428 Jurnal Info Kesehatan Vol 15. No. Desember 2017, pp. P-ISSN 0216-504X. E-ISSN 2620-536X Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/infokes Perbandingan Kadar Bilirubin Direk Pada Pengkonsumsi Alkohol Dan Yang Tidak Mengkonsumsi Alkohol Comparison of Bilirubin Level Direk in Alcohol Consumers and NonAlcohol Consumers Agustina Welhelmina Djuma. Yofita Weo Kapa Analis Kesehatan. Poltekkes Kemenkes Kupang Email: agustinadjuma@poltekkeskupang. Email: yofitakapa@yahoo. ARTICLE INFO: Keywords: Direct bilirubin levels Alcohol ABSTARCT/ABSTRAK Consuming large and continuous amounts of alcohol can cause damage to the body's metabolic system. One of the body's metabolic systems that can be damaged by alcohol is the liver. Alcohol can damage liver cells and can cause various types of liver diseases, such as liver cirrhosis. Liver cirrhosis can be identified from several types of liver function tests, one of which is by examining the levels of direct bilirubin in the The purpose of this study was to examine differences in direct bilirubin levels in alcohol consumption and those who did not consume alcohol. The type of research used was analytic observation with a case control study design with 20 subjects who drank alcohol as a case group and 20 subjects who did not consume alcohol as a control group. Measurement of direct bilirubin levels using 24i biolis and unpaired t-test statistics was used to analyze differences in bilirubin levels in both groups. The results of examination of direct bilirubin levels in the case group showed that the average direct bilirubin level was 0. 22 mg/dL and the average number in the control group was 0. 15 mg/dL, whereas in the unpaired statistical test P value was obtained <0,05. These results, showed that there were significant differences in direct bilirubin levels between the case group and the control group. Kata Kunci: Kadar Bilirubin Direk Alkohol Mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang besar dan terusmenerus, dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem metabolisme tubuh. Salah satu sistem metabolisme tubuh yang dapat dirusak oleh alkohol adalah hati. Alkohol dapat merusak sel hati dan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit hati, seperti sirosis hati. Sirosis hati dapat diketahui dari beberapa macam pemeriksaan fungsi hati, salah satunya dengan melakukan pemeriksaan kadar bilirubin direk dalam Tujuan dari penelitian ini, untuk mengkaji perbedaan kadar bilirubin direk pada pengkonsumsi alkohol dan yang tidak mengkonsumsi alkohol. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasi dengan rancangan case control study dengan subjek penelitian peminum alkohol sebanyak 20 sebagai kelompok kasus dan 20 subjek penelitian yang tidak mengkonsumsi alkohol sebagai kelompok kontrol. Pengukuran kadar bilirubin direk menggunakan alat biolis 24i dan uji statistik t tidak berpasangan digunakan untuk menganalisis perbedaan kadar bilirubin pada kedua Hasil pemeriksaan kadar bilirubin direk pada kelompok kasus menunjukkan rata-rata kadar bilirubin direk adalah 0,22 mg/dL dan jumlah rata-rata pada kelompok kontrol adalah 0,15 mg/dL, sedangkan pada uji statistik t tidak berpasangan diperoleh nilai P < 0,05. Hasil ini, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar bilirubin direk antara kelompok kasus dan kelompok kontrol. CopyrightA2017 Jurnal Info Kesehatan All rights reserved Corresponding Author: Agustina Welhelmina Djuma Analsis Kesehatan-Poltekkes Kemenkes Kupang Ae 85111 Email: agustinadjuma@poltekkeskupang. PENDAHULUAN Alkohol adalah mabuk semata dan itupun dapat hilang dengan sendirinya. Namun ternyata efek sebagai senyawa kimiawi yang memabukkan. negatifnya tidak berhenti sampai situ saja. Senyawa kimiawi zat alkohol, beraneka Bukan hanya menyebabkan mabuk saja, macam dan yang terdapat pada minuman namun alkohol juga memiliki dampak negatif adalah etil alkohol atau alkohol lain bagi tubuh, seperti merusak sistem Mengkonsumsi minuman beralkohol kini menjadi bagian gaya hidup dari sebagian metabolisme tubuh manusia yang kemudian menimbulkan ketagihan. masyarakat Indonesia. Berawal dari sekedar Keracunan alkohol dapat melalui mulut coba-coba dan yang kemudian akhirnya . ermasuk dengan sengaja meminum minuman ketagihan dengan jenis minuman ini. Selama kera. dan absorpsi melalui kulit pada waktu ini dampak negatif dari konsumsi alkohol berlebih yang paling banyak diketahui orang. Akibat Bilirubin serum, meningkat pada hipoglikemia yang menyebabkan kejang- disfungsi sedang atau berat. Untuk pasien kejang, asidosis laktat, hipotermia, koma dan dengan penyakit ringan atau sedang, kerusakan kematian karena gagal pernapasan. Pada yang hilang-timbul paling baik di pantau dengan dengan memeriksa secara berkala menyebabkan antara lain ketergantungan, kadar bilirubin dan enzim serum (Sacher dan sirosis hati, varises esofagus, pankreatitis. Ricard, 2. terus-menerus, malnutrisi, koma hepatik, gangguan darah dan Melihat kebiasaan masyarakat dimasa hematoma subdural karena trauma kepala kini, terutama pada remaja yang sudah berulang-ulang karena mabuk (Sartono, 2. membiasakan diri dengan pergaulan bebas dan Hati merupakan organ utama tubuh untuk metabolisme alkohol. Bila konsentrasi . dan berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertaik melakukan penelitian dengan rendah, tidak menjadi Namun, jika konsumsi alkohol dalam jumlah yang besar dan terus-menerus, dapat merusak Bilirubin Direk Pada Pengkonsumsi Alkohol sel hati yang pada akhirnya menimbulkan Dan Yang Tidak Mengkonsumsi AlkoholAy. berbagai penyakit hati, seperti Ausirosis hatiAy METODE PENELITIAN (Pospos, 2. AuPerbandingan Kadar Penelitian ini dilakukan di laboratorium Sirosis hati adalah penyakit dengan RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang proses nekrosis, inflamasi, fibrosis, regenerasi observasi dengan rancangan Case Control vaskular yang kurang lebih terjadi secara Study. Subyek dalam penelitian ini kelompok Biasanya, disebabkan oleh efek laki-laki dewasa yang dibagi dalam dua jangka panjang dari faktor yang berbahaya, kelompok yaitu kelompok pengkonsumsi alkohol, dan yang tidak mengkonsumsi merupakan penyebab pada sekitar 50 % kasus Kedua kelompok tersebut memenhuhi di seluruh dunia. Pada penyakit fulminan akut, syarat inklusi antara lain tidak terinfeksi sirosis dapat terjadi dalam beberapa minggu. penyakit hati (HBsA. , tidak dalam masa Pada penyakit kronis rekuren dapat terjadi pengobatan, tidak menderita penyakit malaria, setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun memiliki nilai haemoglobin yang normal, tidak (Stefan dan Forian, 2. Pada saat ini, banyak test fungsi hati . ada yang dapat dilakukan, salah satu test faal hati alkohol sampai saat ini . ebagai kelompok adalah pemeriksaan kadar bilirubin dalam Uji perbedaan kadar bilirubin direk pada kelompok kasus dan kelompok kontrol sebagai kelompok kontrol dan 20 subyek digunakan Independen Sample T-Test. penelitian digunakan sebagai kelompok kasus. Subyek penelitian ini diambil darah venanya HASIL DAN PEMBAHASAN sebanyak 3mL untuk dilakukan pemeriksaan Karakteristik subyek penelitian kadar bilirubin direk. Karakteristik subyek Dalam penelitian ini digunakan 40 penelitian kasus dan kontrol terlihat pada tabel subyek penelitian yang telah memenuhi kriteria inklusi, 20 subyek penelitian digunakan Tabel 1. Distribusi Frekuensi Usia. IMT dan Kadar Hb Dari Kelompok Kasus dan Kelompok Kontrol Variabel Kasus Usia (Tahu. Rerata (N=. Kontrol IMT (Kg/ m. Kadar Hb . r/ dL) 21,75 0,427 19,95 18,73 0,039 14,14 13,18 0,071 Data pada tabel 1 menunjukkan usia dan kadar hemoglobin pada kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan bermakna . >0,. sedangkan indek massa tubuh pada kedua kelompok berbeda bermakna. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Jenis Minuman Alkohol Yang Sering Dikonsumsi Variabel Frekuensi Laru Sopi Bir Jenis minuman alkohol yang dikonsumsi oleh kelompok kasus adalah sopi yang merupakan jenis minuman alkohol yang dibuat secara tradisional dari Pohon Lontar (Tabel . Jenis minuman sopi ini mempunyai kadar alkohol hingga 5 %/ Frekuensi konsumsi alkohol pada kelompok kasus dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Distribusi Frekuensi konsumsi Alkohol Variabel Frekuensi 2-3 kali dalam 1 minggu Setiap hari Data pada tabel 3 menunjukkan frekuensi konsumsi alkohol umumnya adalah 2-3 kali dalam 1 minggu. Jumlah alkohol yang dikonsumsi dalam sekali minum ditunjukkan pada tabel 4. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Jumlah alkohol dalam sekali minum Variabel 2-3 gelas 4-6 gelas Frekuensi 16 orang 4 orang Umumnya jumlah alkohol yang dikonsumsi 2-3 gelas dalam sekali minum. konsumsi alkohol pada kelompok kasus ditunjukkan pada tabel 5. Lamanya Tabel 5. Distribusi Frekuensi Lamanya Mengkonsumsi Alkohol Variabel 6 bulan Frekuensi Lebih dari 6 bulan 5 orang 1 tahun 2 tahun 11 orang 4 orang Lamanya konsumsi alkohol pada kelompok kasus paling banyak adalah telah 1 tahun Hasil pemeriksaan bilirbuin direk dan perbedaannya pada kedua kelompok dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Kadar Bilirubin Direk Pada Pengkonsumsi Alkohol dan Yang Tidak Mengkonsumsi Alkohol Kelompok Rerata kadar Std Deviasi Kasus 0,2230 0,01174 Kontrol 0,1450 0,02482 Data pada tabel 6 terlihat bahwa rata- Nilai P 0,000 adalah 0,1450 mg/dL dengan nilai P < 0,05. rata hasil pemeriksaan kadar bilirubin direk Hasil pada pengkonsumsi alkohol adalah 0,2230 perbedaan yang signifikan kadar bilirubin direk mg/dL dan yang tidak mengkonsumsi alkohol antara kelompok kasus dan kelompok kontrol. Metabolisme primer alkohol adalah hati kemudian membentuk jaringan parut, yang dihati, dengan melalui 3 tahap, pada tahap awal kemudian dapat menimbulkan penyumbatan alkohol dioksidasi menjadi asetaldehid oleh bilirubin pada empedu . ada proses ekskres. , enzim alkohol dehidrogenase (ADH), enzim sehingga bilirubin dapat kembali menyebar ke ini sedikit terdapat pada konsentrasi alkohol yang rendah dalam darah. Kemudian saat kadar menyebabkan peningkatan bilirubin dalam alkohol dalam darah meningkat hingga taraf Untuk mengetahui terjadinya sirosis sedang, terjadi zero-order kenetics, dimana hati, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan kecepatan metabolisme maksimal, yaitu 7-10 test fungsi hati. Salah satu test yang dapat dan gram/jam . etara dengan sekali minum dalam sering dilakukan, adalah pemeriksaan bilirubin satu ja. Tahap kedua, reaksi metabolisme direk dalam serum. dimana asetaldehid diubah menjadi asetat oleh Pada data hasil pengukuran kadar enzim aldehid dehidrogenase. Dalam keadaan bilirubin direk pada kelompok kasus, didapat normal, asetaldehid dimetabolisme secara rerata 0,22 mg/dL dimana hasil tersebut sudah cepat dan biasanya tidak mengganggu fungsi melebihi nilai normal yaitu < 0,2 mg/dL. Namun saat sejumlah besar alkohol di sedangkan hasil pengukuran kadar bilirubin direk pada kelompok kontrol, didapat rerata menimbulkan gejala seperti sakit kepala, 0,14 mg/dL, dimana hasil tersebut masih dalam gastritis, mual, dan pusing. Tahap ketiga, batasan nilai normal. Peningkatan kadar bilirubin dapat dipengaruhi beberapa faktor, konversi gugus asetat dari koenzim A menjadi yakni dengan mengkonsumsi alkohol secara lemak, atau karbondioksida dan air. Tahap ini terus-menerus dan dalam jangka waktu yang juga, dapat terjadi pada semua jaringan dan biasanya merupakan bagian dari siklus asam mempunyai riwayat penyakit hati (HBsA. iklus kreb. Pada peminum alkohol kronis, dapat terjadi penumpukkan KESIMPULAN produksi lemak. Penumpukkan lemak, akan Disimpulkan bahwa kadar bilirubin membentuk plug pada pembuluh darah kapiler direk pada kelompok pengkonsumsi alkohol, yang mengelilingi sel hati dan akan berakhir berbeda nyata dengan kelompok yang tidak dengan sirosis hati. Setelah terjadi sirosis hati, mengkonsumsi alkohol. REFERENCES