Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6 . , 2026 p-ISSN: 2774-6291 e-ISSN: 2774-6534 Available online at http://cerdika. id/index. php/cerdika/index Potensi Pengelolaan Sampah dan Limbah Peternakan Berbasis Integrated Resources Recovery Center (IRRC) Devi Ratna Handini1* . Rusdiana Setyaningtyas2 Universitas Modern Al Rifa`ie Indonesia. Indonesia Universitas Muhammadiyah Jember. Indonesia Email: devirh99. umain@gmail. com* , rusdiana@unmuhjember. Abstrak Kecamatan Pujon dan Ngantang merupakan wilayah agrarisAepeternakan di Kabupaten Malang dengan karakteristik timbulan sampah dan limbah peternakan yang tinggi. Namun, belum terdapat kajian komprehensif yang mengintegrasikan potensi sampah rumah tangga dan manur sebagai dasar perencanaan sistem pengelolaan Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi pengelolaan sampah dan manur berbasis Integrated Resources Recovery Center (IRRC) melalui pendekatan kuantitatif-statistik terhadap data timbulan, komposisi sampah, dan produksi limbah ternak. Metode yang digunakan meliputi analisis deskriptif statistik, estimasi timbulan berbasis per kapita, survei komposisi selama tujuh hari berturut-turut, serta estimasi produksi manur menggunakan asumsi standar literatur. Hasil menunjukkan bahwa timbulan sampah rata-rata mencapai 29,22 ton/hari di Pujon dan 24,55 ton/hari di Ngantang, dengan dominasi fraksi organik di Pujon . ,38%) dan fraksi RDF di Ngantang . ,23%). Di sisi lain, produksi manur gabungan kedua kecamatan mencapai 1. 124,54 ton/hari, dengan potensi realistis tertangkap sebesar 112,45Ae224,91 ton/hari. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan IRRC terpadu yang mengombinasikan komposting. RDF, dan pemanfaatan manur sangat layak secara teknis dan strategis untuk mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan dan ekonomi sirkular di wilayah studi. Kata kunci: IRRC. RDF, manur, komposting, pengelolaan sampah. Pujon. Ngantang Abstract Pujon and Ngantang Sub-districts are agrarianAelivestock areas in Malang Regency characterized by high generation of municipal solid waste and livestock manure. However, there has been no comprehensive study integrating the potential of household waste and manure as a basis for integrated management system planning. This study aims to analyze the potential for waste and manure management based on an Integrated Resources Recovery Center (IRRC) using a quantitativeAestatistical approach to waste generation, waste composition, and livestock waste production data. The methods employed include descriptive statistical analysis, per capitaAebased waste generation estimation, a seven-day consecutive waste composition survey, and manure production estimation using standard assumptions from the literature. The results indicate that the average municipal solid waste generation reaches 29. 22 tons/day in Pujon and 24. 55 tons/day in Ngantang, with a dominance of organic waste in Pujon . 38%) and RDF fractions in Ngantang . 23%). Meanwhile, the combined manure production of both sub-districts reaches 1,124. 54 tons/day, with a realistic recoverable potential of 112. 45Ae224. 91 tons/day. These findings confirm that the development of an integrated IRRC system combining composting. RDF production, and manure utilization is technically feasible and strategically important for supporting sustainable environmental management and the implementation of a circular economy in the study area. Keywords: IRRC. RDF, manure, composting, waste management. Pujon. Ngantang PENDAHULUAN Kecamatan Pujon dan Ngantang terletak di bagian barat Kabupaten Malang. Secara astronomis Kecamatan Pujon terletak diantara 112A15'40" Ae 122A17'21" BT dan 7A31'19" Ae 7A29'37" LS. Sedangkan secara topografis memiliki karakteristik berbukit hingga pegunungan, berada pada ketinggian A1. 100 Ae 1. 200 mdpl, dengan curah hujan rata 2. 000 Ae 3. 000 mm/tahun, sedangkan Kecamatan Ngantang terletak diantara 112A12A54A Ae 122A13A43A BT dan 7A29A40A Ae 7A33A37A LS, berada pada ketinggian berkisar antara A500 Ae 700 mdpl. Rata-rata curah hujan tahunan mencapai sekitar 2518 mm. Dilihat dari geografisnya, wilayah Kecamatan Pujon dan Potensi Pengelolaan Sampah dan Limbah Peternakan Berbasis Integrated Resources Recovery Center (IRRC) Ngantang merupakan dataran tinggi dan tentunya mempengaruhi kesuburan tanah sehingga banyak penduduk mengoptimalkannya dengan bercocok tanam dan berternak (UNESCAP. World Bank, 2. Sehingga sektor peternakan sapi perah dan hortikultura . menjadi komoditas unggulan utama masyarakat. Peningkatan aktivitas permukiman, pertanian, dan peternakan di wilayah ini telah menyebabkan pertumbuhan timbulan sampah dan limbah organik yang signifikan (Campuzano & Gonzylez-Martynez, 2016. Costa et al. , 2023. Medina-Salas et al. , 2019. Yadav et al. , 2. Karakteristik wilayah yang relatif jauh dari tempat pemrosesan akhir (TPA) serta keterbatasan infrastruktur pengangkutan menyebabkan sistem pengelolaan sampah konvensional menjadi kurang efektif dan berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan. Peningkatan timbulan sampah di wilayah perdesaan tidak diikuti oleh peningkatan kapasitas sistem pengelolaan (Astuti et al. , 2024. Ranieri et al. , 2018. World Bank, 2. Model konvensional angkutAebuang ke TPA menghadapi kendala keterbatasan armada, jarak yang jauh, serta biaya operasional yang tinggi. Selain sampah rumah tangga, kedua kecamatan menghasilkan limbah peternakan dalam jumlah besar yang berpotensi menjadi sumber daya. Peningkatan timbulan sampah dan limbah organik di wilayah perdesaan merupakan isu yang semakin mendapat perhatian dalam kajian teknik lingkungan. Tchobanoglous. Theisen, dan Vigil . serta Tchobanoglous dan Kreith . menunjukkan bahwa wilayah perdesaan dan semi-perdesaan umumnya didominasi oleh fraksi organik dengan proporsi lebih dari 50%, sehingga pendekatan pengelolaan berbasis pemanfaatan sumber daya, khususnya komposting, lebih efektif dibandingkan sistem pembuangan akhir konvensional. Penelitian oleh Damanhuri dan Padmi . dalam konteks pengelolaan sampah di Indonesia menegaskan bahwa ketergantungan pada TPA sebagai solusi utama tidak berkelanjutan, terutama bagi daerah dengan jarak angkut yang jauh dan kapasitas TPA terbatas. Mereka menekankan pentingnya pengolahan di sumber dan skala kawasan sebagai strategi utama pengurangan beban TPA. Temuan ini diperkuat oleh studi Suryani et al. yang menunjukkan bahwa sistem TPS3R berbasis komposting mampu mengurangi timbulan sampah yang diangkut ke TPA hingga 30Ae50% di wilayah perdesaan Jawa Timur. Selain pengolahan organik, sejumlah penelitian mengkaji potensi refuse-derived fuel (RDF) sebagai alternatif pengelolaan fraksi residu bernilai kalor. Astrup et al. menyatakan bahwa RDF memiliki peran strategis dalam sistem pengelolaan sampah terpadu karena mampu mengonversi residu non-daur ulang menjadi sumber energi. Di Indonesia, penelitian Widodo. Raharjo, dan Lestari . menunjukkan bahwa RDF dari sampah rumah tangga memiliki nilai kalor yang cukup untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar substitusi di industri semen, khususnya apabila didukung oleh pemilahan yang baik di tingkat hulu. Di sisi lain, wilayah agrarisAepeternakan menghasilkan limbah peternakan . dalam jumlah yang sangat signifikan. Safley et al. serta Fulhage . melaporkan bahwa produksi manur sapi perah dapat mencapai puluhan kilogram per ekor per hari, menjadikan manur sebagai salah satu sumber limbah organik terbesar di wilayah pedesaan. Penelitian Budiyono et al. di Indonesia menunjukkan bahwa pemanfaatan manur sebagai bahan baku kompos dan pupuk organik mampu meningkatkan kualitas tanah sekaligus menurunkan pencemaran lingkungan di sekitar kawasan peternakan. Namun demikian, sebagian besar penelitian terkait manur masih dilakukan secara sektoral, terpisah dari sistem pengelolaan sampah rumah tangga. Bernstad dan la Cour Jansen . menekankan bahwa pemisahan kajian antara sampah kota dan limbah organik lainnya menyebabkan peluang integrasi sumber daya sering terabaikan. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih holistik dalam perencanaan sistem pengelolaan limbah. Pengelolaan sampah terintegrasi dengan konsep Integrated Resources Recovery Center (IRRC) menawarkan solusi dengan memaksimalkan pemulihan sumber daya melalui komposting, produksi Refuse-Derived Fuel (RDF), dan pengolahan limbah peternakan. Namun, perencanaan IRRC membutuhkan dasar analisis kuantitatif yang kuat terkait timbulan, komposisi, dan kontinuitas feedstock. Konsep Integrated Resources Recovery Center (IRRC) ini muncul sebagai pendekatan terpadu yang mengombinasikan pengolahan sampah rumah tangga, limbah organik, dan residu bernilai kalor dalam satu sistem pemulihan sumber daya. Studi Zurbrygg et al. dan Wilson et al. menunjukkan bahwa IRRC mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah, menekan emisi lingkungan, serta memperkuat ekonomi lokal melalui pemanfaatan produk hasil olahan. Di Indonesia, kajian IRRC masih relatif terbatas dan sebagian besar berfokus pada wilayah perkotaan, dengan minim penelitian kuantitatif yang mengintegrasikan sampah rumah tangga dan limbah peternakan di wilayah Berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu tersebut, terdapat research gap berupa belum adanya kajian yang secara komprehensif mengintegrasikan analisis timbulan sampah, komposisi sampah, dan produksi limbah peternakan dalam satu kerangka kuantitatif-statistik sebagai dasar perencanaan IRRC di wilayah agrarisAepeternakan. Kebaruan . penelitian ini terletak pada: . integrasi kuantitatif antara potensi sampah rumah tangga dan limbah peternakan dalam satu analisis sistem, yang belum dilakukan di penelitian sebelumnya. pendekatan statistik deskriptif dengan survei lapangan tujuh hari berturut-turut untuk menangkap variabilitas harian timbulan dan komposisi sampah. estimasi capture rate manur yang realistis . Ae20%) sebagai dasar perencanaan teknis yang aplikatif. fokus pada wilayah perdesaan agraris-peternakan yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam literatur IRRC di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut dengan menyajikan analisis statistik terapan untuk mendukung pengembangan IRRC terpadu di Kecamatan Pujon dan Ngantang. Kabupaten Malang dengan fokus pada analisis statistik potensi sampah dan manur sebagai dasar teknis pengembangan IRRC di Kecamatan Pujon dan Ngantang. Tujuan spesifik penelitian ini adalah: . mengkuantifikasi timbulan sampah harian dan komposisinya di kedua kecamatan, . mengestimasi potensi produksi manur dan tingkat capture rate yang realistis, . menganalisis kelayakan teknis pengembangan IRRC berbasis komposting dan RDF, dan . merumuskan rekomendasi strategis untuk implementasi sistem pengelolaan Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan basis data kuantitatif untuk perencanaan infrastruktur IRRC, menjadi rujukan kebijakan pengelolaan sampah di wilayah agraris-peternakan, dan berkontribusi pada pengembangan ekonomi sirkular di tingkat lokal. METODE PENELITIAN Lokasi penelitian di Kecamatan Pujon dan Ngantang. Kabupaten Malang, dengan lokasi survei utama TPS3R Ngabab. Pandesari. Madiredo, dan Waturejo. Data yang digunakan data sekunder dan data primer. Pengambilan data primer dilakukan dengan survey timbulan sampah selama 7 hari berturut-turut. Penelitian ini menggunakan desain observasional kuantitatif dengan pendekatan deskriptifAeinferensial terbatas. Pendekatan ini dipilih karena tujuan utama penelitian adalah: Mengestimasi besaran timbulan dan potensi sumber daya limbah. Menganalisis karakteristik statistik data lapangan. Menyusun dasar teknis perencanaan Integrated Resources Recovery Center (IRRC) skala kecamatan dari potensi timbulan sampah, kuantifikasi potensi dan variabilitas Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kuantitatif. Data kependudukan diperoleh dari publikasi BPS, sedangkan data peternakan menggunakan Profil Kabupaten Malang 2024 . Survei komposisi sampah dilakukan di TPS3R Pujon dan Ngantang tahun 2025. Adapaun tahapan penelitian ini adalah sebagai berikut : Potensi Pengelolaan Sampah dan Limbah Peternakan Berbasis Integrated Resources Recovery Center (IRRC) Tahapan awal penelitian dimulai dengan identifikasi permasalahan, yaitu tingginya timbulan sampah rumah tangga dan limbah peternakan di Kecamatan Pujon dan Ngantang yang belum dikelola secara optimal serta masih bergantung pada sistem pengangkutan konvensional menuju tempat pemrosesan akhir. Selanjutnya, dilakukan perumusan tujuan penelitian yang difokuskan pada analisis potensi pengelolaan sampah dan manur berbasis Integrated Resources Recovery Center (IRRC) melalui pendekatan kuantitatif dan statistik. Pada tahap ini juga ditetapkan ruang lingkup penelitian yang mencakup timbulan sampah, komposisi sampah, serta produksi limbah peternakan sebagai sumber bahan baku utama IRRC. Tahap berikutnya adalah studi literatur dan regulasi, yang bertujuan memperoleh landasan teoritis dan metodologis terkait konsep IRRC, pengolahan RDF, komposting, pemanfaatan manur, serta standar perhitungan timbulan dan metode analisis statistik yang lazim digunakan dalam studi teknik lingkungan. Literatur ini menjadi dasar dalam penentuan parameter, asumsi, dan pendekatan analisis yang digunakan. Setelah itu, dilakukan penentuan lokasi dan objek penelitian, yaitu Kecamatan Pujon dan Ngantang sebagai wilayah studi, dengan objek utama berupa aktivitas timbulan sampah rumah tangga di TPS3R serta kegiatan peternakan yang menghasilkan limbah manur. Pemilihan lokasi didasarkan pada karakteristik wilayah agrarisAepeternakan dan ketersediaan data pendukung. Tahap pengumpulan data dilakukan melalui dua pendekatan. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik, dokumen profil wilayah, serta literatur teknis yang memuat data jumlah penduduk, populasi ternak, dan parameter produksi limbah. Sementara itu, data primer dikumpulkan melalui survei lapangan berupa penimbangan dan pemilahan sampah di TPS3R selama tujuh hari berturut-turut untuk memperoleh gambaran variasi timbulan dan komposisi sampah harian. Data yang terkumpul kemudian melalui tahap pengolahan data awal, meliputi konversi satuan, rekapitulasi data harian, serta pengelompokan jenis sampah ke dalam kategori organik, daur ulang, dan refuse-derived fuel (RDF). Pengolahan ini bertujuan menghasilkan data yang siap dianalisis secara statistik. Selanjutnya dilakukan analisis statistik deskriptif, yang mencakup perhitungan nilai ratarata timbulan sampah, proporsi komposisi sampah, serta analisis variabilitas timbulan harian. Selain itu, dilakukan analisis perbandingan antara Kecamatan Pujon dan Ngantang untuk mengidentifikasi perbedaan karakteristik timbulan dan komposisi sampah yang berimplikasi pada desain IRRC. Secara paralel, dilakukan estimasi produksi limbah peternakan . berdasarkan data populasi ternak dan asumsi produksi harian yang diacu dari literatur. Estimasi ini dilanjutkan dengan analisis skenario tingkat penangkapan . apture rat. sebesar 10Ae20 persen untuk menggambarkan potensi realistis manur yang dapat dimanfaatkan dalam sistem IRRC. Tahap berikutnya adalah analisis potensi IRRC terpadu, yang mengintegrasikan hasil analisis timbulan sampah, komposisi sampah, dan potensi manur untuk menilai kelayakan teknis pengembangan IRRC berbasis komposting. RDF, dan pemanfaatan manur. Analisis ini digunakan sebagai dasar untuk menentukan skala fasilitas dan arah pengembangan sistem pengelolaan limbah terpadu. Tahap akhir penelitian adalah interpretasi hasil, penarikan kesimpulan, dan perumusan rekomendasi, yang menekankan pada implikasi teknis dan strategis pengembangan IRRC dalam mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan dan penerapan ekonomi sirkular di Kecamatan Pujon dan Ngantang. Gambar 1. Diagram Alir Metode Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Timbulan dan Komposisi Sampah Berdasarkan data jumlah penduduk Pujon tercatat sebanyak 71. 263 jiwa, dan jumlah penduduk Ngantang 59. 879 jiwa. Tabel 1. Luas. Jumlah Penduduk. RT dan RW Tiap Desa di Kecamatan Pujon Tahun 2024 Jumlah Jumlah Jumlah Desa Luas . Penduduk (Jiw. Bendosari 1,78 Sukomulyo 3,74 Pujon Kidul 4,86 Pandesari 5,20 Pujon Lor 2,78 Ngroto 2,46 Ngabab 3,99 Tawangsari 3,52 Potensi Pengelolaan Sampah dan Limbah Peternakan Berbasis Integrated Resources Recovery Center (IRRC) Desa Luas . Jumlah Penduduk (Jiw. Jumlah Madiredo 2,65 Wiyurejo 3,20 Total Kecamatan 34,18 Pujon Sumber: Kecamatan Pujon dalam Angka 2025 Jumlah Tabel 2. Luas. Jumlah Penduduk. RT dan RW Tiap Desa di Kecamatan Ngantang Tahun 2023 Luas Jumlah Jumlah Desa Jumlah RW Penduduk (Jiw. Pagersari 23,81 Sidodadi 19,44 Banjarejo 10,63 Purworejo 16,08 Ngantru 11,43 Banturejo 5,99 Pandansari 18,40 Mulyorejo 5,40 Sumberagung 7,56 Kaumrejo 5,90 Tulungrejo 7,80 Waturejo 5,17 Jombok 10,19 Total Kecamatan 147,80 Sumber: Kecamatan Ngantang dalam Angka 2024 Timbulan sampah per kapita di Kabupaten Malang berkisar antara 0,38Ae0,44 kg/orang/hari . ata-rata 0,41 kg/orang/har. Dengan menggunakan rentang tersebut, besarnya timbulan sampah harian di Pujon dan Ngantang dapat diperkirakan adalah sebagai berikut: Tabel 3. Timbulan Sampah per hari Kecamatan Pujon Ngantang Timbulan Minimum 27,08 ton/hari 22,75 ton/hari Timbulan Maksimum 31,36 ton/hari 26,35 ton/hari Timbulan Rata-Rata 29,22 ton/hari 24,55 ton/hari Sumber: Hasil Analisa Dengan demikian, timbulan sampah di Kecamatan Pujon berkisar antara 27,08Ae31,36 ton/hari atau 190Ae219 ton/minggu, dengan rata-rata sebesar 204,5 ton/minggu. Sedangkan di Kecamatan Ngantang, timbulan sampahnya mencapai 22,75Ae26,35 ton/hari atau 159Ae184 ton/minggu, dengan rata-rata sebesar 171,5 ton/minggu. Survey komposisi sampah selama tujuh hari berturut-turut di TPS3R Kecamatan Pujon (Ngabab. Pandesari. Madirej. dan Kecamatan Ngantang (Waturej. Survei dilakukan dengan metode penimbangan langsung dan klasifikasi jenis sampah. Hasil survey ini menunjukkan karakteristik timbulan yang berbeda antara kedua kecamatan, namun keduanya memiliki potensi feedstock yang cukup untuk mendukung operasional IRRCAeRDF dan komposting. Tabel 4. Komposisi Sampah Kecamatan Pujon dan Ngantang Pujon Berat Rata-rata Sampling . Ngantang Berat Ratarata Sampling . No. Jenis Sampah Sisa makanan, sayur, buah . 41,84 42,33 1,56 15,79 Daun kering, ranting kecil 3,54 3,58 1,40 14,13 Kayu kering 6,40 6,47 0,00 0,00 Botol & gelas plastic (PET/PP) Kertas & kardus bersih Kaca & logam Plastik sachet, kresek, plastik tipis (LDPE/multilaye. Kertas kotor / berminyak Kain, pakaian, lap Sandal, sol sepatu, busa/spon Popok, pembalut, residu lainnya TOTAL 5,66 5,04 9,11 5,73 5,10 9,21 0,56 0,30 2,10 5,62 3,03 21,20 Organik Organik Organik Recycleable Recycleable Recycleable 4,88 4,94 0,85 8,58 RDF 3,14 6,03 3,18 6,10 0,69 0,45 6,99 4,54 RDF RDF 6,88 6,96 0,81 8,22 RDF 1,18 11,90 9,91 100,00 RDF 6,34 6,41 98,86 100,00 Klasifikasi Sumber: hasil survey komposisi sampah di TPS3R Kecamatan Pujon dan Ngantang, 2025 Hasil survei di Kecamatan Pujon menunjukkan bahwa fraksi organik basah mendominasi dengan porsi 42,33%, ditambah daun/ranting dan kayu 10,95%. Fraksi plastik tercatat 10,66%, terdiri atas botol dan gelas plastik yang umumnya berbahan PET dan PP, serta plastik tipis dan sachet yang didominasi LDPE dan multilayer. Fraksi residu popok dan pembalut mencapai 6,41%, sementara kaca dan logam terhitung 9,21%. Di Kecamatan Ngantang, komposisi sampah lebih beragam. Fraksi kaca dan logam cukup tinggi, yaitu 21,20%, sedangkan organik basah hanya 15,79%. Fraksi plastik relatif lebih besar dibanding Pujon, mencapai 14,20%, dengan dominasi plastik tipis dan sachet. Fraksi popok dan pembalut juga signifikan, hampir 12% . ,90%). Perbedaan komposisi ini menunjukkan karakteristik timbulan sampah yang khas di masing-masing kecamatan. Pujon memiliki dominasi organik yang kuat, sejalan dengan aktivitas agraris dan konsumsi rumah tangga berbasis hasil pertanian. Ngantang memperlihatkan proporsi residu anorganik yang lebih besar, terutama kaca, logam, dan plastik tipis, yang mencerminkan pola konsumsi berbeda serta potensi pemilahan yang lebih menantang. Potensi Pengelolaan Sampah dan Limbah Peternakan Berbasis Integrated Resources Recovery Center (IRRC) Kaca & logam 9,21% Popok, pembalut, residu lainnya 6,41% Kayu kering 6,47% Sandal, sol sepatu, busa/spon sintetis 6,96% Sisa makanan, sayur, buah . 42,33% Kain, pakaian, lap 6,10% Daun kering, ranting kecil 3,58% Kertas kotor / 3,18% Kertas & kardus 5,10% Plastik sachet, kresek, plastik tipis 4,94% Botol & gelas plastik 5,73% Gambar 2. Komposisi Sampah di Kecamatan Pujon (Sumber: hasil survey, 2. Oe Hasil survei komposisi di TPS3R Kecamatan Pujon dan Ngantang menunjukkan adanya fraksi plastik yang cukup menonjol. Botol dan gelas plastik . ekitar 5Ae6%) umumnya berbahan PET dan PP, sedangkan plastik tipis dan sachet . ekitar 5Ae9%) didominasi oleh LDPE dan multilayer. Bersama dengan residu popok dan pembalut, fraksi ini menjadi sumber potensial RDF karena memiliki nilai kalor yang relatif tinggi. Sementara itu, sebagian plastik bernilai daur ulang seperti PET dan kardus bersih cenderung terserap oleh bank sampah maupun sector informal. Popok, pembalut, residu lainnya 11,90% Sisa makanan, sayur, buah . 15,79% Daun kering, ranting kecil 14,13% Kaca & logam 21,20% Botol & gelas 5,62% Kayu kering 0,00% Sandal, sol sepatu, busa/spon sintetis 8,22% Plastik sachet, kresek, plastik tipis 8,58% Kain, pakaian, lap 4,54% Kertas kotor / 6,99% Kertas & kardus 3,03% Gambar 3. Komposisi Sampah di Kecamatan Ngantang (Sumber: hasil survey, 2. Oleh karena itu, fraksi RDF yang realistis terutama berasal dari plastik multilayer, kantong kresek, serta residu non-recyclable, sedangkan fraksi organik diarahkan untuk komposting dan biofermentor. Untuk menjaga kejelasan perhitungan feedstock RDF, komposisi dari 11 jenis sampah hasil survey dibagi menjadi tiga kelompok pemanfaatan: organik . , recycleable . idaur ulan. , dan RDF . on-recyclable bernilai kalo. Tabel 5 berikut merangkum persentase tiap kelompok di Kecamatan Pujon dan Ngantang. Di Pujon, sampah organik yang berpotensi untuk kompos mendominasi dengan proporsi sekitar 52,38% . abungan organik basah dan kerin. , sementara material recycleable seperti plastik PET/PP, kertas bersih, kaca, dan logam menyumbang 20,04%. Sisanya, sekitar 27,59%, merupakan RDF feedstock berupa plastik tipis, kertas kotor, tekstil, dan popok sekali pakai. Sebaliknya, di Ngantang, proporsi sampah organik untuk kompos relatif lebih rendah, yaitu 29,92%, sedangkan material recycleable hampir setara dengan Pujon, yaitu 29,85%. RDF feedstock justru mendominasi dengan proporsi tertinggi, mencapai 40,23%. Perbedaan ini menunjukkan bahwa karakteristik sampah di Ngantang lebih banyak didominasi oleh material yang sulit dikomposkan, sehingga strategi pengelolaan perlu menekankan pada pemanfaatan RDF dan peningkatan pemilahan Tabel 5. Ringkasan Komposisi Sampah Berdasarkan Kelompok Pemanfaatan per Kecamatan Kelompok pemanfaatan Organik untuk kompos . isa makanan, daun/ranting, kay. Recycleable . otol/gelas plastik PET/PP, kertas/kardus bersih, kaca & RDF feedstock . lastik sachet/kresek, kertas kotor, tekstil, sandal/busa, popok/pembalu. Pujon (%) 52,38 20,04 Ngantang (%) 29,92 29,85 27,59 40,23 Sumber: analisis berdasarkan hasil survei komposisi sampah di TPS3R Pujon dan Ngantang. Gambaran komposisi sampah per kecamatan menunjukkan perbedaan karakter antara Pujon dan Ngantang. Namun, kondisi di lapangan tidak hanya ditentukan oleh persentase komposisi, melainkan juga oleh sebaran penduduk dan timbulan sampah di tiap desa. Tabel 6 dan Tabel 7 menyajikan sebaran timbulan harian dan komposisi sampah di setiap desa di Kecamatan Pujon dan Ngantang. Tabel 6. Sebaran Timbulan Sampah Harian dan Komposisi per Desa di Kecamatan Pujon Desa Bendosari Sukomulyo Pujon Kidul Pandesari Pujon Lor Ngroto Ngabab Tawangsari Madiredo Wiyurejo Total Jumlah Penduduk . Timbulan Sampah on/har. 1,69 2,76 1,91 4,58 3,23 2,76 3,37 2,90 3,71 2,31 29,22 Organik Basah ,33%) Organik ,05%) 0,72 1,17 0,81 1,94 1,37 1,17 1,43 1,23 1,57 0,98 12,37 0,17 0,28 0,19 0,46 0,32 0,28 0,34 0,29 0,37 0,23 2,94 Timbulan Sampah berdasarkan Komposisi . on/har. Plastik Kertas Plastik Kertas /berminyak . ,73%) . ,1%) . ,94%) . ,18%) 0,10 0,08 0,09 0,05 0,16 0,14 0,14 0,09 0,11 0,09 0,10 0,06 0,26 0,23 0,23 0,15 0,19 0,16 0,16 0,10 0,16 0,14 0,14 0,09 0,19 0,17 0,17 0,11 0,17 0,14 0,15 0,09 0,21 0,18 0,19 0,12 0,13 0,11 0,12 0,07 1,67 1,44 1,49 0,93 Kaca & . ,21%) 0,16 0,25 0,18 0,42 0,30 0,25 0,31 0,27 0,34 0,21 2,69 Residu ,47%) 0,33 0,54 0,37 0,89 0,63 0,54 0,66 0,56 0,72 0,45 5,69 Sumber: Kecamatan Pujon dalam Angka 2025 dan hasil survey, 2025 Kecamatan Pujon, desa dengan populasi besar seperti Pandesari dan Madiredo menghasilkan timbulan harian yang lebih tinggi dibandingkan desa kecil seperti Bendosari atau Pujon Kidul. Komposisi sampah di Pujon didominasi oleh fraksi organik, baik basah maupun kering, yang mencapai lebih dari separuh total timbulan . ,38%). Kondisi ini mencerminkan karakter wilayah agraris dan sekaligus menunjukkan potensi besar untuk komposting dan pengolahan organik. Potensi Pengelolaan Sampah dan Limbah Peternakan Berbasis Integrated Resources Recovery Center (IRRC) Tabel 7. Sebaran Timbulan Sampah Harian dan Komposisi per Desa di Kecamatan Ngantang Timbulan Sampah berdasarkan Komposisi . on/har. Organi Plastik Kertas Plastik Kertas /berminy . ,03 . ,13 . ,62%) . ,58%) . ,99%) 0,21 0,08 0,13 0,05 0,10 0,31 0,12 0,19 0,07 0,15 0,29 0,12 0,18 0,06 0,15 Pagersari Sidodadi Banjarejo Timbula Sampah on/har 1,49 2,17 2,08 Purworejo Ngantru Banturejo Pandansari Mulyorejo Sumberagu Kaumrejo Tulungrejo Waturejo Jombok Total 1,78 2,28 1,42 2,12 1,83 2,37 0,28 0,36 0,22 0,33 0,29 0,37 0,25 0,32 0,20 0,30 0,26 0,33 0,10 0,13 0,08 0,12 0,10 0,13 0,15 0,20 0,12 0,18 0,16 0,20 0,05 0,07 0,04 0,06 0,06 0,07 0,12 0,16 0,10 0,15 0,13 0,17 0,38 0,48 0,30 0,45 0,39 0,50 0,44 0,56 0,35 0,52 0,45 0,58 2,11 1,54 1,42 1,95 24,55 0,33 0,24 0,22 0,31 3,88 0,30 0,22 0,20 0,28 3,47 0,12 0,09 0,08 0,11 1,38 0,18 0,13 0,12 0,17 2,11 0,06 0,05 0,04 0,06 0,74 0,15 0,11 0,10 0,14 1,72 0,45 0,33 0,30 0,41 5,20 0,52 0,38 0,35 0,48 6,05 Jumlah Pendudu k (Jiw. Desa Organi k Basah ,79 0,23 0,34 0,33 Kaca 0,31 0,46 0,44 Residu ,66 0,37 0,54 0,51 Sumber: Kecamatan Ngantang dalam Angka 2024 dan hasil survey, 2025 Fraksi organik . asah dan kerin. relatif lebih rendah . ,92%), sedangkan fraksi kaca dan logam serta residu tinggi kalor justru lebih menonjol mencapai 45,86%. Desa dengan jumlah penduduk besar seperti Ngantru dan Sumberagung menjadi penyumbang utama timbulan harian, sementara desa kecil seperti Banturejo dan Waturejo memberikan kontribusi lebih rendah. Proporsi plastik non-recycleable yang mencapai 8,58%, serta residu popok/pembalut, kain, busa, dan sandal/sepatu yang mencapai 24,66% di Ngantang menegaskan potensi wilayah ini sebagai suplai tambahan untuk feedstock RDF. Potensi Limbah Peternakan Data jumlah ternak di Kecamatan Pujon menunjukkan variasi antara sumber tahun 2022 Berdasarkan Profil Kecamatan Pujon 2022, populasi sapi perah mencapai 27. ekor dan sapi potong 234 ekor, sehingga total sapi di Pujon saat itu berjumlah 27. 267 ekor Namun, data terbaru dari Profil Kabupaten Malang 2024 . mencatat populasi sapi di Pujon sebanyak 25. 734 ekor. Perbedaan ini mencerminkan adanya dinamika populasi ternak dari tahun ke tahun, sekaligus menegaskan pentingnya menggunakan data baseline terbaru untuk estimasi produksi manur, sementara data per desa tetap berguna untuk memahami sebaran peternak dan konsentrasi populasi sapi di tingkat lokal. Produksi manur dapat dihitung dengan asumsi produksi kotoran sekitar 25 kg/ekor/hari untuk sapi dan sekitar 2 kg/ekor/hari untuk kambing/domba. Estimasi produksi manur harian di Pujon dan Ngantang ditunjukkan dalam Tabel 8, menggunakan baseline data ternak tahun 2023 dari Profil Kabupaten Malang Tabel 8. Estimasi Produksi Manur Harian Kecamatan Pujon dan Ngantang (Baseline 2. Jenis Ternak Kecamatan Sapi Perah Pujon Sapi Potong Pujon Subtotal Sapi Pujon Kambing & Domba Pujon Total Pujon Sapi Perah Ngantang Sapi Potong Ngantang Subtotal Sapi Ngantang Jumlah . Ai Produksi Manur per Ekor . g/har. Ai Ai Ai Total Produksi Manur . on/har. 604,55 38,80 643,35 13,43 656,78 417,10 28,90 446,00 Jenis Ternak Kecamatan Kambing & Domba Ngantang Total Ngantang Total Pujon & Ngantang Jumlah . Ai Produksi Manur per Ekor . g/har. Ai Total Produksi Manur . on/har. 21,76 467,76 124,54 Sumber: Profil Kabupaten Malang 2024 & pengolahan data sekunder, 2025 Produksi manur harian di Kecamatan Pujon dan Ngantang menunjukkan potensi yang sangat besar sebagai sumber bahan organik. Di Pujon, populasi sapi perah mencapai 24. ekor dan sapi potong 1. 552 ekor, dengan estimasi produksi manur 643,35 ton per hari. Selain itu, populasi kambing dan domba sebanyak 6. 713 ekor menambah kontribusi 13,43 ton per hari, sehingga total produksi manur di Pujon diperkirakan mencapai 656,78 ton per hari. Di Ngantang, populasi sapi perah tercatat 16. 684 ekor dan sapi potong 1. 156 ekor, menghasilkan 446 ton manur per hari. Populasi kambing dan domba yang lebih besar, yaitu 882 ekor, menyumbang tambahan 21,76 ton per hari. Dengan demikian, total produksi manur di Ngantang mencapai 467,76 ton per hari. Secara keseluruhan, kedua kecamatan menghasilkan 1. 124,54 ton manur per hari, yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos maupun co-processing RDF. Angka ini menegaskan bahwa sektor peternakan di Pujon dan Ngantang bukan hanya menopang ekonomi lokal, tetapi juga menyediakan sumber daya organik yang signifikan untuk mendukung pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Namun, tidak seluruh produksi manur dapat ditangkap dan masuk ke sistem Dengan tingkat penangkapan konservatif . apture rat. sebesar 10Ae20%, manur yang tersedia di Kecamatan Pujon berkisar antara 65,68Ae131,36 ton/hari, sedangkan di Kecamatan Ngantang berada pada kisaran 46,78Ae93,55 ton/hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun produksi manur harian sangat melimpah, hanya sebagian yang realistis dapat Tabel 9 menampilkan estimasi manur yang benar-benar masuk ke sistem IRRC atau komposter. Tabel 9. Estimasi Manur Tersedia untuk Pengolahan (Capture Rate/= 10Ae20%) Kecamatan Pujon Ngantang Total Total Produksi Manur on/har. 656,78 467,76 124,54 Manur Tersedia . on/har. Capture Rate Capture Rate Capture Rate 65,68 98,52 131,36 46,78 70,16 93,55 112,45 168,68 224,91 Sumber: Pengolahan data sekunder, 2025 Implikasi Pengembangan IRRC Rendahnya tingkat pengangkutan sampah dan melimpahnya sumber daya organik menegaskan bahwa pendekatan konvensional tidak berkelanjutan. IRRC mampu mengintegrasikan pengolahan sampah rumah tangga dan manur, mengurangi beban TPA, serta menekan risiko lingkungan seperti pembakaran terbuka dan pencemaran sungai. KESIMPULAN Kecamatan Pujon dan Ngantang memiliki potensi sangat besar untuk pengembangan IRRC terpadu. Kombinasi timbulan sampah sebesar 53,77 ton/hari dan manur tertangkap hingga 224,91 ton/hari menjadikan sistem IRRC berbasis komposting dan RDF berpotensi diterapkan dikedua wilayah tersebut. Potensi Pengelolaan Sampah dan Limbah Peternakan Berbasis Integrated Resources Recovery Center (IRRC) DAFTAR PUSTAKA