28 eISSN : 2810 Ae 0204 Available Online at : http://journal. id/index. php/sciena/issue/view/33 Analisis Jarak Tempuh dan Estimasi Waktu Transportasi Terhadap Penundaan Operasi pada Kasus Fraktur Femur Emergensi Ardian Riza1,2*. Noverial2. Muhammad Pramana Khalilul Harmi2,Mutia Sari2 Department of Orthopaedics and Traumatology. Andalas University/Dr. Djamil General Hospital. Padang. Indonesia Department of Orthopaedics and Traumatology. Kartika Docta Surgical Specialty Hospital. Padang ,Indonesia Email: ardian_riza@med. Abstrak Pendahuluan: Fraktur femur merupakan kegawatdaruratan ortopedi yang memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi sistemik seperti tromboemboli vena dan pneumonia. Dalam sistem rujukan di Indonesia, pasien sering datang dari wilayah terpencil, sehingga jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi dianggap sebagai faktor potensial yang menunda operasi. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi terhadap durasi antara masuk IGD hingga pelaksanaan operasi sebagai proksi penundaan operasi pada fraktur femur emergensi. Metode: Studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dilakukan terhadap pasien fraktur femur emergensi di sebuah rumah sakit rujukan provinsi Sumatera Barat periode Januari 2024AeJuni 2025. Data dikumpulkan dari rekam medis elektronik dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman serta regresi linier ganda. Hasil: Dari 98 pasien, hanya 31 pasien . ,6%) yang memiliki data lengkap. Rata-rata jarak tempuh adalah 117,8 A 113,2 kilometer dan estimasi waktu tempuh 3,5 A 2,4 jam. Median durasi IGDAeoperasi adalah 9,8 jam (IQR: 3,0Ae29,0 ja. Tidak terdapat korelasi signifikan antara jarak tempuh . = 0,21. p = 0,. maupun estimasi waktu tempuh . = 0,18. p = 0,. dengan durasi IGDAeoperasi. Model regresi linier ganda menunjukkan RA = 0,046 . = 0,. , tidak bermakna secara statistik. Kesimpulan: Jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi tidak secara signifikan memengaruhi penundaan operasi fraktur femur emergensi. Faktor internal rumah sakit seperti ketersediaan ruang operasi dan sistem triase kemungkinan lebih dominan. Kata kunci Ai fraktur femur, penundaan operasi, jarak tempuh, waktu transportasi, durasi IGDAeoperasi Abstract Introduction: Femoral fracture is an orthopedic emergency requiring immediate surgical intervention to prevent systemic complications such as venous thromboembolism and pneumonia. In IndonesiaAos referral system, patients often originate from remote areas, making travel distance and estimated transport time potential factors delaying surgery. Aims: This study aims to analyze the association between travel distance and estimated transport time with emergency department (ED)AetoAesurgery duration as a proxy for surgical delay in emergent femoral fracture cases. Method: An analytical cross-sectional study was conducted among emergent femoral fracture patients at a provincial referral hospital in West Sumatra from January 2024 to June Data were extracted from electronic medical records and analyzed using SpearmanAos correlation and multiple linear regression. Results: Of 98 patients, only 31 . 6%) had complete data. Mean travel distance 8 A 113. 2 km, and estimated transport time was 3. 5 A 2. 4 hours. Median EDAetoAesurgery duration was 8 hours (IQR: 3. 0Ae29. No significant correlation was found between travel distance . = 0. p = 0. or transport time . = 0. p = 0. and surgical delay. Multiple regression yielded RA = 0. = 0. Scientific Journal SCIENA. Vol V No 1 January 2026 indicating no meaningful predictive power. Conclusion: Travel distance and estimated transport time do not significantly influence surgical delay in emergent femoral fractures. Internal hospital factorsAisuch as operating room availability and triage systemsAilikely play a more dominant role. Keywords -- femoral fracture, surgical delay, travel distance, transport time. ED-to-surgery duration Email : scientific. journal@scientic. SCIENA. Vol V No 1 January 2026 PENDAHULUAN Fraktur femur adalah trauma ortopedi mayor yang berpotensi mengancam nyawa, terutama pada populasi lanjut usia atau korban kecelakaan lalu lintas berat. Penundaan operasi lebih dari 24Ae48 jam dikaitkan dengan peningkatan morbiditas, termasuk pneumonia, tromboemboli vena, dan lama rawat inap yang lebih panjang. Meskipun tidak seketat trauma abdomen atau neurologis, konsensus klinis menyarankan operasi stabilisasi dalam 24 jam pertama. Dalam sistem rujukan kesehatan Indonesia, pasien fraktur femur sering berasal dari kabupaten atau kota yang tidak memiliki fasilitas bedah ortopedi lengkap. Akibatnya, waktu tempuh dari daerah asal ke rumah sakit rujukan provinsi menjadi variabel penting yang berpotensi memperlambat tindakan bedah. 4 Namun, belum jelas apakah faktor geografis ini benar-benar menentukan durasi antara tiba di IGD hingga operasi, terutama bila pasien tiba dalam kondisi Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara jarak tempuh . alam kilomete. dan estimasi waktu transportasi . alam ja. terhadap durasi IGDAeoperasi . alam ja. sebagai proksi objektif atas Aipenundaan operasiAn. Kami mengasumsikan bahwa meskipun secara administratif semua kasus dinyatakan Aitidak ditundaAn, durasi waktu tersebut mencerminkan efisiensi sistem rujukan dan respons internal rumah . roksimal, shaft, dista. status rujukan . data jarak, estimasi waktu tempuh, dan timestamp IGDAeoperasi Kriteria eksklusi: . data tidak lengkap. Sampel akhir berjumlah 31 pasien. Variabel independen meliputi jarak tempuh . dan estimasi waktu tempuh . Variabel dependen adalah durasi IGDAe operasi . , dihitung dari timestamp masuk IGD hingga timestamp mulai operasi. Data dikumpulkan dari rekam medis elektronik dan formulir rujukan. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS Uji Shapiro-Wilk menunjukkan distribusi tidak normal, sehingga digunakan statistik non-parametrik. Korelasi diuji dengan SpearmanAos rho. Regresi linier ganda digunakan untuk melihat pengaruh bersama. Nilai p < 0,05 dianggap bermakna secara Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Komite Etik Penelitian Rumah Sakit (Ref. No. : 006/KEPKAeRSKBKD/IX/2. Data diolah secara anonim dan kerahasiaan pasien dijamin. HASIL KARAKTERISTIK SUBJEK PENELITIAN Dari 98 pasien fraktur femur dalam dataset, hanya 31 pasien . ,6%) yang memiliki data lengkap mengenai timestamp IGD, jarak, dan waktu tempuh. Karakteristik sampel disajikan pada Tabel 1. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan di rumah sakit khusus Bedah Kartika Docta provinsi Sumatera Barat periode Januari 2024AeJuni 2025. Populasi mencakup seluruh pasien fraktur femur emergensi yang dirawat dan dioperasi. Kriteria inklusi: . diagnosis fraktur femur TABEL 1. KARAKTERISTIK SAMPEL Variabel Nilai Usia . ata-rata A SD) Laki-laki, n (%) Lokasi fraktur (Shaf. , n (%) Jenis pembiayaan BPJS, n (%) Rata-rata jarak tempuh . Rata-rata estimasi waktu tempuh . 45,3 A 24,1 tahun 19 . ,3%) 18 . ,1%) 12 . ,7%) 117,8 A 113,2 3,5 A 2,4 Scientific Journal SCIENA. Vol V No 1 January 2026 Median durasi IGDAeoperasi . 9,8" (IQR: 3,0Ae 29,. Hasil uji korelasi menunjukkan: Jarak tempuh vs durasi IGDAeoperasi: r = 0,21. 0,16. Estimasi waktu tempuh vs durasi IGDAeoperasi: r = 0,18. p = 0,22. Regresi linier ganda menghasilkan model: Durasi IGDAeoperasi = 8,12 0,012 y Jarak 0,43 y Waktu Tempuh RA = 0,046. Adjusted RA = 0,012. p = 0,20 Artinya, hanya 4,6% variasi durasi IGDAe operasi yang dapat dijelaskan oleh kedua variabel tersebut, dan tidak bermakna secara Gambar 1 menunjukkan scatter plot antara jarak tempuh dan durasi IGDAeoperasi. Tidak terlihat pola linier yang jelas, sesuai dengan hasil uji korelasi Spearman . = 0,21. GAMBAR 1. HUBUNGAN ANTARA JARAK TEMPUH DAN DURASI IGDAeOPERASI PADA PASIEN FRAKTUR FEMUR EMERGENSI (N = . Distribusi durasi IGDAeoperasi antara pasien dari jarak dekat (O100 k. dan jauh (>100 k. menunjukkan tumpang tindih yang luas, sebagaimana terlihat pada Gambar 2. Median durasi pada kedua kelompok tidak berbeda secara bermakna. Email : scientific. journal@scientic. GAMBAR 2. PERBANDINGAN DISTRIBUSI DURASI IGDAeOPERASI ANTARA PASIEN DENGAN JARAK RUJUKAN O100 KM DAN >100 KM (N = . IV. PEMBAHASAN Temuan utama menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara jarak tempuh atau estimasi waktu tempuh dengan durasi IGDAeoperasi. Hal ini bertentangan dengan asumsi umum, tetapi sejalan dengan studi Wibisono dkk. yang menemukan bahwa alur kerja IGD lebih menentukan daripada faktor geografis. Beberapa pasien dari jarak dekat . isalnya 50 k. mengalami durasi >16 jam, sedangkan pasien dari jarak >200 km kadang dioperasi dalam <4 jam. Ini mengindikasikan bahwa faktor internal rumah sakitAiseperti ketersediaan ruang operasi, kesiapan tim anestesi, dan proses administrasi BPJS5Ai lebih dominan. Keterbatasan meliputi ukuran sampel kecil dan data sekunder yang berpotensi bias. Variabel seperti skor keparahan cedera tidak tersedia, sehingga tidak bisa dikontrol. SCIENA. Vol V No 1 January 2026 KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN : Dalam konteks pelayanan di rumah sakit rujukan provinsi Sumatera Barat, jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi tidak secara signifikan memengaruhi penundaan operasi fraktur femur emergensi. Upaya peningkatan akses bedah segera sebaiknya difokuskan pada optimalisasi alur IGD, sistem triase, dan koordinasi antar-instalasi. SARAN: Implementasi orthopaedic trauma fast-track protocol untuk fraktur femur emergensi. Standarisasi pencatatan timestamp di seluruh titik pelayanan. Studi lanjutan dengan desain prospektif dan pengukuran faktor internal rumah DAFTAR PUSTAKA