HUBUNGAN SELF COMPASSION DENGAN MOTIVASI BEROBAT PADA PASIEN LUKA GANGREN DM TIPE II DI POLI DIABET RSUD DR. SOEDARSONO KOTA PASURUAN Rengga Yudha Permana1. Achmad Kusyairi2. Alwin Widiyanto3 1,2,3 Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo Email Korespondensi: permana733@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Hubungan Self compassion dengan motivasi berobat pada pasien luka gangren DM tipe II di Poli Diabet RSUD R. Soedarsono Kota Pasuruan. Diabetes Melitus(DM) tipe II merupakan penyakit kronis tidak menular yang ditandai dengan terjadinya kenaikan glukosa darah. DM tipe II terjadi karena adanya kekurangan insulin yang absolut atau relatif dan menyebabkan gangguan pada fungsi kerja Menurut Internasional Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2019 terdapat 463 juta orang dengan penderita DM tipe II dan diperkirakan 15% dari total penderita DM tipe II mengalami luka gangren yang bisa mengarah ke amputasi bahkan kematian. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel . ariabel independen dan variabel Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan positif antara self compassion dengan motivasi berobat pada pasien luka gangrene DM tipe II di poli diabet RSUD Dr. Soedarsono 1. Self compassion pada pasien luka gangrene DM tipe II di poli diabet RSUD Dr. Soedarsono didominasi oleh pasien dengan self compassion yang tinggi yaitu sebanyak 21 orang atau sebesar 47. 73% 2. Motivasi berobat pada pasien luka gangrene DM tipe II di poli diabet RSUD Dr. Soedarsono didominasi oleh pasien dengan motivasi yang baik yaitu sebanyak 25 orang atau sebesar 56. 82% 3. terdapat hubungan yang kuat dan positif antara Self Compassion dengan motivasi berobat pada pasien luka gangrene DM tipe II di poli diabet RSUD Dr. Soedarsono. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai Signifikansi (Sig. 2-taile. 001 ( pvalue 0. Sehingga dapat dikatakan bahwa Self Compassion memiliki hubungan/korelasi yang baik dengan Motivasi berobat. Maka dapat disimpulkan H1 Kata Kunci: Self Compassion. Motivasi berobat. DM Tipe II ABSTRACT This study aims to analyze the relationship between self-compassion and medication adherence in patients with gangrenous wounds from type II DM at the Diabetic Poly Clinic of RSUD R. Soedarsono. Pasuruan City. Type II Diabetes Mellitus (DM) is a chronic noncommunicable disease characterized by an increase in blood glucose levels. Type II DM occurs due to an absolute or relative deficiency of insulin, leading to impaired insulin function. Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc According to the International Diabetes Federation (IDF), in 2019, there were 463 million people with type II DM, and it is estimated that 15% of total type II DM patients experience gangrenous wounds that can lead to amputation or even death. This research uses a correlational analytical design with a cross-sectional approach aimed at revealing the correlational relationships between variables. ariabel independen dan variabel depende. The research results show that there is a strong and positive relationship between selfcompassion and treatment motivation in patients with type II DM gangrene wounds at the diabetic polyclinic of RSUD Dr. Soedarsono. Self-compassion in patients with type II DM gangrene wounds at the diabetic polyclinic of RSUD Dr. Soedarsono is dominated by patients with high self-compassion, totaling 21 people or 47. Treatment motivation in patients with type II DM gangrene wounds at the diabetic polyclinic of RSUD Dr. Soedarsono is dominated by patients with good motivation, totaling 25 people or 56. There is a strong and positive relationship between self-compassion and treatment motivation in patients with type II DM gangrene wounds at the diabetic polyclinic of RSUD Dr. Soedarsono. This is evidenced by a Significance value (Sig. 2-taile. ( pvalue 0. Thus, it can be said that Self Compassion has a good relationship/correlation with Medication Adherence. Therefore, it can be concluded that H1 is accepted. Keywords: Self-Compassion. Motivation to seek treatment. Type II DM PENDAHULUAN Diabetes Melitus(DM) tipe II merupakan penyakit kronis tidak menular yang ditandai dengan terjadinya kenaikan glukosa darah. DM tipe IIterjadi karena adanya kekurangan insulin yang absolut atau relatif dan menyebabkan gangguan pada fungsi kerja insulin (ADA, 2. Salah satu masalah yang dialami oleh penderita DM tipe II yaitu lamanya waktu pengobatan dan secara terus menerus selama kehidupan penderita, oleh sebab itu diperlukan adanya sikap penerimaan, pemahaman serta mengambil pelajaran terhadap setiap kesulitan yang menimpanya agar menjadi lebih baik kedepanya yang disebut dengan Self compassion (Jon Hafandkk. , 2. Selain itu. Motivasi berobat untuk penderita DM tipe II merupakan salah satu faktor yang dapat membuat penyandang diabetes melakukan terapi pengobatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan (Ayuningtiyas dan Ghifari, 2. Menurut Internasional Diabetes Federation (IDF)pada tahun 2019 terdapat 463 juta orang dengan penderita DM tipe II dan diperkirakan 15% dari total penderita DM tipe II mengalami luka gangren yang bisa mengarah ke amputasi bahkan kematian. Di Indonesia terjadi peningkatan prevalensi penderita DM tipe II pada tahun 2020 sebanyak 18 juta, dan diperkirakan 21% mengalami luka gangren, sedangkan di jawa timur mencapai prevalensi 2,1% . 974 Kasu. dan diperkirakan 26% mengalami luka gangren yang mengakibatkan penderitanya harus di amputasi(Kemenkes RI, 2. Di Kota Pasuruan Jumlah penderita DM tipe II pada tahun 2022 mencapai 3. 893 penderita, dan diperkirakan 1. 756 penderita mengalami luka gangren(Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2. Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 5 Juni 2024 yang dilakukan di RSUD Dr. Soedarsono Kota Pasuruan, menggunakan metode wawancara dan observasi kepada 10 penderita DM tipe II dengan luka gangrendi RSUD Dr. Soedarsono Kota Pasuruan, didapatkan data bahwa 7 pasien . %) mengatakan belum mampu sepenuhnya menerima akan dirinya yang mengalami penyakit seperti saat ini, merasa tidak percaya diri saat bertemu dengan orang lain karena kakinya yang mengalami luka gangren dan terasa bau tidak sedap, serta pasien juga merasa bosan untuk berobat karena waktu pengobatan yang cukup lama, dan penderita menunjukkan sikap ketidaksukaan terhadap kekurangannya saat ini. Kemudian 3 Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc pasien . %) mengatakan menerima kekuranganya saat ini, tidak malu dan merasa percaya diri, serta merasa puas dalam berbagai keadaan meskipun dalam keadaan yang dirasa saat ini menekan, dan pasien juga mengatakan melalukan pengobatan tepat waktu agar keadaanya DM tipe II merupakan penyakit yang terjadi akibat resistensi insulin karena gangguan uptake glukosa dan penurunan produksi sel y pankreas yang mengakibatkan sekresi serta aktivitas insulin berkurang (Dettydkk. , 2. Pasien DM tipe II dapat beresiko terjadinya komplikasi kronik salah satunya yaitu gangrene diabetik. Gangren paling sering mempengaruhi ekstremitas, termasuk jari-jari tangan dan kaki, bisa juga terjadi pada otot dan organ internal. Luka gangren merupakan keadaan yang diawali dengan adanya hipoksia jaringan dimana oksigen dalam jaringan berkurang, hal ini akan mempengaruhi aktivitas vaskuler dan seluler jaringan sehingga mengakibatkan kerusakan jaringan (Akbar Ydkk. , 2. Gangren yang terus berlanjut dapat berakibat dilakukannya tindakan amputasi, oleh sebab itu diperlukan adanya sikap penerimaan, pemahaman seseorang serta mengambil pelajaran terhadap setiap kesulitan yang menimpanya agar menjadi lebih baik kedepanya disebut dengan Self compassion (Dettydkk. , 2. Self compassion didefinisikan sebagai sikap peduli dan baik terhadap diri sendiri dalam menghadapi kesulitan hidup maupun menghadapi kekurangan diri. Lalu memahami bahwa rasa sakit, kegagalan, dan kekurangan adalah bagian dari kehidupan setiap manusia sehingga dapat mengurangi terjadinya komplikasi pada pasien DM tipe II (Jon Hafandkk. , 2. Melihat kondisi tersebut perlu adanya motivasi berobat untuk mendorong agar penderita mau berobat agar mencegah terjadinya komplikasi. Motivasi berobat adalah keadaan dalam pribadi pasien yang mendorongnya untuk melakukan pengobatan dengan tujuan sembuh dari penyakit tertentu (Ayuningtiyas dan Ghifari, 2. Keberhasilan pengobatan DM tipe II banyak bergantung pada motivasi atau dorongan maupun dukungan dari pihak lain dan kesadaran diri penderita itu sendiri guna memiliki Self compassion (Jon Hafandkk. , 2. Self compassion bisa menjadi salah satu jalan yang baik khususnya penderita DM tipe II untuk memperoleh kehidupan yang lebih positif dan membahagiakan, sikap terbuka dan tergeraknya hati oleh penderitaan yang dialami, rasa untuk peduli dan kasih sayang pada diri sendiri, memahami tanpa menghakimi terhadap kekurangan dan kegagalan diri, menerima kelebihan dan kekurangan serta menyadari bahwa pengalaman yang kurang lebih sama juga dialami oleh orang lain(Dschaaket al. , 2. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Jon Hafan dkk . dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan Self compassion dengan Kepatuhan Terapi Insulin Pada Pasien DM tipe II Kepatuhan pasien muncul ketika mereka mulai menunjukkan Motivasi terhadap penyakit yang dirasakan. Self compassion hadir ketika pasien dapat menerima diri mereka sendiri dan mencintai diri sendiri tanpa melihat masalah yang mereka hadapi. Semakin tinggi Self compassion membuat kepatuhan terhadap terapi insulin semakin baik. Penelitian ini mencerminkan pentingnya kasih sayang pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 untuk meningkatkan kepatuhan terapi insulin, sehingga dapat mengontrol kadar gula darah pasien. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel . ariabel independen dan variabel depende. Dalam hal ini adalah AuHubungan Self compassion dengan motivasi berobat pada pasien luka gangren DM tipe II di Poli Diabet RSUD Dr. Soedarsono Kota PasuruanAy. Penelitian cross sectional merupakan desain penelitian yang fokus dalam melakukan observasi data variabel independen dan dependen yang diukur hanya satu kali saja atau secara simultan, tanpa ada tindak lanjut. Semua subjek yang digunakan dalam penelitian Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc tidak harus diobservasi dalam satu hari atau satu waktu yang sama, tetapi variabel independen dan dependen dinilai satu kali saja HASIL PENELITIAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada bulan September 2024 di poli diabet RSUD Dr. Soedarsono Kota Pasuruan, didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin No. Jenis kelamin Frekuensi Persentase (%) Laki-laki Perempuan Total Berdasarkan table 1 menunjukkan bahwa pasien diabetes di RSUD Dr. Soedarsono Kota Pasuruan didominasi Perempuan dengan total 57%. Tabel 2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia No. Usia . Frekuensi Persentase (%) Total Berdasarkan table 2 menunjukkan bahwa pasien diabetes di RSUD Dr. Soedarsono kota Pasuruan didominasi oleh usia 56-60 tahun dengan total 31. Tabel 3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan No. Pekerjaan Frekuensi Persentase (%) Tidak bekerja Pegawai Petani Wiraswasta Pensiunan Total Berdasarkan table 3 menunjukkan bahwa pasien diabetes di RSUD Dr. Soedarsono kota Pasuruan didominasi pegawai dengan total 29. 55 %. No. Table 4 distribusi responden berdasarkan Pendidikan terakhir Pendidikan Terakhir Frekuensi Persentase (%) SD/Sederajat SMP/Sederajat SMA/Sederajat Perguruan Tinggi Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Total Berdasarkan table 4 menunjukkan bahwa pasien diabetes di RSUD Dr. Soedarsono kota Pasuruan didominasi oleh pasien dengan Pendidikan perguruan tinggi dengan total 34. Tabel 5 Distribusi responden berdasarkan lama menderita No. Lama menderita 1-3 tahun 4-6 tahun > 6 tahun Total Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan table 5 menunjukkan bahwa pasien diabetes di RSUD Dr. Soedarsono kota Pasuruan didominasi oleh pasien dengan lama menderita diabetes selama 4-6 tahun dengan total 45. 45 %. Tabel 6 Distribusi Responden berdasarkan Self Compassion. Kategori Self Compassion Rendah Sedang Tinggi Total Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan table 6 menunjukkan bahwa pasien diabetes di RSUD Dr. Soedarsono kota Pasuruan didominasi oleh pasien dengan Self Compassion tinggi, yaitu 21 . Tabel 7 Distribusi responden berdasarkan motivasi berobat Motivasi berobat Motivasi Kurang Baik Motivasi Baik Total Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan table 7 menunjukkan bahwa pasien diabetes di RSUD Dr. Soedarsono kota Pasuruan didominasi oleh pasien dengan motivasi berobat yang baik, yaitu 25 . Tabel 8 Korelasi antara Self Compassion dengan Motivasi Berobat Correlations Self Compassion Motivasi Berobat Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Pearson Correlation Sig. -taile. Motivasi Pearson Berobat Correlation Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Sumber : Data Primer Diolah . Self Compassion Berdasarkan Tabel 5. 8 menunjukkan bahwa korelasi antara Self Compassion dan Motivasi berobat memiliki hubungan positif. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai pearson correlation positif yaitu sebesar 469. Selain itu hubungan antara Self compassion dan motivasi berobat memiliki hubungan yang kuat. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai Signifikansi (Sig. 2-taile. 001 ( < 0. Sehingga dapat dikatakan bahwa Self Compassion memiliki hubungan/korelasi yang baik dengan Motivasi berobat. Untuk mengetahui valid atau tidaknya suatu kuisioner maka dilakukan uji validitas. Peneliti menggunakan program SPSS IBM 25 dengan menggunakan korelasi Bivariate Pearson (Pearson Produk Mome. Dengan diketahui nilai N=44 dan dengan menggunakan taraf kesalahan sebesar 5% pada distribusi nilai rtabel statistik, maka diketahui rtabel sebesar 0,203. Jika nilai rhitung > rtabel maka kuisioner tersebut dikatakan valid. Tabel 9 Hasil Uji Validitas Self Compassion (X) Item Pertanyaan r hitung r tabel Sig. Keterangan 0,535 0,203 0,000 Valid 0,481 0,203 0,000 Valid 0,628 0,203 0,000 Valid 0,745 0,203 0,000 Valid 0,677 0,203 0,000 Valid 0,759 0,203 0,000 Valid 0,832 0,203 0,000 Valid 0,779 0,203 0,000 Valid 0,665 0,203 0,000 Valid X10 0,873 0,203 0,000 Valid Sumber : data primer diolah . Tabel 10 Hasil Uji Validitas Motivasi Berobat Item Pertanyaan r hitung 0,674 0,760 0,664 0,764 0,832 0,724 r tabel 0,203 0,203 0,203 0,203 0,203 0,203 0,203 0,203 Sig. 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc 0,203 Y10 0,203 Y11 0,203 Y12 0,203 Y13 0,203 Y14 0,203 Y15 0,203 Y16 0,203 Y17 0,203 Y18 0,203 Y19 0,203 Y20 0,203 Y21 0,203 Y22 0,203 Y23 0,203 Y24 0,203 Y25 0,203 Y26 0,203 Sumber : Data Primer Diolah . 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Dari hasil uji validitas pada tabel diatas dapat diketahui bahwa item kuisioner dari 2 variabel dengan jumlah pertanyaan sebanyak 36 butir yang telah diisi oleh 44 responden dinyatakan valid karena nilai rhitung > rtabel dan nilai Tabel 11 Tabulasi Silang Antara Self Compassion dengan Motivasi Berobat SELF_COMPASSION * MOTIVASI_BEROBAT Crosstabulation MOTIVASI_BEROBA KURANG BAIK BAIK SELF_COMPASSI RENDAH Count % within SELF_COMPASSION % of Total SEDANG Count % within SELF_COMPASSION % of Total TINGGI Count % within SELF_COMPASSION % of Total Total Count % within SELF_COMPASSION % of Total Total Sumber : Data Primer Diolah . Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Berdasarkan tabel 11 maka dapat dilihat bahwa Pasien dengan Self compassion rendah dan motivasi kurang baik sebanyak 4 orang . 1%) dan pasien dengan self compassion rendah dengan motivasi yang baik sebanyak 5 . 4%) orang. Pasien dengan self compassion sedang dengan motivasi yang kurang baik sebanyak 6 . 6%) orang. Pasien dengan self compassion sedang dan motivasi baik sebanyak 8 . 2%) orang. Kemudian pasien dengan self compassion tinggi dan motivasi kurang baik sebanyak 9 . 5%) orang. Dan pasien dengan self compassion tinggi dengan motivasi yang baik sejumlah 12 . 3%) orang. PEMBAHASAN Identifikasi Self Compassion Berdasarkan tabel 5. 6 menunjukkan bahwa kategori self compassion yang terdiri dari rendah, sedang, tinggi. Self Compassion paling banyak yaitu didominasi oleh pasien dengan self compassion tinggi yaitu sebesar 47. Self compassion merupakan cara untuk berbelas kasih terhadap diri sendiri dan juga memberikan perhatian pada diri untuk mampu bertahan dalam keadaan sulit. Konstruksi ini hingga dijadikan penelitian oleh Kristin Neff sehingga menjadi perintis konsep ini. Mencintai diri hasil dari perspektif barat, kasih sayang dan kesabaran menghadapi permasalahan (Dschaaket al. , 2. Pada penilitian ini menunjukkan hasil dominasi pasien dengan Self Compassion yang tinggi. Pasien penderita diabetes di RSUD Dr. Soedarsono Kota Pasuruan memiliki pemahaman terkait keadaan atau penderitaan yang dimiliki lalu dengan pemahaman tersebut individu akan lebih peduli dengan dirinya dan memunculkan perilaku yang welas asih juga menganggap semua penderitaan yang dialami itu adalah hal yang bisa saja orang lain juga mengalaminya. Peneliti berasumsi bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat atau peran Self-compassion dalam manajemen diabetes, yaitu jenis kelamin dan seberapa menderita Hasil penelitian menunjukkan bahwa Self-compassion diketahui secara signifikan lebih rendah pada perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini sejalan dengan penelitian lain yang mengungkapkan bahwa jenis kelamin perempuan memiliki kecenderungan lebih rendah tingkat Self-compassionnya jika dibandingkan dengan laki-laki (Yarnell et al. , 2. Lebih lanjut, konflik peran gender dapat memengaruhi hubungan antara Self-compassion dan hasil kesehatan terkait diabetes, salah satunya adalah manajemen diabetes (Ringdahl, 2. Oleh karena itu, perlu untuk mempertimbangkan faktor tersebut saat menyelidiki peran Selfcompassion dalam mengelola diabetes. Lebih lanjut. CharzyEska dkk. menyatakan bahwa lama pasien menderita diabetes memengaruhi ketidakpedulian pada diri dan aspek negatif dari Self-compassion (CharzyEska et al. , 2. Sebagian besar responden dalam penelitian ini terdiri dari pasien yang telah hidup dengan diabetes dalam jangka waktu yang cukup lama. Mengingat bahwa semakin lama seseorang menderita diabetes, semakin besar kemungkinan mereka memahami penyebab, perjalanan, dan pengobatannya, maka perlu dipertimbangkan bahwa hasil Kesehatan seperti kadar glukosa, tingkat stres tidak akan benar-benar mewakili individu yang baru didiagnosis yang masih mencoba memahami diabetes dan bagaimana mengelolanya secara Meskipun Self-compassion dalam penelitian ini diukur sebagai kualitas yang relatif baik, ada banyak bukti bahwa sebagai suatu keadaan. Self-compassion dapat ditingkatkan melalui latihan dan pelatihan yang relatif mudah dilakukan (Neff & Germer, 2. Identifikasi Motivasi Berobat Berdasarkan tabel 5. 7 menunjukkan bahwa kategori motivasi berobat yang terdiri dari motivasi kurang baik dan motivasi baik. Motivasi berobat paling banyak yaitu didominasi oleh pasien dengan motivasi berobat yang baik yaitu sebesar 56. Motivasi merupakan Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc karakteristik psikologis manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Perasaan atau pikiran yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan atau menjalan kekuasaan dalam berperilaku merupakan salah satu definisi dari motivasi. Ada tiga hal yang terpenting dalam motivasi, yaitu hubungan antara kebutuhan, dorongan dan tujuan (Nursalam, 2. Motivasi berobat adalah keadaan dalam pribadi pasien yang mendorongnya untuk melakukan pengobatan dengan tujuan sembuh dari penyakit tertentu (Ayuningtiyas dan Ghifari, 2. Dalam kasus penelitian ini, pasien diabetes di RSUD Dr. Soedarsono kota Pasuruan memiliki motivasi yang baik untuk sembuh dari diabetes yang dideritanya. Dukungan dari orang-orang terdekat khususnya dari keluarga sangat membantu pasien untuk rutin berobat dan memiliki kepercayaan diri untuk sembuh. Motivasi berobat yang tinggi memiliki arti yaitu pasien dapat menetapkan dengan baik standar dan tujuan untuk melakukan pelaksanaan diet, mengatur emosinya, memberikan instruksi diri, melakukan monitor diri, dapat melakukan evaluasi dan kontingensi terkait treatment diabetes melitus. Pada karakteristik orang yang mampu memotivasi diri dengan baik yaitu tergantung pada salah satunya adalah pengaturan emosi, proses yang selalu memeriksa atau juga secara sengaja mengubah perasaan yang mungkin mengarah pada perilaku yang Motivasi penderita diabetes melitus yang tinggi dikarenakan kesadaran diri yang tinggi dan tanggung jawab penderita terhadap penyakitnya. Motivasi seseorang tidak selalu tinggi dalam menjalankan pengobatannya, banyak penderita diabetes melitus yang mempunyai motivasi yang rendah dalam menjalankan pengobatannya karena disebabkan banyak faktor seperti kurang nya kesadaran diri, kurangnya perhatian atau dukungan dari keluarga dalam menjalankan pengobatannya. Namun motivasi yang tinggi dari penderita diabetes melitus sangat penting dibutuhkan untuk proses pengobatan dan pencegahan komplikasi diabetes melitus. Identifikasi Hubungan Self Compassion dengan Motivasi berobat pada pasien luka gangren DM tipe II DI POLI DIABET RSUD Dr. Soedarsono KOTA PASURUAN Hipotesis yang diuji pada penelitian ini adalah hubungan antara mawas diri (Self Compassio. dan motivasi berobat pada pasien luka gangrene DM tipe II di Poli Diabet RSUD Dr. Soedarsono Kota Pasuruan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara self compassion dengan motivasi berobat. Ketika pasien sudah menerima dirinya sendiri sebagai pengidap diabetes maka akan muncul motivasi dari dalam diri keinginan untuk Pasien dengan motivasi dan keinginan yang tinggi untuk sembuh maka akan lebih tenang dalam menjalani hidup. Pasien lebih memahami bahwa dalam hidup ada saatnya sehat dan ada saatnya sakit. Lebih lanjut, keberhasilan pengobatan DM tipe II banyak bergantung pada motivasi atau dorongan maupun dukungan dari pihak lain dan kesadaran diri penderita itu sendiri guna memiliki Self compassion (Jon Hafandkk. , 2. Pasien dengan luka gangrene DM tipe II merupakan kondisi yang serius sehingga pasien RSUD Dr. Soedarsono Kota Pasuruan sudah seharusnya mawas diri dan memiliki motivasi berobat yang baik. Temuan dari penelitian ini menunjukkan adanya korelasi langsung antara selfcompassion dan motivasi berobat pada pasien yang didiagnosis dengan diabetes melitus tipe II. Oleh karena itu, terdapat korelasi langsung antara tingkat self-compassion seseorang dengan motivasi berobat mereka. Secara khusus, semakin besar jumlah self-compassion, maka semakin tinggi tingkat motivasi berobat. Hubungan ini cukup besar dan positif, yang menunjukkan bahwa ketika rasa welas diri meningkat, motivasi berobat juga meningkat. Pasien dengan rasa belas kasih yang kuat memiliki kemampuan untuk mengatur diri mereka sendiri, dan sebaliknya, pasien dengan motivasi berobat yang tinggi menunjukkan welas kasih terhadap diri mereka sendiri (Self-compassio. Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Analisis Data Berdasarkan uji korelasi yang telah dilakukan antara variabel Self compassion dan motivasi berobat menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang positif. Hal tersebut ditunjukkn pada Tabel 5. 8 bahwa korelasi antara Self Compassion dan Motivasi berobat memiliki hubungan positif. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai pearson correlation positif yaitu sebesar 469. Selain itu hubungan antara Self compassion dan motivasi berobat memiliki hubungan yang kuat. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai Signifikansi (Sig. 2-taile. 001 ( < 0. Sehingga dapat dikatakan bahwa Self Compassion memiliki hubungan/korelasi yang baik dengan Motivasi berobat. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jon Hafandkk. , yaitu Keberhasilan pengobatan DM tipe II banyak bergantung pada motivasi atau dorongan maupun dukungan dari pihak lain dan kesadaran diri penderita itu sendiri guna memiliki Self compassion. Lebih lanjut, adanya hubungan Self compassion dengan ketika mereka mulai menunjukkan Motivasi terhadap penyakit yang dirasakan. Self compassion hadir ketika pasien dapat menerima diri mereka sendiri dan mencintai diri sendiri tanpa melihat masalah yang mereka hadapi. Semakin tinggi Self compassion membuat kepatuhan terhadap terapi insulin semakin baik Kepatuhan Terapi Insulin Pada Pasien DM tipe II Kepatuhan pasien KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan. Self compassion pada pasien luka gangrene DM tipe II di poli diabet RSUD Dr. Soedarsono didominasi oleh pasien dengan self compassion yang tinggi yaitu sebanyak 21 orang atau Motivasi berobat pada pasien luka gangrene DM tipe II di poli diabet RSUD Dr. Soedarsono didominasi oleh pasien dengan motivasi yang baik yaitu sebanyak 25 orang atau sebesar 56. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan positif antara Self Compassion dengan motivasi berobat pada pasien luka gangrene DM tipe II di poli diabet RSUD Dr. Soedarsono. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai Signifikansi (Sig. 2-taile. 001 ( pvalue < 0. Sehingga dapat dikatakan bahwa Self Compassion memiliki hubungan/korelasi yang baik dengan Motivasi berobat. Maka dapat disimpulkan H1 Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut: Dari hasil penelitian ini, responden lebih aktif dan termotivasi untuk mengembangkan mawas diri dan dukungan keluarga agar bisa membantu mempercepat kesembuhan luka gangren DM tipe II. Diharapkan hasil penelitian bisa memberikan informasi tentang pentingnya mawas diri dan motivasi berobat sebagai faktor kesembuhan pasien penderita luka gangrene DM tipe II. Diharapkan hasil penelitian ini dapat mengembangkan bahasan tentang motivasi berobat pada pasien luka gangrene DM tipe II dengan menambahkan variabel yang menjadi faktor penentu motivasi berobat. DAFTAR PUSTAKA