FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI ASI PADA IBU NIFASDI RSI PKU MUHAMMADIYAH TEGAL Indah Puspitasari1. Fania Nurul KhoirunnisaAo2. Atun Wigati2. Naeli Muna 2 Dosen Prodi Profesi Kebidanan Universitas Muhammadiyah Kudus2 Email Korespondensi: indahpuspitasari@umkudus. ABSTRAK Studi kasus yang telah dilakukan pada Mei 2022 di RSI PKU Muhammadiyah Tegal terhadap 10 ibu nifas dan didapatkan 7 ibu nifas . %) mengatakan kurangnya/ ketidakcukupan produksi ASI. Terdapat permasalahan ibu menyusui yang dialami oleh pasien ibu nifas di RSI PKU Muhammadiyah Tegal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia, status paritas, kecemasan, dukungan keluarga, lama menyusui terhadap produksi ASI pada ibu nifas di RSI PKU Muhammadiyah Tegal. Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik korelatif untuk melihat hubungan variabel satu dengan variabel yang lain dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 15% dari total populasi penelitian ini sebanyak 65 ibu nifas pasca persalinan hari kedua ibu post partum spontan dan ibu post section cesarea. Penelitian ini menggunakan analisis data univariat dan bivariat dengan uji Spearman Rho. Dari Uji Spearman Rho yang dilakukan, seluruh faktor menunjukkan hasil p-value kurang dari 0,05 dan hubungan usia, status paritas, kecemasan, dukungan keluarga, lama menyusui terhadap produksi ASI pada ibu nifas secara berurutan menghasilkan nilai r (Rh. sebesar 0,486. 0,388 , 0,423. dan 0,486. Adanya hubungan usia, status paritas, kecemasan, dukungan keluarga, lama menyusui terhadap produksi ASI pada ibu nifas di RSI PKU Muhammadiyah Tegal. Kata kunci: Usia. Status Paritas. Kecemasan. Dukungan Keluarga. Lama Menyusui. Produksi ASI Ibu Nifas ABSTRACT Case studies were made in May 2022 at RSI PKU Muhammadiyah Tegal against 10 mother parturition and obtained 7 mother parturition ( 70 % ) said lack of breastfeeding/inadequacy of milk production. There is a problem with mother parturition experienced by a patient at RSI PKU Muhammadiyah Tegal. The purpose of this research is to know the relationship between age, parity of status, anxiety, family support, long of time breastfeeding to milk production at RSI PKU Muhammadiyah Tegal. This kind of research it uses the kind of research analytic correlative to look at the relationship a variable with another with the approach cross-sectional. This sample is 15 % research of the total population as many as 65 mothers postpartum spontaneous and mother post cesarea section on the second day. The study used univariat and bivariat data analysis by spearman rho test. The spearman rho analytic show p-value all of the factors are less than 0,05 and shows that the age, the parity of status, anxiety, family support, to milk production have result r (Rh. in Jurnal Bidan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jbmc the amount of 0,486. 0,388 , 0,423. dan 0,486 sequentially. The age, parity of status, anxiety, family support, long of time breastfeeding have relations with milk production at RSI PKU Muhammadiyah Tegal. Keyword : The Age. Parity of Status. Anxiety. Family Support. Long Time Breastfeeding. Milk Production PENDAHULUAN Laporan data WHO . , tingkat pemenuhan ASI di Indonesia tergolong masih rendah dibuktikan dengan data World Breastfeeding Trends Initiative (WBT. Indonesia mendapat total skor 51,1% dari 15 indikator penilaian WBTi atau hanya sekitar 27,5% ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayi. Persentase pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan di Jawa Tengah pada tahun 2019 sebesar 54,4 persen, sedikit meningkat jika dibandingkan persentase pemberian ASI eksklusif tahun 2018 yaitu 54,2 persen (Dinkes Prov Jawa Tengah, 2. Data dari profil kesehatan Jawa Tengah pada tahun 2021, jumlah bayi keseluruhan di Kabupaten Tegal ada 18. 152 bayi, tapi hanya 7. 345 bayi saja yang diberikan ASI eksklusif, dapat disimpulkan bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif tahun 2020 di Kabupaten Tegal sebanyak 40,5 % (Dinkes Tegal, 2. Sementara jumlah ibu partus di RSI PKU Muhammadiyah Tegal pada tahun 2021 sebanyak 4. 805 pasien, jumlah ibu yang bermasalah dalam menyusui sebanyak 1. 343 bayi karena produksi ASI yang sedikit (SIM - RSI PKU Muhammadiyah Tegal, 2. Studi kasus yang telah dilakukan pada Mei 2022 di RSI PKU Muhammadiyah Tegal dengan cara wawancara terhadap 10 ibu yang tidak memberikan menyusui ASI eksklusif atau memberikan tambahan susu formula, didapatkan 7 ibu . %) mengatakan karena kurangnya / ketidakcukupan produksi ASI. Sementara 3 ibu . %) mengatakan karena merasa nyeri lecet payudara dan cemas jika produksi ASI tidak mencukupi bayi. Didapatkan dari 7 ibu yang memiliki persepsi ketidakcupukan ASI diketahui 5 ibu . ,4%) berusia > 25 tahun, 4 ibu . ,1%) memiliki riwayat anak sebelumnya Ou 2 anak, 5 ibu . ,4%) mengatakan tidak . urang bai. mendapatkan nasehat mengenai ASI oleh keluarga kurang baik/kurang mendukung untuk memberikan ASI eksklusif secara penuh 6 bulan karena beranggapan anak lebih sehat jika ditambah susu formula, dan 5 ibu . ,4%) mengatakan rata-rata lama anak menyusui kurang dari 20 menit. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik korelatif. Penelitian analitik korelatif yaitu penelitian atau penelaahan hubungan antara dua variabel pada suatu situasi atau sekelompok subjek. Dalam penelitian ini, peneliti menggali faktor yang berhubungan dengan produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal. Populasi pada penelitian ini didapatkan ibu nifas post partum spontan dan section caesaria di RSI PKU Muhammadiyah Tegal sebanyak 432 orang pada bulan juli (SIM- RSI PKU Muhammadiyah Tegal, 2. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu dengan tehnik consecutive sampling yaitu subyek yang datang dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimasukkan dalam penelitian sampai subyek yang diperlukan terpenuhi (Nursalam, 2. Jurnal Bidan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jbmc HASIL PENELITIAN Gambaran Umum Tempat Penelitian RSI PKU Muhammadiyah Tegal yang beralamat di Jl. Singkil Km 0,5 Adiwerna ini telah menjadi salah Dengan fasilitas yang semakin lengkap, seperti USG Kandungan 4 Dimensi dan ditunjang oleh tiga dokter spesialis kandungan, menjadi salah satu faktor pendorong masyarakat memilih RSI PKU Muhammadiyah Tegal sebagai tempat konsultasi dan persalinan, baik normal maupun saesar. Selama melakukan penelitian, sebanyak 65 responden untuk menggali faktor yang berhubungan dengan produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal. Analisa Univariat Tabel 4. 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia. Status Paritas. Dukungan Keluarga. Kecemasan dan Lama menyusui di RSI PKU Muhammadiyah Tegal Kategori Frekuensi . Usia <20 tahun 20-35 tahun >35 tahun Status Paritas Primipara Multipara Grandemultipara Dukungan Keluarga Tidak Mendukung Mendukung Kecemasan Ringan Sedang Berat Lama Menyusui Kurang Cukup Produksi ASI Lancar Tidak Lancar Tidak Ada Total Sumber: Data Primer, 2022 Persentase (%) 4,60 95,40 0,00 46,20 44,60 9,20 3,10 96,90 7,70 69,20 23,10 4,60 95,40 80,00 15,40 4,60 100,00 Berdasarkan tabel 4. 1 dari total 65 responden, diperoleh data kategori usia bahwa sebagian besar responden berusia 20-25 tahun sebanyak 62 responden . ,4%), sedangkan hanya 3 responden . ,6%) yang berada di umur <20 tahun. Dari segi status paritas, 30 responden . ,2%) merupakan primipara, 29 responden . ,6%) merupakan multipara, dan hanya 6 responden . ,2%) yang merupakan grande multipara. Selain itu, dari data di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar ibu mendapat dukungan keluarga yaitu sebanyak 63 responden . ,9%), dan sisanya 2 responden . ,1%) Jurnal Bidan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jbmc menilai tidak mendapat dukungan keluarga. Dari segi kecemasan, sebanyak 45 responden . ,2%) menilai mengalami kecemasan sedang, 15 responden . ,1%) menilai mengalami kecemasan berat, dan 5 responden . ,7%) menilai hanya mengalami kecemasan ringan. Data lainnya adalah kategori lama menyusui, dimana 62 responden . ,4%) masuk dalam kategori kurang. Sedangkan 3 responden 3 responden . ,6%). Untuk produksi ASI ibu nifas juga menunjukkan sebanyak 52 responden . %) mendapat kan kategori lancar. ,4%) adalah kategori tidak lancar, dan 3 responden . ,6%) merupakan kategori tidak ada produksi ASI. Analisa Bivariat Tabel 4. 2 Hubungan Usia dengan produksi ASI pada ibu nifas di RSI PKU Muhammadiyah Tegal Produksi ASI Usia Total Tidak Ada Tidak Lancar Lancar <20 th 20-35 th >35 th Jumlah Tabel 4. 3 Hubungan Status Paritas dengan produksi ASI pada ibu nifas di RSI PKU Muhammadiyah Tegal Status Paritas Tidak Ada Produksi ASI Tidak Lancar Lancar Primipara Multipara Grandemultipara Jumlah Total Tabel 4. 4 Hubungan Kecemasan dengan produksi ASI pada ibu nifas di RSI PKU Muhammadiyah Tegal Kecemasan Ringan Sedang Berat Jumlah Produksi ASI Tidak Ada Tidak Lancar Lancar Sumber: Data Primer, 2022 Total Tabel 4. 5 Hubungan Dukungan Keluarga dengan produksi ASI pada ibu nifas di RSI PKU Muhammadiyah Tegal Dukungan Keluarga Tidak Mendukung Produksi ASI Tidak Ada Tidak Lancar Lancar Total Jurnal Bidan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jbmc Mendukung Jumlah Tabel 4. 6 Hubungan Lama Menyusui dengan produksi ASI pada ibu nifas di RSI PKU Muhammadiyah Tegal Lama Menyusui Produksi ASI Total Tidak Ada Tidak Lancar Lancar Kurang Cukup Jumlah PEMBAHASAN Hubungan usia terhadap produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal Berdasarkan hasil penelitian tabel no. 2, diketahui dari total 65 responden terdapat 52 responden berusia 20-35 tahun pada kategori lancar produksi ASI. Dari uji spearman rho yang dilakukan menghasilkan r (Rh. sebesar 0,486 dengan p-value 0,000. Karena p-value 0,000 < . , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan usia ibu terhadap produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal pada kategori sedang. Hal ini menurut asumsi peneliti bahwa usia ibu nifas pada rentang 20-35 tahun dengan sebelum 20 tahun dan setelah 35 tahun adalah berkaitan dengan kesiapan diri ibu baik dari segi pengetahuan, pengalaman melahirkan dan menyusui sebelumnya, dan kesiapan mental yang merupakan pembeda antara kategori usia pertama dengan keduanya. Dari segi produksi ASI ibu-ibu yang berusia 19-23 tahun lebih baik dalam menghasilkan ASI dibanding dengan ibu yang berusia lebih tua. Primipara yang berusia 35 tahun cenderung tidak menghasilkan ASI yang cukup. Idealnya umur 20-30 tahun merupakan rentang usia yang aman untuk bereproduksi dan pada umumnya ibu pada usia tersebut memiliki kemampuan laktasi yang lebih baik daripada yang berumur lebih dari 30 tahun (Astuti, 2. Hubungan status paritas terhadap produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal Berdasarkan tabel no. 3 dari total 65 responden diperoleh nilai r (Rh. sebesar 0,388 dengan p-value 0,001. Karena p-value 0,001 < . , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan status paritas dengan produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal pada kategori lemah. Dari total responden, mayoritas terdapat 27 responden kategori multipara yang disimpulkan lancer dalam memproduksi ASI. ibu yang multipara dinilai memiliki pengalaman menyusui dan dari segi fisik ibu sudah lebih matang dan siap untuk menyusui bayinya dibanding primipara dan grandemultipara. Paritas dan pengalaman menyusui berpengaruh secara signifikan terhadap kesuksesan menyusui, di mana wanita yang baru pertama kali menyusui biasanya selalu berfikir akan resiko dan masalah menyusui atau penghentian menyusui di awal dibanding dengan wanita yang sudah pernah menyusui sebelumnya. kenaikan jumlah paritas menyebabkan ada sedikit perubahan produksi ASI yaitu pada anak pertama: jumlah ASI 580 ml/24 jam, anak kedua: jumlah ASI 654 ml/24 jam, anak ketiga: jumlah ASI 602 ml/24 jam (Soetjiningsih, 2. Persepsi ibu tentang kekurangan/ketidakcukupan suplai ASI bahwa paritas dan pengalaman menyusui berpengaruh secara signifikan terhadap kesuksesan menyusui adalah di mana wanita yang baru pertama kali menyusui biasanya selalu berfikir akan resiko dan masalah menyusui atau penghentian menyusui di awal dibanding dengan wanita yang sudah Jurnal Bidan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jbmc pernah menyusui sebelumnya. Dilihat dari segi psikologisnya, ibu yang baru pertama kali menyusui bayinya memiliki kekhawatiran terhadap suplai ASI yang rendah secara kualitas dan kuantitas dalam memenuhi kebutuhan pertumbuhan bayinya Gatti . Hubungan kecemasan terhadap produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal Berdasarkan hasil penelitian tabel no. 4, diketahui 5 responden kategori kecemasan ringan lancar produksi ASI. pada 15 responden kategori kecemasan berat, sebanyak 9 responden lancar produksi ASI, 4 responden tidak lancar produksi ASI dan 2 responden tidak ada produksi ASI. Dari uji spearman rho yang dilakukan menghasilkan r (Rh. sebesar 0,299 dengan p-value 0,015 < . , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan kecemasan dengan produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal pada kategori lemah. Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian Risyanti. Carolin & Dinengsih . yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kecemasan dengan produksi ASI ibu Keadaan psikologis ibu yang baik akan memotivasinya untuk menyusui bayi sehingga hormon yang berperan pada produksi ASI akan meningkat karena produksi ASI dimulai dari proses menyusui. Sedangkan kecemasan yang menyebabkan pikiran ibu terganggu akan membuat ibu merasa tertekan . Bila ibu mengalami stress maka akan terjadi pelepasan adrenalin yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah pada alveoli. Akibatnya terjadi hambatan dari let down refleks sehingga air susu tidak mengalir dan mengalami bendungan ASI. Di Indonesia pada tahun 2017-2018 ini didapatkan hasil bahwa terdapat 373 juta orang ibu postpartum yang mengalami gangguan proses laktasi akibat kecemasan sebanyak 107 juta orang . ,7%). Ibu primipara yang mengalami kecemasan tingkat berat mencapai 83,4% dan kecemasan sedang sebesar 16,6%, sedangkan pada ibu multipara didapatkan kecemasan tingkat berat 7%, kecemasan sedang 71,5%, dan cemas ringan 21,5% (Kemenkes RI, 2. Pada ibu yang pasca melahirkan, faktor Ae faktor yang mempengaruhi adaptasi tersebut adalah adanya perasaan tidak nyaman dan kelelahan, pengetahuan tentang kebutuhan bayi, adanya dukungan, harapan terhadap kelahiran bayi, pengalaman sebelumnya, temperamen ibu, karakteristik bayi, dan kejadian yang tidak diduga berkaitan dengan proses kelahiran (Prima, 2. Hubungan dukungan keluarga terhadap produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal Berdasarkan hasil penelitian tabel no. 5, dari 63 responden yang mendapat dukungan keluarga terdapat 52 responden lancar produksi ASI. Sedangkan 2 responden yang tidak mendapat dukungan keluarga mengalami kondisi dimana tidak ada produksi ASI. Penelitian ini menghasilkan r (Rh. sebesar 0,423 dengan p-value 0,000. Karena p-value 0,000 < . , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal pada kategori lemah. Dukungan penghargaan dalam penelitian ini berupa pemberian nutrisi, pujian, dan pemberian informasi positif yang diberikan keluarga pada saat sebelum dan saat ibu nifas. Menurut analisi peneliti, ibu yang mendapatkan dukungan nutrisi dan informasi dari keluarga termasuk nasehat, pengarahan, atau informasi yang cukup terkait dengan ASI eksklusif, akan termotivasi untuk memberikan ASI pada bayinya lebih lama. Selain itu juga suami yang ikut serta merawat bayinya, mendukung ibu untuk tetap memberikan ASI pada bayinya, dan memfasilitasi suasana yang tenang untuk menyusui akan semakin memotivasi ibu dalam memberikan ASI esklusif yang berdampak pada tingkat produksi ASI ibu nifas. Jurnal Bidan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jbmc Perhatian dan hubungan emosional yang dekat dan dukungan keluarga berupa komunikasi dan hubungan emosional yang baik dan hangat dengan orang tua yang mana dapat menurunkan tingkat kecemasan pada responden (Prima, 2. Menurut berbagai penelitian tentang keberhasilan menyusui, seorang ayah yang tidak mengerti tentang bayi yang diberi ASI, hanya 26,9% yang mendapat ASI eksklusif, sementara itu untuk ayah yang mengerti tentang menyusui ditemukan 98,1 % dapat mencapai ASI eksklusif (Ali, 2. Penelitian Jama, et al . juga menemukan bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami 68% kecil kemungkinannya untuk menyusui anaknya daripada ibu yang mendapatkan dukungan oleh suami. Karena di samping memberikan dukungan, suami bisa berperan sebagai pengingat maupun pemberi informasi tentang berbagai manfaat dari kegiatan Hubungan lama menyusui terhadap produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal Berdasarkan hasil penelitian tabel no. 6, terdapat 52 responden lancar memproduksi ASI dari kategori lama menyusui yang cukup. Sedangkan 3 responden yang kurang dalam lama menyusui menghasilkan 2 responden tidak ada produksi ASI dan 1 responden tidak lancar produksi ASI. Dari uji spearman rho yang dilakukan menghasilkan r (Rh. sebesar 0,486 dengan p-value 0,000. Karena p-value 0,000 < . , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan lama menyusui dengan produksi ASI pada ibu nifas RSI PKU Muhammadiyah Tegal pada kategori sedang. Lama menyusui berkaitan dengan adanya refleks prolaktin yang merupakan hormon menyusui yang penting untuk memulai dan mempertahankan pengeluaran ASI. Stimulasi dari hisapan bayi akan mengirim pesan ke hipotalamus yang merangsang hipofisis anterior untuk melepas prolaktin. Jumlah prolaktin yang disekresikan dan jumlah ASI yang dihasilkan berkaitan dengan besarnya stimulus hisapan, frekuensi, intensitas, dan lama bayi menyusu ((Bobak, 2. dalam Rini . Rangsangan pada puting yang termasuk lamanya menyusui menyebabkan hormon oksitosin bekerja untuk mensekresi ASI. Hormon prolaktin bertugas untuk memproduksi ASI sedangkan hormon oksitosin lalu menyebabkan sel-sel otot yang mengelilingi pabrik susu berkontraksi sehingga ASI terdorong keluar dan mengalir melalui saluran susu dalam gudang susu yang terdapat di bawah daerah puting yang berwarna Sebagian besar durasi menyusui dalam kategori normal, yaitu menghabiskan waktu >10 d 30 menit setiap kali menyusui. Lamanya waktu menyusui merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap produksi ASI, hal tersebut karena menyusui yang terlalu singkat ataupun terlalu lama akan menyebabkan dampak yang kurang baik bagi ibu maupun bayi dalam proses menyusui. Menurut Nurkhasanah . , bayi yang disusui terlalu lama juga akan mengakibatkan proses menyusui kurang berjalan efektif, karena ibu akan merasa kelelahan sehingga dapat menyebabkan produksi ASI menurun. Lama menyusui sendiri dilakukan sesuai dengan keinginan bayi . emand feedin. , tetapi kadangkala ditemukan bayi yang lebih banyak tidur. Pada bayi yang sering tidur sebaiknya pemberian ASI dijadwal, sehingga bayi akan belajar sendiri. Paling tidak bayi yang menyusu 8-12 kali dalam sehari dan dengan perlekatan yang benar pada setiap payudara untuk memastikan bayi mendapatkan cukup ASI (Siregar, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan produksi ASI pada ibu nifas di RSI PKU Muhammadiyah Tegal. Hasil analisis Jurnal Bidan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jbmc menunjukkan adanya hubungan usia dengan produksi ASI dengan nilai r (Rh. sebesar 0,486, yang termasuk dalam kategori sedang. Selain itu, status paritas juga memiliki hubungan dengan produksi ASI dengan nilai r (Rh. sebesar 0,388 pada kategori lemah. Faktor kecemasan menunjukkan hubungan dengan produksi ASI dengan nilai r (Rh. sebesar 0,423 pada kategori sedang. Dukungan keluarga juga berhubungan dengan produksi ASI, meskipun dalam kategori lemah, dengan nilai r (Rh. sebesar -0,299. Terakhir, lama menyusui memiliki hubungan dalam kategori sedang dengan produksi ASI, dengan nilai r (Rh. sebesar 0,486. Saran Penelitian ini memberikan beberapa saran penting. Pertama, perlu ditingkatkan wawasan peneliti terkait faktor-faktor yang memengaruhi produksi ASI pada ibu nifas, sehingga dapat digunakan dalam pendekatan klinis. Kedua, hasil penelitian ini dapat menjadi inovasi dalam penerapan asuhan kebidanan berbasis Evidence-Based Practice untuk mengoptimalkan dan memonitor program peningkatan produksi ASI. Ketiga, penelitian ini dapat dijadikan referensi akademik dan literatur untuk meningkatkan pengetahuan dalam tri dharma perguruan tinggi, khususnya dalam mata kuliah kebidanan yang membahas faktor-faktor yang memengaruhi produksi ASI. Keempat, perlu dilakukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam dengan pendekatan yang lebih baik serta menambahkan variabel penelitian yang berbeda. Kelima, hasil ini diharapkan menjadi referensi dalam memberikan dukungan penuh kepada ibu nifas dalam proses menyusui, dengan memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhi produksi ASI. DAFTAR PUSTAKA