HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP DUKUNGAN ORANG TUA DENGAN KECEMASAN ANAK (SISWA) MENJELANG UJIAN NASIONAL Suparmi Mahasiswa Program Doktoral Universitas Negeri Yogyakarta Jln. Colombo. No. Depok. Telp. e-mail: suparmip@gmail. Abstract: This study aims at determining the correlation between childrenAos . perception toward parental support and childrenAos . anxiety leading up to the National Examination (UN) in class IX at 2 Depok. Sleman. Yogyakarta State Yunior High School. The hypothesis of this study was that there was a negative correlation between the childrenAos . perception toward parental support and childrenAos . anxiety levels toward the UN. The subjects were students of class IX at 2 Depok. Sleman. Yogyakarta State Yunior High School, amounted of 116 students. Furthermore, the data collection used in this study was the scale of the childrenAos . anxiety toward the UN amounted to 25 valid item, = 0. 853, and the scale of the childrenAos . perception to parental support amounted to 27 valid item, = 0. 905, which had been tested on 105 students of class IX at 5 Depok Sleman. Yogyakarta State Yunior High School. Based on the correlation analysis, it was shown that a correlation coefficient was -0. <0. This meant that there was a significant negative correlation between the childrenAos . perception to parental support and childrenAos . anxiety levels toward the UN. It meant that the higher the childrenAos . perception to parental support, the lower the childrenAos . anxiety toward the UN would be. Otherwise, the lower the childrenAos . perception to parental support, the higher childrenAos . anxiety toward the UN would be. Key words: The childrenAos . Perception to Parental Support, childrenAos Anxiety (Student. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi anak . terhadap dukungan orangtua dengan kecemasan anak . menjelang Ujian Nasional (UN) pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Depok Sleman Yogyakarta. Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif antara persepsi anak . terhadap dukungan orangtua dengan tingkat kecemasan anak . menjelang UN. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX SMPN 2 Depok Sleman. Yogyakarta, berjumlah 116 siswa. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kecemasan anak . menjelang UN berjumlah 25 aitem diterima, = 0,853, dan skala persepsi anak . terhadap dukungan orangtua berjumlah 27 aitem diterima, = 0,905, yang telah diujicobakan pada 105 siswa kelas IX SMP Negeri 5 Depok Sleman Yogyakarta. Analisis korelasi menunjukkan nilai koefisien korelasi -0,408 . < 0,. Artinya terdapat hubungan Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 2. Desember 2015, hlm. negatif yang signifikan antara persepsi anak . terhadap dukungan orangtua dengan tingkat kecemasan anak . menjelang UN. Hal ini menunjukkan bahwa, semakin tinggi dukungan orangtua yang dipersepsikan anak . , maka kecemasan anak . menjelang UN cenderung rendah. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah dukungan orangtua yang dipersepsikan anak . , maka kecemasan anak . menjelang UN cenderung tinggi. Key words: Persepsi, anak . , orang tua, dan kecemasan Peraturan Menteri Pendidikan Dan KebuA dayaan (Permendikbu. Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik Dari Satuan Pendidikan Dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/ Madrasah/ Pendidikan Kesetaraan dan Ujian Nasional (UN) menyebutkan pada tahun pelajaran 2012/2013 seorang siswa dapat dinyatakan lulus jika mengikuti pada seluruh mata pelajaran yang diujikan dengan nilai rata-rata minimal 5,5 . ima koma lim. , dan nilai setiap mata pelajaran yang di UN-kan paling rendah 4,0 . mpat koma no. Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), jumlah mata pelajaran yang diujikan secara nasional bertambah dari tiga mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia. Matematika. Bahasa Inggris menjadi empat mata pelajaran, dan ditambah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) (Pasal 6a Permendiknas no 34 tahun 2. Peningkatan angka Standar Kompetensi Lulusan Ujian Nasional (SKLUN) dirasakan juga sebagai beban yang semakin berat. Menurut Wibowo . , penambahan jumlah mata pelajaran yang akan diujikan pada tahun pelajaran 2011/2012 dan standar nilai minimal yang meningkat, membuat siswa pesimis dapat hasil terbaik. Kondisi psikologis siswa berbeda dalam menghadapi UN, hal ini disebabkan dinamika psikis. Siswa yang dinamika psikisnya baik tidak mengalami kecemasan. Sebaliknya siswa yang dinamika psikisnya tidak baik akan mengalami kecemasan. Dinamika psikis adalah energi kejiwaan yang menggerakkan, penuh dinamika, menuju kesuksesan dalam menghadapi UN. ttp://w. org/inde. Wiranto dalam Wida . , konselor dan terapis EFT (Emotional Freedom Techniqu. biro psikologi Westaria mengatakan bahwa 80% kecemasan siswa bukan disebabkan dari kurangnya persiapan tetapi dari faktor luar. Faktor luar yaitu marah, sedih, takut gagal jika tidak masuk ke sekolah favorit . ttp://w. Hasil pengamatan dan wawancara dari beberapa siswa di SMPN 5 Depok. Sleman pada akhir bulan Pebruari 2013, diperoleh gambaran bahwa siswa mengalami kecemasan dalam menghadapi UN. Hal tersebut dinyatakan jika siswa kesulitan mengingat meski sudah dibaca ulang, cepat lelah, kesulitan tidur, telapak tangan sering berkeringat. Siswa juga merasa waktu berjalan cepat. Hal tersebut terkait dengan kegiatan di sekolah dan kegiatan orangtua. Di Sekolah awal semester genap terjadwal drill soal-soal, dan tryout dari kumpulan soal-soal UN, soal tryout dari tingkat sekolah, kabupaten dan propinsi. Sementara itu, kegiatan orangtua menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan anak. seperti biasanya ke sekolah naik sepeda menjadi antar jemput oleh orangtua, didaftarkan bimbingan belajar di luar sekolah, dibangunkan lebih pagi, dibelikan buku latihan untuk dikerjakan dirumah, bahkan bekal makan siang diantar ke sekolah jika pulang sore. Berdasarkan data tersebut, permasalahan beban yang dihadapi anak dan kegiatan yang dilakukan oleh orangtua, menarik untuk ditelusuri. Keinginan anak untuk mulai belajar mandiri, di sisi lain orangtua masih menyiapkan segala sesuatu secara total. Kesenjangan kenyataan dan harapan yang dialami oleh anak seperti diuraikan diatas menjadikan kegiatan yang dilakukan oleh orangtua dipersepsikan anak berbeda. Persepsi anak terhadap dukungan orangtua dapat positif atau negatif. Persepsi positif dimaksudkan segala keterlibatan kegiatan orangtua dipersepsikan sebagai dukungan atau bantuan dalam mencapai prestasi belajar. Persepsi negatif dimaksudkan bahwa segala keterlibatan kegiatan orangtua dipersepsikan anak sebagai beban tambahan dalam kegiatan akademik. Jika dukungan orangtua dipersepsikan anak negatif dan berlangsung tanpa penyelesaian maka kecemasan akan terjadi pada Anak usia SMP memang masih belajar untuk mandiri, seharusnya orantua tidak menyediakan Suparmi. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Dukungan Orang Tua. segalanya, tetapi memberi bimbingan kepada anak untuk memilih keperluan yang sesuai dengan dirinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Salzman . alam Yusuf, 2. mengemukakan bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung . terhadap orangtua kearah kemandirian . , minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika. Kecemasan yang dialami oleh anank . perlu dikelola, sehingga dapat diubah menjadi motivasi dalam mencapai prestasi Remaja juga memiliki sikap ambivalen yaitu keinginan dan tuntutan kebebasan, namun tidak mampu menanggung akibatnya. (Hurlock. Kegiatan yang sering dilakukan untuk meningkatkan percaya diri saat menjawab soalsoal UN, menyebabkan sebuah Televisi (TV) swasta dalam program spotlite menjadikan kegiatan tersebut di jadikan AuTujuh Ritual TahunanAy yang ditayangkan pada tanggal 1 Mei 2013 tersebut yaitu: . Ziarah ke makam. Dzikir dan Istigosah, . Membagikan nasi bungkus ke tukang becak, . Menggelar terapi ketawa, . Sungkem kepada orangtua, . Borasni Tengger, . Mencuci kaki ibu. Upaya agar lulus dalam UN tersebut di atas tidak hanya bersifat rasional namun cenderung Upaya rasional seperti latihan soalsoal dari ujian terdahulu, bimbingan belajar baik di sekolah maupun di luar sekolah. Upaya irasional seperti melakukan ritual yang tidak pada tempatnya dan datang ke tempat-tempat yang dianggap sakral. Mengamati berbagai fenomena tersebut, tampak bahwa keberhasilan siswa dalam UN merupakan usaha yang berat dan mau tidak mau harus tetap diikuti, dan jika gagal harus mengulang satu tahun pelajaran serta tetap mengikuti UN Kecemasan agar tidak mengganggu prestasi belajar siswa maka beberapa sekolah mengadakan berbagai pelatihan dengan pendekatan spiritual untuk melatih sekaligus memotivasi belajar Hal tersebut didukung oleh penelitian Maisaroh dan Falah . , ditemukan religiusitas memiliki kontribusi 18,5% terhadap kecemasan menghadapi UN pada siswa MAN 1 Semarang. Menurut pernyataan Leary (Lazarus, 1. , kecemasan adalah respon individu terhadap situasi-situasi yang menakutkan. Kecemasan merupakan rasa yang muncul terkait dengan Kondisi bahaya yaitu bahaya yang bersifat psikis, terkait dengan serangan terhadap identitas seseorang. Lebih lanjut Lazarus . , kecemasan muncul ketika makna eksistensi seseorang terganggu atau terancam sebagai hasil dari ketidakmampuan fisik, konflik intrapsikis dan peristiwa yang sulit didefinisikan. Dinamika hubungan persepsi terhadap dukungan orangtua dengan kecemasan anak . menjelang UN seperti disampaikan oleh Bisono . dalam talkshow-nya yaitu, untuk membuat siswa berhasil dalam pelaksanaan UN, dukungan orangtua sangat diperlukan. Lebih lanjut Sutrisno . menambahkan dukungan orangtua tidak terlepas dari keterlibatan orang tua secara langsung maupun tidak langsung. Keterlibatan langsung yaitu partisipasi orangtua terhadap kegiatan siswa baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Keterlibatan tidak langA sung merupakan keterlibatan orangtua dengan orang/institusi . uru/sekola. tanpa siswa terlibat langsung tetapi terkait dengan siswa seperti proses pembelajaran. ttp://erlangga. Sementara itu masalah yang dihadapai anak dalam data di prasurvei didukung penelitian Laila . , ditemukan dukungan orang tua yang berlebihan karena ketakutan anaknya gagal menghadapi UN, membuat siswa secara psikologis semakin terbebani. Lebih lanjut Bisono . menguraikan dinamika kecemasan menghadapi ujian terjadi tidak hanya adanya persepsi negatif tentang yang dimilikinya, tetapi juga takut gagal orang tua menjadi malu . ttp:// Banyak kata-kata berbeda dalam bahasa Inggris yang berhubungan dengan pengalaman subjektif dari kecemasan sebagaimana yang dikutip oleh Clark dan Beck . dari Barlow . , seperti Audread,Ay Aufright,Ay Aupanic,Ay Auapprehension,Ay Aunervous,Ay Auworry,Ay Aufear,Ay Auhorror,Ay and AuterrorAy. Hal ini telah menyebabkan kebingungan dan ketidaktepatan dalam penggunaan umum dari istilah Aucemas. Ay. AutakutAy dan AukecemasanAy harus dibedakan secara jelas dalam teori kecemasan untuk penelitian dan pengobatan kecemasan. Menurut Barlow . , bahwa AuFear is a primitive automatic neurophysiological state of alarm involving the cognitive appraisal of imminent threat or danger to the safety and security of an individualAy. Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 2. Desember 2015, hlm. Sementara Clark & Beck, 2010 menyaA AuAnxiety is a complex cognitive, affective, physiological and behavioral response system . ,threat mod. that is activated when antiA cipated events or circumstances are deemed to be highly aversive because they are perceived to be unpredictable, uncontrollable events that could potentially threaten the vital interests of an Ay Kedua ahli tersebut memiliki pendapat yang berbeda antara takut dan kecemasan. Kecemasan lebih komplek daripada takut. Takut merupakan sebuah alarm/sinyal bahaya untuk perlindungan seseorang. Sementara, kecemasan meliputi kognitif, afektif, fisiologis dan sistem respon perilaku seperti, modus ancaman, yang aktif ketika suatu peristiwa diantisipasi atau suatu keadaan dianggap tidak menyenangkan karena peristiwa tersebut tidak terduga, tidak terkendali yang berpotensi mengancam kepentingan vital Kecemasan merupakan hal yang normal pada saat menghadapi kesulitan di sekolah (Santrock, 2. Kecemasan diperlukan untuk pertahanan diri terhadap stres namun kecemasan yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan (Ohman, 2. Oct . seseorang yang mengalami kecemasan menghadapi ujian selalu merasa kurang persiapan menghadapi ujian, dan memiliki persepsi negatif tentang kemampuan yang dimilikinya. Pada dasarnya kecemasan dalam tingkat rendah dan sedang berpengaruh positif pada performansi belajar siswa karena dapat meningA katkan motivasi belajar siswa. Sebaliknya, akan memberikan pengaruh buruk jika kecemasan tersebut dalam taraf tinggi (Elliot, et. al, 1. Reaksi yang ditimbulkan dari kecemasan meliputi reaksi emosional, kognitif dan fisiologis. Reaksi emosional, seperti perasaan takut, tidak berdaya. Reaksi kognitif antara lain tidak mampu berkonsentrasi, pelupa, termenung, orientasi pada masa lalu. Reaksi fisiologis, seperti diare, denyut jantung berlebihan, otot tegang, sering (Maher dalam Calhoun & Acocella. Seseorang mengalami kecemasan dapat dilihat dari fungsi-fungsi yang dipengaruhi Sintoma-sintoma psikologis menA urut Blackburn dan Davidson, . seperti berikut: . suasana hati: kecemasan, mudah marah, perasaan sangat tegang. khawatir, sukar berkonsentrasi, pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensisif, merasa tidak berdaya. motivasi: menghindari situasi, ketergantugan tinggi, ingin melarikan diri. perilaku: gelisah, gugup, kewaspadaan yang berlebihan. gejala biologis: gerakan otomatis meningkat, misalnya berkeringat, gemetar, pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering. Menurut Stuart dan Laraia, . faktor yang mempengaruhi kecemasan yaitu: . Faktor biologi, . Faktor psikoanalitik, . Faktor psikologi, . Faktor lingkungan. Sementara menurut Kendal dan Hammen . faktor yang menimbulkan kecemasan antara lain: . Genetic. Perilaku, . Kognitif. Sedangkan menurut Az-Zahrani . faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah: . lingkungan keluarga. Keadaan rumah dengan kondisi pertengkaran atau kesalahpahaman dan adanya ketidakpedulian orangtua terhadap anaknya. lingkungan Sosial. Seseorang yang berada pada lingkungan tidak baik akan muncul perilaku yang buruk, dan akan menimbulkan berbagai penilaian buruk dimata Sehingga dapat menyebabkan munculnya kecemasan. Mengacu dari beberapa pendapat tersebut diatas, maka kecemasan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis, psikoanalitik, psikologi, lingkungan keluarga, lingkungan sosial, perilaku, kognitif dan Faktor-faktor tersebut gejalanya dapat berbarengan ataupun sendiri-sendiri. Faktorfaktor yang telah dijelaskan, yang terpenting dalam penelitian ini adalah faktor lingkungan Walgito . , berpendapat bahwa persepsi adalah proses pengorganisasian dan penginterpretasian yang terintegrasi dalam diri individu terhadap stimulus yang diterima, sehingga stimulus tersebut menjadi sesuatu yang Lingkungan keluarga yang dipersepsikan anak . tidak nyaman akan mempengaruhi kecemasan anak, sementara keluarga yang dipersepsikan anak . harmonis akan membuat anak nyaman. Menurut Parke & Buriel . alam Berns, 2. , keluarga sebagai keseluruhan, dalam struktur maupun organisasi, dan dalam level individu berarti bagaimana anggota keluarga Suparmi. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Dukungan Orang Tua. berinteraksi dengan anggota lainnya. Lebih lanjut Murdock . alam Berns, 2. mendefinisikan fungsi keluarga secara klasik sebagai kelompok sosial yang bercirikan tinggal bersama, kerjasama ekonomi, dan reproduksi yang mencakup dua jenis kelamin, paling sedikit dua orang, memilihara hubungan seksual, direstui masyarakat dan satu atau lebih anak. Keluarga, menurut Tirtarahardja & Sulo . , dapat berbentuk keluarga inti . yah, ibu dan ana. atau keluarga yang diperluas . isamping keluarga inti, ada orang lain yaitu: kakek dan atau nenek, pembantu, dan lain-lai. Indonesia keluarga pada umumnya dapat ditemui pada keluarga jenis kedua, yaitu keluarga yang Jeynes . mendefinisikan keterlibatan orang tua sebagai partisipasi orang tua dalam proses dan pengalaman pendidikan siswa. Sementara Epstein et. al, . mengartikan keterlibatan orang tua sebagai komunikasi orang tua dan guru mengenai siswa, dan sebagai penyeliaan orang tua dirumah. Lebih lanjut Epstein mengemukakan ada enam tipe keterlibatan yaitu . parenting, . communicating, . volunteering, . learning at home, . decision making, dan . collaborating with the community. Chen . merinci bentuk dukungan orangtua ke dalam lima dimensi sumberdaya yang disediakan seperti brikut: . dukungan interpersonal . ualitas hubunga. , yaitu huA bungan dan komunikasi orangtua dan siswa. dukungan kognitif, yaitu intepretasi terhadap ekspektasi pendidikan siswa, seperti harapan akan keberhasilan pendidikan, keyakinan orangtua akan kemampuan siswa. dukungan emosional, yaitu perhatian dan dorongan orangtua. dukungan perilaku, yaitu berupa kontrol sosial dan pemantauan kegiatan siswa. dukungan instrumentalia, yaitu bantuan langsung dalam tugas-tugas sekolah, pembicaraan tentang halhal yang terkait dengan sekolah, dan penyediaan berbagai sumberdaya pendidikan. Berdasarkan uraian tersebut diatas orangtua merupakan bagian inti dari keluarga. Dengan demikian, dalam penelitian ini variabel persepsi anak . terhadap dukungan orangA tua termasuk dalam faktor lingkungan keluarga. Faktor lingkungan keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kecemasan anak . Untuk itu, dukungan orangtua merupakan salah satu alternatif untuk membantu anak mengurangi kecemasan terutama kecemasan menjelang ujian. Dukungan orangtua yang dipersepsikan oleh anak akan menentukan apakah anak tersebut akan memiliki percaya diri yang tinggi dan mandiri atau ada ketergantungan pada Mengingat subjek dalam penelitian ini adalah anak . Sekolah menengah Pertama, . alam kategori remaj. sedikit banyak masih tergantung dengan orangtua, maka dukungan orangtua adalah sangat diperlukan. Dukungan Orangtua hendaknya diberikan sepenuhnya untuk kesuksesan anak dalam menghadapi UN. Hubungan persepsi anak . terhadap dukungan orangtua dengan kecemasan anak . menjelang UN berdasarkan observasi dan wawancara dari kancah penelitian tersebut di atas didukung oleh pendapat Wiranto . alam Wida, 2. bahwa kecemasan anak . bukan disebabkan oleh kurangnya persiapan tetapi dari faktor luar yaitu pemaksaan belajar oleh orangtua. Laila . , juga sependapat dengan Wiranto bahwa dukungan orangtua yang berlebihan akan membuat siswa terbebani. Lebih lanjut Bisono . juga sependapat bahwa kecemasan yang dialami siswa menjelang UN karena jika gagal orangtua menjadi malu. Dalam konteks itu, berdasarkan pendapat dan teori tersebut diatas maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Terdapat Hubungan negatif antara persepsi anak . terhadap dukungan orangtua dengan tingkat kecemasan anak . menjelang UN. Semakin positif persepsi anak . terhadap dukungan orangtua, maka kecemasan siswa menjelang UN cenderung rendah, begitu pula sebaliknya semakin negatif persepsi anak . terhadap dukungan orangtua, maka kecemasan siswa menjelang UN cenderung tinggi. METODE Subjek penelitian siswa kelas IX yang akan menghadapi UN di SMPN 2 Depok. Sleman. Yogyakarta berjumlah 116 siswa. Pengumpulan data dengan membagikan skala persepsi anak . terhadap dukungan orangtua dan skala kecemasan anak . menjelang UN. Skala kecemasan anak . menjelang UN disusun dengan model Likert, berdasarkan lima aspek dari Blackburn dan Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 2. Desember 2015, hlm. Davidson, . yaitu: suasana hati, pikiran, motivasi, perilaku, gejala biologis, ada 25 item yang diterima dengan cronbachAos alpha ( = . , dan Skala persepsi terhadap dukungan orangtua disusun berdasarkan lima aspek dari Chen, . yaitu: dukungan interpersonal, dukungan kognitif, dukungan emosional, dukungan perilaku, dukungan instrumentalia, ada 27 item yang diterima dengan cronbachAos alpha ( =0. Skala diuji di SMP 5 Depok dengan responden 105 siswa pada tanggal 18-20 Maret Uji hipotesis penelitian dengan analisis korelasi product moment untuk melihat hubungan antara persepsi anak . terhadap dukungan orangtua sebagai variabel bebas dengan kecemasan anak . menjelang UN sebagai variabel tergantung. Analisis dilakukan dengan bantuan program SPSS (Statistical Windows Packege for Scienc. Pengambilan data di SMP Negeri 2 Depok dari tanggal 5 sampai 10 April 2013. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Berdasarkan hasil kajian di lapangan didapatkan data yang dapat digambarkan sebagamaina tabel 1, 2, 3 berikut ini Tabel 1. Deskripsi Hasil Penelitian Min Hipotetik Mak Mean Kecemasan Anak (Sisw. menjelang UN Skala Persepsi Anak (Sisw. Terhadap Dukungan Min Empirik Mak Mean 81,16 8,59 45,78 8,97 Keterangan: Jumlah Subjek Mak:Skor Maksimal SD: Standar Deviasi Min: Skor Minimal Tabel 2. Kategorisasi Skor Kecemasan Anak (Sisw. Menjelang UN Kategorisasi Rumus Range Frek Persentase Tinggi Sedang Rendah (A 1 SD) < X (A-1 SD)< X<(A 1 SD) X < (A - 1 SD) 75 < X 50< X<75 X < 50 34,48 65,52 Keterangan: A = rerata hipotetik SD: Standar Deviasi Tabel 3. Kategorisasi Skor Persepsi Anak (Sisw. Terhadap Dukungan Orangtua Kategorisasi Rumus Range Frekuensi Persentase Tinggi Sedang Rendah (A 1 SD) < X (A-1 SD)< X<(A 1 SD) X < (A - 1 SD) 80 < X 54< X<80 X < 54 60,34 39,66 Keterangan: A = rerata hipotetik SD: Standar Deviasi Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa antara persepsi anak . terhadap dukungan orangtua dengan tingkat kecemasan anak . menjelang UN menunjukkan korelasi sebesar r = -0,408 . < 0,. Arah korelasi negatif menunjukkan semakin rendah persepsi Suparmi. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Dukungan Orang Tua. terhadap dukungan orangtua, maka kecemasan anak . menjelang UN cenderung tinggi. Dengan demikian hipotesis yang diajukan dapat diterima. Sumbangan efektif koefisien determinan . yang terbentuk atas dasar hasil analisis sebesar 0,166 yang berarti bahwa persepsi anak . terhadap dukungan orangtua memberikan sumbangan sebesar 16,6 % terhadap penurunan kecemasan anak . menjelang UN. Berdasarkan uraian tersebut diatas, dapat dilihat bahwa dukungan Orangtua yang diperA sepsikan positif oleh siswa memiliki kontribusi dalam mereduksi kecemasan siswa menjelang UN, sehingga tingkat kecemasan siswa kelas IX SMP Negeri 2 Depok Sleman Yogyakarta menjelang UN berada dalam kategori rendah. Dampak kecemasan sedang dan rendah mendatangkan keuntungan yakni mendorong siswa untuk lebih giat belajar. PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN Dukungan orangtua merupakan keterA libatan orangtua secara langsung maupun tidak langsung terhadap kegiatan siswa baik di rumah maupun di luar rumah. Dukungan orangtua yang dipersepsikan positif oleh anak . terjadi karena ada serangkaian komunikasi dan kerjasama yang efektif baik dari aspek interpersonal, kognitif, emosional, perilaku, maupun instrumentalia. Persepsi terhadap dukungan orangtua yang menunjukkan pada kategori tinggi dan kategori sedang mempengaruhi anak . memiliki kecemasan yang sedang dan rendah. Kecemasan kategori sedang dan rendah merupakan keceA masan yang wajar bagi siswa menjelang UN, jika dikelola dengan baik akan membuat siswa belajar lebih optimal dalam usaha peningkatan prestasi belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Ohman . bahwa kecemasan diperlukan oleh siswa untuk mempertahankan diri terhadap stress namun demikian kecemasan yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan. Persepsi anak yang positif terhadap dukungan orangtua, menjadi modal penting dalam terciptanya komunikasi efektif. KomuA nikasi efektif tercipta dalam situasi belajar yang kondusif. Anak dapat menyampaikan permasalahan yang dihadapi dan orangtua dapat menjadi tempat yang nyaman serta memberikan umpan balik . yang positif. Kondisi kondusif akan menumbuhkan persepsi positif anak terhadap dukungan orangtua dan keyakinan diri untuk belajar. Keyakinan diri dapat mereduksi kecemasan menjelang UN sesuai dengan pendapat Navid et al . , bahwa keyakinan diri . elf efficac. merupakan salah satu faktor kognitif emosional yang turut berperan dalam mempengaruhi kecemasan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pemA bahasan dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif antara variabel Persepsi Terhadap Dukungan Orangtua dengan variabel Kecemasan Anak menjelang Ujian Nasional (UN) pada anak . kelas IX SMP Negeri 2 Depok. Sleman. Yogyakarta. Dengan demikian semakin tinggi dukungan orangtua yang dipersepsikan anak, maka kecemasan anak . menjelang UN cenderung rendah. Variabel persepsi anak . terhadap dukungan orangtua memberi sumbangan efektif sebesar 16,67%, pada penurunan kecemasan anak . menjelang UN dan terdapat kecemasan anak . menjelang UN yang ditimbulkan oleh variabel lain sebesar 83,4%, diluar variabel penelitian ini. SARAN Berdasarkan hasil kesimpulan tersebut diatas, maka dapat diberikan saran kepada pihak yang berkepentingan dalam penelitian ini yaitu: . agar tetap menjaga persepsi positif terhadap dukungan orangtu , dapat dilakukan dengan cara komunikasi yang baik, menyampaikan permasalahan dengan baik, sehingga dapat membantu meminimalisasi kecemasan menjelang Ujian Nasional (UN). Orangtua disarankan untuk terus berupaya meningkatkan dukungan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak. kepada pihak sekolah selalu menjalin kerjasama dengan orangtua anak dengan mengkomunikasikan perkembangan anak di sekolah. peneliti selanjutnya yang tertarik meneliti topik yang sama, disarankan untuk melakukan penelitian dengan faktor-faktor lain yang diduga ikut berperan dalam kecemasan anak . menjelang UN. Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 2. Desember 2015, hlm. DAFTAR PUSTAKA