnin. , dan learning by project nampaknya dapat digunakan dalam proses pembelajaran, untuk terhindar dari transfer pengetahuan yang dogmatis dan tidak bermanfaat. Selain itu, substansi pembelajaran yang ada harus disampaikan, selain menarik dan menantang, mempertimbangkan pada tingkat kemampuan dan irama belajar peserta didik. Peserta didik yang memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi tentunya diberikan penugasan belajar yang berbeda dengan mereka yang kemampuan akademiknya lebih rendah, dengan tetap menumbuhkan suasana belajar bersama misal dalam kelompok diskusi. Keempat, subtansi pembelajaran yang diberikan perlu juga menyangkut permasalahanpermasalahan dalam konteks kehidupan masyarakat. Murid tidak hanya mempelajari materi yang terkandung dalam buku-buku teks, tapi mengkaji berbagai permasalahan social. Murid perlu perlu berinteraksi dengan lingkungan dengan baik dan menjadi bagian dari lingkungan. Hal ini mengisyaratkan bahwa lingkungan dapat dipelajari dan perlu dilestarikan. Dewasa ini, lahir konsep pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainability Developmen. , yang mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya dilakukan untuk tujuan pengembangan masyarakat secara total baik dalam bidang ekonomi, politik, social, dan juga kelestarian lingkungan hidup. Pembelajaran perlu membangun sikap dan perilaku peserta didik untuk sadar, peduli, menghargai, melestarikan lingkungan, dan tidak berperilaku mengeksploitasi lingkugan secara destruktif seperti perilaku illegal logging, pembakaran hutan dan pemanfaatan mineral yang berlebihan. Kelima, selain hal sebagaimana dipaparkan di atas, bagi dunia penting nampaknya perlu diperhatikan bagaimana terjadinya sharing pengetahuan dibentuk dari semua pihak. Keprofesionalan dalam dunia pendidikan yang mana setiap individu memiliki kompetensi yang sangat tinggi dalam masing-masing bidang keahlian perlu dibangun namun memperhatikan sumbangan pada profesi lain dan masih terbuka untuk menerima pegnaruh dari bidang profesi/keahlian lain. Ego sektoral dari suatu keahlian, mungkin perasaan keahliannya paling tinggi atau unggul, perlu dihindari dan diubah menjadi kesiapan untuk saling membelajarkan guna kemajuan bersama, tidak ada ilmu yang tinggi atau rendah. Begitu pula pandangan masyarakat bahwa ilmu-ilmu sains yang di lapangan lebih unggul dari ilmu sosial perlu diubah, dan disadari bahwa keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan dan dalam pemanfaatannya dapat saling digunakan bersama-sama. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Untuk membelajarkan anak, dan mengembangkan kapasitas belajar anak nampaknya perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh baik oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah. Ketiganya perlu membangun sinergitas dalam mengembangkan kapasitas belajar anak. Terkait ini, penciptaan lingkungan keluarga dan masyarakat yang mengarah pada pengembangan budaya belajar perlu di lakukan. Orang tua, tokoh masyarakat dan orang dewasa lainnya idealnya memiliki kesadaran yang tinggi mengenai budaya belajar, memberikan contoh kepada anak atau warga masyarakat lainnya mengenai perilaku belajar, dan memungkinkan menciptakan situasi yang baik untuk terselenggaranya aktivitas belajar misalnya dengan mengadakan perpustakaan keluarga, atau perpustakaan desa disertai usaha memotivasi warganya untuk memanfaatkan fasilitas belajar. SARAN Agar memperkaya khasanah pemikiran ilmu pendidikan, dan kependidikan pelbagai riset di pelbagai bidang menjadi keniscayaan. Muaranya agar pendidikan di Indonesia lambat laun menjadi semakin baik, tidak sebaliknya, lambat laun menjadi semakin runyam. Praktis, buah pikir kaum akademisi mutlak ditunggu-tunggu kehadirannya. DAFTAR PUSTAKA